Anda di halaman 1dari 82

Kelompok 3

Fasilitator : dr. Vitrosa Yosepta Sera

ANGGOTA KELOMPOK:

1. SAMUEL MANURUNG
2. MUNTIR GURUSINGA
3. SALSALINA VIOLETHA BR. GINTING
4. SANTHA ELISKA BR. GURUSINGA
5. DIAN CANTIKA LINGGA
6. NI NYOMAN PUTRI RIASNI
7. ABIYYU PRAYOGA
8. SATRIA SAPUTRA
9. MUHAMMAD RIDHO
10. APRILOIS PERDANA
Pemicu 2

Seorang perempuan berusia 20 tahun datang ke praktik dokter dengan


keluhan jarang haid. Keluhan dikeluhkan pasien sejak 1 tahun yang lalu
berupa 2-3 bulan sekali baru mendapat haid. Pasien seorang mahasiswa
fakultas kedokteran tingkat dua. Berdasarkan anamnesis diketahui pola
makan pasien berlebihan. Dari pemeriksaan kilinis ditemukan tekanan
darah 130/90 mmHg, denyut nadi 80x/menit, frekuensi nafas 16x/menit
dan suhu 36°C. Pada pengukuran antropometri diperoleh IMT 30kg/m2.
Kata Sulit
1. Haid
merupakan pengeluaran sekret yang terdiri dari darah dan jaringan mukosa
melalui vagina
2. Antropometri
Suatu studi yang menyangkut dimensi tubuh manusia dan aplikasi rancangan
yang menyangkut geometri fisik, massa, kekuatan, dan karakteristik tubuh
manusia. Pengukuran antropometri meliputi berat badan, tinggi, indeks massa
tubuh, lingkar pinggang, dan lingkar lengan atas
3. Indeks Massa Tubuh
Metode yang digunakan untuk mengetahui rentang berat badan seseorang dan
memprediksi seberapa besar resiko gangguan kesehatan seseorang dalam tolak
ukur yang digunakan yaitu berdasarkan berat badan dan tinggi badan
Kata Kunci
1. Identitas Pasien :
 Nama :-
 Umur : 20 tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
2. Keluhan Utama : Jarang Haid
3. Onset : 1 tahun sekali
4. Frekuensi : 2-3 bulan sekali
5. Kebiasaan : Pola makan berlebihan
6. Pemeriksaan Klinis :
 Tekanan Darah : 130/90 mmHg
 Suhu : 36°C
 Nadi : 80x/menit
 Frekuensi Nafas : 16x/menit
 IMT : 30kg/m2
Identifikasi Masalah

Perempuan (20 th) mengeluh jarang haid, 2-3 bulan sekali sejak 1 tahun
yang lalu dengan pola makan yang berlebihan dengan pemeriksaan klinis
:
Tekanan darah 130/90 mmHg
IMT 30kg/m2
Perempuan (20th)

Jarang TD : 130/90
Haid mmHg
2-3 bulan
IMT : 3Okg/m2
sekali

Gangguan
Endokrin
Anatomi
Gangguan Sistem
Reproduksi Wanita Histologi

Tumor Fisiologi
PCOS
Ovarium
Cushing DD
Syndrome Definisi - Prognosis
Hirsutisme
Hipotesis

Perempuan (20th) mengeluh jarang haid sejak 1 tahun


yang lalu berupa 2-3 bula sekali baru haid dengan pola
makan berlebih didiagnosa PCOS
Pertanyaan Terjaring

1. Interpretasikan hasil data!


2. Jelaskan anatomi, histologi, dan fisiologi dalam normal dan patologinya organ reproduksi
wanita!
3. Jelaskan PCOS :
a. Definisi
b. Epidemiologi
c. Etiologi
d. Patofisiologi
e. Tanda & gejala (diagnosis)
f. Penatalaksanaan
g. Klasifikasi
h. Komplikasi
i. Prognosis
j. Pemeriksaan Penunjang
4. Jelaskan DD dari PCOS :
a – e!
1. Interpretasikan Hasil data!

No. Data Hasil Nilai Normal Keterangan

1. Tekanan Darah ( TD ) 130/90 mmHg <120/<80 mmHg Pre-Hipertwnsi

2. Heart Rate/Nadi ( HR ) 80x/menit 80-100 x/menit Normal

3. Frekuensi Napas ( RR ) 16x/menit 16-20 x/menit Normal

4. Termo/Suhu ( T ) 36˚C 35˚-37˚C Normal

5. Index Massa Tubuh ( IMT ) 30 Kg/m2 18,5-24,9 Obesitas

6. Trigliserida ( TG ) 250 mg/dL <150 mg/dL Tinggi

7. Kolesterol HDL 30 mg/dL >60 mg/dL Rendah

8. Kolesterol LDL 139 mg/dL <100-129 mg/dL Tinggi


Tekanan Darah 130/90 mmHg
 Diketahui 130/90 mmHg tergolong Pre-Hipertensi.
 Tekanan darah dalam kisaran prehipertensi dihubungkan dengan peningkatan risiko
terjadinya hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Prehipertensi termasuk kategori
independen tekanan darah.
 Menurut The Joint National Committee (JNC 7) on Prevention, Detection, Evaluation and
Treatment of High Blood Pressure, prehipertensi adalah apabila tekanan darah sistolik 120
- 139 mmHg atau tekanan darah diastolik 80 - 89 mmHg pada usia lebih dari 18 tahun.
[sumber : Artikel Penelitian Jurnal Kersehatan Masyarakat Nasional Vol.9 no.4 2015, Pre-
Hiperten Pada Obesitas Abdominal, oleh Lia Churniawati, Santi Martini, Chatarina Umbul
Wahyuni]
Heart Rate/Nadi (H.R.) 80 kali per-menit

 Diketahui Heart Rate/Nadi 80 kali per menit


tergolong normal.
Respiration Rate/Frekuensi Napas x/menit

 Diketahui Respiration Rate/Frekuensi Napas 20 kali


per-menit tergolong
Termo/Suhu (T) 36˚C

 Diketahui Termo/Suhu (T) yaitu 36,5˚C digolongkan Normal


 Fluktuasi suhu permukaan ini, suhu yang dapat diterima berkisar dari 36o C atau 38oC.
Fungsi jaringan dan sel tubuh paling baik dalam rentang suhu yang relatif sempit (Perry,
2005).
 Individu yang mengalami demam dikatakan dalam keadaan febril (febris) dan individu
yang tidak mengalami demam disebut afebril (afebris). Peningkatan suhu 37,5-38o C
pada manusia dikatakan mengalami kenaikan suhu subfebril atau kenaikan suhu tubuh
ringan. Demam didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh lebih dari 37,2o C pada
pukul 00.00-12.00 WIB dan lebih dari 37,7o C pada pukul 12.00-00.00 WIB. Suhu
tubuh yang dianggap normal pada manusia adalah antara 36,1-37,7o C (Tamsuri, 2006).
[ Repository USU ]
Trigilserida
Kolesterol HDL
Kolesterol LDL
2. Anatomi, Histologi, dan Fisiologi dalam normal dan patologi organ
reproduksi wanita
Organ Genitalia Feminina Externa
Uterus, Ovarium, Tuba uterina dengan duplikasi peritoneal ; diliahat
dorsal
Uterus, vagina, ovarium, dan tuba uterine; potongan frontal;dilihat dorsal
Histologi
Ovarium
Ovarium: Korteks ovarium dan folikel primordial dan primer
Corpus Luteum
Tuba Uterina
Uterus
Vagina
Fisiologi
Siklus
ovarium
Siklus
endometrium (1)
Siklus
endometrium (2)
Kontrol Fungsi
Ovarium, Kontrol
Ovulasi, dan Kontrol
Korpus Luteum
Kontrol Fungsi
Ovarium
Gambar Kontrol Umpan Balik FSH dan Sekresi LH Tonik selama
Fase Folikel
Kontrol Ovulasi
Kontrol Korpus Luteum
3. Definisi PCOS

 Definisi klinis dari sindrom ovarium polikistik yang diterima secara luas adalah suatu kelainan pada wanita
yang ditandai dengan adanya hiperandrogenisme dengan anovulasi kronik yang saling berhubungan dan tidak
disertai dengan kelainan pada kelenjar adrenal maupun kelenjar hipofisis.
 Konsensus Rotterdam (2003) mendefinisikan PCOS sebagai setidaknya dua dari karakteristik berikut:
1. Hiperandrogenisme klinis dan / atau hiperandrogenemia
2. Oligoanovulation
3. Ovarium polikistik pada ultrasound

 Meskipun definisi lain menekankan adanya hiperandrogenisme klinis atau biokimia sebagai karakteristik
penting dari penyakit ini, ada beberapa perdebatan mengenai sentralitas hiperandrogenisme pada PCOS.
Kriteria Rotterdam yang lebih inklusif mungkin cocok untuk pasien dengan hiperandrogenisme klinis yang
sulit dinilai.

(sumber : J Obstet Gynaecol Can.dan Nat Rev Endocrinol. 2011 http://www.pathophys.org


(sumber: dr.Laksmi terdapat pada http://www.univmed.org)
Epidemiologi PCOS
 Epidemiology Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) adalah gangguan yang umum, sering rumit oleh infertilitas
anovulasi kronis dan hiperandrogenisme manifestasi klinis oligomenorrhoea, hirsutisme dan jerawat. Banyak
wanita dengan kondisi ini obesitas dan memiliki prevalensi lebih tinggi dari toleransi glukosa terganggu,
diabetes tipe II dan sleep apnea daripada diamati pada populasi umum.
 PCOS adalah salah satu gangguan endokrin yang paling umum pada wanita usia reproduksi.7–9
Karenaperbedaan dalam kriteria diagnostik yang digunakan, perkiraan prevalensi sangat bervariasi, mulai dari
2,2% hingga setinggi sebagai 26% .9-14 Prevalensi PCOS ketika didiagnosis oleh kriteria Rotterdam adalah
lebih dari dua kali lipat yang ditemukanketika kriteria National Institutes of Health (NIH) digunakan untuk
mendiagnosis PCOS.
 Prevalensi PCOS mungkin berbeda menurut latar belakang etnis. Misalnya, dibandingkan dengan Kaukasia,
prevalensi yang lebih tinggi tercatat di kalangan wanita asal Asia Selatan, di mana ia hadir pada yang lebih muda
usia dan memiliki gejala yang lebih berat

(Sumber : Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Green top Guideline No.33: Long-term
Consequences of Polycystic Ovary Syndrome. London: RCOG Press; 2014. Tersedia pada
https://www.rcog.org.uk/globalassets/documents/guidelines/gtg_33.pdf
Etiologi PCOS
Penyebab sebenarnya sindrom ovarium polikistik hingga saat ini belum diketahui pasti. diduga faktor penyebabnya
terletak pada gangguan proses pengaturan ovulasi dan ketidakmampuan enzim yang berperan pada proses sintesis
estrogen di ovarium. tetapi riwayat keluarga dari penderita PCOS biasanya ditemukan. Telah diteliti bahwa keluarga
dengan penderita PCOS memperlihatkan pola pewarisan dominan autosomal. Seorang perempuan dengan PCOS bisa
memiliki ayah dengan rambut abnormal, saudara perempuan dengan hirsutisme, atau ibu dengan oligomenore. Faktor
risiko yang ditemukan pada penderita PCOS dapat diperburuk dengan diet dan aktivitas fisik yang kurang baik padahal
gejala klinis reproduktif dan metabolik terkadang dapat diperbaiki dengan modifikasi gaya hidup seperti mengurangi berat
badan dan olahraga.
Faktor Risiko
 Faktor risiko PCOS pada orang dewasa di antaranya:
 Riwayat keluarga
 Obesitas
 Diabetes tipe 1
 Diabetes tipe 2
 Diabetes gestasional
Sumber: 1S.M. Sirmans dan K.A. Pate, Clinical Epidemiology, 2014, 6, 1-13. Tersedia pada
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3872139/pdf/clep-6-001.pdf
2 A. Baziad, CDK-196, 2012, 39(8), 573-75. Tersedia pada
http://www.kalbemed.com/Portals/6/06_196Sindrom%20Ovarium%20Polikistik%20dan%20Penggunaan%20Analog%20
GnRH.pdf
Patofisiologi PCOS
Tanda & Gejala ( Diagnosis ) PCOS
Gejala PCOS
Biasanya gejala-gejala PCOS akan semakin jelas terlihat ketika wanita memasuki
usia 16 sampai 24 tahun. Beberapa gejala-gejala umum PCOS adalah:
1. Pertumbuhan rambut yang berlebihan, biasanya di punggung, bokong, wajah, atau
dada.
2. Kulit berminyak atau berjerawat.
3. Depresi.
4. Kesulitan untuk hamil.
5. Rambut kepala rontok atau menipis.
6. Berat badan bertambah.
7. Menstruasi tidak teratur.
Dalam setahun frekuensi menstruasi lebih sedikit, atau jumlah darah yang dikeluarkan saat
menstruasi lebih banyak.
Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau
kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien.
Untuk mendiagnosis PCOS, dokter akan melakukan beberapa hal berikut:
 Pemeriksaan fisik. Dokter akan mencatat beberapa informasi penting
tentang tubuh penderita seperti tinggi badan, berat badan, tekanan darah,
keadaan kulit, menghitung indeks massa tubuh, memeriksa payudara,
perut, dan kelenjar tiroid. Dokter juga akan memeriksa organ reproduksi
wanita.
 Tes darah. Penderita akan diminta untuk menjalani tes darah untuk
mengukur kadar hormon, kadar gula darah dan tingkat kolesterol.
 Tes ultrasound. Tes ini akan memperlihatkan jumlah kista dalam
ovarium dan ketebalan dinding uterus.
 ( NHS Choices UK (2016). Health A-Z. Polycystic Ovary Syndrome. )
Tatalaksana PCOS
 Setiap pasien PCOS yang overweight sebaiknya dimotivasi untuk
menurunkan berat badannya untuk memperbaiki manifestasi klinis dan
menurunkan risiko DM tipe 2
- metformin (untuk mengurangi resistensi insulin sehingga dapat
mengembalikan siklus ovulasi
- thiazolidinedione (tidak disarankan untuk perempuan yang ingin hamil)
- klimofen sitrat (untuk mengembalikan fertilisasi agar kehamilan dapat
terjadi )
- progesteron (medroksi progresteron 5-10 mg PO , 1 x/hari selama 10-14
hari tiap 1-2 bulan )
-progestogen – impregnated intra uterine coil
Klasifikasi PCOS

PCOS berdasarkan adanya kritera mayor dan kriteria minor. Kriteria


mayor meliputi: anovulasi kronik, hiperandrogenemia, tanda-tanda klinis
dari hiperandrogenisme, dan tidak ada penyebab lain (etiologi lain telah
disingkirkan). Sedangkan kriteria minor meliputi: resistensi insulin, onset
saat permenarke pada hirsutisme dan obesitas, adanya peningkatan rasio
LH dan FSH, dan anovulasi intermiten yang berhubungan dengan
hiperandrogenemia (testosterone bebas, DHEAS) [William et al., 2007].
Harus mecakup kedua kriteria dibawah ini :
1. Cigo-ovulasi
2. hiperandrogenism
ESHRE / ASRM , rotterdam (2003)
Mencakup setidaknya 2 dari 3 kriteria dibawah ini :
1. Oligo atau anovulasi
2. Gejala klinis dan atau laboratoris kelebihan androgen
3. Ovarium yang polikistik
(dengan mengenyamingkan kelainan lain yang terkait )
AE & PCOS Society (2009)
Harus mencakup kriteria dibawah ini :
1. Hiperandrogenisme
2. Disfungsi ovarium
3. Dengan mengenyampingkan kelainan terkait
Komplikasi PCOS

1. Infertilitas
2. Hipertensi dan penyakit jantung koroner
3. Masalah kulit dan hirsutisme
4. Obesitas
Prognosis PCOS

Beberapa kelompok dilakukan penilaian mengenai toleransi glukosa di antara


wanita SOPK dan semua risiko terjadinya diabetes tipe 2 ditemukan meningkat
3–7 kali.
Angka prevalensi intoleransi glukosa pada wanita SOPK jauh lebih tinggi
daripada yang diperkirakan dibandingkan dengan populasi acuan pada wanita
yang sama umurnya: 31–35% terjadi gangguan toleransi glukosa dan 7,5–10 %
menderita diabetes tipe 2. Sedangkan pada SOPK non-obese (masing-masing
10% dan 15%).
Pemeriksaan Penunjang PCOS

1. Anamnesis
2. Tes kadar progesteron
3. Pengukuran kadar FSH dan LH
4. Pengukuran kadar prolactin
5. Pemeriksaan cadangan ovarium
4. Definisi, Epidemiologi, Etiologi, Patofisiologi, dan
Diagnosis DD dari PCOS
A. Hirsutisme

Definisi
Hirsutisme mengacu pada pertumbuhan rambut kasar
pada wanita, paling sering di daerah atas bibir, area
jenggot, perut, atau dada, hirsutisme dikaitkan dengan
kondisi seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS),
neoplasma ovarium, hiperplasia adrenal kongenital,
sindrom cushing, neoplasma
adrenal,obesitas,hipotiroidisme
Epidemiologi
Secara umum hirsutisme dapat disebabkan oleh
genetik ataupun obat-obatan tertentu. Hirsutisme
terjadi pada wanita dengan pertumbuhan rambut
berlebihan seperti yang tumbuh pada laki-laki (di dada
misalnya) tarkait faktor hormonal. Sebuah studi di
london melaporkan hirsutisme terjadi pada 1-2 % dari
perempuan
Etiologi dan Patogenesis

 Ada berbagai kondisi yang dapat menyebabkan hirsutisme. Kebanyakan


kondisi ini berhubungan dengan kenaikan tingkat androgen dalam tubuh,
yang sering berasal dari disfungsi dalam proses ovulasi, disisi lain ada juga
hirsutisme idiopatik, mengacu pada pertumbuhan rambut yang terjadi
meskipun kadar androgen yang normal
 Ada 2 jenis rambut: halus, nonpigmentasi rambut halus pendek dan
berpigmen rambut terminal. Kedua jenis rambut ini berasal dari
pilosebasen yang sama kulit. Pengembangan rambut terminal terutama
tergantung pada stimulasi dari unit pilosebasea oleh androgen.
Overstimulasi unit pilosebasea menyebabkan pertumbuhan rambut
terminal di daerah atipikal dari tubuh yang menyebabkan hirsutisme
Penyebab Hirsutisme
 Hirsutime idiopatik
 Penyebab ovarium
Ovarium luteinalis , Hiperaksi luteinalis
 Tumor ovarium
Luteoma kemilan ,Arenoblastomas,Tumor sel Leyding ,Tumor sel hilus ,tumor sel teka
 Penyebab adrenal
Hiperplasia adrenal kongenital ,Sindrom Cushing ,Neoplasma adrenal ,Dehidrogenase 3β-hidrokisteroid ,Defisiensi 11β-
hidrokilase
 Hipotiroidism
 Reisistensi insuilin dan hiperinsulinemia
 Anorecia nervosa
 Akromegali
 Porfiria
 Hiperolaktinemia
 Obat-obatan
Kontrasepsi oral ,Fenitoin,Minoxidin ,Diazoxide
 Steroid anabolik

repository.umy.ac.id
B. Tumor Ovarium

Definisi
Ovarium Kista berarti kantung yang berisi cairan. Kista ovarium (atau kista
indung telur) berarti kantung berisi cairan, normalnya berukuran kecil, yang
terletak di indung telur (ovarium).
Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas sampai
menopause, juga selama masa kehamilan.
Etiologi
 Sampai sekarang ini penyebab dari Kista Ovarium belum
sepenuhnya dimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan
adanya gangguan dalam pembentukan estrogen dan dalam
mekanisme umpan balik ovarium-hipotalamus.
 Kista ovarium disebabkan oleh gangguan (pembentukan)
hormon pada hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.
 gagalnya sel telur (folikel) untuk berovulasi.
Kista ovarium ada yang bersifat jinak dan ganas
(kanker).Biasanya kista yang berukuran kecil bersifat jinak. Kista
ovarium sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin.
Manifetasi Klinis Tumor Ovarium
1. Sering tanpa gejala.
2. Nyeri saat menstruasi.
3. Nyeri di perut bagian bawah.
4. Nyeri pada saat berhubungan badan.
5. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki.
6. Terkadang disertai nyeri saat buang air kecil dan/atau
buang air besar.
7. Siklus menstruasi tidak teratur; bisa juga jumlah darah yang
keluar banyak.
 Manifetasi Klinis Kanker Ovarium

1. Perubahan menstruasi.
2. Rasa sakit atau sensasi nyeri saat bersenggama (dyspareunia).
3. Gangguan pencernaan yang menetap, seperti: kembung, mual.
4. Perubahan kebiasaan buang air besar, contoh: sukar buang air besar (=
sembelit, konstipasi, obstipasi)
5. Perubahan berkemih, misalnya: sering kencing.
6. Perut membesar, salah satu cirinya adalah celana terasa sesak.
7. Kehilangan selera makan atau rasa cepat kenyang (perut terasa penuh).
8. Rasa mudah capek atau rasa selalu kurang tenaga.
9. Rasa nyeri pada (tulang) punggung bawah (Low back pain).
Penegakkan Diagnosis
Diagnosis kista ovarium ditegakkan melalui pemeriksaan dengan
ultrasonografi atau USG (abdomen atau transvaginal), kolposkopi
screening, dan pemeriksaan darah (tumor marker atau petanda tumor).
USG Kista Ovarium
 Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang
oval) dan terlihat sangat echolucent dengan dinding dinding
yang tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista nampak
bayangan echo yang lebih putih dari dinding depannya.
 Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau
multilokuler (bersepta-septa).
 Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus
(internal echoes) di dalam kista yang berasal dari elemen-elemen
darah di dalam kista.
Penatalaksanaan
1. ObservasiJika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup
dimonitor (dipantau) selama 1-2 bulan, karena kista fungsional
akan menghilang dengan sendirinya setelah satu atau dua siklus
haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas (kanker).
2. OperasiJika kista membesar, maka dilakukan tindakan
pembedahan, yakni dilakukan pengambilan kista dengan tindakan
laparoskopi atau laparotomi. Biasanya untuk laparoskopi Anda
diperbolehkan pulang pada hari ke-3 atau ke-4, sedangkan untuk
laparotomi Anda diperbolehkan pulang pada hari ke-8 atau ke-9.
C. Sindrom Cushing
Definisi
 Sindrom Cushing terjadi akibat aktivitas korteks adrenal yang berlebihan.
Sindrom tersebut dapat terjadi akibat pemberian kortikosteroid atau ACTH yang
berlebih atau akibat hiperplasia korteks adrenal.
 Dalam praktis klinis, sebagian besar kasus sindrom cushing disebabkan oleh
pemberian glukokortikoid eksogen. Penyebab lain bersifat endogen dan
disebabkan oleh salah satu dari berikut :
▪ Penyakit primer hipotalamus-hipofisis yang menyebabkan hipersekresiACTH
▪ Hiperplasia atau neoplasia adrenokorteks primer
▪ SekresiACTHektopik oleh neoplasma nonendokrin
Anatomi dan
Histologi
Epidemiologi
 Walaupun data epidemologi sindrom Chusing sangat terbatas
diestemasikan insiden tahunan sindrom ini berkisar 2,3 juta
pertahun diseluruh dunia.
 Penyakit Chusing terutama terjadi pada wanita dengan rasio
wanita ke pria berkisar 3:1 sampai 10:1. Pada klinik endokrin
tersier dinegara maju, ditemukan prevalensi sindrom Chusing
sekitar 5% diantara pasien diabetes melitus yang tidak terkontrol
dan osteoporosis.
 Data tersebut tentunya akan berdampak pada pengoelolaan
pasien –pasien diabetes,obesitas,hipertensi,gangguan
menstruasi,oleh karena itu menjadi penting untuk melakukan
penapsian.
Etiologi dan Patogenesis
 Kelebihan produksi hormon kortisol di korteks adrenal sebagai
kelebihan ACTH dari berbagai sumber atau memang kelenjer
adrenal secara otonom memproduksi kortisol berlebihan tanpa
rangsangan dari ACTH .
 Kortisol hormon yang sangat esensial untuk menjaga
kenormalan metabolisme glukosa dan protein, keseimbangan
elektrolit,fungsi imun,dan juga tekanan darah. Maih banyak
pertanyaan yang belum bisa dijawab mengapa hipofisis menjadi
sangat aktif sehingga mengeluarkan ACTH berlebihan,atau
mengapa korteks adrenal secara otonom hiperaktif sehingga
memproduksi kortisol berlebihan.
 Sekitar 80% sindrom Chusing adalah ACTH-
dependent,dimana ACTH dapat disekrresi oleh adenoma
hipofisis(80% dari ACTH-dependent) atau berasal dari non
hipofisis(ektropik,sekitar 20%dari ACTH-dependent).
 Sisa dari 20% kasus( ACTH-independent),kortisol diproduksi
secara otonom oleh kelenjer adrenaldengan perincian : 60%
kasus adalah adenoma,38% kasus adalah karsinom,dan
kurang dari 2% penyebabnya adalah hiperplasia adrenal masif
yang sangat jarang,seperti primary pigmented nodular
disease (PPNAD) atau sindrom McCune-Albright.
Klasifikasi
SindromCushingterbagi 2, yaitu:
1.TergantungACTH:
· Hiperfungsi korteks adrenalnontumor
· Sindrom ACTHektopik
2. Tidak tergantungACTH:
· Hiperplasia korteks adrenalotonom
· Tumor dengan hiperfungsi korteks adrenal
✓ Adenoma
✓ karsinoma
Pemeriksaan untuk mencari etiologi terdiri dari :
a. Plasma ACTH
b. Serum kortisol
c. High dose overnight dexamethasone suppression test
d. CT atau MRI dari kelenjar adrenal, hipofisis dan
lokasi lainnya
e. Tes stimulasi CRH (dapat dengan sampel dari inferior
petrosal sinus (IPS))
f. Rasio ACTH yang diambil pada vena IPS dan vena
perifer.
Nilai rujukan Kortisol Urin
TERIMA KASIH