Anda di halaman 1dari 25

CADAR DALAM TINJAUAN FATWA

MAJLIS TARJIH MUHAMMADIYAH


LATAR BELAKANG
Polemik tentang hukum pemakaian cadar telah lama mengemuka. Dimulai dari Kairo, ketika
Pengadilan Mesir memutuskan memperkuat larangan universitas dan kampus-kampus yang
melarang para mahasiswi mengenakan cadar saat mengikuti pelajaran maupun tes.
Keputusan pemerintah Prancis yang melarang pemakaian cadar di depan publik.
Terbaru, Keputusan beberapa Perguruan Tinggi Indonesia melarang para mahasiswi
mengenakan cadar sebagai respon maraknya pemakaian cadar oleh mahasiswi di PT.
Lalu bagaimanakah sebenarnya hukum cadar dalam Islam? Apakah bid'ah ataukah wajib?
JILBAB DALAM BERAGAM VERSI
Jilbab diartikan sebagai tanda kerendahan hati dan simbol keimanan. Cara mengenakannya pun
berbeda-beda. Banyak di antaranya menyebut hal tersebut dengan istilah hijab, niqab dan burka.
Kata hijab berarti menutupi dan sering digunakan untuk menggambarkan jilbab yang dikenakan untuk
wanita muslim. Varian dari syal/hijab pun banyak ragamnya. Hijab merupakan cara menutup aurat
dengan menutupi kepala dan leher tetapi wajah tetap tampak.

Niqab adalah jenis penutup kepala muslimah yg dilengkapi dgn cadar. Selain menutup kepala hingga dada,
niqab cadar akan menutupi sebagian wajah kecuali mata. Panjang Niqab hingga pinggang. Umumnya
dikenakan oleh wanita2 di arab.

Burqa adalah jenis penutup kepala untuk muslimah yg menutup seluruh wajah. bagian mata ditutup oleh
kawat kasa agar bs melihat. Burqa memiliki potongan terusan dari kepala hingga kaki. Burqa menjadi
jilbab tradisional wanita Afganistan.
Khimar adalah Jilbab panjang instant yg menutup sd dada. Khimar memiliki potongan panjang sd
pergelangan tangan sehingga dapat menutupi dada, pundak namun tanpa cadar.

Chador banyak dikenakan oleh wanita Iran. Chador berbentuk jubah yg menutup kepala hingga seluruh
tubuh namun tdk pada bagian wajah. Biasanya Chador dilengkapi ciput atau jilbab instant mini di
dalamnya

Al Amira adalah jilbab instant yg ditambahkan ciput untuk menutupi dahi. Cocok dikenakan sbg jilbab
casual sehari2. Disukai oleh muslimah krn simple dan praktis. Biasa dipakai di Negara2 eropa dan Asia
AYAT-AYAT AL-QUR’AN YANG
“DIPERSELISIHKAN” SOAL CADAR
Surat Al-Ahzab : 59
َُّّ ‫علَ ْي ِه َّنُّ ِمن َج ََل ِبي ِب ِه‬
ُّ‫نُّۚ ُّٰذَ ِل َك‬ َُّ ‫اء ْال ُمؤْ ِم ِن‬
َ ِ‫ين يُ ْدن‬
َ ُّ‫ين‬ ُِّ ‫س‬
َ ‫ك َوُِّن‬ َُّ ‫ك َوبَنَا ِت‬َُّ ‫اج‬ ِ ‫ي قُل ِأِل َ ْز َو‬ ُُّّ ‫يَا أَيُّ َها النَّ ِب‬
﴾٥٩﴿ ‫ورا َّر ِحي ًما‬ ً ُ‫غف‬ َُّّ ‫ان‬
َ ُ‫ّللا‬ َُّ ‫ْنُّۗ َو َك‬َُّ ‫َل يُؤْ ذَي‬ َُّ ‫َى أَن يُ ْع َر ْف‬
ُّ َ َ‫ن ف‬ ُّٰ ‫أ َ ْدن‬
`Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu`min: `Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.` (QS. Al-Ahzah : 59)
Ayat ini adalah ayat yang paling utama dan paling sering dikemukakan oleh pendukung wajibnya niqab. Mereka mengutip pendapat
para mufassirin terhadap ayat ini bahwa Allah mewajibkan para wanita untuk menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka
termasuk kepala, muka dan semuanya, kecuali satu mata untuk melihat. Riwayat ini dikutip dari pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud,
Ubaidah As-Salmani dan lainnya, meskipun tidak ada kesepakatan diantara mereka tentang makna `jilbab` dan makna
`menjulurkan`.
Namun bila diteliti lebih jauh, ada ketidak-konsistenan nukilan pendapat dari Ibnu Abbas tentang wajibnya niqab. Karena dalam tafsir
di surat An-Nuur yang berbunyi (kecuali yang zahir darinya), Ibnu Abbas justru berpendapat sebaliknya.
Para ulama yang tidak mewajibkan niqab mengatakan bahwa ayat ini sama sekali tidak bicara tentang wajibnya menutup muka bagi
wanita, baik secara bahasa maupun secara `urf (kebiasaan). Karena yang diperintahkan jsutru menjulurkan kain ke dadanya, bukan
ke mukanya. Dan tidak ditemukan ayat lainnya yang memerintahkan untuk menutup wajah.
Surat An-Nuur : 31
ُّ‫ن َعلَ ٰى‬ َُّّ ‫ْن بِ ُخ ُم ِر ِه‬ َُّ ‫ظ َه َُّر ِم ْن َهاُّۖ َُّو ْليَض ِْرب‬ َ ‫ن ِإ َّلُّ َما‬ َُّّ ‫ِين ِزينَت َ ُه‬ َُّ ‫ل يُ ْبد‬ ُّ َ ‫ن َو‬ َُّّ ‫ن فُ ُرو َج ُه‬ َُّ ‫ظ‬ ْ َ‫ن َويَ ْحف‬ َُّّ ‫ار ِه‬ ِ ‫ص‬ َ ‫ن أ َ ْب‬ ُّْ ‫ْن ِم‬ َُّ ‫ضض‬ ُ ‫ت يَ ْغ‬ ُِّ ‫َوقُل ِلأ ْل ُمؤْ ِمنَا‬
َُّّ ‫ن أ َ ُّْو بَنِي إِ ْخ َوانِ ِه‬
‫ن‬ َُّّ ‫ن أ َ ُّْو إِ ْخ َوانِ ِه‬ ُِّ ‫ن أ َ ُّْو أ َ ْبن‬
َُّّ ‫َاء ُّبُعُولَتِ ِه‬ َُّّ ‫ن أ َ ُّْو أ َ ْبنَائِ ِه‬
َُّّ ‫اء بُعُولَتِ ِه‬ ُِّ َ‫ن أ َ ُّْو آب‬
َُّّ ‫ن أ َ ُّْو آبَائِ ِه‬ َُّّ ‫ل ِلبُعُولَتِ ِه‬ ُّ َّ ِ‫ن إ‬ َُّّ ‫ِين ِزينَت َ ُه‬َُّ ‫ل يُ ْبد‬ ُّ َ ‫نُّۖ َو‬
َُّّ ‫ُجيُوبِ ِه‬
ُّٰ َ‫ظ َه ُروا َعل‬
‫ى‬ ْ َ‫ِين لَ ُّْم ي‬َُّ ‫ل الَّذ‬ ‫ل أ َ ُِّو ِ أ‬
ُِّ ‫الطُّْف‬ ُِّ ‫الر َجا‬
‫ن ِأ‬ َُّ ‫اْل ْربَ ُِّة ِم‬ ِ ْ ‫ْر أُو ِلي‬ ُِّ ‫ين َغي‬ َُّ ‫ن أ َ ُِّو الُّت َّا ِب ِع‬ َُّّ ‫ت أ َ ْي َمانُ ُه‬
ُّْ ‫ن أ َ ُّْو َما َملَ َك‬ َُّّ ‫سا ِئ ِه‬ َ ‫ن أ َ ُّْو ِن‬
َُّّ ‫أ َ ُّْو بَ ِني أَخ ََوا ِت ِه‬
﴾٣١﴿ ‫ون‬ َُّ ُ‫ّللا َج ِميعًا أَيُّ ُّهَ ُّْال ُمؤْ ِمن‬
َُّ ‫ون لَعَلَّ ُك ُّْم ت ُ ْف ِل ُح‬ َُِّّ ‫نُّۚ َوتُوبُوا ِإلَى‬ َُّّ ‫ين ُِّمن ِزينَ ِت ِه‬ َُّ ‫ن ِليُ ْعلَ َُّم َما يُ ْخ ِف‬ َُّّ ‫ْن ِبأ َ ْر ُج ِل ِه‬ َُّ ‫ل يَض ِْرب‬ ُّ َ ‫اءُّۖ َو‬ ُِّ ‫س‬ َ ‫ت ال ِنأ‬ُِّ ‫َع ْو َرا‬
`Katakanlah kepada wanita yang beriman: `Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.` (QS. An-Nur : 31).
Menurut mereka dengan mengutip riwayat pendapat dari Ibnu Mas`ud bahwa yang
dimaksud perhiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah wajah, karena wajah adalah pusat
dari kecantikan. Sedangkan yang dimaksud dengan `yang biasa nampak` bukanlah wajah,
melainkan selendang dan baju.
Namun riwayat ini berbeda dengan riwayat yang shahih dari para shahabat termasuk riwayt
Ibnu Mas`ud sendiri, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan lainnya dari kalangan tabi`in bahwa
yang dimaksud dengan `yang biasa nampak darinya` bukanlah wajah, tetapi al-kuhl (celak
mata) dan cincin. Riwayat ini menurut Ibnu Hazm adalah riwayat yang paling shahih.
Surat Al-Ahzab : 53

ُّ‫ن ِإذَا دُ ِعيت ُ ْم‬ ُّْ ‫ين ُِّإنَا ُّهُ َولَ ٰـ ِك‬
َُّ ‫َاظ ِر‬ ِ ‫ْر ن‬ َُّ ‫طعَامُّ َغي‬ َ ‫ى‬ ُّٰ َ‫ن لَ ُك ُّْم إِل‬ َُّ َ‫ل أَن يُؤْ ذ‬ ُّ َّ ‫ي ِ ِإ‬ َُّ ُ‫ل ت َ ْد ُخلُوا بُي‬
ُّ‫وت النَّبِ أ‬ ُّ َ ‫ِين آ َمنُوا‬ َُّ ‫يَا أَيُّ َها الَّذ‬
َُّّ ‫ي ُّفَيَ ْست َ ْح ِيي ِمن ُك ُّْمُّۖ َو‬
ُّ‫ّللاُ َل‬ َُّّ ‫ان يُؤْ ذِي النَّ ِب‬ َُّ ‫ن ُّٰذَ ِل ُك ُّْم َك‬َُّّ ‫حدِيثُُّّۚ ِإ‬ َُّ ‫ِين ِل‬َُّ ‫ل ُم ْستَأ ْ ِنس‬ ُّ َ ‫ط ِع ْمت ُ ُّْم فَانتَش ُِروا َو‬ َ ‫فَا ْد ُخلُوا فَإِذَا‬
‫نُّۚ َو َما‬ َُّّ ‫ط َه ُُّر ِلُّقُلُو ِب ُك ُّْم َوقُلُو ِب ِه‬ ْ َ ‫اء ِح َجابُُّّۚ ُّٰذَ ِل ُك ُّْم أ‬ ُِّ ‫ن ِمن َو َر‬ َُّّ ‫عا فَا ْسأ َُّلُو ُه‬ ً ‫ن َمتَا‬ َُّّ ‫سأ َ ْلت ُ ُمو ُه‬ ُِّ ‫ن ْال َح أ‬
َ ‫قُّۚ َو ِإذَا‬ َُّ ‫يَ ْست َ ْح ِيي ِم‬
﴾٥٣﴿ ‫ّللاِ َع ِظي ًما‬ َُّّ َ‫ان ِعن ُّد‬ َُّ ‫ن ُّٰذَ ِل ُك ُّْم َك‬ َُّّ ‫ّللاِ َو َلُّ أَن تَن ِك ُحوا أ َ ْز َوا َج ُّهُ ُِّمن بَ ْع ِد ُِّه أَبَدًاُّۚ ِإ‬ َُّّ ‫ل‬ ُ ‫ان لَ ُك ُّْم أَن تُؤْ ذُوا َر‬
َُّ ‫سو‬ َُّ ‫َك‬
Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka , maka mintalah dari belakang tabir. Cara
yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti
Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat.
Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.`(QS. Al-Ahzab : 53)
Para pendukung kewajiban niqab juga menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat bahwa wanita wajib menutup wajah
mereka dan bahwa wajah termasuk bagian dari aurat wanita. Mereka mengatakan bahwa meski khitab ayat ini kepada istri Nabi,
namun kewajibannya juga terkena kepada semua wanita mukminah, karena para istri Nabi itu adalah teladan dan contoh yang
harus diikuti.
Selain itu bahwa mengenakan niqab itu alasannya adalah untuk menjaga kesucian hati, baik bagi laki-laki yang melihat ataupun
buat para istri nabi. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat ini bahwa cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati
mereka (istri nabi).
Namun bila disimak lebih mendalam, al-Ahzab: 53 di atas tidak berbicara masalah kesucian hati yang terkait dengan zina
mata antara para shahabat Rasulullah SAW dengan para istri beliau. Kesucian hati ini kaitannya dengan perasaan dan
pikiran mereka yang ingin menikahi para istri nabi nanti setelah beliau wafat. Dalam ayat itu sendiri dijelaskan agar
mereka jangan menyakiti hati nabi dengan mengawini para janda istri Rasulullah SAW sepeninggalnya. Ini sejalan dengan
asbabun nuzul ayat ini yang menceritakan bahwa ada shahabat yang ingin menikahi Aisyah ra bila kelak Nabi wafat. Ini
tentu sangat menyakitkan perasaan nabi.
Adapun makna kesucian hati itu bila dikaitkan dengan zina mata antara shahabat nabi dengan istri beliau adalah
penafsiran yang terlalu jauh dan tidak sesuai dengan konteks dan kesucian para shahabat nabi yang agung.
Sedangkan perintah untuk meminta dari balik tabir, jelas-jelas merupakan kekhusususan dalam bermuamalah dengan
para istri Nabi. Tidak ada kaitannya dengan `al-Ibratu bi `umumil lafzi laa bi khushushil ayah`. Karena ayat ini memang
khusus membicarakan akhlaq pergaulan dengan istri nabi. Dan mengqiyaskan antara para istri nabi dengan seluruh
wanita muslimah adalah qiyas yang tidak tepat, qiyas ma`al fariq. Karena para istri nabi memang memiliki standart
akhlaq yang khusus. Ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran.
`Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah
kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah
perkataan yang baik,` (QS. Al-ahzab : 32)
HADIS-HADIS YANG
“DIPERSELISIHKAN” SOAL CADAR
Para pendukung kewajiban menutup wajah bagi muslimah menggunakan sebuah hadits yang diambil
mafhum mukhalafanya, yaitu larangan Rasulullah SAW bagi muslimah untuk menutup wajah ketika ihram.

ُّ‫س ْالقُفَّازَ ي ِْن‬


ُّ ِ َ‫لَ ت َ ْلب‬
ُّ ‫ب ْال َم ْرأ َُّة ُ ْال ُم ْح ِر َم ُّةُ َو‬
ُِّ ‫لَ ت َ ْنت َ ِق‬
ُّ ‫َو‬
“Hendaknya wanita yang sedang berihram tidak mengenakan cadar dan sarung tangan.” (HR. Bukhari no.
1838).
Dengan adanya larangan ini, menurut mereka lazimnya para wanita itu memakai niqab dan menutup
wajahnya, kecuali saat berihram. Sehingga perlu bagi Rasulullah SAW untuk secara khusus melarang
mereka. Seandainya setiap harinya mereka tidak memakai niqab, maka tidak mungkin beliau melarangnya
saat berihram.
Pendapat ini dijawab oleh mereka yang tidak mewajibkan niqab dengan logika sebaliknya. Yaitu bahwa saat
ihram, seseorang memang dilarang untuk melakukan sesautu yang tadinya halal. Seperti memakai pakaian
yang berjahit, memakai parfum dan berburu. Lalu saat berihram, semua yang halal tadi menjadi haram.
Kalau logika ini diterapkan dalam niqab, seharusnya memakai niqab itu hukumnya hanya sampai boleh dan
bukan wajib. Karena semua larangan dalam ihram itu hukum asalnya pun boleh dan bukan wajib.
Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan bahwa sebelumnya hukumnya wajib ?
Bahwa ada sebagian wanita yang di masa itu menggunakan penutup wajah, memang diakui. Tapi
masalahnya menutup wajah itu bukanlah kewajiban. Dan ini adalah logika yang lebih tepat.
‫لَ أ َ ْخبَ َرنَا‬ ُّ ‫ي قَا‬ ُُّّ ‫ل ْال َح َّراُِّن‬ ْ َ‫ْن ْالف‬
ُِّ ‫ض‬ ُُّ ‫ل ب‬ ُُّ ‫ي َُّو ُُّم َؤ َّم‬ ُُّّ ‫طا ِك‬ َ ‫بن َك ْعبُّ اِل َ ْن‬ ُُّ ‫وب‬ ُُّ ُ‫َحدَّثَنَا يَ ْعق‬
‫ن أ َ ْس َما َُّء‬ َُّّ َ ‫ش ُّةَ أ‬ َ ُِّ‫عائ‬ َ ‫ن‬ ُّْ ‫ع‬ َ ُّ‫ْن د َُريْك‬ ُِّ ‫ن خَا ِلدُّ ب‬ َ َ ‫ن قَتَادَُّة‬
ُّْ ‫ع‬ ُّْ ‫ع‬
َ ُّ‫ْن بَ ِشير‬ ُِّ ‫س ِعي ُِّد ب‬ َ ‫ن‬ ُّْ ‫ع‬ َ ُ ‫ْال َو ِلي ُّد‬
ُّ‫علَ ْي َها ِثيَابُّ ِرقَاق‬ َُّ ‫سلَّ َُّم َو‬
َ ‫علَ ْي ُِّه َو‬
َ ُ‫للا‬ ُّ ‫صلَّى‬ َُّ ِ‫للا‬ ُّ ‫ل‬ ُِّ ‫سو‬ ُ ‫علَى َر‬ َ ‫ت‬ ُّْ َ‫ت أَبِي بَ ْكرُّ دَ َخل‬ َُّ ‫ِب ْن‬
‫ن ْال َم ْرأ َُّة َ ِإذَا‬ َُّّ ‫ل يَا أ َ ْس َما ُُّء ِإ‬ َُّ ‫سلَّ َُّم َوقَا‬َ ‫علَُّْي ُِّه َو‬ َ ُ‫للا‬ُّ ‫صلَّى‬ َ ِ‫للا‬ ُّ ‫ل‬ ُُّ ‫سو‬ ُ ‫ع ْن َها َر‬ َ ‫ض‬ َُّ ‫فَأ َ ْع َر‬
‫َار ِإلَى َُّو ْج ِه ُِّه‬ َُّ ‫لَّ َهذَا َو َهذَا َوأَش‬ ُّ ‫ن يُ َرى ِمُّْن َها ِإ‬ ُّْ َ ‫ح أ‬ ُّْ ُ‫صل‬
ْ َ ‫يض لَ ُّْم ت‬ َُّ ‫ت ْال َم ِح‬ ُِّ َ‫بَلَغ‬
ُ‫للا‬
ُّ ‫ي‬ َُّ ‫ض‬ ِ ‫ش ُّةَ َُّر‬ َ ‫عا ِئ‬ َ ‫ك‬ ُّْ ‫ْن د َُُّريْكُّ لَ ُّْم يُ ْد ِر‬ ُُّ ‫سلُّ خَا ِل ُّدُ ب‬ َ ‫ل أَبُو دَ ُاو ُّد ُ َهذَا ُم ْر‬ َُّ ‫ قَا‬. ‫َو َكفَّ ْي ُِّه‬
]َ‫ [رواه أَبُو دَ ُاو ُّد‬. ‫ع ْن َها‬ َ
Artinya: “Telah menceritakan pada kami Yakub bin Ka’ab al-Anthaki dan Muammal bin al-
Fadhl bin al-Harani keduanya berkata: Telah mengkabarkan pada kami Walid dari Said bin
Basyir dari Qatadah dari Khalid bin Duraik dari Aisyah bahwa Asma’ binti Abi Bakar
menemui Rasulullah saw dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah saw berpaling
darinya dan berkata: “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah
mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk
wajah dan kedua telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud]
َُّ‫عة‬ َُّ ُّ‫ُورُّفَيَ ْش َه ْد َن‬
َ ‫ج َما‬ ِ ‫ُّال ُخد‬ْ ‫ت‬ ِ ‫ُّوذَ َوا‬ ُّ
‫ْن‬
َ ِ ‫ي‬َ ‫د‬ ‫ي‬‫ع‬ِ ْ
‫ُّال‬ ‫م‬
َ ‫و‬ْ َ ‫ي‬ُّ ‫َّض‬
َ ‫ي‬‫ح‬ُ ْ
‫ُّال‬ ‫ج‬َ ‫ر‬ِ ْ
‫خ‬ ُ ‫ن‬ُّ ْ
‫ن‬ َ ‫َاُّأ‬ ‫ن‬‫ر‬ْ ‫م‬
ِ ُ ‫أ‬
َّ ‫سو َل‬
ُِّ‫ُّّللا‬ َ َ‫ُّام َرأَةُّ ي‬
ُ ‫اُّر‬ ْ ‫ت‬ ِ َ‫ص ََّل ُه َّنُّقَال‬َ ‫ع ْنُّ ُم‬
َ ُّ‫ض‬ ْ ‫ُّويَ ْعت َ ِز ُل‬
ُ َّ‫ُّال ُحُّي‬ َ ‫ُّودَ ْع َوت َ ُه ْم‬
َ ‫ين‬ َ ‫ْال ُم ْس ِل ِم‬
‫ُّج ْلبَا ِب َها‬ ِ ‫احبَت ُ َه‬
ِ ‫اُّم ْن‬ ِ ‫ص‬َ ‫اُّج ْلبَابُّقَا َلُّ ِلت ُ ْل ِب ْس َها‬ِ ‫ْسُّلَ َه‬ َ ‫ِإ ْحدَانَاُّلَي‬
“Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haidh
dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka.
Tetapi wanita-wanita haidh menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita
bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab
(bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab: “Hendaklah kawannya meminjamkan
jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.”” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan kebiasaan wanita sahabat keluar rumah memakai jilbab. Dan
Rasulullah tidak mengizinkan wanita keluar rumah tanpa jilbab, walaupun dalam
perkara yang diperintahkan agama. Maka hal ini menjadi dalil untuk menutupi diri.
(Lihat Risalah Al Hijab, hal 15, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin,
penerbit Darul Qasim)
CADAR DALAM PERBINCANGAN ULAMA
KONTEMPORER
Di antara Ulama yang sangat kuat menegaskan tentang wajibnya mengenakan cadar bagi muslimah adalah Syekh Muhammad bin
Shalih bin Utsamin yang dituangkan dalam kitabnya berjudul Risalatul Hijab 35 halaman dan diterbitkan oleh al-jamiah al-Islamiyah al-
Madinah al-Munawarah. Syekh Abdul Aziz bin Baz. " Banyak pula ulama Pakistan dan India berpendapat kaum wanita wajib menutup
wajahnya . Dan diantara ulama terkenal yang berpendapat demikian adalah ulama besar dan da'i terkenal, mujaddid Islam yang
masyhur, yaitu al-Ustadz Abul A'la Al-Maududi dalam kitabnya Al-Hijab .
Di antara yang menegaskan bukan wajib tapi mubah, adalah Yusuf Qarodhawi, Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam
kitabnya Hijabul Mar'atil Muslimah fil-Kitab was-Sunnah dan mayoritas ulama Al-Azhar di Mesir, ulama Zaituna di Tunisia , Qarawiyyin
di Maghrib (Maroko) , dan tidak sedikit dari ulama Pakistan, India, Turki, dan lain-lain.
Bahkan beberapa ulama menganggapnya sebagai tradisi saja seperti, Syekh Ali Jumuah, ulama yang bergelar Mufti al-Jumhuriyah.
Sebuah buku kompilasi makalah ulama-ulama Mesir yang di terbitkan oleh Darul Kutub al-Mishriyyah telah menggunakan judul Cadar,
Tradisi bukan Ibadah dalam rangka memberikan pemahaman tentang keberadaan cadar yang sebenarnya. Buku itu adalah kompilasi
dari makalah yang di tulis oleh 4 ulama terkemuka di Mesir. Yakni Syekh Mahmud Hamdi Zaqzuq, Syekh Muhammad Sayyid Thantawi,
Syekh Abdul Halim Abu Syaqah, dan Mufti Jumhur Syekh Ali Jumu’ah. di dalamnya juga di muat pandangan Syekh Muhammad Ghazali
terhadapa cadar, dan pembahasan rinci seputar fatwa cadar yang beredar di Mesir oleh Darul Ifta’ al-Mishriyyah.
Itu adalah dua ayat yang Syekh Ali Jumuah ajukan untuk memulai bahasannya mengenai
masalah berhias dan mengunakan cadar. Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban bagi
muslimat agar menundukkan pandangannya, menjaga kemaluannya, serta tidak
menampakkan hiasan kecuali pada tempatnya.
Syekh Ali Jumuah memahami kalimat ‫الماظهرمنها‬dengan pengertian : “kecuali tempat dimana
perhiasan itu harus di tampilkan”. Dengan demikian ada tempat dimana perempuan boleh
berhias dengan catatan sesuai dengan tempat yang di perbolehkan oleh Syariat.
Adapun tempat yang di perbolehkan untuk menampilkan
hiasan bagi seorang wanita diantaranya : celak salah satu dari
hiasan untuk memperelok wajah, dan cincin di peruntukkan
untuk memperindah jari-jemari.
Adapun cadar yang menutup wajah, menurut pendapat yang lebih shohih adalah tidak wajib.
Hal ini dapat di pahami bahwa aurat wanita adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak
tangan. Maka dari itu, diperkenankan bagi wanita untuk membuka wajah dan telapaknya.
Inilah pendapat jumhur ulama Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi’iyyah. Imam Mardawi
mengatakan bahwa kesohihan itu juga dianut kalangan ulama Hanabilah dan mujtahi
terdahulu seperti imam Auza’i, Abi Tsaur dan lainnya. Bahkan ulama Malikiyyah menjelaskan
bahwa bercadar dimakruhkan bagi seorang wanita, jika tradisi bercadar disana tidak ada. Hal
ini termasuk perbuatan ekstrim dalam beragama.
Bahwa standardisasi cara berpakaian sangat di tentukan oleh tradisi yang berkembang dalam satu
lokalitas. Cadar merupakan tradisi orang Arab yang sudah ada bahkan sebelum Islam datang. Setelah
Islam datang sekalipun, cadar ini hanya digunakan oleh sebagian wanita disana. Mereka juga
menggunakannya terkadang tidak setiap saat. Hal ini menjadi indikator bahwa cadar tidak ada kaitannya
dengan ibadah dengan sendirinya. Karna pandangan ulama seputar masalah ini, lebih cenderung
mengatakan bahwa cadar bukanlah ibadah. Ia hanya tradisi.
Namun, menggunakan cadar tidaklah lantas menjadi sebuah kesalahan, sebagaimana di jelaskan oleh
Syekh Ali Jumu’ah diatas, untuk daerah yang tradisi fiqihnya mengikut imam Ahmad Bin Hanbal, dimana
tradisi bercadar disana dominan, maka tidak ada masalah untuk menggunakannya.
Pendapat Qardhawi, Tidak boleh menghakimi dalam perkara khilafiyah. Qardhawi
menegaskan, "Kami hanya mengingkari mereka jika mereka memasukkan pendapatnya
kepada orang lain, dan menganggap dosa dan fasik terhadap orang yang menerapkan
pendapat lain itu, serta menganggapnya sebagai kemunkaran yang wajib diperangi,
padahal para ulama muhaqiq telah sepakat tentang tidak bolehnya menganggap munkar
terhadap masalah -masalah ijtihadiyah khilafiyah . " Bahkan, kata Qardhawi , seandainya
wanita muslimah tersebut tidak menganggap wajib menutup muka, tetapi ia hanya
menganggapnya lebih wara' dan lebih takwa demi membebaskan diri dari perselisihan
pendapat, dan dia mengamalkan yang lebih hati-hati, maka siapakah yang akan melarang
dia berlatih pendapat yang lebih hati-hati untuk dirinya dan agamanya? Dan apakah pantas
dia dicela selama tidak mengganggu orang lain, dan tidak membahayakan kemaslahatan
umum dan khusus?
Qardhawi berpendapat hukumnya mubah. "Kalau hal itu hanya sekedar mubah, maka
adalah hak bagi muslimah untuk membiasakannya, dan tidak dapat bagi seseorang untuk
melarangnya, karena itu cuma melaksanakan hak pribadinya. Cacian hendaknya ditujukan
kepada yang masih memamerkan aurat.
FATWA MAJELIS TARJIH TENTANG CADAR
Tidak ada perintah baik al-Qur’an maupun hadis untuk memakai cadar, yang ada
adalah perintah memakai jilbab, ayat yang dimaksud adalah;

َُّّ ‫علَ ْي ِه‬


‫ن ِمن‬ َ ُّ‫ين‬ َُّ ِ‫اء ْال ُمؤْ ِمن‬
َ ِ‫ين ُّيُ ْدن‬ ُِّ ‫س‬ َ ِ‫ك َون‬ َُّ ِ‫ك َوبَُّنَات‬ ِ ‫ي قُ ٰل ِأِل َ ْز َو‬
َُّ ‫اج‬ ُُّّ ‫يَا أَيُّ َها النَّ ِب‬
ً ُ‫غف‬
‫ورا‬ َ ُ‫ّللا‬َُّّ ‫ان‬ َُّ ‫ۚ َو َك‬ ُّۗ ‫ْن‬
َُّ ‫َل يُؤْ ذَي‬ َُّ ‫َى أَن يُ ْع َرُّْف‬
ُّ َ َ‫ن ف‬ ُّٰ ‫ك أ َ ْدن‬ ُّ ۚ ‫ن‬
َُّ ‫ۚ ذَ ِل‬ َُّّ ‫َج ََل ِبي ِب ِه‬
]٣٣:٥٩[ ‫َّر ِحي ًما‬
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-
isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu
mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. al-Ahzab: 59)
FATWA MAJELIS TARJIH TENTANG CADAR
Yang diperintahkan oleh syariat Islam bagi wanita adalah memakai jilbab. Allah swt
berfirman dalam surat an-Nur (24) ayat 31:

ُّ‫ُّزينَت َ ُه َّنُّ ِإ َّلُّ َما‬ َ ‫ظنَ ُّفُ ُرو َج ُه َّن‬


ِ َ‫ُّو َلُّيُُّْبدِين‬ ْ َ‫ن َويَ ْحف‬ َُّّ ‫ار ِه‬ َ ‫ُّم ْنُّأ َ ْب‬
ِ ‫ص‬ ِ َ‫ضضْن‬ ُ ‫تُّيَ ْغ‬ِ ‫َوقُلُّ ِلأ ْل ُمؤْ ِمنَا‬
ُّۖ ‫ن‬
ۚ ُُّ ُّ‫علَ ٰى‬
َُّّ ‫جيُو ِب ِه‬ َ ُّ‫ُّو ْليَض ِْربْنَ ُّ ِب ُخ ُم ِر ِه َّن‬
َ ۚۖ ‫ُّم ْن َها‬
ِ ‫ظ َه َر‬ َ
Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
ke dadanya …,”
“kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”
Ayat ini menurut penafsiran Jumhur ulama, bahwa yang boleh nampak dari perempuan
adalah kedua tangan dan wajahnya sebagaimana pendapat Ibnu Abbas ra. dan Ibnu Umar ra.
(Tafsir Ibnu Katsir vol. 6:51)
Potongan ayat di atas (‫ر ِم ْن َها‬
َُّ ‫ظ َه‬ ُّ َّ ‫ ) ِإ‬juga dijelaskan oleh hadis riwayat dari Aisyah ra:
َ ‫ل َما‬
ُّ‫ن خَا ِلدُّ ب ِْن‬ُّْ ‫ن قَتَادَُّة َ َع‬
ُّْ ‫شيرُّ َع‬ ُِّ َ‫ْن ب‬
ُِّ ‫س ِعي ُِّد ب‬ َ ‫ن‬ ُّْ ‫لَ أ َ ْخبَ َرنَا ْال َو ِلي ُّد ُ َع‬ ُّ ‫ي قَا‬ ُُّّ ِ‫ل ْال َح َُّّران‬ ْ َ‫ْن ْالف‬
ُِّ ‫ض‬ ُُّ ‫ل ب‬ ُُّ ‫ي َُّو ُم َؤ َّم‬ َ ‫بن َك ْعبُّ اِل َ ْن‬
ُُّّ ‫طا ِك‬ ُُّ ‫وب‬ُُّ ُ‫َحدَّثَنَا يَ ْعق‬
‫ض َع ْن َها‬ َُّ ‫سلَّ َُّم َو َعلَ ْي َها ثِيَابُّ ِرقَاقُّ فَأَع َْر‬ َ ‫للاُ َعلَ ْي ُِّه َو‬ ُّ ‫صلَّى‬ َ ُِّ‫ل للا‬ ُِّ ‫سو‬ ُ ‫ت َعلَى َر‬ ُّْ َ‫ت أَبِي بَ ْكرُّ دَ َخل‬ َُّ ‫ن أ َ ْس َما َُّء ِب ْن‬ َُّّ َ ‫ش ُّةَ أ‬
َ ِ‫ن َعائ‬ ُّْ ‫د َُريْكُّ َع‬
‫َار إِلَى‬ َُّ ‫لَّ َهذَا َو َهذَا َوأَش‬ ُّ ‫ن يُ َرى ِم ْن َها ُِّإ‬ ُّْ َ ‫ح أ‬ُّْ ُ‫صل‬ْ َ ‫يض لَ ُّْم ت‬ َُّ ‫ت ْال َم ِح‬ ُِّ َ‫ن ْال َم ْرأ َُّة َ ِإ ُّذَا بَلَغ‬ َُّّ ‫ل يَا أ َ ْس َما ُُّء ِإ‬ َُّ ‫سلَّ َُّم َوقَا‬َ ‫للاُ َعلَ ْي ُِّه َو‬ ُّ ‫صلَّى‬ َ ُِّ‫ل للا‬ ُُّ ‫سو‬ ُ ‫َر‬
] َ‫رواه أَبُو دَ ُاو ُّد‬. [ ‫للاُ َع ْن َها‬ ُّ ‫ي‬ َُّ ‫ض‬ ِ ‫ش ُّةَ َر‬
َُّ ِ‫ك َعائ‬ ُّْ ‫ْن د َُريْكُّ لَ ُّْم يُ ْد ِر‬ ُُّ ‫سلُّ خَا ِل ُّدُ ب‬ َ ‫ل أَبُو دَ ُاو ُّدُ َهذَا ُم ْر‬ َُّ ‫قَا‬. ‫َو ْج ِه ُِّه َو َكفَّ ْي ُِّه‬
Artinya: “Telah menceritakan pada kami Yakub bin Ka’ab al-Anthaki dan Muammal bin al-
Fadhl bin al-Harani keduanya berkata: Telah mengkabarkan pada kami Walid dari Said bin
Basyir dari Qatadah dari Khalid bin Duraik dari Aisyah bahwa Asma’ binti Abi Bakar
menemui Rasulullah saw dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah saw berpaling
darinya dan berkata: “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah
mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk
wajah dan kedua telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud] Hadits ini dikategorikan mursal oleh
Imam Abu Dawud sendiri setelah akhir menuliskan riwayatnya dikarenakan terdapat rawi
yang bernama Khalid bin Duraik, yang dinilai oleh para ulama kritikus hadits tidak pernah
bertemu dengan Aisyah ra dan Said bin Basyir yang dinilai dhaif (lemah) oleh para ulama
kritikus Hadits
Namun hadis yang dianggap mursal dan oleh karenanya dho’if di atas mempunyai penguat yang
ternilai mursal shahih dari jalur-jalur lainnya yang diriwayatkan juga oleh Abu Dawud sendiri dalam
al-Marasil (no. 460, cet. Dar al-Jinan, Beirut) dari Qatadah di mana dalam jalur sanadnya tidak
terdapat Khalid bin Duraik dan Said bin Basyir. Riwayat tersebut adalah:
ُّْ ُ‫صل‬
‫ح أن يُ َري‬ َ ‫ت لَ ُّْم‬
ْ َۚ ‫ت‬ ُّْ ‫ض‬ َُّّ :‫سلَّ َُّم قال‬
ِ ‫إن اْل َج‬
َ ‫ار َي ُّةَ ِإذَا َحا‬ َ ‫علَ ْي ُِّه َو‬ ُّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫للا‬ َُّ ِ‫للا‬
ُّ ‫ل‬َُّ ‫سو‬ َُّّ َ ‫ن قَتَادَُّةَ أ‬
ُ ‫ن َر‬ َ ‫ْن بَشَارُّ ثَنَا أَبُو دَ ُاو ُّدُ ثَنَا ِهشَا ُُّم‬
ُّْ ‫ع‬ ُُّ ‫َحدَّثَنَا اب‬
]‫ [رواه أبو داود‬.‫ل‬ ِ ‫لو ْج ِه َها َويَدَاهَا إِلَى اْل َم ْف‬
ُِّ ‫ص‬ َ ِ‫ِم ْن َها إ‬
Artinya: “Telah menceritakan pada kami Ibnu Basyar, telah menceritakan pada kami Abu Dawud,
telah menceritakan pada kami Hisyam dari Qatadah bahwasannya Rasulullah saw bersabda:
Sesungguhnya seorang perempuan jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya
kecuali wajahnya dan kedua (telapak) tangannya sampai tulang pergelangan tangan (sendi).” [HR.
Abu Dawud]
Juga jalur lain seperti dari ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir (24/143/378) dan al-Ausath (2/230),
al-Baihaqi (2/226), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (4/283).
Selain itu banyak riwayat-riwayat lain yang memperlihatkan bahwa banyak dari para shahabiyat
(sahabat perempuan) yang tidak memakai cadar atau menutupi wajah dan tangan mereka. Seperti
kisah Bilal melihat perempuan yang bertanya kepada Nabi saw di mana diceritakan bahwa pipi
perempuan tersebut merah kehitam-hitaman (saf’a al-khaddain).
Terkait dengan pakaian perempuan ketika shalat, sebuah riwayat dari Aisyah ra
menjelaskan bahwa ketika shalat para perempuan pada zaman Nabi saw memakai kain
yang menyelimuti sekujur tubuhnya (mutallifi’at fi-murutihinna).
َُّ ُُّ‫صلَّىُّللا‬
ُّ‫علَ ْي ِه‬ َ ُِّ‫سولُُّللا‬ ُ ‫ُّر‬ ُّْ َ‫شةَُّقَال‬
َ َ‫لَقَ ْدُّ َكان‬: ‫ت‬ َ ِ‫ع ْر َوةُُّأ َ َّنُّ َعائ‬
ُ ُّ‫يُّقَا َلُّأ َ ْخُّبَ َرنِي‬ ُّ ‫شعَيْبُّ َع ِن‬
‫ُّالز ْه ِر ِأ‬ ُ ُّ‫انُّقَا َلُّأ َ ْخبَ َرنَا‬
ِ ‫َحدَّثَنَاُّأَبُوُّاْليَ َم‬
ُّ‫ َوفِى‬. ُّ‫رج ْعنَ ُّ ِإلَى بُيُوتُِّ ِه َّنُّ َماُّيَ ْع ِرفُ ُه َّنُّأ َ َحد‬
ِ َ‫ُّمنَ ُّاْل ُمؤْ ِمنَاتُِّ ُمت َ ُِّلأ ِفعَاتُّفيُّ ُم ُر ْو ِط ِه َّن ُّث ُ َّمُّي‬
ِ ‫ساء‬ َ ‫ص ِلأيُّالفَ ْج َر‬
َ ِ‫ُّفي َۚ ْش َهدُُّ َمعَهُُّن‬ َ ُ‫سلَّ َمُّي‬َ ‫َو‬
]‫متفقُّعليه‬. [‫س‬ ِ َ‫لَُّيُ ْع َر ْفن‬: ُّ‫ِر َوايَةُّأَخَر‬
ُّ ِ َ‫ُّمنَ ُّالغَل‬
Artinya: “Telah menceritakan pada kami Abu al-Yaman, telah memberitahukan pada kami
Syu’aib dari az-Zuhri, telah mengkabarkan padaku Urwah bahwasannya Aisyah berkata:
“Pada suatu ketika Rasulullah saw shalat subuh, beberapa perempuan mukmin (turut
shalat berjamaah dengan Nabi saw). Mereka shalat berselimut kain. Setelah selesai shalat,
mereka kembali ke rumah masing-masing dan tidak seorangpun yang mengenal mereka.”
Dalam riwayat lain: “Kami tidak bisa mengenal mereka (para perempuan) karena gelap.”
[Muttafaq ‘alaihi]
Imam asy-Syaukani memahami hadits ini bahwa para sahabat perempuan di antaranya
Aisyah ra tidak dapat mengenali satu sama lain sepulang dari shalat subuh karena memang
keadaan masih gelap dan bukan karena memakai cadar, karena memang saat itu wajah para
perempuan biasa terbuka.
KESIMPULAN FATWA TARJIH

TIDAK ADA PERINTAH MENGGENAKAN


CADAR, BAIK DALAM AL-QUR’AN
MAUPUN HADIS
Pendapat Para Fuqoha Bahwa Wajah Bukan Termasuk Aurat Wanita
Al-Hanafiyah mengatakan tidak dibenarkan melihat wanita ajnabi yang merdeka kecuali wajah
dan tapak tangan. (lihat Kitab Al-Ikhtiyar). Bahkan Imam Abu Hanifah ra. sendiri mengatakan yang
termasuk bukan aurat adalah wajah, tapak tangan dan kaki, karena kami adalah sebuah
kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan.
Al-Malikiyah dalam kitab `Asy-Syarhu As-Shaghir` atau sering disebut kitab Aqrabul Masalik ilaa
Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri dituliskan bahwa batas aurat waita merdeka dengan laki-laki
ajnabi (yang bukan mahram) adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Keduanya itu
bukan termasuk aurat.
Asy-Syafi`iyyah dalam pendapat As-Syairazi dalam kitabnya `al-Muhazzab`, kitab di kalangan
mazhab ini mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya adalah aurat kecuali wajah
dan tapak tangan.
Dalam mazhab Al-Hanabilah kita dapati Ibnu Qudamah berkata kitab Al-Mughni 1 : 1-6,`Mazhab
tidak berbeda pendapat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan tapak tangannya di
dalam shalat
Daud yang mewakili kalangan zahiri pun sepakat bahwa batas aurat wanita adalah seluruh tubuh
kecuai muka dan tapak tangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nailur Authar. Begitu juga
dengan Ibnu Hazm mengecualikan wajah dan tapak tangan sebagaiman tertulis dalam kitab Al-
Muhalla.
Pendapat Para Mufassirin
Para mufassirin yang terkenal pun banyak yang mengatakan bahwa batas aurat
wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Mereka antara lain
At-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya. Pendapat ini sekaligus
juga mewakili pendapat jumhur ulama.