Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

KOLESISTOLITIASIS

Pembimbing :
Dr. dr. Robert Hotman Sirait, Sp.An
Disusun oleh :
Rory Wati Tamba (1361050141)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI


PERIODE 1 OKTOBER 2018 – 03 NOVEMBER 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
2018
non-invasif
Insidens batu seperti
empedu di negara
barat adalah 20%
ultrasonografi
dan banyak (USG), CT-scan
Kolesistolitiasis abdomen
menyerang orang
atau batu dewasa dan lanjut Diagnosis Invasif :
kandung usia. kolesisitolitiasis percutaneous
empedu adalah Di negara barat, umumnya dapat transhepatic
suatu gabungan 80% batu empedu ditegakkan cholangiograph
beberapa unsur adalah batu dengan y (PTC),
yang kolesterol.
anamnesis endoscopic
membentuk Sementara ini lengkap, retrograde
suatu material batu kolesterol di
pemeriksaan cholangiopancre
mirip batu yang Indonesia lebih
umum, angka fisik yang teliti atography
terbentuk di
kejadian batu serta tes (ERCP)diperlu
dalam kandung
pigmen lebih laboratorium. kan untuk
empedu dan
tinggi menentukan
duktus sistikus. dibandingkan letak, kausa
angka yang
terdapat di negara
dan luas dari
Barat lesi
obstruksinya.

PENDAHULUAN
Tinjauan pustaka
DEFINISI

adalah suatu gabungan beberapa unsur yang


Kolesistolitia membentuk suatu material mirip batu yang terbentuk di
sis dalam kandung empedu dan duktus sistikus.

Sebagian besar batu empedu, terutama batu


kolesterol, terbentuk di dalam kandung empedu. Kalau
Kolesistolitia batu kandung empedu ini berpindah ke dalam saluran
sis empedu ekstrahepatik, disebut batu saluran empedu
sekunder atau koledokolitiasis sekunder
ANATOMI
Karsinogen
kimiawi

Penurunan Karsinogen
imunitas fisik

Fisiologi

Kelainan
Hormon
kongenital

Gaya hidup
PATOFISIOLOGI

 Infeksi dapat menyebabkan timbulnya benjolan pada


leher melalui beberapa cara yang di antaranya berupa
benjolan yang berasal dari invasi bakteri langsung pada
jaringan yang terserang secara langsung maupun
benjolan yang timbul sebagai efek dari kerja imunitas
tubuh yang bermanifestasi pada pembengkakan kelenjar
getah bening.
MANIFESTASI KLINIS

Asimtomatik : Dispepsia yang kadang disertai


intolerans terhadap makanan berlemak

Simtomatik : nyeri kolik bilier yang mungkin


berlangsung lebih dari 15 menit di daerah
epigastrium, kuadran atas kanan atau prekordium

Ikterus akan muncul apabila terjadi sumbatan


pada aliran empedu sehingga menyebabkan
penurunan ekskresi bilirubin ke dalam empedu.

obstruksi pada saluran empedu juga bisa


mengeluhkan urin yang keluar seperti air teh dan
tinja seperti dempul/pucat

Pada penyakit yang sudah stadium lanjut dapat


terjadi pecahnya benjolan-benjolan pada kulit
atau ulserasi
Pemeriksaan Fisik

Palpasi

 Tanda Murphy positif apabila


nyeri tekan bertambah sewaktu
penderita menarik napas panjang
karena kandung empedu yang
meradang tersentuh ujung jari
tangan pemeriksa dan pasien
berhenti menarik napas
Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

Darah rutin
 Urinalisis
Bilirubin
Biopsi hati

Radiology

 Foto polos abdomen : melihat batu opak dikandung empedu atau di duktus
kholedekus.

c.Ultrasonografi

•Untuk mengidentifikasi dilatasi biliaris intrahepatik dan ekstrahepatik.

d. CT SCAN

•mengidentifikasi kandung empedu tetapi menyediakan informasi tentang sifat, luas,


dan lokasi dilatasi biliaris dan adanya massa di dalam dan di sekitar traktus biliaris

Pemeriksaan histopatologi dengan parafin

•pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan defenitif atau gold standar


Anestesi Umum Intravena
Anastesi umum intravena atau total intravenous
anesthesia (TIVA) adalah suatu teknik anestesi umum dimana
seluruh obat dimasukan melalui jalur intravena, mulai dari
pre-medikasi, induksi serta rumatan anestesi, tanpa
menggunakan zat inhalasi.

Obat yang Umum Digunakan

• Midazolam 5 mg
• Fentanyl 50 mcg
• Propofol 100 mg
• Vecuronium 10 mg
• Asam Tranexamat 1 gram
• Fentanyl 50 mcg
Pemantauan Intraoperatif
Pemantauan dasar paling sedikit harus dapat mendeteksi
hal-hal yang mengancam nyawa, oleh karena itu
setidaknya harus dipantau tanda-tanda vital.

Perawatan Post Operatif


Pasien tetap harus dipantau kondisnya baik dari tekanan
darah, saturasi oksigen, cairan, dan kebutuhan oksigen,
selain itu untuk menentukan rencana perawatan
selanjutnya,
LAPORAN KASUS

Identifikasi
Nama : Tn. P
Umur : 66 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku bangsa : Jawa
Agama : Kristen
Alamat : Bekasi
Gadung

Keluhan Utama : Nyeri Ulu Hati


Riwayat Perjalanan Penyakit: Pasien datang ke IGD RS UKI dengan keluhan nyeri ulu
hati sejak 3 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit.Nyeri dirasakan terus
menerus dan terkadang menjalar sampai ke pinggang.Keluhan sering dirasakan
pasien pada saat beraktivitas dan berkurang jika pasien beristirahat
sebentar.Sebelumnya pasien sudah pernah mengalami gejala seperti ini namun tidak
dilakukan pengobatan.Pasien sudah diberikan obat ranitidine, namun keluhan tidak
berkurang.BAB dan BAK tidak ada keluhan.Napsu makan baik.Demam disangkal,
mual muntah disangkal, sakit kepala disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Terdapat riwayat diabetes mellitus
(2008)

Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit serupa pada keluarga atau riwayat
keganasan disangkal

Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis [GCS 15 (E4M6V5)]
Tanda Vital
Tekanan darah: 120/70 mmHg
Nadi :80 x/menit
Pernafasan : 18x/menit
Suhu : 36,5oC
Saturasi O2 : 99 %
Antropometri
Tinggi badan : 168 cm
Berat Badan : 62 kg
BMI : 21 (normal)
Kepala : Normocephali
Mata : Sklera ikterik -/-, Konjungtiva Anemis -/-
Mulut : bibir kering (-)
Leher : Kelenjar getah bening tidak teraba membesar
Paru
Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris kanan-kiri
Palpasi : Vokal fremitus simetris
Perkusi : Sonor-sonor
Auskultasi : BND vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Tidak terdapat vena-vena yang melebar
Palpasi : Batas jantung normal
Perkusi : Pekak
Auskultasi : BJ I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Perut tampak datar
Auskultasi : Bising usus (+) 5x/m
Perkusi : Nyeri ketok (-), timpani
Palpasi : Nyeri tekan (+) regio epigastrium (+),
hipokondria kanan (+), Murphy sign (+)
Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2”, Edema –
LABORATORIUM DARAH

Laboratorium (01/10/2018)
Hasil Nilai Rujukan
H2TL Hemoglobin 11.8 g/dL 12-14
Hematokrit 36.1 % 37 – 43
Leukosit 6.5 rb/µL 5rb-10rb
Trombosit 214 ribu/µL 150rb – 400rb
Gula Darah Sewaktu GDS 137 mg/dl < 200 mg/dl
Ureum & Kreatinin Ureum darah 28 mg/dl 15-45 mg/dl
Kreatinin darah 1.53 mg/dl 0.70-1.10 mg/dl

Hemostasis Masa perdarahan 2menit 1-3 menit


Masa pembekuan 14 menit 10-16 menit
Fungsi Hepar SGOT 34 U/L 10-34 U/L
SGPT 42 U/L 9-43 U/L
Laboratorium (08/10/2018)
Hasil Nilai Rujukan
Elektrolit Na 142mmol/L 136-145
K 3.6 mmol/L 3.5-5.1
Cl 103 mmol/L 99-111

Diagnosa Bedah : Kolesistolitiasis


Diagnosa Anestesi : Kolesistolitiasis pro ASA 3
Rencana Anestesi

Persiapan Operasi :
Persetujuan operasi tertulis (+)
Pemasangan IV line cairan kristaloid Ring As 500 cc

Teknik Anestesi : Anestesi umum dengan Intubasi


Posisi : Supinasi
Pernafasan : Nasal canule O2 3 lpm
Cairan : Ringer Laktat
Monitoring : Observasi tanda vital selama operasi setiap 5 menit,
cairan perdarahan, dan produksi urin. Perawatan pasca
anestesi di ruang pemulihan.
Tindakan Anestesi
Jam 08.00 pasien masuk kamar operasi dan dilakukan pemasangan infus
cairan Ringer Laktat, dan manset.
Jam 08.05 dilakukan anestesi umum dengan intubasi.
Jam 08.30 insisi dimulai, dilakukan monitoring tanda vital setiap 5 menit.
Jam 08.45 diberikan injeksi fentanyl 50 mcg.
Jam 09.30 pasien diberikan injeksi propofol 100 mg.
Jam 10.10 pasien diberikan Vecuronium 10 mg.
Jam 11.10 pasien diberikan asam traneksamat 1 gr.
Jam 11.30 pasien diberikan fentanyl 50 mcg.
Jam 13.30 operasi selesai dan pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.
OBAT-OBATAN ANESTESI YANG DIBERIKAN
1. Midazolam 5 mg
2. Fentanyl 50 mcg
3. Propofol 100 mg
4. Vecuronium 10 mg
5. Asam Tranexamat 1 gram
6. Fentanyl 50 mcg

IDENTIFIKASI MASALAH

Masalah medis :

- Kolesistolitiasis

Masalah pembedahan:

- Tidak ada

Masalah anestesi:

- Tidak ada
KESIMPULAN

Pasien dengan diagnosis pro operatif Kolesistolitiasis dengan ASA III memasuki
ruang operasi untuk menjalani operasi kolesistektomi.

Pre Operatif : Pasien tidak memerlukan tindakan operasi emergensi, sehingga


pasien perlu dipuasakan selama 6 jam terlebih dahulu. Pada pasien juga dilakukan
pemasangan IV line cairan kristaloid Ringer Laktat.

Durante Operatif : Pada pasien ini pemilihan teknik anestesi yang digunakan
adalah anastesi umum dikarenakan jenis tindakannya adalah Kolesistolitiasis dimana
indikasi anastesi umum adalah pembedahan yang membutuhan waktu lama, luas dan
ekstensif dan pasien lebih memilih anastesi umum
KESIMPULAN
Post Op
Saat tindakan operasi berakhir, pasien dipindahkan ke ruang
pemulihan dalam kondisi mampu motorik : menggerakkan ekstremitas
dengan perintah, respirasi : nafas adekuat, sirkulasi : TD berbeda + 20%
dari semula praanastesi, kesadaran : sadar penuh, warna kulit :
kemerahan ( Aldrette score : 10 ), tekanan darah 110/62 mmHg, dan nadi
72 kali/ menit.
Pasien diberikan oksigenasi 100% 3 lpm melalui nasal canule dan
diberikan edukasi untuk tirah baring dan tidak duduk selama 24 jam ke
depan untuk mencegah terjadinya pusing.
Dilakukan monitoring tanda vital pada pasien setiap 15 menit, dan
apabila pasien sudah stabil pasien diperbolehkan kembali ke ruangan.
Daftar Pustaka
1. M. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Kolelitiasis. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah.
Jakarta: EGC 2004.
2. Hansen JT, Lambert DR. Netter’s Clinical Anatomy. USA: MediMedia 2005
3. Corazziari E, Shaffer EA, Hogan WJ, Sherman S, Toouli J. Anatomy and
physiology of the biliary tree and gallbladder. Gut 2006;45(suppl2):48–54.
4. M. Lamah Indkaghd. Anatomical Variations of the Extrahepatic Biliary. Tree:
Review of the World Literature. Clinical Anatomy 14; 2001. p.167-172
5. Andersen DK, Billiar TR, Brunicardi FC, Dunn DL, Hunter JG, Pollock RE.
Schwartz’s Principles of Surgery. New York: McGraw-Hill 2007.
6. Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, Townsend CM. Sabiston Textbook of
Surgery. 17th ed. Pennsylvania: Elsevier 2004.
7. Wilson L.M., Lester L.B., Hati, Empedu, dan Pankreas. Dalam :
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Buku 1. Edisi 4.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1995. p.426-463.
8. Wolkoff A.W. The Hyperbilirubinemia in Kaspen et all. Harrison’s
Principles of Internal Medicine. 16th edition. Mc Graw Hill,
Singapore; 2005. p.1817-1821.
9. Sulaiman A. Pendekatan Klinis pada Pasien Ikterus. Dalam Buku Ajar
IlmuPenyakit Dalam Jilid III edisi IV. Jakarta : Pusat penerbitan
Departemen IlmuPenyakit Dalam FKUI. 2006. 422-425
10.Sherlock S, Dooley J. Jaundice.Cholestasis.In : Disease of The Liver
and Billiary System. 11th edition. Oxford : Blackwell Scientific
Publ,2002, pp.201-14.217-35
11.Davey P. Ikterus. Dalam : At a Glace Medicine. Jakarta : Erlangga
Medical Series, 2006.
12.Soetikno R. Imaging pada Ikterus Obstruksi. Bandung: Universitas
Padjadjara. 2007
13.Doherty GM, Way LW. Current Surgical Diagnosis & Treatment. 12th
ed. New York: McGraw-Hill 2006
14.Darmojo B. Geriatri Ed. 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2009. Hal
3-4; 56-66.