Anda di halaman 1dari 45

Asuhan Keperawatan Pada

Pasien Stroke

Doni Setiyawan, Ns., M.Kep.,


CWCS
Data
 The Global Burden Disease, di dunia
untuk semua kelompok umur stroke
iskemik dan penyakit jantung merupakan
penyebab kematian utama. Dengan
penderita stroke iskemik yang meninggal
di dunia adalah 7,2 juta jiwa (12,2 %), dan
penyakit jantung 5,7 juta jiwa (9,7%).
continue
 Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terdapat
500.000 penduduk terkena serangan stroke,
sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan
sisanya cacat ringan maupun berat. Secara umum,
dapat dikatakan angka kejadian stroke adalah 200
per 100.000 penduduk. Dalam satu tahun, di
antara 100.000 penduduk, maka 200 orang akan
menderita stroke. Kejadian stroke iskemik sekitar
80% dari seluruh total kasus stroke, sedangkan
kejadian stroke hemoragik hanya sekitar 20% dari
seluruh total kasus stroke(Yayasan Stroke
Indonesia, 2012)
 Berdasarkan data yang berhasil
dikumpulkan oleh Yayasan Stroke
Indonesia (Yastroki), masalah stroke
semakin penting dan mendesak karena
kini jumlah penderita stroke di Indonesia
terbanyak dan menduduki urutan pertama
di Asia. Jumlah yang disebabkan oleh
stroke menduduki urutan kedua pada usia
diatas 60 tahun dan urutan kelima pada
usia 15-59 tahun (Yastroki, 2012).
 Sumatera Barat dengan prevalensi 6,9%
pada posisi ke-10 tertinggi di Indonesia. Di
Sumatera Barat dari data yang ada pada
Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN)
Bukittinggi sebanyak 30% - 40% penderita
strokeiskemik yang dirawat di ruang
neurologi berusia 30 – 50 tahun.
 Golden period pada serangan stroke
adalah 3 hingga 4,5 jam dari terjadinya
gejala awal. Dalam kurun waktu tersebut
dokter masih bisa melakukan tindakan
yang agresif untuk menghancurkan bekuan
darah yang menyumbat pembuluh darah
otak.
TIME is BRAIN
STROKE IS BRAIN ATTACK

Stroke, Cerebrovascular accident

A stroke is caused by interruption of the blood supply to the


brain, usually because a blood vessel bursts or blocked by
a clot. This cuts off the supply of oxygen and nutrients, causing
damage to the brain tissue
 Menurut Price & Wilson (2006)
pengertian dari stroke adalah setiap
gangguan neurologik mendadak yang
terjadi akibat pembatasan atau terhentinya
aliran darah melalui sistem suplai arteri
otak.
 Suatu keadaan terputusnya aau
terhentinya aliran darah ke otak secara
tiba tiba, yang mengakibatkan terjadinya
kerusakan atau gangguan fungsi
pergerakan, perasaan, memory, perabaan
dan bicara yang bersifat sementara atau
menetap (Hickey, 2010)
Pengertian
 Menurut Junaidi (2011) stroke merupakan
penyakit gangguan fungsional otak akut
fokal maupun global akibat terhambatnya
aliran darah ke otak karena perdarahan
(stroke hemoragik) ataupun sumbatan
(stroke iskemik) dengan gejala dan tanda
sesuai bagian otak yang terkena, yang
dapat sembuh sempurna, sembuh dengan
cacat, atau kematian.
Stroke

Hemoragik Iskemik
Stroke Iskemik
 Stroke iskemik merupakan suatu penyakit
yang diawali dengan terjadinya serangkaian
perubahan dalam otak yang terserang yang
apabila tidak ditangani dengan segera
berakhir dengan kematian otak tersebut
(Junaidi, 2011).
 Stroke iskemik terjadi bila karena suatu
sebab suplai darah ke otak terhambat atau
terhenti. Walaupun berat otak hanya sekitar
1.400 gram, namun menuntut suplai darah
yang relatif sangat besar yaitu sekitar 20%
dari seluruh curah jantung
Stroke iskemik berdasarkan
perjalanan klinisnya yaitu:
◦ TIA (Transient Ischemic Attack) atau serangan
stroke sementara, gejala defisit neurologis hanya
berlangsung kurang dari 24 jam.
◦ RIND (Reversible Ischemic Neurogical Deficits),
kelainan atau gejala neurologis menghilang antara
lebih kurang dari 24 jam sampai 3 minggu.
◦ Stroke progresif atau stroke in evolution yaitu
stroke yang gejala klinisnya secara bertahap
berkembang dari yang ringan sampai semakin
berat.
◦ Stroke komplit atau completed stroke, yaitu
stroke dengan defisit neurologis yang menetap
dan sudah tidak berkembang lagi.
Stroke iskemik berdasarkan penyebabnya :
The National Institute of Neurological Disorders
Stroke Part III trial (NINDS III)
◦ Aterotrombotik; penyumbatan pembuluh
darah oleh kerak/plak dinding arteri.
◦ Kardioemboli; sumbatan arteri oleh pecahan
plak (emboli) dari jantung.
◦ Lakuner; sumbatan plak pada pembuluh darah
yang berbentuk lubang.
◦ Penyebab lain; semua hal yang mengakibatkan
tekanan darah turun (hipotensi)
Stroke Hemoragik
 Stroke hemoragik merupakan penyakit
gangguan fungsional otak akut fokal
maupun global akibat terhambatnya aliran
darah ke otak yang disebabkan oleh
perdarahan suatu arteri serebralis. Darah
yang keluar dari pembuluh darah dapat
masuk ke dalam jaringan otak, sehingga
terjadi hematom.
 Kejadian stroke hemoragik sekitar 25-
30% dari total kejadian stroke. Walaupun
kejadian stroke hemoragik tidak besar,
tetapi stroke hemoragik sering
mengakibatkan kematian, umumnya
sekitar 50% kasus berujung pada
kematian.
Stroke hemoragik dibagi menjadi
dua kelompok, yaitu:
 Perdarahan intraserebral (PIS); diakibatkan
oleh pecahnya pembuluh darah intraserebral
sehingga darah keluar dari pembuluh darah
dan kemudian masuk ke dalam jaringan otak.
 Perdarahan Subarakhnoid (PSA); masuknya
darah ke ruang subarakhnoid baik dari
tempat lain (perdarahan subarakhnoid
sekunder) atau sumber perdarahan berasal
dari rongga subarakhnoid itu sendiri
(perdarahan subarakhnoid primer).
Gejala klinis PIS
 Sakit kepala, muntah, pusing vertigo, gangguan kesadaran
 Gangguan fungsi tubuh (defisit neurologis), tergantung pada lokasi
perdarahan:
 Bila perdarahan ke kapsula interna (perdarahan kapsuler), maka ditemukan:
 Hemiparese kontralateral
 Hemiplegia
 Koma (bila perdarahan luas)
 Perdarahan luas/masif otak kecil/ serebelum (perdarahan serebral) maka
akan ditemukan ataksia cerebelum (gangguan koordinasi), nyeri kepala di
oksipital, vertigo, nistagmus dan disartri.
 Perdarahan terjadi di pons (batang otak), maka akan ditemukan:
 Biasanya kuadriplegik dan flaksid, kadang dijumpai rigiditas
 deserebrasi.
 Pupil kecil dan reaksi cahaya minimal
 Depresi pernapasan
 Hipertensi (reaktif)
 Panas (febris)
 Penurunan kesadaran dengan cepat tanpa didahului sakit kepala,
vertigo, mual atau muntah.
 Perdarahan di talamus:
 Defisit hemisensorik
 Hemiparesis atau hemiplegi kontralateral
 Afasia, anomia dan mutisme, bila mengenai hemisfer dominan
 Perdarahan putamen (area striata), daerah yang paling sering
terkena PIS
 Hemiparesis atau hemiplegi kontralateral
 Defisit hemisensorik dan mungkin disertai hemianopsia
homonim
 Afasia, bila mengenai hemisfer dominan
 Perdarahan di lobus, terdapat perdarahan di substansia alba
supratentorial
 Frontalis: hemiparesis kontralateral dengan lengan lebih nyata
disertai sakit kepala bifrontal, deviasi konjuge ke arah lesi
 Parietalis: defisit persepsi sensorik kontralateral dengan
hemiparesis ringan.
 Oksipitalis: hemianopsia dengan atau tanpa hemiparesis minimal
pada sisi ipsilateral dengan hemianopsia.
 Temporalis: afasia sensorik, bila area Wernicke hemisfer dominan
terkena, hemianopsia atau kuadranopsia karena massa darah
mengganggu radiasio optika.
Gejala klinis PSA
 Sakit kepala mendadak dan hebat dimulai dari leher
 Nausea dan vomiting (mual dan muntah)
 Fotofobia (mudah silau)
 Paresis saraf okulomotorius, pupil anisokor,
perdarahan retina pada funduskopi
 Gangguan otonom (suhu tubuh dan tekanan darah
naik)
 Kaku leher (meningismus), bila pasien masih sadar
 Gangguan kesadaran berupa rasa kantuk
(somnolen) sampai kesadaran hilang (koma)
Gejala klinis PSA yang disertai
dengan hematom intraserebral:
 Lumpuh satu sisi (hemiparesis)
 Gangguan bicara (afasia)
 Kelumpuhan otot mata (paresis okulomotorius)
 Lapang pandang menyempit (hemianopsia)
 Kejang epileptik
Algoritma Gajah Mada
Pathway dan Diagnosa Keperawatan
Pathway....
2
Beberapa faktor dapat membuat anamnesis
menjadi sedikit sulit untuk mengetahui gejala atau
onset stroke :
 Stroke terjadi saat pasien sedang tertidur
sehingga kelainan tidak didapatkan hingga
pasien bangun (wake up stroke).
 Stroke mengakibatkan seseorang sangat tidak
mampu untuk mencari pertolongan.
 Penderita atau penolong tidak mengetahui
gejala-gejala stroke.
 Terdapat beberapa kelainan yang gejalanya
menyerupai stroke seperti kejang, infeksi
sistemik, tumor serebral, subdural hematom,
ensefalitis, dan hiponatremia.
Menurut Doenges,(2000) pemeriksaan diagnostik
yang dapat dilakukan pada penyakit stroke adalah:
1. Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara
spesifik seperti perdarahan, obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/ ruptur.
2. CT-scan: memperhatikan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya
infark.
3. Pungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada
thrombosis, emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau
serangan iskemia otak sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang
mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid atau
perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat pada kasus
thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi.
4. MRI (Magnetic Resonance Imaging): menunjukkan daerah yang mengalami
infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena.
5. Ultrasonografi Doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena.
6. EEG (Electroencephalography): mengidentifikasi penyakit didasarkan pada
gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
7. Sinar X: menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang
berlawanan dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada
thrombosis serebral.
 Pencitraan otak sangat penting untuk
mengkonfirmasi diagnosis stroke non
hemoragik. Non contrast computed
tomography (CT) scanning adalah
pemeriksaan yang paling umum digunakan
untuk evaluasi pasien dengan stroke akut
jelas. Selain itu, pemeriksaan ini juga berguna
untuk menentukan distribusi anatomi dari
stroke dan mengeliminasi kemungkinan
adanya kelainan lain yang gejalanya mirip
dengan stroke (hematoma, neoplasma,
abses).
 Pada kasus stroke iskemik hiperakut (0-6
jam setelah onset), CT scan biasanya tidak
sensitif mengidentifikasi infark serebri
karena terlihat normal pada >50% pasien,
tetapi cukup sensitif untuk
mengidentifikasi perdarahan intrakranial
akut dan/atau lesi lain yang merupakan
kriteria eksklusi terapi trombolitik.
 Teknik-teknik neuroimaging berikut ini juga
sering digunakan:
1. CT angiography dan CT scanning perfusi
2. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
3. Scanning karotis duplex
4. Digital pengurangan angiography
 Pungsi lumbal diperlukan untuk
menyingkirkan meningitis atau perdarahan
subarachnoid ketika CT scan negatif tapi
kecurigaan klinis tetap menjadi acuan.
Faktor Resiko
1. Usia
2. Stres
3. Hipertensi
4. Merokok
5. Alkohol
6. Aktivitas fisik rendah
7. DM
8. Obesitas
9. Hiperkolesterolemia
10. Konsumsi kopi berlebihan
11. Pola Makan
12. Kelainan Pembekuan darah
Manifestasi Klinis
 Menurut Smeltzer & Bare (2002) dan Price &
Wilson (2006) tanda dan gejala penyakit stroke
adalah kelemahan atau kelumpuhan lengan atau
tungkai atau salah satu sisi tubuh, hilangnya
sebagian penglihatan atau pendengaran,
penglihatan ganda atau kesulitan melihat pada satu
atau kedua mata, pusing dan pingsan, nyeri kepala
mendadak tanpa kausa yang jelas, bicara tidak jelas
(pelo), sulit memikirkan atau mengucapkan kata-
kata yang tepat, tidak mampu mengenali bagian
dari tubuh, ketidakseimbangan dan terjatuh dan
hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.
Manifestasi Klinis Stroke
.........tergantung lokasi dan luas lesi
 Penurunan tingkat kesadaran
 Ggn penglihatan
 Ggn memori
 Ggn lapang pandang
 Ggn menelan
 Ggn sensori persepsi
 Ggn bicara dan bahasa
 Ggn fungsi kandung kemih
 Ggn keseimbangan
Penatalaksanaan (PERDOSSI, 2007)
 STADIUM HIPERAKUT
 Tindakan pada stadium ini dilakukan di Instalasi Rawat
Darurat dan merupakan tindakan resusitasi serebro-
kardio-pulmonal bertujuan agar kerusakan jaringan
otak tidak meluas. Pada stadium ini, pasien diberi
oksigen 2 L/menit dan cairan kristaloid/koloid; hindari
pemberian cairan dekstrosa atau salin dalam H2O.
Dilakukan pemeriksaan CT scan otak,
elektrokardiografi, foto toraks, darah perifer lengkap
dan jumlah trombosit, protrombin time/INR, APTT,
glukosa darah, kimia darah (termasuk elektrolit); jika
hipoksia, dilakukan analisis gas darah. Tindakan lain di
Instalasi Rawat Darurat adalah memberikan dukungan
mental kepada pasien serta memberikan penjelasan
pada keluarganya agar tetap tenang.
 STADIUM AKUT
 Pada stadium ini, dilakukan penanganan
faktorfaktor etiologik maupun penyulit. Juga
dilakukan tindakan terapi fisik, okupasi,
wicara dan psikologis serta telaah sosial
untuk membantu pemulihan pasien.
Penjelasan dan edukasi kepada keluarga
pasien perlu, menyangkut dampak stroke
terhadap pasien dan keluarga serta tata cara
perawatan pasien yang dapat dilakukan
keluarga.
 STADIUM SUBAKUT
 Tindakan medis dapat berupa terapi
kognitif, tingkah laku, menelan, terapi
wicara, dan bladder training (termasuk
terapi fisik). Mengingat perjalanan penyakit
yang panjang, dibutuhkan penatalaksanaan
khusus intensif pasca stroke di rumah
sakit dengan tujuan kemandirian pasien,
mengerti, memahami dan melaksanakan
program preventif primer dan sekunder.
Menurut Pudiastuti (2011) pada pasien
stroke yang berbaring lama dapat terjadi
masalah fisik dan emosional diantaranya:
 Bekuan darah (Trombosis) Mudah
terbentuk pada kaki yang lumpuh
menyebabkan penimbunan cairan,
pembengkakan (edema) selain itu juga
dapat menyebabkan embolisme paru yaitu
sebuah bekuan yang terbentuk dalam satu
arteri yang mengalirkan darah ke paru.
 Dekubitus
Bagian tubuh yang sering mengalami memar
adalah pinggul, pantat, sendi kaki dan tumit.
Bila memar ini tidak dirawat dengan baik
maka akan terjadi ulkus dekubitus dan
infeksi.
 Pneumonia
Pasien stroke tidak bisa batuk dan menelan
dengan sempurna, hal ini menyebabkan
cairan terkumpul di paru-paru dan
selanjutnya menimbulkan pneumoni.
 Atrofi dan kekakuan sendi (Kontraktur)
Hal ini disebabkan karena kurang gerak
dan immobilisasi.
 Depresi dan kecemasan Gangguan
perasaan sering terjadi pada stroke dan
menyebabkan reaksi emosional dan fisik
yang tidak diinginkan karena terjadi
perubahan dan kehilangan fungsi tubuh
Inovasi keperawatan
 Early Brain Simulation
Visual, Audio, Tactile
 Early Mobilisation
Mobility, Transfer, ROM
 Swallowing Management
 Bladder & Bowel Training
 Family Education
 Discharge Planing
 Gangguan2 sperti afasia, disartria dll
belum dijelaskan