Anda di halaman 1dari 37

DEMAM TIFOID

By:
dr. Monica Novita L Tobing

RS Bhayangkara Medan
2017
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Demam tifoid merupakan penyakit sistemik akut
pada saluran pencernaan yang di sebabkan oleh
infeksi kuman Salmonella typhi atau Salmonella
paratyphi.
Etiologi
Penyebab demam tifoid adalah bakteri Salmonella typhi.
Salmonella adalah bakteri berbentuk batang, bersifat
gram negatif, mempunyai flagella peritrikh, berukuran
panjang antara 1-3 mikro dan tidak membentuk spora.
Etiologi

Tahun 2003 World Health Organization (WHO)


melaporkan bahwa terdapat 17 juta kasus demam
tifoid di seluruh dunia. Berdasarkan data dari Profil
Kesehatan Propinsi Sumatera Utara tahun 2008,
kasus demam tifoid yang di rawat inap di rumah sakit
Sumatera Utara menempati urutan ke-2 dari 10
penyakit terbesar yaitu sebanyak 1.276 penderita
dari 11.182 pasien rawat inap dengan proporsi 11,4
%.
Sumber Penularan

Penularan penyakit adalah melalui air dan makanan.


Kuman Salmonella dapat bertahan lama dalam
makanan.Penggunaan air minum secara masal yang
tercemar bakteri sering menyebabkan terjadinya
kejadian luar biasa. Vektor serangga juga berperan
dalam penularan penyakit.

Penderita Demam Karier Demam


Tifoid Tifoid
Manifestasi Klinis

Minggu Minggu
Pertama Ketiga

Minggu Minggu
Kedua Keempat
Patogenesis
Diagnosis

Gejala yang paling menonjol


Anamnesis
adalah prolonged fever
(38,8’C-40,5’C). Pada minggu
pertama, gejala yang di
temukan adalah sakit kepala,
menggigil, batuk berkeringat,
mialgia, malaise, dan
arthralgia.
Gejala gastrointestinal yang di
temukan yaitu: anoreksia,
nyeri abdomen, mual, muntah,
diare, konstipasi.
Diagnosis

Pemeriksaan Pada pemeriksaan fisik hanya di


Fisik dapatkan suhu badan meningkat. Sifat
demam adalah meningkat berlahan –
lahan dan terutama pada sore hingga
malam hari. Dalam minggu kedua gejala –
gejala menjadi jelas berupa demam,
bradikardi relatif, lidah yang berselaput
(kotor di tengah, tepi dan ujung merah),
hepatomegali, splenomegali, gangguan
mental berupa somnolen, stupor, koma,
delirium atau psikosis. Reseola jarang di
temukan pada orang Indonesia.
LABORATORIUM

Pemeriksaan Rutin

• Hb → normal atau ↓ ringan.


• Lekosit → ↓, bisa juga normal atau ↑.
• Trombosit → normal atau ↓.
• Aneosinofilia, limfopenia.
•LED ↑.
• SGOT & SGPT ↑.
Uji Widal

• Untuk deteksi Ab (aglutinin) thd S. Typhi.

Tubuh → utk
diagnosis.

Simpai Kuman

Flagela → utk
diagnosis.
Pada uji Widal, bila terjadi kenaikan 4 titer
antibodi O dan H pada spesimen yang di ambil
dalam jarak 2 minggu, maka kemungkinan
tinggi terjadi proses infeksi Salmonella typhi.
Pembentukan agglutinin mulai terjadi pada
akhir minggu pertama demam, kemudian
meningkat secara cepat dan mencapai puncak
pada minggu keempat, dan tetap tinggi selama
beberapa minggu. Bagaimana pun juga,
pemeriksaan ini mempunyai persentase
sensitivitas sekitar 70%
Uji Tubex

• Uji semi-kuantitatif kolometrik → mendeteksi


antibodi anti-S. typhi O9.
• Infeksi oleh S. paratyphi → hasil negatif.
• Hanya dpt mendeteksi IgM → tdk dpt mendeteksi
infeksi lampau.
• Dapat mendeteksi lbh cepat → 4 – 5 hari (infeksi
primer) & 2- 3 hari (infeksi sekunder).
• Sensitivitas 75 – 80% → Spesivisitas 75 – 90%.
• Surya H, dkk (Jakarta, 2006) → Tubex vs Widal →
sensitivitas 100% vs 53,1%; spesivisitas 90% vs
65%.
Interpretasi Hasil Uji Tubex
SKOR INTERPRETA KETERANGAN
SI
<2 Negatif Tidak menunjukan infeksi
tifoid aktif.
3 Borderline Tidak sapat disimpulkan.
Ulangi pengujian.
4–5 Positif Infeksi tifoid aktif.
>6 Positif kuat Indikasi kuat infeksi tifoid.
Uji IgM Dipstick

• Mudah & cepat → Mendeteksi Ab IgM spesifik


S. typhi.
• Sensitivitas 65 – 77% → Spesivisitas 95 – 100%.
Kultur Darah
• Gold standard dlm menegakkan diagnosis demam
tifoid.
• Kultur darah, feses dan urin sebaiknya di lakukan.
Kultur darah biasanya positif pada awal 2 minggu
pertama, tapi kultur feses biasanya positif selama
minggu ke 3 hingga ke 5. Sedangkan kultur urin
pada minggu ke 4. Jika kultur tersebut negatif
tetapi secara klinis suspek kuat demam tifoid,
maka kultur biopsi spesimen sum-sum tulang
belakang dapat di jadikan pertimbangan untuk
mencari kuman Salmonella.
Diagnosis Banding

Demam Berdarah Dengue (DBD)


Malaria
Enteritis bacterial
PENATALAKSANAAN

Istirahat & Perawatan

• Mencegah komplikasi & mempercepat


penyembuhan.
• Tirah baring sampai demam reda → banyak
gerak dpt mengakibatkan kuman terlepas dari
tempat perkembangannya di usus ke dalam darah;
suhu meningkat; risiko perforasi usus.
• Higienitas.
Diet & Terapi Penunjang (Simtomatik & Suportif)
• Mengembalikan rasa nyaman & kesehatan
secara optimal.
• Makanan padat dini rendah selulosa (hindari
sayuran berserat). Hindari makanan yang pedas
& keras.
• Hidrasi.

Antimikroba

Pilihan utama di Indonesia.


Kloramfenikol 4 x 500 mg oral / IV s/d 7 hari bebas
demam.
Demam rerata turun hari ke-5.
Dosis & efektivitas ~ koramfenikol.
Tiamfenikol Komplikasi hematologi (anemia aplastik) <
kloramfenikol.
4 x 500 mg → Demam rerata turun H5-6.

Efektivitas ~ koramfenikol.
Kotrimoksazole
2 x 2 tablet → 2 minggu.

Kemampuan ↓ demam lbh rendah.


Ampisilin & Amoksisilin
50 – 150 mg/kgBB → 2 minggu.

Sefalosforin generasi III → seftriakson

3 – 4 gr dlm 100cc D5% slm ½ jam per infus 1x/hari


selama 3 – 5 hari.
Demam turun H3/H4.
Norfloksasin → 2 x 400 mg/hari selama 14
hari.
Fluorokuinolon Siprofloksasin → 2 x 500 mg/hari selama 6
hari.
Ofloksasin → 2 x 400 mg/hari selama 7 hari.
Pefloksasin → 400 mg/hari selama 7 hari.
Fleroksasin → 400 mg/hari selama 7 hari.
Eeva EW & Bukirwa H (2008) →
azitromisin (2x500mg) vs fluorokuinolon
Azitromisin
→ ↓ kegagalan klinis & durasi rawat inap.
Azitromisin vs Seftriakson → ↓ angka
relaps.

Kortikosteroid Toksik tifoid atau syok septik.


3 x 5 mg.
Pengobatan Simtomatis
Demam Tifoid
• Antiemetik adalah zat yang berhasiat
menekan rasa mual dan muntah.
• Antipiretik berhasiat menurunkan
demam, tetapi tidak perlu di berikan
rutin pada setiap pasien demam tifoid
karena tidak banyak berguna.
• Kortikosteroid, pasien yang toksik dapat
di berikan kortikosteroid dalam dosis
yang menurun secara bertahap selama 5
hari.
Pencegahan
a. Primer
- Mengurangi penyebab
- Mengatasi/modifikasi lingkungan
- Meningkatkan daya tahan pejamu
• Perbaikan status gizi.
• Imunisasi
b. Sekunder
Untuk mencegah meluasnya penyakit, mencegah
proses penyakit lebih lanjut serta mencegah
terjadinya komplikasi.
c. Tersier
Ditujukan untuk penderita demam tifoid agar tidak
bertambah berat penyakitnya, mencegah tidak
sampai mengalami cacat atau kelainan permanen dan
mencegah kematian akibat penyakit tersebut.
VAKSINASI

• Populasi → anak usia sekolah di daerah


endemik, personil militer, petugas RS,
laboran kesehatan, industri
Indikasi makanan/minuman.
• Individu → Pengunjung/wisatawan ke
daerah endemik, orang yg kontak erat
dgn penderita tifoid.
Jenis

1. Vivotif Berna (oral)

o Belum tersedia di Indonesia.


o Mengandung Salmonella hidup yg dilemahkan.
o 4 kapsul diminum setiap selang sehari dalam waktu 1
mg.
o Perlindungan 5 tahun.
o Tidak dianjurkan usia < 6 tahun.
2.Typhim Vi (parenteral)
o Sudah tersedia di Indonesai.
o Vaksin suntik dosis tunggal.
o Mengandung Ag berupa kapsul polisakarida.
o Efektif 2 mg stlh suntik & bertahan smp 3 tahun.
o Dapat diberikan pd anak usia 2 tahun.
Kontraindikasi

1. Penderita yg alergi atau reaksi efek samping berat.


2. Imunitas menurun.
3. Kehamilan.
4. Dianjurkan tidak memberikan vaksin bersamaan dgn
sulfonamid atau antimikroba lain.

Efek Samping

1. Vaksin vivotif → demam, sakit kepala.


2. Vaksin typhim vi demam, malaise, sakit kepala, rash,
reaksi nyeri lokal.
Komplikasi

Intestinal
• Perdarahan usus
• Perforasi usus
• Peritonitis
Ekstra-intestinal
• Komplikasi hematologi
• Hepatitis tifosa
• Pankreatitis tifosa
• Miokarditis
• Neuropskiatrik/tifoid toksik
Prognosis

Jika tidak di obati, angka kematian pada


demam tipoid 10 – 20%, sedangkan pada
kasus yang di obati angka mortalitas
demam tipoid sekitar 2%. Kebanyakan
kasus kematian berhubungan dengan
malnutrisi, balita dan lansia. Pasien lanjut
usia prognosisnya lebih buruk. Bila terjadi
komplikasi, maka prognosis semakin
buruk. Relaps terjadi pada 25% kasus.
STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. Sri Rahayu
Umur : 20 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Belum Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Jl. Perjuangan No 14C
Tanggal masuk : 23 Januari 2017
Tanggal keluar : 25 Januari 2017
Keluhan Utama Demam (+) dialami sejak 1 minggu

Telaah OS datang dengan keluhan demam


yang naik turun, menggigil, sakit
kepala, berdenyut, muntah, nyeri
perut, sebelumnya ada mencret 3 hari
yang lalu, nafsu makan menurun,
badan lemah.

Keluhan Tambahan Pasien mengeluh nyeri ulu hati dan


mual.
Riwayat Penyakit Terdahulu -

Riwayat Pemakaian Obat -

Riwayat Penyakit Keluarga -

Habitualitas -
Keadaan Pasien

Keadaan Umum : Lemas


Keadaan Penyakit : Sedang
Keadaan Gizi : Baik

Vital Sign

Sensorium : Compos Mentis


Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 78 kali / menit
Pernafasan : 18 kali / menit
Temperatur : 38,5 °C
Pemeriksaan Fisik

Kepala : Normocefali
Rambut : Normal (tidak mudah dicabut, warna rambut hitam).
Wajah : Simetris, Normal
Mata : Pupil : Isokor
Konjungtiva : Anemis (-/-)
Sklera : Anikterus
Refleks Cahaya :+/+ (normal)
Telinga : Simetris, massa (-), sekret (-), benda asing (-)
Hidung : Septum nasi simetris, sekret (-), massa (-)
Mulut : Bersih
Leher : TVJ : R-2cm H2O (normal)
Thorax:
Inspeksi : - Fusifomis (bentuk dan ukuran kedua dada normal dan
simetris
Palpasi : Stemfremitus : kiri = kanan (normal)
Perkusi : Sonor (kedua lapangan paru)
Auskultasi : SP : Vesikuler
ST : Tidak ada (-)

Abdomen:
Inspeksi : Simetris, distensi (-), asites (-)
Auskultasi : Peristaltik (+) Meningkat
Perkusi : Shifthing dullness (-), Timpani
Palpasi : Soepel (+), Hepar, limpa dan pankreas tidak teraba

Ekstremitas:
Superior : Akral hangat
Inferior : Akral hangat
WIDAL TEST

TITER O TITER H

S. Thyphi 1/640 1/640

S. Parathypi A 1/320 1/320

S. Parathypi B 1/320 1/160

S. Parathypi C 1/320 1/80


Diferensial diagnosa:
Demam Thyfoid
Demam Dengue
DBD
Malaria

Diagnosa kerja: Demam Thyfoid

Pengobatan:
Tirah Baring
Diet MII
IVFD RL 20gtt/i
Injeksi Ranitidine 1 amp/12jam
Paracetamol 3x1
Follow Up