Anda di halaman 1dari 41

Anatomi Meningens

Meningen
• Merupakan lapisan atau selaput pembungkus
encephalon dan medulla spinalis.
Terdiri dari

Aracnoidea
Duramater Piamater
mater
Duramater
• Pada duramater kranialis terdiri atas 2 lapisan
meningealis : Lamina endostealis dan lamina
meningealis.
• Lapisan meningealis terdiri atas :
- Falx cerebri
- Falx cerebelli
- Tetorium cerebelli
- Diaphragma sellae
• Ruangan yang berada dibawah duramater di
sebut spatium subdural.
Arachnoidea mater
• Merupakan membran avaskuler yang
menempel pada permukaan dural.
• Ruangan diantara arachnoidea mater dan
piamater di sebut spatium subarachnoid.
• Dan mengandung CSF ( Cerebrospinalis Fluid)
yang berperan melindungi otak.
Piamater
• Jaringan ikat yang melapisi encephalon dan
spinal cord
• Jaringan ikat tersebut menempel langsung
pada organ tersebut.
TERIMAKASIH...
Meningitis
Definisi
• Merupakan inflamasi pada meninges yang
melapisi otak dan medula spinalis
• Meningtis virus
• Meningitis bakteri
• Meningitis spiroketa
• Meningitis fungus
• Meningitis protozoa dan
• Meningitis metazoa
• Golongan umur dibawah 5 tahun (balita)
disebabkan oleh H.influenzae, Meningococcus
dan Pneumococcus
• Golongan umur 5-20 tahun disebabkan oleh
Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis
dan Streptococcus Pneumococcus,
• pada usia dewasa (>20 tahun) disebabkan oleh
Meningococcus, Pneumococcus, Staphylocccus,
Streptococcus dan Listeria
Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya meningitis :
• Usia, biasanya pada usia < 5 tahun dan > 60 tahun
• Imunosupresi atau penurunan kekebalan tubuh
• Diabetes melitus, insufisiensi renal atau kelenjar adrenal
• Infeksi HIV
• Anemia sel sabit dan splenektomi
• Alkoholisme, sirosis hepatis
• Talasemia mayor
• Riwayat kontak yang baru terjadi dengan pasien meningitis
• Defek dural baik karena trauma, kongenital maupun operasi
• Ventriculoperitoneal shunt
Patofisiologi
Manifestasi Klinis
Trias meningitis tersebut sebagai berikut :2
• Demam
• Nyeri kepala
• Kaku kuduk.
Selain itu meningitis ditandai dengan adanya gejala-
gejala seperti panas mendadak, letargi, mual
muntah, penurunan nafsu makan, nyeri otot,
fotofobia, mudah mengantuk, bingung, gelisah,
parese nervus kranialis dan kejang.
• Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan
cairan serebrospinal (CSS) melalui pungsi lumbal
Meningitis virus
• Cairan serebrospinal yang jernih serta rasa
sakit penderita tidak terlalu berat.
• Pada umumnya, meningitis yang disebabkan
oleh Mumpsvirus ditandai dengan gejala
anoreksia dan malaise, kemudian diikuti oleh
pembesaran kelenjer parotid sebelum invasi
kuman ke susunan saraf pusat.
• Pada meningitis yang disebabkan oleh Echovirus
ditandai dengan keluhan sakit kepala, muntah,
sakit tenggorok, nyeri otot, demam, dan disertai
dengan timbulnya ruam makopapular yang tidak
gatal di daerah wajah, leher, dada, badan, dan
ekstremitas.
• Gejala yang tampak pada meningitis Coxsackie
virus yaitu tampak lesi vaskuler pada palatum,
uvula, tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut
timbul keluhan berupa sakit kepala, muntah,
demam, kaku kuduk, dan nyeri punggung
Meningitis bakteri
• Cairan serebrospinal tampak kabur, keruh atau
purulen.
• Didahului oleh gejala gangguan alat pernafasan
dan gastrointestinal.
• Meningitis bakteri pada neonatus terjadi secara
akut dengan gejala panas tinggi, mual, muntah,
gangguan pernafasan, kejang, nafsu makan
berkurang, dehidrasi dan konstipasi, biasanya
selalu ditandai dengan fontanella yang
mencembung.
Penegakan Diagnosis
• Anamnesis
Pada anamnesis dapat diketahui adanya trias
meningitis seperti demam, nyeri kepala dan
kaku kuduk. Gejala lain seperti mual muntah,
penurunan nafsu makan, mudah mengantuk,
fotofobia, gelisah, kejang dan penurunan
kesadaran. Anamnesis dapat dilakukan pada
keluarga pasien yang dapat dipercaya jika tidak
memungkinkan untuk autoanamnesis
Pemeriksaan Fisik
• Pemeriksaan fisik yang dapat mendukung
diagnosis meningitis biasanya dilakukan
pemeriksaan rangsang meningeal. Yaitu sebagai
berikut:
• Pemeriksaan Kaku Kuduk
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan
pergerakan pasif berupa fleksi kepala. Tanda kaku
kuduk positif (+) bila didapatkan kekakuan dan
tahanan pada pergerakan fleksi kepala disertai rasa
nyeri dan spasme otot.
Pemeriksaan Brudzinski I (Brudzinski
leher)
Pasien berbaring terlentang, dilakukan fleksi
pada sendi panggul kemudian ekstensi tungkai
bawah pada sendi lutut sejauh mengkin tanpa
rasa nyeri. Tanda Kernig positif (+) bila ekstensi
sendi lutut tidak mencapai sudut 135° (kaki
tidak dapat di ekstensikan sempurna) disertai
spasme otot paha biasanya diikuti rasa nyeri.
Pemeriksaan Brudzinski I (Brudzinski
leher)
Pasien berbaring dalam sikap terlentang, tangan
kanan ditempatkan dibawah kepala pasien yang
sedang berbaring , tangan pemeriksa yang satu
lagi ditempatkan didada pasien untuk
mencegah diangkatnya badan kemudian kepala
pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh
dada. Brudzinski I positif (+) bila gerakan fleksi
kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi
lutut dan panggul kedua tungkai secara
reflektorik.
Pemeriksaan Brudzinski II (Brudzinski
Kontralateral tungkai)
• Pasien berbaring terlentang dan dilakukan
fleksi pasif paha pada sendi panggul (seperti
pada pemeriksaan Kernig). Tanda Brudzinski II
positif (+) bila pada pemeriksaan terjadi fleksi
involunter pada sendi panggul dan lutut
kontralateral.
• Pemeriksaan Brudzinski III (Brudzinski Pipi)
• Pasien tidur terlentang tekan pipi kiri
kanan dengan kedua ibu jari pemeriksa
tepat di bawah os ozygomaticum.Tanda
Brudzinski III positif (+) jika terdapat flexi
involunter extremitas superior.
• Pemeriksaan Brudzinski IV (Brudzinski Simfisis)
• Pasien tidur terlentang tekan simpisis pubis
dengan kedua ibu jari tangan pemeriksaan.
Pemeriksaan Budzinski IV positif (+) bila
terjadi flexi involunter extremitas inferior.
• Prognosis meningitis tergantung kepada umur,
mikroorganisme spesifik yang menimbulkan
penyakit, banyaknya organisme dalam selaput
otak, jenis meningitis dan lama penyakit
sebelum diberikan antibiotik. Penderita usia
neonatus, anak-anak dan dewasa tua
mempunyai prognosis yang semakin jelek,
yaitu dapat menimbulkan cacat berat dan
kematian.
• Pengobatan antibiotika yang adekuat dapat
menurunkan mortalitas meningitis purulenta,
tetapi 50% dari penderita yang selamat akan
mengalami sequelle (akibat sisa). Lima puluh
persen meningitis purulenta mengakibatkan
kecacatan seperti ketulian, keterlambatan
berbicara dan gangguan perkembangan
mental, dan 5 – 10% penderita mengalami
kematia
Ensepalitis
Definisi
• Ensefalitis adalah suatu peradangan pada
parenkim otak.
• Ensefalitis terjadi dalam dua bentuk, yaitu
bentuk primer dan bentuk sekunder.
Ensefalitis Primer melibatkan infeksi virus
langsung dari otak dan sumsum tulang
belakang. Sedangkan ensefalitis sekunder,
infeksi virus pertama terjadi di tempat lain di
tubuh dan kemudian ke otak
Etiologi
• Penyebab ensefalitis yang paling sering adalah
infeksi karena virus. Beberapa contoh
termasuk:
• Herpes virus
• Arbovirus
• Rabies
• Ensefalitis primer. Hal ini terjadi ketika virus
langsung menyerang otak dan saraf tulang
belakang. Hal ini dapat terjadi setiap saat
(ensefalitis sporadis), sehingga menjadi wabah
(epidemik ensefalitis).
• Ensefalitis sekunder. Hal ini terjadi ketika virus
pertama menginfeksi bagian lain dari tubuh
kemudian memasuki otak
• Defisit neurologis ( manifestasi)
• Ex : Penuruan kesadaran, hemiparesis,
hemiplegia, tetraparesis, tidak bisa bicara.
Faktor Resiko
* Umur. Beberapa jenis ensefalitis lebih lazim atau lebih parah pada
anak-anak atau orang tua.
* Sistem kekebalan tubuh semakin lemah. Jika memiliki defisiensi
imun, misalnya karena AIDS atau HIV, melalui terapi kanker atau
transplantasi organ, maka lebih rentan terhadap ensefalitis.
* Geografis daerah. Mengunjungi atau tinggal di daerah di mana virus
nyamuk umum meningkatkan risiko epidemi ensefalitis.
* Kegiatan luar. Jika memiliki pekerjaan outdoor atau mempunyai hobi,
seperti berkebun, joging, golf atau mengamati burung, harus berhati-
hati selama wabah ensefalitis.
* Musim. Penyakit yang disebabkan nyamuk cenderung lebih menonjol
di akhir musim panas dan awal musim gugur di banyak wilayah
Amerika Serikat.2
Patofisiologi
Virus / Bakteri

Mengenai CNS

Ensefalitis

Kejaringan susuna saraf pusat

TIK meningkat Kerusakana susunan saraf pusat

nyeri kepala - gangguan penglihatan kejang


spastic

- gangguan bicara

mual, muntah - gangguan pendengaran resiko cedera

- kelemahan gerak

BB turun

- gangguan sensorik
motorik
nutrisi kurang
Manifestasi Klinis
• Secara umum gejala berupa trias ensefalitis :
1. Demam
2. Kejang
3. Kesadaran menurun
• Bila berkembang menjadi abses serebri akan
timbul gejala-gejala infeksi umum dengan
tanda-tanda meningkatnya tekanan
intrakranial yaitu : nyeri kepala yang kronik
dan progresif, muntah, penglihatan kabur,
kejang, kesadaran menurun. Pada
pemeriksaan mungkin terdapat edema papil.
Tanda-tanda defisit neurologis tergantung
pada lokasi dan luasnya abses
Pemeriksaan Penunjang
• Pemeriksaan laboratorium :
- Pemeriksaan darah lengkap, ditemukan jumlah leukosit
meningkat.
- Pemeriksaan cairan serobrospinal :cairan jemih, jumlah
sel diatas normal, hitung jenis didominasi oleh limfosit,
protein dan glukosa normal atau meningkat
• Pemeriksaan lainnya :
- EEG didapatkan gambaran penurunan aktivitas atau
perlambatan.
• Ensepalitis : tidak ada meningeal
• liat trias ensepalitis
• Meningitis : ada meningeal sign
• Liat trias meningitis
• Meningoensepalitis : ada meningeal sign
• Liat trias meningoesepalitis.