Anda di halaman 1dari 21

PEMERIKSAAN LARING

MOHAMMAD ALI GUFRON


16710399
Anatomi Laring
Pemeriksaan laring terdiri atas:
■ Pemeriksaan dari luar dengan inpeksi dan palpasi
■ Laringoskopi indirekta dengan cermin laring
■ Laringoskopi direkta dengan laringoskop kaku, laringoskop fiber optik dan mikroskop
■ Pemeriksaan kelenjar leher
■ Pemeriksaan X-foto rontgen
Pemeriksaan dari luar
■ Inspeksi
Diperhatikan warna dan keutuhan kulit, serta
benjolan yang ada pada daerah leher di sekitar
laring.

■ Palpasi berguna untuk:


• Mengenal bagian dari kerangka laring dan
gelang-gelang trakea
• Apakah ada edem, struma, kista, metastase
susunan yang abnormal dijumpai pada
fraktur dan dislokasi
• Laring yang normal, mudah sekali digerakkan
Laringoskopi Indirekta
■ Laringoskopi indirekta adalah melihat laring secara tidak langsung dengan cara menempatkan
cermin di dalam faring, dan cermin tersebut disinari oleh cahaya. Bayangan laring pada cermin
terlihat dari sinar yang dipantulkan.

■ Syarat-syarat yang harus dipenuhi:


 Harus ada jalan yang lebar untuk akses cahaya yang dipantulkan oleh cermin dari faring ke laring
 Harus ada tempat yang luas buat cermin, dan cermin tidak boleh ditutup oleh uvula
Alat-alat yang diperlukan
 Cermin laringoskop yang besar
 Lampu spiritus
 Larutan tetrakain buat faring yang sensitif
 Kain kasa (dilipat)
Tahap-tahap pemeriksaan
■ Memeriksa radiks linguae, epiglotis dan sekitarnya
■ Memeriksa lumen laring dan rima glotidis
■ Memeriksa bagian yang letaknya kaudal dari rima
glotidis
Pelaksanaan
■ Anestesi faring dengan tetrakain (pada faring yang sangat sensitif)
■ Mulut harus dibuka lebar-lebar, harus bernapas dari mulut
■ Penderita diminta menjulurkan lidah panjang-panjang
■ Bagian lidah yang berada di luar mulut dibungkus dengan kain kasa dan dipegang
dengan tangan kiri, jari I diatas lidah, jari III dibawah lidah dan jari II menekan pipi.
Dipegang dengan tenaga yang optimal
■ Cermin dipegang dengan tangan kanan, seperti memegang pensil dan arah cermin
ke bawah
■ Cermin dipanasi (> 37 derajat celcius), supaya tidak menjadi kabur
■ Panas cermin dikontrol pada lengan bawah kiri pemeriksa
Pelaksanaan…
■ Cermin dimasukkan ke dalam faring dan
mengambil posisi di muka uvula
■ Kalau perlu uvula di dorong sedikit ke
belakang dengan punggung cermin, cermin
disinari
Pemeriksaan Tahap 1
(pada radiks lingue, epiglotis dan sekitarnya)
■ Kelihatan gambar radiks lingue, epiglotis, plika
glossoepiglotika, valekula kiri dan kanan
■ Perhatikan anatomi dan patologinya(oedeme
epiglotis, ulkus tumor, maupun corpus alienum)
■ Facies posterior tonsil dengan cara penderita
disuruh untuk mengucapkan huruf “iii” yang
panjang dan tinggi
Pemeriksaan tahap 2
(melihat laring dan sekitarnya)
■ Perhatikan anatomi Laring
■ Perhatikan patologi-anatominya (radang,
oedem, ulkus, adanya cairan, maupun tumor)
■ Perhatikan gerakan dari korda vokalis kiri-
kanan .normal, simetris, tidak
bergerak(parese) unilateral atau bilateral
Pemeriksaan Tahap 3
(melihat trakea)
■ Biasanya korda vokalis hanya
dapat dillihat pada stadium fonasi
■ Dalam stadium lumen laring
tertutup oleh epiglotis, sehingga
mukosa trakea hanya dapat dilihat
waktu belum ada adduksi yang
komplit, atau di waktu permulaan
abduksi
■ Perhatikan: anatomi, patologi
mukosa, sekret regio subglotik,
oedeme, tumor.
Kesalahan-kesalahan yang lazim dibuat dokter
1. Lidah
■ . penderita ditarik keluar sehingga frenulum linguae terjepit
antara incisivus inferior kanan dan kiri.

Kalau terasa sakit maka tangan kita akan ditolak oleh penderita

2. Lidah dipegang terlalu keras sehingga terasa sakit,

Pasien menarik lidahnya ke dalam mulut, atau tangan dokter ditolak

3. Cermin dapat menimbulkan reflek muntah, bila menyentuh faring.

Bila cermin terlalu panas, uvula terasa sakit, pasien memukul tangan
dokter
13
Kesulitan dari pihak dokter
■ sulitnya mengadakan koordinasi yang baik antara
 tangan kiri memegang lidah
 tangan kanan memegang cermin
 kepala yang menggerakkan lampu dan mata yang harus
melihat.
Kesulitan dari pihak penderita
1. Ketegangan sehingga napas ditahan
2. Salah mengerti :
■ Penderita disuruh bernapas biasa dari mulut : kedengaran seolah-olah
waktu ekspirasi, terdengar mengucapkan huruf “hhh”
■ Bernapas terlalu keras dan terlalu cepat
■ Penderita tidak mengucapikan huruf “iii” tetapi batuk (jadi pada pertama kali dokter
harus memalingkan mukanya ke samping)
■ Mengucapkan huruf “iii” dengan mulut terbuka, dan lidah dikeluarkan
■ Cara mengatasinya ialah dengan menyuruh penderita secara berturut-turut
mengucapkan huruf “aaa” “eee” “iii”
■ Bila pasien menarik lidahnya kedalam, kita sedikit mengikutinya, sehingga
pemeriksaan dapat lebih mudah
■ Tetapi lebarnya mulut tetap kita atur dengan menekan telunjuk kiri ke pipi di antara
geraham atas dan geraham bawah.
Laringoskopi direk

Melihat laring secara langsung tanpa cermin tetapi dengan


perantara alat yang disebut laringoskop

■ Laringoskop yang digunakan dapat berupa:


a. Laringoskop kaku yaitu:
* Endoskop model brunings, Jackson, Mc. Intosh, Mc. Gill.
* Sumber cahaya : Brunings proximal, Jackson distal
Teknik
■ Pasien ditidurkan terlentang diatas meja periksa
■ Pemeriksaan baru dapat dimulai kira-kira 10 menit setelah ke
dalam faring dan laring diteteskan tetrakain 1% (masing-masing
10 tetes)
■ Pipa dimasukkan sampai ke dalam introitus laringis
■ Memperhatikan gambar laring seperti pada laringoskopi
indirekta
Laringoskop fiber

Mikrolaringoskop dengan memakai mikroskop


Perhatikan:
* Pasien berbaring, posis kepala didepan pemeriksa
* Bagian kanan pasien adalah juga bagian kanan pemeriksa
Pemeriksaan kelenjar leher
■ Kelenjar leher pada umunya baru teraba apabila ada pembesaran
lebih dari 1cm. Palpasi dilakukan dengan posisi pemeriksa berada di
penderita dan dilakukan secara sistematis atau berurutan dimulai
dari submental berlanjut kearah angulus mandibula, sepanjang
muskulus sternokleidomastoid, klavikula dan diteruskan sepanjang
nervus accesorius.
Foto Rontgen
Indikasi untuk membuat foto rontgen :
■ Fraktura laring
■ Karsinoma laring : Untuk melihat passage yang masih ada
Untuk melihat luasnya tumor

macam pemeriksaan :
1. Foto leher PA/lateral soft tissue
2. Laringogram dengan menggunakan kontras
3. Tomogram
TERIMAKASIH