Anda di halaman 1dari 27

CRS PEDODONTIK

Focus case : Topical Aplikasi Fluor

Presented by :
1. Steffi Mifta Fattarizqi (J2A013014P)
2. Herlin Ika Yuni Arista (J2A013023P)
3. Roza Restu Pambudi (J2A013048P)

PRECEPTOR : Dr. drg. Risyandi Anwar, Sp. KGA


Problem

Pasien datang untuk melakukan perawatan


agar giginya tidak mudah berlubang
IDENTITAS PASIEN
1. NAMA : ISA
2. TEMPAT TANGGAL LAHIR : DEMAK, 9 APRIL 2010
3. JENIS KELAMIN : PEREMPUAN
4. STATUS : BELUM MENIKAH
5. SUKU : JAWA
6. PEKERJAAN : SISWA
7. ALAMAT : JALAN KETILENG NO 25
8. NO HP : 082288167***
9. WALI : IBU INA***
10. HUBUNGAN DENGAN PASIEN : PENGASUH PONDOK
PESANTREN
DATA MEDIS UMUM
1. GOLONGAN DARAH :O
2. TEKANAN DARAH : 114/76
3. PENYAKIT JANTUNG : TIDAK ADA
4. DIABETES MELITUS : TIDAK ADA
5. HEMOFILIA : TIDAK ADA
6. RIWAYAT ASMA : TIDAK ADA
7. HEPATITIS : TIDAK ADA
8. EPILEPSY : TIDAK ADA
9. GASTRITIS : TIDAK ADA
10. ASMA : TIDAK ADA
11. TBC : TIDAK ADA
12. PENYAKIT LAINNYA : TIDAK ADA
13. OBAT-OBATAN : TIDAK ADA
14. ALERGI TERHADAP MAKANAN : TIDAK ADA
Pemeriksaan Subjektif
 Keluhan Utama : Pasien datang dengan motivasi pengasuh pondok untuk
melakukan imunisasi agar giginya tidak mudah berlubang
 Riwayat Keluhan Utama : Pasien belum pernah merasakan sakit gigi. Tidak
berdarah saat menggosok gigi. Pasien belum pernah melakukan perawatan pada
gigi permanennya sebelumnya.
 Riwayat Medis : Pasien sehat, tidak pernah dirawat inap di rumah sakit
sebelumnya. Tidak sedang dalam perawatan dokter dan tidak sedang
mengkonsumsi obat tertentu secara rutin.
 Riwayat gigi terdahulu : Pasien pernah datang ke Puskesmas untuk melakukan
pencabutan pada gigi susunya. Pasien menggosok gigi tidak secara rutin dan
cenderung malas menggosok gigi. Pasien tidak menggunakan obat kumur atau
benang gigi setelah menggosok gigi.
 Riwayat Keluarga : Ayah sehat, tidak memiliki riwayat penyakit sistemik. Ibu
sehat, tidak memiliki riwayat penyakit sistemik.
 Riwayat Sosial : Pasien merupakan seorang siswi pondok pesantren di
daerah Kota Semarang. Tinggal di lingkungan pondok pesantren yang bersih.
Pasien gemar mengkonsumsi makanan manis seperti coklat, lolipop, gulali dan
terkadang meminum soda. Pasien rutin mengkonsumsi buah dan sayur sehari-hari.
Keadaan Umum
Ekstra Oral

 Kepala :
 Tonjolan : Tidak ada
 Berat Badan : 29  Cacat : Tidak ada
kg  Bercak di kulit : Tidak ada
 Wajah : Simetris
 Tinggi Badan : 116  Leher :
cm  Kelenjar Tiroid : Normal
 Cacat Fisik :  Kelenjar Sublingualis : Normal
Tidak Ada  Nodus Limfatik : Normal
Kelenjar Submandibula: Normal
 Warna kulit muka : 

Temporo Mandibular Joint (TMJ) :


Normal 
 Luas pergerakan : Normal
 Daerah kulit yang  Nyeri tekan pada TMJ : Tidak ada
tampak: Tidak ada  Suara : Tidak ada
Locking : Tidak ada
 Jaringan parut : Tidak 
Dislokasi : Tidak ada
ada 
Pemeriksaan intraoral
ODONTOGRAM

11 : SOU 21 : SOU 31 : SOU 41: SOU


12 : SOU 22 : SOU 32 : SOU 42 : SOU
53 : SOU 63 : SOU 73 : SOU 83 : SOU
54 : SOU 64 : SOU 74 : SOU 84 : SOU
55 : PCAR 65 : PCAR 75 : VCAR 85 : SOU
16 : SOU 26 : SOU 36 : SOU 46 : SOU
17 : UNE 27 : UNE 37 : UNE 47 : UNE
18 : UNE 28 : UNE 38 : UNE 48 : UNE
PEMERIKSAAN OBJEKTIF
ASSESMENT
 Berdasarkan pemeriksaan subjektif, pemeriksaan
objektif dan pemeriksaan penunjang terdapat gigi
sehat
11,12,53,54,16,21,22,63,64,26,31,32,73,74,36,
41,42,83,84,85,46. Tampak adanya lesi karies
PADA GIGI 55,65,75. Tidak tampak adanya
inflamasi pada jaringan pendukung.
HYPOTHESIS
 Gigi Sehat
MECANISM
 Fluor bekerja dengan cara menghambat metabolisme
bakteri plak yang dapat memfermentasi karbohidrat
melalui perubahan hidroksil apatit pada enamel
menjadi fluor apatit yang lebih stabil dan lebih tahan
terhadap pelarutan asam.
 Reaksi kimia:
 Ca10 (PO4)6 (OH)2+F → Ca10 (PO4)6 (OHF)

 menghasilkan enamel yang lebih tahan asam sehingga


dapat menghambat proses demineralisasi dan
meningkatkan remineralisasi.
DON’T KNOW
1. Definisi Topikal Aplikasi Fluor
2. Indikasi dan kontraindikasi Topikal Aplikasi Fluor
3. Bahan yang digunakan untuk Topikal Aplikasi
Fluor
1. DEFINISI TOPIKAL APLIKASI FLUOR

Topikal Aplikasi Fluor adalah perawatan yang


dilakukan untuk mencegah adanya karies gigi dengan
pengaplikasian langsung pada gigi untuk anak yang
memiliki resiko karies tinggi (Mayzad, 2017)
2. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

INDIKASI KONTRAINDIKASI

 Pasien yang berisiko tinggi  Pasien dengan gigi


untuk karies pada permukaan
gigi berlubang besar
Pasien yang berisiko tinggi

untuk karies pada permukaan  Tidak dianjurkan untuk
akar pasien dengan risiko
 Kelompok pasien khusus, karies rendah
seperti: Pasien Ortodontik
dan Pasien dengan aliran  Yang tinggal di
saliva yang rendah
komunitas dengan
 Anak-anak yang geraham
permanennya tidak dapat di fluoridasi yang optimal
fissure sealant
R. Hawkins, 2003
PENILAIAN RESIKO KARIES
3. BAHAN YANG DIGUNAKAN UNTUK
TOPIKAL APLIKASI FLUOR
 Bentuk fluor, antara  Bermacam-macam
lain: pasta fluor bentuk fluor, antara
dengan konsentrasi lain: larutan NaF 0,1 %
tinggi (SnF2), larutan (natrium fluoride 2%
fluor (NaF) dan fluor atau sodium fluoride
dalam bentuk gel 2%) dan larutan SnF2
(APF) 10% atau Stannous
fluoride 10% (Nio,
1989)
Dosis yang disetujui oleh FDA/ADA :
1. Naf : Konsentrasi sodium fluoride untuk
topikal aplikasi yang disetujui oleh FDA/ADA
adalah 2% dalam bentuk gel atau solution.
2. SnF2 : Konsentrasi yang tetafi disetujui oleh
FDA/ADA untuk topikal aplikasi adalah 8% SnF2
dalam bentuk larutan/solution.
3. APF : Konsentrasi yang disetujui oleh
FDA/ADA untuk topikal aplikasi adalah 1,23%
APF dalam bentuk gel atau solution.
NaF SnF APF
Kelebihan NaF digunakan pertama Tidak merusak restorasi APF lebih sering
kali sebagai bahan porcelain. digunakan karena
pencegah karies. NaF memiliki sifat yang stabil,
merupakan salah satu yg tersedia dalam
sering digunakan karena bermacam-macam rasa,
dapat disimpan untuk tidak menyebabkan
waktu yang agak lama, pewarnaan pada gigi dan
memiliki rasa yang cukup tidak mengiritasi gingiva.
baik, tidak mewarnai gigi Bahan ini tersedia dalam
serta tidak mengiritasi bentuk larutan atau gel
gingiva. siap pakai, merupakan
bahan topikal aplikasi
yang banyak di pasaran
dan dijual bebas. APF
dalam bentuk gel sering
mempunyai tambahan
rasa seperti rasa jeruk,
anggur dan jeruk nipis.
Kekurangan Bahan ini tidak tahan Sifat larutan Stannous Merusak restorasi
lama dan harus disimpan Fluoride yaitu larutan porcelain
dalam botol berwarna SnF2 yang sangat aktif Berbahaya jika
gelap, aplikasi NaF dan memiliki aktivitas
tertelan dalam jumlah
kurang efektif karena larutan yang tinggi
memerlukan waktu sehingga dapat digunakan
besar
kunjungan pasien 4 kali hanya dalam waktu 15–30
dalam waktu relative detik. Larutan SnF2
Tehnik aplikasi topical fluor NaF
 TEKNIK DARI KNUTSON :  TEKNIK DARI BIBBY :
1. Bersihkan seluruh permukaan gigi 1. Tahap a sampai c sama dengan
secara teliti dengan menggunakan teknik Knutson.
pasta prophylaxis standard (mis:
pumice). 2. Dilakukan topikal aplikasi
dengan larutan sodium fluoride
2. Isolasi gigi dengan cotton roll
0,1%; gigi dijaga tetap basah
3. Keringkan gigi dengan seksama dengan lanutan selama 7 sampai
4. Aplikasikan larutan sodium fluoride 8 mernt.
2% dan biarkan selama 3 menit 3. Perawatan dilakukan 3 kali
agar kering. Tiap perawatan dalam satu tahun.
memerlukan 4 kali aplikasi dengan
interval satu minggu.
Prophylaxis tidak dilakukan pada
kunjungan kedua, ketiga dan
keempat. Perawatan dilakukan pada
usia 3,7, 11 dan 13 tahun
Tehnik aplikasi topikal fluor dengan
Stannous Fluoride
 TEKNIKNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT (MENURUT
DUDDING DAN MUHIER) :
1. Bersihkan seluruh permukaan gigi secara teliti dengan
menggunakan pasta prophylaxis yang mengandung
SnF2.
2. Isolasi gigi dengan cotton roll
3. Keringkan gigi dengan seksama
4. Aplikasikan larutan SnF2 10°%pada permukaan gigi
dan jaga tetap basah dengan larutan selama 4 menit.
5. Pasien melanjutkan prosedur tersebut di atas dengan
secara rutin menggunakan pasta gigi yang
mengandung SnF2.
Tehnik aplikasi topical fluor dengan
APF gel (SEDIAAN GEL)
1. Lakukan proses brushing pada gigi
2. Siapkan APF gel
3. Keringkan gigi pasien dengan menggunakan cotton roll atau
dengan semprotan angin
4. Masukkan APF gel setinggi 1/3 sendok cetak
5. Masukkan sendok cetak rahang atas dan rahang bawah secara
bersamaan, diamkan selama 1-4 menit
6. Lepaskan sendok cetak dan bersihkan sisa fluor yang berlebih
dengan menggunakan kapas atau tampon
7. Instruksikan pasien untuk tidak berkumur dan tidak makan serta
minum selama ± 30 menit
8. Pasien diinstruksikan untuk datang kontrol 1 minggu kemudian.
Aplikasi fluor topical diuangi setiap 1 minggu hingga 4 kali
pemberian sebagai tahap permulaan. Setelah 4 kali perawatan
maka efek pencegahan karies gigi diharapkan dapat bertahan
sampai 3 tahun.
Tehnik aplikasi topical fluor dengan
APF gel (SEDIAAN SOLUTION)
1. Bersihkan seluruh permukaan gigi secara teliti dengan
menggunakan pasta prophylaxis standard yaitu pumice.
2. Isolasi gigi dengan cotton roll.
3. Keringkan gigi dengan seksama.
4. Aplikasikan larutan APF dan jaga tetap tetap basah
dengan larutan selama 4 menit. Setelah aplikasi
iistruksikan jangan makan minum selama 30 menit setelah
perawatan.
 Larutan APF bersifat stabil dan dapat disimpan dalam
tempat dan plastik. Perawatan dilakukan satu kali dalam 1
tahun, tetapi akan Iebih efektif jika dilakukan tiap 6 bulan.
Problem solving
1. Decision Making
Perlu dilakukan tindakan topikal aplikasi fluor sebagai
tindakan pencegahan timbulnya lesi karies.
2. Diagnosis
Gigi sehat
3. Treatment Planning
a. KIE
b. PRR (Preventive Resin Restoration)
c. Tindakan Aplikasi Fluor
d. Kontrol
KIE
(Komunikasi, Informasi, dan Edukasi)
 Instruksikan kepada pasien untuk tidak berkumur
dan tidak makan serta minum selama kurang lenih
30 menit
 Pasien diinstruksikan untuk datang kontrol 1 minggu
kemudian untuk pengaplikasian kembali yang
dilakukan setiap 1 minggu hingga 4 kali pemberian
fluor.
 Pasien diinstruksikan untuk datang 3 bulan untuk
dilakukan pengulangan dalam kurun waktu 1 tahun