Anda di halaman 1dari 18

Chemical

Enhanced Oil
Recovery
MUHAMMAD RAHMAN ( 1610247926 )
TRISUCIATI SYAHWARDINI (1610247928)
Chemical Flooding (Injeksi Kimia) adalah salah satu jenis
metode pengurasan minyak tahap lanjut (EOR) dengan
jalan menambahkan zat-zat kimia ke dalam air injeksi
untuk menaikkan perolehan minyak sehingga akan
menaikkan efisiensi penyapuan dan atau menurunkkan
saturasi minyak sisa yang tertinggal di reservoir. Injeksi
kimia memiliki prospek yang bagus, pada reservoir-
reservoir yang telah sukses dilakukan injeksi air dengan
kandungan minyak yang masih bernilai ekonomis.
Tetapi pengembangannya masih lambat, karena biaya dan resiko
yang tinggi serta teknologinya yang kompleks. Beberapa faktor yang
dirasakan penting dalam menentukan keberhasilan suatu injeksi
kimia ialah:

• Kedalaman
• Tingkat heterogenitas reservoir
• Sifat-sifat petrofisik
• Kemiringan
• Mekanisme pendorong
• Cadangan minyak tersisa
• Saturasi minyak tersisa
• Viskositas minyak
Ada 3 tipe umum yang termasuk dalam injeksi kimia, yaitu
Injeksi Polymer, Injeksi Surfactant, dan Injeksi Alkaline.
Tetapi seiring dengan perkembangan penelitian, ada
kombinasi antara injeksi surfactant dan injeksi polymer
atau yang lebih dikenal dengan nama Micellar-Polymer
Flooding.
POLIMER

INJEKSI
KIMIA
SURFAKTAN ALKALIN
Injeksi polimer
•Penggunaan polimer bertujuan memperbaiki “mobilitas” minyak-air,
untuk menaikkan efisiensi pengurasan secara luas (makroskopik).
•Mekanisme utama yang berperan dalam peningkatan produksi minyak
pada injeksi polimer adalah terjadinya peningkatan efisiensi penyapuan
makroskopik hasil reduksi mobilitas larutan polimer menjadi kurang dari
mobilitas minyak-air yang didesak.
Injeksi polimer terdiri atas beberapa tahap, yaitu preflush (pengondisian
reservoir), additional oil recovery (oil Bank), injeksi larutan polimer untuk
mengontrol mobilitas fluida, injeksi air bebas mineral (fresh water buffer)
untuk melindungi polimer, dan injeksi fluida pendorong (driving fluid) berupa
air. Efektif untuk jenis minyak yang mempunyai Viskositas < 200 Cp. Jenis
polimer yang umum dipakai : Polycrylamide dan Polysacharide. Gambaran
sistem Injeksi Polimer dapat di lihat di bawah ini
Taber, dkk. 1997
Injeksi Alkalin
suatu proses dimana pH air injeksi dikontrol pada kisaran harga 12-13
untuk memperbaiki perolehan minyak.
Umumnya diterapkan pada reservoar minyak bersifat asam
Alkalin injeksi akan bereaksi dengan fluida reservoar membentuk
surfaktan di dalam reservoar. Surfaktan yang terbentuk akan
memberikan efek pengurangan tegangan antar muka.
Jumlah penggunaan alkalin (NaOH) adalah 0.05 – 2% berat (500 – 2.000
ppm)
Parameter yang
mempengaruhi Injeksi alkalin
konsentrasi alkalin injeksi
karakteristik reservoir
luas permukaan
komposisi fluida reservoir dan air injeksi.
Injeksi surfaktan
Penggunaan surfaktan dalam proses injeksi kimia bertujuan mengurangi
tegangan antar muka atau inter-facial tension (IFT) antara fluida injeksi
dengan minyak. sehingga menaikkan efisiensi pendesakan dalam skala
pori (mikroskopis)
dengan surfaktan maka memperkecil viskositas
Untuk meningkatkan efisiensi pendesakan volumetrik, injeksi larutan
surfaktan umumnya diikuti oleh injeksi larutan polimer.
parameter-parameter penting yang menentukan kinerja injeksi
surfaktan, yaitu:
1. Geometri pori
2. Tegangan antarmuka
3. Kebasahan atau sudut kontak
4. Karakteristik perpindahan kromatografis surfaktan pada sistem
tertentu

Ojeda dkk. 1954 dalam Wibowo, dkk. 2007


Screening Criteria Injeksi
Surfaktan
Oil Gravity (o API) > 25
Viskositas minyak (cp) < 30
Permeabilitas rata-rata (mD) < 250
Saturasi minyak sisa > 20
Salinitas air formasi (ppm) < 200.000
Jenis batuan Sandstone

Wibowo, dkk. 2007


Hal-hal Yang Mempengaruhi Mekanisme Injeksi Surfaktan
Adsorbsi
surfaktan yang dilarutkan dalam air yang merupakan microemulsion
diinjeksikan ke dalam reservoir. Slug surfaktan akan mempengaruhi tegangan
permukaan minyak-air, sekaligus akan bersinggungan dengan permukaan
butiran batuan. Pada saat terjadi persinggungan ini molekul-molekul surfaktan
akan ditarik oleh molekul-molekul batuan reservoir dan diendapkan pada
permukaan batuan secara kontinyu sampai mencapai titik jenuh. Akibatnya
kualitas surfaktan menurun karena terjadi adsorbsi sehingga mengakibatkan
fraksinasi, yaitu pemisahan surfaktan dengan berat ekivalen rendah didepan
dibandingkan dengan berat ekivalen tinggi

Konsentrasi Slug surfaktan


Konsentrasi surfaktan juga berpengaruh besar terhadap terjadinya
adsorbsi batuan reservoir pada surfaktan. Makin pekat konsentrasi surfaktan
yang digunakan, maka akan semakin besar adsorbsi yang diakibatkannya
mencapai titik jenuh.
Clay
Terdapatnya clay dalam reservoir harus diperhitungkan karena clay dapat
menurunkan recovery minyak, disebabkan oleh sifat clay yang suka air (Lyophile)
menyebabkan adsorbsi yang terjadi besar sekali. Untuk reservoir dengan salinitas
rendah, peranan clay ini sangat dominan.

Salinitas
Salinitas air formasi berpengaruh terhadap penurunan tegangan
permukaan minyak-air oleh surfaktan. Untuk konsentrasi garam-garam tertentu,
NaCl akan menyebabkan penurunan tegangan permukaan minyak-air tidak efektif
lagi. Hal ini disebabkan karena ikatan kimia yang membentuk NaCl adalah ikatan ion
yang sangat mudah terurai menjadi ion Na+ dan ion Cl-, begitu juga halnya dengan
molekul-molekul surfaktan.Di dalam air ia akan mudah terurai menjadi ion RSO3-
dan H+. Konsekuensinya bila pada operasi injeksi surfaktan terdapat garam NaCl,
maka akan membentuk HCl dan RSO3Na, dimana HCl dan RSO3Na buakan
merupakan zat aktif permukaan dan tidak dapat menurunkan tegangan permukaan
minyak-air. Selain mempengaruhi tegangan permukaan minyak-air, garam NaCl juga
mengakibatkan fraksinasi surfaktan yang lebih besar, sampai batuan reservoir
tersebut mencapai titik jenuh.
Taber, dkk. 1997
Perbedaan dari beberapa metode EOR seperti thermal,
gas miscible dan chemical flooding.
Metode thermal dan gas miscible flooding dipilih untuk
mengubah karakteristik fluida. Sedangkan chemical
flooding dapat mengubah karakteristik fluida dan batuan.
Thermal flooding membuat minyak yang kental menjadi lebih
encer. Miscible gas flooding (CO2) yang bila tercampur di larutan
minyak pada kondisi tertentu akan mengubah karakteristik
minyak sehingga densitasnya turun dan mudah dialirkan ke
sumur-sumur produksi.
Daftar Pustaka
Ojeda dkk. 1954 dalam Wibowo, E.B., A. Buntoro, dan M. Natsir. 2007. Upaya Peningkatan Perolehan Minyak
Menggunakan Metode Chemical Flooding di Lapangan Limau. Proceeding Simposium Nasional IATMI.
Yogyakarta

Taber, J.J., F.D. Martin, dan R.S. Seright. 1997. EOR Screening Criteria Revisited – Part 2: Applications and Impact
of Oil Prices. New Mexico Petroleum Recovery Research Center. Pp. 199 - 205