Anda di halaman 1dari 39

SISTEM PARTIKEL

KELOMPOK 2 :

PAIAN TAMBA (NIM. 8156175007)


SRI HANDAYANI PARINDURI (NIM. 8156175012)
YENINDA SARTIKA (NIM. 8156175013)

Program Studi : S-2 Pendidikan Fisika


Kelas : A 2015
Mata Kuliah : Mekanika

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016
Topik-topik yang dibahas :
1. Sistem Partikel pada Pusat Massa

2. Gerak Sistem dengan Variabel Massa

3. Tumbukan Elastis dan Hukum Kekekalan

4. Tumbukan Tak Lenting

5. Aplikasi Sistem Partikel dalam Kehidupan Sehari-hari


1. Sistem Partikel pada Pusat Massa

Setiap kali kita berhadapan dengan suatu


sistem yang mengandung sejumlah besar partikel
untuk menggambarkan gerakan di pusat koordinat
massa.

Sistem yang mengandung partikel N berlabel


1, 2, ..., N. Massa partikel ini m1, m2, ..., mN dan
berada pada jarak r1, r2, ..., rN dari titik asal O.
Lanjutan.....

Kecepatan partikel v1, v2, ..., vN sementara


percepatan u a1, a2, ..., aN masing-masing. Untuk
sistem seperti partikel, pusat massa adalah titik yang
terletak pada jarak R (X, Y, Z) dari titik asaal dan
didefinisikan oleh relasi
Lanjutan.....

Di mana adalah jumlah dari semua massa


dalam sistem dan penjumlahan  adalah dari k = l untuk
k = N. Dalam bentuk komponen, kita dapat menulis:
Lanjutan.....

Komponen kecepatan pusat massa dapat ditulis


sebagai:

Percepatan A dari pusat massa diperoleh dengan


membedakan sekali lagi, yaitu:
Lanjutan.....

Hukum konservasi adalah akibat langsung dari


definisi yang dibuat Newton yaitu, dari hukum kedua
Newton tentang gerak. Validitas hukum konservasi
ini memegang peran yang mana mekanika Newton
memberikan deskripsi yang cukup dalam, hukum
konservasi ini adalah contoh urutan simetri.
Lanjutan.....

Konservasi Momentum Linear


Untuk satu partikel bermassa m bergerak dengan
kecepatan v dan momentum linear p, hukum II Newton.

Di mana F adalah gaya eksternal total yang bekerja


pada massa m dan

Jika m adalah konstan dan tidak tergantung pada waktu,


Lanjutan.....

Gerakan partikel k dari massa mk yang berada pada


jarak rk dari titik asal dengan kecepatan vk dan
percepatan. Total gaya Fk yang bekerja pada partikel k
adalah jumlah set dari dua gaya.

1. Jumlah dari gaya eksternal diterapkan pada


partikel k, dan
2. Jumlah gaya dalam pada k partikel oleh N
yang tersisa 1 partikel dalam sistem.
Lanjutan.....

Dengan demikian persamaan gerak untuk partikel k,


menurut hukum Newton, adalah

dan adalah gaya pada partikel k karena satu


partikel.
Lanjutan.....

Laju perubahan momentum linear total sama dengan


total gaya yang diterapkan eksternal, dengan demikian
jika jumlah dari semua gaya eksternal diterapkan adalah
nol atau momentum linear P sistem akan konstan,
artinya
P = konstan, jika F = 0
Lanjutan.....

Momentum sudut dari partikel tunggal didefinisikan


dalam hal produk cross sebagai,

Momentum sudut keseluruhan bisa diambil mengenai


titik A bukan asal O, tetapi dalam hal ini kita harus
mengganti rk dengan rk – rA, di mana rA adalah jarak
dari titik A dari asal.
Lanjutan.....

Yang menyatakan bahwa tingkat perubahan terhadap


waktu dari momentum sudut dari sebuah sistem adalah
sama dengan torsi total karena semua gaya eksternal
yang bekerja pada sistem konservasi momentum sudut.
Artinya, jika
Lanjutan.....

Konservasi Energi
Dalam banyak situasi, total gaya yang bekerja pada
setiap partikel dalam sistem partikel adalah fungsi dari
posisi partikel dalam sistem. Dengan demikian gaya Fk,
pada partikel k adalah
2. Gerak Sistem dengan Variabel Massa

Roket
Teknologi roket didasarkan pada prinsip
sederhana kekekalan momentum linear. Roket
didorong ke arah depan dengan mendepak massa
dalam arah mundur dalam bentuk gas yang dihasilkan
dari pembakaran bahan bakar.
Lanjutan.....

Dengan demikian gaya maju pada roket adalah


tindakan untuk gaya mundur dari gas dikeluarkan
(bahan bakar terbakar habis). Masalahnya adalah
untuk menemukan kecepatan roket setiap saat
setelah peluncuran atau lepas landas dari tanah.
Lanjutan.....

Interval waktu antara t dan t + dt jumlah bahan


bakar yang habis adalah dm = - dm (karena dm
adalah negatif, maka tingkat di mana bahan bakar
habis adalah [dm/dt] = - dm/dt), sedangkan massa
roket ini m + dm dan kecepatan v + dv,
Lanjutan.....

Ban Berjalan

Pertimbangkan ban berjalan yang ditunjukkan


pada Gambar 6.4. Misalkan M massa ban dan m
menjadi massa pasir pada ban. Total sistem
momentum, ban dan pasir pada ban adalah
Lanjutan.....

Jadi, menurut teorema momentum linear, karena M


dan v adalah konstanta sedangkan m adalah
gantung,
Lanjutan.....

Di mana F adalah gaya yang diterapkan untuk ban.


Gaya yang harus dipasok oleh gaya untuk menjaga
ban bergerak dengan kecepatan seragam v adalah

Artinya, daya yang dibutuhkan adalah dua kali


tingkat di mana energi kinetik meningkat. Ini
menunjukkkan bahwa hukum kekekalan energi
mekanik tidak berlaku di sini.
Lanjutan.....

Ketika pasir menyentuh ban, harus


berakselerasi dari kecepatan nol dengan jarak
kecepatan ban lebih pendek, di mana beberapa geser
harus terjadi antara ban dan pasir.
Lanjutan.....

Ban memberikan gaya horizontal dFf di pasir dm


massa untuk mengubah kecepatan dari v – 0. Tidak
peduli apakah waktu percepatan 1 s atau 1/100 s :
gaya yang dikembangkan oleh gaya gesek antara
ban dan pasir satu setengah daya yang disediakan.
3. Tumbukan Elastis dan Hukum Kekekalan

Dengan menerapkan hukum konservasi, banyak


rincian tumbukan dapat diprediksi tanpa mengetahui
banyak tentang sifat interaksi gaya. Jadi, jika pi dan Ki
adalah momentum linier awal dan energi kinetik
sebelum tumbukan, sedangkan Pf dan Kf adalah
momentum linier final dan energi kinetik setelah
tumbukan maka:
Untuk tumbukan elastis:
Lanjutan.....
Lanjutan.....
4. Tumbukan Tak Lenting

Dalam banyak situasi di kedua dunia mikroskopis dan


makroskopis, energi kinetik dari sistem sebelum
tumbukan tidak sama seperti setelah tumbukan, yaitu
energi kinetik tidak kekal. Sebagai contoh, atom,
molekul, dan inti memiliki bagian dalam energi kinetik
dan potensial. Ketika partikel tersebut berbenturan,
energi kinetik dapat diserap atau dilepaskan.
Lanjutan.....

Tumbukan dimana energi kinetik akhir dari sistem


ini adalah kurang dari energi kinetik awal (yaitu
energi yang diserap oleh sistem), disebut endorgonik
atau reaksi jenis pertama. Tumbukan dimana energi
akhir lebih dari energi kinetik awal ( yaitu energi
yang dilepaskan) disebut exergonik atau reaksi jenis
kedua. Jadi jika energi kinetik awal adalah Ki dan
energi kinetik akhir adalah Kf , energi disintegrasi Q
reaksi didefinisikan sebagai
Lanjutan.....
Aplikasi
 Ketika bola bisbol bertabrakan dengan tongkat
pemukul, jumlah dari momentum awal dan jumlah
dari momentum akhir pemukul dan bola, tetap sama.
Berapapun momentum tongkat pemukul yang
hilang, akan menjadi pertambahan pada bisbol
Lanjutan.....

 Ketika peluru ditembakkan dari pistol, pistol mundur


sehingga jumlah momentum peluru dan pistol
momentum dalam arah yang berlawanan, saling
meniadakan dan momentum akhir dan momentum
awal sistem menyamakan kedudukan. Satu
perangkat sederhana yang menjelaskan prinsip ini
adalah ‘Newton Cradle’. Ini terdiri dari manik-
manik secara terpisah tergantung ditumpuk terhadap
satu sama lain.
Lanjutan.....

 Tabrakan antara dua kendaraan di jalan. apa yang


terjadi ketika dua kendaraan bertabrakan. kondisi
mobil atau sepeda motor mungkin hancur
berantakan. Kalau kita tinjau dari ilmu fisika, fatal
atau tidaknya tabrakan antara kedua kendaraan
ditentukan oleh momentum kendaraan tersebut.
Lanjutan.....

 Bola yang ditendang David Beckham, pada saat itu


juga terjadi tumbukan antara bola dengan kaki David
Beckham.
Lanjutan.....

 Pada permaianan billiard, kita berusaha untuk


memasukan bola ke dalam lubang. Bola yang
menjadi target biasanya diam. Kecepatan bola biliard
yang disodok menuju bola biliard target menjadi
berkurang setelah kedua bola biliard bertumbukan.
Sebaliknya, setelah bertumbukan, bola biliard yang
pada mulanya diam menjadi bergerak.
Lanjutan.....

 Seorang peloncat indah yang sedang terjun ke kolam


renang. Dia melakukan gerak berputar saat terjun.
Peloncat indah itu juga menjalani gerak parabola
yang bisa dilihat dari lintasan titik beratnya.
Lanjutan.....

 Dorongan roket dan jet merupakan penerapan yang


menarik dari hukum III Newton dan Kekekalan
momentum. Roket memiliki tangki yang berisi
bahan bakar hodrogen cair dan oksigen cair. Bahan
bakar tersebut dibakar dalam ruang pembakaran
sehingga menghasilkan gas lalu dibuang melalui
mulut pipa yang terletak dibelakang roket.
Akibatnya terjadi perubahan momentum pada gas
selama selang waktu tertentu.
Kesimpulan
 Suatu sistem partikel yang terdiri dari sejumlah partikel dapat
dianggap sebagai satu partikel bermassa massa total dan
terletak pada sebuah titik yang disebut sebagai pusat massa.
 Bila pada sistem partikel momen gaya oleh gaya-gaya luar nol
maka momen gaya total pada sistem akan nol juga, dan
berdasarkan persamaan, maka atau momentum sudut adalah
tetap, tak bergantung waktu.
 Tumbukan dikatakan tidak elastik jika energi kinetik sistem
sebelum dan sesudah tumbukan tidak sama, artinya ada
sebagian energi kinetik yang hilang sebelum dan sesudah
tumbukan tidak sama, artinya ada sebagian energi kinetik yang
hilang berubah menjadi bentuk energi lain misalnya energi
panas.
Kesimpulan
 Tumbukan biasanya dibedakan dari kekal-tidaknya tenaga
kinetik selama proses. Bila tenaga kinetiknya kekal,
tumbukannya bersifat elastik. Sedangkan bila tenaga
kinetiknya tidak kekal tumbukannya tidak elastik.
 Aplikasi sistem partikel dapat kita temukan pada bola bisbol
yang dipukul, peluru yang ditembakkan dari pistol, tabrakan
antara dua kendaraan di jalan, bola yang ditendang, pada
permaianan billiard, kita berusaha untuk memasukan bola ke
dalam lubang, seorang peloncat indah yang sedang terjun ke
kolam renang, dorongan roket dan jet merupakan penerapan
yang menarik dari hukum III Newton dan kekekalan
momentum.
Daftar Pustaka
Aby Sarojo, Ganijanti. 2002. Seri Fisika Dasar Mekanika.
Jakarta : Salemba Teknika.
Bukit, N., Ginting, E.M. 2015. Mekanika. Medan: UNIMED
PRESS.
Halliday, D., Resnick, R. 1995. FISIKA JILID 1 EDISI KETIGA.
Jakarta: Erlangga.
Musback, Mussadiq.1995. Fisika Mekanika Dan Panas. Jakarta:
Depdikbud.
Tipler, P.A. 1998. FISIKA Untuk Sains dan Teknik. Jakarta:
Erlangga.