Anda di halaman 1dari 47

ASSALAMUALAIKUM

wr.wb
 Intan Ageng 161010100090
 Ita Windi 161010100076
 Lailatul Diniyah 161010100098
 Moni Aftafia 161010100091
 Ni Kadek Winda 161010100068

Kelompok 3
IC Keperawatan
Mengidentifikasi Teori dan
Model Keperawatan
Callista Roy
Keterkaitan antara Proses
Keperawatan dengan Teori
Model Callista Roy
Riwayat Callista Roy
 Sister Calista Roy adalah
seorang suster dari Saint Joseph of
Carondelet. lahir pada tanggal 14
oktober 1939 di Los Angeles
California. Roy menerima Bachelor of
Art Nursing pada tahun 1963 dari
Mount Saint Marys College dan
Magister Saint in Pediatric Nursing
pada tahun 1966 di University of
California Los Angeles. Roy memulai
pekerja dengan teori adaptasi
keperawatan pada tahun 1964 dan
Roy menambahkan kerja adaptasi dari
Harry Helson (1964) seorang ahli
fisiologis – psikologis.
Lanjutan...

Harry Helson mengartikan respon adaptif
sebagai fungsi dari datangnya stimulus sampai
tercapainya derajat adaptasi yang dibutuhkan individu.
Derajat adaptasi dibentuk oleh dorongan tiga jenis
stimulus yaitu :
1. Focal stimuli : Individu segera menghadap
2. Konsektual stimuli : semua kehadiran stimuli yang
menyumbangkan efek dari focal stimuli.
3. Residual stimuli : faktor lingkungan mengakibatkan
tercemarnya keadaan.
Pengertian

 Teori adalah suatu pernyataan yang menjelaskan suatu
proses, yang didasari oleh fakta yang telah di observasi
tapi kurang absolute atau bukti secara langsung.
 Teori keperawatan menurut Barnum (1990) merupakan
usaha untuk menguraikan atau menjelaskan fenomena
mengenai keperawatan.
 Teori keperawatan digunakan untuk menyusun suatu
model konsep dalam keperawatan sehingga model
keperawatan ini mengandung arti aplikasi dari struktur
keperawatan itu sendiri yang memungkinkan perawat
untuk menerapkan cara mereka bekerja dalam batas
kewenangan sebagai seorang perawat.
Faktor Pengaruh Teori
Keperawatan

Terdapat beberapa pandangan yang dapat
mempengaruhi teori keperawatan itu sendiri
diantaranya :
1. Filosofi Florence Nigtingale
2. Kebudayaan
3. System Pendidikan, dan
4. Pengembangan Ilmu Keperawatan
Lanjutan...

 Filosofi Florence  Kebudayaan
Nigtingale Adanya pandangan
yaitu dengan bahwa dalam
mengidentifikasi peran memberikan pelayanan
perawat dalam
menemukan kebutuhan keperawatan akan lebih
dasar manusia pada klien baik dilkukan oleh wanita
serta pentingnya karena wanita
pengaruh lingkungan di mempunyai jiwa yang
dalam perawatan orang sesuai dengan kebutuhan
yang sakit. perawat.
Lanjutan...

 System Pendidikan  Pengembangan Ilmu
Dahulu pendidikan Keperawatan
keperawatan belum Di tandai dengan adanya
mempunyai sistem yang pengelompokan ilmu
keperawatan dasar
jelas, akan tetapi sekarang menjadi ilmu
keperawatan telah keperawatan klinik dan
memiliki sistim ilmu keperawatan
pendidikan yang terarah komunitas yang
sesuai dengan kebutuhan merupakan cabang ilmu
rumah sakit. keperawatan yang terus
berkembang.
Falsafah Keperawatan Menurut
Roy

1. Falsafah humanisme atau kemanusiaan berarti
bahwa manusia itu memiliki rasa ingin tahu dan
menghargai, jadi seorang individu akan memiliki
rasa saling berbagi dengan sesama dalam
kemampuannya memecahkan suatu persoalan atau
untuk mencari solusi dan selalu berjuang untuk
mempertahankan integritas agar senantiasa bisa
berhubungan dengan orang lain.
2. Falsafah veritivity yaitu kebenaran , yang dimaksud
adalah bahwa ada hal yang bersifat absolut.
Lanjutan...

Roy kemudian mengemukakan mengenai konsep
mayor yang terdiri dari :

1. Sistem 8. Kognator
2. Derajat adaptasi 9. Model Efektor
3. Problem adaptasi 10. Respon Adaptif
4. Stimulus fokal 11. Fisiologis
5. Stimulus konstektual 12. Konsep Diri
6. Stimulus residual 13. Penampilan Peran
7. Regulator 14. Interdependensi
Model Konseptual Callista Roy

Roy dengan fokus adaptasinya pada manusia
mempunyai 4 elemen esensial yaitu :

keperawatan manusia kesehatan

lingkungan
lanjutan

 Keperawatan  Manusia
Menurut Roy Menurut Roy manusia
keperawatan di adalah sebuah sistem
definisikan sebagai adaptif yang
disiplin ilmu dan
praktek. Keperawatan digambarkan secara
sebagai disiplin ilmu holistic sebagai satu
mengobservasi, kesatuan yang saling
mengklasifikasikan, dan berhubungan antar unit
menghubungkan proses secara keseluruhan.
yang berpengaruh
terhadap kesehatan.
lanjutan

 Lingkungan
 Kesehatan Menurut Roy
Kesehatan didefinisikan lingkungan adalah
sebagai keadaan dan semua kondisi, keadaan
proses menjadi manusia dan pengaruh-pengaruh
secara utuh dan disekitar individu yang
terintegrasi secara dapat mempengaruhi
keseluruhan perkembangan dan
perilaku individu serta
kelompok
TEORI PENEGASAN

Dalam teorinya sister Callista Roy memiliki dua
model mekanisme yaitu :

1. Fungsi atau proses control yang terdiri dari


kognator dan regulator.
2. Efektor yang dibagi menjadi empat yaitu fisiologi,
konsep diri, fungsi peran dan Interpendensi.
Model Adaptasi

1. Fungsi fisiologis, berhubungan dengan struktur tubuh dan
fungsinya, terdiri dari oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas ,
integritas kulit, indera, elektrolit, fungsi neurologis dan fungsi
endokrin.
2. Konsep diri berhubungan dengan integritas psikis antara lain
persepsi, aktivitas mental dan ekspresi perasaan.
3. Fungsi peran yaitu mengenal pola – pola interaksi sosial
seseorang dalam hubungannya dengan orang lain.
4. Interdependensi, fokusnya adalah interaksi untuk saling
memberi dan menerima cinta/ kasih sayang, perhatian dan
saling menghargai.
Asumsi dasar model
Adaptasi Roy

1. Manusia adalah keseluruhan dari biopsikologi dan sosial
yang terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan.
2. Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk
mengatasi perubahan-perubahan biopsikososial.
3. Setiap orang memahami bagaimana individu
mempunyai batas kemampuan untuk beradaptasi.
4. Kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu
dengan yang lainnya.
5. Sehat dan sakit merupakan suatu hal yang tidak dapat
dihindari dari kehidupan manusia.
Komponen sistem dalam model
adaptasi roy

System adalah suatu kesatuan yang di
hubungkan karena fungsinya sebagai kesatuan untuk
beberapa tujuan dan adanya saling ketergantungan
dari setiap bagian-bagiannya. System dalam model
adaptasi Roy terdiri dari :

Proses Input Proses Output

Kontrol Umpan Balik


lanjutan

 Input
 Kontrol
Roy mengidentifikasi bahwa input
Proses kontrol seseorang menurut
sebagai stimulus, merupakan
Roy adalah bentuk mekanisme
kesatuan informasi, bahan-bahan
koping yang di gunakan.
atau energi dari lingkungan yang
Mekanisme kontrol ini dibagi atas
dapat menimbulkan respon,
regulator dan kognator yang
dimana dibagi dalam tiga tingkatan
merupakan subsistem.
yaitu stimulus fokal, kontekstual
dan residual.
lanjutan

 Output
 Umpan Balik
Roy mengkategorikan output
sebagai respon yang adaptif atau Hasil atau akibat yang
respon yang tidak mal-adaptif. berbalik, berguna bagi kita
Respon yang adaptif yaitu dapat sebagai rangsangan atau
meningkatkan integritas dorongan untuk bertingkah
seseorang, sedangkan respon lebih lanjut
yang mal adaptif yaitu perilaku
yang tidak mendukung tujuan ini
Lanjutan...

Kebutuhan asuhan keperawatan muncul ketika
klien tidak dapat beradaptasi terhadap kebutuhan
lingkungan internal dan eksternal. Seluruh individu
harus beradaptasi terhadap kebutuhan berikut :
1. Pemenuhan kebutuhan fisiologis dasar
2. Pengembangan konsep diri positif
3. Penampilan peran sosial
4. Pencapaian keseimbangan antara kemandirian dan
ketergantungan
Lanjutan...

 Asuhan keperawatan diberikan dengan tujuan
untuk membantu klien beradaptasi. Menurut Roy
terdapat empat objek utama dalam ilmu
keperawatan, yaitu :
1. Manusia (individu yang mendapatkan asuhan
keperawatan)
2. Keperawatan
3. Konsep sehat
4. Konsep lingkungan
ELEMEN DALAM PROSES
KEPERAWATAN

Elemen dalam proses keperawatan menurut Roy
meliputi :
1. Pengkajian
2. Diagnosa keperawatan
3. Intervensi
4. Implementasi
5. Evaluasi
Lanjutan...

 Pengkajian
Roy merekomendasikan pengkajian dibagi menjadi dua
bagian, yaitu pengkajian tahap I yang meliputi
pengumpulan data tentang perilaku klien. Dan
pengkajian tahap II yang meliputi pengkajan stimuli
yang signifikan terhadap perubahan perilaku
seseorang.
Lanjutan...

 Perumusan diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan menurut teori adaptasi Roy
didefinisikan sebagai suatu hasil dari proses pengambilan
keputusan berhubungan dengan kurang mampunya adaptasi.
Roy mendefinisikan 3 metode untuk menyusun diagnosa
keperawatan :
1. Menggunakan tipologi diagnosa yang berhubungan dengan
4 mode adaptif yaitu fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan
interdependen.
2. Menggunakan diagnosa dengan pernyataan/mengobservasi
dari perilaku yang tampak dan berpengaruh tehadap
stimulusnya.
3. Menyimpulkan perilaku dari satu atau lebih adaptif mode,
berhubungan dengan stimulus yang sama.
Lanjutan...

 Intervensi Keperawatan
Tujuan intervensi jangka panjang yaitu harus
dapat menggambarkan penyelesaian masalah
adaptif dan ketersediaan energi untuk
memenuhi kebutuhan tersebut. Sedangkan
tujuan jangka pendek yaitu mengidentifikasi
harapan perilaku klien setelah manipulasi
stimulus fokal, kontekstual dan residual.
Lanjutan...

• Implementasi
Implementasi keperawatan direncanakan dengan tujuan
merubah atau memanipulasi fokal, kontextual dan residual
stimuli dan juga memperluas kemampuan koping seseorang
pada zona adaptasi sehingga total stimuli berkurang dan
kemampuan adaptasi meningkat.

• Evaluasi
Penilaian terakhir dari proses keperawatan berdasarkan
tujuan keperawatan yang ditetapkan. Penetapan keberhasilan
suatu asuhan keperawatan didasarkan pada perubahan
perilaku dari kriteria hasil yang ditetapkan, yaitu terjadinya
adaptasi pada individu.
Kelebihan Teori Callista Roy

Dari model adaptasi yang dikemukakan oleh
Roy perawat bisa mengkaji respon perilaku pasien
terhadap stimulus, selain itu perawat juga bisa
mengkaji stressor yang dihadapi oleh pasien. Perawat
sebagai pemberi asuhan keperawatan dapat
mengetahui dan lebih memahami individu, tentang
hal-hal yang menyebabkan stress pada individu, proses
mekanisme koping dan effektor sebagai upaya individu
untuk mengatasi stress.
Kekurangn Teori Callista Roy

Kekurangan teori Roy tersebut terletak pada
sasarannya. Model adaptasi Roy ini hanya berfokus
pada proses adaptasi pasien dan bagaimana
pemecahan masalah pasien dengan menggunakan
proses keperawatan dan tidak menjelaskan bagaimana
sikap dan perilaku cara merawat ( caring ) pada pasien.
Sehingga seorang perawat yang tidak mempunyai
perilaku caring ini akan menjadi stressor bagi para
pasiennya.
Kesimpulan

Berdasarkan analisa terhadap model adaptasi
Roy, maka kelompok menganalisa bahwa model
keperawatan roy lebih menekankan pada manusia
secara holistik yang memiliki mekanisme koping untuk
beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Konsep
ini juga menekankan pentingnya individu untuk
mempertahankan perilaku secara adaptif dan mampu
merubah perilaku yang maladaptif agar dapat
meningkatkan kesehatannya.
Saran

Secara umum pembaca
diharapkan mampu menelaah
Secara khusus, perawat harus
dan mempelajari setiap
mampu meningkatkan respon
konsep dan model
adaptif pasien pada situasi sehat
keperawatan yang sudah
atau sakit . Perawat dapat
berkembang dan mampu
mengambil tindakan untuk
membandingkan teori dan
memanipulasi stimuli fokal,
model praktik yang sesuai
kontextual maupun residual
dengan ilmu keperawatan itu
dengan melakukan analisa
sendiri sehingga tidak
sehingga stimuli berada pada
bertentangan dengan etika,
daerah adaptasi.
norma dan budaya.
Kasus

Klien dengan gangguan system kardiovaskuler akan
merasakan gejala klinis seperti penurunan tekanan darah
dan denyut nadi, keluhan sakit kepala dan sesak nafas.
Selain itu gejala yang sering dirasakan klien adalah adanya
nyeri dada (angina). Pada nyeri angina pasien sering
merasakan nyeri dada berat, dada terasa ditekan, rasa
gelisah/tidak nyaman yang menyebar ke tangan, punggung
leher, rahang atau perut dan juga rasa kebal pada bahu,
lengan atau pergelangan tangan yang disertai rasa terengah-
engah. Angina dapat terjadi pada saat naik tangga,
akivitas/latihan, stress, saat marah, dan beraktifitas pada
daerah yang panas atau udara dingin
Analisa Kasus

Pengkajian tahap I, yang terdiri dari :
a. Fisiologis : Mencakup pengkajian oksigenisasi,
nutrisi, eliminasi, aktivitas, istirahat, keseimbangan
cairan dan elektrolit.
b. Konsep diri : Pengkajian terhadap keyakinan atau
spiritual, body image, integritas fisik, prinsip serta
ideal dirinya.
c. Role-function : Mengkaji bagaimana hubungan
social pasien terhadap orang lain.
d. Saling ketergantungan : Mengkaji kemampuan
untuk mencintai dan menerima cinta, menghargai
dan nilai.
Pengkajian Tahap II

1. Stimulus Fokal, terdiri dari :
- Nyeri dada ditekankan pada kualitas dan karakteristik nyeri,
waktu terjadi nyeri, lokasi nyeri, penyebaran, factor yang
memperburuk atau meringankan nyeri serta bagaimana
pendapat klien tentang nyeri yang dirasakannya
- Sesak nafas
- Batuk : Durasi, frekuensi, type, batuk berdahak/tidak
- Sincope, Pasien mengeluh berkunang-kunang, telinganya
berdenging atau sering pingsan.
- Kelemahan, pasien mengeluhkan sangat lelah sekali untuk
melakukan aktivitas sehari-hari, biasanya serangannya terjadi
bertahap hingga kadang dianggap tidak masalah
- Edema, pasien mengeluhkan edema menjadi parah pada sore
hari dan pada pagi hari mengalami perbaikan, pasien
mengeluh pakaian, sepatu dan perhiasan menjadi sempit.
Lanjutan...

2.

Stimulus konstektual, terdiri dari :
- Data Identitas : umur dan jenis kelamin
- Status mental
- Kecemasan/coping skill
- Pengetahuan awal tentang masalah perawatan kesehatan
- Identifikasi kemampuan dan kebutuhan keluarga
- Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perubahan
tingkah laku
- Nilai budaya serta lingkungan tempat tinggal
3. Stimulus residual, terdiri dari :
- Kemungkinan depresi/penurunan derajat kesehatan
akibat stimulus fokal dan stimulus konstektual
Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemic miocard
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan
penurunan curah jantung, ketidakmampuan untuk
memenuhi metabolisme otot rangka.
3. Kecemasan berhubungan dengan penyakit krisis,
ancaman kematian, perubahan peran dalam
lingkungan social.
Menetapkan Tujuan

1. Kontrol nyeri, dapat dengan mengurangi,
menghilangkan dan menjadikan klien dapat
beradaptasi secara positif terhadap respon nyerinya.
2. Stabilitas hemodynamik
3. Istirahat
4. Menurunkan kecemasan
Intervensi/Perencanaan

1. Nyeri akut b/d iskemik miokard
- Kaji gambaran & faktor yang memperburuk nyeri
- Letakkan klien pada istirahat total selama episode
angina, dengan posisi semi fowler
- Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan
angina
- Ciptakan lingkungan yang tenang
- Berikan makanan lembut
- Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri/cemas
- Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- Kolaborasi pengobatan
Lanjutan...

2. Intoleransi aktifitas b/d kurangnya curah jantung
- Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman
- Berikan periode istirahat adekuat, bantu dalam
pemenuhan aktifitas perawatan diri sesuai indikasi
- Catat warna kulit dan kualitas nadi
- Tingkatkan katifitas klien secara teratur
- Pantau EKG dengan sering
Lanjutan...

3. Ansietas b/d rasa takut akan ancaman kematian
yang tiba – tiba
- Jelaskan semua prosedur tindakan
- Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut
- Dorong keluarga dan teman untuk menganggap
klien seperti sebelumnya
- Beritahu klien program medis yang telah dibuat
untuk menurunkan/membatasi serangan yang akan
datang dan meningkatkan stabilitas jantung
- Kolaborasi obat
Implementasi/pelaksanaan

1. Gangguan rasa nyaman b/d myeri daerah dada
- Menganjurkan pasien atau keluarga untuk
memberitahu perawat dengan cepat jika terjadi nyeri
dada
- Mengistirahatkan pasien secara total selama episode
angina
- Melakukan kolaborasi pemberian obat anti angina
sesuai indikasi
Lanjutan...

2. Penurunan curah jantung b/d perubahan inotropik
- Memantau kecepatan irama jantung
- Mempertahankan tirah baring pada posisi nyaman
selama episode akut
- Melakukan olaborasi pemberian oksigen tambahan
sesuai indikasi
Lanjutan...

3. Gangguan ansietas b/d krisis situasi
- Menjelaskan tujuan tes dan prosedur
- Mendorong keluarga dan teman untung
menganggap pasien seperti sebelumnya
Evaluasi

• Dapat menunjukan secara verbal tentang nyeri dada,
tidak ada indikator objektif nyeri yang mengancam
kehidupan.
• Klien mampu menunjukkan tingkah laku yang adaptif
bila timbul nyeri anginanya.
• Hemodinamik stabil
• Mampu merencanakan perawatan dan
mengkomunikasikan dengan perawat jika tanda dan
gejala cemas serta takut datang
Pembahasan Kasus

 Dalam pengaplikasian Model Adaptasi Roy
terhadap kasus nyeri dada / nyeri angina ini,
intervensi keperawatan di fokuskan untuk
meningkatkan kemampuan adaptasi manusia.
Menurut teori Roy perawat harus dapat memberikan
penekanan pada kemampuan seseorang untuk
mengatasi masalahnya.
 Nyeri merupakan stimulus fokal yang multidimensi
dan memberikan efek langsung pada manusia baik
pikiran, tubuh, spirit dan kesiapan aktivitas dalam
proses adaptasi.
Lanjutan...

Respon nyeri dapat diketahui dengan
memisahkan 3 tahap, yaitu :
1. Aktivitas : Dimulai dengan adanya persepsi nyeri
2. Rebound : Pengalaman nyeri yang hebat tetapi
singkat
3. Adaptasi : Respon fisiologis apabila nyeri menetap
atau berkepanjangan, misalnya dengan penurunan
saraf simpatis.