Anda di halaman 1dari 30

KEGAWATDARURATAN II

TRAUMA BOLA MATA DAN TRAUMA


BAHAN KIMIA (Emergency Eye Care)
 Trauma mata akan menyebabkan lesi pada mata dan bahkan dapat
mengakibatkan kebutaan unilateral dan bilateral yang seharusnya
dapat dicegah di seluruh dunia (Nwosu, 1994).
 Jahangir pada tahun 2011 menegaskan bahwa pada lesi trauma mata
yang paling kecil sekalipun dapat menyebabkan rasa sakit dan
ketidaknyamanan karena kornea adalah salah satu jaringan yang
paling sensitif dari tubuh manusia. Hal ini disebabkan karena
kepadatan reseptor nyeri pada kornea adalah 300-600 kali lebih besar
dari kulit dan 20-40 kali lebih besar dari pulpa gigi (Rosza dan
Beuermen, 1982)
 sehingga membuat setiap trauma mata khususnya pada kornea luar
bias menyakitkan. Trauma mata memiliki dampak terhadap sosial
ekonomi karena mereka yang terkena trauma mata dan mengalami
komplikasi seperti kebutaan unilateral maupun bilateral sering harus
menghadapi kehilangan peluang dalam pekerjaan, perubahan gaya
hidup dan gangguan fisik yang kadang-kadang permanen (Nordber,
2000) sehingga bias menyebabkan penurunan pendapatan dan
tingginya biaya pengobatan (Jahangir, 2011)
Trauma mata adalah rusaknya jaringan pada bola
mata, klopak mata, syaraf mata,dan atau rongga
orbita mata karena adanya benda tajam atau tumpul
yang mengenai mata dengan keras atau cepat
maupun lambat ( ilyas, sidarat ; Nanda Nic Noc.)
Trauma mata oleh faktor
pekerjaan, kimi, dan umur.
Penyakit trauma mata lama
kelamaan bisa menimbulkan
kebutaan sehingga dapat
mempengaruhi aktivitas sehari-
hari (ilyas, 2004).
 Trauma mekanik
 Trauma tumpul (contusio oculi)
 Trauma tajam
 Trauma fisika
 Trauma radiasi sinar inframerah
 Trauma radiasi sinar ultraviolet
 Trauma radiasi sinar x dan sinar ultraviolet.
 Trauma kimia
 Trauma asam
 Trauma basa
Trauma Mekanik:
 Trauma tumpul (contusio oculi)
pada mata yang diakibatkan benda yang keras atau benda
tidak keras dengan ujung tumpul, dimana benda tersebut
dapat mengenai mata dengan kencang atau lambat
sehingga terjadi kerusakan pada jaringan bola mata atau
daerah sekitarnya.
 Trauma tajam (perforasi trauma)
Diakibatkan oleh benda tajam atau benda asing lainnya
yang mengakibatkan terjadinya robekan jaringan-jaringan
mata secara berurutan, misalnya mulai dari palpebra,
kornea, uvea sampai mengenai lensa.
 Trauma tajam/tembus
 Tajam penglihatan yang menurun
 Tekanan bola mata yang rendah
 Bilik mata yang dangkalBentuk dan letak pupil yang berubah
 Terlihat adanya ruptur pada kornea atau sclera
 Terdapat jaringgan yang prolaps, seperti cairan mata, iris,
lensa, badan kaca atau retina.
 Konjungtivitis kemotis
 Pada kornea:
 Membran sal rusak.
 Terjadi kerusakan komponen vaskuler iris, badan silier dan
epitel lensa.
 Tekanan intra okuler meningkat.
 Hipotoni akan terjadi bila kerusakan pada badan silier.
 Kornea keruh dalam beberapa menit.

 Pada kelopak:
 Margo palpebra rusak.
 Kerusakan pada kelenjar air mata, sehingga mata menjadi
kering.

 Pada konjungtiva:
 Sekresi musin konjungtiva bulbi berkurang.

 Pada lensa mata:


 Lensa keruh.
Trauma kimia pada mata merupakan salah satu keadaan kegawat daruratan
oftamologi, karena dapat menyebabkan cedera pada mata, baik ringan berat bahkan
sampai kehilangan pengelihatan.
Trauma kimia pada mata merukapan trauma yang mengenai bola mata akibat
terpaparnya bahan kimia baik bersifat asam atau basa yag dapat merusak struktur bola
mata tersebut.
Trauma kimia disebabkan oleh zat asam dengan pH
< 7 ataupun zat basa pH > 7 yang dapat
menyebakan kerusakan struktur bola mata. Tingkat
keparahan trauma di kaitkan dengan jenis, volume,
konsentrasi, durasi, pajanan, dan derajat penetrasi
dari zat kimiawi terebut.
Trauma mata pada bahan kimia dapat
disebabkan oleh kecelakaan di laboratorium,
industri, pekerjaan yang memakai bahan kimia,
pekerjaan pertanian, dan peperangan memakai
bahan kimia serta paparan memakai bahan kimia
dari alat-alat rumah tangga. (catatan.dokter ;
jurnalkesehatanmajidsuardi)
 Trauma Kimia Asam
Trauma asam merupakan salah satu jenis trauma kimia
mata yang disebabkan zat kimia bersifat asam dengan
Ph < 7.
 Trauma Kimia Basa (ALKALI)
Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan
akibat yang sangat gawat pada mata.
Alkali akan menembus dengan cepat kornea, bilik mata
depan, dan sampai pada jaringan retina
Menurut klasifikasi Thoft trauma alkali dibedakan dalam:
• Derajat 1 : hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata.
 Derajat 2 : hiperemi konjungtiva disertai dengan hilangnya epitel
kornea.
 Derajat 3 : hiperemi disetai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya
epitel kornea.
 Derajat 4 : konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%.

Menurut Hughes luka bakar alkali dibedakan dalam


 Prognosis baik.
 Terdapat erosi epitel kornea.
 Kekeruhan yang ringan pada kornea.
 Tidak terdapat iskemia dan nekrosis kornea ataupun konjungtiva.
Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan akibat
yang sangat gawat pada mata. Alkali akan menembus
dengan cepat kornea, bilik mata depan, dan sampai pada
jaringan retina. Pada trauma basa akan terjadi
penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia alkali
bersifat koagulasi sel dan terjadi proses persabunan,
disertai dengan dehidrasi. Bahan kaustik soda dapat
menembus ke dalam bilik mata depan dalam waktu 7
detik.
Pada trauma alkali akan terbentuk kolagenase yang
akan menambah bertambah kerusakan kolagen mata.
Alkali yang menembus kedalam bola mata akan merusak
retina sehingga akan berakhir dengan kebutaan penderita.
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada trauma mata
menurut (Suzanne C. Smeltzer, 2002):
 Pemeriksaan tajam penglihatan
Dengan menggunakan snellen chart dan tes bringshtess
dilakukan unntuk mengetahui ketajaman penglihatan,
normalnya tajam penglihatan 6/6, sedangkan padapasien trauma
mata hanya 1/30.

 Pemeriksaan lapang pandang


Dapat diperiksa dengan cara konfrontasi yaitu dengan cara
meminta pasien untuk memejamkan salah satu matanya dan
memfokuskan matanya pada salah satu tempat atau titik
dihadapannya, pada pasien trauma mata pada bagian mata yang
trauma maka lapang pandangnya sedikit kabur atau berkurang,
namun pada mata yang normal lapang pandangnya masih
normal atau jelas.
 Airway ( jalan nafas)
Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat berbicara atau atau bernafas dengan bebas?
Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:
 Adanya snoring atau gurgling
 Stridor atau suara napas tidak normal
 Agitasi (hipoksia)
 Penggunaan otot bantu pernafasan/ paradoxical chest movements
 Sianosis
 Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian atas dan potensial penyebab obstruksi:
 Muntahan
 Perdarahan
 Gigi lepas atau hilang
 Gigi palsu
 Trauma wajah
 Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas pasien terbuka lindungi tulang belakang dari
gerakan yang tidak perlu pada pasien yang berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang. Gunakan
berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien sesuai indikasi:
 Chin liftjaw thrust
 Lakukan suction (jika tersedia)
 Oropharygeal airwaylnasopharynggeal airway, Laryngeal Mask Airway
 Lakukan intubasi
 Breathing (pernafasan)
 Inspeksi dari tingkat pernafasan sangat penting. Adanya
tanda-tanda sebagi berikut : cyanosis, penetrating,
injury, flail chest sucking chest wounds, dan
penggunaan otot bantu pernafasan.
 Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling
iga, subcutaneous emphysema, perkusi berguna untuk
diagnosis heamothorax dan pneumotoraks.
 Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
 Circulation
 Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan
 CPR harus dilakukan sampai difibrilasi siap utuk digunakan.
 Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan
dengan pemberian penekanan secara langsung.
 Palpasi nadi radial jika diperlukan.
 Menentukan ada atau tidaknya
 Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
 Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
 Regularity
 Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tada hipoperfusi atau
hipoksia
 Disability
Menggunakan skala AVPU:
 A : alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya
mematuhi perintah yang diberikan
 V : vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan
suara yang tidak bisa dimengerti
 P : responds to pain only (harus dinilai semua keempat
tungkai jika bisa ekstremitas awal yang digunakan
untuk mengkaji gagal untuk merspon)
 U : unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon
baik stimulus nyeri maupun stimulus verbal.
 Ekposure
Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme
trauma yang mengacam jiwa, maka Rapid Trauma
Assesment harus segera dilakukan:
 Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas
pad pasien
 Perlakuan setiap temuan luka baru yang dapat
mengancam nyawa pasien luka dan mulai melakukan
transportasi pada pasien yang berpotensi tidak stabil
atau kritis. (Gilbert., D’Souza., & Plets, 2009)
 1. Kulit kepala
Seluruh kulit kepala diperiksa. Sering terjadi pada penderita
yang datang
dengan cedera ringan, tibda-tiba ada darah dilantai yang
bersala dari bagian
belakang kepala penderita. Lakukan inspeksi dan palpasi
seluruh kepala dan
wajah untuk adanya pigmentasi, laserasi, massa, kontusio,
raktur dan luka
termal, ruam perdarahan, nyeri tekan serta adanya sakit
kepala (Delp &amp;
Manning. 2004).
2. Wajah
Ingat prinsip lokk-listen-feel. Inspeksi adanya kesimeterisan
kanan dan kiri. Apabila terdapat
Bersdasarkan pemeriksaan ABCDE cedera di sekitar mata
jarinan lalai memeriksa mata, karena pembengkakan di mata
akan menyebabkan pemeriksaan mata selanjutnya menjadi
sulit. Re evaluasi tingkat kesadaran dengan skor GCS.
 Periksa kornea ada cedera atau tidak, ukuran pupil apakah
isokor atau anisokor serta bagaimana reflex cahayanya,
adanya ikterus, ketajaman mata (macies visus dan acies
campus), apakah konjungtivanya anemis atau adanya
kemerahan, rasa nyeri, gatal-gatal, ptosis, exophthalmos,
subconjungtival perdarahan, serta diplopia .
 Trauma Tumpul
Konservatif:
 Istirahat baring penuh dengan elevasi kepala 30 pada pasien
dewasa, tutup kedua mata; pada anak cukup satu mata agar anak
tidak gelisah
 Sedatif dan analgetik (misal valiun dan Novalgin)
 Diet makanan cair/lunak agar tidak banyak mengunyah dan
defikasi mudah dan sedikit.

Tunggu 24 jam:
 Bila tekanan intraokular menurun/normal, pengobatan
diteruskan.
 Bila tekanan intraokular tetap tinggi, lakukan parasentesis.
 Trauma Tajam
trauma perforatum Biasanya mudah didiagnosis bila luka
luas (>4 mm) karena selalu ada jaringan intraokular yang
prolaps.
Konservatif:
 Berikan salep mata antibiotik 3-5 kali/hari, lalu tutup dengan
kasa steril.
 Berikan antibiotik sistematik dengan dosis tinggi
 ATS 1500 U IM, pada anak 750 U IM.
 Bila perforasi kecil (<4 mm) dapat diharapkan sembuh
dengan cara di atas, tetapi bila luas (>4 mm) harus disertai
dengan tindakan operatif yang sebaiknya dilakukan di pusat
mata.
 Trauma Bahan Kimia
Asam maupun basa sama berbahaya, haya basa lebih cepat merusak. Penderitaan
biasanya sangat keasakitan.
Penatalaksanaan:
 Segera berikan tetes mata anestetik bila ada, lalu lakukan irigasi dengan air apa adaya
sekurang-kurangnya 15 menit.
 Berikan salep mata antibiotik, sementara itu persiapkan irigasi dengan larutan
garam faal/akuades-lakukan dengan sempit dengan jarum yang ditumpulkan selama
15 menit
 Pada trauma basa dapat dilakukan netralisasi dengan:

Asam cuka 2% steril atau asam tanat 2% steril secara:


 1 tetes setiap 3 menit selama 30 menit pertama,
 1 tetes setiap 5 menit selama 30 menit kedua
 1 tetes setiap 10 menit selama 30 menit ketiga
 1 tetes setiap 15 menit selama 30 menit keempat,
 1 tetes setiap 30 menit untuk selanjutnya; atau
Sistein 1 tetes/jam pada hari pertama saja; atau
EDETA 1 tetes /menit selama 5 menit.
Lalu berikan salep mata antibiotik 3-5 kali/hari dan tetes mata atropin sulfat 1% 3-5
kali/hari.
Sebaiknya mata tetap terbuka
Bila esoknya mata bebas infeksi (tidak ada sekret purlen), beri salep kombinasi
kortikosteroid dan antbiotik.
Bila ada tanda infeksi, beri salep mata antibiotik saja.
Prognosis ditentukan oleh kekuatan asam/basa penyebab dan telah berapa lama trauma
berlangsung.
 Nyeri akut b.d inflamasi pada kornea atau
peningkatan tekanan intraocular.
 Resiko infeksi b.d peningkatan kerentanan sekunder
terhadap interupsi permukaan tubuh/proses
pembedahan.
1. Nyeri akut b.d inflamasi pada kornea atau peningkatan tekanan intraocular.
Kriteria hasil:
 Mampu mengontrol nyeri( tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi
nyeri, mencari bantuan).
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.
 Mampu mengenali nyeri(skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri).
 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

NIC NOC
 Lakukan pengkajian nyeri secara komprenhensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi.
 Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
 Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan.
2. Resiko infeksi b.d peningkatan kerentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh/proses
pembedahan.
Kriteria hasil:
 Klien bebas dari tanda gejala infeksi.
 Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi penularan serta
penatalaksanaannya
 Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.
 Jumlah leukosit dalam batas normal
 Menunjukkan perilaku hidup sehat

NIC NOC
 Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
 Batasi pengunjung bila perlu
 Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
meninggalkan pasien.
 Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan.
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
 Dorong istirahat.
Wasslamu’alaikum.wr.wb