Anda di halaman 1dari 11

Tugas Sosiologi dan Filsafat Arsitektur

Diskusi tentang Makna, Filsafat Ruang & Ornament


Arsitektur
Judul
Makna dan Filosofi pada Ruang dan Ornamen
Arsitektur Tradisional Nusa Tenggara Timur, Desa WaeRebo, Rumah
Adat Mbrau Niang

NAMA KELOMPOK
Andoyo Prasetyo (4114210009)
Muhammad Azie Pangestu (4114210049)
Ibnu Ahmad Husin (4114210037)
Rynaldi Aziz R (4114210072)
Zaid Abdul Razak (4114210085)

Tahun 2016-2017
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Pancasila
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
INDONESIA merupakan sebuah negara multikultural yang sangat kaya akan keanekaragaman
budaya. Masing-masing kebudayaan memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri, dan salah satu hal
yang menjadi identitas utama dari kebudayaan tersebut adalah rumah adat. Rumah adat di Indonesia
memiliki ciri arsitektural dan gaya desain yang unik, karena rumah adat
merupakan bangunan peninggalan masa lalu yang tumbuh dan berkembang berdasarkan adat istiadat
daerah setempat yang memiliki nilai-nilai, filosofi, fungsi dan makna. Namun di era modern ini,
kekayaan budaya Negara kita mulai terancam menghilang dari eksistensi, terkait dengan minimnya
generasi penerus yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk mempertahankan warisan budaya
tersebut.
Mbaru Niang itu sendiri mempunyai hubungan erat dengan tujuan, material, dan karakter dari
rumah adat tersebut. Mbaru Niang bagi masyarakat Wae Rebo bukan hanya sebagai tempat tinggal,
Mbaru Niang adalah bagian dari diri mereka, setiap sudut dalam Mbaru Niang memiliki fungsi khusus
yang semuanya memiliki makna. Bangunan lantai dasar pada rumah adat Mbaru Niang merupakan
salah satu pokok studi untuk mengetahui setiap terapan fungsi dan makna diberbagai ruang dalam
pada lantai dasar rumah adat. Makna yang terdapat pada lantai dasar rumah adat biasanya bersifat
konvensional, yaitu makna-makna yang berkaitan dengan mitos. Mitos sendiri, dalam pemahaman
semiotika, merupakan pengkodean makna dan nilai-nilai sosial sebagai sesuatu yang dianggap
alamiah.
LOKASI STUDI, METODE & TUJUAN
Lokasi Studi
■ Budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur yang diteliti di daerah Wae Rebo.
Metode
■ Studi literature
■ Analisa kelompok
Tujuan
■ Untuk menggali pola makna dari ruang dalam dan ruang luar dari arsiktektur tradisional
■ Untuk mengetahui dan memahami budaya Nusa Tenggara Timur.
■ Mengenali tentang ornament dan symbol masyarakat Wae Rebo NTT

Sumber :http://dailyvoyagers.com/blog/2016/09/14/mengenal-sejarah-rumah-adat-waerebo/ Pukul 07:09; hari selasa, 11 Juli 2017


PEMBAHASAN
DEFINISI
MBRAU NIANG
■ Mbaru Niang adalah sebuah rumah yang berbentuk kerucut, meruncing ke arah
atas.
■ Menurut Fransiskus Mudir (Pimpinan Waerebo Tourism Organization) bentuk rumah
yang mengerucut tersebut merupakan sebuah simbol dari perlindungan dan
persatuan di antara masyarakat Waerebo.
■ Lantai yang berbentuk melingkar melambangkan sebuah harmonisasi dan keadilan
diantara warga dan keluarga di dalam Mbaru Niang.
PEMBAHASAN
POLA PERMUKIMAN (RUANG LUAR)

Makna Seluruh Mbaru Niang memiliki nama asli yang berbeda-beda, mereka
adalah:
1. Niang Gendang
2. Niang Gena Mandok
3. Niang Gena Jekong
4. Niang Gena Ndorom
5. Niang Gena Keto
6. Niang Gena Jintam
7. Niang Gena Maro

Tujuh rumah Mbaru Niang yang dibuat oleh para nenek moyang mereka memiliki arti untuk menghormati 7 arah mata angin
dari puncak-puncak gunung yang yang mengelilingi Kampung Waerebo. Hal itu mereka percayai sebagai cara untuk
menghormati roh-roh yang memberikan mereka kesejahteraan. Semua Mbaru Niang berdiri di tanah datar dan dibangun
mengelillingi sebuah altar yang disebut “Compang”. Compang berdiri sebagai titik pusat dari ketujuh rumah tersebut dan
dipercaya sebagai bangunan paling sakral yang ada di disana. Fungsi Compang adalah sebagai altar untuk memuji dan
menyembah Tuhan serta para roh-roh nenek moyang.

Sumber :http://dailyvoyagers.com/blog/2016/09/14/mengenal-sejarah-rumah-adat-waerebo/ Pukul 07:09; hari selasa, 11 Juli 2017


PEMBAHASAN
POLA RUANG DALAM
Pola ruang dalam Mbrau Niang berbentuk
melingkar.
Fungsi ruang :
= PRIVAT (TERDIRI DARI KAMAR - KAMAR,
RUANG DUDUK KETUA ADAT DAN UNTUK
KEGIATAN MEMASAK DAN MAKAN

= PUBLIK (TERDIRI DARI RUANG TAMU DAN


PINTU MASUK DAN KELUAR)
Sumber :http://dailyvoyagers.com/blog/2016/09/14/mengenal-sejarah-rumah-adat-
waerebo/ Pukul 07:09; hari selasa, 11 Juli 2017

Ruang pada rumah adat Mbaru Niang merupakan ruang yang dapat mengomunikasikan suatu fungsi dan makna yang
sama dari dalu sampai saat ini. Dari fungsi dan makna yang terdapat dalam suatu ruang di lantai dasar Mbaru Niang
utama, dapat menjelaskan benang merah antara pola dan strukturnya yang tidak beruba-ubah sepanjang sejarah.
Untuk itu perlu membedakan setiap tanda (sign) dari makna-maknanya, dengan menggunakan pendekatan objek
semiotika menurut Charles Sanders Pierce.
Sumber :J. Sumardjo. “Estetika Paradoks”. Bandung: Susunan Ambu Press. (2006) 104-110/ Pukul 07:45; hari selasa, 11 Juli 2017
PEMBAHASAN
POLA RUANG DALAM Berdasarkan potongan bangunan Mbrau Niang Pola
Ruang Dalam terdapat fungsi ruang & makna masing
masing ruang di antaranya :

 Level 1 (Tenda) terdapat pintu masuk dan berfungsi


tempat untuk beraktifitas, ada ruang berkumpul,
ruang perapian, kamar tidur untuk 6-8 keluarga.
 Level 2 (Lobo) berfungsi sebagai ruang
penyimpanan makanan & barang lainnya.
 Level 3 (Lentar) berfungsi sebagai ruang
penyimpanan biji – bijian untuk berkebun
 Level 4 (Lemparae) berfungsi sebagai ruang
penyimpanan cadangan makanan
 Level 5 ( Hekang Code) disiapkan sebagai ruang
persembahan untuk leluhur yang terbuat dari
anyaman bamboo
Sumber :http://dailyvoyagers.com/blog/2016/09/14/mengenal-sejarah-rumah-
adat-waereboPukul 07:09; hari selasa, 11 Juli 2017
PEMBAHASAN
TABEL OBJEK SEMIOTIK PADA BENTUK DENAH YANG MELINGKAR
ASPEK – ASPEK LANTAI DASAR BENTUK DENAHNYA YANG MELINGKAR
OBJEK TANDA (SEMIOTIK) 1. INDEKS
2. SIMBOL
LITERATUR OBJEK TANDA (SEMIOTIK) 1. MENURUT SOBUR, TANDA YANG
BERHUBUNGAN ANATARA PENANDA DAN
PERTANDANYA BERSIFAT BERSAMAAN
DALAM BENTUK ALAMIAHNYA.
2. MENURUT FISKE, IKON MEMNUNJUKAN
KEMIRIPAN DENGAN OBJEKNYA, INI
YANG KERAPKALI SANGAT JELAS DALAM
TANDA – TANDA VISUAL.
3. SEDERHANANYA SIMBOL ITU SENDIRI
PENANDA YANG OLEH KAIDAH SECARA
KESEPAKATAN TELAH BIASA DIGUNAKAN
DALAM MASYARAKAT.
ANALISA 1. PADA LANTAI DASAR MERUPAKAN
DENAH DENGAN DIAMETER TERBESAR
DIBANDINGKAN DENGAN LANTAI
LAINNYA. BENTUK DENAHNYA YANG
MELINGKAR MENGAMBIL BENTUK DARI
2D DARI SARANG LABA – LABA YANG
MELINGKAR DENGAN SATU TITIK
UTAMA.(wawancara, Bapak Yosef Katub)
2. SEDANGKAN SIMBOL SARANG LABA –
LABA MERUPAKAN SIMBOL DARI
KEUTUHAN BUDAYA YANG TETAP
DIPERTAHANKAN MELALUI
KESEPAKATAN SENDIRI MASYARAKAT
WAE REBO. (wawancara, Bapak Yosef
Katub)

Sumber : S. Alex. Analisis Teks Media. ( 2001). 41-99 / Pukul 08:21; Hari selasa, 11 Juli 2017
ORNAMEN (MAKNA ORNAMEN & FUNGSI ORNAMEN)

■ Seni Pahat Patung Hingga Ornamen Nusa Tenggara Timur patung atau arca
tersebut terbuat dari batu dan kayu serta logam sebagai simbol atau untuk
menggambarkan leluhur dan arwah nenek moyang. Patung yang terbuat dari
batu atau monolith dan batu pipih serta papan batu atau slab.
■ Selain dengan perhiasan dan bentuk telanjang bulat patung - patung
tersebut diberi tudung kepala di Sumba timur Parai Liu dan di Sumba Timur
patung dilengkapi dengan busana lengkap dan klewang. Gaya Patung di
Sumba Timur lebih eksotis yang terbuat dari batu pipih.

■ Patung- patung yang terbuat dari logam dengan berlapis emas tersebut
dengan bentuk variatif, misalnya duduk, berdiri, bersimpuh dan jongkok. Di
Sumba Barat patung tersebut dibuat dengan keadaan telanjang bulat dan
perhiasan dada seperti di Wanukaka. Gaya patung di Sumba Barat ekspresif
pada bagian - bagian kepala, mulut, wajah, mata dan alat kelamin dengan
pahatan yang cukup massif. semangat religius yang berbentuk ornamen,
relief dan lukisan.
Sumber: http://tempolagu.blogspot.co.id/2016/10/seni-pahat-patung-hingga-ornamen-
sumba.html / Pukul 08:55; hari selasa, 11 Juli 2017
ORNAMEN (MAKNA ORNAMEN & FUNGSI ORNAMEN)

■ Ornamen Sumba digunakan terutama pada nisan dan


batu kubur dan pada tiang atau sokoguru serta
mahkota dan sisir yang terbuat dari kulit pentu atau
tanduk kerbau dan terdapat di Sumba Timur.
■ Selain itu juga terdapat Ornamen sulam, tenun dan
Anyaman. Ornamen tenun ini pada kain sarung dan
ornamen anyaman tas tempat sirih atau kaleku.
Sedangkan ornamen dari tanah liat terdapat pada
tempayan, bibir periuk dan pasu.
■ Ornamen yang tertua berbentuk garis simetris atau
lengkung dan meander dan stilisasi lidah, titik
membentuk lingkaran, spiral dan pilin ganda. Hingga
kini ornamen tersebut masih di hayati di Sumba.
■ Perkembangan ornamen ini juga ditemukan dalam
bentuk formal dan seni dekoratif dengan diperkaya
dengan motif alat perhiasan yang disebut mamuli
sebuah ciri khas ornamen Sumba dan mamuli adalah
perhiasan tradisional yang berharga di seluruh Sumba.
KESIMPULAN
■ Rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo merupakan salah satu rumah adat yang memiliki ruang
pada setiap tingkatan serta makna. Dalam pembentukkan suasana interior, Mbaru Niang banyak
menggunakan unsur semiotik dalam ruang dan elemen pembentuk ruang dan elemen pelengkap
pada ruang. Dibagian lantai rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo tidak banyak perbedaan
material, pembedaan ketinggian lantai, dan terdapat banyak pembentuk pola yang membentuk
indeks. Perbedaan ketinggian lantai hanya sebatas menjadi simbol atau tanda bahwa tempat/area
yang dibatasi merupakan suatu fungsi yang tidak diperbolehkan manusia berdiri, atau secara
kasat mata memberi pembedaan antara area satu dengan yang lain.
■ Secara keseluruhan, rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo memanfaatkan unsur semiotik di
dalam interiornya memanfaatkan ikon alat musik gendang untuk membedakan ruang yang
terbesar diantara rumah niang lainnya. Dan menunjukkan rumah utama yang harus dimasuki
terlebih dahulu untuk melakukan prosesi upacara kepada lelihur dengan Tuhan.
■ Tujuh rumah Mbaru Niang yang dibuat oleh para nenek moyang mereka memiliki arti untuk
menghormati 7 arah mata angin dari puncak-puncak gunung yang yang mengelilingi Kampung
Waerebo
■ Patung - patung atau arca tersebut terbuat dari batu dan kayu serta logam sebagai simbol atau
untuk menggambarkan leluhur dan arwah nenek moyang. Patung yang terbuat dari batu atau
monolith dan batu pipih serta papan batu atau slab.