Anda di halaman 1dari 8

‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬

Pembekalan ke 4 blok I :
Macam-macam Tauhid

Oleh: Tim Al-Islam


FK UNIMUS
Sasaran Belajar

 Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan


tentang macam-macam tauhid secara komrehensif
dan cara membentuk sistem kekebalan iman
sehingga dengan pengetahuan itu mereka dapat
menjalani kehidupannya secara pribadi, akademis,
maupun dalam menjalani profesinya kelak
senantiasa dalam koridor ketauhidan.
Macam-macam Tauhid
 Tauhid Rububiyyah, secara literal berasal dari kata Rabb dan
berarti pemelihara, pengasuh, penolong, pengusa, pendamai,
pelindung, pendidik, dan pencipta.
 Secara praktis tauhid Rububiyyah adalah beriman bahwa Allah
sebagai pencipta, penguasa, dan pengatur segala sesuatu yang
ada di alam semesta. Tauhid rububiyyah meliputi: antara lain:
 Beriman kepada Allah sebagai Yang Berbuat, seperti
mencipta, memberi rezeki, mematikan dan menghidupan
 Beriman Allah yang menentukan qada’ dan kodar yang
berlaku bagi setiap makhluk
 Iman kepada keesaan Dzatnya.
 Dalil yang menunjukkan Allah sebagai Rabb antara alain:
 ‫اال له الخلق و االمر‬ (Ketahuilah milik-Nya segala
makhluk dan urusan.QS.al-A’raf/7 : 54).
 ‫( الحمد هلل رب العالمين‬Segala puji milik Allah Rabbul-
‘alamin – QS. al-Fatihah/1 : 1
 ‫خلق لكم ما في االرض جميعا‬ (Dia telah menciptakan bagi
kamu apa-apa yang ada di bumi secara keseluruhan –
QS al-Baqarah/2 : 29)
 secara prinsip orang kafir, dulu kafir Makkah, tetap
percaya tentang tauhid Rububiyyah ini (QS. al-
Mu’min/23 : 86-87).
Tauhid al-Asma’ wa ash-shifat
 beriman bahwa Allah itu memiliki sifat dan nama yang hanya
dimiliki Allah semata, meskipun secara bahasa ada kesamaan
dengan sifat yang dimiliki manusia atau secara umum makhluk.
 Dalil bahwa Allah memiliki asma’ dasebutkan dalam QS. al-
A’raf/7 : 180). Kemudian disebut al-asma’ al-husna (nama-nama
Allah yang indah). Jika kita berdoa supaya menyeru dengan
nama-nama tersebut, umpama memohon kepada-Nya supaya
diberi ilmu pengetahuan, maka dalam berdoa berseru kepada-
Nya ‘Ya> ‘Ali>m’ (wahai Dzat Yang Maha Pintar); memohon supaya
diberi kemurahan rezeki, maka berseru kepada-Nya ‘Ya Razza>q
(wahai Dzat Pemberi rezeki); memohon supaya dianugerahi
keselamatan dan kesucian iman, maka berseru kepada-Nya ‘Ya
Quddu>su Ya Sala>m’ (wahai Dzat Yang Maha Suci dan Maha
Pemberi keselamatan, dst.
 Allah memiliki sifat. Oleh para teolog, utamanya dari kaum Asy’ariyyah, sifat
Allah dibagi menjadi tiga bagian: (1) Sifat wajib berjumlah 20, yaitu: wujud
(Ada), Qidam (Dahulu), Baqa.’ (Kekal), Mukhalafatu lil H}awa>dis}i
(Berbeda dengan segala sesuatu), Qiyamu binafsihi (Berdiri sendiri),
wah}daniyyah (Yang Esa), Qudrah (Yang Kuasa), Iradah (Yang berkehendak),
‘Ilmu ( Mengetahui), H}ayyah ( Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (
Melihat), Kalam ( Berfirman), Qa>diran (Yang Maha Berkuasa), Muri>dan
(Yang Memiliki Kehendak), ‘Aliman (Yang Maha Mengetahui), H}ayyan
(Yang Maha Hidup), Sami>’an (Yang Maha Mendengar), Bashiran (Yang
Maha Melihat), Mutaka>liman( Yang Berfirman).
 (2) Sifat muhal (mustahil) berjumlah 20, yaitu: ‘adam (yang tidak ada),
Muma.s}latu lil h}awa>dis (menyamai dengan yang baru), fana>’ (yang
hancur), qiyamuhu ma’a ghairihi (berdiri bersama-sama dengan yang lain),
ta’addud (berbilang), ‘ajzun (lemah), karahah (terpaksa), jahl (bodoh), al-
maut (meninggal), al-a’ma (yang buta), al-‘umyu (yang buta), al-bukmu (yang
bisu), ash-shummu (yang tuli), ‘A>jizan (yang lemah), ja>hilan (yang bodoh),
Mayyitan (yang mati), ‘amiyan (yang buta), ba>kiman (yang bisu), shamiyan
(yang tuli), (3), Ja>iz (yang bewrwenang untuk berbuat atau tidaj berbuat
Tauhid Uluhiyyah
 kata Uluhiyyah berasal dari kata al-Ilah yang berati yang
disembah dan ditaati secara mutlak. Jadi, parktisnya Allah
sebagai Tuhan yang haq untuk disembah dan ditaati. Tidak
boleh ada yang disembah selain Dia. Tidak boleh ada yang
ditaati secara mutlak selain Dia.
 Taat kepada makhluk hanya dibenarkan sepanjang diatur oleh
Allah umpama taat kepada pemimpin pemerintahan (athi’u-lla>h
wa athi’u-Rrasu>l wa U>lil amri minkum). Dalam hal ini esensinya
adalah taat kepada Allah dan Rasulnya.
 Tauhid uluhiyyah didasarkan pada dua hal (1) menjalankan
semua ibadah hanya semata-mata karena Allah Allah, (2)
ibadah yang dilaksanakan harus sesuai dengan perintah dan
larangan Allah dan tidak boleh mengarang sendiri.
 Tauhid uluhiyyah merupakan tema inti dan pokok bagi semua
Rasul.
 Tauhid uluhiyyah merupakan pra-syarat bagi yang hendak
memeluk agama yang berinti pada tauhid uluhiyyah.
 Tauhid uluhiyyah lebih terkait dengan al-Af’al al-‘ibad (perbuatan
hamba) dan tauhid Rububiyyah terkait al-af’al ar-Rabb (yang
berkuasa, yang mencipta, yang memelihara dst, , ,). Dengan
demikian tauhid uluhiyyah menegakkan tauhid rububiyyah.
 Hubungan diantara keduanya dapat disimpulkan: tauhid
rububiyyah menuntut keberadaan tauhid uluhiyyah dan tauhid
al-asma’ wa ash-shifat; tauhid uluhiyyah harus dilandasi oleh
tauhid rububiyyah dan tauhid al-asma’ wa ash-shifat. Hubungan
segitiga ketauhidan ini disebut tad}ammuniyyah (saling ada
keterkandungan)