Anda di halaman 1dari 15

KONVERSI AGAMA

Fitria Kanda Putri


Mayang Arlita Afandi
Vinolia Cantika Amaliana
Utari Ayunda Oktariani
Astri Nurul Siti Patimah
Anggy Agustina Rahayu
Konversi Perubahan yang terjadi dipengaruhi
kondisi kejiwaan sehingga perubahan
berasal dari kata latin dapat terjadi secara berproses atau
“conversion” yang secara mendadak. Perubahan tersebut
berarti taubat, pindah, bukan hanya berlaku bagi perpindahan
dan berubah (agama) kepercayaan dari suatu agama ke agama
lain, tetapi juga termasuk perubahan
Konversi Agama pandangan terhadap agama yang
adanya perubahan arah dianutnya sendiri. Selain factor kejiwaan
pandang dan keyakinan dan kondisi lingkungan maka perubahan
seseorang terhadap itupun disebabkan factor petunjuk dari
kepercayaan dan agama yang Yang Mahakuasa.
dianutnya
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Konversi Agama

Ahli Agama
• Faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk Illahi.
• Pengaruh supranatural berperan secara dominan dalam proses
terjadinya konversi agama pada diri seseorang ataupun kelompok

Ahli Sosiologi
• Yang menyebabkan terjadi konversi agama adalah pengaruh sosial.
• Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi agama itu
terdiri dari adanya beberapa faktor antara lain:
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Konversi Agama

Pengaruh hubungan antar pribadi, baik pergaulan yang bersifat


keagaamaan maupun non agama

Pengaruh kehidupan yang rutin. Pengaruh ini dapat mendorong seseorang atau kelompok
untuk berubah kepercayaan jika dilakukan secara rutin hingga terbiasa. Misalnya:
menghadiri upacara keagamaan, ataupun pertemuan-pertemuan yang bersifat keagamaan.

Pengaruh anjuran ataupun propaganda dari orang-orang terdekat,


misalnya : karib, keluarga, dan sebagainya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Konversi Agama

Pengaruh pemimpin keagamaan

Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi

Pengaruh kekuasaan pemimpin

Faktor sosial. Misal : Suku baduy memeluk islam karena tertarik dengan ajaran islam yang disampaikan
oleh para pendakwah didaerah mereka. Selain itu, faktor lainnya yang mempengaruhi ialah karena
adanya hubungan perniakahn antara suku Baduy yang beragama non islam dan beragama islam.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Konversi Agama

Ahli Psikologi
•Faktor psikologis yang ditimbulkan oleh factor-
faktor intern maupun faktor ektern. Faktor-faktor
tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau
kelompok hingga menimbulkan semacam gejala
tekanan batin, makan akan terdorong untuk
mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Konversi Agama
Faktor Intern

Faktor Pembawaan
Kepribadian
Menurut penelitian Swanson (dalam
Jalaluddin, 2010) bahwa ada semacam
Secara psikologis tipe kepribadian tertentu
kecenderungan urutan kelahiran
akan mempengaruhi kehidupan jiwa
mempengaruhi konversi agama. Anak
seseorang. Dalam penelitian William
sulung dan anak bungsu biasanya tidak
James (dalam Jalaluddin, 2010) ia
mengalami tekana batin, sedangkan anak-
menemukan, bahwa tipe melankolis yang
anak yang dilahirkan pada urutan antara
memiliki kerentanan perasaan lebih
keduanya sering mengalami stres jiwa.
mendalam dapat menyebabkan terjadinya
Kondisinya yang dibawa berdasarkan
konversi agama dalam dirinya
urutan kelahiran itu banyak
mempengaruhi terjadinya konversi agama.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Konversi Agama
Faktor Ekstern

Faktor keluarga Lingkungan tempat


Kemiskinan
Faktor keluarga, tinggal
Perubahan status Kondisi ekonomi yang
kedekatan keluarga, Orang yang merasa
Perubahan status yang sulit juga merupakan
ketidakserasian, berlainan terlempar dari lingkungan
secara mendadak akan faktor yang mendorong
agama, kesepian, tempat tinggal atau
banyak mempengaruhi dan mempengaruhi
kesulitan seksual, kurang tersingkir dari kehidupan
terjadinya konversi terjadinya konversi
mendaptkan pengakuan disuatu tempat yang
agama, misalnya: agama. Masyarakat awam
kerabat, dan lainnya. merasa hidupnya
perceraian, keluar dari yang miskin cenderung
Kondisi yang demikian sebatang kara. Keadaan
sekolah atau untuk memeluk agama
menyebabkan seseorang yang demikian
perkumpulan, perubahan yang menjanjikan
akan mengalami tekanan menyebabkan seseorang
pekerjaan, menikah kehidupan dunia yang
batin sehingga sering mendambakan
dengan orang yang lebih baik. Kebutuhan
terjadi konversi agama ketenangan dan mencari
berbeda agama, dan mendesak akan sandang
dalam usaha untuk tempat untuk bergantung
sebagainya. dan pangan dapat
meredakan tekanan batin hingga kegelisahan
mempengaruhi.
yang menimpa dirinya. batinnya hilang.
Proses Penindo (dalam Jalaluddin, 2010) berpendapat bahwa
Konversi Agama konversi agama mengandung dua unsur yaitu :

Unsur dari dalam diri (endogenus


origin) yaitu proses perubahan
yang terjadi dalam diri seseorang Unsur dari luar (exogenous origin)
atau kelompok. Konversi yang yaitu proses perubahan yang
terjadi dalam batin ini membentuk berasal dari laur diri atau
suatu kesadaran untuk kelompok, sehingga mampu
mengadakan suatu informasi yang meorang nguasai kesadaran orang
disebabkan oleh krisis yang terjadi atau kelompok orang yang
di dalam keputusan yang diambil bersangkutan.
oleh seseorang berdasarkan
pertimbangan pribadi.
Kerangka proses pentahapan konversi agama, juga dijelaskan oleh H. Carrier (dalam Jalaluddin,
2010) adalah sebagai berikut:

Reintegrasi kepribadian berdasarkan


Terjadi diintegrasi sintesis kognitif dan konversi agama yang baru. Dengan
motivasi sebagai akibat dari krisis adanya reintegrasi ini maka
yang dialami. terciptalah kepribadian baru yang
berlawanan dengan struktur lama.

Tumbuh sikap menerima konsepsi Tumbuh kesadaran bahwa keadaan


agama baru serta peranan yang yang baru itu merupakan panggilan
dianut oleh ajarannya. suci petunjuk Tuhan.
Darajat (dalam Jalaluddin, 2010) juga memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses
kejiwaan yang terjadi melalui lima tahap, yaitu:

Disaat ini kondisi jiwa seseorang berada dalam keadaan tenang,


Masa karena masalah agama belum mempengaruhi sikapnya. Terjadi
Tenang semacam sikap prioritas terhadap agama. Keadaan yang
demikian dengan sendirinya tidak akan mengganggu keimbangan
batinnya, sehingga ia berada dalam keadaan tenang dan tentram

Tahap ini berlangsung jika masalah agama telah Masa


mempengaruhi batinnya. Mungkin dikarenakan suatu krisis,
musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya. Hal ini Ketidak-
menimbulkan semacam goncangan yang berkecamuk dalam tenangan
bentuk rasa gelisah, panic, putus asa, ragu, dan bimbang.
Darajat (dalam Jalaluddin, 2010) juga memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses
kejiwaan yang terjadi melalui lima tahap, yaitu:

Tahap ketiga ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan, karena
pemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menetapkan Masa
keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa
pasrah. Keputusan ini memberikan makna dalam menyelesaikan
Konversi
pertentangan batin yang terjadi. Sehingga terciptalah ketenangan dalam
bentuk menerima kondisi yang dialami sebagai petunjuk Ilahi.

Masa Masa tenang dan tentram yang kedua ini berbeda dari
Tenang sebelumnya. Jika ada tahap pertama keadaan itu
dialami karena sikap acuh tak acuh, maka ketenangan
dan dan ketentraman pada tahap ketiga ini ditimbulkan
Tentram oleh kepuasan terhadap keputusan yang telah diambil.
Darajat (dalam Jalaluddin, 2010) juga memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses
kejiwaan yang terjadi melalui lima tahap, yaitu:

Masa Sebagai ungkapan dari sikap menerima terhadap konsep


baru dari ajaran agama yang telah diyakininya, maka
Ekspresi tindak tanduk dan sikap hidupnya diselaraskan dengan
Konversi ajaran dan peraturan agama yang dipilih tersebut.
Pencerminan amalan dalam bentuk amal perbuatan yang
serasi dan relevan sekaligus merupakan pernyataan
konversi agama itu dalam kehidupan.
Dampak Sosial Menurut Aryadharma ada dua dampak terjadi ketika konversi
Konversi Agama agama terjadi di Bali:

Goncangan adat akibat konversi agama


Keputusan yang diambil sebagian kecil masyarakat di Bali untuk
berpindah agama dari sebelumnya beragama hindu ke Kristen
protestan telah mengakibatkan sejumlah guncangan baik di tingkat
desa pakrman maupun keluarga. Penghancuran tempat suci hindu
sebagai bentuk kesetiaaan terhadap agama baru telah membuat
masyarakat adat di Bali marah dan tersinggung. Kemudian larangan
orang yang sudah Kristen mengambil kegiatan adat di tempat mereka
karena dianggap penyembahan berhala oleh para pemimpin Kristen.
Sehingga hal tersebut menimbulkan resistensi dari masyarakat adat
setempat yang berdampak pada gangguan terhadap orang Kristen
hingga sampai terjadi pembakaran gereja.
Dampak Sosial Menurut Aryadharma ada dua dampak terjadi ketika konversi
Konversi Agama agama terjadi di Bali:

Keretakan keluarga akibat konversi agama


Keluarga bagi orang Bali bukan hanya satu unit kecil masyarakat, tetapi
berhubungan dengan sanggah pemujaan yang menjadi tanggungjawab
segenap keturunan untuk melanjutkan pemujaan tersebut. Hilangnya
salah satu anggota keluarga yang berpindah agama berarti pula
semakin sedikit yang memanggul tanggung jawab itu. Dalam sejarah
kekristenan disebutkan penganut kekristenan pertama di Bali adalah
Nicodemus I Gusti Wayan Karangasem yang dibabtis, keluarganya
menganggap dia sudah mati (dikucilkan dalam keluarga) karena telah
menjadi Kristen. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa terputusnya
hubungan keluarga antara pelaku konversi dengan keluarganya.