Anda di halaman 1dari 12

Lathif laksono

Fara Iga Farizal


Prima Erza Yudha T
Sejak generasi awal Islam sampai sekarang, pandangan kaum Muslim
tentang kedudukan ilmu pengetahuan dalam kehidupan mereka tetap
sama, bahwa ilmu adalah kunci kesuksesan; ilmu adalah prasyarat
mutlak bagi usaha-usaha meraih kebahagiaan hidup baik di dunia
maupun di akhirat.

Al-Qur’an dan al-sunnah dalam kedudukannya sebagai sumber utama


ajaran Islam memang memberi landasan kuat terbentuknya kerangka
berpikir yang menempatkan ilmu sebagai asas kehidupan umat
Muslim dan asas peradaban Islam. Secara historis-sosiologis dapat
dikemukakan bahwa kehadiran Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi
Muhammad Saw melahirkan situasi yang berbeda dengan apa yang
terjadi pada nabi-nabi sebelum beliau. Kendati nabi Musa as, Dawud
as, dan Isa as diturunkan kitab-kitab suci yang kelihatannya memiliki
kedudukan yang serupa dengan kitab suci Al-Qur’an, yakni sebagai
manifestasi kehendak Tuhan Allah SWT yang harus dijadikan
pedoman bagi umat manusia, namun dari kitab-kitab tersebut terdapat
perbedaan yang cukup signifikan dan khas.
Manusia adalah makhluk satu-satunya yang secara potensial diberi
kemampuan untuk menyerap ilmu pengetahuan. Penghargaan ini
dapat dilihat dari beberapa aspek
 Pertama, turunya wahyu pertama (al-Alaq : 1-5), ayat yang dimulai
dengan perintah membaca. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya
aktivitas membaca bagi kehidupan manusia terutam dalam menangkap
hakikat dirinya dan lingkungan alam sekitarnya
 Kedua, banyaknya ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk
menggunakan akal, pikiran dan pemahaman (Al-Baqarah 2 : 44, Yaa
siin 36 : 68, Al-An’aam 6 : 50) . Ini menandakan bahwa manusia yang
tidak memfungsikan kemampuan terbesar dalam dirinya itu adalah
manusia yang tidak berharga
 Ketiga, Allah memandang rendah orang-orang yang tidak mau
menggunakan potensi akalnya sehingga mereka disederajatkan dengan
binatang, bahkan lebih rendah dari itu ( al- A’raf 7 : 179)
 Keempat, Allah memandang lebih tinggi derajat orang yang berilmu
dibandingkan orang-orang yang bodoh ( Az-Zumar 39 : 9)
Secara sederhana pengetahuan dapat dimaknai dengan “pemahaman
subyek terhadap obyek”. Sementara ilmu adalah pengetahuan yang
sudah diklasifikasi, diorganisasi disistematisasi, dan diinterpretasi,
menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya dan
dapat diuji ulang secara ilmiah. Istilah ilmu kadangkala dipadankan
pula dengan istilah sains yang biasa diartikan sebagai pengetahuan
alam dan dunia fisik.
Secara etimologis kata ‘ilm (ilmu) dalam bahas Arab berarti kejelasan,
jadi ilmu pengetahuan atau sains adalah himpunan pengetahuan
manusia yang dikumpulkan melalui proses pengkajian dan dapat
dinalar atau diterima oleh akal.
Dalam pemikiran sekuler, sains mempunyai tiga karakteristik, yaitu
obyektif, netral, dan bebas nilai, sedangkan dalam pemikiran Islam,
sains tidak bebas nilai baik nilai lokal maupun nilai universal.
Sedangkan teknologi merupakan salah satu budaya sebagai hasil
penerapan praktis dari ilmu pengetahuan
Dalam sebuah hadist rasulullah bersabda, “ mencari ilmu itu wajib bagi
setiap muslim, dan orang yang meletakkan ilmu pada selain yang
ahlinya bagaikan menggantungkan permata dan emas pada babi
hutan.”(HR. Ibnu Majah dan lainya)
Selain kitab suci Al-Qur’an alam semesta juga merupakan obyek ilmu.
Alam adalah great book, kitab ciptaan Tuhan, dan karenanya alam
harus dipahami, dilihat, diamati, dan diteliti dengan pandangan hidup
islam
SUMBER ILMU PENGETAHUAN
Dalam pemikiran Islam ada dua sumber ilmu, yaitu akal dan
wahyu. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Ilmu yang
bersumber dari wahyu Allah bersifat abadi (perennial
knowledge) dan tingkat kebenaran mutlak (absolute)
Sedangkan Ilmu yang bersumber dari akal manusia bersifat
perolehan (acquired knowledge), serta tingkat kebenarannya
nisbi (relative) karena itu tidak ada istilah final dalam suatu
produk ilmu pengetahuan

Al-Qur’an menganggap “anfus” (ego) dan “afak” (dunia) sebagai


sumber pengetahuan
BATASAN IPTEK DALAM ISLAM
Iptek dan segala hasilnya dapat diterima oleh masyarakat Islam
manakala bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jika
penggunaan hasil iptek akan melalaikan seseorang dari dzikir
dan tafakkur, serta mengantarkan pada rusaknya nilai-nilai
kemanusiaan, maka bukan hasil teknologinya yang ditolak,
melainkan manusianya yang harus diperingatkan dan diarahkan
dalam menggunakan teknologi
Islam sebagai agama yang mengandung ajaran aqidah, akhlak
dan syariah, senantiasa mengukur segala sesuatu (benda-benda,
karya seni, aktivitas) dengan pertimbangan-pertimbangan
ketiga aspek tersebut
Sumber pengembangan iptek dalam Islam adalah wahyu Allah.
Iptek yang Islami selalu mengutamakan dan mengedepankan
kepentingan orang banyak dan kemaslahatan bagi kehidupan
umat manusia. Untuk itu iptek dalam pandangan Islam tidak
bebas nilai.
INTEGRASI IMAN,IPTEK DAN AMAL

Dalam Al-Qur’an surat Ibrahim: 24-25, Allah telah memberikan


ilustrasi indah tentang integrasi antara iman, ilmu dan amal.
Ayat tersebut menggambarkan keutuhan antara iman, ilmu, dan
amal atau akidah, syariah dan akhlak dengan menganalogkan
bangunan Dinul Islam bagaikan sebatang pohon yang baik. Iman
diidentikan dengan akar sebuah pohon yang menopang
tegaknya ajaran Islam. Ilmu bagaikan batang pohon yang
mengeluarkan dahan-dahan dan cabang-cabang ilmu
pengetahuan, sedangkan amal ibarat buah dan pohon identik
dengan teknologi dan seni. Iptek yang dikembangkan di atas
nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal saleh.
Selanjutnya perbuatan baik, tidak akan bernilai amal saleh
apabila perbuatan baik tersebut tidak dibangun di atas nilai
iman dan ilmu yang benar. Iptek yang lepas dan keimanan dan
ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan
menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan alam
lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi
kehidupan manusia.
HAKIKAT DAN TUJUAN ILMU MENURUT
PANDANGAN ISLAM
Hakikat ilmu telah menjadi bermasalah karena ia telah
kehilangan tujuan hakikatnya akibat dari pemahaman yang
tidak adil. Ilmu yang seharusnya menciptakan perdamaian,
justru membawa kekacauan dalam kehidupan manusia bahkan
ilmu yang terkesan nyata justru menghasilkan kekeliruan.ilmu
yang disajikan dan disampaikan dengan topeng dilebur secara
bersama-sama dengan ilmu yang benar sehingga orang lain
tanpa sadar menganggap secara keseluruhannya merupakan
ilmu yang sebenarnya.islam telah memeberikan banyak
sumbangan pentong kepada peradaban barat di dalam bidang
ilmu dan di dalam menanamkan semangat nasional dan sains,
tetapi ilmu serta semangat raasional dan sains telah di susun
kembali dan ditata ulang untuk di sesuaikan dengan acuan
kebudayan barat, sehingga melebur dan menyatu dengan unsur-
unsur yang lauin yang membentuk watak serta kepribadian
peradaban barat.
TANGGUNG JAWAB ILMUWAN TERHADAP ALAM
LINGKUNGANNYA
Ada dua fungsi utama manusia di dunia, yaitu sebagai
Abdun(hamba Allah) dan sebagai Khalifah Allah (wakil Allah) di
bumi. Esensi dari Abdun adalah ketaatan, ketundukan dan
kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah, sedangkan
esensi dari Khalifah adalah tanggung jawab terhadap dirinya
dan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan
alam.
Dalam konteks Abdun, manusia menempati posisi sebagai
ciptaan Allah yang memiliki konsekwensi adanya keharusan
manusia untuk taat dan patuh kepada penciptanya
Fungsi kedua adalah sebagai Khalifah (wakil Allah) di muka
bumi. Dalam posisi ini manusia mempunyai tanggung jawab
untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungannya tempat
mereka tinggal. Manusia diberikan kebebasan untuk
mengeksploitasi, menggali sumber-sumber alam, serta
memanfaatkannya dengan sebesar-besarnya untuk kemanfaatan
umat manusia, asalkan tidak berlebih-lebihan dan melampaui
batas. Karena pada dasarnya, alam beserta isinya ini diciptakan
oleh Allah untuk kehidupan dan kemaslahatan manusia.
Kerusakan alam dan lingkungan ini lebih banyak disebabkan
karena ulah tangan manusia sendiri (Qs. Ar Rum : 41). Mereka
banyak yang menghianati perjanjiannya sendiri kepada Allah.
Mereka tidak menjaga amanat sebagai khalifah yang bertugas
untuk menjaga, melestarikan alam ini. Justru mengeksploitir
alam ini untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Kedua fungsi manusia tersebut tidak boleh terpisah, artinya
keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh yang seharusnya
diaktualisasikan dalam kehidupan manusia. Jika hal tersebut
dapat dilakukan secara terpadu, akan dapat mewujudkan
manusia yang ideal (insan kamil) yakni manusia sempurna yang
pada akhirnya akan memperoleh keselamatan hidup dunia dan
akhirat.
DAFTAR ISI
 http://akharil.blogspot.co.id/2010/03/iptek-menurut-pandangan-
islam.html diakses pada (27-11-16)
 https://mindaudahedu.wordpress.com/2012/05/23/ilmu-
pengetahuan-teknologi-dan-seni-dalam-islam-2/ diakses pada (27-
11-16)