Anda di halaman 1dari 59

Gabungan otot

tendon tertebal
yaitu Panjangnya
dan terkuat
gastrocnemius, sekitar 15
pada badan
soleus, dan otot sentimeter
manusi
plantaris kaki
Tendon Achilles tidak memiliki
selubung sinovial sejati,
namun tendon ini dibungkus
oleh paratenon yang terletak
antara kulit dengan bagian
posterior jaringan lunak dari
kaki

Suplai darah untuk


Achilles berasal dari
musculotendinous
junction pada bagian
Tendinitis Achilles adalah peradangan
tendon Achilles
• ketika berjalan
atau olahraga
yang berlebihan
• latihan intens
• Melompat
Penyebab • kegiatan lain
yang membuat
ketegangan
tendon dan pada
otot gastroc
Faktor Resiko
Jenis
kelamin Masalah Aktivitas
dan fisik fisik
usia.
Epidemiologi
 Aktivitas fisik.  Kondisi medis.  Masalah fisik.
Menggunakan sepatu Orang yang memiliki Lengkungan datar alami di
usang dapat meningkatkan diabetes atau tekanan darah kaki membuat lebih banyak
risiko Achilles tendinitis. tinggi berada pada risiko tekanan terjadi pada tendon
Nyeri tendon terjadi lebih lebih tinggi terkena Achilles Achilles. Obesitas dan
sering dalam cuaca dingin tendinitis. kekakuan otot betis juga bisa
daripada di cuaca hangat. meningkatkan ketegangan
Berjalan di daerah berbukit tendon.
juga memperbesar resiko
cedera Achilles.
3. Fase
2. Fase remodeling
1. Fase inflamasi
proliferasi • Tahap konsolidasi
• Tahap maturasi
Eritrosit dan sel inflamasi (terutama neutrofil) datang ke
lokasi kerusakan

Dalam 24 jam pertama, monosit dan makrofag muncul dan


memfagositosis jaringan – jaringan nekrotik

Faktor vasoaktif dan kemotaktik dikeluarkan 


meningkatkan permeabilitas vaskular, inisiasi
angiogenesis, stimulasi proliferasi tenosit, dan rekrutmen
sel – sel inflamasi lebih banyak

Tenosit secara bertahap migrasi ke tempat luka dan


menginisiasi sintesi kolagen tipe III
Sintesis kolagen tipe III mencapai
puncak dan terus berlangsung
hingga beberapa minggu

Kandungan air dan


glikosaminoglikan pada fase ini
memiliki konsentrasi yang tinggi
Setelah kurang lebih enam
minggu, fase remodeling
Fase konsolidasi (minggu ke Fase Maturasi (setelah
dimulai, dengan penurunan
6 – 10) minggu ke 10)
sintesis seluler, kolagen, dan
glikosaminoglikan

Terjadi perubahan jaringan


dari seluler ke jaringan Terjadi perubahan bertahap
fibrosa jaringan fibrosa menjadi
tendon yang membentuk
jaringan parut yang berjalan
selama satu tahun
Metabolisme tenosit tinggi,
dan bersama dengan serat
kolagen menyatu segaris
dengan arah stres (robekan,
luka)

Pada akhir dari tahap ini,


metabolisme tenosit dan
Proporsi kolagen tipe I vaskularisasi tendon menurun
banyak disintesi pada fase ini
Gambaran Klinis
Tendinitis Achilles
Tanda dan gejala dari Achilles tendonitis meliputi:
 Sakit ringan atau nyeri di bagian belakang kaki dan di atas tumit setelah olahraga.
 Kekakuan, terutama di pagi hari, yang biasanya membaik dengan aktivitas ringan.
 Pembengkakan ringan atau “benjolan” pada tendon Achille
 Suara berderak atau berderit ketika menyentuh atau menggerakkan tendon achilles.
 Kelemahan pada tungkai bawah.
 Tenderness
 Swelling
 Stiffness
Prognosis
Kebanyakan pasien dengan kondisi ini dapat sembuh dengan baik sesuai prosedur fisioterapi.
Namun, tidak sedikit dari penderita tendinitis mengalami proses yang panjang pada tahap
penyembuhan yaitu sekitar 6 sesuai kondisi yang mereka hadapi. Fisioterapi pengobatan dini
sangat penting untuk mempercepat pemulihan pada semua pasien dengan kondisi ini.

Komplikasi
 Infeksi
 Ruptur tendon achilles
Achilles tendinitis membuat Anda lebih mungkin mengalami ruptur pada tendo Achilles.
Kondisi ini biasanya menyebabkan rasa sakit yang tajam, seperti seseorang memukul Anda
di bagian belakang tumit dengan tongkat. Bedah perbaikan diperlukan, tapi sulit karena
tendon tidak normal.
Nama : Ardiansyah
Usia : 25 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Atlet Lari
Hobi : Main bola
Vital Sign
TD : 120/80 mmhg
Suhu : 35° C
Denyut nadi : 70 kali/menit
Frekuensi pernapasan : 18 kali/menit
Body Scheme
Chief Of Complain
Bengkak di kaki dan sulit berjalan
History Taking
No. Pertanyaan Informasi

1. Kapan kejadiaannya? (Kognitif) Tiga hari yang lalu

2. Bagaimana kronologi kejadiannya? Ketika saya sedang dalam latihan untuk persiapan final
(Kognitif) sprint, tiba-tiba saya keseleo dan tidak bisa berdiri
dan berjalan.

3. Dimana letak keluhannya? (Body Di bagian tumit kanan

Scheme)
4. Jenis nyerinya menjalar atau hanya di Tidak, hanya bagian situ saja.
bagian itu saja? (Body Scheme)

5. Apakah bapak sudah ke dokter? Belum


(Attention)
6. Apakah bapak sudah di foto roentgen dan Belum
diperiksa laboratorium? (Attention)

7. Bagaimana keadaan tidur, dan kegiatan Terganggu dan sangat cemas.


hari-hari bapak? (Body image)

8. Bagaimana perasaan bapak setelah terkena Saya sangat terganggu dan cemas karena seminggu lagi
History Taking
No. Pertanyaan Informasi
9. Pada posisi apa saja nyerinya Pada saat saya menggerakkan kaki kanan.
bertambah? Body scheme)

10. Pada posisi apa saja nyerinya berkurang? Pada saat kaki kanan saya diistrahatkan.
(Body scheme )

11. Apakah sudah bapak sudah minum obat Iya sudah. Obat di apotek.
penghilang nyeri? (Attention)

12 Bagaimana BAB dan BAK bapak? (Body Saat ingin BAB agak terganggu karena kaki saya sulit

scheme ) bergerak.

13. Apakah saat pertama kali bengkak, Iya sudah. Alhamdulillah bengkak sama nyerinya
bapak mengompress dengan air dingin? berkurang.
Dan apakah nyeri dan bengkaknya
berkurang? (Attention)
History Taking
No. Pertanyaan Informasi

14. Apakah bapak pernah jatuh pada bagian Belum pernah. Ini pertama kali
tumit sebelumnya? (Body scheme)

15 Bagaimana dukungan keluarga bapak Keluarga saya sangat berharap saya cepat sembuh dan
terhadap penyakit bapak? (Persepsi) pelatih saya selalu memarahi saya sehingga beban saya
terasa berat dengan penyakit ini.

16. Apakah bapak punya riwayat penyakit lain, Tidak ada.


seperti diabetes, tumor, dll? (Body Scheme)

17. Masih ada keluhan lain ibu? Sudah tidak ada.


Asimetrik
Inspeksi Statis
(Body Scheme)
No. Inspeksi Statis Hasil Inspeksi

1. Perhatikan apakah terdapat memar, Terdapat memar, inflamasi, dan


inflamasi, oedem dan deformitas. oedem

2. Perhatikan mimik wajah pasien, Pasien menahan sakit


apakah menahan nyeri.

3. Perhatikan Analgesic Position. Pada tungkai bagian kanan sedikit


semifleksi
4. Perhatikan kesimetrisan fossa poplitea, Karena tungkai kanan mengalami
SIPS dan gluteus. semifleksi maka SIPS dan gluteus
sinistra lebih turun dibandingkan yang
kanan
Asimetrik
Inspeksi Dinamis
(Body Language)
No. Inspeksi Dinamis Hasil inspeksi

1. Pasien diintruksikan untuk berjalan Pada pola berjalan pasien, kaki yang
dan perhatikan pola berjalan pasien. sakit tidak terdapat foot flat dan toe off.
Dan pada kaki yang sehat terdapat foot
flat.
Pola berjalan : PINCANG.
Kaki yang sehat (kiri) menumpu berat
badan.
Tes Orientasi Asimetrik

(Body Language)
No. Quick Test Hasil inspeksi

1. Pasien diintruksikan untuk melompat kecil. Pasien merasakan nyeri.


Apabila timbul nyeri pada bagian tumit, maka
kemungkinan terdapat tendinitis achilles.
2. Pasien diinstruksikan untuk duduk, kemudian Pasien merasakan nyeri
berdiri. Apabila saat berdiri nyeri semakin bertambah saat berdiri dari
bertambah, maka kemungkinan terdapat duduk.
tendinitis achilles.
3. Pasien diintruksikan untuk menendang tangan Kaki yang sakit terbatas
sesuai instruksi FT geraknya da ada nyeri
Body Scheme PFGD Asimetrik
 PFGD Aktif

Seluruh gerakan dasar pada ankle mengalami keterbatasan karena adanya


nyeri, terutama gerakan dorsofleksi dan plantarfleksi.

 PFGD Pasif

Pada gerakan dorsofleksi dan plantarfleksi ankle terdapat nyeri yang hebat
sehingga terdapat keterbatasan gerakan. Sedangkan untuk gerakan inversi
dan eversi tidak terdapat keterbatasan.

 TIMT

Pada gerakan dorsofleksi dan plantarfleksi yang diberikan tahanan akan


menimbulkan nyeri sehingga tidak dapat melawan tahanan. Selain itu nyeri
yang besar terdapat pada gerakan plantar fleksi yang ditahan.
Body Scheme Asimetrik
Palpasi
No. Palpasi Hasil

1. Suhu Suhu pada bagian yang mengalami


cedera lebih hangat dibandingkan
jaringan sekitar.

2. Oedem Terdapat penumpukan cairan.

3. Kontur kulit Pada bagian yang cedera terdapat


memar.
Body Scheme Restriktif

 ROM

Terdapat keterbatasan ROM pada gerakan-gerakan dasar seperti dorsofleksi,


plantarfleksi, inversi, dan eversi.

 ADL

Terjadi keterbatasan ADL, terutama transfer dan ambulansi.

 Pekerjaan : Mengalami limitasi yaitu sebagai atlet lari

 Rekreasi : Mengalami limitasi yaitu bermain bola


Body Scheme Tissue
Impairment

No. Tissue Impairment Hasil


1.
Musculotendinogen Tendinitis pada tendon
achilles.

2.
Osteoarthrogen Keterbatasan ROM gerakan

3.
Psikogenik Gangguan kepercayaan diri
dan kecemasan
Body Scheme Tes Spesifik

VAS (Visual Analog MMT (Muscle


Edema Rating Scale
Scale) Manual Test)

HRS-A (Hamilton
Rating Scale for
ROM (Range of
Tes Thompson Anxiety) 
Motion)
mengukur tingkat
kecemasan

Indeks Kenny Self


Care
Tes Spesifik
VAS

0 5 6 7 10

No. Jenis Nyeri Hasil

Nyeri Diam 5
2. Nyeri Tekan 7

3. Nyeri Gerak 6
Body Scheme Tes Spesifik
Edema Rating Scale
Edema rating scale merupakan skala pengukuran pada edema. Skala ini
memiliki 4 nilai yang masing-masing memiliki interpretasi tersendiri, yaitu :
Scor Deskripsi
e
1+ Kedalamannya 1-3 mm dengan waktu kembali 3
Hasil Tes : Nilai
detik

2+ Kedalamannya 3-5 mm dengan waktu kembali 5


edema +2
detik

3+ Kedalamannya 5-7 mm dengan waktu kembali 7


detik. Ekstremitas terlihat bengkak.

4+ Kedalamannya 7 mm dengan waktu kembali 7


detik. Ekstremitas terlihat sangat bengkak.
Body Scheme Tes Spesifik
MMT

Berdasarkan MMT yang telah dilakukan, diperoleh bahwa nilai

otot gastrocnemius adalah 3

Karena pasien dapat melakukan gerakan plantar fleksi dan dorso

fleksi secara aktif namun karena adanya nyeri sehingga gerakannya

terbatas.
Body Scheme Tes Spesifik

ROM
No. ROM Dorso – Inversi – Eversi
Plantar Fleksi Dextra

Dextra
1. Hasil Pengukuran
S.10o.0.10o T.20o.0.15o
Body Scheme Tes Spesifik
Tes Thompson
Tes Thompson berfungsi untuk mengetahui apakah terdapat ruptur pada tendon
achilles. Tes ini dilakukan dengan cara menekan bagian tengah (muscle belly) otot
gastrocnemius. Hal positif yang menunjukkan adanya ruptur tendon achilles adalah
dengan tidak adanya plantarfleksi pada ankle joint.
Hasil Tes Thompson =
terdapat gerakan
plantarfleksi

Interpretasi = tidak
terdapat ruptur pada
tendon achilles
g. HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety)
Alat ukur ini terdiri 14 kelompok gejala yang masing- masing kelompok dirinci lagi
dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. Keempatbelas kelompok tersebut adalah
sebagai berikut:

No. Kelompok Gejala

1. Perasaan cemas a. Cemas


b. Takut
c. Mudah tersinggung
d. Firasat buruk

2. Ketegangan a. Lesu
b. Tidur tidak tenang
c. Gemetar
d. Gelisah
e. Mudah terkejut
f. Mudah menangis

3. Ketakutan pada a. Gelap


b. Ditinggal sendiri
c. Orang asing
d. Binatang besar
e. Keramaian lalulintas
f. Kerumunan orang banyak
4. Gangguan tidur a. Sukar tidur
b. Terbangun malam hari
c. Tidak puas, bangun lesu
d. Sering mimpi buruk
e. Mimpi menakutkan
5. Gangguan kecerdasan a. Daya ingat

6. Perasaan depresi a. Kehilangan minat


b. Sedih
c. Bangun dini hari
d. Berkurangnya kesenangan pada
hobi
e. Perasaan berubah-ubah
sepanjang hari
7. Gejala somatic a. Nyeri otot kaki
b. Kedutan otot
c. Gigi gemertak
d. Suara tidak stabil
8. Gejala sensorik a. Tinitus
b. Penglihatan kabur
c. Muka merah dan pucat
d. Merasa lemas
e. Perasaan di tusuk-tusuk
9. Gejala kardiovaskuler a. Tachicardi
b. Berdebar-debar
c. Nyeri dada
d. Denyut nadi
mengeras
e. Rasa lemas seperti
mau pingsan
f. Detak jantung hilang
sekejap

10. Gejala pernapasan a. Rasa tertekan di dada


b. Perasaan tercekik
c. Merasa napas pendek
atau sesak
d. Sering menarik napas
panjang
11. Gejala saluran pencernaan a. Sulit menelan
makanan b. Mual, muntah
c. Enek
d. Konstipasi
e. Perut melilit
f. Defekasi lembek
g. Gangguan pencernaan
h. Nyeri lambung sebelum dan
sesudah
i. Rasa panas di perut
j. Berat badan menurun
k. Perut terasa panas atau
kembung

12. Gejala urogenital a. Sering kencing


b. Tidak dapat menahan kencing
13. Gejala vegetative/Otonom a. Mulut kering
b. Muka kering
c. Mudah berkeringat
d. Sering pusing atau sakit kepala
e. Bulu roma berdiri
14. Perilaku sewaktu wawancara a. Gelisah
b. Tidak tenang
c. Jari gemetar
d. Mengerutkan dahi atau
kening
e. Muka tegang
f. Tonus otot meningkat
g. Napas pendek dan cepat
h. Muka merah

Masing- masing kelompok gejala diberi penilaian angka (skore)


antara 0-4, yang artinya adalah:

Nilai 0 = tidak ada gejala / keluhan


Nilai 1 = gejala ringan / satu dari gejala yang ada
Nilai 2 = gejala sedang / separuh dari gejala yang ada
Nilai 3 = gejala berat / lebih dari separuh dari gejala yang ada
Nilai 4 = gejala berat sekali / semua dari gejala yang ada

Masing- masing nilai angka (skore) dari 14 kelompok gejala


tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat
diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu:
Total nilai (skore):
< 14 = tidak ada kecemasan
14 – 20 = kecemasan ringan
21 – 27 = kecemasan sedang
28 – 41 = kecemasan berat
42 – 56 = kecemasan berat sekali / panik

Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan


pada pasien, nilai yang diperoleh adalah 18 yang
menginterpretasikan bahwa pasien mengalami
kecemasan tingkat ringan
Body Tes Spesifik
Languange
1). Aktivitas di tempat tidur
- Bergeser di tempat tidur : 3
- Bangun dan duduk : 3
2). Transfer
- Duduk : 4
- Berdiri : 3 Rata2 : 3 (Butuh Bantuan
- Penggunaan toilet : 3 Minimal dan Pengawasan)
3). Ambulasi
- Berjalan : 2
- Naik/turun tangga : 1
- Penggunaan kursi roda : 4
4). Berpakaian
- Anggota atas dan trunk bagian atas : 4
- Anggota bawah dan trunk bagian bawah : 3
- Kaki : 2
5). Hygiene
- Wajah, rambut, anggota atas : 4
- Trunk : 4
- Anggota bawah : 3
6). BAB dan BAK : 3
7). Makan : 4
 Atensi: Pasien fokus pada fisioterapi dan
bersemangat untuk sembuh serta rutin
untuk mengkonsumsi obat penghilang
nyeri.
 Penanaman memori : Pasien dapat
menceritakan dengan jelas kronologi
kejadian penyakitnya.
 Perubahan persepsi : Pasien merasa
keluarganya mendukung namun
pelatihnya menekannya agar cepat
sembuh sehingga pasien merasa agak
tertekan. Pasien percaya kepada
fisioterapinya.
Diagnosis

Gangguan Fungsi Gerak berupa nyeri pada tumit


kanan e.c. Tendinitis Achilles Grade 2 sejak Tiga
Hari yang lalu
Problem
Problem Primer Problem Sekunder
 Nyeri  Gangguan kepercayaan diri dan
kecemasan

 Keterbatasan ROM
Problem Kompleks  Muscle weakness

Gangguan fungsi ADL (Activity


Daily Living) pada berjalan.
No. Problem/Tujuan Modalitas Dosis
Fisioterapi Terpilih
1. (Body Image) Komunikasi F : 1 x sehari
Gangguan Terapeutik I : pasien fokus
kepercayaan diri T : wawancara,
dan kecemasan motivasi
T : selama terapi
No. Problem/Tujuan Modalitas Terpilih Dosis
Fisioterapi
2. (Body Scheme) Rest F : setiap hari
I : konstan
Reaksi Inflamasi (oedem,
T : lying
memar) T : 1x24 jam

Ice F : setiap hari


I : 3 menit, jeda 2 menit, 4x repetisi
T : intermitten
T : 20-30 menit

Compress F : setiap hari


I : brace
(immobilisasi)
T : soft collar
T : 1x24 jam

Elevasi F : setiap hari


I : konstan
T : lokal
T : 1x24 jam
No Problem Fisioterapi Modalitas Dosis
. Terpilih
3. (Body Scheme) Interferensi F : 3 x seminggu
Nyeri I : 20-30 mA
T : Local
T : 10 menit
No Problem Fisioterapi Modalitas Dosis
. Terpilih
4. (Body Scheme) Exercise F : 3 x seminggu
Muscle Weakness I : 8x hitungan, 8x
repetisi
T : statik kontraksi
T : 1,5 menit
No Problem Fisioterapi Modalitas Dosis
. Terpilih
5. (Body Scheme) ROM exercise F : setiap hari
Keterbatasan ROM I : 8x hitungan, 8x
repetisi
T : AROMEX,PROMEX
T : 2 menit
6. (Body Language) ADL Exercise F : 3x seminggu
Gangguan ADL I :
T : berjalan
T : 2 menit
NO AFPR Modalitas Dosis

1 Aktivitas Fungsional Dadu Berjalan F : setiap hari


I : 8x lemparan
T : berjalan sesuai jumlah dadu
T : 10 menit

2 Rekreasi Bermain bola F : setiap hari


I : 5 menit tendang 5 menit istirahat. 3x rep
T : Tendang Bola
T : 30 menit

3 Pemeliharaan Diri Paku dalam botol F : setiap hari


(Toileting)
I : 3x repetisi
T : mengikat paku dengan tali yang diikat di
pinggang pasien, kemudian meminta
pasien memasukkannya dlm botol
T : 10 menit
Evaluasi Perubahan persepsi
No. Problem Parameter Intervensi 3x Interpretasi
Fisioterapi terapi
Sebelum Sesudah
1. Rasa Percaya Diri HRS-A 18 7 Terdapat penurunan tingkat
kecemasaan (kecemasan
ringan  tidak ada
kecemasan)
2. Nyeri Diam VAS 7,5 1 Terdapat penurunan nilai
nyeri
3. Nyeri gerak VAS 6,5 1 Terdapat penurunan nilai
nyeri
4. Nyeri Tekan VAS 5 0 Terdapat penurunan nilai
nyeri
5. Edema Edema Rating 2+ 0 Terdapat penurunan edema
Scale
5. Mucle Weakness MMT 3 5 Terdapat peningkatan
Evaluasi Perubahan persepsi

No. Problem Parameter Intervensi 3x terapi) Interpretasi


Fisiotera Sebelum Sesudah
pi
7. Limitasi Goniometer S.10º.0º.10º S.20º.0º.45º Terdapat peningkatan
nilai ROM
ROM F.15º.0º.20º F.20º.0º.30º

8. Gangguan Indeks 13 20 Terdapat peningkatan


Fungsi Kenny Self fungsional ADL
ADL Care (ketergantungan ringan 
mandiri)
Home Program Penanaman memori

 Lakukan peregangan setiap hari untuk meregangkan otot betis dan


tendon achilles yaitu setiap pagi hari, sebelum olahraga, dan
setelah olahraga.

 Melakukan pemanasan sebelum olahraga

 Hindari aktivitas yang memberikan stress berlebih pada tendon,


misalnya berlari pada jalan yang menanjak atau menaiki bukit.

 Jika perlu ubah olahraga dengan latihan yang tidak memberikan


tekanan yang besar pada tendon achilles misalnya berenang.
Dokumentasi
Data-data tentang riwayat medis klien, hasil-hasil
pemeriksaan klinis, program intervensi fisioterapi yang
telah dilaksanakan pada klien dan catatan penting
tentang hasil perkembangan terapi, dapat dilihat dan
tercantum pada kartu kontrol pemeriksaan kesehatan
klien.
Modifikasi

Dalam modifikasi, fisioterapis melakukan modifikasi


pada program intervensinya apabila tidak terdapat
peningkatan kondisi yang baik pada pasien dengan
melihat hasil evaluasi.
Kemitraan
Pengembangan kemitraan dapat dilakukan dengan profesi
kesehatan lainnya dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan
sepenuhnya terhadap kondisi klien. Hal ini dilakukan sesuai
dengan kebutuhan klien dan perkembangan patofisiologinya.
Dalam memberikan intervensi klien tersebut, fisioterapis dapat
bermitra dengan dokter spesialis saraf, dokter dokter spesialis
patologi klinik, ahli okupasional, perawat, psikolog, ahli gizi, dan
pekerja sosial medis lainnya.