Anda di halaman 1dari 39

Mochammad Erfhany Mandaeng

Nurfitriani R
Hilda Hasrang
A.Dewi Annisa
Rahma yYunita
Adinda Putri Sangaji
Reski Amelia
Julfa djafar
Kartika Octavia Harman
 Kelenjar kelamin disebut pula dengan gonad.
Meskipun fungsi utamanya adalah
memproduksi sel-sel kelamin, namun
kelenjar kelamin juga memproduksi hormon.
Kelenjar kelamin laki-laki terdapat pada
testis, sementara kelenjar kelamin
perempuan berada pada ovarium.
Gonad

Ovarium Testis

Sel benih Hormon Sel benih Hormon


sex sex

Ovum Spermatozoa

Estrogen Progesteron Testoteron


 Pada fase mestruasi hormone esterogen dan
LH meningkat, sedangkan hormone
progesterone dan FSH menurun kemudian
terjadi fase proliferasi yang sangat cepat,
setelah itu terjadi fase luteal dimana dinding
endometrium menebal. Pada saat itu sel
telur yang tidak dibuahi dengan sperma
dituba falopi, sel telur akan terus berjalan
menuju uterus. Setelah sampai di uTerus sel
telur tidak dapat menempel di dinding
endometrium, karena ovum tidak terbuahi. ,
Sehingga dinding endometrium meluruh dan
terjadi pendarahan (menstruasi).
 Pembagian Estrogen:
1. Estrogen steroid dan
2. Non steroid
 Estrogen steroid dan non sterid:
1. Alamiah dan
2. Sintetik
steroid Non steroid
Alamiah Estradiol Fitoestrogen
Estron Glikosida jantung
Estriol

sintetik Etinilestradiol Dietilstilbestrol


Mestranol Klorotianisen
Klomifen sitrat
 Yang klasik : Estron, Estradiol,dan estriol
 Dikatakan klasik karena pertama kali yang
berhasil diisolasi
 Aktivitas biologi yang tertinggi adalah
Estradiol
 Jenis alamiah yang lain adalaha EEK
(Estrogen Equin Konjugasi) yang erasal dari
kencing kuda hamil (preagnant mares)
 EEK mempunyai 10 campuran estrogen
konjugasi
 Estron sulfat merupakan unsur paling utama
(50%).
 Unsur lainnya terdapat pada EEK adalah equilin
sulfat (25%)
 Equilin merupakan jenis estrogen yang tidak
dijumpai pada manusia dan hanya ditemukan
dalam kencing kuda yang hamil
 Konjugasi artinya: esterisasi kelompok hidroksi
pada molekul steroid dengan suatu asam
misalnya dengan sulfat atau asam glukoronid
 Dalam bentuk konjugasi fungsi hormon
tersebut melemah atau tidak berfungsi sama
sekali
 Di dalam hati akan di dekonjugasi, yaitu
pelepasan ikatan ester dari molekul steroid oleh
enzim –enzim tertentu seperti enzim aril
sulfatase , dan setelah dilepaskan barulah
hormon tersebut dapat melakukan aktivitas nya
 Oleh karena itu perlu berhati-hati dalam
pemberian estrogen konjugasi pada pasien
dengan gangguan hati
 Estrogen alamiah paling banyak digunakan
sebagai terapi sulih hormon dan untuk
pengobatan perdarahan uterus disfungsional,
serta jarang sekali digunakan sebagai kontrasepsi
 Pemberian gugus etinil pada atom C 17 dari
estradiol akan membentuk jenis estrogen yang
diberi nama 17 ά-etinilestradiol. Estrogen ini
disebut juga sebagai jenis estrogen yang kuat
 Tujuan penambahan gugus etinil adalah untuk
memperlambat penghancurannya oleh berbagai
jenis enzim dihati
 Etinilestradiol dikatakan estrogen kuat karena
estrogen jenis ini sangat kuat menekan kerja
hormon-hormon tertentu,atau sangat kuat
memacu pertumbuhan zat-zat tertentu
 Misal dengan dosis Etinilestradiol 15-25 mg saja/
hari telah dapat meningkatkan faktor
pembekuan darah sebanyak 120-150% dan
meningkatkan kadar renin darah sebanyak 150-
200%
 Peningkatan faktor pembekuan darah dan kadar
renin merupakan resiko untuk terjadinya
trombosis dan hipertensi
 Bentuk lain dari estrogen sintetik adalah
Mestranol
 Mestranol baru berkhasiat bila sebelumnya telah
diaktifkan terlebih dahulu oleh hati menjadi
etinilestradiol
 Bagaimanapun juga proses pengaktifan tersebut
akan tetap menambah beban bagi hati
 Selainitu juga obat-obatan tertentu
seperti rifampicin, etinodiol
diasetat, linestrenol dan klormadion
asetat bila diberikan bersamaan
dengan mestranol dapat
menghambat proses pengaktifan
mestranol menjadi etinilestradiol
 Dibuat dari bahan-bahan alami
(tumbuh-tumbuhan ) yang memiliki
khasiat estrogenik meskipun struktur
kimia nya berbeda dengan steroid.
 Contoh Fitoestrogen dan glikosida
jantung.
 Pertama kali ditemukan yaitu
Dietilstilbestrol (DES).
 Tahun 1940-1950 banyak digunakan
dalam bidang ginekologi.
 Sekarang sudah ditinggalkan karena
menimbulkan keganasan pada
wanita
 Sekarang yang lebih aman yaitu
klorotrianisen (TACE) dan klomifen sitrat.
 TACE memiliki efek estrogen yang lemah
dan banyak digunakan untuk supresi laktasi
pasca melahirkan
 Klomifen sitrat digunakan sebagai pemicu
ovulasi
 Mengganti sebuah kelompok etil pada
kelompok klor dari molekul klomifen
terbentuk tamoksifen yang digunakan
untuk pengobatan kanker payudara
A.KONTRASEPSI
HORMONAL

 Adalah:
kontrasepsi yang mengandung
hormon estrogen dan progesteron
1. Kontrasepsi oral
2. Kontrasepsi suntik
3. Kontrasepsi implan/subkutis
4. Cincin vagina
5. Kontrasepsi koyo
Pil Mini
Kontrasepsi Oral

Pil Sekuensial

Pi Pascasanggama
POK Merupakan pil KB yang mengandung
hormon estrogen dan progesteron yang
diproduksi secara alami oleh wanita
(Lucky, 2013)
2) Bifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan 2
dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

3) Trifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon


aktif estrogen/progestin (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7
tablet tanpa hormon aktif.
 Mengurangi transpor sperma di
bagian atas saluran genital (tuba
fallopii)

Mengganggu pertumbuhan
endometrium, sehingga
menyulitkan proses implantasi
 Memperkental lendir serviks
(mencegah penetrasi sperma)
 Usia reproduksi
 Telah memiliki anak atau pun yang belum
 Gemuk atau kurus
 Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas tinggi
 Setelah melahirkan dan tidak menyusui
 Setelah melahirkan 6 bulan yang tidak memberikan ASI eksklusif,
sedangkan semua cara kontrasepsi yang dianjurkan tidak cocok bagi ibu
tersebut
 Pascakeguguran
 Anemia karena haid berlebihan
 Nyeri haid hebat
 Siklus haid tidak teratur
 Riwayat kehamilan ektopik
 Kelainan payudara jinak
 Kencing manis tanpa komplikasi pada ginjal, pembuluh darah, mata, dan
saraf
 Penyakit tiroid, penyakit radang panggul, endometriosis, atau tumor
ovarium jinak
 Menderita tuberkulosis (kecuali yang sedang menggunakan rifampisin)
 Varises vena.
KONTRAINDIKASI
 Hamil atau dicurigai hamil
 Menyusui eksklusif
 Perdarahan pervaginam yang belum diketahui
penyebabnya
 Penyakit hati akut (hepatitis)
 Perokok dengan usia >35 th
 Riwayat penyakit jantung, stroke, atau TD >180/110
mmHg
 Riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau kencing
manis > 20 th
 Kanker payudara atau dicurigai kanker payudara
 Migrain atau gejala neorologik fokal (epilepsi/riwayat
epilepsi)
 Tidak dapat menggunakan pil secara teratur setiap hari.
 Amenorea (tidak ada perdahan atau spotting)
 Mual, pusing, atau muntah (akibat reaksi
anafilaktik)
 Perdarahan pervaginam/ spotting
Jenis Minipil

 Kemasan dengan isi 35 pil: 300 µg levonorgestrel atau 30


µg noretindron
 Kemasan dengan isi 28 pil: 75 µg desogestrel
Cara Kerja Minipil

1. Menekan sekresi gonadotropin dan sintesis


steroid seks di ovarium (tidak begitu kuat)
2. Endometrium mengalami transformasi
lebih awal sehingga implantasi lebih sulit
3. Mengentalkan lendir serviks sehingga
menghambat penetrasi sperma
4. Mengubah motilitas tuba sehingga
transportasi sperma terganggu.
INDIKASI

 Usia reproduksi
 Telah memiliki anak atau pun yang belum
 Menginginkan suatu metode kontrasepsi yang sangat
efektif selama periode menyusui
 Pascapersalinan/tidak menyusui
 Pascakeguguran
 Perokok segala usia
 Mempunyai TD tinggi (selama < 180/110 mmHg) atau
dengan masalah pembekuan darah
 Tidak boleh menggunakan estrogen atau lebih senang
tidak menggunaka estrogen.
KONTRAINDIKASI

 Hamil atau diduga hamil


 Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
 Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid
 Menggunakan obat tuberkulosis (rifampisin), atau obat
untuk epilepsi (fenitoin dan barbiturat)
 Kanker payudara atau riwayat kanker payudara
 Sering lupa menggunakan pil
 Miom uterus. Progestin memicu pertumbuhan miom
uterus
 Riwayat stroke. Progestin menyebabkan spasme pembuluh
darah.
EFEKTIFITAS

Sangat efektif (98,5%). Pada


penggunaan minipil jangan
sampai terlupa satu-dua
tablet atau jangan sampai
terjadi gangguan
gastrointestinal (muntah,
diare), karena akibatnya
kemungkinan terjadi
kehamilan sangat besar.
3. Pil Sekuensial
Di Indonesia pil sekuensial tidak diedarkan. Pada cara kontrasepsi
ini diminum pil hanya mengandung estrogen saja untuk 14-16
hari, disusul dengan pil yang mengandung estrogen dan
progestagen untuk 5-7 hari.

Cara kerja
 Penekanan terhadap sekresi gonadotropin tidak begitu kuat bila
dibandingkan dengan sediaan kombinasi monofasik, karena pada
fase pertama hanya estrogen yang bekerja menekan sekresi
gonadotropin, sedangkan pada sediaan kombinasi monofasik
estrogen dan progesteron sudah sejak awal sama-sama bekerja
menekan sekresi gonadotropin. Efek terhadap lendir serviks juga
tidak begitu baik pada penggunaan sediaan sekuensial, sehingga
tetap saja dapat terjadi penetrasi sperma.
4. Pil Pascasanggama
disebut juga dengan Istilah :

• morning after pill menerangkan bahwa pil atau


obat tersebut harus dimulai dalam waktu
beberapa jam atau diberikan esok paginya.

• Post coital pill menerangkan bahwa obatnya


segera digunakan setelah koitus atau
sanggama

• Emergency contraception digunakan sebagai


prosedur darurat untuk mencegah kehamilan
setelah sanggama tampa perlindungan.
INDIKASI
 Hanya diindikasikan bagi wanita yang tidak
menggunakan jenis kontrasepsi apapun, dan
yang melakukan sanggama pada pertengahan
siklus.
 Kontrasepsi pascasanggama hanya bermanfaat bila
digunakan sebelum implantasi terjadi. Kalau
implantasi telah terjadi, kehamilan tidak dapat
dicegah lagi, bahkan kehamilan tersebut perlu
diakhiri karena karena steroid seks memiliki efek
teratogenik terhadap bayi.

EFEK SAMPING
Obat untuk kontrasepsi pascasanggama
dapat menimbulkan sakit kepala, mual,
dan muntah.
Estrogen Progestron
 Farmakokinetik  Farmakokinetik
Estrogen Progestron
Berbagai jenis estrogen Progestron oral akan
dapat diberikan oral, cepat mengalami
parenteral, transdermal, metabolisme lintas
ataupun topikal. karena
sifat lipofiliknya pertama
absorbsinya peroral baik. dihepar,kareannya
Ester estrogen dapat bioavabilitas oralnya
diberikan IM, bervariasi rendah dan lebih banyak
muali dari beberapa hari digunakan IM (dalam
sekali sampai 1 bulan larutan minyak ) atau
sekali.
supositoria vaginal atau
diberikan bersama alat
kontrasepsi dalam rahim
intrauterine devices
(AKDR/UID)
 Penggunaan klinik  Penggunaan klinik
Estrogen : Progestron :
 Sebagai Kontrasepsi, Sebagai Kontrasepsi,
sebagai ERT atau HRT wanita
(hormone replacement pascamenopause,
therapy ) pada wanita kombinasi dengan
pascamenopause. estrogen , abortus
iminens /ancaman
abortus, ancaman
lahir prematur,
abortus
habitualis,,kanker
endometrium ,
pendarahan.
Efek samping  Efek samping
Estrogen Progestron
ganguan siklus haid, Hiperglikemia,ketos
mual, atau bahkan is bisa terjadi pada
muntah,rasakembun pasien dgn riwayat
g, edema, berat DM,
badan bertambah,
yang lebih serius
pusing,migraine,klos
ma , terutama pada
kulit muka,
peningkatan
tekanan darah.