Anda di halaman 1dari 120

+

Wiliani Risnawati, dr., Sp.THT-KL

2018

1
+ 2

Kategori Kegawatandaruratan THT

 1. Abses di bidang THT dan kepala leher

 2. Benda asing faring laring/trakea/bronkus

 3. Benda asing telinga dan hidung

 4. Disfagia ( benda asing esophagus)

 5. OSNA

 6. Perdarahan di bidang THT dan kepala leher ( Epistaksis)

 7. Trauma akut di bidang THT dan kepala leher

 8.Otalgia akut (apapun penyebabnya)

 9.Parese nervus fasialis akut

 10. Tuli mendadak dan vertigo berat


+
ABSES LEHER DALAM

3
+ 4

Infeksi Leher Dalam

Infeksi leher dalam terjadi di dalam ruang potensial antara fasia leher
dalam akibat dari penjalaran dari berbagai fokus infeksi

Penyebab tersering:
GIGI

Staphylococcus aureus, Streptococcus


pyogenes dan bakteri anaerob
Jonas T. Johnson, Clark A Rosen editor. Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th Edition. Philadelphia :
Lippincott Williams & Wilikins, a Wolters Kluwer business; 2014
+ 5

Infeksi Ruang Peritonsiler


abses

 Sumber Infeksi

 Extensi dari infeksi tonsil

 Gejala
 Riwayat Tonsilitis
 Nyeri tenggorokan pada satu sisi
 Demam, malaise.
 Dysphagia, odynophagia.
 “Hot-potato” voice,
 Trismus, drooling
 Bulging pada pool atas tonsil,
 palatum mole,
 deviasi uvula kontralateral
+ 6

Penatalaksanaan : Operasi –
Drainase
Transoral Eksternal

Temporal

Ruang
Submental

Parafaring dan Submandibula,


retrofaring. masseteric, ruang
pterigomandibular

Byrne, Neck Spaces and Fascial Planes,


in Essensial Otolaryngology Head & Neck Surgery, 1995
+
BENDA ASING

7
+ 8

Tipe Benda Asing

 Vegetable matter in
70-80%
 Peanuts (34%)
 Carrot pieces, beans,
sunflower and water
melon seeds.

 Metallic objects
 5-15%

 Plastic objects
 5-15%

Jackson C, Jakckson CL, Disease of the nose throat and ear.


+ 9

Location of Airway Foreign Body


Kartilago
krikoid

 Bronchi ( 80-90%)
 Right mainstem most common
TRAKEA
 Less divergent angle
 Greater diameter
Bifurkasio
karina
 Trachea

 Larynx
 Larger objects,
 irregular edges
 Conforming objects

Modul Traktus Trakeo Benda Asing


+ 10

Modul Traktus Trakeo Benda Asing


+ 11

Foreign Body Aspiration


+ 12

Foreign Body Aspiration


+ 13

Foreign Body Aspiration


+ 14

Modul Traktus Trakeo Benda Asing


+ 15

Management

 Bronchoscopic extractions

 Rigid Bronchoscopy Flexible Bronchoscopy

Jackson C, Jakckson CL, Disease of the nose throat and ear.


+ 16

First Aid for The Choking child:

 For Victims under 1 year of age


+ 17

First Aid for The Choking child:

 For Small Children


+ 18

First Aid for The Choking For


Older Children/Adult
+
BENDA ASING DI ESOFAGUS

19
+ 20

DEFINISI

 Benda asing di esofagus

 benda yang tajam maupun tumpul atau makanan yang


tersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan, baik
secara sengaja maupun tidak sengaja

Yunizaf M. Benda Asing Esofagus. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD (Ed).
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala da Leher. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
2007; Edisi 6(1): 299-302
+ 21

EPIDEMIOLOGI

 Terbanyak pada orang dewasa normal adalah makanan,


terutama potongan daging

 Pada anak-anak tersering adalah bukan makanan

 Pada anak-anak terutama di usia 6 tahun pertama, paling


banyak di usia 1-3 tahun

 Koin merupakan kasus terbanyak pada anak-anak


+ 22

EPIDEMIOLOGI

 Benda asing tajam dan runcing pada esofagus dapat


mengakibatkan komplikasi fatal.

 Dapat mengakibatkan erosi, perforasi dinding esofagus atau


dapat tertancap di dalam dinding esofagus

 Benda asing tajam yang sering ditemukan adalah peniti,


paku payung, tulang, patahan mainan plastik, kawat, gigi
palsu, pecahan kaca dan tusuk gigi
+ 23

EPIDEMIOLOGI

 Pendekatan bedah dibutuhkan pada kasus-kasus perforasi


atau terbentuknya abses

 Baterai jam dapat menimbulkan komplikasi kerusakan


esofagus bila telah berada di esofagus dalam waktu lama

 Baterai mengandung solusi potassium dan sodium


hidroksida dan komponen yang mengandung merkuri, zinc,
lithium dan cadmium yang berpotensi toksik
+ 24

DIAGNOSIS

• Diagnosis benda asing di esophagus ditegakkan


berdasarkan anamnesis, gambaran klinis dengan gejala dan
tanda, pemeriksaan radiologik dan endoskopik

• Tindakan endoskopi dilakukan untuk tujuan diagnostik dan


terapi

• Diagnosis tertelan benda asing, harus dipertimbangkan


pada setiap anak dengan riwayat rasa tercekik (chocking),
rasa tersumbat di tenggorok (gagging), batuk, muntah
+ 25

PENUNJANG
+ 26

PENUNJANG
+ 27

PENUNJANG
+ 28

PENATALAKSANAAN
+
Benda Asing Telinga dan
Hidung

29
+ 30

CLASSIFICATION

ANORGANIC ORGANIC

• Typically plastic or • Including  food,


metal rubber, wood, and
• Common examples  sponge
beads and small parts • More irritating to the
from toys nasal mucosa
• Asymptomatic • May produce earlier
• Discovered symptoms
incidentally
• cotton

Jonathan I Fischer. Foreign Bodies, Nose. Department of emergency medicine, Thomas Jefferson University
Hospital. 2011 30
+ 31

CLASSIFICATION

Inanimate foreign
Animate foreign bodies
bodies
• Rubber, paper, beans, • Myiasis (“Texas”
nuts, sponges, chalk, screw worms =larval
plasticine, pieces of state of Cochliomya
wood, pieces of cloth, macellaria and the
bullets, shrapnel, iron Cochliomyia
bolts, and coins homnivorax”)
• Endogenous materials • Ascaris lumbricoides
(bone, cartilage) • Leech

A Kalan,M Tariq. Foreign bodies in the nasal cavities: a comprehensive review of the aetiology, diagnostic
pointers, and therapeutic measures in Postgrad Med J 2012;76:484–487
31
+ 32

COMMON SITES OF IMPACTION OF


FOREIGN BODIES IN THE NASAL
CAVITY

Jonathan I Fischer. Foreign Bodies, Nose. Department of emergency medicine, Thomas Jefferson University
Hospital. 2011
+ 33

CORPAL BATERAI

 Damage to the nasal mucosa has previously been reported


after as few as 3 hours, with damage leading to perforation
after 7 hours

 Liquefactive necrosis  alkaline contents leak out

Alice K Guidera, Hans R Stegehuis. Journal of the New Zealand Medical Association, 30-April-2010, Vol 123 No
1313
+
CORPAL BATERAI

Button battery in the


right floor of nose
causing electrical
burn with necrosis of
the inferior turbinate
and septum
(Image courtesy of
Brian Reilly, MD )
+
LIVING NFBs

 LARVAE ( FLY MAGGOTS)


AND WORMS
 Living in tropical and
unhygienic environments

 Destruction of the nasal


mucosa, necrosis of septal
cartilage and turbinates and
extension to the orbit and
paranasal sinuses

A Kalan,M Tariq. Foreign bodies in the nasal cavities: a comprehensive review of the aetiology, diagnostic
pointers, and therapeutic measures in Postgrad Med J 2013;76:484–487
+ 36

LEECH

• Primarily in tropical areas;


Mediterranean, Africa and Asia
• Blood – sucking, hermaphroditic
parasite
• Drunk polluted water  localize in
the mucosa of the oropharynx,
nasopharynx, tonsils, esophagus or
nose but rarely in larynx
• Symptom: bleeding from nose
(88%), foreign body sensation
(80%) and nasal obstruction (74%)
• Dribbled tobacco juice into the
nostrils to relieve suction leeches

Prakash Adhikari MS. “Experiences of Single Technique in Removing Nasal leech Infestation: An analysis of
25 cases”. The Internet Journal of Otorhinolaryngology 2009 :Volume 9 Number 2
+
Symptoms and signs

 Anamnesis from the patient and his or her primary guardian


the insertion of NFB is witnessed

 Nasal obstruction

 Unilateral foul smelling purulent rhinorrhea

 Unilateral vestibulitis

 Generally painless

 One side intermittent epistaxis

 Sneezing
A Kalan,M Tariq. Foreign bodies in the nasal cavities: a comprehensive review of the aetiology, diagnostic
pointers, and therapeutic measures in Postgrad Med J 2013;76:484–487
37
+ 38

Benda asing telinga

 Benda asing telinga yang paling sering adalah ‘cotton bud’,


manik manik, mainan, kertas, biji

 Binatang seperti semut, serangga pada penanganan pertama


bisa diberikan cairan (minyak) penghambat gerakan (bukan
air) agar tidak menimbulkan luka yang berkomplikasi
perdarahan (penyulit) atau perforasi membrane timpani

  Dapat dilakukan ekstraksi langsung, irigasi, suctioning


+
Immobilize the young patient

39
+ 36

INSTRUMENT

 Head lamp

 Killian‘s speculum

 Hemostats

 Aligator forceps

 Bayonet forceps

 Hooked probes

 Wire-loop

 Suction

 Rigid/flexible nasopharyngoscope

Jonathan I Fischer. Foreign Bodies, Nose. Department of emergency medicine, Thomas Jefferson University
Hospital. 2011
+ 41

DIRECT INSTRUMENTATION

HATI-HATI
POSTERIOR
DISPLACEMENT

Nancy Sculerati. Foreign bodies of the nose. In Pediatric Otolaryngology-4th edition, 2013, p.1032-
1036
+ 42

IRRIGATION

 Not recommend use of this method

 A significant risk of aspiration or choking

 Forceful squeezing of a bulb syringe filled with normal


saline into the unaffected naris

Jonathan I Fischer. Foreign Bodies, Nose. Department of emergency medicine, Thomas Jefferson University
Hospital. 2011
+
SUMBATAN JALAN NAFAS

43
+ 44

Anatomi Jalan Nafas Atas

Genrkink N.A., Nasal Anatomy and Physiology. Dalam Settipane GA. ( penyunting ) “ Rhinosinusitis “ 2nd ed. Oceanside Publications, 2004. P.567-570
+ 45

DIAGNOSIS

Anamnesa :

 Sesak

 Snoring

 Riwayat kemasukan benda asing

 Stridor

Suara yang dihasilkan oleh suatu turbulensi udara


pada saluran nafas yang tersumbat sebagian
 Gejala lain : gelisah, cemas, takikardi, sianosis

•Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed.Operative Otolaryngology Head and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders.
Philadelphia. 1997. p. 575-85
+ 46

 Riwayat penyakit  Gejala yang berhubungan,


 Onset dan berat stridor  Suara serak
 Progresifitas  Kesulitan menelan /
 Fluktuasi gejala makan
 Posisi dan gerakan yang  Gangguan tidur  sleep
meringankan / apnea
memperberat

•Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed.Operative Otolaryngology Head and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders.
Philadelphia. 1997. p. 575-85
+ 47

Pemeriksaan Fisik

 Keadaan umum

 Tanda vital
 Beratnya kelainan pernafasan & kebutuhan penanganan jalan
nafas

 Auskultasi  menggambarkan fase pernafasan:


 Inspiratori
 Ekspiratori
 Bifasik

•Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed.Operative Otolaryngology Head and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders. Philadelphia. 1997. p. 575-85
+ 48

Tingkatan Obstruksi JACKSON

 St I : Stridor+Retraksi SS ringan, tenang

 St II : Stridor+Retraksi SS + epigastrium, gelisah

 St III : Stridor+Retraksi SS + SC + IC, gelisah

 St IV : Stridor+St III + pucat, cemas, takipneu

•Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed.Operative Otolaryngology Head and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders. Philadelphia. 1997. p. 575-85
+ 49

Pemeriksaan Penunjang

 Thorak

 Soft tissue Leher AP dan Lat

 Pulse oxymetri

 AGD

 Nasopharyngoscopy

 Laringoscop fleksible fiber optic

 Ct scan kepala & leher


•Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed.Operative Otolaryngology Head and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders.
Philadelphia. 1997. p. 575-85
50

Etiologi pada anak


Akut kronik
Inflamasi Supraglotis Subglotis
 Croup  Atresia koana  Stenosis,web
 Epiglotitis  Stenosis  Massa
 Masa, kista  Benda Asing

Benda  Hiperplasi Adenoid  Hemangioma

asing  Hipertrofi Tonsils

Trakea
Glottic  Benda Asing
Trauma
 Laryngomalasia  Stenosis
 Benda Asing  Masa
 Paralisis pita suara  Trakeomalasia
 Papillomatosis  Kompresi Vaskular

Tuchman J, Mehta D, Complex Upper Airway Problems, in Bailey”s , Byron J.; Head & Neck Surgery-Otolaryngollogy, . 5th ed.
2014 p.868-908
51

Etiologi pada dewasa


Akut Kronik
Inflamasi Tumor
 Croup Kongenital
 Supraglotitis Post Trauma
 Angina Ludwig Inflamasi
(Wagener Granulomatosis ,
Benda Asing Relapsing Polikondritis, Sarkoid)

Trauma Idiopatik

Tuchman J, Mehta D, Complex Upper Airway Problems, in Bailey”s , Byron J.; Head & Neck Surgery Otolaryngollogy, . 5th ed. 2014
p.868-908
+ 52

Penatalaksanaan

 Tergantung dari derajat sumbatan.

 Prinsip utama  memperbaiki sumbatan jalan nafas.

 Definitif seperti terapi medikamentosa, atau operatif


bergantung pada kelainan yang terjadi.

Tuchman J, Mehta D, Complex Upper Airway Problems, in Bailey”s , Byron J.; Head & Neck Surgery Otolaryngollogy, . 5th ed. 2014 p.868-908
+
EPISTAKSIS

53
+
Where does it happen?

• Two sources

• Anterior (more common)

• Posterior (typically
common among old
patients)

54
+ 55

Local Causes of Epistaxis

The majority are iatrogenic or


posttraumatic

Sino Nasal Tumors

Granulomatous disease

Septal perforation

juvenile nasopharyngeal
angiofibroma

Postoperative bleeding 
endoscopic skull base surgery
+ 56

Systemic causes of epistaxis

Relate to disorder or medications


resulting in impaired dotting or platelet
function including:

Renal Failure

NSAID

Salicylate Use

And Warfarin  predispose to epistaxis


+ 57

VASCULAR ANATOMY OF THE


NOSE
 The nasal mucosa is
supplied by  the
internal and
external carotid
arterial systems 
travel within the
mucoperiosteal/
perichondrial
layers except for
small branches that
traverse bony
canals within the
inferior and middle
twbinates (Fig.
32.2).
+ 58

WOODRUFF’S PLEXUS

Source : Dept. of ORL-HNS University Sains of Malaysia – Surgical Anatomy in Epistaxis. 2007
+ 59

CLINICAL MANAGEMENT
Initial
Management The American Heart
of Acute Association Basic Life
Epistaxis Support protocol guides
of the management of
emergent situations.

Controlling the bleeding


The first consideration is simultaneously
always protection and establishing vascular
management of the access for the provision of
airway volume replacement and
hemodynamic support.
60
The patient should be seated with the body
tilted forward and mouth open  to reduce
venous pressures and prevent aspiration.

The patient should be advised to compress the


upper lateral cartilages for 10 to 15 minutes

without releasing in an effort to tamponade the


anterior septal vasculature.

If available, topical decongestants  as


oxymetazoline HCl .

For epistaxis that persists or is not controlled


 direct visualization and more aggressive
measures are mandate
61
• Assessment and treatment  room with monitoring, suction,
adequate lighting, and preferably endoscopic equipment.

• Blood clot should be evacuated followed by topicalization


using a vasoconstrictor and anesthetic agent.

• The nose  initially examined  nasal speculum and


headlight  anterior bleeds

• Rigid endoscopy  posteriorly location


62
Anterior nasal packing

 Hydroxylatedpolyvinyl
acetal (Merocel)
 Polyvinyl
alcohol
(Expandacell, Rhino
Rocket)

networkmedical.co.uk
Anterior nasal packing 63

The traditional anterior pack of petrolatum gauze (0.5 72-inch) coated with an antibacterial ointment is firmly
packed in a layered fashion toward the posterior choanae after decongestion and local anesthesia placement
+ 64

Electric cauterization
+ 65

Silver Nitrat

Cauterydont be
The white applied bilaterally
The stick  to the
Silver nitrate for coagulum to (anterior nasal
bleeding point and
anterior bleeds. protein septum)  to avoid
held few seconds
denaturation. the potential risk of
septal perforation.
66
BALLOON PACKS

www.bes.de/rhinologie/epistaxiskatheter
+ 67
68
Posterior-Anterior nasal packing
+ 69

Management of Comorbid
Systemic Factors
 Bleeding has been controlled  the systemic effects of blood
loss should be considered  If the patient is hypovolemic
fluids and plasma expanders may be administered.

 Management of hypertension. thrombocytopenia. And


coagulopathies will also aid in epistaxis management and
prevention of recurrence
+ 70

Epistaksis. Kelompok Studi Rinologi. Dalam : Guideline penyakit THT-KL di


+ 71

Epistaksis. Kelompok Studi Rinologi. Dalam : Guideline penyakit THT-KL di


Lanjutan Indonesia.
+
EAR TRAUMA

72
+
EAR TRAUMA

EXTERNAL EAR INNER EAR


Laceration MIDDLE EAR
Temporal
Penetrating Bone
Trauma Tympanic Fracture
Membrane
Hematome Perforation Traumatic
Facial
Blunt Nerve
trauma Paralysis

Vertigo
Thermal
Ossicular after
Injury
Trauma trauma

Corpus Deafness
Alienum after
Trauma
+ Algorithm for the Management of Pinna Injuries

Avulsion/ Lacerations Debridement of


Irrigation devitalised
Injury to Pinna
tissues

Suturing of skin edges


and pressure dressing
Stay sutures
IV Antibiotics for contour
to cartilage
maintenance

Chondritis/
gangrenous Evacuation of pus
changes & debridement
of devitalised
cartilage
Complete
healing
IV Antibiotics
+
Clinical Picture
+ 76

Primary Wedge Closure

LR- YA
+
Thermal and Caustic Burns

 Classified in three degrees of


severity :
 First degree : superficial and
involve the epidermis, causing
pain, erythema, and little tissue
damage
 Healing within 5 to 10 days
 Second degree : deep partial-
thickness burns penetrate into the
dermis and damage the adnexa
and nerve endings, causing
severe pain and blistering
 Healing within 10 to 30 days,
depending on the depth of
dermal injury
 Third degree : full-thickness,
epithelium does not regenerate,
and the nerve endings are
destroyed
+ 78

Treatment

 Thedepth of the burn determines the healing


process

 Untreated, they may lead to perichondritis

 First
degree : Local cleansing, local debridement,
topical antibiotic

 Second/ Third degree : Local cleansing,


debridement, local AB (Gentamicyn)
subperichondrial, STSG
+
LARINGEAL TRAUMA

79
+ 80

Laryngeal Protection

Mandible
C-spine

Sternum
+ 81

Mechanism of Injury

Penetrating Inhalation/
trauma Ingestion

Blunt
Iatrogenic
trauma
Laryngeal
Injuries

Byron J. Bailey, Head & Neck Surgery-Otilaryngology, 4th editon, Lippincot Williams & Wilkins,
Philadephia, 2006.
+ 82

ETIOLOGY AND MECHANISM

 MOTOR VEHICLE ACCIDENTS  most common

 KNIFE & GUNSHOT WOUNDS

 BLUNT ASSAULT INJURIES

 SPORTS INJURIES
+ 83

 BLUNT TRAUMA :
 Disruption of tissue but no tissue loss

 BLUNT TRAUMA :
 Disruption of tissue but no tissue loss

 KNIFE :
 Less tissue destruction

 Associated Injuries:
 Great vessel, RLN, spinal cord, esophageal
84
Initial Evaluation

 ATLS principles

 Intubation hazardous
 Schaefer in 1991- worsen
preexisting injury
 Further tears or cricotracheal
separation

 Respiratory distress
 Tracheotomy under local anesthesia

 Avoid cricothyroidotomies
 Worsen injury

 If no acute breathing difficulties


 Detailed history and careful
physical examination
+ 85

Emergency Care
Multisystem trauma Pediatric airway
• Establish airway • Rigid bronchoscopic
• Cardiac resusitation intubation followed
• Control of hemorrhage by tracheotomy
• Stabilization of spinal injuries

Adult airway
• Tracheotomy under local anesthesia,
or rigid bronchoscopic intubation
+
TRAUMA ESOFAGUS

86
+ 87
+ 88

Penatalaksanaan

Cairan Parenteral, koreksi cairan apabila terdapat imbalance

Pemasangan NGT

Esofagoskopi

Sukralfat, H2-blocker & PPI, steroid, antibiotik

Kolegium Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. Trauma Esofagus dalam Modul Utama Endoskopi Bronkoesofagologi. Modul
V.9. 2015.
+
OTALGIA

89
+ 90

Referred
Otalgia

Jaber JJ, Leonetti JP, Lawrason AE, Feustel


PJ. Cervical spine causes for referred
otalgia. Otola-ryngol Head Neck Surg.
2008;138(4):479-85.
+
GANGGUAN NERVUS
FASIALIS

91
+ 92

EPIDEMIOLOGI

 Insidensi: 30 : 100.000 populasi/tahun

 Chang et al: Bell’s Palsy (54,9%) Infeksi (26,%), Trauma (5,9%),


Iatrogenik (2,0%) dan tumor (1,8%)

 Kiri = kanan

 Jarang paralisis bilateral  0,3-2% dari keseluruhan kasus


paralisis nervus fasialis.

Pothiawala F, Lateef F. Bilateral Facial Nerve Palsy. Case Reports in Emergency Medicine. Volume 2012 (2012)
Vrabec JT, Lin JW. Acute Paralysis of the Facial Nerve in Bailey,B. Head and Neck Surgery Otolaryngology, 5th ed., Lippincott,
Philadelphia, 2014.p 2503-19
05/11/2018
+ 93

PEMERIKSAAN – LETAK LESI

 LESI PERIFER

 Gejala satu sisi dgn lesi

 Kontraksi dahi (-)

 Fenomena Bell’s

 Gerakan sudut mata &


bibir (-)

 Mengembangkan cuping
hidung (-)

 Kerut kulit (-), wajah kaku

 Sensasi rasa 2/3 ant lidah


(-)

 Lakrimasi (-) 05/11/2018


+ 94

PEMERIKSAAN – LETAK LESI

LESI SENTRAL

 Gejala pd sisi berlawanan lesi

 Paralisis wajah bagian bawah

 M. Frontalis baik

 Gerak volunter (-)

 Respon emosi (+)

05/11/2018
+ 95

PENYAKIT DGN PARALISIS N. VII

Infeksi
Idiopatik - Herpes
-Bell’s zoster
Trauma Metabolik
Palsy otikus Neoplasm
- Iatrogenik & Sistemik
- Sindr. - OM a
- Fraktur Sarkoidosis
Melkersson - OE
Rosenthal Maligna
- HIV

05/11/2018
+
TULI MENDADAK

96
+ 97

Definisi

 Tuli mendadak adalah:


 tuli yang terjadi secara tiba-tiba
 sensorineural
 penyebabnya tidak langsung dapat diketahui
 biasanya terjadi pada satu telinga
 gangguan pendengaran sensorineural yang lebih besar dari 30
dB lebih dari 3 frekuensi yang berdekatan
 terjadi dalam periode 3 hari.
+ 98

Epidemiologi

 5-20 kasus tiap 100.000 orang per tahunnya

 umumnya terjadi pada umur 43-53 tahun

 distribusi sama pada laki-laki dan perempuan.

 Gejala-gejala vestibular biasanya ada pada pasien SSHL


pada sekitar 28-57% pasien.
+ 99

Etiologi Tuli Mendadak


+ 100

Agen-agen Ototoksik
+ 101

Agen-agen Ototoksik
+ 102

Agen-agen Ototoksik
+ 103

Faktor Predisposisi Lain

 Penggunaan alkohol yang berlebihan,

 kondisi emosional penderita, kelelahan,

 penyakit metabolik (diabetes melitus, hiperlipidemia),

 penyakit kardiovaskuler,

 stres,

 Umur
+ 104

Anamnesis

 Onset

 Progress
 tiba-tiba,
 progresif cepat,
 progresif lambat,
 fluktuatif
 stabil

 Sifat
 Unilateral
 bilateral
+ 105

Anamnesis

 Gejala penyerta
 Sensasi penuh pada telinga
 Tinnitus
 Vertigo
 Disequilibrium
 Otalgia
 Nyeri kepala
 Kel neurologis
 Keluhan sistemik
+ 106

Anamnesis

 Riwayat trauma

 Konsumsi obat-obatan ototoksik

 Operasi

 Penyakit sebelumnya

 Pekerjaan

 Pajanan terhadap kebisingan


+ 107

Pemeriksaan Fisik

 Inspeksi saluran telinga dan membrane timpani


 Fungsi : untuk membedakan tuli konduktif / tuli sensorineural
 Otoskop pada Tuli konduktif :
 Impaksi serumen
 Otitis media
 Benda asing
 Perforasi membran timpani
+ 108

Pemeriksaan Fisik

• Otoskop pada Tuli konduktif (lanjutan):


• Otitis eksterna yang menyebabkan edema
• Otosklerosis
• Trauma
• Kolesteatoma
• Otoskop pada tuli
sensorineural
• hampir selalu normal
+ 109

 Hum Test
 Pasien diminta bersenandung
 Memberitahu apakah suara didengar lebih keras di satu telinga /
keduanya
 Tuli konduktif:
 suara didengar lebih keras pada telinga yang sakit
 Tuli sensorineural
 Suara didengar lebih keras pada telinga yang sehat
+ 110

 Tes Penala
 Tes Rinne
+ 111

 Tes Penala
 Tes Weber
+ 112

Pemeriksaan Audiometri
+ 113

Penatalaksanaan

 Terapi untuk tuli mendadak : Tirah baring sempurna (total


bed rest) istirahat fisik dan mental selama 2 minggu,
Vasodilatansia yang cukup kuat, Prednison,Vitamin C,
Neurobion, Diit rendah garam dan rendah kolesterol, Inhalasi
oksigen, Obat antivirus sesuai dengan virus penyebab,
Hiperbarik oksigen terapi (OHB).

 Pemberian steroid intratimpani menjadi alternatif dalam


penatalaksanaan tuli mendadak.
+ 114

Penatalaksanaan

 Prognosis tuli mendadak tergantung pada beberapa faktor,


yaitu: kecepatan pemberian obat, respon 2 minggu
pengobatan pertama, usia, derajat tuli saraf dan adanya
faktor- faktor predisposisi.

 Pada umumnya makin cepat diberikan pengobatan makin


besar kemungkinan untuk sembuh, bila telah lebih dari 2
minggu kemungkinan sembuh menjadi lebih kecil.
Penyembuhan dapat sebagian atau lengkap, tetapi dapat
juga tidak sembuh.
+
KESIMPULAN

115
+ 116

Kesimpulan

 Kegawatdaruratan THT adalah kasus yang mungkin


ditemukan dalam pelayanan sehari-hari

 Pasien akan datang dengan keluhan beragam.


 Suara serak – Panik karena sulit bernapas

 Penting untuk dapat mengenali Kegawatdaruratan THT


+ 117

 Sejawat diharapkan mampu untuk


 Mengidentifikasi
 Mendiagnosis
 Menangani sesuai kompetensi
 Stabilisasi kegawatan
 Memahami indikasi merujuk
 Memahami alur pertama sebelum rujuk
+ 118

 Tatalaksana Awal yang baik dan tepat


 Meminimalisasi komplikasi

 Kasus tersering
 epistaksis dan benda asing telinga dan hidung

 Kasus Fatal
 Obstruksi
+ 119

 Dengan kemampuan identifikasi dan tatalaksana yang baik

 Prognosis pasien akan baik

 Quo ad vitam et functionam


+
Terima kasih

120