Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

CAMPAK (MORBILI)

Pembimbing:
dr. M. Mukhson, Sp.A

Oleh:
Mutia Milidiah G4A014137

SMF ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016
PENDAHULUAN
• Campak merupakan penyakit menular dan salah satu penyebab kematian anak di dunia
• Dapat dicegah dengan imunisasi

• Di Indonesia, terdapat 11.521 kasus campak (2013) dan 12.943 kasus (2014)
• Incidence rate (IR)  4,64 per 100.000 penduduk (2013) ; 5,13 per 100.000 penduduk
(2014)
• Terdapat 128 KLB (1.677 kasus) (2013) dan 173 KLB (2.104 kasus) (2014)
• Jumlah kasus meninggal pada KLB campak 1 kasus (2013) dan 21 kasus (2014)

• Angka kematian campak dapat diturunkan dengan imunisasi


• 2000 sampai 2013, imunisasi campak berhasil menurunkan 15,6 juta (75%) kematian
akibat campak di seluruh dunia (WHO, 2015).
• Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka anak yang tidak mendapatkan
imunisasi campak terbesar (0,7 juta)
• cakupan imunisasi campak sebesar 97,85% (2013) dan 94,67% (2014)
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi

infeksi virus akut yang menular, disebabkan oleh virus Campak dengan karakteristik awal demam 38oC
atau lebih disertai gejala malaise, batuk, pilek atau mata merah yang kemudian muncul tanda
patognomonis bercak koplik yang diikuti bercak kemerahan berbentuk makulopopular dengan
penyebaran dari belakang telinga ke ekstremitas bawah, serta adanya demam tinggi mencapai 104-
105oF (40-40,5oC) (Kutty et al., 2013; Batirel et al., 2013).

family paramyxoviridae,
genus morbilivirus.
Epidemiologi
Faktor Risiko

• Tidak mendapatkan imunisasi Campak


• Immunodefisiensi
• Perjalanan ke daerah-daerah endemik Campak atau kontak dengan wisatawan di
daerah endemis
• Defisiensi vitamin A

Penularan

• Terjadi 3 hari sebelum muncul ruam sampai 4-6 hari setelah muncul ruam
• Ditularkan dari orang ke orang melalui droplet, atau kontak langsung dengan
sekret hidung atau tenggorokan penderita
Patogenesis

Virus campak

masuk melalui droplet atau kontak langsung

berikatan dengan reseptor PVRL4 (Nectin-4)
pada epitel pada trakea, mukosa mulut, nasofaring dan paru

bermigrasi ke limfe nodi regional (Hari ke 1-2)

. viremia primer

menyebar ke sistem retikuloendothelial dan meluas ke seluruh tubuh (hari ke 3-5)

. viremia sekunder

Manifestasi klinis pada saluran nafas, konjunctiva, kulit (Hari ke 7-11)

replikasi virus meningkat sampai puncaknya pada hari ke 11-14

Viremia berkurang dengan cepat dalam 2-3 hari

Penyembuhan
Penegakan Diagnosis

Anamnesis
• Demam
• Batuk
• Pilek
• nyeri telan
• mata merah dan silau terkena cahaya (fotofobia)
• Pada hari ke 4-5 demam, demam meningkat lebih tinggi, timbul ruam kulit
• Ruam didahului pada belakang telinga, garis rambut, dahi, leher, dan menyebar ke
seluruh tubuh

Pemeriksaan Fisik
1. Stadium kataral (prodormal)
• demam ringan, malaise, batuk, pilek, faring hiperemis, nyeri telan, stomatitis dan
konjungtivitis.
• bercak Koplik (tanda patognomonis)
2. Stadium erupsi
• selama 5-7 hari
• ruam atau eritema yang berbentuk makulopapular disertai naiknya suhu badan. Kadang-
kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit, rasa gatal, muka bengkak.

3. Stadium konvalesensi (penyembuhan)


• Bercak-bercak perpigmentasi
• Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi
Pemeriksaan Penunjang

• Pemeriksaan Darah Tepi


Jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri
• Serologi
Pemeriksaan antibodi IgM dan IgG
• Pemeriksaan Komplikasi
1. Ensefalopati : pemeriksaan cairan serebrospinal, kadar elektrolit darah dan analisis gas
darah
2. Diare : Pemeriksaan feses lengkap
3. Bronkopneumonia : foto thorax dan analisis gas darah
Penatalaksanaan

Medikamentosa
• Pengobatan Campak bersifat suportif
• Pengobatan Campak tanpa komplikasi (Mason, 2015) :
1. Diberikan vitamin A 1 kali sehari selama 2 hari dengan dosis :
bayi usia kurang dari 6 bulan : 50.000 IU
6 bulan sampai 11 bulan : 100.000 IU
12 bulan atau lebih : 200.000 IU
Apabila pasien disertai dengan malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari.
2. Jika demam, berikan paracetamol 10-15 mg/kgBB/kali maksimal 4 kali sehari.

Non medikamentosa
• Tirah baring di tempat tidur, dan jika ada indikasi dirawat inap di ruang isolasi. Indikasi rawat (ruang
isolasi) antara lain :
1. Hiperpireksia (suhu >39oC)
2. Dehidrasi
3. Kejang
4. Asupan oral sulit
5. Adanya komplikasi
• Berikan dukungan nutrisi dan cairan sesuai dengan kebutuhan
• Pemantauan suhu badan anak dua kali sehari dan periksa apakah timbul komplikasi
• Perawatan mata
Untuk konjungtivitis, Jika terdapat sekret bersihkan mata dengan kain katun yang telah direbus dalam
air mendidih, atau lap bersih yang direndam dalam air bersih.
• Perawatan mulut
Jaga kebersihan mulut, beri obat kumur antiseptik bila pasien dapat berkumur.
• Perawatan telinga
Pada otitis media akut :
1. Jika ada sekret mengalir dari dalam telinga, ajarkan pada ibu cara mengeringkannya dengan
wicking (membuat sumbu dari kain atau tisu kering yang dipluntir lancip)
2. membersihkan telinga 3 kali sehari hingga tidak ada lagi sekret yang keluar.
3. Hindari memasukkan apa pun ke dalam telinga anak
Komplikasi
• Diare
• Bronkopneumonia
• Otitis Media Akut
• Laringotrakeoronkitis (Croup)
• Kebutaan
• Ensefalitis
• Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE)

Prognosis
• Prognosis untuk Campak tanpa komplikasi umumnya baik
• Angka kematian 0,1-0,2%
• Tingkat kematian tertinggi di antara bayi usia 4-12 bulan dan pada anak-anak yang
immunocompromised
Pencegahan

Pencegahan campak dapat dilakukan dengan imunisasi.


• Imunisasi dasar campak pada usia 9 bulan
• Imunisasi lanjutan campak pada usia 24 bulan
• Imunisasi lanjutan campak pada kelas 1 SD
• Imunisasi pilihan MMR (Measles, Mumps, Rubella) pada usia 12–18 bulan.
Terima Kasih