Anda di halaman 1dari 43

Curriculum Vitae

• NAMA : dr. Ita Murbani Handajaningrum, MHKes, SpPD-KGH. Finasim


• ALAMAT : Jln. Gemah Tengah 17 pedurungan Semarang, Jawa Tengah
• STATUS : Menikah
• SUAMI : dr. William Alfred L.P., MHKes., SpB (K) Onk
• ANAK : 1. Octavian Avreta Pandeirot (18 thn)
2. Dhana Septiandani Pandeirot (15 thn)
Riwayat Pendidikan
Dokter umum 1989 – 1997 FK Universitas Diponegoro
Dokter Spesialis Penyakit Dalam 2003 – 2007 FK Universitas Diponegoro
Magister Hukum Kesehatan 2010 - 2012 FH UNTAG Semarang
Internist – Konsultan Ginjal Hipertensi Juli 2010 FK Universitas Diponegoro
Riwayat Pekerjaan
Tahun Nama Instansi Jabatan
1998 - 2000 PPT Puskesmas Kotaraja Jayapura Kepala Puskesmas
2000 - 2001 PT Freeport Indonesia Staf dokter
2001 - 2002 RS. William Booth Semarang Dokter Umum
2003 – 2007 Residen Penyakit Dalam FK UNDIP semarang Pendidikan PPDS 1
2007 – 2008 Staf SpPD bagian Geratri RSDK Semarang
2008 - 2010 Internis RSUD DOK 2 Jayapura Papua Dokter Penyakit Dalam
Juli 2010 - 2014 Pendidikan Konsultan Ginjal Hipertensi FK Undip / RSUP dr. Kariadi Pendidikan PPDS II IPD Ginjal
Semarang Hipertensi
2014 - 2015 Fellow di Nagoya Jepang Hospital Nagoya Jepang
2015 RSUD dok II jayapura Dokter Konsultan
KEGAWATDARURATAN
HIPERTENSI
Dr. Ita Murbani Handajaningrum, MHKes. SpPD - KGH
Scientific meeting Safety in primary health Care
IKA MEDICA UNDIP CABANG PAPUA
PREVALENSI
HIPERTENSI

•Prevalnsi dan iinsiden terbesar, terus bertambah , 1,56 miliar penduduk dunia
hingga ahun 2025
•1 % dari populasi hipertensi dewasa
•Hipertensi Emergensi > 50% penderita di rawat ICU karena terapi tak
adekuat
•Hipertensi merupakan salah satu kotribusi kematian
•Dari populasi Hipertensi (HT), ditaksir 70% menderita HT ringan, 20% HT
sedang dan 10% HT berat.

Pergolini MS. Clinter 160/2/2009


Mark PE Chest 131/6/2007
Dari populasi Hipertensi (HT), ditaksir
• 70% menderita HT ringan,
• 20% HT sedang dan
• 10% HT berat.
Pada setiap jenis HT ini dapat timbul krisis hipertensi
dimana tekanan darah (TD) sistolik > 180 mmHg dan
diastolik sangat meningkat sampai 120 – 130 mmHg
yang merupakan suatu kegawatan medik dan
memerlukan pengelolaan yang cepat dan tepat
untuk menyelamatkan jiwa penderita.
Kegawatdaruratan hipertensi dikenal dengan krisis
Hipertensi
PROGNOSIS
• Angka kematian tinggi
• Tanpa terapi : 1 year survival rate 10-20%
• Terapi adekuat : 5 year survival rate 50-60%
• Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk
terbanyak di dunia dan tingkat kesehatan yang rendah.
Menurut data riset kesehatan dasar (RISKESDAS )
TAHUN 2013, prevalensi hipertensi di Indonesia 25.8%
dan dapat mencapai 39.6% .

Kaplan, clinical hypertension


DEFINISI

• Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah


sistole > 140 dan diastole > 90 mmhg pada dua
kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit
dalam keadaan cukup istirahat.
• Hipertensi didefinisikan oleh Joint National
Committee on Detection, Evaluation and Treatment
of Hight Blodd Presure sebagai tekanan yang lebih
tinggi dari 140/90 mmHg.
HIPERTENSI DIBAGI BERDASARKAN
PENYEBAB :

• HIPERTENSI PRIMER
• HIPERTENSI SEKUNDER
Dikenal beberapa istilah berkaitan dengan krisis hipertensi antara lain :
1. Hipertensi refrakter : respons pengobatan tidak memuaskan dan TD >
200/110 mmHg, walaupun telah diberikan pengobatan yang efektif (triple
drug) pada penderita dan kepatuhan pasien.
2. Hipertensi akselerasi : TD meningkat (Diastolik) > 120 mmHg disertai
dengan kelainan funduskopi KW III. Bila tidak diobati dapat berlanjut ke
fase maligna.
3. Hipertensi maligna : penderita hipertensi akselerasi dengan TD Diastolik
> 120 – 130 mmHg dan kelainan funduskopi KW IV disertai papiledema,
peniggian tekanan intrakranial kerusakan yang cepat dari vaskular, gagal
ginjal akut, ataupun kematian bila penderita tidak mendapat pengobatan.
Hipertensi maligna, biasanya pada penderita dengan riwayat hipertensi
essensial ataupun sekunder dan jarang terjadi pada penderita yang
sebelumnya mempunyai TD normal.
4. Hipertensi ensefalopati : kenaikan TD dengan tiba-tiba disertai dengan
keluhan sakit kepala yang sangat, perubahan kesadaran dan keadaan ini
dapat menjadi reversible bila TD diturunkan.
Kriteria Hipertensi Berdasarkan JNC 7

Klasifikasi Sistolik Diastolik


(mmHg) (mmHg)
Normal < 120 dan < 80
Prehipertensi 120 – 139 atau 80 -89
Hipertensi stadium 1 140 – 159 atau 90 – 99
Hipertensi stadium 2 ≥ 160 atau ≥ 100
Kriteria Hipertensi Berdasarkan JNC 8
KRISIS HIPERTENSI

Krisis Hipertensi adalah sebuah sindroma klinis yang


ditandai dengan peningkatan tekanan darah mendadak
pada pendertia hipertensi:
1. Tekanan darah sistolik (TDS) > 180 mmHg dan
tekanan darah diastolik (TDD) > 120 mmHg
2. Dapat disertai komplikasi disfungsi dari target
organ, baik yang sedang dalam proses (impending)
maupun sudah dalam tahap akut progresif.
Diagnosis banding krisis hipertensi
KEGAWATDARURATAN HIPERTENSI

HIPERTENSI KRISIS
• Peningkatan tekanan darah mendadak (> 180/120
mmHg)
- T.O.D +/-
- KELUHAN +/-
- PENANGGULANGAN SEGERA
Yang tergolong dalam kerusakan target organ yang bersifat progresif di
antaranya adalah
1. Perubahan status neurologis
2. Hipertensif ensefalopati
3. Infark serebri
4. Perdarahan intrakranial
5. Iskemi atau infark miokard
6. Disfungsi ventrikel kiri akut
7. Edema paru akut
8. Diseksi aorta
9. Insufisensi renal
10. Eklampsia
KLASIFIKASI
HIPERTENSI URGENSI
• TANPA GEJALA
- Biasanya tekanan darah > 180/120 mmHg
- Tanpa keluhan (sakit kepala/cemas)
- TOD Akut tidak ada

• DGN GEJALA
- Biasanya tekanan darah > 180/120 mmHg
- Keluhan sakit kepala hebat, nafas
pendek, kardiovaskuler stabil
- TOD akut tidak ada
Algorithm for Treatment of
Hypertension JNC7
Lifestyle Modifications

Not at Goal Blood Pressure (<140/90 mmHg)


(<130/80 mmHg for those with diabetes or chronic
kidney disease)
Initial Drug Choices

Without With
Compelling Compelling
Indications Indications

Stage 1 HTN (SBP 140–159 Stage 2 HTN (SBP >160 or Drug(s) for the compelling
or DBP 90–99 mmHg) DBP >100 mmHg) indications
Thiazide-type diuretics for 2-drug combination for most Other antihypertensive drugs
most. (usually thiazide-type diuretic (diuretics, ACEI, ARB, BB,
May consider ACEI, ARB, and CCB)
BB, CCB, or combination. ACEI, or ARB, or BB, or CCB)
as needed.

Not at Goal First line teraphy :


Blood Pressure
BB, ACEI, ARB, CCB dan
Optimize dosages or add additional drugs
until goal blood pressure is achieved. Diuretik
Consider consultation with hypertension
specialist.
JNC 7 Express. JAMA. 2003 Sep 10; 290(10):1314
Rekomendasi JNC VIII Untuk Obat Antihipertensi

First line teraphy :


ACEI, ARB, CCB dan
Diuretik
PENGOBATAN

Hipertensi Urgensi
- Tidak memerlukan penurunan tekanan darah
segera sampai normal dalam waktu observasi
- Oral anti hipertensi bekerja cepat
- Target tidak tercapai, tingkatkan dosis
- Target tercapai dalam 3-7 hari
Management of Hypertensive Urgencies
ONSET/DURATION OF
AGENT DOSE ACTION PRECAUTIONS
(AFTER
DISCONTINUATION)

Captopril 25 mg p.o., repeat as needed 15-30 min/6-8 h SL, Hypotension, renal failure
SL, 25 mg 15-30 min/2-6 h in bilateral renal artery
stenosis

Clonidine 0.1-0.2 mg p.o., repeat hourly 30-60 min/8-16 h Hypotension, drowsiness,


as required to total dose of 0.6 dry mouth
mg

Labetalol 200-400 mg p.o repeat every 30 min-2 h/2-12 h Bronchoconstriction,


2-3 h heart block, orthostatic
hypotension

Amblodipin 2,5-5 mg 1-2 hr/12-18 hr Tachycardia, hypotension

Nifedipin 5 mg sl 5-20 min/2-6 hr Tachycardio, hypotension

Adapted with permission from Vidt DG. Hypertensive crises: emergencies and urgencies. J Clin Hypertens
(Greenwich). 2004;6:520-525
KLASIFIKASI
HIPERTENSI EMERGENSI

- Biasanya tekanan darah > 180mmHg dan ≥ 120 mmHg


- Keluhan TOD :
sesak, nyeri dada, nokturia, disartria, gangguan
kesadaran
Clinical Characteristics of the
Hypertensive Emergency
Blood Fundusco Neurologic Cardiac Renal Gastrointestin
Pressure pic Status Findings Symptoms al Symptoms
(mmHg) Findings

Usually Hemorrha Headache, Prominent Azotemia, Nausea.


>220/140 ges, confusion, apical proteinuria, vomiting
exudates, somnolence, pulsation, oliguria
papiledem stupor, visual cardiac
a loss, eniargement,
seizures, congestive
focal heart failure
neurologic
deficits,
coma

Sumber : Hebert e.j Prim Care 2008. 35 (3)


Clinical Manifestations of End-Organ Damage From
Hypertensive Emergency

Central Dizzness, NV, confusion, weakness,


nervous encephalopathy, ICH, SAH, ischemic stroke
system
Eyes Ocular hemorrhage, exudates, or papiledema on
fundoscopic exam, blurred vision, loss of sight
Heart Angina, ACS, LVF, PE, aortic dissection,
cardiogenic shock
Kidneys Hematuria, proteinuria, pyelonephritis, elevated
SCr and BUN, ARF
ACS; acute coronary syndrome; ARF: acute renal failure: BUN: blood urea nitrogen: ICH:
intracranial hemorrhage; LVF: left ventricular failure; NV: nausea and vomiting: PE: pulmonary
edema: SAH: subarachnoid hemorrhage; SCr, serum creatinine

Pergolini MS. The Management of hypertensive crises. Clin Ter 2009. 160 (2)
PENGOBATAN
Hipertensi Emergensi
- Dirawat di ICU
- Obat anti hipertensi parenteral
- Target : - Penurunan tekanan darah pd jam
pertama 20-25 %
- Minimalisir hipoperfusi organ vital
- Penurunan tekanan darah selanjutnya dl 24 jam
Treatment of Hypertensive Emergencies
Agent Dosage Onset/Duration of Precautions
Action (after
Parenteral discontinuation)
Vasodilators
Sodium 0.25-10 g/kg/min as IV Immediate/2-3 min after Nausea, vomiting; prolonged use may
Nitroprusside infusion infusion cause thiocyanate intoxication,
methemoglobinemia, acidosis, cyanide
poisoning; bags, bottles, delivery sets
must be light resistant

Nitroglycerin 5-100 g as IV infusion 2-5 min/5-10 min Headache, tachycardia, vomiting;


flushing. Methemoglobinemia; requires
special delivery system because of
drug binding to PVC tubing

Nicardipine 5-15 mg/hr as IV infusion 1-5 min/15-30 min, but Tachycardia, nausea, vomiting,
may exceed 12 hr after headache, increased intracranial
prolonged infusion pressure; hypotension may be
protracted after prolonged infusions

Fenoldopam 0.1-0.3 g/kg/min as IV <5 min/30 min Headache, tachycardia, flushing, local
Mesylate infusinon phlebitis, dizziness

Hydralazine 5-20 mg as IV bolus or 10 min IV/> 1 hr (IV); Tachycardia, headache, vomiting,


10-40 mg IM; repeat 20-30 min IM/4-6 hr (IM aggravation of angina pectoris, sodium
every 4-6 hr and water retension, increased
intracranial pressure

Sumber : Hebert e.j Prim Care 2008. 35 (3)


Keadaan khusus
Diseksi Aorta
- Robekan pada dinding aorta
- Klinis : nyeri dada (Spt MCI)
: Sinkope
- Pemeriksaan : Echo, CT Scan, MRI
- Terapi : Target TDS 110-120 mmHg/dl
Waktu 10-20 menit
- Konsul bedah
Keadaan khusus
SINDROMA KORONER AKUT

- Angina pektoris tak stabil, STEMI/Non STEMI


- Klinis : nyeri dada khas
- Pemeriksaan : EKG, CKMB, Troponin T
- Terapi :
- obat : - Nitrogliserin
- Na Nitropruside
- C.C.B (Nicardipin)
- Target :  10-20% dl 1-3 jam pertama
: jaga TDD > 60 mmHg
- Obat : Penghilang rasa sakit
Membuka oklusi koroner
Keadaan khusus
EDEMA PARU

- Klinis : - sesak nafas hebat, tiba-tiba


- ronkhi, bendungan
- gallop rythem

- Terapi :
- Obat : - Na Nitropruside
- Fenoldopam
- Obat-obat diuretik
- Target : TDS turun 30 mmHg dl beberapa menit
: 130/80 mmHg dl 3 jam
Keadaan khusus
AKI/CKD
- Biasanya hipertensi sekunder (oklusi a. renalis)
- Klinis : Usia muda
Refrakter
RPK tidak ada
- Pemeriksaan : bising a renalis
- Terapi : Turunkan tekanan darah
20 - 25% dl 1-3 jam
Obat : Na nitropruside
Labetalol
Keadaan khusus
Krisis adrenergic
- Karena produksi katekolamin 
- Terapi : Turunkan tekanan darah
10-15 % dl 1-2 jam
Obat : - Fentolamin
- Labetalol
Keadaan khusus
Hipertensi Ensefalopati
- Perfusi ke serebral   edem serebral  progresif
- Klinis :  kesadaran
Perdarahan retina
Papil edema
Defisit neurologi
- Terapi :  tekanan darah 20-25% jam pertama
Obat : Na Nitropruside
Labetalol
Keadaan khusus
Stroke Iskemik
- Penurunan tekanan darah masih
kontroversi
-  tekanan darah tiba-tiba  iskemi cerebri
bertambah
-  tekanan darah bila awal > 220/120 mmHg, tdk
lebih 10% pd jam I, 20% pada 6-12 jam berikut
- Obat : - Na Nitropruside
- Nicardipin
Keadaan khusus
Perdarahan serebral
- Biasanya tekanan darah > 240/120 mmHg
- Klinis : - penurunan kesadaran
- ngorok
- tanda-tanda defisit neurologi
- Terapi : -  tek darah 20-25 % jam pertama
- 160/90 mmHg dl 24 jam
- Obat : Na Nitropruside
Nicardipin
CCB
Keadaan khusus
KEHAMILAN

- Keluhan : - Sakit kepala


- Sesak nafas
- Oliguri
- Kejang
- Lab. Proteinuria
- Terapi : Terminasi kehamilan
Obat : - Nicardipin
- Labetalol
Keadaan khusus
Pengguna NAPZA
- Obat kokain, amfetamin,
metametamin phencyclidine
- Obat pilihan CCB
Preferred Drugs for Select Hypertensive Emergencies
Emergency Drugs of choice Target Blood Pressure

Aortic dissection Nitroprusside + esmolol 110-120 SBP as soon as


possible
AMI, ischemia Nitroglycerin, nitroprusside,
nicardipine Secondary to ischemia relief
Pulmonary edema
Nitroprusside, nitroglycerin, Improve symptoms 10%-15%
Renal emergencies labetalol in 1-2 hr

Catecholamine excess Fenoldopam, nitroprusside, Target BP 20%-25% in 2-3 hr


labetalol

Hypertensive Control paroxysms, 10 %-15%


encphalopathy Phentolamine, labetalol in 1-2 hr

Subarachnoid Nitroprusside 20%-25% in 2-3 hr


hemorrhage
Nitroprusside, nimodipine, 20%-25% in 2-3 hr
Ischemic stroke nicardipine
0%-20% in 6-12 hr
Nitroprusside (controversial),
nicardipine
KESIMPULAN

1. Hipertensi . Krisis :  tek darah mendadak dgn atau


tanpa TOD
2. Hipertensi Urgensi : - berobat jalan
- oral anti hipertensi
3. Hipertensi Emergensi : - rawat di ICU
- obat anti hipertensi parenteral
TAKE HOME MESSAGE

Dokter pada pelayanan primer, dapat memberikan anti


hipertensi oral yang bekerja cepat, dalam menatalaksana
hipertensi sebelum merujuk ke RS rujukan
42