Anda di halaman 1dari 26

Kasus 2

Neurologi
Dione
Diti Indriyani
Elang Rizky
Elfira Sutanto
Elrian Syaputra
Elsha Dwi Anggun R
Fadhila Amalia R
Farisa Aulia
Farra A R
Fiesa Lyfanni
Kasus 2
Seorang wanita berusia 23 tahun dibawa ke IGD RS karena
nyeri kepala hebat sejak 5 jam yang lalu. Nyeri kepala hebat terjasi
saat pagi hari setelah pasien buang air besar. Keluhan disertai
dengan muntah-muntah, kaku leher dan pandangan ganda.

Pasien memiliki riwayat nyeri kepala berdenyut sejak usia 16


tahun, karena mengira nyeri kepala akibat migren pasien hanya
minum obat warung.

Pada pemeriksaan kesadaran somnolen, Tanda vital TD:


140/90 mmHg, N: 78X/min, RR : 18X/min, S:36,5°C. Tanda
Rangsangan meningeal (+), parese N.III kanan. Motorik tidak ada
lateralisasi
Klarifikasi istilah
 Nyeri Kepala:
 suatu gejala dimana terdapat nyeri pada kepala & leher
 Kesadaran Somnolen:
 kesadaran menurun, respon psikomotor lambat,mudah tertidur,
dapat pulih bila dirangsang tetapi gampang tidur lagi
 Tanda rangsangan meningeal:
 Gejala yang timbul karena peradangan pada selaput otak/adanya
benda asing di subarachnoid.
 Paresis N.III:
 Gangguan motoruk pada bagian yang dipersarafi N.III
 Migraine:
 Nyeri kepala sedang hingga berat yang berasa berdenyut yang
mengenai sebelah sisi kepala.
Keluhan Utama :
Wanita Datang ke Nyeri Kepala sejak 5 jam
23 tahun IGD RS yang lalu setelah BAB
dipagi hari.

- Keluhan tambahan :
Pemeriksaan Fisik :
Muntah, penglihatan ganda,
TD : 140/90 mmHg
kaku leher.
N : 78X/min
-Riwayat penyakit :
RR :18X/min
Migraine sejak usia 16 tahun
Suhu : 36,5°C
Rangsangan Meningeal (+)

Hipotesis :
Stroke Haemorrhagic
(Perdarahan
Subarachnoid)
Anatomi Meningen, Nervus Kranialis,
Vaskularisasi otak, ARAS/Formatio
Retikularis
Anatomi
Meningen
Saraf kranial
N.III
(okulomotorik)
mempersarafi otot-
otot penggerak
mata, yaitu:
• M. Rectus
medialis
• M. Obliqus
superior
• M. Rectus
superior
• M. Rectus
inferior
Klasifikasi Nyeri Kepala
 Nyeri Kepala Primer:
 Nyeri kepala tanpa ada penyebab organik
 Migraine
 Tension Tight Headache
 Cluster Headache
 Nyeri Kepala Sekunder:
 Nyeri kepala karena ada penyebab organik
 Trauma kepala
 Kelainan vaskular
 Tumor
 Penggunaan obat/zat
 Infeksi
 Kelainan metabolik
 Kelainan struktur
 neuralgia
Patofisiologi Nyeri Kepala
Pemeriksaan penurunan kesadaran
GCS scale :

Interpretasi :
-Compos mentis : GCS 15
-Somnollen : GCS 14-13
-Sopor : GCS 12-9
-Soporo-coma : GCS 8-4
-Coma : 3
stroke
Gangguan fungsi saraf akut karena gangguan
peredaran darah di otak secara mendadak.
Gejala yang timbul sesuai daerah fokal yang
terganggu
Etiologi
1. Ruptur aneurisma (85%)
2. Perdarahan perimesensefalik non aneurisma (10%)
3. Kondisi kondisi lain : malformatio arteri vena (5%)
Faktor Resiko Stroke
- genetik
- riwayat penyakit kardiovaskular
- hipertensi
- merokok
- fibrilasi atrium
- dislipidemia
- obesitas
- kondisi inflamasi dan infeksi
- pasien dalam terapi sulih hormon
- kondisi inflamasi dan infeksi
- kondisi hiperkoaguabilitas, hiperlipidemia
Klasifikasi Stroke
1. Iskemik (non-hemorragic)
a. Esktravaskular
Jantung kurang pompa, kurang oksigen
b. Vaskular
Aliran darah serebral menurun

2. Hemorragic
a. Hipertensif (perdarahan intraserebral)
b. Aneurysmal (perdarahan subarchnoid)
c. Campuran
Perdarahan Subarachnoid
Etiologi Perdarahan Subaraknoid
 Ruptur aneurisma (85%)
 Perdarahan perimesensefalik non-aneurisma
 Malformasi arteriovena
 Infeksi
 Neoplasma
Gejala Perdarahan Subaracnoid
1. Sakit kepala
2. Penurunan kesadaran
3. Kejang
4. Kaku kuduk
5. Perdarahan subhialoid
6. Demam
7. Peningkatan tekanan darah
8. Defisit neurologis fokal, mekanisme timbulnya defisit neurologis:
 Paresis nervus kranialis akibat penekanna aneurisma
 Defisit neurologis fokal akibat hasil dekompresi lokal jaringan otak
 Defisit neurologis fokal akibat iskemkk jaringan oleh emboli
 Epsilepsi fokal hasil reorganisasi sel glia akibat koompresi lokal dan iskemil jaringan oleh
penekanan aneurisma
 Hemiparesis akibat PSA yang besar di fisura sylvii
 Ataksia serebrlat akibat diseksi arteri vetebralis
 Paresis akibat penekanan aneurisma a. Komunikans anterior atau malformasi arteriovena spinal
 Gangguan melirik ke atas yang mungkin disebabkan hidrosefalus atau penekanan pada bagian
proksimal dari akuaduktus sylvii
Patofisiologi
Diagnosis Neurologis
 I. Diagnosis Neurologis

 Diagnosis Klinis : Cephalgia sekunder
 Diagnosis Topis : arteri komunikans anterior
 Diagnosis Etiologi : Aneurisma
 Diagnosis Patologi : Perdarahan Subaraknoid

 II. Diagnosis Neurologis

 Diagnosis Klinis : Diplopia
 Diagnosis Topis : Paresis n.III
 Diagnosis Etiologi : Aneurisma
 Diagnosis Patologi : Perdarahan Subaraknoid
Pemeriksaan Penunjang
 CT Scan non-kontras
Menentukan perdarahan
 Lumbal Pungsi
- Dilakukan jika CT Scan negatif atau tidak terlihat
- Didapatkan hasil degradasi eritrosit berwarna xantochromic
- Dilakukan dalam 12 jam setelah gejala
 Angiografi
Menentukan lokasi aneurisma
TATALAKSANA
a) Muntah
- Prometazin 25mg i.v/i.m diulang per-2 jam.
b) Hipertensi
- Antagonis golongan penyekat secara i.v ; chetolol
- Hindari obat gol.nitrat ; nitroporusil/nitrogliserin
c) Nyeri kepala
Medikamentosa
- Paracetamol 500-1000 mg tiap 6-8 jam. Dosis max : 4 g/hari i.v
- Ibuprofen 400-800 mg tiap 6 jam. Dosis max : 2,4 g/hari oral
- Natnum Nafroksen. Dosis 275 – 550 mg pemberian 2-6 jam/hari
Non-Medikamentosa
- Tidur cukup dan teratur
- Makanan bergizi dan teratur
- Olahraga teratur
- Minum cukup
- Kurangi stress
d) Terapi awal : A B C D
 Oksigen
 Respiration rate & Nadi N ; A.B.N
 Sirkulasi 140/90 ; i.v NaCl 0,92%
 Rangsang meningeal (+)
 Kaku kuduk (+) ;perdarahan, peradangan, dan infeksi
 TIK >> ; elevasi kepala 30% oleh vena baik, manitol 20% 0,5-1 g/KgBB
Komplikasi
 Hidrosefalus
 Vasospasme
 Perdarahan ulang
 Hiponatremia
 Hiperglikemia
Prognosis

 Ad vitam :
 Dubia ad malam : 50% mortality rate
 Ad sanationam:
 Dubia ad malam : karena bisa terjadi perdarahan ulang
 Ad fungtionam :
 Dubia ad malam ; karena ada lesi pada N.III