Anda di halaman 1dari 20

KELOMPOK 1

 Della safitri
 Yesenia Faradillah
 Firnayanti Mukhlis
 Nurhalisa Umar
 Hijrianti Suharna
 Hikmah Alamiah
 Yeni Hasri Utami Jalil
DEFINISI ASMA

 Asma adalah gangguan jalan nafas reaktif kronis termasuk obstruksi
jalan nafas episodik dan obstruksi jalan nafas reversible akibat
bronkospasme, peningkatan sekresi mucus, dan edema mukosa
(kapita selekta penyakit, 2002).
 Asma adalah sebuah penyakit radang kronik pada saluran pernafasan
dimana banyak sel-sel dan elemennya berperanAsma adalah suatu
kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran nafas yang
menyebabkan hipereaktifitas bronkus terhadap berbagi rangsanan
yang ditandai dengan gejala epidosik berulang berupa mengi, batuk,
sesak nafas dan rasa berat didada terutama di malam hari dan atau
dini hari yang umumnya bersifat reversible baik dengan atau tanpa
pengobatan (Pedoman pengendalian asma, Depkes; 2009)
 Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulakan penyakit asma
adalah suatu penyakit yang menyerang saluran pernafasan
(bronchiale) pada paru dimana terdapat peradangan (inflamasi) kronis
dinding rongga bronchiale sehingga mengakibatkan penyempitan
saluran nafas yang akhirnya seseorang mengalami sesak nafas.
KLASIFIKASI DAN
DERAJAT ASMA

Asma bronchial Asma kardial
• Penderita asma broncial, hipersensitif dan • Asma yang di sebabkan karena adanya
hiperaktif terhadap rangsangan dari luar, kelainan organ jantung
seperti debu, bulu binatang, asap dan • Gejalanya biasanya terjadi pada malam
bahan lainya yang menyebabkan alergi hari saat sedang tidur, di sertai dengan
• Gejala kemunculnnya sangat mendadak adanya sesak napas yang hebat biasa di
sehingga gangguan asma bisa datang sebut nocturnal paroxymul
secara tiba-tiba
• Gangguan asma bronkial bisa di
sebabkan karena adanya radang yang
mengakibatkan penyempitan saluran
pernapasan bagian bawah. Penyempitan
ini akibat berkerutnya otot polos saluran
pernapasan, pembengkakan selaput
lendir, dan pembentukan lendir yang
berlebihan.
ETIOLOGI

Zat allergen

Perubahan suhu
udara (udara
Infeksi saluran
pernapasan (
dingin, panas,
respiratorik )
kabut)

Memiliki
Olahraga /
kecenderungan
Polusi udara kegiatan jasmani
alergi obat-
yang berat.
obatan

Riwayat keluarga
(factor genetic) Lingkungan
Emosi dan stres
Orang tua pekerajan
menderita asma
MANIFESTASI KLINIS

Menurut Irman Somantri, (2008) gejala asma terdiri dari triad yaitu
dispne, batuk dan mengi (bengek atau sesak nafas ). Gejala sesak nafas
sering dianggap gejala yang harus ada. Hal tersebut berarti jika penderita
menganggap penyakitnya adalah asma namun tidak mengeluhkan sesak
nafas, maka perawat harus yakin bahwa pasien bukan penderita asma.
Gambaran klinis pasien yang menderita asma :
 Gambaran obyektif adalah kondisi pasien dalam keadaan :
• Sesak nafas parah dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing
• Dapat diserati batuk dengan sputum kental dan sulit dikeluarkan
• Bernafas dengan otot-otot nafas tambahan
• Sianosis, takikardi, gelisah
 Gambaran suyektif adalah pasien mengeluhkan sesak, sukar bernafas
dan anoreksia
 Gambaran psikososial adalah cemas, takut, mudah tersinggung dan
kurangnya pengetahuan pasien terhadap situasi penyakitnya
PATHOFISIOLOGI

Suatu serangan asma timbul karena seseorang yang atopi terpapar dengan allergen yang
ada di lingkungan dan membentuk immunoglobulin (Ig) E, allergen yang masuk akan ditangkap oleh
makrofag yang bekerja sebagai antigen presenting sel (APC), allergen tersebut dipresentasikan ke sel
Th. Sel Th memberikan signal kepada sel B dengan dilepaskannya interlukin 2 (IL-2) untuk
berproliferasi menjadi sel plasma dan membentuk IgE. IgE yang terbentuk akan diikat oleh mastosit
yang ada dalam jaringan dan basofil yang ada dalam sirkulasi. Bila proses ini terjadi pada seseorang,
maka orang itu sudah disensitisasi atau baru menjadi rentan. Jika terpapar 2 kali atau lebih dengan
allergen yang sama allergen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada dalam permukaan mastosit
dan basofil. Ikatan ini akan menimbulkan influk Ca++ ke dalam sel dan perubahan di dalam sel yang
menurunkan kadar cAMP. Penurunan kadar cAMP menimbulkan degranulasi sel, dan melepaskan
mediator-mediator kimia yang meliputi histamine, slow releasing suptance of anaphylaksis (SRS-A),
eosinofilik chomotetik faktor of anaphylacsis (ECF-A), dan lain-lain. Mediator tersebut menyebabkan
timbulnya tiga reaksi utama yaitu: kontraksi otot-otot polos baik saluran nafas yang besar ataupun
yang kecil yang akan menimbulkan bronkospasme, peningkatan permeabilitas kapiler yang berperan
dalam terjadinya edema mukosa yang menambah semakin menyempitnya saluran nafas. Peningkatan
sekresi kelenjar mukosa dan peningkatan produksi mucus. Tiga reaksi tersebut menimbulkan
gangguan ventilasi, distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru dan gangguan
difusi gas ditingkat alveoli, akibatnya akan terjadi hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis pada tahap
yang sangat lanjut.
KOMPLIKASI

Pneumothoraks • Pneumothoraks adalah keadaan adanya udara di dalam rongga pleura yang
dicurigai bila terdapat benturan atau tusukan dada

• Pneumomediastinum dari bahasa Yunani pneuma “udara”, juga dikenal sebagai


Pneumomediastinum emfisema mediastinum adalah suatu kondisi dimana udara hadir di mediastinum.
kondisi ini dapat disebabkan oleh trauma fisik atau situasi lain yang mengarah ke
udara keluar dari paru-paru, saluran udara atau usus ke dalam rongga dada .

• Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat


Atelektasis penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan
yang sangat dangkal.

• Aspergilosis merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh jamur dan tersifat
Aspergilosis oleh adanya gangguan pernapasan yang berat. Penyakit ini juga dapat menimbulkan
lesi pada berbagai organ

• Gagal napas dapat tejadi bila pertukaran oksigen terhadap karbodioksida dalam paru-
Gagal napas paru tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen dan pembentukan karbondioksida
dalam sel-sel tubuh

Bronkhitis Bronkhitis atau radang paru-paru adalah kondisi di mana lapisan bagian dalam dari
saluran pernapasan di paru-paru yang kecil (bronkhiolis) mengalami bengkak. Selain
bengkak juga terjadi peningkatan produksi lendir (dahak)
PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Analisa Gas
Darah ( AGD Sputum Sel eosinofil
/ astrup ).

Pemerikasaan Pengukuran
Tes provokasi
darah rutin fungsi paru (
bonkus
dan kimia Spirometri )

Pemerikasaan Pemeriksan
kulit radiologi
PENATALAKSANAAN

Farmakologi
 non farmakologis

• Memberikan oksigen pernasal • Fisioterapi dada dan batuk


• Antagonis beta 2 adrenergik (salbutamol efektif membantu pasien
mg atau fenetoral 2,5 mg atau terbutalin
10 mg). Inhalasi nebulisasi dan untuk mengeluarkan
pemberian yang dapat diulang setiap 20 sputum dengan baik
menit sampai 1 jam. Pemberian
antagonis beta 2 adrenergik dapat secara
• Latihan fisik untuk
subcutan atau intravena dengan dosis meningkatkan toleransi
salbutamol 0,25 mg dalam larutan aktivitas fisik
dekstrose 5%
• Aminophilin intravena 5-6 mg per kg,
• Berikan posisi tidur yang
jika sudah menggunakan obat ini dalam nyaman (semi fowler)
12 jam sebelumnya maka cukup • Anjurkan untuk minum air
diberikan setengah dosis.
• Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg
hangat 1500-2000 ml per hari
intravena jika tidak ada respon segera • Usaha agar pasien mandi air
atau dalam serangan sangat berat25 hangat setiap hari
• Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi
jalan napas, termasuk didalamnya • Hindarkan pasien dari faktor
golongan beta adrenergik dan anti pencetu
kolinergik.
KONSEP ASUHAN
KEPERAWATAN

Pengkajian

Diagnosa Keperawatan

Intervensi keperawatan
Pengkajian


Pola pemeliharaan kesehatan
 Pola nutrisi
 Pola eliminasi.
 Pola aktifitas dan latihan
 Pola istirahat dan tidur
 Pola persepsi sensori dan kognitif
 Pola hubungan dengan orang lain.
 Pola reproduksi dan seksual
 Pola persepsi diri dan konsep diri
 Pola mekanisme dan koping
 Pola nilai kepercayaan dan spiritual
 Pemeriksaan penunjang
DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan
peningkatan produksi sekret
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan bronkospasme
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai
oksigen
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak
adekuatnya pertahanan utama atau imunitas Cemas berhubungan
dengan kurangnya tingkat pengetahuan Gangguan pola tidur
berhubungan dengan batuk yang berlebih
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan dispnea
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi
sekret
Tujuan : jalan napas menjadi efektif
Kriteria hasil : jalan napas bersih, sesak berkurang, batuk efektif, mengeluarkan sekret
Intervensi :

• Kaji tanda-tanda vital dan auskultasi bunyi napas
Rasional : beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas
• Berikan pasien untuk posisi yang nyaman.
Rasional : peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan
• Pertahankan lingkungan yang nyaman
Rasional : Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode akut.
• Tingkatkan masukan cairan, denganmemberi air hangat.
Rasional : Membantu mempermudah pengeluaran sekret
• Dorong atau bantu latihan napas dalam dan batuk efektif
Rasional : Memberikancara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea,mengeluarkan
sekret.
• Dorong atau berikan perawatan mulut
Rasional : higiene mulut yang baik meningkatkan rasa sehat dan mencegah bau mulut
• Kolaborasi : pemberian obat dan humidifikasi, seperti nebulizer
Rasional : menurunkan kekentalan sekret dan mengeluarkan sekret
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan bronkospasme


Tujuan : pola napas kembali efektif
Kriteria hasil : Pola napas efektif, bunyi napas normal kembali, batuk
berkurang
Intervensi :
• Kaji frekuensi kedalaman pernapasan dan ekspansi dada
Rasional : kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernapasan
bervariasi tergantung derajat gagal napas
• Auskultasi bunyi napas
Rasional : ronchi dan mengi menyertai obstruksi jalan napas
• Tinggikan kepala dan bentuk mengubah posisi
Rasional : memudahkan dalam ekspansi paru dan pernapasan
• Kolaborasi pemberian oksigen
Rasional : memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ganguan suplai oksigen

Tujuan :dapat mempertahankan pertukaran gas


Kriteria hasil : tidak ada dispnea, pernapasan normal
Intervensi :


• Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan
Rasional : berguna dalam evaluasi derajat distres pernapasan dan atau kronisnya proses penyakit.
• Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang nyaman untuk
bernapas
Rasional : pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan napas
untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea, dan kerja napas.
• Kaji atau awasi secar rutin kulit dan warna membran mukosa
Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentra (terlihat sekitar bibir atau daun
telinga). Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia.
• Dorong pengeluaran sputum: penghisapan bila diindikasikan
Rasional : Kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas
pada jalan napas kecil. Penghisapan dibutuhkan jika batuk tidak efektif.
• Auskultasi bunyi napas
Rasional : bunyi napas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi.
• Palpasi Fremirus
Rasional : Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara terjebak
• Evaluasi tingkat toleransi aktivitas
Rasional : Selama distress pernapasan berat atau akut atau Refraktori pasien secara total tidak
mampu melakukan aktivitas sehari-hari karena hipoksemia dan dispnea.
• Kolaborasi : Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : dapat memperbaiki memburuknya hipoksia
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya


pertahanan utama atau imunitas

Tujuan :tidak mengalami infeksi noskomial


Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi, mukosa mulut lembab, batuk
berkurang
Intervensi :
• Monitor tanda-tanda vital
Rasional: demam dapat terjadi karena infeksi atau dehidrasi
• Observasi warna, karakter, jumlah sputum
Rasional : kuning atau kehijauan menunjukan adanya infeksi paru
• Berikan nutrisi yang adekuat
Rasional : nutrisi yang adekuat dapat meningkatkan daya tahan tubuh
• Berikan antibiotik sesuai indikasi
Rasional : antibiotik dapat mencegah masuknya kuman ke dalam tubuh
5. Cemas berhubungan dengan kurangnya tingkat pengetahuan

Tujuan : kecemasan pasien berkurang



Kriteria hasil : pasien terlihat tenang, cemas berkurang, ekspresi wajah
tenang.
Intervensi :
• Kaji tingkat kecemasan
Rasional : mengetahui skala kecemasan pasien
• Berikan pengetahuan tentang penyakit yang diderita
Rasional : menambah tingkat pengetahuan pasien dan mengurangi
cemas
• Berikan dukungan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : mengungkapkan perasaan dapat mengurangi rasa cemas
yang dialaminya.
• Ajarkan teknik napas dalam pada pasien
Rasional : mengurangi rasa cemas yang dialami pasien
6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang berlebih

Tujuan : pola tidur terpenuhi38



Kriteria hasil : pola tidur 6-7 jam per hari, tidur tidak terganggu karena batuk
Intervensi :
• Kaji pola tidur setiap hari
Rasional : mengetahui perubahan pola tidur yang terjadi
• Beri posisi yang nyaman
Rasional : memudahkan dalam beristirahat
• Berikan lingkungan yang nyaman
Rasional : menciptakan suasana yang tenang
• Anjurkan kepada keluarga dan pengunjung untuk tidak ramai
Rasional :menciptakan suasana yang tenang
• Menjelaskan pada pasien pentingnya keseimbangan istirahat
dan tidur untuk penyembuhan
Rasional : menambah pengetahuan
7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik

Tujuan : aktivitas normal 


Kriteria hasil : pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas, pasien dapat
memenuhi kebutuhan pasien secara mandiri
Intervensi :
• Kaji tingkat kemampuan aktivitas
Rasional : mengetahui tingkat aktivitas pasien
• Anjurkan keluarga untuk membantu memenuhi kebutuhaan pasien
Rasional : membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan pasien sehari-hari
• Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi
Rasional : membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan pasien secara
mandiri
• Jelaskan pentingnya istirahat dan aktivitas dalaam proses penyembuhan
Rasional menambah pengetahuan pasien dan keluarg