Anda di halaman 1dari 12

NAMA :MUH.

RIDWAN
NIM : 17.031.014.171
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi dan jarang ditemukan dalam
keadaan unsur bebas. Besi banyak digunakan untuk kehidupan manusia sehari-
hari dan juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Besi adalah logam paling
melimpah nomor dua setelah setelah alumunium. Bumi kita ini juga
mengandung unsur Besi. Selain itu, besi juga memiliki sifat fisika dan sifat kimia.
 Sifat Fisika  Sifat Kimia
 1. Pada suhu kamar berwujud padat,  1. Unsur besi bersifat elektropositif yaitu
mengkilap dan berwarna keabu-abuan. mudah melepaskan elektron. Karena
 2. Merupakan logam feromagnetik sifat inilah bilangan oksidasi besi
karena memiliki empat elektron tidak bertanda positif.
berpasangan pada orbitan d.  2. Besi dapat memiliki biloks 2, 3, 4 dan
 3. Merupakan penghantar panas yang 6. Hal ini disebabkan karena perbedaan
baik. energi elekktron pada subkulit 4s dan 3d
 4. Kation logam besi berwarna hijau
cukup kecil, sehingga elektron pada
(Fe2+) dan jingga (Fe3+). Hal ini subkulit 3d juga terlepas ketika terjadi
disebabkan oleh adanya elektron tidak ionisasi selain elektron pada subkulit 4s.
berpasangan dan tingkat energi orbital  3. Logam murni besi sangat reaktif
tidak berbeda jauh. Akibatnya, elektron secara kimiawi dan mudah terkorosi,
mudah tereksitasi ke tingkat energi lebih khususnya di udara yang lembab atau
tinggi menimbulkan warna tertentu. ketika terdapat peningkatan suhu.
 5. Besi bersifat keras dan kuat.  4. Mudah bereaksi dengan unsur-unsur
non logam seperti sulfur, fosfor, boron,
karbon dan silikon.
Besi juga bermacam-macam berikut macam-macam besi :
1. Besi Tuang (cast iron)
– Diperoleh dengan cara mendinginkan besi kasar yang diperoleh dari tanur,
dengan memasukkannya ke dalam cetakan yang tersedia. Tanur adalah tempat
pengolahan bijih besi menjadi logam besi.
– Besi tuang mengandung 2 – 4% karbon.
– Besi tuang bersifat keras mudah rapuh sehingga banyak digunakan sebagai
pipa leding dan radiator.
2. Besi Tempa (wrought iron)
– Diperoleh dengan cara mengurangi karbon dari besi kasar sampai kadar
karbonnya 0,02%. Caranya besi dipanaskan sehingga karbonnya teroksidasi
menjadi CO2
– Sifat besi tempa lebih lunak dibandingkan besi tuang, tetapi lebih kuat.
– Karena cukup lunak, maka ditempa menjadi peralatan, seperti golok dan
cangkul.
3. Baja
– Mengandung karbon sebanyak 0,02%
– Baja lebih keras dibandingkan besi tempa.
– Dibuat dengan menambahkan logam lain seperti nikel, krom, mangan,
vanadium, molibden dan wolfram sesuai dengan baja yang diinginkan
Toksitas Besi
Tempat pertama dalam tubuh yang mengontrol pemasukkan Fe adalah
usus halus. Bagian dari usus ini berfungsi untuk absorpsi dan sekaligus ekskresi
Fe yang tidak diserap. Besi dari usus diabsorpsi dalam bentuk feritin, dimana
bentuk ferro lebih mudah diabsorpsi daripada bentuk ferri. Feritin masuk
kedalam darah berubah bentuk menjadi transferin. Dalam darah tersebut besi
berstatus sebagai besi bervalensi tiga (trivalent) yang kemudian ditransfer ke
hati dan limpa yang kemudian disimpan dalam organ tersebut sebagai
cadangan dalam bentuk feritin dan hemosiderin. Toksisitas terjadi bilamana
terjadi kelebihan (kejenuhan) dalam ikatan tersebut.
Toksisitas akut Fe pada anak terjadi karena anak memakan sekitar 1 g Fe
dan mungkin lebih banyak. Kandungan asupan besi pada anak secara normal
adalah sekitar 10-20 mg/kg berat badan. Setiap tahun dilaporkan sekitar 2500
kasus keracunan Fe pada anak dibawah umur 6 tahun dan merupakan salah
satu kasus keracunan yang terbanyak yang menyebabkan kematian pada anak.
Besi memiliki sifat kimia mudah terkorosi. Berikut ini penjelasan mengenai korosi pada
besi :
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi ini menimbulkan
banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang
menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi
menjadi baja anti karat (stainless stell),
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya zinc dan
magnesium dapat melindungi besi dari korosi. Berikut ini cara-cara pencegahan korosi
pada besi berdasarkan pada dua sifat tersebut :
1. Pengecatan
2. Pelumuran dengan oli atau gemuk
3. Pembalutan dengan plastik
4. Pelapisan dengan timah (tin plating)
5. Pelapisan dengan zinc (galvanisasi)
6. Pelapisan dengan kromium (cromium plating)
7. Pengorbanan anode (sacrificial protection)
Proses pengolahan bijih besi untuk menghasilkan logam besi
dilakukan dalam tanur sembur (blast furnace). Tanur sembur
berbentuk menara silinder dari besi atau baja dengan tinggi
sekitar 30 meter dan diameter bagian perut sekitar delapan
meter.Karena tingginya alat tersebut, alat ini sering juga
disebut sebagai tanur tinggi. Bagian – bagian dari tanur tinggi
adalah sebagai berikut:
Bagian puncak yang disebut dengan Hopper, dirancang
sedemikian rupa sehingga bahan – bahan yang akan diolah
dapat dimasukkan dan ditambahkan setiap saat.
Bagian bawah puncak, mempunyai lubang untuk
mengeluarkan hasil – hasil yang berupa gas.
Bagian atas dari dasar (kurang lebih 3 meter dari dasar),
terdapat pipa – pipa yang dihubungkan dengan empat buah
tungku dimana udara dipanaskan (sampai suhunya kurang
lebih 1.100o C). udara panas ini disemburkan ke dalam tanur
melalui pipa – pipa tersebut.
Bagian dasar tanur, mempunyai dua lubang yang masing –
masing digunakan untuk mengeluarkan besi cair sebagai hasil
utama dan terak (slag) sebagai hasil samping.
Pembuatan sampel pada Analisis Kolorimetri Kadar
Besi(III) dalam
Sampel Air Sumur dengan Metoda Pencitraan
Digital
Pembuatan sampel pada Analisis Kolorimetri Kadar Besi(III) dalam
Sampel Air Sumur dengan Metoda Pencitraan
Digital
Pembuatan larutan baku besi(III) 100 Pembuatan larutan standar besi(III) dengan
ppm konsentrasi (0,3 – 2 ppm)
Padatan NH4Fe(SO4)2.12H2O sebanyak Larutan baku besi(III) 100 ppm sebanyak 0,3
0,0863 g ditimbang dan dimasukkan ke mL, 0,5 mL, 1 mL dan 2 mL masing – masing
dalam labu takar 100 mL. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL dan
sedikit aquadest dan 4 tetes HCl pekat 37 % kemudian larutan HNO3 4 M (3 mL) dan KSCN 2
ditambahkan ke dalam labu takar, M (5 mL) ditambahkan ke dalam setiap labu
kemudian padatan tadi dilarutkan sambil takar tersebut dan campuran tersebut dikocok
dikocok sampai larut sempurna. sampai homogen. Masing – masing larutan
Aquadest ditambahkan ke dalam labu takar tersebut diencerkan dengan aquadest sampai
tanda batas labu takar dan dikocok sampai
sampai tanda batas dan dikocok hingga
homogen. Setelah larutan homogen, larutan
homogen.
standar besi(III) tersebut dimasukkan ke dalam
tabung reaksi dan diberi label sesuai urutan
konsentrasi dan kemudian larutan diukur pH-nya.
Larutan blanko dibuat dari campuran HNO3 4 M
(3 mL) dan KSCN 2 M (5 mL) yang ditambahkan
aquadest sampai tanda batas labu takar dan
kemudian dikocok sampai homogen.
Penyiapan larutan sampel (air sumur) Pengukuran Kadar Besi(III)
Sampel yang akan dianalisis berupa air Dua alat yang digunakan dalam pegukuran
sumur yang terdapat di daerah Kopo di sekitar kadar besi(III) pada penelitian ini, yaitu
lingkungan bandung selatan di mana kualitas air spektrofotometer UV-Vis dan scanner. Untuk
sumur yang dikonsumsi kurang baik. Adanya pengukuran dengan spektrofotometer UV-Vis,
warna kuning dalam air sumur dapat setiap larutan standar besi(III) (0,3 – 2 ppm) dan
diindikasikan bahwa adanya kandungan besi larutan sampel diukur absorbansinya pada λmax
khususnya kandungan besi(III) karena besi =480 nm. Nilai absorbansi hasil pengukuran
dengan bilangan oksidasi +3 dalam bentuk dialurkan terhadap konsentrasi larutan standar
larutan akan berwarna kuning. Penyiapan besi(III) untuk membuat kurva kalibrasi.
sampel (air sumur) sama seperti pembuatan Absorbansi larutan sampel dialurkan terhadap
larutan standar besi(III). Air sumur sebanyak 60 kurva kalibrasi tersebut dan ditentukan kadar
mL dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL. besi(III) .
Kemudian, larutan KSCN 2 M (5 mL), dan
larutan HNO3 4 M (3 mL) ditambahkan ke dalam
sampel. Larutan tersebut diencerkan dengan
aquadest sampai tanda batas labu takar dan
dikocok sampai homogen. Kemudian, pH larutan
sampel diukur.
Metode yang digunakan
1. Penentuan Kadar Besi(III) dengan Metoda  Penentuan Kadar Besi(III) dengan Metoda
Kolorimetri Menggunakan Spektrofotometer  Kolorimetri Menggunakan Teknik Pencitraan
UV – Vis  Digital
Garam rangkap NH4Fe(SO4)2.12H2O  Hasil pencitraan dengan alat scanner
digunakan sebagai bahan untuk membuat  dianalisa dengan program ImageJ Version 1.48.
larutan baku besi(III). Garam rangkap ini dipilih  Hasil yang diperoleh berupa data intensitas
karena tergolong garam rangkap yang paling  cahaya komponen warna RGB untuk setiap
stabil dibandingkan garam rangkap lainnya  larutan standar besi(III) dan sampel. Data
seperti FeCl3, dan Fe(NO3)3. Pereaksi yang  intensitas cahaya komponen warna RGB yang
digunakan untuk membentuk senyawa kompleks  dihasilkan kemudian diubah menjadi nilai
besi(III) adalah larutan KSCN. Senyawa  absorbansi dengan menggunakan persamaan
kompleks tersebut mempunyai rumus molekul  Lambert - Beer :
[Fe(SCN)6]3⁻ yang berwarna merah jingga.  intensitas cahaya warna aktual hasil
pencitraan
 (Intensitas cahaya komponen warna RGB) dan
 Io = intensitas cahaya warna yang diserap oleh
 pelarut (intensitas cahaya warna larutan
blanko).
Berdasarkan data kandungan kadar besi(III)
dalam sampel air sumur hasil pengolahan teknik
pencitraan digital menunjukkan bahwa teknik
pencitraan digital dengan menggunakan
program ImageJ. Version 1.48 dan alat scanner
sebagai media penghasil gambar digital ternyata
dapat digunakan sebagai alat ukur sederhana
dan relatif murah dalam analisis kuantitatif
dengan metoda kolorimetri. Hal ini ditunjukkan
dengan kandungan kadar besi(III) hasil teknik
pencitraan digital yang relatif sama dengan hasil
spektrofotometer UV-Vis. Dari hasil analisis
terhadap sampel air sumur diperoleh kandungan
kadar besi(III) = 0,856 ppm (hasil
spektrofotometer UV-Vis), untuk hasil pencitraan
digital diperoleh kandungan kadar besi(III)
sebesar 0,875 ppm (hijau) dan 0,863 ppm (biru).