Anda di halaman 1dari 48

Overview: Layanan Kesehatan

Geriatri
Siti Setiati
The ageing world

"One in 10 persons is over the age of


sixty. By 2050, this proportion will have
doubled to one in five."

Kofi Annan, UN Secretary General


Populasi Lanjut Usia di Dunia

• Antara 2015-2030, jumlah penduduk


lansia di seluruh dunia diroyeksikan
tumbuh 56%, dari 901 juta menjadi 1,4
Miliar.
• Pada 2050, diperkirakan menjadi dobel
(dibanding tahun 2015) yaitu sekitar 2,1
Miliar.

United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population


Division (2015). World Population Ageing 2015 (ST/ESA/SER.A/390)
2015
> 60 tahun > 80 tahun

Indonesia

INDONESIA
• Negara berkembang
• Aging society (>7%)

United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population Division


(2015). World Population Ageing 2015 (ST/ESA/SER.A/390)
Top 10 Penyakit Terbanyak Lansia di
Indonesia (Riskesdas, 2013)
No Penyakit Prevalensi berdasar Kelompok Usia (%)
55-64 tahun 65-74 tahun >75 tahun
1. Hipertensi 45.9 57.6 63.8
2. Artritis 45.0 51.9 54.8
3. Stroke 33.0 46.1 67.0
4. PPOK 5.6 8.6 9.4
5. Diabetes mellitus 5.5 4.8 3.5
6. Kanker 3.2 3.9 5.0
7. Penyakit Jantung Koroner 2.8 3.6 3.2
8. Batu Ginjal 1.3 1.2 1.1
9. Gagal Jantung 0.7 0.9 1.1
10 Gagal ginjal 0.5 0.5 0.6

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi dan analisis lanjut usia. 2014.
Tantangan Ledakan Jumlah Penduduk Lansia

23% masalah kesehatan global terjadi pada


populasi usia lanjut  mencapai 50% pada
negara maju.
 Double burden disease (terutama penyakit
tidak menular)
 Peningkatan risiko disabilitas
 Peningkatan kebutuhan untuk melayani
penduduk lansia
 Beban ekonomi populasi lansia
 Isu etik

World Health Organization. Active ageing: a policy framework. 2002.


Geriatri ≠ Lanjut Usia
Pasien Geriatri
• SEARO/WHO
Individu berusia 60 tahun atau lebih DAN
Memiliki ≥ 2 masalah kesehatan atau dengan disabilitas

• Permenkes No. 79 tahun 2014:


Pasien geriatri adalah pasien lansia dengan multipatologi dan/atau
hendaya sebagai akibat dari penurunan fungsi organ, masalah psikologi,
sosial, ekonomi, lingkungan yang membutuhkan penanganan secara
holistik dengan pendekatan multidisiplin yang bekerja interdisiplin.
Karakteristik Pasien Geriatri
Penurunan
Multipatologi cadangan
fisiologis

Gejala Klinis Perubahan


yang Tidak status
Khas fungsional

Perubahan Sindrom
status nutrisi Geriatri
1. Multipatologi
• Pasien dengan ≥ penyakit; sebagian besar merupakan penyakit kronik
degeneratif.
• Kebanyakan penyakit yang ‘didapat’ tidak terkait dengan proses menua.
Namun, proses menua sendiri membuat penyakit lebih buruk.
• Menyebabkan mortalitas dan morbiditas yang tinggi.
• Konsekuensi logis: polifarmasi, interaksi antar obat, dan efek simpang obat
menjadi lebih sering terjadi.

Kane R. Essentials of clinical geriatris; 2013.


Gosney M, et al. Oxford desk reference geriatric medicine; 2012.
2. Penurunan cadangan fisiologis
• Masalah ‘sederhana’ dapat dengan mudah menyebabkan disabilitas.
• Progresivitas penyakit menjadi lebih cepat (contoh: keterlambatan
penanganan syok sepsis dapat fatal pada pasien geriatri).
• Proses penyembuhan dan pemulihan lebih lambat.
• Perubahan pada beberapa organ, seperti ginjal, hepar, dan komposisi tubuh
yang berdampak pada farmakokinetik obat.
• Contoh:
• Pada populasi lansia, jumlah air di dalam tubuh menurun dan jumlah lemak
meningkat. Akibatnya, pada pasien lansia, obat yang larut air mencapai
konsentrasi yang lebih tinggi karena lebih sedikit air untuk melarutkan
sedangkan obat larut lemak menjadi terakumulasi karena lebih banyak
jaringan lemak untuk menyimpannya.
Kane R. Essentials of clinical geriatris; 2013.
Gosney M, et al. Oxford desk reference geriatric medicine; 2012.
3. Gejala Klinis Tidak Khas
Penyakit Gejala klinis tidak khas
Penyakit infeksi • Demam
• Sepsis tanpa leukositosis
• Jatuh, penurunan nafsu makan, perubahan status fungsional
Nyeri abdomen • Tidak ada gejala
akut “Silent” • Terasa tidak nyaman dan hanya konstipasi
“Silent” • Nyeri pinggang dapat terjadi karena metastasis kanker
malignancy payudara.
• Massa intraabdominal dapat tanpa gejala.
“Silent” • Tidak ada nyeri dada
myocardial • Bermanifestasi sebagai fatigue, mual, dan penurunan status
infacrtion fungsional.
• Sesak napas lebih sering terjadi dibanding nyeri dada.

Pathy's principles & practice of geriatric medicine; 2012.


4. Perubahan Status Fungsional
• Kemampuan fungsional harus menjadi fokus utama dalam mengevaluasi
pasien geriatri  untuk menentukan efek penyakit terhadap kualitas
hidup pasien.
Contoh:

Pasien dengan hemiparesis. Lokasi dan seberapa luas lesi


mungkin penting dalam tatalaksana. Namun, aspek
fungsional seperti apakah pasien dapat bergerak dan
berjalan juga penting karena berdampak pada
penanganan pasien. Apakah pasien dapat beristirahat di
rumah atau lebih baik di nursing home?

Gosney M, et al. Oxford desk reference geriatric medicine; 2012.


5. Sindrom Geriatri

• Sindrom = kumpulan gejala


• Banyak dialami oleh pasien
geriatri
• Berkaitan dengan proses menua
dan multipatologi
• Tidak hanya berkaitan dengan
masalah fisik organobiologik tapi
juga psikologik dan sosial
ekonomi
Pengkajian Geriatri (Geriatric
Assessment)
• Karena karakteristiknya yang khusus, pasien geriatri memerlukan pengkajian
dan pelayanan komprehensif di semua tingkat pelayanan kesehatan.

Pengkajian Paripurna Pasien Geriatri (P3G)


Comprehensive Geriatric Assessment (CGA)
Suatu prosedur untuk mengevaluasi pasien geriatri secara multidimensi,
dengan mengungkap dan mengurai semua masalah pasien, menemukenali
semua aset pasien, mengidentifikasi jenis pelayanan yang dibutuhkan, dan
mengembangkan rencana asuhan secara terkoordinasi.
CGA/P3G
Komponen Pengkajian

Pengkajian  Umumnya multipatologi dan didominasi oleh penyakit


masalah medik tidak menular/ non-communicable disease.
 Wawancara medik
 Keluhan utama + riwayat perjalanan penyakit
 Anamnesis sistem
 Pemeriksaan jasmani menyeluruh
 Pemeriksaan penunjang
 Tegakkan diagnosis medik (masalah kesehatan)
 Target penatalaksanaan pasien usia lanjut mungkin
berbeda dengan kelompok usia dewasa umumnya.
 Misal: Target TD pada pasien usia lanjut lebih longgar (TD
sistolik 150 mmHg) dibanding pada usia dewasa lainnya
(TDS = 140 mmHg).
CGA/P3G
Komponen Pengkajian
 Fungsi kognitif perlu dikaji untuk mendeteksi gangguan fungsi
kognitif dan menentukan decision-making capacity pasien.
 Fungi kognitif  memori, atensi, orientasi, bahasa, fungsi
luhur. NILAI NILAI EKSEKUSI,
Pengkajian status MAKS VISUOSPASIAL

kognitif. NILAI NILAI 3 ( ) Pasien disuruh melakukan


MAKS perintah : “Ambil kertas itu
NILAI NILAI ORIENTASI dengan tangan anda, lipatlah
ATENSI DAN KALKULASI
MAK menjadi dua dan letakkan di
S 5 ( ) Pengurangan 100 dengan 7. Nilai 1 lantai”
untuk setiap jawaban yang benar.
5 ( ) Sekarang ini (tahun), (musim), (bulan), Hentikan setelah 5 jawaban, atau eja
(tanggal), (hari) apa? secara terbali kata “ W A H Y U” (Nilai 1 ( ) Pasien disuruh membaca,
diberi pada huruf yang benar sebelum kemudian melakukan
5 ( ) Kita berada dimana? (negara), (propinsi), kesalahan: misal : UYAHW = 2 nilai)
(kota), (rumah sakit), (lantai/kamar) perintah kalimat “Pejamkan
MENGENAL KEMBALI mata anda”
REGISTRASI 3 ( ) Pasien disuruh menyebut kembali 3 1 ( ) Pasien disuruh menulis
3 ( ) Pewawancara menyebutkan nama 3 buah nama objek diatas tadi. Beirikan nilai kalimat lengkap dengan
benda : satu detik untuk setiap benda. 1 untuk tiap jawaban yang benar. spontan (tulis apa saja)
Kemudian pasien diminta mengulangi nama BAHASA 1 ( ) Pasien disuruh menggambar
ketiga objek tadi. Berilah nilai 1 untuk tiap bentuk dibawah ini
nama objek yang disebutkan benar. Ulangi 2 ( ) Apakah nama benda ini?
lagi sampai pasien menyebut dengan benar Perlihatkanlah pinsil dan arloji
: (bola, kursi, buku) Hitunglah jumlah 1 ( ) Pasien disuruh mengulangi kalimat
percobaan dan catatlah : …………… kali berikut : “JIKA TIDAK, DAN TAPI”
CGA/P3G
Komponen Pengkajian

• Menilai kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas hidup


dasar sehari-hari
• Merupakan gambaran umum derajat kesehatan pasien lansia.
• Dapat dijadikan patokan keberhasilan (evaluasi) hasil pengobatan.
Pengkajian status
• Kondisi sakit yang berat akan memengaruhi status fungsional
fungsional.
seseorang  pasien kehilangan kemandiriannya.
• Makin tinggi derajat ketergantungan: risiko kematian ↑, risiko
dimasukkan ke panti ↑, risiko abuse ↑, risiko imobilisasi ↑, risiko
kekambuhan ↑
• Pasien tak hanya diupayakan untuk sembuh tetapi juga perlu
diupayakan agar status fungsionalnya membaik.
CGA/P3G
Komponen Pengkajian

 Perasaan sedih sering tidak


diungkapkan secara verbal.
Pengkajian status  Melalui mimik wajah dan
afek/emosi sikap dalam berbicara.
 Murung, mata berkaca-kaca,
menangis atau wajah
menunjukkan amarah,
ungkapan rasa tak puas, sikap
merajuk, ‘ngambek’, tidak
mau makan.
CGA/P3G
Komponen Pengkajian
Seiring proses menua, terjadi penurunan massa otot yang
disebabkan oleh resistensi anabolik dalam sintesis massa otot
dan proses katabolisme yang meningkat.  rentan terjadi
malnutrisi.
Status nutrisi perlu dikaji untuk mendeteksi gangguan nutrisi
yang berdampak buruk pada berbagai luaran kesehatan.

Pengkajian status
nutrisi

Burd NA, et. al. Exerc Sport Sci Rev. 2013;41(3):169-173.


CGA/P3G
Komponen Pengkajian

 Jenis obat (termasuk suplemen,


herbal, dan obat yang dibeli
sendiri oleh pasien)
 Jumlah obat
 Interaksi obat
 Efek samping obat
 Kemungkinan polifarmasi
Pengkajian  Adakah obat yang tidak
masalah obat. diperlukan dan dapat dihentikan?
CGA/P3G
Komponen Pengkajian

 Kondisi sosial erat kaitannya dengan mengapa pasien


sakit
 Apa saja rencana pascaperawatan yang diharapkan
dilakukan di rumah?
 Siapa yang akan merawat pasien di rumah (care
giver)? Apakah keluarga atau pengasuh tamu?
 Bagaimana keadaan pasien secara finansial?
 Bagaimana hubungan pasien dengan orang-orang
terdekat? Adakah elderly mistreatment?
 Apakah kondisi rumah cukup aman untuk
keselamatan pasien (mis: pencegahan jatuh)?

Pengkajian
masalah sosial.
CGA/P3G
Komponen Pengkajian Aspek Pengkajian Pendekatan Luaran

Pengkajian Biopsikososial Interdisiplin Lama rawat <


masalah medik Berkesinambungan Status fungsional > baik
Promotif-preventif
Pengkajian status Menyelesaikan
Kuratif-rehabilitatif fase akut Kualitas hidup > baik
kognitif.
Discharge Kesintasan lebih baik
Pengkajian status Continuum of care Planning
fungsional. Rehospitalisasi
Hospital and Perawatan Rumah
Pengkajian status menjadi jarang
Community-based Transfer perawatan
afek/emosi Geriatric Care dari RS ke Kepuasan pasien
Pengkajian status Hospital Community komunitas bertambah
nutrisi Tingkatan perawatan - Pekerja sosial
- Nursing home Kepuasan tenaga
- Sederhana
Pengkajian - Klub Lansia kesehatan >
- Lengkap
masalah obat. - Sempurna - PUSAKA
Lebih cost effective
- Paripurna - Puskesmas/ Posyandu lansia
Pengkajian
- Karang wreda
masalah sosial. - Panti wreda
Ilustrasi Kasus (1)  Pelayanan bersifat
multidisiplin.
Seorang pasien laki-laki usia 82 tahun  Masing-masing
dokter tidak saling
Riwayat stroke 2 Vitamin B12 3 x 500 mg
Neurologi berkomunikasi.
bulan yang lalu Aspirin 1 x 80 mg
 Tidak ada prioritas
penatalaksanaan
Hipertensi Grade II Penyakit Dalam Lisinopril 1 x 10 mg
Amlodipin 1x 10 mg pasien.
 Risiko polifarmasi
Diabetes mellitus tipe Penyakit Insulin basal 10 unit meningkat akibat
2 GD belum terkontrol Dalam insulin prandial 3 x 6 unit. interaksi antarobat.
 Biaya kesehatan
Pneumonia Meropenem 1 gram IV/ 8 jam menjadi
Pulmonologi Nebulisasi Salbutamol membengkak.
Osteoporosis Rematologi Calcium laktat, Vitamin D, Bisfosfonat

Demensia Psikiatri Psikoterapi, rivastigmine

Fraktur collum femoris Orthopedi ORIF, bed rest total


CGA/P3G
Pendekatan

Multidisiplin Interdisiplin Interdisiplin


Berkesinambungan
Menyelesaikan
Ilmu
INTERNIST Penyakit fase akut
Dalam Discharge
Planning
Perawatan Rumah
Ilmu Transfer perawatan
NEUROLOGI PASIEN
Saraf NEUROLOGI dari RS ke
komunitas

PSIKIATRI Ilmu
Kedokteran
Jiwa
Ilustrasi Kasus
(2)
• Seorang pasien wanita (Ny X) usia 72 tahun datang dengan keluhan tidak mau
makan 2 bulan SMRS dan memberat sejak 1 minggu SMRS. Sejak 1 minggu
terakhir, pasien hanya makan 3 sendok/ tiap hari dan minum 2 gelas air/hari. Dari
hasil pemeriksaan pasien mengalami dehidrasi sedang dan gizi kurang (IMT 16
kg/m2).
• Saat di RS, kondisi dehidrasi ditangani dan diberikan asupan untuk memperbaiki
status gizi.
• 1 bulan kemudian, pasien masuk lagi ke RS karena keluhan yang sama (dehidrasi
sedang dan gizi kurang) dan saat di RS, diberikan tatalaksana yang serupa.
• 1 bulan kemudian, pasien masuk lagi dengan keluhan yang sama dan diberikan
tatalaksana yang sama juga (perbaikan status hidrasi dan status gizi).
• Tanpa menggali faktor penyebab keluhan tersebut, penatalaksanaan hanya akan
berfokus pada penatalaksanaan kondisi klinis saat itu tetapi pasien akan kembali lagi
dengan keluhan yang sama. (angka rehospitalisasi tinggi)
• Faktor penyebab keluhan ini banyak (demensia, depresi yang terselubung, elderly
mistreatment, overactive bladder, dll). Untuk itu, perlu dilakukan pengkajian
paripurna (P3G/CGA) untuk menentukan penyebab keluhan tersebut bukan hanya
memberi terapi sementara. Family meeting perlu dilakukan, caregiver diberikan
edukasi. Pendekatan Biopsikososial penting dikerjakan.
• Pada kasus tadi, keluhan dehidrasi dan gizi kurang disebabkan oleh pasien yang
mengurangi asupan makan dan minum. Tujuannya agar tidak terlalu sering kencing
karena Ny X memiliki masalah overactive bladder. Anggota kelurganya sering
memarahi dia ketika ia mengompol.
CGA/P3G
Luaran
Lama rawat <

Status fungsional > baik

Acta Med Indones. 2008 Jan;40(1):3-10 Kualitas hidup > baik


• Metode: non-RCT, CGA (n=107) vs non-CGA (n=107) Kesintasan lebih baik
• Hasil:
Rehospitalisasi
Rerata lama perawatan pada kelompok CGA lebih pendek menjadi jarang
(10,99 hari vs 20,16 hari; p=0.00)
Angka rehospitalisasi lebih tinggi pada kelompok non-CGA Kepuasan pasien
bertambah
(86,92% vs 80,37 %; p = 0,05)
 Rerata biaya layanan kesehatan pada kelompok non-CGA Kepuasan tenaga
lebih tinggi dibanding pada kelompok CGA (Rp. 9,746,426.00 kesehatan >
[1,180,331] vs Rp 4,760,965.00 [338,089]). Lebih cost effective
Cost effectiveness analysis (CEA) menunjukkan CGA lebih
superior dibandingkan pendekatan konvensional.
Agenda Prioritas WHO untuk Healthy Aging
Menghubungkan
sistem kesehatan
Memperbaiki dengan usila yang
pengukuran, dilayani
pengawasan, dan
pengertian

Memastikan semua
dapat menua di Membentuk sistem
lingkungan ramah usia perawatan jangka
panjang
MENGEMBANGKAN LAYANAN
KESEHATAN JANGKA PANJANG
• Pasien usia lanjut memiliki masa pulih yang panjang, tetapi
tidak memerlukan fasilitas lengkap di RS (biaya besar) 
Long-term Care dan Home Care
• Perlu koordinasi & interaksi antara layanan kesehatan di
Komunitas (PPK1) dan RS (PPK2 dan PPK3), layanan yang
berkesinambungan.

Wound care at Hospital at


“Medical House calls” Home care program in home
and “door to door” Makassar home
system “Medical House calls”
system
Membentuk lingkungan
RAMAH USIA (age-friendly)

• Melawan stigma negatif dan abuse terhadap kaum


usia lanjut
• Berfokus untuk mempertahankan kemandirian
(dependency)
• Koordinasi dengan lintas disiplin terkait Healthy
Aging Society
Usia Lanjut yang telah PENSIUN BEKERJA
dan MENGALAMI SAKIT atau DISABILITAS
dapat TETAP AKTIF bersama keluarga,
sahabat, komunitas, dan masyarakat.

“Active Aging” bertujuan untuk meningkatkan


masa dan kualitas hidup sehat untuk semua
orang, baik frail, penyandang disabilitas, dll.
Meningkatkan Pemantuan & Pemahaman

• Identifikasi masalah berbasis penelitian (analitik)


• Sosialisasi mengenai konsep Healthy Aging
• Menerapkan temuan kedokteran terkini dalam
pelayanan kesehatan usia lanjut
Sinergisasi sistem layanan kesehatan
• Layanan ramah usia lanjut
• Pendekatan bersifat inter-disiplin
• Pergeseran paradigma dari mengatasi penyakit 
optimalisasi kemampuan fungsional apa yang
masih tersisa
Rencana Aksi Nasional (RAN) Strategi Nasional
1. Memperkuat dasar hukum pelaksanaan pelayanan
Kesehatan Lanjut Usia kesehatan lanjut usia
Tahun 2016 – 2019 2. Meningkatkan jumlah dan kualitas fasilitas kesehatan
(Pemenkes 25 Tahun 2016) tingkat pertama dan fasilitas kesehatan rujukan tingkat
lanjutan yang melaksanakan pelayanan kesehatan santun
lanjut usia
3. Membangun dan mengembangkan kemitraan dan
jejaring pelaksanaan pelayanaan kesehatan lanjut usia
yang melibatkan lintas program, lintas sektor, organisasi,
lembaga pendidikan dan penelitian, profesi, LSM, dunia
usaha, media massa, dan pihak terkait lainnya.
4. Meningkatkan ketersediaan data dan informasi di bidang
kesehatan
5. Meningkatkan peran serta dan pemberdayaan keluarga,
masyarakat, dan lanjut usia
6. Meningkatkan peran serta Lansia dalam upaya
peningkatan kesehatan keluarga dan masyarakat
PELAYANAN
KESEHATAN GERIATRI

• Mencakup kebutuhan khusus usila yang


berbeda dengan dewasa muda
Layanan yang menerima pasien usia
lanjut TIDAK OTOMATIS menjadi • Pendekatan holistik-komprrehensif
layanan kesehatan geriatri (BIOPSIKOSOSIAL)
• Pelayanan berkesinambungan (RS-Komunitas)
Layanan Kesehatan Usia Lanjut

BERBASIS RUMAH SAKIT BERBASIS KOMUNITAS


• Acute ward • Home care
• Chronic ward • Puskesmas
• Day hospital • Posyandu lansia
• Integrated geriatric • Day care center
clinic • Senior living
• Respite-care
Pelayanan Geriatri di RS
(Permenkes 79/ 2014)
Sederhana Lengkap Sempurna Paripurna
Klinik Rawat Klinik Rawat Klinik Rawat Klinik Rawat
Jalan Jalan Jalan Jalan

Home care Home care Home care Home care

Rawat Inap Ruang Rawat Ruang Rawat Rawat inap


Akut Akut Akut Psikogeriatri
Day Care Day Care Respite Care

Rawat Kronik Hospice


Pasal 3
1. Pelayanan Geriatri diberikan kepada pasien Lanjut Usia dengan kriteria:
a. memiliki lebih dari 1 (satu) penyakit fisik dan/atau psikis; atau
b. memiliki 1 (satu) penyakit dan mengalami gangguan akibat
penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi dan lingkungan
yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
2. Selain pasien Lanjut Usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
pelayanan Geriatri juga diberikan kepada pasien dengan usia 70 (tujuh
puluh) tahun ke atas yang memiliki 1 (satu) penyakit fisik dan/atau
psikis.
3. Pelayanan Geriatri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilaksanakan secara terpadu dengan pendekatan Multidisiplin yang
bekerja secara Interdisiplin.
CGA/P3G
Pendekatan

Multidisiplin Interdisiplin Interdisiplin


Berkesinambungan
Menyelesaikan
Ilmu
INTERNIST Penyakit fase akut
Dalam Discharge
Planning
Perawatan Rumah
Ilmu Transfer perawatan
NEUROLOGI PASIEN
Saraf NEUROLOGI dari RS ke
komunitas

PSIKIATRI Ilmu
Kedokteran
Jiwa
Saat ini
 Masih dengan multidisiplin. (terpisah-pisah dari
Pelayanan Pasien berbagai disiplin ilmu dengan lokasi poli yang
berjauhan).
Geriatri di RS  Tidak ada skala prioritas dalam penanganan pasien
dan masing-masing disiplin tidak saling
berkomunikasi untuk menentukan penatalaksanaan
pasien.
 Dengan pendekatan interdisiplin.
 Permasalahan pasien ditangani secara tuntas.
One Stop Service  Dikonsulkan ke bagian lain bila diperlukan
 Dirujuk ke layanan kesehatan tingkat berikutnya
Sesuai Pasal 7 Permenkes, bila perlu.
pelayanan geriatri:
1. Mandiri dan terpisah
dengan pelayanan lainnya
di RS.  Pelayanan dilakukan oleh Tim Terpadu Geriatri (TTG)
2. Lokasi pelayanan yang dibentuk oleh Direktur/ Kepala RS.
berdekatan dengan ruang TTG  TTG terdiri dari: dr. SpPD-konsultan Geriatri atau dr
perawatan dan ruang SpPD dengan pelatihan geriatri; dr Spesialis lain yang
Rehabilitasi Medik serta terkait dengan masalah pasien, perawat dengan
dekat akses masuk RS. ketrampilan gerontik, apoteker, tenaga gizi, fisioterapis,
Persyaratan sarana dan dll.
prasarana sesuai Permenkes.
Elder Friendly Hospital
• Elder friendly hospital adalah RS yang dapat memenuhi kebutuhan lansia dan
bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan status fungsional dan kualitas
hidup lansia yang dirawat.
• Berbagai jenis pelayanan di elder friendly hospital:
 akses yang mudah ke RS
 jam kunjungan yang sesuai
 ‘one stop service’
 staf yang ramah
 pelayanan yang menyenangkan
 lingkungan (termasuk toilet) yang aman dan
nyaman untuk lansia
 ada penunjuk jalan yang jelas
Ahmadi A. Towards Age-Friendly Hospitals in Developing Countries: A Case Study in Iran. Health Promotion Perspectives; 2015:5(1),42-51.
Kesimpulan
• Pasien lansia ≠ Geriatri
• Pasien Geriatri memiliki berbagai karakteristik yang berbeda dan
membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.
• P3G/CGA merupakan pendekatan untuk penatalaksanaan pasien geriatri
secara paripurna dan menyeluruh.
• Penerapan CGA akan berdampak pada luaran yang lebih baik.
(rehospitalisasi menurun, lebih cost-effective, dll)
Kesimpulan
 Tidak setiap RS yang melayani pasien usia lanjut otomatis memberikan
layanan geriatri.
 Terbitnya Permenkes tentang pelayanan geriatri di RS dan puskesmas
merupakan salah satu upaya Indonesia untuk menghadapi ledakan populasi
penduduk lansia di masa yang akan datang.
 Perlu ada political will dalam menerapkan Permenkes 79/2014 seperti:
 pembentukan tim terpadu geriatri di RS.
 SOP penapisan dan pengkajian paripurna pasien geriatri di poliklinik/ruang
rawat oleh tim terpadu geriatri
 penerapan one stop service layanan geriatri di RS.
Kita semua akan menjadi tua dan tentu berharap tetap sehat dan
mendapat pelayanan kesehatan yang baik.
Mari kita benahi sejak sekarang, diri kita dan juga fasilitas
pelayanan kesehatan tempat kita bekerja, agar siap melayani
lansia dan pasien geriatri dengan baik dan benar…
Terima kasih
Kesimpulan (2)
• Sistem rujukan idealnya berjenjang tetapi khusus untuk layanan geriatri,
PPK-1 harus mampu mengenali kondisi medis pasien geriatri yang
sudah berat dan diperbolehkan merujuk ke PPK-2 atau bisa langsung
ke PPK-3.
• Perlu ada SOP yang jelas di RS sebagai penerapan Permenkes 79/2014
seperti: penapisan pasien di poliklinik/UGD, pengkajian menyeluruh
oleh tim terpadu geriatri, dan penerapan one stop service layanan
geriatri.