Anda di halaman 1dari 73

GOLONGAN KUINOLON

KELOMPOK 5
1. MOH. ZULKARNAIN BAKARI
2. FADILAH DAUD
3. JULAIHA HADJU
4. RINA ANGRAINI KAHARU
5. WAHYUNI YUSUF
PengertianKuinolon
Kuinolon, merupakan bakterisida karena
menghambat lepasnya untai DNA yang
terbuka pada proses superkoil dengan
menghambat DNA girase (enzim yang
menekan DNA bakteri menjadi superkoil)
Efek SampingKuinolon
Efek samping kuinolon meliputi mual, muntah, dispepsia, nyeri
lambung, diare (jarang, kolitis terkait antibiotik), sakit
kepala, pusing, gangguan tidur, ruam (sindroma Stevens-
Johnson dan nekrolisis epidermal toksik), dan pruritus
Efek samping yang jarang terjadi antara lain anoreksia,
peningkatan kadar urea dan kreatinin dalam darah,
mengantuk, restlessness, astenia, depresi, bingung,
halusinasi, kejang, tremor, paraestesia, hipoastesia,
fotosensitivitas, reaksi hiper-sensitivitas termasuk demam,
urtikaria, angioedema, artralgia, mialgia dan anafilaksis
serta gangguan darah (mencakup eosinofilia, leukopenia,
trombositopenia, selain itu dapat juga terjadi gangguan
penglihatan, pengecapan, pendengaran dan penciuman
Penggunaan Obat Kuinolon

Kuinolon dapat menyebabkan artropati pada sendi


penahan berat badan pada hewan, karena itu tidak
boleh digunakan pada anak dan remaja. Namun,
kebermaknaan efek ini pada manusia masih belum
diketahui dengan pasti. Pada beberapa kondisi,
penggunaan kuinolon pada anak dapat dilakukan.
Asam nalidiksat digunakan untuk infeksi saluran
kemih pada anak di atas usia 3 bulan.
Siprofloksasin diindikasikan untuk infeksi
pseudomonas pada fibrosis sistik untuk anak di
atas usia 5 tahun dan untuk profilaksis antraks
Lanjutan..

Penggunaan Fluorokuinolon dapat meningkat-kan risiko


tendonitis dan tendon rupture pada semua rentang usia
• Kerusakan tendon ini dapat terjadi dalam 48 jam setelah
dimulai terapi. Karena itu perlu diperhatikan hal-hal berikut:
• Kuinolon dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat
gangguan tendon yang disebabkan oleh penggunaan kuinolon.
• Kemungkinan terjadinya tendonitis lebih besar pada lansia
yang berusia lebih dari 60 th, pasien pasca transplantasi
ginal, jantung atau paru.
• Risiko terjadinya kerusakan tendon meningkat jika digunakan
bersama dengan kortiko-steroid
• Jika diduga terjadi tendonitis, penggunaan kuinolon
sebaiknya segera dihentikan
GolonganObatKuinolon

1. ASAM NALIDIKSAT

Mekanismekerja
Menghambatreplikasi DNA
bakteridengancaramenganggukerja topoisomerase II
selamapertumbuhandanreproduksibakteri

Indikasi
Untuk pengobatan infeksi saluran kemih yang disebabkan
oleh mikroorganisme gram negative yang rentan, termasuk
mayoritas spesies E.Coli, Enterobacter, spesies klebsiella,
dan proteus
Lanjutan..

Kontraindikasi
Hipersensivitas, aterosklerosis serebral, kehamilan,
laktasi dan masa bayi <3 bulan
Dosis
1 gram tiap 6 jam selama 7 hari.
Untukinfeksikronis: 500 mg tiap 6 jam. ANAK di
atas 3 bulan, maksimum 50 mg/kg
bb/haridalamdosisterbagi.Untukjangkapanjang, 30
mg/kg bb/hari.
Efeksamping
Mualmuntah, diare, perdarahansalGl, kelelahanotot,
myalgia, fototoksik, reaksialergi, efek SSP.
• Interaksiobat
• Meningkatkan efek dari obat yang terikat kuat
dengan protein. Antacid
Farmakokinetik

Absorbsi
Minum obat flurokuinolon bersamaan dengan sukralfat, antacid-
antasid yang mengandung alumunium atau magnesium atau
makanan tambahan yang mengandung besi atau seng dapat
menganggu absorbs obat-obat antibakteri
Distribusi
Semua fluorokuinolon berdistribusi baik dalam semua cairan
jaringan tubuh. Kadarnya tinggi dalam tulang, urine, ginjal dan
jaringan prostat (tetapi tidak dicairan prostat). Fluorokuinolon
berakumulasi dalam makrofag dan leukosit polimorfonuklear
sehingga efektif terhadap organisme intrasel.
Metabolisme
Obat-obat ini sebagian dimetabolisme menjadi senyawa-senyawa
yang kurang aktivitas antimikrobanya
Ekskresi
Obat asli dan metabolitnya dieksresikan kedalam urine dan
terjadi konsentrasi tinggi. Ini adalah jalan eksresi utama untuk
ofloksasin
2. Siprofloksasin
Mekanisme kerja

Ciprofloxacin adalah antibiotik yang termasuk dalam


golongan fluorokuinolon yang merupakan generasi ke 2. Obat
ini bekerja melakukan penghambatan terhadap dua jenis
enzim topoisomerase yaitu enzim DNA gyrase dan enzim
topoisomerase IV. Kedua enzim tersebut berperan dalam
pembentukan DNA sel bakteri. Dengan mekanisme kerja
tersebut ciprofloxacin dapat membunuh bakteri sehingga
obat ini digolongkan sebagai bakterisidal. Obat ini
merupakan antibiotik broad spectrum (spektrum luas) yang
aktif mematikan bakteri gram negative maupun gram positif
Indikasi
Untuk pengobatan infeksi berikut yang disebabkan oleh
organisme yang rentan. Infeksi saluran kemih, sistitis akut
tanpa komplikasi, prostatitis bakteri kronis, infeksi saluran
pernafasan bagian bawah, sistitis akut, infeksi kulit dan
struktur kulit, infeksi tulang dan sendi, infeksi intra-
abdomen yang rumit dalam kombinasi dengan metronidazole)
diare menularm demam tifoid (demam enteric), gonore
Rahim dang aster Rahim tanpa komplikasi, dan antraks
inhalasi (pasca paparan)

Kontraindikasi
– Hipersensivitas
– hamil & laktasi
– anak <12 tahun
Dosis
oral: infeksi saluran napas, 250-750 mg dua kali sehari.

Infeksisalurankemih, 250-500 mg dua kali sehari


(untukakuttanpakomplikasi, 250 mg dua kali sehariselam 3
hari). Gonore 500 mg dosistunggal.

InfeksiPseudomonalsaluranpernafasanbawahpadacystic
fibrosis 750 mg dua kali sehari; ANAK 5-17 tahun
(lihatPeringatandi atas), sampai 20 mg/kg bb dua kali sehari
(maksimal 1,5 g sehari).

Infeksilain, 500-750 mg dua kali sehari. Profilaksisbedah,


750 mg 60-90 menitsebelumoperasi.

Injeksiintravena: (selama 30-60 menit), 200-400 mg dua


kali sehari.
InfeksiPseudomonalsaluranpernafasanbawahpadacystic
fibrosis 400 mg dua kali sehari. ANAK 5-17 tahun
(lihatPeringatandi atas), sampai 10 mg/kg bb tiga kali sehari
(maksimal 1,2 g sehari).

Infeksisalurankemih, 100 mg dua kali sehari. Gonore, 100 mg


dosistunggal.

ANAK: tidakdianjurkan (lihatPeringatandi atas).


Tapibilapertimbanganmanfaatrisikomenguntungkan, oral: 10-
30mg/kg bb/haridibagiduadosis; intravena: 8-16 mg/kg
bb/haridibagiduadosis.
Antraks (pengobatandanprofilaksissetelahterpapar,
lihatketerangandiatas), oral, 500 mg seharidua kali; ANAK
30 mg/kg bb/haridibagiduadosis (maksimal 1 g per hari)
Injekasiintravena, 400 mg seharidua kali; ANAK 20 mg/kg
bb/haridibagi 2 dosis (Maksimal 800 mg per hari).
Efeksamping
rasaterbakarlokaldangatal; pelupukmataterbentukkrusta;
hyperaemia; gangguanindrapengecap;
korneamenjadiberwarna, keratitis, udempadakelopakmata,
lacrimation, photophobia, infiltrasikornea;
dilaporkanadanyamualdangangguanpenglihatan.

Interaksiobat
Antasida yang mgd Al atau Mg, teofilin, siklosporin,
probenesid, antikoagulan, metoklopramid.
Farmakokinetik
Siprofloksasin merupakan agen antibakteri spektrum luas.
Diabsorbsi baik secara oral dan dapat secara intravena.
Dieliminasi oleh ginjal dan (sebagian besar) dalam bentuk
yang tidak berubah. Siprofloksasin mempunyai substituent
6-fluoro yang sangat memperkuat potensi antibakteri
melawan bakteri gram positif dan terutama bakteri gram
negatif (E. coli, P.aeruginosa, Salmonella,
Campylobacter)

Peringatan
tidakdisarankanuntukdigunakanpadaanakberusia di bawah
1 tahun; kehamilandanmenyusui.
3. Levofloksasin
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja levofloxacin yang utama adalah melalui
penghambatan DNA gyrase bekteri (DNA topoisomerase II ),
sehingga menyebabkan terjadinya penghambatan replikasi
(proses pengggandaan rantai DNA ) dan transkripsi
(penyalinan) DNA. Dengan mekanisme kerja tersebut obat ini
dapat didistribusikan ke seluruh tubuh dalam konsentrasi
yang tinggi sehingga masuk dan menembus (berpenetrasi) ke
dalam jaringan sasaran dengan baik.
Indikasi
• Levofloxacin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri pada :
• Sinusitis
• Infeksi kandung kemih terkomplikasi
• Infeksi kulit dan jaringan lunak
• Pneumonia yang didapat dari masyarakat (community-acquired
pneumonia)
• Eksaserbasi akut pada bronchitis kronik
• Penyakit antraks
• Kontra indikasi
• Pasien yang hipersensitif atau alergi terhadap levofloxacin dan
antimikroba golongan kuinolon lainnya
• Seseorang yang mempunyai penyakit epilepsy
• Pasien dengan riwayat gangguan tendon terkait pemberian
fluorokuinolon
• Anak atau remaja
• Wanita hamil dan menyusui
Dosis
• Dosis yang diberikan tergantung pada jenis dan keparahan penyakit serta sensifitas
pathogen yang dianggap menjadi penyebab penyakit. Oleh karena itu pemberian obat ini
memerlukan konsultasi dan pemeriksaan menyeluruh dari dokter agar penggunaannya
efektif dalam mengatasi infeksi bakteri.
• Dosis dewasa
• Infeksi sinusitis akut : 500 mg sekali sehari selama 10-14 hari ( diberikan secara oral
atau intravena )
• Infeksi kandung kemih : 250 mg selama 7-10 hari ( selama 3 hari untuk infeksi
tanpakomplikasi ), prostatitis kronik 500 mg sekali selama 28 hari ( peroral atau
intravena )
• Infeksi kulit dan jaringan lunak : infeksi kulit ringan 500 mg sekali sehari selama 7-10
hati ( peroral atau intravena ), infeksi kulit berat : 750 mg sekali sehari selama 7-10
hari ( peroral atau intravena )
• Infeksi pneumonia yang didapat dari masyarakat ( community-acquired pneumonia /
CAP ) : 500 mg sekali sehari selama 7-14 hari ( peroral atau intravena )
• Eksaserbasi akut pada bronchitis kronik : 500 mg sekali sehari selama > 7 hari (
peroral atau intravena )
• Infeksi antraks : terapi pasca paparan, 500 mg sekali sehari selama 60 hari, dimulai
segera setelah paparan ( peroral atau intrvena )
• Dosis pediatric
• Dosis disesuaikan dengan umur dan berat badan pasien
• Infeksi antraks : terapi pasca paparan > 6 bukan dan < 50 kg : 8 mg / kg BB tip 12 jam
selama 60 hari, dimulai segera setelah paparan : dosis individu tidak melebihi 250 mg
• Infeksi pneumonia yang didapat dari masyarakat ( community-acquired pneumonia /
CAP ) : 6 bulan-5 tahun : 16-20 mg/kg BB selama 10 hari : 5 -16 tahun : 8-10 mg/kg BB
selama 10 hari tidak melebihi 750 mg ( peroral atau intravena )
Efek samping
• Efek samping yang umum terjadi diantaranya :
• Diare
• Insomnia
• Efek samping yang jarang terjadi :
• Kram perut atau nyeri ( berat )
• Agitasi
• Kebingungan
• Diare ( berair dan berat ) dan mungkin juga berdarah
• Demam
• Nyeri, peradangan atau pembengkakan di betis kaki, bahu, atau tangan,
termasuk tendon pecah atau pembengkakan tendon ( tendinitis )
• Kemerahan dan pembengkakan kulit
• Merasa melihat, mendengar, atau ,erasakan hal-hal yang tidak ada (
halusinasi )
• Sensasi terbakar kulit
• Suasana hati yang parah atau perubahan mental
• Ruam kulit, gatal-gatal, atau kemerahan
• Gemetaran
Interaksi obat

Antasida yang mengandung magnesium, aluminium,


sukralfat, katian logam dan multivitamin akan menurunkan
absorpsi levofloxacin bila diberikan bersama-sama. Oleh
karena itu sebaiknya diberikan 2 jam sesudah atau
sebelum pemberian levofloxacin.
Pemberian bersama antiinflamasi non-steroid dapat
meningkatkan efek stimulasi SSP dan konvulsi
Pemberian bersama teofilin dapat meningkatkan kadar
teofilin dalam plasma dan efek samping teofilin lebih
besar. Apabila kombinasi ini tidak dapat dihindari, kadar
teofilin dalam plasma harus dimonitor dan dosis teofilin
dikurangi.
Kadar gula darah harus dimonitor bila diberikan bersama
dengan antidiabetik ( seperti insulin, glibenklamid )
karena dapat mengganggu kadar gula darah, hipoglikemia
atau hiperglikemia.
Farmakokinetik

Pada pemberian oral, levofloxacin di absorpsi secara cepat


dan hamper sempurna. Konsentrasi plasma tertinggi biasanya
dicapai 1 – 2 jam setelah minum obat biovailabilitas absolute
untuk dosis oral hamper 99 %. Pada konsentrasi tinggi
didisribusikan secara luas ke seluruh tubuh. Penetrasi
levofloxacin pada jaringan paru sangat baik. Konsentrasi
pada jaringan paru biasanya 2 – 5 kali lebih besar dari
konsentrasi plasma atau sekitar > 2,4 – 11,3 µg/g dalam
waktu 24 jam setelah pemakaian oral dosisi tunggal 500 mg.
pada penderita gangguan fungsi ginjal dengan bersihan
kreatinin < 80 ml/menit, dapat mengakibatkan waktu paru
eliminasi plasma memanjang. Karena itu diperlukan
penyesuaian dosis untuk mencegah terjadinya akumulasi.
Sekitar 85 % diekskresikan melalui urin dalam bentuk tidak
berubah.
4. Pefloxacin

Mekanisme kerja
Pefloxacin bekerja dengan cara menghambat dua tipe enzim
II topoisomerase yaitu DNA gyrase dan topoisomerase IV.
Topoisomerase IV memerlukan DNA terpisah yang telah
direplikasi sebelum pembelahan sel bakteri. Dengan DNA
yang tidak dipisahkan, proses terhenti dan bakteri tidak
bisah membagi. Sedangkan DNA gyrase bertanggung jawab
untuk supercoil DNA sehingga akan cocok di dalam sel yang
baru terbentuk. Kombinasi dari dua mekanisme di atas akan
membunuh bakteri sehingga pefloxacin digolongkan sengan
bakterisidia.
Indikasi
• Pefloxacin digunakan untuk infeksi gastrointestinal
• Infeksi saluran kemih : uretritis gonokokal tidak
terkomplikasi pada pria, gonorrhoeae ( meski pemakaian
pefloxacin mulai ditinggalkan karena adanya resistensi )
• Pefloxacin juga digunakan untuk infeksi saluran nafas, THT,
kulit dan jaringan lunak serta pengobatan dan pencegahan
pada infeksi bedah

Kontra indikasi
• Pefloxiacin harus dihindari pada pasien dengan
hepersensivitas terhadap pefloxacin atau antibiotic golongan
kuinolon lainnya
• Wanita hamil dan ibu menyusui
• Pefloxacin juga kontra indikasi pada pasien dengan epilepsy
atau gangguan kejang lainnya
• Difisiensi glukosa 6 – fosfat dehidrogenase
Efek samping

• Efek samping paling umum seperti mual, muntah, diare, sakit


kepala, susah tidur dan ruam pada kulit
• Pefloxacin jugan meningkatkan risiko tendonitis dan tendon
pecah (paling tinggi diantara ntibiotika kuinolon lainnya)
terutama pada pasien > 60 tahun, pasien yang juga
menggunakan kortikosteroid, dan pasien dengan
transplantasi ginjal, paru-paru, atau jantung
• Pefloxacin seperti fluoroquonolones lain, diketahui juga
memicu kejang atau menurunkan ambaang kejang dan dapat
menyebabkan efek samping terhadap system saraf pusat
lainnya
• Sakit kepala, pusing dan insomnia juga dilaporkan cukup
sering terjadi
• Kejadian yang jauh lebih jarang seperti tremor, psikosis,
kecemasan, halusinasi, paranoia dan percobaan bunuh diri,
terutama pada dosis yang lebih tinggi.
• Berbagai efek samping yang sangat jarang namun berpotensi
fatal seperti nekrolisis epidermal toksik, sindrom stevens-
johnson, aritma jantung ( torsades des pointes atau
perpanjang QT )
• Pneumonitis alergi, penekanan sumsum tulang, hepatitis atau
gagal hati, dan phototoxicity / fotosensitifitas
• Obat harus dihentikan jika ruam, sakit kuning, atau tanda
lain dari hypersentitivity terjadi
Interaksi obat
• Pefloxacin seperti beberapa fluoroquinolones lainnya dapat
menghambat kerja enzim dalam metabolism obat sehingga
meningkatkan kadar obat-obat seperti siklosporin,
theophyline dan warfarin. Jika level obat darah meningkat
maka dapat menyebabkan efek samping lebih besar
• Pemantauan serum glukosa hati dianjurkan bila pefloxacin
digunakan oleh pasien yang menggunakan obat anti diabetes
golongan sulfonyleura
• Pemberian pefloxacin bersamaan dengan obat anti-inflamasi
non steroid dapat meningkatkan risiko stimulasi system
saraf pusat dan kejang-kejang
• Fluoroquinolones telah terbukti meningkatkan efek
antikoagulan dari acenocoumarol, anisindione, dan dicumarol
• Selain itu ada peningkatan risiko cardiotoxicity dan aritmia
ketika diberikan bersamaan dengan obat-obatan seperti
dihydroquinidine barbiturat.
• Pemakaian kortikosteroid oral bisa meningkatkan risiko otot
tendon pecah, terutama pada pasien usia lanjut

Dosis
• Pefloxacin diberikan dengan dosis : 2 x sehari 400 mg
• Farmakokinetik
• Protein plasma mengikat adalah 20 – 30 % dan metabolism
dilaporkan hapetik. Separuh hayat plasma adalah 8 – 13 jam.
5. Gatifloksasin
Mekanisme Kerja
Gatifloxacinmemilikiaktivitasantibakteri yang
luasterhadapmikroorganisme gram
negatifmaupunmikroorganisme gram
positifdenganjalanmenghambatinhibisi DNA
girasedan topoisomerase IV sehingga proses
replikasi, transkripsidanpembentukan DNA
bakteriterganggu.
Indikasi
Untukpengobataninfeksi ocular
ekstemalsepertikonjungtivitisdan keratitis bakterialis yang
disebabkanolehmikroorganisme yang
pekaterhadapgatifloksasinseperti:
Bakteriaerob gram positif:
Corynebacteriumpropinquum
Staphylococcus aureus
Staphylococcus epidermidis
Streptococcus mitis
Streptococcus pneumoniae

Bakteriaerob gram negative:


Haemophilus .influenzae
Kontraindikasi
• Hipersensitif terhadap antibiotik golongan quinolone
atau kandungan lain dari obat ini.
• Dosis
• hari ke 1 – 2 : teteskan 1 tetes pada mata yang sakit setiap
2 jam sampai 8 kali sehari (mulai bangun tidur), hari ke 3 – 7
: teteskan 1 tetes pada mata yang sakit sampai 4 kali sehari
(mulai bangun tidur).
Efek samping
• Efek samping yang sering terjadi adaiah iritasi konjungtival,
peningkatan lakrimasi, keratitis dan konjungtivitis papilari.
Reaksi ini terjadi pada 5 - 1 0 % pasien yang menggunakan
gatifloxacin. Reaksi lain pernah dilaporkan terjadi pada 1 -
4% pasien adalah kemosis, konjungtival hemorrhage, mata
kering, iritasi mata, eye pain, garis mata membengkak,
pusing, mata merah, kemampuan penglihatan berkurang dan
taste disturbance
InteraksiObat

Penggunaanbersamaandenganteofilindapatmeningkatkankad
arteofilindalam plasma
Gangguanmetabolismekafein
Meningkatkanefekantikoagulanwarfarin danderivatnya
Meningkatkankadar serum
kreatininpadapasienpenggunacyclosporine secarasistemik
Farmakokinetik

• Absorbsi :
Baik diserap dari saluran pencernaan setelah pemberian oral
dengan ketersediaan hayati absolut gatifloksasin adalah
96%
Volume distribusi :
Pengikatan protein20%
• Metabolisme :
• Gatifloksasin mengalami biotransformasi terbatas pada
manusia kurang dari 1% dosis yang dieksresikan dalam urin
sebagai metabolit ethylenediamine dan
methylethylenediamine
6. Norfloksasin

Mekanisme kerja
Norfloksasin bersifat bakterisidal dan cara kerjanya
tergantung pada pemblokiran replikasi DNA bakteri dengan
mengikat dirinya ke enzim yang disebut DNA gyrase, yang
memungkinkan pemasangan yang tidak perlu untuk meniru
satu heliks ganda DNA menjadi dua

Indikasi
Untuk pengobatan infeksi saluran kemih

Kontraindikasi
Hipersensivitas dengan norfloksasin atau semua kuinolon
lainnya. Penderita miastenia gravis, riwayan tendonitis atau
rupture tendon dikaitkan dengan penggunanan kuinolon
Dosis
infeksi saluran kemih, 400 mg dua kali sehari selama 7-10
hari (3 hari untuk kasus tanpa komplikasi). Infeksi saluran
kemih kronis dan berulang, 400 mg dua kali sehari sampai 12
minggu. dapat dikurangi menjadi 400 mg sekali sehari jika
respon baik pada 4 minggu pertama.

Efek samping
Dapat menimbulkan anoreksia, depresi, ansietas, tinitus,
nekrolisis epidermal tosik, dermatitis eksfoliatif, eritema
multiforme (sindrom Stevens-Johnson)
Interaksi obat
• Penggunaan bersamaan dengan OAINS dapat meningkatkan
risiko rangsangan SSP dan kejang-kejang
• Peningkatan risiko gangguan tendon parah dengan
kortikosteroid
• Peningkatan konsentrasi teofilin serum
• Mengurangi penyerapan multivitamin oral dan suplemen
mineral kation divalent atau trivalent (misalnya Fe, Zn) dan
antasida yang mengandung Al atau Mg, sucralfate, buffered
didanosine.
• Farmakokinetik
Absorbsi
• Cepat. Tapi tidak sempurna diserap dari saluran GI (kira-
kira 30-40%). Makanan dapat menunda laju dan atau tingkat
penyerapan. Waktu untuk konsentrasi plasma puncak sekitar
1-2 jam
Distribusi
• Menembus dengan baik jaringan-jaringan genito-saluran
kemih, menyilang plasenta dan didistribusikan ke darah tali
pusat dan cairan ketuban, konsentrasi yang relative tinggi
terjadi pada empedu. Pengikatan protein plasma sekitar 41%
Metabolisme
• Menjalani metabolisme parsial sebagian ke beberapa
metabolit
Ekskresi
• Via urin dengan sekresi tubular dan filtrasi glomelurus dalam
24 jam (kira-kira 30% sebagai obat yang tidak berubah),
feses sekitar 39%, waktu paruh plasma 3-4 jam
7. Sparfloksasin
Mekanisme kerja
Menghambat aktivitas supercoiling DNA gyrase yang
merupakan enzim penting untuk replikasi DNA sehingga
mendorong kerusakan struktur DNA.

Indikasi
pneumonia akut berasal dari komunitas (CAP/Community-
acquired pneumonia) yang diduga disebabkan oleh bakteri
pneumokokus dan non-pneumokokus; eksaserbasi dari
penyakit obstruksi paru menahun (COPD); sinusitis purulen
akut; infeksi yang sudah resisten terhadap penisilin atau
antibiotik beta-laktam lain
Kontraindikasi

hipersensitif terhadap sparfloksasin atau golongan kuinolon


lainnya; penggunaan bersama dengan amiodaron, sotalol dan
bepridil (lihat interaksi); kehamilan dan menyusui; anak-anak
hingga akhir masa pertumbuhan; penderita dengan riwayat
penyakit tendon berhubungan dengan floroluinolon;
penderita dengan defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenase;
riwayat pemanjangan interval Q-T (faktor kongenital atau
non-kongenital); penggunaan bersama dengan obat anti
aritmia atau obat lain yang menimbulkan aritmia.
Dosis

Fungsi ginjal normal: dosis awal 400 mg sebagai dosis


tungggal pada hari pertama, dilanjutkan 200 mg per hari
dalam dosis tunggal, lama pengobatan rata-rata 10 hari
untuk infeksi saluran pernafasan bagian bawah dan 4 hari
untuk sinusitis, peningkatan dosis per hari tidak akan
menambah manfaaat pengobatan; Gangguan fungsi ginjal:
bersihan kreatinin lebih besar dari atau sama dengan 30
mL/menit, tidak diperlukan penyesuaian dosis, bersihan
kreatinin lebih kecil dari 30 mL/menit, 400 mg dosis awal
pada hari pertama, pada hari kedua pengobatan tidak
diberikan, dilanjutkan dengan 200 mg pada hari ketiga,
kemudian diberikan setiap 48 jam selama 10 hari; Tidak
terdapat data untuk pasien gangguan hati berat. Obat ini
dapat digunakan dengan atau tanpa makanan
Efek samping

fototoksisitas termasuk manifestasi terbakar sinar


matahari, eritema, dan lesi lepuh, (gejala fototoksik masih
timbul setelah pengobatan dihentikan beberapa minggu);
kemerahan, pruritus, bengkak, lepuh, gejala Steven-Johnson
Syndrome, nyeri otot dan sendi, tendinitis, ruptur/
kerusakan tendon, gangguan irama jantung, termasuk
torsades de pointes, aritmia, bradikardi, takikardi, takikardi
ventrikel, mual, muntah, diare, nyeri perut, gastralgia,
peningkatan enzim hati, ikterus, tremor, rasa mabuk,
paraestesia, gangguan sensorik, sakit kepala, vertigo,
halusinasi, gangguan tidur awal pengobatan,
hipersensitifitas, urtikaria, angioedema, shok anafilaktik,
edema quincke, trombositopenia yang sporadis, purpura
trombositopenia, konjungtivis, uretritis, peningkatan
transaminase sedang atau untuk sementara
Interaksi obat

penggunaan bersama amiodaron, sotalol dan bepridil


menimbulkan risiko torsades de pointes karena perpanjangan
interval Q-T (efek aditif elektrofisiologis); tidak dianjurkan
kombinasi dengan obat yang dapat memperpanjang interval
Q-T dan/atau menimbulkan torsades de pointes seperti
antiaritmia (bretilium, disopiramid, prokainamid, kuinidin),
dan obat-obat lain seperti astemisol, eritromisin, kuinin,
klorokuin, halofantin, cisaprid, pentamid, probukol,
terfenadin, vinkamin, beberapa antidepresan trisiklik,
neuroleptik tertentu (seperti sulfoprid, fenotiasin) karena
menimbulkan risiko torsades de pointes akibat pemanjangan
interval Q-T (efek aditif elektrofisiologi); diperlukan
pemantauan klinis dan elektrokardiografi secara seksama;
Lanjutan..

hati-hati kombinasi bersama dengan garam magnesium,


aluminium dan kalsium oksida dan hidroksida (dapat
menurunkan penyerapan sparfloksasin sehingga selang waktu
(lebih dari 4 jam) harus diberikan antara pemberian antasida
dan sparfloksasin), garam besi dan seng (dosis oral > 30 mg
per hari) harus diberikan minimal 2 jam setelah pemberian
sparfloksasin; hati-hati pemberian pada kondisi hipokalemia
yang disebabkan diuretik, laksatif, stimulan, amfoterisin B
(intravena), kortikosteroid dan tetrakosaktid yang
menyebabkan torsades de pointes, pada kondisi ini
hipokalemia sebaiknya diatasi dahulu sebelum memulai
pengobatan dengan sparfloksasin; hati-hati pemberian pada
kondisi bradikardi yang disebabkan obat-obat seperti
digoksin dan beta bloker (dapat menyebabkan torsades de
pointes); penggunaan dengan Anti Inflamasi Non Steroid
(AINS) dan teofilin mengurangi ambang batas kejang.
Farmakokinetik
• Absorbsi
Diserap dengan baik dari saluran pencernaan (oral),
konsentrasi plasma puncak setelah 3-6 jam
• Distribusi
Didistribusikan secara luas ke jaringan termasuk jaringan
pernafasan. Pengikatan protein 45%
• Metabolisme
Hepatic (dengan glukuronidasi)
• Ekskresi
Dieksresikan dalam jumlah yang sama dalam urin dan kotoran
sebagai metabolit obat dan gkukuronida yang tidak berubah,
waktu paruh eliminasi 20 jam.
8. ENOKSASIN
mekanisme kerja
enoksasin menghambat DNA gyrase dan topoisomerase
IV yang penting dalam reproduksi DNA bakteri

indikasi
• Gonore
• Infeksi saluran kemih
• kontraindikasi
• hipersensivitas
• laktasi
• anak
• remaja
• kehamilan
dosis
• dewasa PO UTI 200-400 mg dua kali sehari. Gonore tanpa
komplikasi 400 mg sebagai dosis tunggal.
• Oral : infeksi saluran kemih
• Dewasa 200-400 mg tawaran
• Oral : gonera tidak komplikasi
• Dewasa 400 mg sebagai dosis tunggal

Interaksi Obat
• Dapat menghambat metabolism hepatic dan pembersihan
obat yang dimetabolisme di hati misalnya teofilin dan kafein,
antasida dan kation logam, antineoplastic.
9. SINOKSASIN

Mekanisme kerja
Sinoksasin menghambat aktivitas DNA gyrase
sehingga menganggu replikasi DNA bakteri. Ini
aktif melawan bakteri gram negative,
pseudomonas aeruginosa, bakteri gram positif dan
anaerob tidak rentan

Indikasi
UTI
Kontraindikasi
• Hipersensivitas
• Kerusakan
• Ginjal parah
• Kehamilan dan menyusui
• Bayi <3 tahun,
• Anak
• Remaja
• Kondisi kejang

Dosis
• Dewasa : pengobatan PO 500 mg dua kali sehari.
• Profilaksis 500 mg sekali setiap malam
• Oral : infeksi saluran kemih
• Dewasa : 500 mg tawaran
• Profilaksis 500 mg setiap hari pada waktu tidur sebagai
dosis tunggal
Interaksi obat

Probenecid, cicloosporin, antikoagulan, oral,


NSAIDS, xantin, nitrofurantoin berpotensi
fatal: IV dosis tinggi melpahlan pada anak.

Farmakokinetik

Cepatdan hampir seluruhnya di serapsetelah oral admin.


60% terikat pada protein plasma Metabolisme secara
hepatis. Terbakar secara total ;95% dosis ditemukan
dalam urin dalam waktu 24 jam
10. Ofloksasin
Mekanismekerja

Ofloksasin (Ofloxacin) bekerja dengan cara menghambat


dua tipe enzim II topoisomerase yaitu DNA Gyrase dan
topoisomerase IV. topoisomerase IV memerlukan DNA
terpisah yang telah direplikasi sebelum pembelahan sel
bakteri. Dengan DNA yang tidak dipisahkan, proses
terhenti dan bakteri tidak bisa membagi. Sedangkan
DNA gyrase bertanggungjawab untuk supercoil DNA
sehingga akan cocok di dalam sel yang baru terbentuk.
kombinasi dari dua mekanisme di atas akan membunuh
bakteri sehingga ofloksasina (Ofloxacin) digolongkan
sebagai bakterisida.
Kontraindikasi

Jangan digunakan bagi penderita yang memiliki riwayat


hipersensitif (Alergi) terhadap Ofloxacin atau antibiotik
golongan kuinolon lainnya. wanita hamil, dan ibu menyusui.
Ofloxacin juga kontra indikasi pada pasien dengan
epilepsi atau gangguan kejang lainnyaOfloxacin juga
dianggap kontraindikasi untuk pasien dengan penyakit
kejiwaan
Efek Samping
Samasepertiobat-obatlain, semua ob at pasti berpotensi efeksamping,
namun reaksi orang terhadap sebuah obat berbeda-beda. Beberapa efek
samping yang bisa terjadi antara lain :
•Efek samping yang paling umum seperti mual, muntah, diare , sakit
kepala, susah tidur dan ruam pada kulit.
•Ofloxacin juga meningkatkan risiko tendonitis dan tendon pecah , terutama
pada pasien > 60 tahun , pasien yang juga menggunakan kortikosteroid ,
dan pasien dengan transplantasi ginjal , paru-paru , atau jantung.
•Ofloxacin seperti fluoroquinolones lain, diketahui juga memicu kejang
atau menurunkan ambang kejang, dan dapat menyebabkan efek samping
terhadap sistem saraf pusat lainnya.
•Sakit kepala, pusing, dan insomnia juga dilaporkan cukup sering terjadi.
kejadian yang jauh lebih jarang seperti tremor, psikosis, kecemasan,
halusinasi, paranoia, dan percobaan bunuh diri, terutama pada dosis yang
lebih tinggi.
•Berbagai efek samping yang sangat jarang namun berpotensi fatal seperti
nekrolisis epidermal toksik, sindrom Stevens-Johnson, aritmia jantung
(torsades des pointes atau perpanjangan QT), pneumonitis alergi,
penekanan sumsum tulang, hepatitis atau gagal hati, dan phototoxicity /
fotosensitifitas.
Kondisi Dosis

400 mg per hari sekali minum. Jika diperlukan,


Infeksi saluran pernapasan bawah dosis dapat dinaikkan menjadi 400 mg dua kali
sehari.

Uretritis atau infeksi saluran uretra 400 mg per hari.

Gonore (kencing nanah) 400 mg; hanya perlu diminum sekali.

200 hingga 400 mg per hari sekali minum. Jika


Infeksi saluran kemih atas diperlukan, dosis dapat dinaikkan menjadi 400 mg
dua kali sehari.

Infeksi saluran kemih bawah 200 hingga 400 mg per hari.

Infeksi kulit dan jaringan lunak lain 400 mg dua kali per hari
Interaksi Obat

Obat Interaksi Kelompok obat

Acetyldigitoxin Acetyldigitoxin dapat menurunkan aktivitas kardiotoksik Ofloxacin. Disetujui

Acetyldigoxin Acetyldigoxin dapat menurunkan aktivitas kardiotoksik Ofloxacin. Eksperimental

Alfuzosin dapat meningkatkan aktivitas QloC yang berkepanjangan


Alfuzosin Disetujui, Investigasi
dari Ofloxacin.
Amantadine dapat meningkatkan aktivitas QloC-memperpanjang
Amantadine Disetujui
aktivitas Ofloxacin.
Ofloxacin dapat meningkatkan aktivitas Amiotone yang diperkuat
Amiodarone Disetujui, Investigasi
QTc.
Amitriptyline dapat meningkatkan aktivitas QloC-memperpanjang
Amitriptyline Disetujui
aktivitas Ofloxacin.
Amoksapin dapat meningkatkan aktivitas QloC yang
Amoxapine Disetujui
berkepanjangan dari Ofloxacin.
Ofloxacin dapat meningkatkan aktivitas QTc-memperpanjang
Anagrelida Disetujui
Anagrelide.

Risiko atau tingkat keparahan sitotoksisitas dapat meningkat saat Disetujui, Investigasi,
Leluhur
Leluhur dikombinasikan dengan Ofloxacin. Ditarik

Apomorfin dapat meningkatkan aktivitas QloC yang


Apomorfin Disetujui, Investigasi
11. FLEROKSASIN
Farmakokinetik

absorpsi: Bioavailabilitas ofloxacin dalam formulasi tablet kira-kira 98%


Volume distribusi : Tidak tersedia
Pengikatan protein : 32%
Metabolisme :Hepatik
Rute eliminasi : Eliminasi terutama dilakukan dengan ekskresi ginjal. Antara
65% dan 80% dosis oral ofloxacin diberikan secara tidak berubah melalui
ginjal dalam waktu 48 jam setelah pemberian dosis. Empat sampai delapan
persen dosis aloxacin diekskresikan dalam kotoran. Hal ini menunjukkan
adanya sedikit ekskresi amonia empedu.

Indikasi

infeksi saluran pernafasan bagian bawah, infeksi saluran kemih (disertai


komplikasi atau tanpa komplikasi), gonore (infeksi gonokok, tanpa
komplikasi), infeksi salmonela yang disebabkan oleh Salmonella typhi atau
paratyphi, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi tulang dan sendi.
Kontraindikasi

pasien yang hipersensitif terhadap kuinolon termasuk asam nalidiksat;


anak-anak dan remaja berusia di bawah 18 tahun, kehamilan dan
menyusui.

Dosis
oral atau infus intravena selama 1 jam, 400 mg sekali sehari; lama
pengobatan umumnya 7- 14 hari, tetapi pada infeksi yang lebih serius
atau infeksi kronis kulit dan jaringan lunak dan infeksi tulang dan
sendi dibutuhkan pengobatan yang lebih lama (hingga 12 minggu);
Infeksi gonokok tanpa komplikasi, infeksi saluran kemih tanpa
komplikasi (sistitis pada ibu-ibu muda) dosis tunggal, oral, 400
mg.Infeksi saluran kemih, oral, 200 mg selama 7-10 hari.Infeksi
saluran pernafasan bagian bawah, infus intravena, 400 mg sekali
sehari, oral, 400 mg sekali sehari. Infeksi saluran kemih (disertai
komplikasi atau tanpa komplikasi), oral, 200 mg sekali sehari
Lanjutan…

sehari.Gonore (infeksi gonokok tanpa komplikasi), oral, 400 mg sekali


sehari.Infeksi salmonella yang disebabkan Salmonella typhi atau
paratyphi, infus intravena, 400 mg sekali sehari, oral, 400 mg sekali
sehari. Infeksi kulit dan jaringan lunak, infus intravena, 400 mg sekali
sehari; oral, 400 mg sekali sehari. Infeksi tulang dan sendi, infus
intravena, 400 mg sekali sehari, oral, 400 mg sekali sehari. Penyesuaian
dosis tidak diperlukan pada infeksi-infeksi yang diobati dengan dosis
ganda 200 mg atau dosis tunggal 400 mg, tetapi penyesuaian dosis
diperlukan untuk golongan pasien tertentu, pengobatan dimulai dengan
dosis tunggal 400 mg, kemudian dilanjutkan dengan dosis tetap 200 mg
sekali sehari selama pengobatan; golongan pasien ini adalah pasien
dengan bersihan kreatinin < 40 mL per menit atau yang menjalani
hemodialisa dan chronic ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), pasien
dengan berat badan < 50 Kg, pasien wanita berumur 65 tahun atau lebih
dan pasien berusia 75 tahun atau lebih dimana ekskresi ginjalnya
menurun; pasien dengan kasus sirosis hati yang disertai asites; pasien
dengan kegagalan fungsi hati.
Efeksamping

mual, muntah, diare, insomnia, sakit kepala, pusing, lelah,


pruritus, plebitis; mulut kering, rasa tidak enak pada mulut,
anoreksia, konstipasi, sakit perut, infeksi vagina, hipotensi,
artralgia, fotosensitif, erupsi, berkeringat, mimpi buruk,
perasaan terbakar, pruritus, merah pada tempat
penyuntikan, jumlah eosinofil tinggi, jumlah sel-sel darah
merah meningkat, leukosit rendah, jumlah bilirubin tinggi,
SGPT tinggi, SGOT tinggi, alkalin fosfatase tinggi, BUN
tinggi, urea tinggi, glukosa bebas tinggi, dan protein dalam
urin tinggi
– Interaksiobat
• pemberian bersama dengan antasid yang mengandung
aluminium hidroksida dan/atau magnesium hidroksida
menurunkan absorpsi sebanyak 20-25%.
– Farmakokinetik
• Fleroxacin adalah anggota baru kelas fluoroquinolones.Obat
telah baik kegiatan (i.e.minimum penghambatan konsentrasi
di kurang dari 2 mg/L terhadap 90% strain) melawan
berbagai bakteri gram-positif dan gram-
negatif.Kromatografi cair kinerja tinggi digunakan untuk
menentukan konsentrasi fleroxacin dan metabolit nya dalam
cairan biologis.Penyerapan obat oral tertelan cepat karena
kadar plasma puncak sekitar 5 mg/l dicapai dalam 1-2h
setelah dosis tunggal 400 mg.Ketersediaan sistemik adalah
hampir 100%. Fleroxacin buruk terikat protein plasma (23%)
dan pameran distribusi jaringan yang sangat
baik.Pembersihan ginjal menyumbang 60 sampai 70%
eliminasi
Lanjutan..

Fleroxacin buruk terikat protein plasma (23%) dan pameran


distribusi jaringan yang sangat baik.Pembersihan ginjal
menyumbang 60 sampai 70% eliminasi. Obat adalah
dimetabolisme untuk membentuk antimicrobially aktif N-
demethyl-fleroxacin dan tidak aktif N-oksida-
fleroxacin.Dalam beberapa studi dosis rasio akumulasi
rejimen dosis sekali sehari adalah sekitar 1.3, seperti yang
diperkirakan dari penghapusan paruh 10-12h.Dibandingkan
dengan siprofloksasin, fleroxacin memiliki ketersediaan
sistemik yang lebih besar dan paruh waktu lebih
lama.Fleroxacin konsentrasi lebih tinggi pada pasien usia
lanjut, tetapi lebih lanjut studi yang diperlukan untuk
menetapkan apakah penurunan dosis harus dianjurkan untuk
kelompok usia ini.
12. GEMIFLOKSASIN

– Mekanismekerja
• Gemifloxacinagenantiinfektiffluoroquinolonesintetisdenganm
enghambatsintesis DNA padaorganisme yang
rentanmelauipenghambatankeduagirase DNA dan
topoisomerase IV yang pentinguntukpertumbuhanbakteri.

– Indikasi
• Untuk pengobatan infeksi bakteri yang disebabkan oleh
strain rentan seperti S.pneumoniae, H.influenzae,
H.parainfluenzae, atau M.catarrhalis, S.pneumoniae
(termasuk resisten multi obat strain [MDRSP]),
M.pneumoniae, C.pneumoniae, atau K.pneumoniae
– Kontraindikasi
• Hipersensitivitas pada Gemifloxacin adalah sebuah
kontraindikasi. Sebagai tambahan, Gemifloxacin tidak boleh
dikonsumsi jika Anda memiliki kondisi berikut:
• Hipersensitivitas terhadap gemifloxacin atau antibiotik
fluorokuinolon lainnya

– Dosis
• Dosisdewasabiasauntuk bronchitis
oral satu kali sehariuntuk 5 hari

• Dosisdewasabiasauntuk pneumonia
320 mg oral satu kali sehari
– Efeksamping

• Diare
• Ruam
• Mual
• Sakit kepala
• Sakit perut
• Muntah
• Pusing parah, pingsan, detak jantung cepat atau jantung
berdebar
• Nyeri yang tiba-tiba, gertakan atau muncul suara, memar,
bengkak, nyeri, kaku, hilang gerakan di setiap sendi
Lanjutan..

• Diare yang berair atau berdarah


• Kebingungan, halusinasi, depresi, perubahan pikiran atau
perilaku
• Kejang
• Sakit kepala parah, dering di telinga Anda, pusing, mual,
gangguan penglihatan, nyeri di belakang mata Anda
• Pucat atau kulit menguning, urin berwarna gelap, demam,
lemah
• Nyeri di bagian perut atas, kehilangan nafsu makan, tinja
berwarna seperti tanah liat, sakit kuning (menguningnya kulit
atau mata )
• Kencing menjadi lebih sedikit dari biasanya atau tidak sama
sekali
– Interaksi
• Gemifloxacindapatberinteraksidengan obat dan produk
berikut ini:
• Antacids
• Oral contraceptives
• Probenecid
• Sucralfate
• Probenecid
• Diuretik (pil air)
• Obat untuk irama detak jantung: amiodarone, disopyramide,
dofetilide, dronedarone, procainamide, quinidine, sotalol, dan
lain-lain
• Obat untuk mengangani depresi atau sakit mental:
amitriptylline, clomipramine, desipramine, iloperidone,
imipramine, nortriptyline, ziprasidone, dan lainnya
• NSAID (nonsteroidal anti-inflammatory drugs): aspirin,
ibuprofen (Advil, Motrin), naproxen (Aleve), celecoxib,
diclofenac, indomethacin, meloxicam, dan lainnya.
– Farmakokinetik
• Tindakan bakterisida dari gemifloxacin dihasilkan dari
penghambatan enzim topoisomerase II (DNA gyrase) dan
topoisomerase IV, yang diperlukan untuk replikasi DNA
bakteri, transkripsi, perbaikan, dan rekombinasi.Cepat
terserap dari saluran cerna.Nilai bioavailabilitas absolut
rata-rata sekitar 71%.Gemifloxacin dimetabolisme sampai
batas tertentu oleh hati.Semua metabolit yang terbentuk
kecil (<10% dosis oral yang diberikan);yang utama adalah
asetil gemifloxacin, E-isomer dari gemifloxacin dan
karbamam glukuronida dari gemifloksasin.Gemifloxacin dan
metabolitnya diekskresikan melalui dua rute ekskresi.
Setelah pemberian giifloxacin oral ke subyek sehat, rata-
rata (± SD) 61 ± 9,5% dosis diekskresikan dalam tinja dan 36
± 9,3% dalam urin tidak berubah. obat dan
metabolit.Pemeriksaan renal rata-rata (± SD) setelah dosis
berulang 320 mg kira-kira 11,6 ± 3,9 L / jam (kisaran 4,6-6 L
/ jam), yang mengindikasikan sekresi aktif terlibat dalam
ekskresi ginjal gemifloksasin.
13. MOKSIFLOKSASIN

– Mekanismekerja
• Deskripsi: Moxifloxacin, agen antiinfektif fluoroquinolone,
bertindak dengan menghambat sintesis DNA pada organisme
yang rentan melalui penghambatan kedua DNA gyrase dan
topoisomerase IV yang penting untuk pertumbuhan bakteri.
– Indikasi
• eksaserbasi akut bronkitis kronik; pneumonia dari lingkungan
(community-acquired pneumonia); sinusitis bakterial akut
yang didiagnosis dengan baik, infeksi kulit complicated atau
infeksi struktur kulit yang memerlukan terapi inisial
parenteral dan dilanjutkan dengan oral
– Kontraindikasi
• Hipersensitivitas yang diketahui terhadap moksifloksasin,
kuinolon lainnya. Pasien dengan memperpanjang interval QT,
hipokalemia yang tidak dikoreksi, miastenia gravis.
Penggunaan bersamaan obat antiaritmia kelas atas (misalnya,
amiodarone, sotalol) atau w / obat lain yang memperpanjang
interval QT (misalnya eritromisin, TCA, agen antipsikotik).

– Efeksamping
• lihat keterangan di atas; juga mulut kering, stomatitis,
glossitis, flatulens, konstipasi, aritmia, palpitasi, udem
perifer, angina, perubahan tekanan darah, dyspnoea,
ansietas, dan berkeringat; jarang: hipotensi, hi-
perlipidemia, agitasi, mimpi yang tidak normal, inkordinasi,
hiperglikemia dan kulit kering.
– Dosis
• Dewasa: PO Infeksi yang rentan 400 mg sekali sehari.
Durasi: 5-21 hari, tergantung kondisinya. IV Infeksi yang
rentan 400 mg sekali sehari. Durasi: 7-21 hari, tergantung
kondisinya. Semua dosis harus diinfuskan selama 60 menit.
Ophth Bacterial conjunctivitis Seperti 0,5% soln: Instill 1
jatuh ke mata yang terkena tid selama 7 hari.
Rincian Dosis
• Intravena
Pneumonia yang didapat masyarakat
Dewasa: 400 mg sekali sehari diinfuskan selama 60 menit
selama 7-14 hari.
• Intravena
Infeksi intra-abdomen
Dewasa: 400 mg sekali sehari diinfuskan selama 60 menit
selama 5-14 hari. Dapat berubah menjadi terapi oral bila
sesuai secara klinis
Lanjutan..
• Intravena
Infeksi intra-abdomen
Dewasa: 400 mg sekali sehari diinfuskan selama 60 menit
selama 5-14 hari. Dapat berubah menjadi terapi oral bila
sesuai secara klinis.
• Intravena
Sinusitis bakteri akut
Dewasa: 400 mg sekali sehari diinfus selama 60 menit
selama 10 hari.
• Intravena
Eksaserbasi bakteri akut bronkitis kronis
Dewasa: 400 mg sekali sehari diinfuskan selama 60 menit
selama 5 hari.
• Intravena
Kulit dan struktur kulit infeksi
Dewasa: Komplikasi: 400 mg sekali sehari selama 7-21 hari;
tidak rumit: 400 mg sekali sehari selama 7 hari. Dosis
diinfus lebih dari 60 menit.
• Ophthalmic
Konjungtivitis bakteri
Dewasa: Seperti 0,5% soln: Instill 1 jatuh ke mata yang terkena (s)
tid selama 7 hari.
Anak: ≥1 thn Sama seperti dosis dewasa.
• Oral
Kulit dan struktur kulit infeksi
Dewasa: Komplikasi: 400 mg sekali sehari selama 7-21 hari; tidak
rumit: 400 mg sekali sehari selama 7 hari.
• Oral
Pneumonia yang didapat masyarakat
Dewasa: 400 mg sekali sehari selama 7-14 hari.
• Oral
Eksaserbasi bakteri akut bronkitis kronis
Dewasa: 400 mg sekali sehari selama 5-10 hari.
Oral
Sinusitis bakteri akut
Dewasa: 400 mg sekali sehari selama 7 atau 10 hari.

Oral
Penyakit radang panggul
Dewasa: Kombinasi dengan antibiotik lain (misalnya
sefalosporin): 400 mg sekali sehari selama 14 hari.
Administrasi
Bisa diminum dengan atau tanpa makanan.
– Interaksiobat
• Efek aditif pada perpanjangan interval QT dengan obat lain
yang memperpanjang interval QT (misalnya eritromisin, TCA,
agen antipsikotik). Berkurangnya penyerapan dan
ketersediaan hayati dengan antasida yang mengandung AT
atau Mg, atau sediaan Fe atau Zn. Penggunaan bersamaan
kortikosteroid meningkatkan risiko gangguan tendon parah
pada lansia (<62> 60 thn). Penurunan penyerapan w /
sucralfate atau ddI.

Berpotensi Fatal: Penggunaan bersamaan dari obat


antiaritmia kelas tertentu (misalnya quinidine, procainamide)
atau III (misalnya amiodarone, sotalol) atau w / obat lain
yang memperpanjang interval QT (misalnya eritromisin, TCA,
agen antipsikotik) dapat menyebabkan efek aditif pada
perpanjangan interval QT
– Farmakokinetik
• Penyerapan: Mudah diserap dari saluran pencernaan.
Ketersediaan hayati absolut: Sekitar 90%.
Distribusi: didistribusikan secara luas ke seluruh jaringan
tubuh. Pengikatan protein plasma: Sekitar 30-50%.
Metabolisme: Metabolisis melalui konjugasi glukuronida dan
sulfat.

Ekskresi: diekskresikan dalam urine (glucuronide conjugate)


dan feses (sulfate conjugate) sebagai obat dan metabolit
yang tidak berubah. Waktu paruh eliminasi: Kira-kira 12 jam.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH