Anda di halaman 1dari 89

Kelompok 3

Fasilitator : dr. Vitrosa Yosepta Sera


Anggota Kelompok:

1. Samuel Manurung
2. Muntir Gurusinga
3. Salsalina Violetha Br. Ginting
4. Santha Eliska Br. Gurusinga
5. Dian Cantika Lingga
6. Ni Nyoman Putri Riasni
7. Abiyyu Prayoga
8. Satria Saputra
9. Muhammad Ridho
10. Aprilois Perdana
PEMICU 3
Kenapa tangan saya sering bergetar sendiri ?
Seorang perempuan berusia 25 tahun datang
ke puskesmas dengan keluhan tangan bergetar
sejak 2 bulan yang lalu. Selain itu, pasien sering
berdebar-debar tanpa didahului perasaan yang
tidak enak atau sebagainya. Pasien juga sering
berkeringat walaupun tidak dibawah matahari
maupun saat bekerja. Jika disuruh memilih suhu
panas dan suhu dingin pasien lebih memilih suhu
dingin karena merasa lebih nyaman.
Pasien juga mengalami penurunan berat badan
sedang nafsu makan meningkat. Namun demikian
sejak akhir-akhir ini pasien tidak nafsu makan dan
makan lebih sedikit. Pasien juga sering merasa
lemas badan dan sedikit gemetar didaerah jari
kedua tangan. Pasien juga mengeluhkan mudah
lelah walau hanya melakukan aktivitas yang sangat
sederhana dan ringan. Pada pemeriksaan tanda
vital didapatkan TD 120/70 mmHg, nadi 100
x/menit. Pada pemeriksaan fisik ditemukan mata
exopthalmus, pembesaran tyroid teraba (+) difus.
Kata Sulit
1. Exopthalmus : penonjolan abnormal bola
mata yang sering berkaitan dengan gangguan
suatu kelenjar endokrin
2. Difus : penyebaran luas melalui
jaringan/struktur
3. Berdebar-debar : denyut jantung yang tidak
teratur yang sifatnya subjektif
4. Bergetar/tremor : menggigil yang involunter,
gerakan ekstremitas atas yang bersifat
involunter, bolak-balik dabritmik mungkin juga
mengenai suara dan bagian lain.
Kata Kunci
Identitas
Usia : 25 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Keluhan utama : tangan bergetar
Onset : 2 bulan yang lalu
Keluhan penyerta :
- sering berdebar-debar
- sering berkeringat
- penurunan BB
- peningkatan nafsu makan
- mudah lelah
- pasien lebih nyaman dengan suhu dingin
Riwayat penyakit sekarang :
+ tidak nafsu makan
+ sering lemas badan da sedikit gemetar
dijari kedua tangan
+ mudah lelah
Pemeriksaan klinis:
mata : exopthalmus
thyroid : teraba difus
Identifikasi Masalah
Perempuan (25 tahun) dengan keluhan
tangan bergetar sejak 2 bulan yang lalu, merasa
sering berdebar-debar, sering berkeringat walaupun
tidak dibawah matahari maupun saat bekerja, lebih
memilih suhu dingin karena merasa lebih nyaman,
mengalami penurunan berat badan sedang nafsu
makan meningkat. Pasien juga sering merasa lemas
badan dan mufah lelah disertai sedikit gemetar
didaerah jari kedua tangan.. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan mata exopthalmus, pembesaran tyroid
teraba (+) difus.
Perempuan
(25 tahun)

Keluhan
Pemeriksaan
Penyerta :
klinis :
Keluhan utama: - berdebar-
Mata :
Tangan bergetar debar
exopthalmus
Onset : 2 bulan - Berkeringat
Thyroid : teraba
- - BB
(+) difus
- + Nafsu
makan
- Gemetar
dijari
- Lebih suka
suhu dingin

Gangguan
Metabolik
Endokrin
Gangguan
Metabolik
Endokrin

Anatomi
Gangguan
Histologi
Tiroid
Fisiologi

Hipotiroidisme Hipertiroidisme

Hashimoto Non Toxic Toxic Nodular


Graves Disease
Tiroditis Nodular Goiter Goiter

Thyroid Papilar
Carsinoma
Hipotesis
Perempuan (25 tahun) melalui hasil
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang didiadnosis Graves Disease
Pertanyaan Terjaring
1. Interpretasikan hasil data tambahan !
2. Jelaskan anatomi, histologi, dan fisiologi dari kelenjar tiroid !
3. Jelaskan perbedaan antara hipertiroid dan hipotiroid !
4. Jelaskan diagnosis dari :
a. Toxic nodular goiter
b. Thyroid papilar carsinoma
c. Hashimoto tyroditis
d. Non toxic nodular goiter
5. Jelaskan tentang Graves Disease :
a. Definisi
b. Epidemiologi
c. Etiologi
d. Patofisiologi
e. Tanda & gejala (diagnosis)
f. Penatalaksanaan
g. Klasifikasi
h. Komplikasi
i. Prognosis
j. Pemeriksaan Penunjang
Interpretasikan hasil data tambahan !
1. Thyroid Stimulating Hormone (TSH):
TSH menstimulasi kelenjar tiroid untuk
memproduksi lebih banyak hormon tiroid untuk
tubuh. Rendahnya kadar hormon tiroid yang
bersirkulasi menyebabkan pelepasan TRH, yang
menstimulasikan produksi TSH, dan akhirnya
meningkatkan produksi hormon tiroid oleh kelenjar
tiroid. Pengukuran TSH menentukan hipotiroid
primer (kelenjar tiroid) dan sekunder (kelenjar
pituitari).
2. Total T4 Immunoassay (Total T4, T4 RIA, thyroxine/T4):
Tes ini digunakan untuk menentukan jumlah total
T4 di dalam darah, yang menunjukkan porsi T4 yang
terikat (ke protein) maupun tidak terikat. Sebagian besar
T4 di dalam darah terikat ke protein. sehingga
beraktivitas. Jumlah T4 bebas dan terikat bisa diukur
dengan tes yang terpisah.
3. Free Thyroxine (FT4):
Uji ini digunakan untuk menentukan jumlah T4
bebas (tidak terikat) di dalam darah. Penting untuk
melihat jumlah T4 bebas karena merupakan porsi dari
hormon tiroid untuk menjadi aktif di dalam tubuh.
4. Total T3 Immunoassay (Total T3, T3RIA, Ltriiodothyronine, atau T3):
Uji ini untuk menentukan jumlah total T3 yaitu bentuk yang
lebih potensial dan aktif dari kedua hormon tiroid dalam darah. Jika
hormon ini terikat ke protein, maka dianggap tidak aktif. Uji ini paling
sering digunakan di dalam diagnosis jenis-jenis hipertiroid yang
berbeda, misalnya penyakit graves. Di dalam hipotiroid, kadar ini
mungkin tetap dalam rentang normal.
5. Free T3:
Jumlah T3 yang tidak terikat oleh protein di dalam sirkulasi,
menjadi jumlah aktivitas biologi hormon-hormon tiroid pada tingkatan
sel. Pengukuran nilai Free T3 meliputi metode indeks dua uji, metode-
metode pemisahan fisik yang mengisolasikan hormon bebas dari
hormon yang terikat protein, atau metode-metode immunoassay.
1. TES T4
Nilai Rujukan :
- Dewasa : 50-113 ng/L (4,5mg/dl)
- Wanita hamil, pemberian kontrasepsi oral : meningkat
- Diatas : diatas 16,5 mg/dl
- Anak-anak : diatas 15,0 mg/dl
- Usila : menurun sesuai penurunan kadar protein plasma
Interpretasi :
- Meningkat : hipertiroidisme, tiroiditis akut, kahamilan, penyakit hati
kronik, penyakit ginjal, diabetes mellitus, neonatus, obat-obatan:
heroin, methadone, estrogen.
- Menurun : hipotiroidisme, hipoproteinemia, obat2an seperti
androgen, kortikosteroid, antikonvulsan, antitiroid (propiltiouracil) dll.
2. TES T3
· Nilai Rujukan:
Dewasa : 0,8 – 2,0 ng/ml (60-118 ng/dl)
Wanita hamil, pemberian kontrasepsi oral : meningkat
Infant dan anak-anak kadarnya lebih tinggi.

· Interpretasi
- Meningkat : hipertiroidisme, T3 tirotoksikosis, tiroiditis akut,
peningkatan TBG, obat-obatan:T3 dengan dosis 25 mg/hr atau lebih
dan obat T4 300 mg/hr atau lebih, dextrothyroxine, kontrasepsi oral
- Menurun : hipotiroidisme (walaupun dalam beberapa kasus kadar T3
normal), starvasi, penurunan TBG, obat-obatan: heparin, iodida,
phenylbutazone, propylthiuracil, Lithium, propanolol, reserpin,
steroid.
3. TES FT4 (FREE THYROXIN)
Nilai Rujukan: 10 – 27 pmol/L

Interpretasi
- Meningkat : pada penyakit Graves dan
tirotoksikosis yang disebabkan kelebihan produksi
T4.
- Menurun : hipertiroidisme primer, hipotiroidisme
sekunder, tirotoksikosis karena kelebihan produksi
T3.
5. Tes TSH (THYROID STIMULATING HORMONE)
Nilai rujukan : 0,4 – 5,5 mIU/l
Interpretasi :
- Meningkat : hipotiroidisme pimer, tiroiditis (penyakit
autoimun Hashimoto), terapi antitiroid pada
hipertiroidisme, hipertiroidisme sekunder karena
hiperaktifitas kelenjar hipofisis, stress emosional
berkepanjangan, obat-obatan misalnya litium karbonat
dan iodium potassium.
- Menurun : hipertiroidisme primer, hipofungsi kelenjar
hipofisis anterior, obat-obatan misalnya aspirin,
kortikosteroid, heparin dan dopamin.
Jelaskan anatomi, histologi, dan
fisiologi dari kelenjar tiroid !
Anatomi, Histologi, dan fisiologi
Histologi
Kelenjar tiroid in-aktif dan aktif
fisiologi
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI
Histologi abnormal kelenjar tiroid
Graves
Tiroiditis Hashimoto
Sturuma multinodular dan difus
Adenoma Tiroid
Thyroid papillar carcinoma
Karsinoma folikuler
Karsinoma anaplastik
Karsinoma Meduler
Jelaskan perbedaan antara hipertiroid
dan hipotiroid !
HIPOTIROIDISME

Hipotiroid adalah suatu penyakit akibat penurunan fungsi


hormon tiroid yang dikikuti tanda dan gejala yang
mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Faktor
penyebabnya akibat penurunan fungsi kelanjar tiroid, yang
dapat terjadi kongenital atau seiring perkembangan usia. Pada
kondisi hipotiroid ini dilihat dari adanya penurunan
konsentrasi hormon tiroid dalam darah disebabkan
peningkatan kadar TSH (Tyroid Stimulating Hormon).
• Hipotiroidisme dapat terjadi
• (1) karena kegagalan primer kelenjar tiroid itu sendiri;
• (2) sekunder karena defisiensi TRH, TSH, atau keduanya;
atau
• (3) karena kurangnya asupan iodium dari makanan.
• Gejala hipotiroidisme umumnya disebabkan oleh
penurunan aktivitas metabolik secara keseluruhan. Seorang
pasien dengan hipotiroidisme antara lain mengalami
penurunan laju metabolik basal; memperlihatkan
penurunan toleransi terhadap dingin (kurangnya efek
kalorigenik); memiliki kecenderungan mengalami
pertambahan berat berlebihan (pembakaran bahan bakar
berlangsung lambat); mudah lelah (produksi energi
menurun); memiliki nadi yang lambat dan lemah (akibat
berkurangnya kecepatan dan kekuatan kontraksi jantung
dan berkurangnya curah jantung); dan memperlihatkan
perlambatan refleks dan responsivitas mental (karena efek
pada sistem saraf
HIPERTIROIDISME
• Hipertiroid adalah suatu kondisi dimana
terjadi peningkatan jumlah produksi jumlah
hormon tiroid dalam tubuh.dengan katalain
kelenjar tiroid bekerja lebih aktif,dinamakan
dengan thyrotoksikosis,dimana berarti terjadi
peningkatan level hormon tiroid yang ekstrim
dalam darah.
• Penyebab tersering hipertiroidisme adalah penyakit
Graves. Ini adalah suatu penyakit autoimun ketika tubuh
secara salah menghasilkan thyroid stimulating
immunoglobulin
• (TSI) yang juga dikenal dengan long-acting thyroid
stimulator (LATS), suatu antibodi yang sasarannya adalah
reseptor TSH di sel tiroid. (Penyakit autoimun adalah
kondisi ketika sistem imun menghasilkan antibodi bagi
salah satu jaringan tubuh sendiri.) TSI merangsang sekresi
dan pertumbuhan tiroid mirip dengan yang dilakukan oleh
TSH. Namun, tidak seperti TSH, TSI tidak dipengaruhiinhibisi
umpan-balik negatif hormon tiroid sehingga sekresi dan
pertumbuhan tiroid berlanjut tanpa kendali
4. Jelaskan diagnosis dari :
a. Toxic nodular goiter
b. Thyroid papilar carsinoma
c. Hashimoto tyroditis
d. Non toxic nodular goiter
Toxic nodular goiter
Toxic nodular goiter
Pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan
glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau
perubahan susunan kelenjar dan morfologinya.
Dampak struma (goiter) terhadap tubuh :
• pemenuhan oksigen
• kesulitan bernapas
• nutrisi serta cairan dan elektrolit.
• disfagia.

(sumber: http://repository.usu.ac.id )
Toxic nodular goiter
Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat,
pemeriksaan fisik dan didukung oleh tingkat TSH
serum menurun dan tingkat hormon tiroid yang
meningkat. Antibodi antitiroid biasanya tidak
ditemukan

(sumber : Davis, Anu Bhalla., 2005, Goiter, Toxic Nodular., eMedicine.,


http://www.emedicine.com/med/topic920.htm Diakses tanggal 13 Februari 2012
)
Toxic nodular goiter
Penatalaksanaan
Terapi dengan pengobatan antitiroid atau beta bloker dapt
mengurangi gejala tetapi biasanya kurang efektif dari pada
penderita penyakit Graves. Radioterapi tidak efektif seperti
penyakit Graves karena pengambilan yang rendah dan karena
penderita ini membutuhkan dosis radiasi yang besar. Untuk
struma multinodular toksik, lobektomi pada satu sisi dan
subtotal lobektomi pada sisi yang lain adalah dianjurkan.

(sumber : Davis, Anu Bhalla., 2005, Goiter, Toxic Nodular.,


eMedicine., http://www.emedicine.com/med/topic920.htm
Diakses tanggal 13 Februari 2012 )
Thyroid papilar carsinoma
• Karsinoma papiler / papillary thyroid
carcinoma (PTC) merupakan bentuk
keganasan tiroid yang paling sering ditemukan
, sampai 60-70% dari seluruh kanker tiroid.
• Kebanyakan karsinoma papiler terjadi secara
spontan.
Thyroid papilar carsinoma
• Pemeriksaan Penunjang
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Penunjang
 TSH
 ≠triglobulin
 Ultrasonografi (USG)
 Pemeriksaan FNAB
 computed tomography scan (CT Scan)
 MRI

(sumber : nzdoc.com_karsinoma-papiler-tiroid-dora-kata-kunci-karsinoma.pdf)
Tiroiditis Hashimoto
- Tiroiditis Hashimoto (juga disebut Tiroiditis
akut limfositik autoimun atau kronis)
adalah penyakit tiroid paling umum di
Amerika Serikat yang merupakan kondisi
warisan yang mempengaruhi lebih dari 10
juta orang
- tujuh kali lebih umum pada wanita
dibandingkan pada pria.
- Hashimoto Tiroiditis akut ditandai dengan
produksi sel kekebalan dan autoantibodi oleh
sistem kekebalan tubuh, yang dapat merusak
sel-sel tiroid
Fitur tiroiditis hashimoto :
• sering bersifat asimptomatik
• Ketika gejala berkembang  nyeri tekan di leher
meningkat
• tanda pertama : - bengkak di bagian depan
bawah leher
- kesulitan menelan
Tanda dan gelaja :
1. mudah Lelah
2. mengantuk
3. pelupa
3. kesulitan dalam belajar
4. kuku kering dan rapuh
5. bengkak di wajah
6. kulit kering dan gatal
7. sembelit
8. meningkatnya kepekaan terhadap
banyak obat
9. tingkat keguguran tinggi
10. menstruasi tidak lancar
Penyebab :
- Tiroiditis hashimoto disebabkan oleh
kerusakan pada sistem kekebalan tubuh.
- Sistem kekebalan tubuh seseorang dengan
Tiroiditis Hashimoto keliru mengenali sel-sel
tiroid normal sebagai jaringan Asing, dan
menghasilkan antibodi yang dapat merusak
sel-sel ini.
- Faktor lingkungan
- Faktor lain yang belum teridentifikasi
Non toxid nodula goiter/ STRUMA
NODUSA NON TOKSIK
Definisi
- Struma adalah pembesaran pada kelenjar
tiroid yang biasanya terjadi karena folikel-
folikel terisi koloid secara berlebihan.
- Struma nodosa non toksik adalah
pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik
teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai
tanda-tanda hypertiroidisme.
Klasifikasi :
Berdasarkan jumlah nodul :
- uninodosa
- multinodosa
Berdasarka kemampuan menangkap yodium
radioaktif :
- nodul dingin
- nodul hangat
- nodul panas
Manifestasi klinis :
• Ada pembesaran pada leher
• Kesulitan menelan dan bernafas
• Insomnia
• Gangguan koordinasi
• Atrofi otot
• Kelelahan berat
• Urine dalam jumlah banyak
• diare
• Integritas ego
• Bb menurun
• Nafsu makan meningkat
• Libido menurun
• Mata eksoftalmus
• Tidak toleransi terhadap panas dan keringat
berlebih

Pada saaat palpasi : teraba batas yang jelas


dan konsistensi kenyal
5. Jelaskan tentang Graves Disease :
a. Definisi
b. Epidemiologi
c. Etiologi
d. Patofisiologi
e. Tanda & gejala (diagnosis)
f. Penatalaksanaan
g. Klasifikasi
h. Komplikasi
i. Prognosis
j. Pemeriksaan Penunjang
Hipertiroidisme dengan Penyakit
Graves
Suatu penyakit autoimun yang biasanya ditandai
oleh produksi autoantibodi yang memiliki kerja
mirip TSH pada kelenjar tiroid.
Autoantibodi IgG ini, yang disebut
immunooglobulin perangsang tiroid (Thyroid-
Stimulating Immunoglobulin) sehingga
meningkatkan pembentukan hormon tiroid,
Etiologi Peny. Graves

• Penderita :

limfosit T mengalami perangsangan terhadap antigen


yang berada didalam kelenjar tiroid yang selanjutnya
akan merangsang limfosit B untuk mensintesis
antibodi terhadap antigen tersebut. Antibodi yang
disintesis akan bereaksi dengan reseptor TSH
didalam membran sel tiroid sehingga akan
merangsang pertumbuhan dan fungsi sel tiroid.
Etiologi Peny. Graves

• Adanya autoantibodi kerja mirip TSH (reseptor TSH)


di membran sel folikel tiroid. Autoantibodi IgG ini, yang
disebut immunooglobulin perangsang tiroid (Thyroid-
Stimulating Immunoglobulin), thyroid peroksidase
antibodies (TPO), dan TSH receptor antibodies
(TRAb) yang menyebabkan perangsangan produksi
hormon tiroid secara terus menerus, sehingga kadar
hormon tiroid menjadi tinggi.
• Hipertiroid merupakan kelebihan hormone tiroid (T4 & T3) disebabkan
tiroiditis,autoimun (Graves)(common), Goiter.
• Penyakit graves adalah penyakit autoimun. Etiologinya belum diketahui secara
pasti
• Pada penyakit Graves, limfosit T mengalami perangsangan terhadap antigen yang
berada didalam kelenjar tiroid yang selanjutnya akan merangsang limfosit B untuk
mensintesis antibodi terhadap antigen tersebut. Antibodi yang disintesis akan
bereaksi dengan reseptor TSH didalam membran sel tiroid sehingga akan
merangsang pertumbuhan dan fungsi sel tiroid, dikenal dengan TSH-R antibody.
Adanya antibodi didalam sirkulasi darah mempunyai korelasi yang erat dengan
aktivitas dan kekambuhan penyakit. Mekanisme autoimunitas merupakan faktor
penting dalam patogenesis terjadinya hipertiroidisme, oftalmopati, dan dermopati
pada
penyakit Graves (Shahab, 2002).

• Sumber : Shahab A, 2002, Penyakit Graves (Struma Diffusa Toksik) Diagnosis dan
Penatalaksanaannya, Bulletin PIKKI: Seri Endokrinologi-Metabolisme, Edisi Juli
2002, PIKKI, Jakarta, 2002.
Klasifikasi

• Hipertiroidisme dapat timbul spontan atau akibat asupan hormon tiroid


yang berlebihan. Terdapat dua tipe hipertiroidisme spontan yang paling
sering dijumpai yaitu penyakit Graves dan goiter nodular toksik. Pada
penyakit Graves terdapat dua kelompok gambaran utama yaitu tiroidal
dan ekstratiroidal, dan keduanya mungkin tak tampak. Ciri-ciri tiroidal
berupa goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid, dan hipertiroidisme akibat
sekresi hormon tiroid yang berlebihan. Pasien mengeluh lelah, gemetar,
tidak tahan panas, keringat semakin banyak bila panas, kulit lembab, berat
badan menurun, sering disertai dengan nafsu makan yang meningkat,
palpitasi dan takikardi, diare, dan kelemahan serta atropi otot. Manifestasi
ekstratiroidal oftalmopati ditandai dengan mata melotot, fisura palpebra
melebar, kedipan berkurang, lig lag, dan kegagalan konvergensi. Goiter
nodular toksik, lebih sering ditemukan pada pasien lanjut usia sebagai
komplikasi goiter nodular kronik, manifestasinya lebih ringan dari penyakit
Graves (Schteingart, 2006).
TANDA DAN GEJALA SERTA DIAGNOSIS
Untuk daerah di mana pemeriksaan laboratorik
yang spesifik untuk hormon tiroid tak dapat
dilakukan, penggunaan indeks Wayne dan
New Castle sangat membantu menegakkan
diagnosis hipertiroid. Pengukuran
metabolisme basal (BMR), bila basil BMR > ±
30, sangat mungkin bahwa seseorang
menderita hipertiroid.
GRAVES
DESEASE
GRAVES DESEASE
• Penyakit ini ditandai oleh manifestasi trias:
• Tirotoksikosis, yang disebabkan oleh hiperfungsi
tiroid dengan pembesaran yang difus, ditemukan
pada seluruh kasus.
• Oftalmopati yang infiltratif dengan akibat
eksoftalmus ditemukan pada sekitar 40% pasien.
• Dermopati yang infiltratif, terlokalisir, (kadang
disebut juga miksedema pretibial) ditemukan
pada sebagian kecil kasus.
GAMBARAN USG
TATA PELAKSANAAN
1. Obat Antitiroid: Golongan Tionamid
 Terdapat 2 kelas obat golongan tionamid, yaitu tiourasil
dan imidazol. Tiourasil dipasarkan dengan nama
propiltiourasil (PTU) dan imidazol dipasarkan dengan
nama metimazol dan karbimazol.
 Obat golongan tionamid mempunyai efek intra dan
ekstratiroid. Mekanisme aksi intratiroid yang utama ialah
mencegah/mengurangi biosintesis hormon tiroid T3 dan
T4, dengan cara menghambat oksidasi dan organifikasi
iodium, menghambat coupling iodotirosin, mengubah
struktur molekul tiroglobulin dan menghambat sintesis
tiroglobulin. Sedangkan mekanisme aksi ekstratiroid yang
utama ialah menghambat konversi T4 menjadi T3 di
jaringan perifer (hanya PTU, tidak pada metimazol).
 Indikasi : pengobatan utama untuk hipertiroid atau sebagai terapi persiapan
sebelum radioterapi atau pembedahan, Serta tirotoksikosis. Obat antitiroid juga
digunakan dalam terapi primer pasien dalam kehamilan, anak dan orang dewasa.
a. Propiltiourasil : pada pasien alergi metimazol dan paisen sedang hamil
b. Metimazol : tidak pada pasien hamil, anak-anak, orang dewasa
 Kontraindikasi
Metimazol : jika pasien alergi atau dikontraindikasikan terhadap obat tersebut
dan hamil.
 Interkasi :Kontrol jika diberikan bersamaan dengan warfarin
 Efek samping:
a. agranulositosis (metimazol mempunyai efek samping agranulositosis yang
lebih kecil), gangguan fungsi hati, lupus like syndrome, yang dapat terjadi dalam
beberapa bulan pertama pengobatan.
b. Ikterus Kholestatik
c. Angioneurotic edema
d. Hepatocellular toxicity
e. Arthralgia Akut.
 Dosis Awal :
• PTU : 300-600mg/hari (3-4 kali sehari)
• Methimazole : 30–60 mg/hari (3 kali sehari)
• Carbimazole : 20-60 mg/hari (3 kali sehari)
Contoh
Penulisan
Resep Obat
2. Terapi Sodium Iodida-13

3. Operasi pengangkatan
kelenjar tiroid (tiroidektomi) : untuk nodul,
gondok ukuran besar, kurangnya penanganan
obat tiroid dan pasien yang kontraindikasi
terhadap tionamida (alergi atau efek samping).
g. Komplikasi Graves disease
1. Tirotoksikosis
yang disebabkan oleh hiperfungsi tiroid dengan
pembesaran yang difus, ditemukan pada seluruh kasus.
2. Oftalmopati
yang infiltratif dengan akibat eksoftalmus ditemukan
pada sekitar 40% pasien
3. Dermopati
yang infiltratif, terlokalisir, (kadang disbebut juga
miksedema pretibial) ditemukan pada sebagian kecil
kasus
(buku ajar patologi Robbins)
h. prognosis
Prognosis graves disease umumnya baik bila
diobati dengan adekuat dan tepat. Prognosis
graves disease sangat tergantung dengan
etiologinya. Penyakit graves paling sering terjadi
pada wanita diatas usia 20 tahun namun
gangguan juga dapat terjadi pada usia
berapapun dan dapat juga terjadi pada laki –
laki. Pengobatannya adalah diberikan obat
antitiroid, yodium radioaktif, dan tindakan
bedah. (US National Library Of Medicine,2014)
TERIMA KASIH