Anda di halaman 1dari 28

REFERAT

SMF ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
Pembimbing : dr. Amanda Trixie Hardigaloeh, Sp.PD
Oleh : Anis Komala, S.Ked

RS Sultan Syarif M. Alkadrie Pontianak


SISTEM IMUN
SEL SISTEM IMUN
MEKANISME PERTAHANAN
REAKSI HIPERSENSIVITAS
PENYAKIT AUTOIMUN
SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS
Lupus Eritematosus Sistemik
 Penyakit autoimun yang mempengaruhi multisistem
 Prevalensi di Amerika Serikat : 15-50 kasus per
100.000 penduduk
 90% kasus adalah wanita
 Ras Afrika Amerika >>
 Onset biasanya antara usia 15 - 45 tahun, namun
dapat pula terjadi pada masa kanak-kanak atau
usia lanjut
 Autoimunitas → kegagalan toleransi imunologi →
tidak dapat membedakan self dan non-self
 Respon sistem imun yang abnormal (hipersensitif
dan hiperreaktif)
 ↑↑ molekul HLA-D dan CD40L di permukaan sel T
dan sel B → mudah teraktivasi
PATOGENESIS
MANIFESTASI KLINIS
Malar Rash (Butterfly Rash)
Discoid Rash
A, An H&E-stained section shows liquefactive degeneration of the basal layer of the
epidermis and edema at the dermoepidermal junction. B, An immunofluorescence micrograph
stained for IgG reveals deposits of Ig along the dermoepidermal junction
Oral Ulcers
Arthritis
Lupus Nephritis

A, Focal proliferative glomerulonephritis, with two focal necrotizing lesions at the 11 o'clock and 2 o'clock
positions (H&E stain). B, Diffuse proliferative glomerulonephritis. Note the marked increase in cellularity
throughout the glomerulus (H&E stain). C, Lupus nephritis showing a glomerulus with several "wire loop"
lesions representing extensive subendothelial deposits of immune complexes (periodic acid-Schiff stain).
D, Electron micrograph of a renal glomerular capillary loop from a patient with SLE nephritis.
Subendothelial dense deposits correspond to "wire loops" seen by light microscopy. E, Deposition of IgG
antibody in a granular pattern, detected by immunofluorescence.
PENEGAKAN DIAGNOSIS
 Kriteria ACR 1997 (American College of
Rheumatology) : 4 dari 11 kriteria → SLE

 Pemeriksaan standar : hitung darah lengkap,


jumlah platelet, urinalisis, kadar serum
creatinine dan albumin
 Pemeriksaan lanjutan : ANA test
ANTINUCLEAR ANTIBODIES (ANA)
 Positif pada 95% kasus SLE
 Pada SLE → Sensitivitas 93-95%, spesifitas
57%
 Pola antibodi khas SLE : Rim Pattern dan
Homogenous Pattern

 Low Positive (titer ≤ 1:160)


 High Positive (titer ≥1:320)
SLE specific pattern
TERAPI KONSERVATIF
 Pada pasien tanpa keterlibatan organ penting
 NSAID : untuk kontrol nyeri, pembengkakan dan
demam
 Antimalaria : umumnya untuk mengatasi nyeri sendi,
ruam kulit dan inflamasi paru. Paling sering digunakan
Hydroxycholorquine
 Kortikosteroid : pengobatan utama SLE
 Untuk menekan inflamasi secara cepat
 Biasanya dimulai dengan dosis tinggi secara IV dan
dikonversi ke PO -> tappering off
 Paling sering digunakan : Prednisone, Hydrocortisone,
Methylprednisolone, dan Dexamethasone
IMUNOSUPRESIF
 Terutama pada pasien dengan keterlibatan organ
ginjal dan SSP
 Mycophenolate mofetil (Cellcept)
 Azathioprine (Imuran) : membutuhkan beberapa bulan
untuk menjadi efektif, hanya efektif pada sebagian
kecil pasien
 Siklosporin : digunakan pada pasien resisten-steroid,
risiko nefrotoksisitas
 Siklofosfamid (cytoxan) : Banyak diberikan pada
pasien dengan nefritis
PENGOBATAN SLE
REFERENSI
 Dennis L. Kasper et al. Harrison’s Principles of
Internal Medicine. 16th Edition. New York: McGraw-
Hill. 2005.
 Vinay Kumar et al. Robbin’s Basic Pathology. 8th
Edition. New York: Elsevier. 2008.
 Gerd-Rudiger Burmester et al. Color Atlas of
Immunology. New York: Thieme. 2003.
TERIMA KASIH