Anda di halaman 1dari 40

Laporan Kasus

Hemiparase e.c
Space Occupying Lesion
(SOL)
Maria Agavina Septy Putri,S.Ked
FAB 118 009

Pembimbing :
dr. Hygea Talita P Toemon, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN/SMF NEUROLOGI


RSUD dr. DORIS SYLVANUS/FK UPR
PALANGKA RAYA
2018
Identitas
• Nama : Ny. S
• Usia : 63 tahun
• Alamat : Tumbang Manuhing Raya
• Pekerjaan : Swasta
• Agama : Kristen Protestan
• MRS : 15 Oktober 2018
• Tgl. pemeriksaan : 16 Oktober 2018
• Kiriman dari : Puskesmas Manuhing Raya,
Gunung Mas
ANAMNESIS
Keluhan Utama : Lemah tubuh sisi kiri
Riwayat Penyakit Sekarang:
• Os datang rujukan puskesmas dengan keluhan kelemahan tubuh sisi
sebelah kiri sejak ± 1 hari SMRS. Lemah dirasakan timbul mendadak
yang diawali dengan sering merasa kesemutan di kedua kaki dan
tangan sejak ± 1 minggu SMRS. Selain kesemutan Os juga
mengatakan nyeri dikedua lutut sejak ± 1 minggu SMRS. Os juga
mengeluhkan susah untuk berbicara (bicara pelo) dan mulut sedikit
perot ke sebelah kiri sejak ± 1 hari SMRS bersamaan dengan
munculnya lemah tubuh sisi bagian kiri.
• Mual (+), badan lemas (+), nyeri kepala (-), muntah (-) nyeri dada (-),
penglihatan kabur dan ganda (-), pendengaran berkurang (-) pada
telinga sebelah kiri, kejang (-), nafsu makan menurun (+), BAB cair ±
2 kali dengan sedikit ampas agak berlendir, dan BAK dbn.
Riwayat penyakit terdahulu :
• Riwayat Hipertensi (+), tidak minum obat rutin
• Riwayat DM (-)
• Riwayat stroke (-)
• Riwayat MRS sebelumnya (-)
Riwayat penyakit keluarga :
• Hipertensi (+) , ayah pasien.
• DM (-)
• Keluhan yang sama dengan pasien (-)
Pola Hidup :
• Riwayat merokok (-)
• Riwayat konsumsi alkohol (-)
• Makan-makanan berlemak, bersantan (+)
Pemeriksaan Fisik
Status Present Temuan
Keadaan umum Tampak sakit sedang
Kesadaran Compos Mentis. GCS: E4V5M6
TTV TD: 150/90 mmHg, DN: 84x/m, RR: 20x/m, T: 36,50C
Cephal Normocephal, jejas (-)
Mata CA(-/-), SI (-/-), pupil isokor, RC (+/+)
Hidung NCH (-/-), rhinorea (-), deviasi (-/-)
Telinga Simetris, otorea (-/-)
Mulut Deviasi ke sisi kiri (+)
Thorax Inspeksi : Simetris, bentuk normal
Pulmo Palpasi : fremitus normal
Perkusi : sonor
Auskultasi : Ves (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
Pemeriksaan Fisik
Thorax
Cor Ins : Ictus cordis tidak terlihat
Pal : Ictus cordis tidak teraba
Aus : S1S2 tunggal, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen Supel, BU (+) Normal, timpani, Nyeri tekan (-),


hepar/ lien tidak teraba besar

Ekstremitas Akral hangat, CRT<2 detik, sianosis (-), edem


ekstremitas (-/-)
Status Neurologis
• GCS E4V5M6 (Kompos Mentis)
• Fungsi Luhur: Normal, Meningeal sign : kaku kuduk (-), kernig sign (-),
Lasegue (-), brudzinski I/II (-)
• Nervus Cranialis
–N. I : tidak dilakukan
–N II : Daya penglihatan (+/+)
–N III, IV, VI : ptosis-/-, pupil bulat isokor ø 3/3 mm, refleks cahaya (+/+),
Diplopia (-), pergerakan bola mata baik ke segala arah, nistagmus (-/-)
–N V : Motorik Normal. Sensorik Normal.
–N VII : mengedipkan mata (+/+), raut muka asimetris, plika nasolabialis kiri lebih
datar
–N VIII : tidak dilakukan
–N IX, X : deviasi uvula (-), menelan masih baik (+/+)
–N XI : menoleh (baik/baik)
–N XII : pergerakan lidah asimetris, deviasi kesebelahah kiri
..Status Neurologis
Ekstremitas Superior Ekstremitas Inferior

Kanan Kiri Kanan Kiri


Kekuatan 5 4 5 4
Trofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
Sensibilitas + + + +
Nyeri - - - -
Reflek + + + +
fisiologis

Reflek - - - -
patologis

Tremor - - - -
Pemeriksaan Laboratorium

15 Oktober 2018
Hb 11,9 g/dL N
Ht 34,0 % N
Leukosit 10.860 /uL N
Trombosit 325.000 /uL N
GDS 99 mg/dL N
Kreatinin 1,4 mg/dL N
Pemeriksaan Penunjang
CT-Scan tanpa kontras
Kepala
• Edema/lesi hipodens
• Midline letak sentral.
Kesan : SOL/ Infark
anterior parietal dextra.
• Infark Lakunar.
Diagnosa

Diagnosa klinis : Hemiparese sinistra


Parese nervus hipoglossus
Diagnosa topis : Gangguan intracerebri
Diagnosa etiologi : Hemiparase sinistra e.c
Space Occupying Lesion (SOL)

12
Terapi
• IVFD NaCl 0,9%  20 tpm
• Inj: Mecobalamin 2 x 500 mg (IV)
Dexametason 4 x 10 mg (IV)
Citicolin 2 x 500 mg (IV)
Ranitidin 2 x 50 mg (IV)
fenitoin 2 x 100 mg (IV)
Metformin 3 x 500 mg (IV)
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi SOL
• Space occupying lesion (SOL) (lesi desak ruang
intrakranial)  neoplasma, jinak atau ganas,
primer atau sekunder, serta setiap inflamasi
yang berada di dalam rongga tengkorak yang
menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial
dan menempati ruang di dalam otak.

• Space occupying lesion intrakranial meliputi


infark, tumor, hematoma, dan abses
PEMBULUH DARAH OTAK
Arteri Karotis Interna

• Nucleus
Kaudatus,
Putamen, Kapsula
Arteri Interna, dan
. Kalosum
Korpus
Serebri • Bagian-bagian
Lobus Frontalis,
Anterior dan Parietalis

• Lobus Temporalis,
Arteri Parietalis dan
Frontalis
Serebri • Sumber Darah Utama
Girus Presentralis
Media dan Postsentralis
....PEMBULUH DARAH OTAK
 Arteri Vertebrobasilaris
Arteri vertebralis kanan dan kiri
 arteri basilaris (sebagian
diensfalon, sebaian lobus
oksipitalis dan temporalis,
apparatus koklearis, dan organ-
organ vestibular)

 Sirkulus willisi
Arteri karotis interna dan arteri
vertebrobasilari disatukan oleh
pembuluh-pembuluh darah
anastomosis yaitu sirkulus
arteriosus willisi
Infark Cerebri
• Infark Cerebri  Pembentukan daerah
nekrosis di otak yang disebabkan oleh iskemia
yang berkepanjangan.
Etiologi Infark Cerebri
Klasifikasi Infark Cerebri
• Infark Sirkulasi Anterior Total (TACI)
• Infark Sirkulasi Anterior Parsial (PACI)
• Infark Lacunar (LACI)
• Infark Sirkulasi Posterior (POCI)
Manifestasi Klinis Infark Cerebri
...manifestasi klinis infark cerebri
...manifestsi klinis infark cerebri
TACI (Infark Sirkulasi Anterior Total)
• Hemiparesis dengan atau tanpa gangguan sensorik (kolateral sisi lesi)
• Hemianopia (kolateral sisi lesi)
• Gangguan fungsi luhur, misalnya afasia

PACI (Infark Sirkulasi Anterior Parsial)


• Defisit motorik / sensorik + hemianopia
• Defisit motorik / sensorik + gejala fungsi luhur
• Gejala fungsi luhur + hemianopia
• Defisit motorik / sensorik murni
• Gangguan fungsi luhur
...manifestsi klinis infark cerebri
LACI ( Infark Cerebri Lacunar)
Pure motor stroke/hemiparesis
• Gejala: Hemiparesis/hemiplegia yang mempengaruhi wajah,
lengan, tungkai.
Ataxic hemiparesis
• Gejala: merupakan kombinasi gejala cerebelar dan gejala motoris
Dysarthria/clumsy hand
• Gejala: gejala utama adalah disartria dan kelemahan tangan, yang
terlihat jelas saat pasien menulis
Pure sensory stroke
• Gejala: mati rasa, kesemutan dan sensasi tidak nyaman pada salah
satu sisi tubuh
Mixed sensorimotor stroke
• Gejala: kombinasi hemiparesis/hemiplegia dengan gangguan
sensoris ipsilateral
POCI ( Infark Sirkulasi Posterior)
• Disfungsi saraf otak, satu atau lebih sisi
ipsilateral, dan gangguan motorik, sensorik
kontralateral.
• Gangguan motorik / sensorik bilateral
• Gangguan gerakan konjungat mata ( horisontal
et vertical).
• Disfungsi serebral
• Isolated hemianopia atau buta kortikal
Infark/stroke Lakunar
• Infark lakunar/stroke lakunar  infark kecil yang
terletak pada bagian noncortical dari cerebrum (otak
besar) dan brainstem (batang otak) dan merupakan
hasil dari oklusi yang menembus cabang arteri
cerebral, arteri cerebral media, arteri cerebral
posterior, basilar, dan jarang terjadi pada arteri
cerebral anterior dan tulang belakang.

• Stroke lakunar timbul bila pembuluh darah kecil yang


mengalami lipohialinosis menjadi tersumbat dan
timbul infark kecil.

• Stroke lacunar memiliki beberapa jenis ukuran dari


ukuran yang besar yaitu 1,5 cm hingga 2,0 cm dan
ukuran yang sangat kecil yaitu 3 mm hinga 4 mm.
Infark/stroke Lakunar
• Infark lakunar dapat bermanifestasi dalam 4
macam sindroma:
• 1) Pure motor hemiparesis (infark di kapsula
interna dan pons).
• 2) Pure sensory stroke (talamus).
• 3) Homolateral ataxia and aural paresis (kaps.
Interna dan korona radiata).
• 4) Dysarthria and clumsy hand (pons)
Hemiparese
• Hemiparese  Kelemahan otot-otot lengan
dan tungkai pada satu sisi. Pada hemiparese
terjadi kelemahan sebagian anggota tubuh dan
lebih ringan daripada hemiplegi.
• Penyebab tersering hemiparesis pada orang
dewasa yaitu infark serebral atau perdarahan.
Patofisiologi Hemiparese
• Adanya kelainan atau lesi sepanjang traktus
piramidalis.
• Lesi ini dapat disebabkan oleh berkurangnya
suplai darah, kerusakan jaringan oleh trauma
atau infeksi, ataupun penekanan langsung dan
tidak langsung oleh massa hematoma, abses,
dan tumor  adanya gangguan pada traktus
kortikospinalis yang bertanggung jawab pada
otot-otot anggota gerak atas dan bawah.
Lesi setingkat pedunkulus serebri, seperti
proses vaskular, perdarahan, atau tumor,
menimbulkan hemiparesis spastik kontralateral
Lesi Korteks Cerebri yang dapat disertai oleh kelumpuhan nervus
Suatu lesi yang melibatkan okulomotorius ipsilateral. Lesi pons yang
korteks serebri, seperti pada melibatkan traktus piramidalis (tumor, iskemia
tumor, infark, atau cedera batang otak, perdarahan) menyebabkan
traumatic, menyebabkan hemiparesis kontralateral atau mungkin
kelemahan sebagian tubuh sisi bilateral.
kontralateral. Hemiparesis yang
terlihat pada wajah dan tangan Lesi pada pyramid medulla (biasanya akibat
(kelemahan brakhiofasial) lebih tumor) dapat merusak serabut-serabut traktus
sering terjadi dibandingkan di piramidalis secara terisolasi, karena serabut-
daerah lain karena bagian tubuh serabut nonpiramidal terletak lebih ke dorsal
tersebut memiliki area pada tingkat ini.
representasi kortikal yang luas Akibatnya, dapat terjadi hemiparesis flasid
kontralateral. Kelemahan tidak bersifat total
(paresis, bukan plegia), karena jaras desendens
lain tidak terganggu.
Penegakan Diagnosis
Anamnesis :
• Defisit neurologis yang terjadi secara tiba-tiba
• saat aktifitas/istirahat
• Onset
• Nyeri kepala/tidak, kejang/tidak, muntah/tidak, kesadaran
menurun, serangan pertama atau berulang.
• Faktor resiko stroke.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang:
• Foto polos kepala
• Arteriografi
• Computerized Tomografi (CT Scan)
• Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Tata Laksana
Tatalaksana umum di IGD
a. Stabilisasi jalan napas dan pernapasan
b. Stabilisasi hemodinamik
c. Pemeriksaan awal fisik umum
d. Pengendalian peningkatan TIK
e. Pengendalian kejang
f. Pengendalian suhu tubuh
…Tata Laksana
Tata laksana umum di ruang rawat
a. Jaga euvolemi dengan pemberian cairan isotonis
b. Jaga keseimbangan elektrolit
c. Koreksi asidosis dan alkalosis yang mungkin terjadi
d. Nutrisi enteral
e. Mobilisasi dan cegah komplikasi subakut
f. Antibiotik atas indikasi dan sesuaikan dengan pola
kuman
g. Analgetik, antiemetic, dan antagonis H2 bila ada
indikasi
h. Pemasangan kateter urin
Tata Laksana Khusus
Stroke Iskemik
1. Tata laksana hipertensi
2. Tata laksana hipoglikemia dan hiperglikemia
3. Trombolisis pada stroke akut
rTPA dosis 0,9 mg/kgBB. KI: usia >80 thn, konsumsi
antikoagulan oral, jejas iskemik > 1/3 area arteri serebri
media, riwayat stroke dan DM.
4. Antitrombosit
aspirin dosis awal 325mg dalam 24-48 jam setelah awitan
stroke. Atau klopidogrel 75 mg/hari
5. Obat neuroprotektor
Citicolin. Dosis awal 2x1000mg IV selama 3 hari. Lanjut
2x1000mg PO selama 3 minggu.
Pencegahan
• Primer : kendalikan faktor resiko, gizi
seimbang, dan olahraga teratur.
• Sekunder : mengendalikan faktor resiko,
medikamentosa dan tindakan invasif bila perlu.
Terima kasih