Anda di halaman 1dari 46

BEDAH JANTUNG PADA

ANAK DAN DEWASA

Meihastini
TUJUAN PERSIAPAN PRA-BEDAH

Persiapan pra-bedah bertujuan agar supaya :


• Pasien kooperatif setelah pembedahan
• Persiapan mental dan fisik untuk
menghadapi tindakan bedah
• Tidak terjadi penyulit/komplikasi
• Hasil yang didapat merupakan bahan
perbandingan dan pasca bedah
PERSIAPAN PRA-BEDAH UMUM

Persiapan pra-bedah yang umum meliputi


pengkajian :
• Wawancara pasien/keluarga dan lain-lain
yang berkepentingan
• Riwayat perawatan
• Pengkajian fisik
• Pengkajian keseimbangan cairan dan
elektrolit
• Pengkajian sistem tubuh
HAL-HAL YANG PERLU DIINTERVENSI PADA
FASE PRA-BEDAH

1. Orientasi Ruangan/kegiatan rutin


Meliputi keluarga dan yang berkepentingan
Memperkenalkan teman sekamar

2. Memberi penjelasan mengenai prosedur pra-


bedah
Informasi tentang pembedahan dan anastesi
Prosedur kegiatan rutin dan macam-macam
persiapan sebelum operasi
Prosedur kegiatan rutin pada hari operasi
Teknik pencegahan terjadinya komplikasi :
• Napas dalam/batuk
• Cegah terbukanya insisi
• Cegah terbukanya insisi
• Latihan kaki
• Perubahan posisi dan tempat tidur, bangun
dari tempat tidur dan mobilisasi

3. Pengkajian data dasar (untuk perbandingan


status pasca bedah)

4. Tes diagnostik
5. Profilaksis pra-bedah untuk mencegah
tromboemboli vena pasca bedah
 Identifikasi faktor resiko
 Pemberian heparin dosis rendah (untuk pasien
dengan usia diatas 40 tahun terutama toraks
dan abdomen)
PERSIAPAN PASIEN SESUAI INSTRUKSI
• Cukur area pembedahan
• Cek surat izin tindakan
• Klisma jika dibutuhkan
• Lepaskan perhiasan, lensa kontak, mata palsu.
Identifikasi dan simpan di tempat yang aman atau
berikan kepada keluarga untuk dibawa pulang
• Lepaskan gigi palsu (kecuali ada instruksi untuk
dipakai)
• Cek benda-benda asing dalam mulut
• Bersihkan cat kuku
• Lepaskan jepitan rambut/kepang rambut
• Bersihkan make-up
• Sediakan baju khusus
• Segera bawa ke ruang operasi setelah ada panggilan
• Catat waktu
FAKTOR PEMBEDAHAN YANG PERLU
PENGKAJIAN
1. Kegemukan
• Mempermudah terjadinya infeksi akibat
penurunan vaskularisasi jaringan lemak
• Jaringan lemak penyembuhan luka
• Kesulitan mobilisasi sehingga resiko
meningkatnya komplikasi paru
• Kebutuhan kerja jantung meningkat
• Resiko terjadinya kelainan pada sistem
endokrin, ginjal dan hari meningkat
2. Usia Lanjut
• Potensial meningkatnya efek kumulatif obat-
obatan
• Reaksi terhadap injuri lebih tampak
dibandingkan dengan pasien yang lebih muda
• Golongan narkotik/sedatif pada dosis yang
biasa, bisa menyebabkan disorientasi atau
depresi napas
• Perubahan tempat dapat menyebabkan
kebingungan dan disorientasi
3. Dehidrasi/Malnitrisi
• Potensial terjadinya efek yang lebih lanjut dan
anastesi sehingga menimbulkan
ketidakseimbangan cairan elektrolit dan syok
• Memperlambat proses penyembuhan luka
4. Adanya faktor-faktor lain :
• Diabetes Melitus
Waspada terhadap terjadinya resiko yang
mengancam jiwa sehubungan dengan potensial
hipoglikemi sebagai hasil dari kelebihan dosis
insulin/tidak adekwatnya intake karbohidrat.
Meningkatnya resiko intra dan pasca operasi
dengan adanya ketoasidosis/glukosuria
 Meningkatkan resiko infeksi
Menghambat proses penyembuhan luka
Potensial terjadi masalah sistem immunologi
• Kardiovaskuler
• Resiko terjadinya komplikasi pada sistem
kardiovaskuler, ginjal, dan paru pasca bedah
• Sistem Pernapasan
• Adanya masalah-masalah sistem pernapasan
dapat menunda pembedahan sampai
masalah ini terkontrol dengan baik
• Adanya infeksi saluran pernapasan atas
(ISPA) dapat menyebabkan pneumonia atau
masalah respirasi yang lain
• Sistem ginjal/hati
• Adanya masalah pada ginjal/hati dapat
menyelesaikan keracunan obat anastesi dan
mengganggu ekskresi zat-zat tersebut dari
ginjal
• Penyakit hati yang kronik dapat meningkatkan
kecenderungan pendarahan pasca bedah,
lambatnya proses penyembuhan luka dan infeksi
• Penyakit ginjal dapat mengganggu eliminasi sisa-
sisa metabolisme dan dapat menyebabkan
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
• Riwayat pengobatan yang lalu dan sekarang
• Bahaya terjadinya interaksi obat-obatan yang
dipakai sebelumnya denga obat anastesi,
sehingga terjadi hipotensi, ketidakseimbangan
elektrolit dan syok
• Alkoholisme
• Bahaya pada malnutrisi
• Mudah terjadi kecelakaan
• Bahaya terjadi delerium
• Gangguan faat hati
PERSIAPAN SEHARI SEBELUM PEMBEDAHAN UNTUK
PASIEN DEWASA
• Persiapan bedah meliputi :
• Persiapan administrasi
• Persiapan fisik yang dilakukan sore hari menjelang operasi,
meliputi :
• Persiapan kulit
• Persiapan gastrointestinal
• Memperhatika kenyamanan, istirahat dan tidur (jika
diperlukan obat-obat penenang seperti: diazepam 5mg atas
instruksi dokter anastesi)
• Laboratorium lengkap
• Darah dari PMI
• Permintaan darah PMI ada 3 komponen, yaitu :
• Packedcell : 1000 cc (15-20 cc/kgBB)
• FFP : 5 UNIT
• Trombosit : 5 unit
• Permintaan komponen darah tambahan atas instruksi dokter
bedah
• Pemeriksaan penunjang : gigi, THT dan paru-paru
• Hasil-hasil pemeriksaan a.l: kateterisasi, ekokardiografi,
treadmill, foto toraks, dll
• Persiapan mental
• Obat-obatan
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
PRA-BEDAH
• Obat-obat antikoagulan dihentikan 1 minggu sebelum
operasi, misalnya: aspirin, sintrom
• Obat-obat diuretik dihentikan 3 hari sebelum operasi,
misalnya: furosemide (Lasix), spironolactone
(Aldactone), kecuali bila ada instruksi lain dari dokter
• Obat digitalis dihentikan 12 jam sebelum operasi,
misalnya: digoxin, Lanoxin dll
• Obat Calcium blocker (Adalat, Herbesser) atau beta
blocker (Tenormin, Lopressor dll), Nitrat (Vascardin,
Nitrocid, Isoket) diberikan sampai hari operasi
• Pada kelainan katup jika ada lokal infeksi pada gigi,
kolaborasi dokter kemungkinan operasi ditunda
• Bila ada ketidaknormalan hasil tes laboratorium dll,
kolaborasi dokter
PERSIAPAN HARI OPERASI
• Observasi tanda vital: tekanan darah, nadi, suhu, laju
pernapasan
• Cek pengosongan gastrointestinal apakah sudah berhasil
dengan obat-obat laxant: dulcolax tablet/supposioria. Bila
belum berhasil, kolaborasi dokter untuk klisma
• Mandi dengan sabun betadin tanpa keramas
• Ganti gaun bersih
• EKG lengkap (catat hasil)
• Cek obat-obat yang dihentikan dan yang masih diminum
sampai hari pembedahan
• Cek obat-obetan yang disertakan antara lain antibiotik, dll
• Cek apakah ada: perhiasan, kacamata, giogi palsu, dll. Bila
ada beritahu keluarga terdekat untuk penyimpanannya
• Cek kelengkapan pengisian sistem pendokumentasian
• Menyediakan waktu berbeda bersama keluarga
• Siap ke kamar operasi diantar Ners
• Dokumentasikan waktu pasien dibawa ke ruang operasi
PERSIAPAN PRA-BEDAH PENYAKIT
JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DAN BAYI
Persiapan pra-bedah pada bayi/anak tidak
banyak beda, perbedaannya hanyalah pada
jenis operasi tertutup atau terbuka.
Persiapan operasi meliputi:
1.Persiapan administrasi, yaitu
• surat izin tindakan
• pembiayaan
2.Persiapan pasien
• Persiapan fisik
• Persiapan mental
PERSIAPAN PASIEN SEHARI SEBELUM
OPERASI
• Menyiapkan formulir Check list pra-bedah
• Observasi tanda vital: tekanan darah, nadi, suhu dan
laju pernapasan
• Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
• Cek laboratorium lengkap
• Persiapan darah PMI:
• Untuk bedah jantung tertutup
• Packed cell 250 cc
• Untuk bedah jantung terbuka
• BB < 6 kg : Darah heparin 500 cc
Packed Red Cell 150 cc
FFP 1 unit
Trombosit 1 unit
• BB 6-20 kg : Whole blood 500 cc
Packed Red Cell 250 cc
FFP 1 unit
Trombosit 1 unit
• BB 20-40 kg : PRC 500 cc (20 ml/kgBB)
FFP 3 unit
Trombosit 3 unit
• BB > 40 kg : PRC 1000 (20 ml/kgBB)
FFP 3 unit
Trombosit 5 unit
• Cek hasil-hasil pemeriksaan kateterisasi, eko, foto
toraks, gigi dan THT
• Catat hasil
• Apabila belum lengkap kolaborasi dokter
• Cek obat-obat yang didapat
• Siapkan konsul-konsul: anastesi, dll
• Catat obat-obat pra-bedah
• Pasien dipuasakan 4-6 jam
• Cukur bila diperlukan
• Mandi sabun betadin yang tersedia (dibantu Ners dan
keluarga)
• Memberikan informasi yang jelas kepada keluarga
pasien mengenai persiapan pra-bedah
• Operientasi ICU (dilakukan sore hari)
• Pemberian obat-obatan pencahar (dulcolax 5mg)
diberikan pada usia kurang dari 5 tahun dan diatas 5
tahun diberi microlax
• Memberikan dorongan dan selalu siap membantu
pasien/keluarga, serta selalu menjawab setiap
pertanyaannya dengan jelas, ramah, sehingga
kecemasan/ketakutan pasien/keluarga berkurang
• Ners memberikan informasi yang jelas
mengenai:
• Kegunaan kateter dan slang serta alat bantu
napas
• Peraturan berkunjung
• Kebersihan diri
• Mobilisasi cepat
• Nafsu makan
• Semangat untuk sembuh
• Khusus untuk bayi/anak yang belum mengerti,
semua informasi diatas hendaknya
disampaikan kepada keluarga, agar bersama
tim keperawatan mendukung proses
persiapan pra-bedah
• Sebelum diantar ke kamar operasi, diharapkan
Dokter bedah dan anastesi dan juga dokter
spesialis jantung yang merawat menemui
pasien untuk mengetahui apakah masih ada
masalah pra-bedah yang perlu diselesaikan,
sekaligus saling kenal dengan
pasien/keluarganya
• Memperhatikan kenyamanan pasien (istirahat
dan tidur cukup)
• Persiapan spiritual
• Persiapan mental sangat bergantung pada
support keluarga (perawat berperan dalam hal
ini)
• Mengisi Check List pra-bedah yang tersedia
PERSIAPAN INTRA BEDAH
DEFINISI BEDAH JANTUNG
• Bedah jantung secara mudah dapat didefinisikan
sebagai suatu upaya untuk mengoreksi kelainan
anatomi dan fungsi jantung

PEMBAGIAN BEDAH JANTUNG


Pembedahan jantung dapat dibagi dalam:
1. Bedah jantung terbuka, yaitu pembedahan yang
dilakukan dengan membuka ruang antung memakai
dukungan mesin pintas jantung parut
(Cardiopulmonary bypass machine/Ekstrakorporal)
2. Bedah jantung tertutup, yaitu pembedahan yang
dilakukan tanpa membuka ruang jantung sehingga
tidak perlu menggunakan mesin pintas jantung paru
TUJUAN PEMBEDAHAN JANTUNG
1. Koreksi total/menyeluruh tehadap kelainan anatomi,
seperti:
• Penutupan Defek Septum (atrial Septal Defect-
ASD, Ventricular Septal Defect-VSD)
• Koreksi Tetralogy of Fallot (TOF)
• Transportasi Arteri Besar (Transposistion of The
Great Arteries-TGA)
• Reparasi terhadap Koartasio Aorta, Stenosis
pulmonal dll
2. Bedah paliatif, yaitu melakukan operasi sementara
dengan tujuan mempersiapkan pasien untuk
menghadapi operasi definitif dikemudian hari.
• Aorto Pulmonary Shunt atau Blalock-Taussig
Shunt (memasang saluran Goretex dari arteri
Sub-Klavia ke arteri Pulmonal) pada Tetralogi
Fallot atau Pulmonary Atresia dengan BSD,
Tricuspid Atresia
• Pulmonary Arteri Banding (PAB) untuk
mengurangi aliran ke paru pada penyakit
jantung bawaan dengan aliran darah ke paru
yang berlebihan
3. Reparasi pada katup yang mengalami penyempitan
dan kebocoran
4. Penggantian katup jantung yang mengalami
kebocoran/penyempitan
5. Bedah Pintas Koroner (Coronary Artery Bypass Graft-
CABG) memakai Trasplantat Vena Saphena dan Arteri
Mammaria Interna, untuk mengatasi sumbatan arteri
koroner
6. Transplantasi jantung, yaitu mengganti jantung
seseorang yang tidak mungkin diperbaiki lagi dengan
jantung dari pasien yang meninggal karena sebab
lain.
INDIKASI PEMBEDAHAN JANTUNG
1. Penyakit Jantung Bawaan (PJB)
• Pada PJB dengan pirau: besarnya akan pirau kiri ke
kanan sama atau lebih dari 1,5 (aliran ke paru: aliran
ke sistemik > 1,5)
• Penyakit Jantung Bawaan Sianotik
• Kelainan anatomi pembuluh darah besar dan koroner
• Reparasi kelainan katup kongenital
2. Penyakit Jantung Koroner (PJK)
• Untuk menghilangkan angina pektoris pada klien
dengan angina kronik yang tidak respons dengan terapi
medikal
• Klien left main stenosisi > 60%
• Oklusi arteri koroner > 70% pada satu pembuluh atau
lebih
• Angina yang tidak stabil
• Adanya disritmia yang maligna/ganas
• Klien PTCA yang bermasalah: diseksi, komplikasi lain
3. Penyakit Katup Jantung (PKJ)
a. Aorta
• Stenosis katup Aorta berat atau aotic Valva Area
(AVA) < 0,6 cm2
• Pasien dengan gejala kelas fungsional III atau IV-
NYHA
• Pasien dengan disfungsi ventrikel kiri
• Pasien dengan kelas fungsional II atau lebih
Canadian Heart Assosiation dengan atau tanpa
CAD
b. Mitral
• Pasien dengan gejala kelas fungsional III-IV-NYHA
• Mitral stenosis sedang (Mitral valve Area/ MVA <
1,5 cm2
• Pasien dengan NYHA kelas fungsional II, III atau
IV dengan gejala
• Regurgitasi Mitral akut yang simtomatik
• Pasien dengan disfungsi LV yang berat (EF < 30%)
• Pasien dengan MVP (Mitral Valve Prolaps)
c.Trikuspid
• Anuloplasti pada regurgitasi katup trikuspid
yang berat disertai hipertensi pulmonal
• Penggantian katup trikuspid akibat stenosis
katup Trikuspid yang berat dan kondisi katup
yang sangat buruk
• Penggantian katup atau anuloplasti pada
regurgitasi trikuspid yang berat, dengan
tekanan arteri pulmonalis < 60 mmHg dan
disertai gejala
4. Tumor dalam ruang jantung
Seringkali menyebabkan obstruksi pada katup,
misalnya Myxorna
5. Trauma jantung
Trauma jantung dengan akibat tamponade atau
perdarahan perlu segera dioperasi
6. Transplantasi jantung
TOLERANSI DAN PERKIRAAN RESIKO OPERASI
Toleransi terhadp operasi diperkirakan berdasarkan
keadaan umum pasien, yang biasanya digambarkan
dengan klasifikasi fungsional dari New York Heart
Assosiation (NYHA)
Klas I : Keluhan timbul bila bekerja sangat
berat, misal: berlari
Klas II : Keluhan timbul pada aktifitas cukup
berat, misal: berjalan cepat
Klas III : Keluhan timbul pada aktifitas fisik
yang melebihi aktifitas kebutuhan primer
Klas IV : Keluhan sudah dirasakan pada aktifitas
untuk kebutuhan primer, misal: makan,
sehingga pasien harus terus berbaring
PENGKAJIAN PASIEN PADA SAAT TIBA DI
KAMAR OPERASI
1. Observasi tingkat kesadaran pasien
2. Observasi emosi pasien
3. Observasi aktivitas
4. Cek obat yang digunakan
5. Observasi pernapasan pasien
6. Riwayat penyakit, keluarga, kebiasaan hidup
7. Cek obat yang digunakan
8. Observasi tanda-tanda vital: tekanan darah,
nadi, suhu, pernapasan
9. Observasi kulit: warna, turgor, suhu,
keutuhan
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. EKG : Untuk mengetahui disritmia


2. Chest x-ray
3. Hasil lab : darah lengkap, koagulasi, elektrolit,
ureum, kreatinin, BUN, HbsAg
4. Kateterisasi
5. Echo
TINDAKAN PERAWAT PADA SAAT MENERIMA
PASIEN DI RUANG PERSIAPAN
1. Melakukan serah terima dengan perawat ruangan
2. Memperkenalkan diri dan anggota tim kepada
pasien
3. Mencek identitas pasien dengan memanggil
namanya
4. Memberi support kepada pasien
5. Informasikan kepada pasien tentang tindakan yang
akan dilakukan seperti ganti baju, pemasangan
infus, kanulasi arteri dan pemasangan lead EKG
6. Mendampingi pasien saat pemberian premedikasi
7. Menciptakan situasi yang tenang
8. Yakinkan pasien tidak menggunakan gigi palsu,
perhiasan, kontak lensa dan alat bantu dengar
9. Membawa pasien ke ruang operasi
PERAWATAN INTRA OPERASI
1. Airway (jalan napas) persiapkan alat untuk
mempertahankan airway antara lain: guedel,
laringoskop, ETT berbagai ukuran, sistem hisap lendir
2. Breathing (pernapasan)
persiapkan alat untuk terapi O2 antara lain kanula,
sungkup, bagging dan ventilator
3. Circulation (sirkulasi)
• Pemantauan EKG, sering digunakan lead II untuk
memantau dinding miokard bahan inferior dan V5
untuk antero lateral (Friedman dan Sethna, 1990)
• Kanulasi arteri dipasang untuk memantau tekanan
arteri dan analisa gas darah
• Pemasangan CVP untuk pemberian darah
autologus dan infus kontinu, serta obat-obatan
yang perlu diberikan
• Pemasangan kateter arteri Pulmonal (Swan Ganz) melalui
Vena Jugularis atau Vena Subclavia, untuk memantau
tekanan dalam ruangan jantung, curah jantung dan
saturaksi oksigen. Tekanan diastolik arteri pulmonal dapat
digunakan sebagai petunjuk dalam pemberian cairan
selama operasi
• Pemasangan kateter urine untuk memantau produksi urine
selama operasi
• Temperatur: sering digunakan mesofaringeal atau rektal
untuk mengevaluasi status pasien dari cooling dan
rewarning, tingkat proteksi miokard, adekuatnya perfusi
peifer dan hipertermi maligna
• Pada beberapa sentra sering dipasang elektro
enchephalogram untuk memantau kejadian akut seperti
iskemia/injuri otak
• Pemberian obat-obatan: untuk anastesi dengan tujuan
tidak sadar, amnesia, analgesia, relaksasi otot dan
menurunkan respons stres. Sedangkan obat yang lain
seperti inotropik, kronotropik, antiaritmia, diuretik, anti
hipertensi, anti koagulan dan koagulan juga diperlukan.
4. Defibrilator
alat ini disiapkan untuk mengantisipasi aritmia yang
mengancam jiwa seperti ventrikel fibrilasi. Padle yang
disiapkan eksternal dan internal
5. Diathermi
Dalam melakukan pemasangan ground pad harus
disesuaikan dengan ukuran untuk mencegah panas
yang terlalu tinggi pada tempat pemasangan
6. Posisi pasien di meja operasi
Mengatur posisi pasien tergantung dari prosedur
operasi yang akan dilakukan: supine, left/right upper
lateral, anterolateral. Hal yang perlu diperhatikan:
posisi harus fisiologis, sistem muskulosketal harus
terlindung, lokasi operasi mudah terjangkau, mudah
dikaji oleh anastesi, beri perlindungan pada bagian
yang tertekan (kepala, sakrum, skapula, siku dan
tumit)
7. Persiapan lain: TEE (Trans Esophageal
Echocardiography)
Untuk melihat pergerakan jantung, fungsi katup,
fungsi miokard, aliran pirau intrakardiak, udara di
ruang jantung, serta efektif tidaknya venting.
Kemudian perlu diantisipasi untuk persiapan
pemasangan IABP (Intra Aortic Ballon Pump)
8. Menjaga tindakan asepsis
Kondisi asepsis dicapai dengan: cuci tangan,
melakukan preaparasi kulit dan drapping, menjaga
sterilitas dari alat yang dipakai, menggunakan gaun
dan sarung tangan yang steril
ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN PASCA BEDAH
JANTUNG
PENANGANAN AKUT

• Prioritas di unit perawatan kritis ,


- tanda-tanda vital,
- jenis operasi,
- alat-alat ang terpasang pada pasien.
• Spesifik adalah pengkajian terhadap
- sistem kardiovaskuler,
- respirasi ginjal, neurologi, gastro-intestinal
• - pemeriksaan laboratorium dan diagnostik.
• Pengkajian dilakukan setiap 15 menit pada 6 jam
pertama pasien di ICU, dan jika keadaan pasien
stabil dilakukan setiap jam.
• Data awal dicatat pada lembar observasi
KARDIOVASKULER
• Pengkajian pada sistem kardiovaskuler diawali dengan
melakukan pengkajian terhadap parameter
hemodinamik. Pengkajian ini meliputi pemeriksaan:
• Tekanan darah arteri
• Frekuensi nadi
• Tekanan arteri pulmonal
• Tekanan kapiler arteri pulmonal
• Tekanan vena sentral
• Suhu tubuh sentral (dan perifer terutama pada
anak dan bayi)
• Warna kulit terutama pada baltan perifer
RESPIRASI
• Kondisi pasien selama operasi
• Ukuran endotrakheal tube (ETT)
• Masalah yang dihadapi pada saat intubasi, obat-obat
anastesi yang diberikan
• Lamanya pemakaian mesin pintas jantung paru serta
masalah yang terjadi selama operasi berlangsung

Pengkajian terhadap parameter ventilasi mekanik


yang digunakan oleh pasien meliputi:
• Persentase fraksi oksigen
• Volum tidal
• Frekuensi pernapasan
• Modus yang digunakan
GINJAL
Pengkajian pada sistem ginjal terutama
ditujukan pada status keseimbangan cairan
yang meliputi:
• Jenis dan jumlah cairan yang diberikan di
ruang operasi
• Jenis cairan yang sekarang terpasang pada
pasien
• Jumlah cairan atau obat-obatan yang tersisia
pada botol infus atau siringe pump
• Jumlah cairan masuk dan keluar
NEUROLOGI
Pengkajian pada status neurologi meliputi kesadaran,
ukuran pupil, pergerakan semua ekstrimitas, dan
kemampuan menanggapi respon verbal maupun
nonverbal

GASTROINTESTINAL
Pengkajian pada status gastrointestinal mencakupi
auskultasi bising usus, palpasi abdomen (datar, lembut,
dan distensi) serta rasa sakit pada saat palpasi
PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN
DIAGNOSTIK
• Pemeriksaan lab dan diagnostik dilaksanakan
setelah kondisi pasien dalam keadaan stabil.
• Pemeriksaan darah yang dikerjakan adalah analisa gas
darah, elektrolit, Hb, Ht, enzim CK dan CKmB
(pada CABG), ureum, kreatinin, dan faktor pembekuan
darah. Pemeriksaan darah yang spesifik dilakukan
setiap 4 jam atau disesuaikan dengan kondisi pasien.
• Perekaman EKG bertujuan sbg data dasar pasien
pasca bedah dan mendeteksi MI yang kemungkinan
terjadi setelah pembedahan.
•Pemeriksaan Ro foto toraks dikerjakan unt memastikan
besar jantung, ventilasi yg adekuat, dan posisi alat2
yang terpsg sept ETT, kateter Swans-Ganz, kateter
• Resiko terjadi komplikasi sistem respirasi
Beberapa contoh diagnosis keperawatan pada sistem
respirasi :
• Jalan napas tidak efektif
• Gangguan pola napas
• Gangguan pertukaran gas
• Resiko terjadi pneumonia
• Resiko terjadi pneumotoraks dan hemotoraks

Faktor penyebab dari masalah tersebut di atas adalah :


• Depresi sistem saraf pusat akibat pemakaian obat-obatan
anastesi dan narkotik
• Perubahan hemodinamik yang tiba-tiba sehingga curah
jantung rendah atau gagal jantung
• Efek mesin pintas jantung paru seperti hemodilusi dan
rusaknya sel darah merah. Hemodilusi menyebabkan
kapasitas oksigen yang dibawa untuk sel berkurang
• Efek mesin pintas jantung paru seperti hemodilusi dan
rusaknya sel darah merah. Hemodilusi menyebabkan
kapasitas oksigen yang dibawa untuk sel berkurang
• Kerusakan surfaktan yang disebabkan hipotermi,
penggunaan oksigen dengan konsentrasi tinggi
(100%) dalam waktu yang lama, humidifikasi yang
tidak adekuat, dan pemberian volum tidal yang terlalu
tinggi atau rendah. Rusaknya surfaktan menimbulkan
kolap alveolar
• Kelalian peraatan sistem drainase
• Pemberian volum tidal dan tekanan positif dan
ventolator yang terlalu tinggi
• Posisi alat-alat pantau tekanan tidak tepat seperti
pemasangan CVP masuk ke intra pleura
Intervensi perawatan yang dilaksanakan meliputi :
• Melakukan auskultasi suara napas pada kedua paru.
Jika pada paru kiri tidak terdengar suara napas, maka
kemungkinan disebabkan letak ETT terlalu dalam
sehingga udara hanya masuk ke paru kanan. Lakukan
pula auskultasi pada bagian bawah paru
• Mengkaji perkembangan dada untuk mengetahui
bahwa volum tidal yang diberikan cukup adekuat
• Memeriksa posisi ETT, jika terlalu dalam akan
menyebabkan batuk dan pasien melawan ventilator
• Memantau perubahan pada pengaturan ventilator.
Peningkatan tekanan jalan napas secara bertahap
merupakan indikasi penurunan daya regang paru oleh
karenanya data dasar parameter pengaturan
ventilator harus dikaji dan dicatat