Anda di halaman 1dari 81

Pendahuluan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Post Seksio Sesarae Ats

Indikasi PEB (Pre Eklamsia Berat) + Plasenta Previa


di Rawat Gabung RSUP Dr. M. Djamil Padang

Oleh: Kelompok 4 (3.C)


Nanda (153110261)
Osa Syah Putri (153110264)
Rada Purnama Sari (153110265)
Raysah Suci Pratiwi(153110266)
Retna Rahayu (153110267)
Riva Amenda (153110268)
Rizka Ardianti (153110269)
A. Seksio Caesare (SC)

1. Pengertian Sc

Sesarea Seksio sesarea adalah pelahiran janin


melalui insisi yang dibuat pada dinding abdomen
dan uterus Tindakan ini dipertimbangkan sebagai
pembedahan abdomen mayor. Kelahiran sesarea
dapat dilakukan dengan aman tidak terjadi sampai
akhir abad ke – 19. (Reeder, Martin, & Griffin,
2014)
2. Indikasi Seksio Sesarea
a. Ibu dan janin
Distosia (kemajuan persalinan yang abnormal) adalah indikasi
paling umum kedua (30%), yang pada umumnya ditunjukkan sebagai
suatu “kegagalan kemajuan” dalam persalinan. Hal ini mungkin
berhubungan dengan ketidasesuaian antara ukuran panggul dengan
ukuran kepala janin (disproporsi sefalopelvik), kegagalan induksi, atau
aksi kontraksi uterus yang abnormal.

b. Ibu
Penyakit ibu yang berat, seperti penyakit jantung berat, diabetes
melitus, preeklamsia berat atau eklampsia, kanker serviks, atau infeksi
berat (yaitu, virus herpes simpleks tipe II atau herpes genitalia dalam
fase aktif atau dalam 2 minggu lesi aktif). Pembedahan uterus
sebelumnya, termasuk miomektomi, peahiran sesarea sebelumnya
dengan insisi klasik, atau rekontruksi uterus. Obstruksi jalan lahir
karena adanya fibroid atau tumor ovarium.
c. Janin Gawat janin,
seperti janin dengan kasus prolaps tali
pusat, insufiensi uteroplasenta berat,
malpresentasi, seperti letak melintang,
janin dengan presentasi dahi kehamilan
ganda dengan bagian terendah janin
kembar adalah pada posisi melintang
bokong.
Klasifikasi Seksio Sesarea

a. Persalinan Sesarea Melintang


Pelahiran sesarea melintang, atau segmen – bawah, merupakan
pelahiran sesarea yang pada umumnya dipilih karena berbagai alasan.
Karena insisi dibuat pada segmen bawah uterus, yang merupakan
bagian paling tipis dengan aktivitas uterus yang paling sedikit, maka
pada tipe insisi ini kehilangan darah minimal. Area ini lebih mudah
mengalami pemulihan, dan mengurangi kemungkinan terjadinya
ruptur jaringan parut pada kehamilan berikutnya.

b. Sesarea Klasik
Sebuah insisi tegak lurus dibuat langsung pada dinding korpus
uterus. Janin dan plasenta dikeluarkan, dan insisi ditutup dengan tiga
lapisan jahitan menggunakan benang yang dapat diserap. Tindakan ini
dilakukan dengan menembus lapisan uterus yang paling tebal pada
korpus uterus
Komplikasi Seksio Sesarea

Pada ibu
a) Infeksi puerperalis merupakan infeksi bakteri yang muncul
disaluran genetalia setelah kelahiran. Infeksi ini meliputi mastitis
dan infeksi saluran perkemihan, secara tidak langsung berhubungan
dengan laktasi.
b) Perdarahan: Disebabkan karena adanya laserasi, retensio plasenta,
atonia uterus yang di sebabkan oleh distensi kandung kemih.
c) Thrombophlebitis (bekuan darah) merupakan inflamasi dinding
aliran darah bagian dalam dengan pembentukan darah yang
menempel di dinding. Sectio casarea berisiko terjadinya
thrombophlebitis.

Pada bayi
a) Kelahiran bayi premature karena kesalahan pada usia kehamilan.
b) Kematian perinatal pasca sectio caesarea sebanyak 4-7%
Penatalaksanaan Pasien Post
Seksio Sesarea

1. Penatalaksanaan Medis
Dengan pemberian analgetik untuk wanita dengan ukuran tubuh
rata-rata dapat injeksi 75 mg meridian IM setiap 3 jam sekali bila perlu
untuk mengatasi rasa sakit atau dapat diinjeksikan dengan cara IM 10-
15 mg morfin sulfat. Obat-obatan antiemetic, misalnya prometasin 25
mg biasanya diberikan bersama-sama dengan pemberian preparat
narkotik. Pemeriksaan laboratorium (hemoglobin, hematokrit, leukosit)
secara rutin diukur pada pagi hari setelah operasi. Hematokrit harus
dipantau kembali bila terdapat kehilangan darah atau bila terdapat
oligiro atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemi. Jika
Hematokrit stabil, pasien dapat melakukan ambulasi tanpa kesulitan
apapun dan kemungkinan kecil jika terjadi kehilangan darah lebih lanjut
(Redeer, dkk, 2014).
2. Penatalaksanaan Keperawatan

a. Tanda-tanda vital
Dengan mengontrol tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi
pernapasan, suhu) setiap 4 jam sekali
b. Terapi cairan dan diit Untuk
Pedoman umum, pemberian 3 liter larutan, termasuk Ringer
Laktat, terbukti sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24
jam pertama berikutnya. Meskipun demikian, jika output urin
dibawah 30 ml perjam, pasien harus dievaluasi kembali. Jika tidak
pemberian infus boleh diteruskan (Redeer, dkk, 2014).
c. Vesika urinaria dan usus Kateter sudah dapat dilepas dari vesika
urinaria setelah 12 sampai 24 jam post operasi. Kemampuan
mengosongkan urinaria harus dipantau sebelum terjadi distensi.
d. Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi: miring kanan, dan
kiri dapat dimulai sejak 6-10 jam post operasi untuk mencegah
thrombosis atau penyumbatan pembuluh darah, latihan pernapasan
dapat dilakukan sambil tidur telentang sedini mungkin
B. Pre Eklamsi Berat (PEB)

1. Pengertian Pre Eklamsi Berat (PEB)


Pre eklamsia merupakan penyakit dengan tanda-
tanda khas tekanan darah tinggi (hipertensi),
pembengkakan jaringan (edema), dan ditemukannya
protein dalam urin (proteimuria) yang timbul karena
kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam
trimester ke-3 kehamilan, tetapi dapat juga terjadi pada
trimester kedua kehamilan (Yeyeh, 2010).
2. 2. Etiologi PEB

Adapun teori-teori lain yang dipakai sebagai penyebab pre eklamsi


tersebut adalah :
a. Peran Prostasiklin dan Tromboksan
Pada pre eklamsi dan eklamsi didapatkan kerusakan pada endotel
vaskuler, sehingga sekresi vasodilatator prostasiklin oleh sel-sel
endotelial plasenta berkurang, sedangkan pada kehamilan
normal,
b. Peran Faktor Imunologis
Pre eklamsi sering terjadi pada kehamilan pertama karena pada
kehamilan pertama terjadi pembentukan blocking antibodies
terhadap antigen plasenta tidak sempurna
c. Peran Faktor Genetik
Pre eklamsi meningkat pada anak dari ibu yang menderita pre
eklamsi.
d. Iskemik dari uterus
Terjadi karena penurunan aliran darah di uterus.

e. Defisiensi kalsium
Diketahui bahwa kalsium berfungsi membantu
mempertahankan vasodilatasi dari pembuluh darah.

f. Disfungsi dan Aktivasi dari Endotelial


Kerusakan sel endotel vaskuler maternal memiliki peranan
penting dalam patogenesis terjadinya pre eklamsi
3. Manifestasi Klinis

Menurut Redeer, dkk, 2014. gejala-gejala yang terjadi


pada penderita pre eklamsia yaitu :
a. Sakit kepala
b. Gangguan penglihatan
c. Nyeri epigastrik dan nyeri abdomen
d. Oedema
e. Asimtomatik
f. kejang
4. Klasifikasi PEB

Menurut (Mochtar, 2011) klasifikasi peb dibagi 2 yaitu: Pre eklamsia ringan
dan pre eklamsia berat

• Pre eklamsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai


Pre proteinuria dan edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau
eklamsia segera setelah kehamilan.Gejala yang sering dijumpai Tekanan
darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi
Ringan . berbaring terlentang,edema,Proteiuria.

• Pre eklamsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang


ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg pada
Pre kehamilan 20 minggu atau lebih.Tekanan darah
160/110mmHg atau lebih. Gejala yaitu:
eklamsia • Proteinuria 5 gr atau lebih per liter.
Berat • Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
• mual-muntah, dan rasa nyeri di epigastrium.
• Terdapat edema paru dan sianosis.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Terjadinya Pre
eklamsia pada Ibu Hamil

 Paritas
Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari 500 gram
yang pernah dilahirkan, hidup maupun mati, bila berat badan tidak
diketahui, maka dipakai umur kehamilan lebih dari 24 minggu.
Paritas dibagi 3 yaitu:
1. Primipara
Primipara adalah wanita yang telah melahirkan janin yang usia
gestasinya lebih dari 28 minggu, baik lahir hidup maupun lahir
mati.
2. Multipara
Multipara adalah ibu yang telah melahirkan lebih dari 1 bayi kurang
dari 5.
3. Grandemultipara
Grandemultipara adalah ibu yang memiliki paritas tinggi, telah
melahirkan lebih dari 4 anak.
Usia Ibu

Usia reproduksi yang sehat bagi


seorang wanita adalah 20-35 tahun.
Pada usia tersebut bentuk dan fungsi
alat reproduksi sudah mencapai
tahap yang sempurna untuk dapat
digunakan secara optimal.
Kehamilan Kembar
 Kehamilan kembar meningkatkan resiko
komplikasi dalam kehamilan salah
satunya yaitu pre eklamsia oleh karena
itu perlu tambahan asuhan prenatal
rutin dengan skrining pre eklamsia,
observasi tekanan darah, edema,
proteinuria, pengkajian sakit kepala dan
perubahan penglihatan
Hipertensi
Pada wanita dengan riwayat hipertensi
kronik dapat memperburuk terutama pada
kehamilan bèrikutnya. Hipertensi yang
diperberat oleh kehamilan seperti itu dapat
disertai dengan proteinuria atau edema
patologis yang disebut superimposed pre
eklamsi berat/eklampsi
Pemeriksaan Penunjang Pre Eklampsia

Penatalaksanaan Pre eklamsi Berat

 Penderita pre eklamsia berat harus segera masuk rumah sakit


untuk rawat inap dan dianjurkan tirah baring miring ke satu
sisi (kiri).
 monitoring input cairan (melalui oral atau infus) dan output
cairan melalui urine
 Pemberian obat anti kejang MgSO4 (magnesium sulfat)
Plasenta Previa

Plasenta previa adalah plasenta yang


berimplantasi pada daerah fundus (bagian
atas) uterus sehingga dapat menutupi
sebagian atau seluruh jalan lahir yang
ditandai dengan perdarahan uterus yang
dapat keluar melalui vagina tanpa adanya
rasa nyeri pada kehamilan trimester
terakhir, khususnya pada bulan kedelapan.
Faktor Risiko dan Etiologi Plasenta
Previa

 Risiko plasenta previa pada wanita dengan umur 35 tahun 2


kali lebih besar dibandingkan dengan umur < 35.
 Risiko plasenta previa pada multigravida 1,3 kali lebih besar
dibandingkan primigravida.
 Risiko plasenta previa pada wanita dengan riwayat abortus 4
kali lebih besar dibandingkan dengan tanpa riwayat abortus.
 Riwayat seksio sesaria tidak ditemukan sebagai faktor risiko
terjadinya plasenta previa.
KLASIFIKASI PLASENTA PREVIA
 Plasenta previa totalis atau komplit, adalah plasenta yang
menutupi seluruh ostium uteri internum.
 Plasenta previa parsialis, adalah plasenta yang menutupi
sebagian ostium uteri internum.
 Plasenta previa margianalis adalah plasenta yang tepinya
berada pada pinggir ostium uteri internum.
 Plasenta letak rendah, yang berarti bahwa plasenta yang
berimplantasi pada segmen bawah rahim yang sedemikian
rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2
cm dari ostium uteri internum.
Patofisiologi plasenta previa
plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan
ketiga karena saat itu segmen bawah uterus lebih
mengalami perubahan berkaitan dengan semakin
tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan
semakin melebar, dan serviks mulai membuka.
Darah yang berwarna merah segar, sumber
perdarahan dari plasenta previa ini ialah sinus
uterus yang robek karena terlepasnya plasenta
dari dinding uterus
Ciri yang menonjol dari plasenta previa
 perdarahan uterus yang keluar melalui vagina
tanpa disertai dengan adanya nyeri.
 perdarahan uterus yang keluar melalui vagina
tanpa disertai dengan adanya nyeri.
 Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan
dapat berhenti sendiri.
 perdarahan dapat kembali terjadi tanpa sebab
yang jelas setelah beberapa waktu kemudian.
KOMPLIKASI PLASENTA PREVIA
 pada ibu dapat menimbulkan perdarahan
antepartum yang dapat menimbulkan syok
 kelainan letak pada janin sehingga
meningkatnya letak bokong dan letak lintang
 dapat mengakibatkan kelahiran prematur
 Selama persalinan plasenta previa dapat
menyebabkan ruptur atau robekan jalan
lahir,
Penatalaksanaan Plasenta Previa
 Ekspektatif, dilakukan apabila janin masih kecil sehingga
kemungkinan hidup di dunia masih kecil baginya. Sikap
ekspektasi tertentu hanya dapat dibenarkan jika keadaan
ibu baik dan perdarahannya sudah berhenti atau sedikit
sekali
 Terminasi, dilakukan dengan segera mengakhiri
kehamilan sebelum terjadi perdarahan yang dapat
menimbulkan kematian, misalnya: kehamilan telah cukup
bulan, perdarahan banyak, dan anak telah meninggal.
A. Pengkajian Keperawatan
Identitas Atau Biodata Klien
Meliputi: nama, umur, agama, jenis
kelamin, alamat, suku bangsa, status
perkawinan, pekerjaan, pendidikan,
tanggal masuk rumah sakit, nomor
rekam medik, dan diagnosa medis.
Riwayat Kesehatan
 Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien merasakan nyeri di bagian bawah abdomen bekas
operasi. Klien merasa sakit kepala di daerah frontal. Terasa
sakit di ulu hati/nyeri epigastrium. Gangguan visus :
Penglihatan kabur, skotoma, diplopia. Mual dan muntah,
tidak ada nafsu makan. Gangguan serebral lainnya: tidak stabil
seperti terhuyung-huyung, reflek tinggi, tidak tenang. Edema
pada ekstremitas. Tengkuk terasa berat. Kenaikan berat badan
mencapai 1 kg seminggu.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien pernah melahirkan dengan operasi seksio
sesarea sebelumnya. Kemungkinan klien
menderita penyakit hipertensi sebelum hamil.
Kemungkinan klien mempunyai riwayat pre
eklampsia pada kehamilan terdahulu. Biasanya
mudah terjadi pada klien yang obesitas. Klien
mungkin pernah menderita penyakit ginjal
kronis.
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Penyakit keturunan dalam keluarga seperti
jantung, DM, Hipertensi yang mungkin
penyakit tersebut diturunkan kepada klien.
Kemungkinan mempunyai riwayat pre
eklampsia dan eklampsia dalam keluarga.
 Riwayat Perkawinan
Biasanya terjadi pada wanita yang menikah
di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun.
Pemeriksaan Fisik
 Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, dan apakah ada benjolan.
 Wajah
Wajah tampak pucat, kadang-kadang terdapat adanya cloasma gravidarum.
 Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya pembesaran kelenjar tiroid, apakah ada pembesaran
kelenjar getah bening.
 Mata
Terkadang adanya pembengkakan pada kelopak mata, konjungtiva sedikit anemis, dan kadang-
kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang mengalami
perdarahan, sklera kuning.
 Telinga
Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak, bagaimana kebersihannya, adakah cairan yang
keluar dari telinga.
 Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang ditemukan pernapasan
cuping hidung.
 Dada
 Paru
Inspeksi : retraksi ada atau tidak ada
Palpasi : fremitus sama atau tidak sama
Perkusi : sonor/timpani
Auskultasi : vesikuler/bronkovesikuler
 Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba atau tidak
Auskultasi : irama teratur atau tidak
 Payudara/Mamae
Inspeksi : payudara terlihat simetris atau tidak , areola mamae
hiperpigmentasi atau tidak, papila mamae menonjol/datar/ dan
tampak bersih atau tidak
Palpasi : ASI/ kolostrum ada atau tidak, ada massa atau tidak
yang teraba, teraba pembesaran atau tidak
 Abdomen
Inspeksi : tampak ada strie, linea nigra atau alba, tampak ada luka
bekas operasi di bawah umbilikus, posisi luka operasi lintang atau
sejajar dengan ukuran berapa, luka tampak tertutup verban atau
tidak.
Palpasi : tinggi fundus uteri 2 jari/3 jari di bawah pusat atau tidak
teraba, posisi uterus medial yaitu berada di tengah perut pasien atau
lateral, kontaksi uterus pasien ada atau tidak dan teraba keras atau
lunak.
 Genitalia dan anus
Genitalia : tampak terpasang kateter atau tidak
Anus : mengalami defekasi 2- 3 hari.
 Kebersihan : genitalia pasien tampak ada darah nifas
 Lochea : warna lochea merah segar atau bagaimana, jenis lochea rubra/serosa/alba,
jumlah lochea berapa dengan konsistensi encer atau padat dan bau lochea bagaimana
 Haemorhoid : ada atau tidak ada
 Varises : ada atau tidak ada
Ekstremitas
Pemeriksaan edema untuk melihat
kelainan-kelainan karena
membesarnya uterus, karena
preeklamsia atau karena penyakit
jantung atau ginjal.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Darah Lengkap dan Apusan Darah :
 Penurunan hemoglobin (nilai rujukan atau kadar
normal hemoglobin untuk wanita hamil adalah
12-14 gr%).
 Hematokrit meningkat (nilai rujukan 37-43
vol%).
 Trombosit menurun (nilai rujukan 150.000-
450.000/mm3)
Urinalisis
 Kadar albumin meningkat (N= 0-8 mg/dl)
 Adanya protein dalam urin.
Pemeriksaan Radiologi
 Ultrasonografi (USG)
 Hasil USG menunjukan bahwa ditemukan retardasi
perteumbuhan janin intra uterus. Pernafasan intrauterus lambat,
aktivitas janin lambat, dan volume cairan ketuban sedikit.
 Kardiotografi
 Hasil pemeriksaan dengan menggunakan kardiotografi
menunjukan bahwa denyut jantung janin lemah.
Diagnosa yang munkin muncul pada kasus Seksio
Sesarae indikasi PEB Plasenta Previa (NANDA
International, 2015)
 Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (luka bekas operasi)
 Risiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer
 Ganguan eliminasi urin berhubungan dengan penyebab multiple, infeksi saluran
kemih
 Gangguan persepsi sensori penglihatan
 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kurang asupan makanan
 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan asupan cairan dan
natrium
 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
 Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
 Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan orang
tua tentang teknik menyusui, prematuritas, reflek isap bayi buruk, suplai ASI
tidak cukup
 Kesiapan meningkatkan pemberian ASI berhubungan dengan reflek isap bayi
baik
PENGKAJIAN IBU POST PARTUM
 Identitas Klien 2. Suami
 Nama : Ny.R Nama : Tn.N
 Umur : 36 Tahun Umur : 41Tahun
 Pendidikan : SMA Pendidikan : D3
 Suku Bangsa : Minang Suku Bangsa : Minang
 Pekerjaan : IRT Pekerjaan : PNS
 Agama : Islam Agama : Islam

 Alamat Rumah : Solok Selatan Keluarga yang : Suami


 dapat dihubungi
Diagnosa Dan Informasi Medik Yang
Penting Waktu Masuk
 Tanggal Masuk : 30 Oktober 2017
 No.Medical Record : 950447
 Ruang Rawat : HCU KB
 Diagnosa Medik : Post SC atas indikasi HAP ec
Plasenta Previa + PEB
 Yang Mengirim/Merujuk : RSUD Solok Selatan
 Alasan Masuk : Perdarahan banyak per
vaginam + tensi tinggi
Riwayat Kesehatan Sekarang
 Keluhan Utama Masuk:
Pasien masuk RSUP DR.M.DJAMIL melalui IGD pada
tanggal 30-10-2017 pukul 21.50 WIB di rujuk dari
RSUD Solok Selatan dengan keluhan perdarahan banyak
per vaginam dan hipertensi dalam kehamilan. Kemudian
pasien dilakukan tindakan SC pukul 23.00 WIB dan
selesai operasi pukul 00.00 WIB. Pasien pindah
keruangan HCU Kebidanan pada tanggal 31-10-2017
pukul 01.30 WIB.
Keluhan saat ini
 Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 31-10-2017 jam
04.00 WIB pasien mengatakan nyeri pada bekas sayatan
operasi dan nyeri pada daerah vagina, pasien mengatakan
rasanya ngilu dan seperti diremas dengan skala nyeri 4. Pasien
mengatakan sulit tidur karena nyeri di abdomen dan
kepanasan, tetapi pasien tetap bisa tidur walaupun tidak
nyenyak. Pasien mengatakan Asi tidak mau keluar dan bayi
tidak mau menyusu karena reflek hisap bayi lemah. Pasien
mengatakan cemas dan gelisah dengan keadaan bayinya karena
bayinya dirawat terpisah dengan ruangan pasien.
• Ny.R mengatakan anak sebelumnya lahir normal
dan baru anak yang ke 5 ini yang memiliki
Riwayat masalah plasentra previa + PEB, Ny.R tidak ada
Kesehatan riwayat penyakit jantung, DM dan hipertensi.
Dahulu

• Pasien mengatakan tidak ada keluarga yang


menderta penyakit jantung, DM. Tetapi ibu
Riwayat Ny.R dan ibu Tn.N menderita penyakit
Kesehatan hipertensi.
Keluarga
Genogram:
Riwayat Haid/Status Ginekologi
 Pertama Haid : 20 Maret
 Siklus : Teratur
 Banyak : Banyak
 Warna : Merah dan encer
 Bau : Anyir, khas orang menstruasi
 Dismenorhe : Ada
 Keluhan Lain : Tidak ada keluhan
Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan
Nifas yang lalu
 Riwayat Kehamilan
Status kehamilan yang sekarang: G5 P3 A2 H3 dan Ny.R
melahirkan pada usia kehamilan 33 minggu.
 Riwayat Persalinan dan Nifas yang lalu
Riwayat Persalinan Sekarang
 Jenis Persalinan : Sectio Carsarea. Sectio Carsarea
klasik (memanjang).
 Dilakukan pada tanggal 30-10-2017 pukul 23.00 WIB dan
selesai operasi pukul 00.00 WIB
 Ditolong Oleh : Dokter
 Lamanya operasi : 60 menit
 Jenis Kelamin Bayi : Perempuan
 Panjang & Berat Badan : 42 cm & 2000 gram
 Apgar Skor : 6/8
 Berapa lama ketuban pecah sebelum bayi lahir :
18 jam, pecahnya air ketuban pada hari minggu
tanggal 29-10-2017 pukul 16.00 WIB sampai di
bawak ke IGD RSUD Solok Selatan pada pukul
21.00 WIB.
 Keadaan air ketuban : Bening sedikit keruh
 Jumlah air ketuban : 800 cc
 Komplikasi persalinan : SC atas indikasi PEB +
Plasenta Previa
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
 Kesadaran : Compos Mentis
 Tekanan Darah : 140/90 mmHg
 Suhu : 37,6 derjat celsius
 Nadi : 88 x/menit
 Pernafasan : 24 x/menit
 Kepala dan rambut
Kepala tidak ada lesi atau benjolan, rambut hitam, bersih dan
mudah rontok
 Muka
Wajah Ny.R simetris, pucat, tidak ada closma gravidarum dan
tidak ada edema di wajah Ny.R
 Mata
Pada mata Ny.R terdapat konjungtiva yang anemis, sklera tidak ikterik,
reflek pupil bagus dan tidak ada katarak pada mata Ny.R
 Hidung
Pada hidung Ny.R tampak simetris, tidak ada polip dan tidak ada
pernafasan cupping hidung.
 Mulut
Mukosa bibir Ny.R kering, lidahnya bersih, dan ada karang gigi pada gigi
Ny.R
 Telinga
Pada telinga luar Ny.R tampak bersih, tetapi pada bagian dalam telinga
Ny.R terdapat serumen.
 Leher
Pada leher Ny.R tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada
pembesaran kelenjar getah bening dan tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
 Dada
Paru-Paru
 Inspeksi : Tampak simetris kiri kanan, tidak ada tarikan dinding dada pada
Ny.R
 Perkusi : Pada saat dilakukan perkusi terdengan bunyi Sonor pada paru-
paru Ny.R
 Palpasi : Premitus kiri dan kanan Ny.R sama
 Auskultasi : Bunyi nafas vesikuler
Jantung
 Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : Iktus kordis teraba di RIC 5
 Perkusi : pada perkusi tidak ada pembesaran jantung pada Ny.R
 Auskultasi : Bunyi jantung 1 terdengar di RIC 5, Bunyi jantung 2 terdengar
di RIC 2 kanan. Tidak ada bunyi tambahan.
Payudara
 Kesimetrisan : Payudara Ny.R tampak simetris antara
yang kiri dan yang kanan
 Areola Mamae : Hitam kecoklatan
 Papila Mamae : Menonjol, bersih dan tidak lecet
 Asi/Kolustrum : Kolustrum pada ASI Ny.R belum
keluar
 Pembengkakan : Tidak ada pembengkakan
 Proses Laktasi : Ny.R tidak dapat menyusukan
bayinya karena ASI Ny.R yang tidak mau keluar, dengan
kondisi bayi Ny.R yang prematur membuat reflek hisap bayi
terhadap puting payudara Ny.R lemah.
 Dinding abdomen : Dinding perut Ny.R tebal
 Luka operasi : Luka Ny. R bersih, tertutup oleh
plesters Leukomed, sayatan luka memanjang atau jenis sectio
ceasarea yang dilakukan adalah sectio klasik dengan ukuran
15 cm panjangnya dan lebarnya 3 cm.
 Tinggi fundus uteri : 1 jari dibawah umbilikus
 Posisi uterus : Lateral agak ke kiri
 Kontraksi uterus : Ada dan teraba kuat
 Kandung kemih : kandung kemih Ny.R kosong dan
tidak ada teraba keras pada kandung
kemih Ny.R
Ekstremitas
 Atas : Tidak ada udem, CRT < 2 detik,
terpasang RL + MgSo4 di tangan kiri, dan
terpasang infus RL biasa di tangan kanan
 Bawah : Tidak edema, CRT < 2 detik, refek
patela Ny.R ada, dan tidak ada varises
di kaki Ny.R.

Genetalia dan anus


 Kebersihan Perineum : Perinium Ny.R bersih, Tidak
ada rambut-rambut halus di
mons pubis Ny.R.
 Lochea : Rubra
 Hemoroid : Tidak ada hemoroid pada anus Ny.R
Data Penunjang
 Data Laboratorium:

 Pemeriksaan Diagnosa: Tidak ada


Program terapi dokter

 Ny.R dapat obat MgSO4 yang di drip dengan cairan RL, dosis
awal obat MgSO4 adalah 25 ml, dan yang di campurkan
dengan cairan infus RL sebanyak 20 ml dan diberikan lewat
IV menggunakan alat Infus Pump dengan kecepatan tetesan
yaitu 86,7 tetes.
Catatan Tambahan Bayi
Bayi lahir prematur dengan berat
2000 gr, panjang 42 cm, bayi
demam dan refek hisap untuk
menyusui lemah.