Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN

BAYI RESIKO TINGGI


DENGAN RESPIRATORY
DISTRESS SYNDROME (RDS)

KELOMPOK 5
1. Definisi
Respiratory Distress Syndrome (RDS)
disebut juga Hyaline Membrane Disease
(HMD), merupakan sindrom gawat napas
yang disebabkan defisiensi surfaktan
terutama pada bayi yang lahir dengan
masa gestasi kurang.
2. Etiologi
Penyebab kelainan ini secara garis besar adalah
kekurangan surfaktan, suatu zat aktif pada
alveoli yang mencegah kolaps paru.RDS
seringkali terjadi pada bayi prematur, karena
produksi surfaktan, yang dimulai sejak
kehamilan minggu ke-22, baru mencapai jumlah
cukup menjelang cukup bulan. Makin muda
usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan
terjadinya RDS. Kelainan merupakan penyebab
utama kematian bayi prematur.
3. Tanda dan Gejala
 Takipnea : laju napas >60 x/menit (normal laju napas
40x/menit)
 Sianosis sentral pada suhu kamar yang menetap atau
memburuk pada 48-49 jam.
 Retraksi dada: cekungan pada sternum.
 Grunting: suara merintih saat ekspirasi pernapasan cuping
hidung.
 Bradikardi
 Hipotensi
 Kardiomegali
 Edema terutama didaerah dorsal tangan atau kaki
 Hipotermi
 Tonus otot yang menurun
4. Patofisiologi
Faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi
prematur disebabkan oleh alveoli masih kecil sehingga
sulit berkembang, pengembangan kurang sempurna
karena dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan
kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkan
kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku.
Hal tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru
sehingga daya pengembangan paru (compliance)
menurun 25 % dari normal, pernafasan menjadi berat,
shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi
hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan
asidosis respiratorik.
5. Pathway
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
 Analisis gas darah
 Elektrolit
 Pemeriksaan jumlah sel darah
b. Pemeriksaan radiologic
7. Penatalaksanaan
 Lingkungan yang optimal
 Pemberian surfaktan oksigen
 Pemberian cairan dan elektrolit
 Pemberian antibiotic
 Pemberian oksigen
8. Pencegahan
 Perhatian langsung diberikan untuk
mengantisipasi dan mengurangi komplikasi
dan juga diupayakan untuk pencegahan
persalinan kurang bulan
 Pemberian terapi streroid antenatal
diberikan ibu yang terancam persalinan
kurang bulan.
 Melakukan resusitasi dengan baik dan
benar
 Pemberian surfaktan bila perlu.
KONSEP DASAR ASUHAN
KEPERAWATAN
1. Pengkajian
A.Anamnesa
 Data Demografi
Usia : bayi yang lahir sebelum gestasi 29 minggu.

 Keluhan Utama
sesak, lemah, lesu, tidak responsive, penurunan bunyi
napas.
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Biasanya akan diawali dengan tanda-tanda mudah letih,
dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi, tonus
otot menurun, edema terutama di daerah dorsal tangan
atau kaki, retraksi supersternal/ epigastrik/ intercosta,
grunting expirasi.

 Riwayat Penyakit Dahulu :


Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami prematuritas
dengan paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32
minggu), gangguan surfactan, lahir premature dengan
operasi Caesar serta penurunan suplay oksigen saat janin
saat kelahiran pada bayi matur atau premature,
atelektasis, hipoksia, asidosis.
 Riwayat Maternal :
apakah ibunya menderita penyakit seperti diabetes mellitus,
kondisi seperti perdarahan placenta, placenta previa, tipe dan
lama persalinan, stress fetal atau intrapartus,
dan makrosomnia

 Riwayat Penyakit Keluarga :


Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang terkena
penyakit -penyakit yang disinyalir sebagai penyebab kelahiran
premature / Caesar sehinnga menimbulakan membrane hyialin
disease.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Frekuensi nafas
2. Mekanika usaha pernafasan
3. Warna kulit/membran mukosa
4. kardiovaskuler
5. Pemeriksaan pada pengisian kapiler
C. ADL (Activity daily life) Nutrisi:
 Bayi dapat kekeurangan cairan sebagai
akibat bayi belum minum atau menghisap
 Istirahat tidur, Kebutuhan istirahat terganggu
karena adanya sesak nafas ataupun kebutulan
nyaman tergangu akibat tindakan medis
 Eliminasi, Penurunan pengeluaran urine
D. Pemeriksaan Penunjang
a. Foto rontgen thorak
Pola retikulo granular difus bersama bromkogram udara yang
saling tumpang tindih.
b. Pemeriksa darah
Asidosis metabolic :
 PH menurun (N : PH 7,35- 7,45)
 Penurunan Bicarbonat (N : 22-26 meg/L)
 PaCO2 Normal (N : 35-45 mmHg)
 Peningkatan serum K
Asidosis respiratorik
PH menurun (N : PH 7,35-7,45)
Peningkatan PaCO2 (N : 35-45 mmHg)
Penurunan PaO2 (N : 80-100 mmHg)
Imatur lecithin / sphingomylin (L/S)
2. Diagnosa Keperawatan
 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan imatur
paru dan dinding dada atau kurangnya jumlah cairan
surfaktan.
 Ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan
ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator, tidak
berfungsinya ventilator
 Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan
hilangnya cairan yang tanpa disadari
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakmampuan menelan,
motilitas gerak menurun dan penyarapan.
 Ketidakefektifan termoregulasi berhubungan dengan
lapisan lemak belum terbentuk.
3. Rencana Keperawatan
 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan imatur
paru dan dinding dada atau kurangnya jumlah cairan
surfaktan.
Intervensi:
1. mengatur posisi
2. Hindari hiperekstensi leher
3. Observasi adanya penyimpangan dari fungsi yang diinginkan
4. Lakukan penghisapan mucus
5. Penghisapan selang endotrakeal sebelum pemberian
surfaktan
6. Hindari penghisapan sedikitnya 1 jam setelah pemberian
surfaktan
7. Observasi peningkatan pengembangan dada
8. Turunkan pengaturan, ventilator, khususnya tekanan
inspirasi puncak dan oksigen.
4. Evaluasi Keperawatan
 Pertukaran gas menjadi efektif,
 Menunjukkan fungsi paru yang normal dan bebas
dari tanda-tanda distres pernafasan.
 Ventilasi/oksigenasi adekuat untuk memenuhi
kebutuhan perawatan diri.
 Jalan nafas kembali efektif.
 Pola nafas kembali efektif.
 Tidak ada distress respirasi.
 Bayi tidak menggigil.
 Bayi tidak gelisah.
 Bayi tidak letargi