Anda di halaman 1dari 31

FARMASI RUMAH SAKIT

Kelompok 1AC
Lu’lu Cahyani Rosa Amalia Hikmatusaidah
11151020000001 11151020000015 11151020000033
Dila Taruli Anna Luthifah Salman Al Farisi
11151020000005 11151020000020 11151020000035
Achmad Sulthon Ailla Tiara Putri Farah Fadhillah
11151020000006 11151020000022 11151020000045
Agung Nugraha
Syifa Mufidah Muthoharoh
11151020000024
11151020000012 11151020000046
Kinanthi Dwi Nurbaiti
11151020000030
BATASAN FORMULARIUM
RUMAH SAKIT
DEFINISI


Formularium  dokumen berisi kumpulan produk obat yang
dipilih Panitia Farmasi & Terapi (PFT) tentang penggunaan
obat tsb, serta kebijakan dan prosedur berkaitan obat yang
relevan untuk RS tsb, yang terus-menerus direvisi agar selalu
akomodatif bagi kepentingan penderita & staf professional
pelayanan kesehatan berdasarkan data konsumtif & data
morbiditas serta pertimbangan klinik staf medik rumah sakit
itu (Hassan, W.E., 1986)

Formularium mencakup pengusulan obat untuk dimasukkan
ke dan/atau dihapus dari formularium; program evaluasi
penggunaan obat (EPO); pelaporan reaksi obat merugikan
(ROM); pengadaan program monografi acuan dan program
pendidikan “in-service” berkaitan dengan obat (Siregar,
Charles., Lia Amalia. 2003)
• Staf dokter dan staf professional lainnya dapat mengetahui obat yang
secara rutin tersedia bagi perawatan penderita. Memungkinkan Apoteker
bertindak sebagai penilai tunggal atas merek dagang obat yang dibeli dan
di-dispensing.
• Tersedia bahan edukasi tentang obat, dimana Ribuan formulasi obat
tersedia secara komersial. Tidak ada seorang professional dapat
mengetahui itu semua dengan cukup baik untuk semua penggunaan
secara rasional.
• Agar anggota staf dapat mengetahui dan mengingat obat formularium
yang mereka gunakan secara rutin
• Menumbuhkan keuntungan ekonomi pada rumah sakit

Keuntungan Sistem
Formularium
6
MANFAAT FORMULARIUM

○ Meningkatkan mutu dan ketepatan penggunaan obat di


rumah sakit
○ Merupakan bahan edukasi bagi professional kesehatan
tentang terapi obat yang rasional
○ Memberikan rasio manfaat-biaya yang tertinggi, bukan
hanya sekedar mencari harga obat yang termurah
○ Memudahkan profesional kesehatan dalam memilih obat
yang akan digunakan untuk perawatan pasien.
○ Memuat sejumlah pilihan terapi obat yang jenisnya dibatasi,
sehingga dapat mengetahui dan mengingat obat yang
digunakan secara rutin.
○ IFRS dapat melakukan pengelolaan obat secara efektif dan
efisien. RS mampu membeli obat dalam kuantitas dari jenis
obat yang lebih efektif.
Peran Apoteker dalam
Pembuatan Formularium
Rumah Sakit

Apoteker yang merupakan salah satu bagian utama


dari Panitia Farmasi dan Terapi memiliki peran sangat
strategis dan penting dalam pembuatan formularium
rumah sakit.
Hal ini karena semua kebijakan dan peraturan dalam
mengelola dan menggunakan obat di seluruh unit rumah
sakit ditentukan oleh panitia farmasi dan terapi ini.
Tugas Apoteker dalam Panitia Farmasi
dan Terapi
4. Menyiapkan dan
1. Menjadi salah memberikan semua
3. Mengajukan acara
seorang anggota 2. Menetapkan jadwal informasi yang
yang akan dibahas
panitia (Wakil Ketua pertemuan. dibutuhkan untuk
dalam pertemuan.
atau Sekretaris). pembahasan dalam
pertemuan.

8. Menunjang
6. Menyebarluaskan
5. Mencatat semua 7. Melaksanakan pembuatan pedoman
keputusan yang
hasil keputusan keputusan-keputusan diagnosis dan terapi,
sudah disetujui oleh
dalam pertemuan dan yang sudah pedoman penggunaan
pimpinan kepada
melaporkan pada disepakati dalam antibiotika dan pedoman
seluruh pihak yang
pimpinan rumah sakit. pertemuan. penggunaan obat dalam
terkait.
kelas terapi lain.

9. Membuat
12. Melaksanakan
formularium rumah
10. Melaksanakan 11. Melaksanakan umpan balik hasil
sakit berdasarkan
pendidikan dan pengkajian dan pengkajian pengelolaan
hasil kesepakatan
pelatihan. penggunaan obat. dan penggunaan obat
Panitia Farmasi dan
pada pihak terkait.
Terapi.
Kegiatan yang dilakukan apoteker dalam
menjalankan perannya

Merekapitulasi usulan obat yang akan dibahas dalam rapat


penyusunan formularium

Mengkaji informasi dari pustaka ilmiah yang terkait dengan


obat yang diusulkan

Menyajikan data ketersediaan dan harga obat

Melakukan evaluasi terhadap usulan yang masuk


Menyiapkan informasi yang akan dimuat dalam formularium

Berpartisipasi aktif dalam rapat pembahasan penyusunan


formularium

Berpartisipasi aktif dalam sosialisasi formularium

Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap imlementasi


formularium secara berkeseinambungan

Melakukan pengkajian penggunaan obat


Proses Penyusunan Formularium

Rekapitulasi usulan obat


dari masing masing
Menetapkan daftar obat Susun kebijakan dan
SMF berdasarkan
yang masuk kedalam pedoman untuk
sandar terapi atau
formularium implementasi
standar pelayanan
medik

Lakukan edukasi megenai


formularium kepada staf dan
Mengelompokan usulan Membahas hasil umpan lakukan monitoring KFT
obat berdasarka kelas balik dari masing bertanggung jawab dalam
terapi masing SMF penyusunan/revisi formularium
yang dibantu secara aktif oleh
IFRS

Rancangan hasil
Membahas usulan
pembahasan KFT
tersebut dalam rapat
dikembalikan ke masing
KFT, jika diperlukan
masing SMF untuk
dapat meminta masukan
mendapatkan umpan
dari pakar
balik
Sumber : Pedoman Penyusun Formularium RS Zahira
Isi Formularium

Informasi
kebijakan dan
Informasi
prosedur rumah Daftar obat
sakit tentang khusus
obat
Distribusi Formularium

Unit pelayanan untu penderita rawat inap, rawat jalan, rawat darurat

Instalasi farmasi dan seluruh satelit/ depo farmasi

Pimpinan rumah sakit

Bagian/ SMF

Anggota staf medic dan apoteker

Perpustakaan

Bagian pengadaan

Bagian lain yang dianggap perlu


Evaluasi Kepatuhan Penggunaan Formularium

○ Evaluasi dapat dilakukan secara meyuluruh atau


sebagian tergantung pada sumber daya yang
tersedia.
○ Indikator untuk menilai kepatuhan penggunaan
formularium terdiri dari :
1. Kepatuhan penulisan resep sesuai formularium
2. Kepatuhan pengadaan sesuai formularium
Kepatuhan Penulisan Resep Sesuai Formularium

Rumus perhitungan :

Jumlah item obat yang diresepkan sesuai formularium x 100%

Jumlah seluruh item obat dalam formularium

Catatan : diperlukan analisis penyebab ketidakpatuhan dan selanjutnya dilakukan upaya


untuk meningkatkan tingkat kepatuhan penulisan resep melalui sosialisasi formularium
maupn supersive di masing masing bagian

17
Kepatuhan Pengadaan Sesuai Formularium

Rumus perhitungan :

Jumlah item produk obat yang diadakan sesuai formularium x 100%

Jumlah seluruh item produk obat yang ada dalam formularium

Catatan : diperlukan analisi penyebab ketidakpatuhan dan selanjutnya dilakukan upaya


untuk meningkatkan tingkat kepatuhan pengadaan. Arahan dari direksi sangat penting
karena pengadaan merupakan kunci keberhasilan penulisan resep

18
Penyebab Ketidakpatuhan
Penulisan Resep Obat
Formularium maupun Pengadaan

Formularium tidak pernah direvisi.

Apoteker IFRS tidak berperan sebagai mana mestinya.

Tidak adanya mekanisme penghargaan dan hukumanAdanya konflik


kepentingan dalam pengadaan.
Proses Pemilihan Obat yang
Dimasukkan dalam Formularium


Evaluasi Penggunaan Obat

Penilaian

Pemilihan Obat

Penggunaan Obat Non Formularium


EVALUASI PENGGUNAAN OBAT

Bertujuan untuk menjamin penggunaan obat yang aman dan cost effective
serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Evaluasi penggunaan obat dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

1. Pengkajian dengan mengambil data dari pustaka. Kegiatannya


meliputi :
• Mengumpulkan naskah ilmiah berkaitan dengan aspek
keamanan, efektivitas dan biaya dari jurnal ilmiah yang
terpercaya.
• Melakukan telaah ilmiah terhadap naskah yang didapat.

2. Pengkajian dengan mengambil data sendiri, yaitu suatu proses


terus menerus, sah secara organisasi, terstruktur, ditujukan untuk
memastikan bahwa obat digunakan secara tepat, aman dan
bermanfaat.
PENILAIAN

Setiap obat baru yang diusulkan untuk masuk dalam formularium


harus dilengkapi dengan informasi tentang kelas terapi, indikasi terapi,
bentuk sediaan dan kekuatan, bioavailabilitas dan farmakokinetik,
kisaran dosis, efek samping dan efek toksik, perhatian khusus,
kelebihan obat baru ini dibandingkan dengan obat lama yang sudah
tercantum di dalam formularium, uji klinik, atau kajian epidemiologi
yang mendukung keunggulannya, perbandingan harga dan biaya
pengobatan dengan obat atau cara pengobatan terdahulu. Kecuali
yang memiliki data bioekuivalensi (BE) dan/ atau rekomendasi tingkat
I evidence-based medicine (EBM).

Obat yang terpilih masuk dalam formularium adalah obat yang


memperlihatkan tingkatan bukti ilmiah yang tertinggi untuk indikasi
dan keamanannya.
PEMILIHAN OBAT

Pemilihan obat yang dimasukkan dalam formularium memerlukan


pertimbangan dari berbagai faktor:

Faktor Institusional (Kelembagaan)


• Obat yang tercantum dalam formularium adalah obat yang sesuai
dengan pola penyakit, populasi penderita dan kebijakan lain
rumah sakit.
Faktor Obat
• Obat yang tercantum dalam formularium harus
mempertimbangkan efektivitas, keamanan, profil farmakokinetik
dan farmakodinamik, ketersediaan obat dan fasilitas untuk
penyimpanan atau pembuatan, kualitas produk obat, reaksi obat
yang merugikan serta kemudahan dalam penggunaan. Produk
obat telah memiliki izin edar dari Departemen Kesehatan.
Sebelum memilih obat diperlukan adanya suatu kriteria yang digunakan
oleh Tim Revisi DOEN seperti:

Memiliki rasio manfaat resiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan


penderita

Mutu terjamin termasuk stabilitas dan bioavailabilitas

Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan

Praktis dalam penggunaan dan penyerahan yang disesuaikan dengan


tenaga, sarana, dan fasilitas kesehatan

Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita

Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan


biaya langsung dan tidak langsung
7. Jika terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang
serupa, pilihan dijatuhkan pada:

Obat dengan sifat


farmakokinetik yang diketahui
Mudah
paling menguntungkan diperoleh

Obat yang
Obat yang
stabilitasnya
telah dikenal
lebih baik
8. Obat jadi kombinasi tetap, harus memenuhi kriteria berikut:

Obat hanya bermanfaat bagi penderita dalam bentuk kombinasi tetap

Kombinasi tetap harus menunjukkan khasiat dan keamanan yang


lebih tinggi daripada masing-masing komponen

Perbandingan dosis komponen kombinasi tetap merupakan


perbandingan yang tepat untuk sebagian besar penderita yang
memerlukan kombinasi tersebut

Kombinasi tetap harus meningkatkan rasio manfaat-biaya (benefit-


cost ratio)

Untuk antibiotic kombinasi tetap harus dapat mencegah atau


mengurangi terjadinya resisten dan efek merugikan lainnya.
Pemilihan obat yang dimasukkan dalam formularium
memerlukan pertimbangan dari berbagai faktor:

Faktor Biaya
• Hal ini termasuk biaya sediaan obat, biaya penyiapan obat, biaya
pemberian obat, dan biaya monitoring selama penggunaan obat.
Obat terpilih adalah obat dengan biaya terapi keseluruhan yang
paling rendah.
PENGGUNAAN OBAT NON
FORMULARIUM
• Secara umum, hanya obat formularium yang disetujui untuk
digunakan secara rutin dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit

• Prinsip yang mendasari adanya proses untuk menyetujuui pemberian


obat non formularium adalah pada keadaan dimana penderita sangat
memerlukan terapi obat yang tidak tercantum di formularium,
sebagai contoh :

Kasus tertentu yang jarang terjadi, misalnya kelainan


hormon pada anak, penyakit kulit langka.

Perkembangan terapi yang sangat memerlukan adanya


obat baru yang belum terakomodir dalam formularium.

Obat-obat yang sangat mahal dan penggunaannya


dikendalikan secara ketat, misalnya: obat sitostatika
baru, antibiotik yang dicadangkan (reserved antibiotics).
Mekanisme Proses Pengajuan Obat Non Formularium :

Dokter pengusul mengisi formulir dan


disetujui oleh kepala SMF

Formulir diajukan ke KFT

Penilaian oleh KFT terhadap usulan yang


disampaikan

Usulan yang disetujui disampaikan ke


IFRS untuk diadakan

Usulan yang tidak disetujui dikembalikan


ke SMF.

Penilaian terhadap usulan obat non formularium cukup dilakukan oleh


pelaksana harian KFT (ketua, sekretaris dan salah satu anggota) agar tidak
menghambat proses penyediaan obat non formularium.
DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, J. (2017) ‘Analisis Formularium RSUD Cimacan Tahun


2017’, 3(2), pp. 88–99.
Rachmadanti, Elva., Febrina Nanda., dkk. 2011. Formularium
Rumah Sakit dan Komite Farmasi Terapi. Aceh: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, Politeknik Kesehatan Aceh
Hassan, W.E.: Hospital Pharmacy, 5th Ed., Lea & Febiger, 1986,
p.124- 151
Brown, T. R.: Handbook of Instutional Pharmacy Practice, 3rd Ed.,
American Society of Hospital Pharmacist Inc., 1992,
p.63-71.
Siregar, Charles., Lia Amalia. 2003. Farmasi Rumah Sakit:
Teori dan Penerapan. Jakarta : EGC.
THANKS!

Any questions?