Anda di halaman 1dari 11

PENGGUNA DAN PEREDARAN OBAT KERAS

ILEGAL DAFTAR G YANG DILAKUKAN OLEH


PENJUAL DI APOTEK
Di susun oleh :
Kelompok II : Dian Ardianti 18340084
Herianto M 18340085
alprisno Abung 18340093
Fadli Handoyo 18340109
Nurul Rahmawati 18340113
Wiwin Nurdiyanti 18340115
Kasus Sumartini seorang pelaku penjual obat keras daftar G di
Sleman-Yogyakarta

Pada hari Jumat tanggal 06 Desember 2013 sekitar pukul 11.00 WIB. Bertempat di
apotek Makutodewo Jln. Dr. Rajiman Dusun Ngemplak Caban, Desa Tridadi,
Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman D.I.Yogyakarta pelaku dengan sengaja memiliki
atau menjual persediaan obat keras daftar G beserta alat-alat kesehatan kepada
masyarakat secara bebas tanpa resep dokter. Bahwa seharusnya obat keras jenis daftar G
tersebut harus diperoleh di Apotek yang memiliki izin resmi, diberikan oleh seorang
tenaga ahli kesehatan atau apoteker atau melalui resep dokter.
Zelona 100 tablet Obat keras daftar G

Reco Tetes Mata 5 botol Obat keras daftar G

Vosea 100 tablet Obat keras daftar G

Beberapa Histigo 50 kaplet Obat keras daftar G


obat yang
dijual oleh Vistalgin 100 kaplet Obat keras daftar G
pelaku
Depo Progestin 20 vial Obat keras daftar G

Obat-obat tersebut ditemukan di Erlamycetin 5 botol Obat keras daftar G


balik tembok dan Pelaku
membawa tas kresek yang berisi Cyclofarm Suntikan KB
obat-obat tersebut
10 vial Obat keras daftar G

Neurotropic Injeksi 10 vial Obat keras daftar G


• Ketika berbicara mengenai objeknya obat keras daftar G yang berarti
obat tersebut hanya dapat diperoleh dengan resep dokter (ethical).
Dalam pengawasan obat dan makanan bidang penyidikan terlebih
dahulu melihat sarana yang digunakan dan dimana bentuk tindak
pidana tersebut serta bagaimana lalu lintas dari peredaran obat keras
itu sendiri, apabila obat keras tersebut berada di sarana yang resmi
maka tidak akan jadi masalah contohnya rumah sakit dan Apotek.
• Dalam kasus diatas, pelanggaran dilakukan disarana resmi (apotek)
obat keras daftar G dijual secara bebas kepada masyarakat sedangkan
obat keras daftar G hanya dapat dijual dengan adanya resep dokter.
Sehingga terjadi pelanggaran penjualan obat diapotek tersebut.
Berikut adalah kriteria obat illegal :

Ijin edar palsu

Tidak memiliki nomor registrasi

Substandart atau obat yang kandunganya tidak sesuai dengan seharusnya

Obat impor yang masuk secara ilegal, tanpa kordinasi dengan pihak BPOM

Obat yang izin edarnya dibekukan tetapi masih tetap beredar


Pelanggaran yang dilakukan Katamsi sebagai pelaku usaha telah
melanggar Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
Pasal 98 ayat :
(2) Setiap orang yang tidak memiliki
keahlian dan kewenangan dilarang Pelanggaran Pasal 196
mengadakan, menyimpan, mengolah, Setiap orang yang dengan sengaja
mempromosikan, dan mengedarkan memproduksi atau mengedarkan sediaan
obat dan bahan yang berkhasiat obat. farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak
(3) Ketentuan mengenai pengadaan, memenuhi standar dan/atau persyaratan
penyimpanan, pengolahan, promosi, keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan
pengedaran sediaan farmasi dan alat mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal
kesehatan harus memenuhi standar 98 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan
mutu pelayanan farmasi yang pidana penjara paling lama 10 (sepuluh)
ditetapkan dengan Peraturan tahun dan denda paling banyak
Pemerintah. Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
LANJUTAN

Pasal 106
(1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat
diedarkan setelah mendapat izin edar.

Pelanggaran Pasal 197


Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau
mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak
memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun
dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus
juta rupiah).
LANJUTAN

Pasal 108
(1) Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Ketentuan mengenai pelaksanaan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pelanggaran Pasal 198


Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan untuk
melakukan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108
dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus
juta rupiah).
Pelanggaran yang dilakukan

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 9 TAHUN 2017
TENTANG APOTEK

Pelanggaran Pasal 31
(1) Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan Menteri ini
dapat dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan; dan
c. pencabutan SIA.
Pelanggaran yang dilakukan

UU No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen

Pasal 19 ayat (1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang
dihasilkan atau diperdagangkan.

Sanksi Administratif
Pasal 60
(1) Badan penyelesaian sengketa konsumen berwenang menjatuhkan sanksi
administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar Pasal 19 ayat (1) dan ayat
(3), Pasal 20, Pasal 25 dan Pasal 26.
(2) Sanksi administratif berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp 200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah).
Sekian dan terima kasih