Anda di halaman 1dari 23

Case Report Session

Renografi dan GFR


Siti Nuraeni
Mariya Ulfah
Preceptor:
Rd. Erwin Affandi S.K.,dr.,SpKN.,MHKes, FANMB
IDENTITAS PASIEN

 Nama : Tn. A
 Jenis Kelamin: Laki-laki
 Usia : 38 tahun
 Alamat : Bandung
 Agama : Islam
 Status : Menikah
 Tanggal pemeriksaan : 6 Maret 2017
ANAMNESA
Keluhan Utama
Nyeri pinggang sebelah kanan
Anamnesis Khusus
Pasien mengeluhkan nyeri pinggang sebelah kanan sejak
± 1 bulan, Keluhan disertai dengan perasaan masih ingin
buang air kecil setelah selesai kencing. Keluhan tidak disertai
dengan bengkak, kencing berdarah, nyeri dan perasaan
panas waktu buang air kecil. Penderita minum tidak dibatasi.
Buang air kecil lancar.
Pasien sudah 3 kali dilakukan pemasangan stent, karena batu
ginjal sejak 1 tahun yang lalu, karena adanya riwayat striktur.
riwayat operasi ginjal kanan (+). riwayat cuci darah (-). riwayat
penyakit terdahulu (-) riwayat sesak napas (-). dan riwayat
alergi (-).
PEMERIKSAAN FISIK

 Keadaan Umum : Compos mentis


 Tekanan darah : 140/90mmHg
 Nadi : 78x/menit
 Respirasi : 20x/menit
 Suhu : Afebris
 Tinggi badan : 163 cm
 Berat badan : 78.5 kg
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Kimia Klinik: Pemeriksaan tgl 20/2/2017


Ureum : 45 mg/dL (N = 15-50 mg/dL)
Kreatinin : 1,30 mg/dL (N = 0,53-0,79 mg/dL)
Renografi dan GFR
Pemeriksaan tgl 06/03/2017

 Hasil pemeriksaan GFR:


 Corrected GFR kiri : 60,12 ml/min
 Corrected GFR kanan : 5,41 ml/min
 Corrected GFR total : 65,53 ml/min
Hasil pemeriksaan Renografi:
 Dari pencitraan, tampak radioaktivitas pada ginjal
kanan sangat kurang sedangkan ginjal kiri menangkap
radioaktivitas cukup.
 Pada renogram ginjal kanan, tampak kurva berjalan
mendatar
 Pada renogram ginjal kiri, tampak ketiga fase masih
tampak jelas dengan puncak kurva dicapai pada
menit ke: 3.75
Kesimpulan:
Fungsi ginjal kanan sudah sangat
berkurang sedangkan ginjal kiri cukup.

Diagnosis Kerja
Nefrolithiasis kanan post operasi ureteral
stent
PEMBAHASAN
Renografi Diuresis

 Renografi diuresis merupakan modifikasi renografi


konvensional dengan intervensi farmakologi
diuretika furosemid.
 Indikasi :
Mengetahui lebih lanjut tingkat obstruksi apakah
total atau parsial seperti pada Megapielum, Hipotoni
pielum atau batu.
 Radiofarmaka :
99mTc-DTPA disuntikkan intravena di vena mediana
kubiti secara bolus
 Persiapan :
Penderita harus dalam keadaan hidrasi baik dengan
memberikan minum 500 ml sebelum pemeriksaan. Kandung
kemih penderita diusahakan dalam keadaan kosong.
 Peralatan :
Kamera gamma : Large Field of View
Kolimator : LEHR, High Energy collimator
Energy setting : Low energy pada puncak 140 KeV
High energy pada puncak 364 KeV
Window Wide : 20%
 Tatalaksana :
Posisi pasien terlentang, detektor ditempatkan sedemikian
rupa hingga ginjal dan kandung kemih berada dalam lapang
pandang pencitraan dari proyeksi posterior.
Penilaian
• Pada pencitraan dinilai penangkapan radioaktivitas oleh
kedua ginjal untuk melihat kemampuan ginjal mengekstraksi
radiofarmaka.

Kurva normal memperlihatkan adanya ketiga fase yang klasik,


yaitu:
• Fase pertama (inisial): terjadi peningkatan secara cepat segera
setelah penyuntikan radiofarmaka yang menunjukkan
kecepatan injeksi dan aliran darah vaskuler ke dalam ginjal.
Fase ini terjadi kurang dari 2 menit.
• Fase kedua (sekresi): menunjukkan kenaikan yang meningkat
secara bertahap. Fase ini berkaitan dengan proses
penangkapan radiofarmaka oleh dan di dalam ginjal melalui
proses difusi lewat sel-sel tubuli ke dalam lumen tubulus. Dalam
keadaan normal fase ini mencapai puncak dalam 2-5 menit.
• Fase ketiga (ekskresi): Tampak kurva menurun dengan cepat
setelah mencapai puncak kurva yang menunjukkan
keseimbangan antara radioaktivitas yang masuk dan yang
meninggalkan ginjal.
 Fase 1/inisial
 Fase 2/ sekresi
 Fase 3/ekskresi
LAJU FILTRASI GLOMERULUS

 Laju filtrasi glomerulus adalah jumlah


filtrat glomerulus yang dibentuk setiap
menit dalam nefron kedua ginjal.
 Filtrasi glomerulus terjadi akibat tekanan
di dalam kapiler yang menyebabkan
filtrasi cairan melalui membran kapiler ke
kapsula bowman’s.
 Tekanan filtrasi glomerulus adalah
tekanan netto yang memaksa cairan
keluar melalui membran glomerulus
yaitu sekitar 10mmHg.
 Koefisien filtrasi merupakan konstanta
yang besarnya 12,5/menit/mmHg,
 jadi laju Filtrasi Glomerulus sama
dengan tekanan filtrasi dikalikan
dengan koefisien filtrasi yaitu
10mmHgx12,5ml/menit/mmHg
sehingga didaptkan nilai 125 ml/menit.
(ini adalah nilai normal pada pasien
berumur 30 tahun)
 Laju Filtrasi Glomerulus dapat diukur
dengan menghitung laju klirens ginjal dari
zat khusus.
 Zat tersebut harus dapat bebas difiltrasi
oleh membran filtrasi glomerulus, tidak
disekresi maupun direabsorbsi oleh tubulus
ginjal.
 Radiofarmaka yang sering digunakan
adalah Cr-51 EDTA dan 99mTc-DTPA.
 Indikasi :
 Evaluasi perfusi dan fungsi ginjal
 Evaluasi trauma ginjal
PEMBAHASAN
 Nefrolitiasis adalah pembentukan batu
atau kalkulus didalam collecting tubules.
 Ukuran batu bervariasi dari ukuran kecil
seperti pasir sampai dengan ukuran
sebesar bola golf.
 Batu yang kecil bisa keluar lewat urin, jika
batu tersebut relatif besar  obstruksi
ureter dan distensi urin  pasien merasa
sakit terutama di pinggang, di bagian
abdomen bawah.
Etiologi

 Etiologi diduga dari konsumsi


kalsium berlebihan mengakibatkan
terbentuknya batu ginjal.
 Tipe batu yang sering ditemukan
adalah kalsium oksalat.
 Contoh batu ginjal termasuk struvit
(magnesium, amonium dan fosfat),
asam urat, kalsium fosfat atau sistin
(hanya ditemukan pada pasien
sistinuria).
 Pembentukan batu struvit
berhubungan dengan urease yang
diubah bakteri (Klebsiella, Serratia,
Proteus, Providencia sp.) yang
merubah urea ke amonia, tersering
oleh Proteus mirabilis.
Gejala
 Sering asimptomatik sampai dengan
terjadinya obstruksi aliran urin.
 Dapat berupa nyeri pinggang akut
ipsilateral(renal kolik), mual dan
muntah, lemas, hematuri, dan demam
(infeksi).
 Beberapa pasien asimptomatik dan
menyadari bila kencing berdarah
merupakan petanda pertama gejala
batu ginjal.
TERIMA KASIH