Anda di halaman 1dari 26

K E D A R U R AT A N

P S I K I AT R I
PENGERTIAN
merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa & Kedokteran
Kedaruratan, yg dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yg
memerlukan intervensi psikiatrik. antara lain:
Tindak kekerasan (violence)
Tentamen Suicidum/percobaan bunuh diri
Gejala ekstra piramidal akibat penggunaan obat
Delirium
EVALUASI
Wawancara
• Terstruktur
• Keterangan tambahan keluarga, pihak pengantar,
• observasi dalam waktu yg cepat.
Pemeriksaan Fisik
DOKUMENTASI
Semua penemuan dan tindakan harus didiskusikan dan dicatat dengan
baik untuk kepentingan pasien, dokter dan RS, asuransi/pembayaran,
dan hukum.
Penemuan positif maupun negatif serta informasi yang belu didapat
sebaiknya dicatat.
Nama-nama serta alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi
wajib dicatat.
1. BUNUH DIRI
 Definisi
Bunuh diri merupakan kematian yang ditimbulkan oleh diri sendiri
dan disengaja dimana bukan tindakan yang acak dan tidak bertujuan.
Bunuh diri ini merupakan jalan keluar dari masalah atau krisis yang
hampir selalu menyebabkan penderitaan yang kuat.
Epidemiologi
30.000 kematian / tahun di Amerika Serikat disebabkan oleh
bunuh diri. Angka tersebut adalah untuk bunuh diri yang berhasil;
jumlah usaha bunuh diri diperkirakan 8 sampai 10 kali lebih besar
dari angka tersebut.
Insiden bunuh diri di AS terjadi pada usia 15-24 tahun, sedangkan
dalam survey nasional baru-baru ini terhadap siswa senior sekolah
lanjutan 27% dari mereka pernah memikirkan secara serius untuk
bunuh diri dan salah satunya pernah mencobanya.

Secara internasional, angka bunuh diri yang lebih dari 25 per


100.000 orang terjadi di Skandinavia, Swiss, Jerman, Austria, Negara-
negara Eropa Timur, dan Jepang. Sedangkan yang kurang dari 10 per
100.000 orang terjadi di Spanyol, Italia, Irlandia, Mesir, dan Belanda
Etiologi
Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab bunuh diri,
diantaranya adalah:
Faktor Sosial
Faktor Psikologis
Faktor Fisiologis
Adapun faktor-faktor yang terkait dengan tindakan bunuh
diri adalah:
Jenis Kelamin
Metode
Usia
Ras
Status perkawinan
Pekerjaan
Gangguan-gangguan yang beresiko terjadinya bunuh diri :
Gangguan mood
Skizofrenia
Ketergantungan Alkohol
Ketergantungan Zat Lain .
Gangguan Kepribadian
Terapi
Menurut Schnedman, beberapa tindakan preventif praktis untuk
menghadapi orang yang ingin bunuh diri seperti :
Menurunkan penderitaan psikologi dengan memodifikasi lingkungan
pasien yang penuh dengan stress, menuliskan bantuan dari pasangan,
perusahaan atau teman.
Membangun dukungan yang realistik dengan menyadari bahwa pasien
mungkin memiliki keluhan yang masuk akal.
Menawarkan alternatif terhadap bunuh diri.
• memeriksa barang-barang pasien untuk mencari benda-
benda yg dpt digunakan untuk bunuh diri
• medikasi antidepresan.
• Terapi elektrokonvulsif (ECT) mungkin diperlukan untuk
beberapa pasien yang terdepresi cukup parah
2. TINDAK KEKERASAN
agresi fisik yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain

GAMBARAN KLINIS & DIAGNOSIS

Gangguan psikotik, seperti skizofrenia dan manik, terutama bila paranoid


dan mengalami halusinasi yang bersifat suruhan (commanding hallucination)
Intoksikasi alkohol atau zat lain
Gejala putus zat akibat alkohol atau obat-obat hipnotik-sedatif
Depresi agitatif
Gangguan kepribadian
Gangguan mental organik
FAKTOR RISIKO

• Adanya pernyataan bahwa ia berniat melakukan tindak


kekerasan
• Adanya rencana spesifik
• Adanya kesempatan atau suatu cara untuk terjadinya kekerasan
• Laki-laki
• Usia muda (15-24 tahun)
• Status sosioekonomi rendah
• riwayat melakukan tindak kekerasan
PENANGANAN AWAL

Lindungi diri
Waspada terhadap tanda-tanda munculnya kekerasan
jumlah staf yg cukup untuk mengikat pasien secara aman.
Pengikatan dilakukan oleh yg telah terlatih.
Lakukan evaluasi diagnostik yang tepat, meliputi TTV, PF dan
wawancara pskiatrik
TERAPI PSIKOFARMAKA

Flufenazine, trifluoperazine atau haloperidol 5 mg PO atau IM,


Olanzapine 2,5-10 mg per IM, max 4 injeksi /hari, dengan dosis
rata-rata per hari 13-14mg,
Atau lorazepam 2-4 mg, diazepam 5-10mg per IV secara
pelahan (dalam 2 menit).
3. SINDROMA NEUROLEPTIK MALIGNA
Sindrom neuroleptik maligna adalah suatu sindrom
toksik yang behubungan dengan penggunaan obat
antipsikotik
GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSIS

 Demam tinggi (dapat mencapai 41,5ºC)


 Kekakuan otot spt pipa (lead-pipe rigidity)
 Instabilitas otonomik (takikardia, tekanan darah yg labil,
keringat berlebih)
 Gangguan kesadaran
FAKTOR RESIKO
Jenis kelamin (Laki-laki)
dehidrasi
malnutrisi
kelelahan
injeksi intramuskular neuroleptik
cedera kepala
infeksi
intoksikasi alkohol
pengunaan antipsikotik bersama dengan litium
PENANGANAN AWAL

Pertimbangkan kemungkinan sindrom neuroleptik maligna pd pasien yg


mendapat antipsikotik dgn gejala kaku otot.
Bila terdapat rigiditas ringan yg tdk respon terhdap antikolinergik biasa
dan bila demamnya tak jelas sebabnya, buatlah diagnosis sementara sindroma
neuroleptik maligna.
Hentikan pemberian antipsikotik segera.
Monitor TTV berkala.
Lakukan px lab
Hidrasi cepat intravena Sindrom ini biasanya berlangsung selama 15 hari.
TERAPI PSIKOFARMAKA

Amantadine 200-400 mg PO/hari dalam dosis terbagi


Bromocriptine 2,5 mg PO 2 atau 3 kali/hari , dapat dianikan sampai 45
mg/hari
Levodopa 50-100 mg/hari IV dlam infus terus-menerus
4. DELIRIUM
Gejala klinis delirium terdiri dari gangguan kesadaran dan gangguan kognisi.

KLASIFIKASI

 Delirium yang berhubungan dengan kondisi


medik umum
 Delirium yang diinduksi oleh zat
(intoksikasi zat & putus obat)
 Delirium akibat etiologi multipel
 Delirium yang tidak tergolongkan
Kriteria diagnostik delirium yang tdk disebabkan alkohol
& zat psikoaktif

Gg kesadaran
 Gg perhatian
 Gg kognitif secara umum
 Gg psikomotor
 Gg siklus bangun tidur
 Gg emosional
PENANGANAN AWAL

 Bersikap suportif, tegas, dan tidak mengancam. Bila


perlu pasien diikat terlebih dahulu jika membahayakan
 Tenangkan pasien bahwa ia aman disini
 Menganalisa penyebab dan terapi sesuai kausa
PSIKOFARMAKA

 Neuroleptikum dosis tinggi (Intravena)


 trifluoperazine (5-10 mg) (intravena)
 haloperidol (5 – 10 mg) (intravena)
 Diazepam (5-10 mg) (Intravena)
TERIMA KASIH