Anda di halaman 1dari 58

 Adalah suatu proses pengeluaran hasil

konsepsi yang dapat hidup, dari dalam.


uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia
luar.
 Bayi lahir melalui vagina dengan letak
belakang kepala / ubun-ubun kecil, tanpa
memakai alat / pertolongan istimewa, serta
tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali
episiotomi.
 Bayi lahir melalui vagina dengan bantuan
tindakan atau alat seperti versi / ekstraksi,
cunam, vakum, dekapitasi, embriotomi dan
sebagainya, atau lahir per abdominam
dengan sectio cesarea
 Penurunan fungsi plasenta : kadar
progesteron dan estrogen menurun
mendadak, nutrisi janin dari plasenta
berkurang.
 2. Tekanan pada ganglion servikale dari
pleksus Frankenhauser, menjadi stimulasi
(pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus.
 Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh
hormonal dan beban, semakin merangsang
terjadinya kontraksi.

 Peningkatan beban / stress pada maternal


maupun fetal dan peningkatan estrogen
mengakibatkan peningkatan akfifitas
kortison, prostaglandin, oksitosin, menjadi
pencetus rangsangan untuk proses persalinan
 A.Corticotropin-releasing hormone yang
diproduksi oleh plasenta disekresikan
kedalam sirkulasi janin yang menstimulasi
sekresi kortikotropin dari hipofisis anterior
janin. CRH plasenta, melalui ACTH janin
menstimulasi adrenal janin untuk
memproduksi kortisol, yang berikatan
dengan reseptor glukokortikoid plasenta
untuk memblokade efek inhibisi dari
progesteron mengakibatkan stimulasi
produksi CRH dengan cara stimulasi
Adrenal Janin   Cortisol  Maturasi paru janin
 
Positif Menghambat efek inhibisi
Feedback Progesterone pada gen CRH Plasenta

 CRH plasenta


 Cortison janin


 DHEAS adrenal janin
 Persalinan
 Estrogen
 
 prostaglandin, oksitosin, reseptor oksitosin, gap junction
 B.Aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal janin diam selama
paruh pertama kehamilan karena supresi dari influx kortisol
maternal, tetapi pada paruh kedua kehamilan, peningkatan
kadar estrogen meningkatkan enzim plasenta 11b-
hydroxisteroid dehydrogenase, menyebabkan kortisol
dikonversikan menjadi metabolit tidak aktif yaitu kortison.
Hasil negatif feedback glukokortikoud pada kelenjar hipofisis
janin (berkurangnya aliran kortisol dari ibu ke janin) akan
mengakibatkan peningkatan sekresi ACTH janin, kortisol dan
DHEA sulfat, menyebabkan maturitas janin dan stimulasi
parturisi.
11 HOD Cortisol
 
Positif Cortison
Feedback 
 Kortisol maternal pada janin

Negatif feedback pada kelenjar hipofise

 Cortison janin

 DHEAS adrenal janin
 Persalinan
 Estrogen
 

 prostaglandin, oksitosin, reseptor oksitosin, gap junction


 Power :His (kontraksi ritmis otot polos
uterus), kekuatan mengejan ibu.
 Passage :Keadaan jalan lahir
 Passanger: Keadaan janin (letak, presentasi,
ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan
anatomik mayor)

 Dengan adanya keseimbangan / kesesuaian


antara faktor-faktor tersebut, persalinan
normal diharapkan dapat berlangsung.
 Kala 1
 Pematangan dan pembukaan serviks sampai
lengkap (kala pembukaan)
 Kala 2
 Pengeluaran bayi (kala pengeluaran)
 Kala 3
 Pengeluaran plasenta (kala uri)
 Kala 4
 Masa 1 jam setelah partus, terutama untuk
observasi
 His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos
dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus
uteri dimana tuba falopii memasuki dinding uterus,
awal gelombang tersebut didapat dari 'pacemaker'
yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut.

 Resultante efek gaya kontraksi tersebut dalam


keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris
yaitu daerah kanalis servikalis jalan lahir) yang
membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar.
 Kerja hormon oksitosin
 Regangan dinding uterus oleh isi konsepsi
 Rangsangan terhadap pleksus saraf
Frankenhauser yang tertekan massa
konsepsi.
 Kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
 Kekuatan terbesar (dominasi) di daerah
fundus
 Terdapat periode relaksasi di antara dua
periode kontraksi.
 Terdapat retraksi otot-otot korpus uteri
setiap sesudah his
 Serviks uteri yang banyak mengandung
kolagen dan kurang mengandung serabut
otot,akan tertarik keatas oleh retraksi otot-
otot korpus, kemudian terbuka secara pasif
dan mendatar (cervical effacement). Ostium
uteri eksternum dan internum pun akan
terbuka.
 amplitudo : intensitas kontraksi otot polos :
bagian pertama peningkatan agak cepat,
bagian kedua penurunan agak lambat.
 frekuensi : jumlah his dalam waktu tertentu
(biasanya per 10 menit).
 satuan his: unit Montevideo (intensitas
tekanan / mmHg terhadap frekuensi).
 Kala 1 awal (fase laten)
 Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40
mmHg, lama 20-30 detik. Serviks terbuka
sampai 3 cm. Frekuensi dan amplitudo terus
meningkat

 Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir


 Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo
makin kuat sampai 60 mmHg, frekuensi 2-4
kali 10 menit, lama 60-90 defik. Serviks
terbuka sampai lengkap (+/-10cm).
 Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali 110
menit. Reflek mengejan terjadi juga akibat
stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin
(pada persalinan normal yaitu kepala) yang
menekan anus dan rektum.Tambahan tenaga
meneran dari ibu, dengan kontraksi otot-otot
dinding abdomen dan diafragma, berusaha
untuk mengeluarkan bayi.
 Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi
berkurang, aktifitas uterus menurun. Plasenta
dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini,
namun dapat juga tetap menempel (retensio)
dan memerlukan tindakan akfif (manual aid).
 Dimulai pada waktu serviks membuka karena
his : kontraksi uterus yang teratur, makin
lama, makin kuat, makin sering, makin terasa
nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang
tidak lebih banyak daripada darah haid.

 Berakhir pada waktu pembukaan serviks telah


lengkap . Selaput ketuban biasanya pecah
spontan pada saat akhir kala 1.
 Fase laten: pembukaan sampai mencapai 3
cm, berlangsung sekitar 8 jam.

 Fase aktif .. pembukaan dari 3 cm sampai


lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6
jam.
 Fase aktif terbagi atas :
 fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3
cm sampai 4 cm.
 fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam),
pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
 fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9
cm sampai lengkap (+ 10 cm).
 Keluar lendir bercampur darah (bloody show)
akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous
plug) yang selarna kehamilan menumpuk di
kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular
kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara
selaput ketuban dengan dinding dalam
uterus.
 Ostium uteri internum dan eksternum
terbuka sehingga serviks menipis dan
mendatar.

 Selaput ketuban pecah spontan


 Pematangan dan pembukaan serviks (cervical
effacement) pada primigravida berbeda
dengan pada multipara:

 Pada primigravida terjadi penipisan serviks


lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan -
pada multipara serviks telah lunak akibat
persalinan sebelumnya, sehingga langsung
terjadi proses penipisan dan pembukaan
 Pada primigravida, ostium internum
membuka lebih dulu daripada ostium
eksternum. (inspekulo ostium tampak
berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) -
pada multipara, ostium internum dan
eksternum membuka bersamaan (inspekulo
ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
 periode kala 1 pada primigravida lebih lama
(+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14jam)
karena pematangan dan pelunakan serviks
pada fase laten pasien primigravida
memerlukan waktu lebih lama
 Dimulai pada saat pembukaan serviks telah
lengkap sampai pada saat bayi telah lahir
lengkap.

 His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih


lama, sangat kuat. Selaput ketuban mungkin
juga baru pecah spontan pada awal kala 2
 Bagian terbawah janin (pada persalinan
normal : kepala) turun sampai dasar panggul.
 Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan
yang makin berat.
 Perineum meregang dan anus membuka.
 Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan
suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis
sebagai sumbu putar / hipomoklion),
selanjutnya dilahirkan badan dan anggota
badan.
 Kemungkinan diperlukan pemotongan
jaringan perineum untuk memperbesarjalan
lahir (episiotomi).
 Lama kala 2 pada primigravida +/- 1.5
jam, multipara +/- 0.5 jam.
 Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala
janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul
(sinklitismus) atau miring / membentuk sudut
dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior /
posterior).
 Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat 1)
tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke
arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan
amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan
diafragma (mengejan), dan 4) badan janin tedadi
ekstensi dan menegang.
 Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke
toraks, posisi kepala berubah dari diameter
oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi
diameter suboksipito-bregmatikus (belakang
kepala).
 Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu
disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun
kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis),
membawa kepala melewati distansia
interspinarum dengan diameter biparietalis.
 Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva,
tedadi ekstensi setelah oksiput melewati
bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir
berturut-turut oksiput, bregma, dahi, hidung,
mulut, dagu.
 Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala
berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi
tubuh, bahu masuk pintu atas panggul
dengan posisi anteroposterior sampai di
bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu
depan dan bahu belakang.
 Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh
lainnya akan dikeluarkan dengan mudah.
Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan
lengan, pinggul / trokanter depan dan
belakang, tungkai dan kaki.
 Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap.
 sampai dengan lahirnya plasenta.

 Kelahiran plasenta: lepasnya plasenta dari


insersi pada dinding uterus, serta
pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
 Dari sentral (Schultze) ditandai dengan
perdarahan baru.
 Dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika
tidak disertai perdarahan,
 Atau mungkin juga serempak sentral dan
marginal.
 Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah
bayi lahir.
 Sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan
observasi.

 Yang harus diperhatikan pada kala 4:


 1.Kontraksi uterus harus baik,
 2.Tidak ada perdarahan pervaginarn atau dari
alat genital lain,
 Plasenta dan selaput ketuban harus sudah
lahir lengkap,
 Kandung kencing harus kosong,
 Luka-luka di perineum harus dirawat dan
tidak ada hematoma,
 Resume keadaan umum bayi, dan
 Resume keadaan umum ibu.
• Pengertian Manfaat standart
prosedur Klinik.
• Membahas ulang langkah
langkah standart asuhan
persalinan normal.
• Memperagakan asuhan
persalinan normal.
 Langkah esensial dari ketrampilan.
 Dipecah dalam langkah rinci.
 Melalui uji coba , memenuhi syarat
:
1. Aman bagi klien.
2. Efisien untuk dikerjakan.
3. Mudah untuk dikerjakan.
 Tujuan pelatihan kompeten artinya
: melakukan sesuai standart.
 Terdiri dari 10 langkah
besar.
 Dipecah rinci menjadi 58
langkah.
1. Mendengar dan melihat adanya
tanda kala dua :
 Do - ran.
 Tek – nus
 Per – jol.
 Vul – ka.
2. Tempat, Alat & obat untuk resusitasi :
Masukan spuit dlm tempat instrument
Buka ampul oxytocin
3. Pakai pelindung diri lengkap.
4. Mencuci tangan sesuai standart ,
keringkan.
5. Pakai sarung tangan satu
6. Masukkan oxytocin dlm tabung suntik,
pakai
kedua sarung tangan.
7. Bersihkan vulva
8. Lakukan periksa dalam – pecah ketuban
9. Dekontaminasi sarung tangan –
lepaskan
10. Periksa DJJ
11. Beritahu ibu
12. Minta keluarga membantu
13. Bimbing ibu untuk meneran
14. Bila dlm ada do – ran, ubah-
ubah posisi meneran
15. Letakkan handuk diatas
perut ibu
15. Letakkan alas bokong
16. Buka tutup partus set
17. Pakai sarung tangan DTT
pada kedua tangan
LAHIRNYA KEPALA
19. Setelah kepala tampak 5-6 cm,
lindungi perineum dan tahan kepala
bayi
20. Kepala lahir periksa lilitan tali pusat
21. Tunggu kepala mengadakan putaran
paksi luar
LAHIRNYA BAHU
22. Pegang kepala secara biparietal, arahkan
kebawah untuk melahirkan bahu depan,
arahkan keatas untuk melahirkan bahu
belakang.
LAHIRNYA BADAN DAN TUNGKAI
23. Sanggah dan susur
24. Lanjutkan sanggah dan susur sampai mata
kaki.
25. Nilai bayi
26. Keringkan tubuh bayi kecuali tangan, ganti
handuk dengan selimut.
27. Periksa tinggi fundus uteri
28. Beritahu ibu akan disuntik
29. Suntikkan oxytosin
30. Klem tali pusat
31. Potong dan ikat tali pusat
32. Letakkan bayi agar terjadi kontak kulit dg
kulit
33. Selimuti ibu dan bayi, pakaikan tapi
34. Pindahkan klem 5-10 cm dari vulva
35. Letakkan satu tangan diatas perut
ibu
36. Tangan kanan menegangkan tali
pusat,
tangan kiri berada diatas sympisis
mendorong uterus kearah dorso
kranial
MENGELUARKAN PLASENTA
37. Bila plasenta telah lepas, minta ibu bantu
meneran
38. Saat lahir diintroitus vagina, lahirkan
plasenta dengan kedua tangan
RANGSANGAN TAKTIL
39. Bila plasenta telah lahir, segera lakukan
masase pada fundus uteri
40. Periksa kedua sisi plasenta
41. Evaluasi kemungkinan
laserasi perineum
42. Pastikan uterus kontraksi dg baik.
43. Biarkan bayi melakukan kontak kulit
dengan kulit minimal 1 jam.
44. Setelah menyusu beri vit.K1 1 mg paha
kiri, salep mata, timbang dan periksa.
45. Setelah 1 jam pemberian vit.K1, beri
imunisasi hepatitis B paha kanan.
46. Pantau kontraksi
47. Ajari ibu / keluarga melakukan masase.
48. Periksa nadi ibu.
49. Periksa bayi suhu dan pernafasan,
pastikan dlm keadaan baik.
50. Evaluasi dan estimasi jumlah
perdarahan
51. Masukkan semua peralatan bekas pakai
dalam klorin
52. Buang bahan terkontaminasi
53. Bersihkan ibu.
54. Pastikan ibu nyaman.
55. Dekontaminasi tempat persalinan.
56. Celupkan sarung tangan dalam larutan
klorin.
57. Cuci kedua tangan.
58. Lengkapi partograf, periksa tanda vital dan
asuhan kala IV.