Anda di halaman 1dari 115

TUTOR 6 BLOK 8 SK 1

ANGGOTA : 
 ANDRE SURYAN
 M. IQBAL MAULANA H
 ZAHARA NOVIA RESTA
 YENNI ROMADHONI PS
 WAHIDA PUTRI NURUL H
 TASHA MAILINA
 SUSI RISTIWI
 SOFA SALSABILA SARAGIH
 SITI NUR RAHAYU
 SITI KHALIZA
 SITI ISTIQFARA RAMADHANA
SKENARIO
 Seorang pasien lelaki berusia Pemeriksaan radiograf
47 th datang dengan keluhan terlihat sbb:
gigi belakang bawah kanan 
berlubang dan sering sakit
berdenyut dalam beberapa
bulan belakangan . Sejak
kemarin gigi ini sakit lagi dan
akibatnya pasien ini sampai
terbangun dari tidurnya. Pada
pemeriksaan klinis tampak
gigi 46 karies oklusal
mencapai dentin dalam.
Palpasi negativ tetapi perkusi
positif . Pasien memiliki
riwayat hipertensi terkontrol.
IDENTIFIKASI TUJUAN BELAJAR
I. NYERI PULPA DAN PERIAPEKS  PERTIMBANGAN DOKTER
 ETIOLOGI III. KASUS DARURAT
 KLASIFIKASI ENDODONTIK
 MEKANISME - DEFINISI
 NEUROFISIOLOGI - MACAM KASUS
 PENGARUH NYERI ( terhadap - PRINSIP PERAWATAN KASUS
HIPERTENSI DAN GIGI TETANGGA) IV . RADIOGRAFI
II . PENYAKIT PULPA DAN ENDODONTIK
PERIAPEKS - KRITERIA KELAYAKAN
 KLASIFIKASI UMUM DAN - FOTO AWAL PENENTU PROGNOSIS
PERAWATANNYA
V. INSRTUMENT
 PEMERIKSAANKLINIS
ENDODONTIK KASUS
 PEMERIKSAAN RADIOGRAF
 DIAGNOSIS PENYAKIT
SKENARIO
 PENATALAKSANAAN - ALAT ALAT
 ANESTESI
 PROSEDUR
NYERI PADA PULPA DAN PERIAPEKS
SITI NUR RAHAYU
1713101010042
ETIOLOGI
FISIS KIMIAWI BAKTERI

• Mekanis • Disebabkan bahan • bakteri masuk


Trauma(pukulan keras dalam bahan kimia seperti:
olahraga, kecelakaan, perkelahian, etsa asam, fenol dan
melalui tubuli dentin
dan prosedur kedokteran gigi), eugenol yang terbuka
pemakaian patologik gigi

• Termal
Panas yang dihasilkan saat
preparasi, penggunaan bur,
tumpatan amalgam, inlay atau
onlay
Klasifikasi
Dengan Stimulus disebabkan oleh
Tanpa stimulus
kerusakan jaringan

Dengan stimulus, nyeri Tanpa stimulus,


berlangsung dalam hitungan kerusakan jar. Jelas,
menit (<6 bulan) Berlangsung <6 bulan

Oleh Serabut saraf C,


dirasakan dalam waktu 1 detik,
nyeri menyebar, berdenyut
lambat dan tumpul
Oleh serabut saraf A-delta
Dirasakan dalam waktu 0,1 detik,
lokasi jelas, seperti menusuk
MEKANISME NYERI
Aktivasi Serabut A
MEKANISME NYERI

Grossman LI. Oliet S. Rio CED. 1995. Ilmu Endodontik dalam Praktek, Ed. 11. Jakarta: EGC
Sumawinata, Narlan, drg. SpKG. 2004. Senarai Istilah Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC
Tarigan R. 2006. Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti), Ed. 2. Jakarta: EGC
Walton, Richard E. 2008. Prinsip & Praktik Ilmu Endodonsia, Ed. 3. Jakarta: EGC
Aktivasi Serabut C INJURI PULPA

Inflamasi

Vasodilatasi dan peningkatan


permeabilitas pemb. darah

Pembengkakan

Tekanan
intrapulpa
meningkat

Serabut C
teraktivasi
Lanjutan...

IMPULS SARAF PLEKSUS


C/A RASCHKOW BATANG SARAF

NERVUS FORAMEN
NERVUS
MANDIBULARIS/MA APIKAL
TRIGEMINAL
KSILARIS

NYERI

NEURAL COMPLEX DI KORTEKS


THALAMUS
MEDULLA SEREBRAL
REFERENSI
 Grossman Li.Oliet S.Rio CED.1995.Ilmu Endodontik dalam
praktek, Ed.11:Jakarta:EGC
 Sumawinata,Narlan,drg.Sp.KG.2004.Senarai Istilah Kedokteran
Gigi.Jakarta:EGC
 Tarigan R.2006.Perawatan Pulpa Gigi(endodonti).Ed.22: EGC

 Walton, Richard E.2008.Prinsip dan Praktek Ilmu


Endodonsia,Ed.3.Jakarta: EGC
MEKANISME NYERI PADA PULPA
Persyarafan
langsung dari
dentin
TEORI Odontoblas
TERJADINYA sebagai
NYERI reseptor

Teori
Hidrodinamik
Teori Hidrodinamik

• Bransterm dan Astrom


• Contoh rangsang hidrodinamik:
penguapan zat, pengeringan,
perubahan suhu, larutan
hipertonik
MEKANISME NYERI PADA PULPA

INJURI PULPA
PERBEDAAN MEKANISME NYERI SENSITIVITAS DENGAN INJURI
PULPA

Sensitivitas Teori Aktivasi


dentin hidrodinamik serabut A

Tekanan
Injuri Aktivasi
intra
pulpa serabut C
pulpa
Plexus Keluar Menuju Trigeminal
raschko foramen nervus
maksilaris/ma N. V Neural Korteks
Cerebral
Intepretasi
nyeri
w apikal ndibularis Complex
m.O pada jar
karies email
dentin

MEKANISME Jaringan pulpa


meradang

NYERI PADA Meradang

JAR.
eksudat inflamasi
bertumpuk

PERIAPEKS; Tekanan
intrapulpa
meningkat
Suplai untuk
PMN terhambat

Mendorong pulpa PMN mati,


ke foramen terbentuk pus

Melukai apeks
Menekan syaraf
dan jar. Sekitar

m.O
Nekrosis pulpa
berkembangbiak
PERBEDAAN EFEK IRITASI PADA JARINGAN PULPA
DENGAN PERIAPIKEKS

JARINGAN PULPA JARINGAN PERIAEKS


1. Dibatasi dinding dentin yang 1. Dikelilingi tulang alveolar(
keras dan kaku mayoritas spongiosa)
2. Tidak bisa membengkak 2. Lig. Periodontal dg sistem
3. Tekanan intrapulpa vaskularisasi kolateral
4. Jaringan pulpa tidak memiliki
sirkulasi kolateral
KLASIFIKASI PENYEKIT PULPA DAN
PERIAPEKS
KLASIFIKASI PENYAKIT PULPA

Pulpitis (inflamasi)
• Reversibel
• irreversibel

Degenerasi pulpa

Nekrosis
PENYAKIT JARINGAN PERIRADIKULAR
Penyakit periradikular kronis
periradikular akut dg daerah rarefaksi
• Abses alveolar • Abses alveolar
akut akut
• Periodontitis • Granuloma
apikal akut • kista

Penyakit jaringan
Osteitis yg Resorpsi akar periradikular yg
memadat eksternal/luar berasal non-
endodontik
PEMERIKSAAN KLINIS
Pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis
memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit.
 Pemeriksaan Ekstraoral
 Pemeriksaan Intraoral
 Jaringan lunak
 Gigi geligi

 Tes Klinis
 Tes Periapeks

 Tes Vitalitas

 Tes Periodontium
PEMERIKSAAN RADIOGRAFI ENDODONTIK

Pemeriksaan radiografi Endodontik adalah cara visual untuk


mendapatkan pengetahuan klinis tentang gigi dan jaringan apikal.
Pemeriksaan radiograf sangat penting dalam diagnosis dan
prognosis kasus endodontik dan merupakan cara yang paling dapat
dipercaya untuk memonitor perawatan endodontik.
TEKNIK RADIOGRAFI PERIAPIKAL

 Teknik Periapikal Paralel


 Teknik Radiografi Bisecting
PRINSIP UMUM INTERPRESTASI RADIOGRAF
KEDOKTERAN GIGI

 Interprestasi hanya dilakukan pada radiografi dengan hasil gambar


yang baik
 Sebuah radiograf seharusnya dapat memberikan penilaian yang
adekrat terhadap area yang terlihat
 Seorang klinis harus memahami gambaran radiografi struktur normal
DIAGNOSIS

PROSEDUR DIAGNOSTIK

TASHA MAILINA
1713101010047
DEFINISI DIAGNOSIS

DIAGNOSIS

Pemanfaatan pengetahuan ilmiah untuk


mengidentifikasi proses penyakit dan untuk
membedakan dari proses penyakit lainnya

Ilmu yang mengenali penyakit melalui tanda, gejala,


dan tes
Ref : Garg N, Garg A. Textbook of Endodontics. P. 75
REFERENSI :
 Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 72-79
ANESTESI PADA
KASUS PASIEN
PROSEDUR DIAGNOSTIK

JENIS BAHAN, TEKNIK, DAN PROSEDUR


JENIS BAHAN ANESTESI LOKAL
 Semua anestesi lokal kecuali kokain adalah sintetis
 Secara luas dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
kelompok ester dan amida (non-ester)
 Berdasarkan struktur kimia :

Kelompok Ester Amida (kelompok non-ester)

• Kokain • Lidocaine
• Benzocaine • Mepivacaine
• Procaine • Prilocaine
• Tetracaine • Etidocaine
• Bupivacaine

Ref :Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 134


JENIS BAHAN ANESTESI LOKAL
 Berdasarkan durasi aksi

Aksi pendek Aksi menengah Aksi panjang

Procaine Lidocaine Bupivacaine

Ref :Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 134


BAHAN ANESTESI LOKAL

Tindakan utama agen anestesi lokal dalam memproduksi blok konduksi


saraf => mengurangi permeabilitas saraf ke ion natrium (Na +), sehingga
mencegah masuknya ion Na + ke dalam saraf.

Oleh karena itu, anestesi lokal mengganggu konduktansi natrium dan


menghambat penyebaran impuls sepanjang serabut saraf

Ref :Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 134


JENIS BAHAN ANESTESI LOKAL

Ref :Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 134


PERBANDINGAN ONSET AKSI, DURASI AKSI, DAN
KEEFEKTIFAN JENIS BAHAN ANESTESI LOKAL
PASIEN HIPERTENSI
 Stres yang terkait dengan administrasi anestesi lokal menginduksi peningkatan tekanan
darah, baik pada individu sehat dan pasien rawat inap dengan hipertensi
 Tingkat keparahan hipertensi harus ditentukan sebelum pemberian anestesi lokal.
 Dokter gigi juga dapat mengukur tekanan darah pasien sendiri.
 Pasien dengan tekanan darah sistol lebih dari 200 mmHg dan/atau diastolik lebih dari
115 mmHg hanya harus menerima perawatan gigi ketika tekanan darah mereka telah
diobati secara medis.
 Ketika pasien hipertensi memiliki tekanan darah sistolik antara 160 dan 200 mmHg
atau tekanan diastolik antara 105 dan 115 mmHg dan pasien saat ini sedang dalam
perawatan medis, sebagian besar perawatan gigi dapat dilakukan
 Rasa takut akan suntikan dapat menyebabkan peningkatan lebih lanjut dalam tekanan
darah
 Penting untuk menciptakan suasana terbuka, di mana pasien merasa bebas untuk
mendiskusikan kekhawatiran tentang injeksi yang dimaksud dan dokter gigi
mempertimbangkan hal ini
PASIEN HIPERTENSI
PASIEN HIPERTENSI

 Pengurangan adrenalin = selama satu sesi perawatan, jumlah total


adrenalin harus dibatasi hingga maksimum 0,04 mg untuk orang dewasa
(= 4 ml adrenalin 1: 100.000 atau 8 ml adrenalin 1: 200.000)
REFERENSI :
 J.A. Baart, H.S Brand. Local Anesthesia in Dentistry. 2006. P. 140, 142-
143
ANESTESI UNTUK KASUS PULPITIS IRREVERSIBEL
PADA GIGI POSTERIOR MANDIBULA

 Injeksi alveolar inferior konvensional diberikan, biasanya


bersamaan dengan injeksi bukal yang lama.
 Karena tingkat kegagalan anestesi yang tinggi untuk gigi ini, injeksi IO
atau PDL diberikan sebelum akses dimulai.

* Jika rasa sakit dirasakan, injeksi IO atau PDL dapat diulang, atau
diberikan injeksi IP, jika pulpa terkena. Biasanya, setelah pulpa
dibuang, rasa sakit yang lebih lanjut akan minimal, karena durasi yang
lebih lama dari anestesi mandibula.

Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 142
INFERIOR ALVEOLAR NERVE BLOCK
 Digunakan untuk membius saraf alveolar inferior, saraf lingual
dan cabang-cabang terminalnya, yaitu mental dan insisif.
 Area yang dianestesi adalah:

• Gigi mandibular
• Badan bagian mandibula dan inferior dari ramus
• Membran buccal mukosa dan jaringan di bawahnya hanya
sampai molar pertama • Anterior 2/3 lidah, jaringan lunak lingual,
dasar rongga mulut

Ref :Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 138


TEKNIK INFERIOR ALVEOLAR NERVE BLOCK
Target dalam teknik ini adalah saraf alveolar
inferior

Operator harus terlebih dahulu meraba batas


anterior ramus

Konsentrasi terdalamnya dikenal sebagai koronoid


notch yang menentukan tinggi injeksi

Jempol ditempatkan di atas koronoid notch dan


juga bersentuhan dengan internal oblique ridge

Ref :Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 138


TEKNIK INFERIOR ALVEOLAR NERVE BLOCK
Ibu jari dipindahkan ke sisi bukal, bersama dengan
buccal sucking pad yang memberikan paparan yang
lebih baik terhadap pterygomandibular raphe

Masukkan jarum sejajar dengan oklusi gigi


mandibular dari sisi mulut yang berlawanan

Jarum akhirnya dimasukkan secara lateral ke


pterygomandibular raphe di ruang
pterygomandibular
Tulang harus diberi kontaj karena menentukan
kedalaman penetrasi
Larutan yang diperlukan dalam blok ini bervariasi
dari 1,5 hingga 1,8 mL
Ref :Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 138
INFERIOR ALVEOLAR NERVE BLOCK

Ref :Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 138


BLOK SARAF BUCCAL
 Digunakan untuk membius mukosa bukal gigi molar mandibula
 Teknik :

Dalam hal ini, target adalah saraf bukal

Masukkan jarum di mukosa distal dan buccal ke gigi molar bawah terakhir di rongga mulut

Ref :Garg N, Garg, A. Textbook of Endodontics. P. 138-139


J.A. Baart, H.S Brand. Local
Anaesthesia in Dentistry 1st ed.
Willey-Blackwell . 2008. P. 83
INTRAOSSEOUS ANESTHESIA
 Suntikan IO memungkinkan penempatan anestesi lokal langsung
ke tulang cancellous yang berdekatan dengan gigi
 Perforasi dapat dibuat di gingiva atau alveolar yang melekat
mukosa dengan sistem ini

Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 135
TEKNIK INTRAOSSEOUS ANESTHESIA
Daerah perforasi dan injeksi adalah pada garis horizontal margin gingiva bukal gigi yang
berdekatan dan garis vertikal yang melewati papila interdental distal ke gigi untuk disuntikkan.

Titik sekitar 2 mm di bawah persimpangan garis-garis dipilih sebagai letak perforasi

Jaringan lunak pertama dibius oleh infiltrasi

Perforator ditempatkan melalui gingiva yang tegak lurus dengan kortikal plate

Dengan titik yang bertumpu pada tulang dengan hati-hati, handpiece diaktifkan dengan kecepatan
penuh, sambil mendorong perforator, dengan tekanan ringan, terhadap tulang dan kemudian
sedikit menarik perforator dan mendorongnya kembali ke tulang

Tindakan ini dilanjutkan sampai “menerobos atau jebol” ke dalam tulang kanselus tercapai selama
sekitar 2-5 detik
Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 136
Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 136
AGEN ANESTESI IO
 2% Lidokain dengan 1: 100.000 epinefrin
 2% Mepivakain dengan 1: 20.000 levonordefrin

 1,5% etidokain dengan 1: 200.000 epinefrin.

 Namun, karena reaksi kardiovaskular yang merugikan dengan


anestesi long-acting (etidocaine dan 0,5% bupivacaine dengan 1:
200.000 epinefrin), agen-agen ini tidak boleh digunakan.
 3%mepivacaine berhasil, tetapi durasi anestesi pulpa lebih
pendek.

Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 136
INJEKSI LIGAMEN PERIODONTAL
 Injeksi PDL => teknik yang berguna jika injeksi konvensional
tidak berhasil.
 Jika ada rubber dam, jarum mungkin disisipkan di antara gigi dan
margin rubber dam.

Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 138
TEKNIK INJEKSI LIGAMEN PERIODONTAL
Jarum suntik atau jarum suntik standar dilengkapi
dengan 30-gauge ultrashort needle atau 27-atau 25-
gauge jarum pendek

Jarum dimasukkan ke sulkus gingiva mesial pada


sudut 30 derajat ke sumbu panjang gigi

Tekanan berat secara perlahan pada pegangan jarum


suntik selama sekitar 10-20 detik (jarum suntik
konvensional), atau pemicu secara perlahan diperas
sekali atau dua kali dengan tahanan (jarum suntik
tekanan). Tekanan balik itu penting
Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 138
TEKNIK INJEKSI LIGAMEN PERIODONTAL
Jika tidak ada tekanan balik (resistensi) —yaitu,
jika obat bius mudah mengalir keluar dari sulkus
- jarum direposisi, dan teknik diulang sampai
tekanan balik tercapai

Injeksi kemudian diulang pada permukaan distal

Hanya volume kecil (sekitar 0,2 ml) dari anestesi


yang diendapkan pada setiap permukaan

Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 138
Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 138
KETIDAKNYAMANAN INJEKSI
 Ketika injeksi PDL digunakan sebagai injeksi primer, penyisipan
jarum dan suntikan sedikit tidak nyaman pada gigi posterior
 Ketika injeksi PDL digunakan sebagai teknik utama,
ketidaknyamanan pasca operasi (kebanyakan nyeri ringan)
biasanya terjadi, dengan durasi 14 jam-3 hari. Tidak ada
perbedaan antara articaine dan lidocaine. Ketidaknyamanan ini
terkait dengan kerusakan dari penyisipan jarum daripada tekanan
menempatkan larutan

Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 139-140
DURASI ANESTESI LOKAL (INJEKSI LIGAMEN
PERIODONTAL)
 Durasi anestesi pulpa yang mendalam (baik primer atau
tambahan) adalah sekitar 10-20 menit.

Walton, R. E, Torabinejad, M, et al. Endodontics Principles and Pratice 4th ed. 2008. P. 139-140
PERTIMBANGAN PERAWATAN GIGI
TERHADAP PASIEN HIPERTENSI
Klasifikasi Kondisi Individu Dental Contoh
by ASA Management
ASA I Normal, tekanan darah normal (120/80 - Individu sehat
– 130/89 mmHg)
ASA II Tekanan darah 140/90 – 159/99 mmHg, Pantau Hipertensi terkontrol,
stabil secara medis, tidak ada perubahan alergi, dan asma
pembatasan aktivitas fisik tekanan terkontrol
darahnya
ASA III Tekanan darah 160/100 – 179/109 Perlu pembatasan Diabetes tipe 1,
mmHg, tidak stabil secara medis, vasokontriktor hipertensi tidak
aktivitas fisik dibatasi dalam anastesi terkontrol, infark
lokal miokard, angina pektoris
tidak terkontrol

ASA IV Tekanan darah 180/110 – 209/119 Hanya perawatan Gagal ginjal, gagal hati
mmHg, tidak stabil secara medis dan gigi darurat
aktivitas fisik sangat dibatasi nonstressfull

ASA V Individu yang akan meninggal Tidak ditangani


ASA VI Individu yang sudah meninggal Tidak ditangani
PEMBAHASAN KASUS PADA PASIEN
ANASTESI
 Lakukan anastesi dengan teknik blok mandibula, dengan bahan
anastesi berupa bupivakain 0,5% dengan 1 : 200 000 epinefrin.
 Pemasangan rubber dam
 Buat jalan masuk ke dalam kamar pulpa

 Keluarkan pulpa dari kamar pulpa dengan ekskavator

 Lakukan irigasi dan debridemen didalam kamar pulpa

 Temukan orifis saluran akar dan saluran akar diekstirpasi

 Ekstirpasi jaringan pulpa dengan menggunakan peeso reamer dan file


sampai 1 mm dari apeks akar radiograf
 Irigasi dengan sodium hipoklorit
 Bersihkan debris dengan barbed broach setelah intrumen dengan file ke
apeks akar
 Keringkan saluran akar dengan absorbent points yang steril

 Masukkan cotton pellet yang telah dibasahi dengan bahan pereda rasa
sakit, misalnya eugenol ke dalam kamar pulpa
 Letakkan tumpatan sementara seperti cavit atau semen seng-oksida-
eugenol yang cepat mengeras di atas dresing yang telah diberi obat dan
tutup kavitas
 Hilangkan trauma oklusal

 Beri resep obat analgesik yang hanya digunakan bila timbul rasa sakit.
Pada beberapa kejadian, drg tidak cukup waktu untuk melakukan
ekstirpasi dan instrumentasi di semua saluran akar. Dengan demikian,
pulpotomi darurat (pengangkatan saluran akar pada kamar pulpa dan
saluran akar terbesar), termasuk debridement, pengeringan dan
penutupan kamar pulpa dengan dresing yang telah diberi obat biasanya
sudah mencukupi. Meskipun cara ini tidak seefektif pulpektomi, namun
dapat mengurangi rasa sakit pasien selama beberapa hari. Pasien harus
diperiksa ulang secepat mungkin untuk diberi perawatan tambahan.
REFERENSI
 Norton, Neil S. 2017. Netter’s Head and Neck Anatomy for
Dentistry 3rd Ed. Elsevier. p.570-571
 Louis I. Grossman, Seymour Oliet, dan Carlos E. Del Rio. Ilmu
Endodontik Dalam Praktek Edisi 11. EGC. p.21
 Sumawinata, Narlan. 2015. Anatesia Lokal dalam Perawatan
Konservasi Gigi. EGC. p.20, 47, 69
 Musanah Santa, Aries Chandra T. 2015. Penanganan kedaruratan
pada pulpitis ireversibel (Emergency endodontic treatment of
irreversible pulpitis). Makassar Dent J; 4 (5) p.172-176
KASUS DARURAT ENDODOTIK
DEFINISI DARURAT ENDODONTIK
( ENDODONTIK EMERGENCY)
 Daruratendodontik adalah kondisi yang terkait dengan
rasa sakit dan / atau pembengkakan yang membutuhkan
diagnosis segera dan perawatan .

 Faktor
penyebab utama terjadinya keadaan darurat
endodontik adalah:
 • Pathosis pada jaringan pulpa dan periradikular
 • Trauma cedera.
CLASSIFICATION OF ENDODONTIC EMERGENCIES
(Menurut P Carrotte)
 B. Patients under treatment
 A. Pretreatment  1. Flare-up mid-treatment
 1. Hipersensitivitas dentin  2. Pulpa Eksposure (terpapar)
 2. Nyeri asal pulpa  3. Fraktur gigi
 A . Pulpitis reversibel  4. Restorasi yang baru saja
 B . Pulpitis irreversibel ditempatkan
 3. Periodontitis apikal akut  5. Perawatan periodontal
 4. Abses periapikal akut
 5. Traumatic injury  C. Perawatan postendodontik
 6. Cracked tooth syndrome  1. Overinstrumentation
(Gigi retak)  2. Overextended filling)
Pengisian berlebihan
 3. Underfilling
 4. Fraktur akar
HIPERSENSITIVITAS DENTIN
 • Definisi
 nyeri tajam, pendek, timbul dari
dentin terbuka sebagai respons
terhadap rangsangan biasanya
termal, kimia, taktil atau osmotik
dan tidak dapat dianggap berasal
dari bentuk cacat gigi lainnya
atau patologi.

 •
CRACKED TOOTH SYNDROME
 Definisi
 Sindrom gigi retak berarti fraktur
tidak sempurna gigi dengan pulpa
vital. Fraktur ini biasanya
melibatkan enamel dan dentin
tetapi kadang-kadang pulpa dan
periodontal struktur mungkin  terutama pada saat pelepasan
juga terlibat. • Rasa sakit saat tekanan adalah tanda klasik
menggigit atau mengunyah sindrom gigi retak.
PULPITIS REVERSIBEL AKUT
 Definisi
Inflamasi ringan yang apabila penyebabnya dihilangkan maka
inflamasi menghilang dan pulpa akan kembali normal.
Faktor-faktor yang menyebabkan pulpitis reversible, antara
lain stimulus ringan atau sebentar insipient seperti karies,
erosi servikal, atau atrisi oklusal
PULPITIS IRREVERSIBEL AKUT
 Ditandai dengan :
 • Kehadiran mediator inflamasi (bradikinin) menurunkan ambang
batas stimulasi untuk semua saraf intrapulpal.(serabut syaraf -C)
 • Riwayat nyeri spontan dan respons berlebihan akibat nyeri yang
menyakitkan ,terhadap panas atau dingin yang tersisa setelah
stimulus dihilangkan.
 • Restorasi luas atau karies dapat dilihat pada yang terlibat gigi.

 • Nyeri yang berlangsung lama terjadi setelah stimulasi termal


ABSES PERIAPIKAL AKUT
 Absesperiapikal menandai adanya kerusakan sistem
kekebalan tubuh mengandung mikroba di dalam sistem
saluran akar. Besar jumlah bakteri melewati apeks ke
periradicular jaringan menghasilkan purulen eksudat
(mengandung pus / nanah).
PERIODONTITIS APIKAL AKUT
 Ini adalah peradangan ligamen
periodontal yang disebabkan oleh
kerusakan jaringan biasanya dari
perluasan pulpa pathosis atau
trauma oklusal.
 Tekanan pada gigi (oklusi /
perkusi) adalah ditransmisikan ke
cairan yang mendorong pada
ujung saraf di ligamen
periodontal. Ini ditandai oleh:
 • Gigi dapat diangkat keluar dari
soketnya karena adanya
membangun dalam tekanan
cairan di ligamen periodontal.
 • Tidak nyaman menggigit atau
mengunyah.
CEDERA TRAUMATIS
 Tujuan utama pengobatan harus segera meringankan rasa sakit.
Karena rasa sakit pada dasarnya disebabkan oleh peradangan dan
peningkatan tekanan jaringan, iritasi atau tekanan atau pulpa
yang meradang.
UNDER TREATMENT
MID-TREATMENT FLARE-UPS
 etiologi sengkarut mid-treatment:
 • Overinstrumentation
 • Debridemen yang tidak memadai
 • Hiperoklusi
 • Ekstrusi debu
 • Komplikasi prosedural
Pulpa eksposur
 Pulpa terpapar selama preparasi
gigi dapat mengakibatkan rasa  Restorasi yang Baru Saja
sakit yang tajam. Dalam kasus ini, Ditempatkan
ekstirpasi pulpa lengkap harus  Restorasi yang baru-baru ini
dilakukan dilakukan apakah bubur ditempatkan mungkin juga hadir
telah rusak atau tidak. dengan rasa sakit karena banyak
faktor seperti pengisian tinggi,
Fraktur Gigi kebocoran mikro, perlindungan
 Fraktur gigi dapat terjadi selama pulpa yang tidak memadai,
perawatan endodontik. Dapat galvanisme karena tidak sama
menyebabkan rasa sakit karena restorasi logam, iritasi kimia dari
kontaminasi saluran akar. Jika restorasi bahan atau mikro
fraktur vertikal memanjang apikal eksposur pulpa.
ke puncak alveolar, harus pergi  Perawatan periodontal
untuk pencabutan gigi atau dalam  Perawatan periodontal dapat
kasus multirooted gigi, orang harus menyebabkan paparan kanal
pergi untuk redisection atau lateral yang dapat berkomunikasi
hemisection. dengan ruang ligamen periodontal
dan menyebabkan rasa sakit.
POST OBTURATION

 Overinstrumentation
 Nyeri pasca operasi. Jika
perawatan panjang kerja tidak  Nyeri Persisten
dilakukan dengan tepat itu dapat
mengakibatkan  Ketahanan nyeri atau sensitivitas
overinstrumentation atau untuk periode yang lebih lama
overfilling. dapat terjadi menunjukkan
kegagalan resolusi peradangan.
Dalam kasus yang jarang terjadi,
 Overextended Obturation jaringan pulpa yang meradang
(Pengisian berlebihan) namun hidup dapat ditinggalkan di
 Ini menyebabkan rasa sakit. saluran akar. Penebangan
Peradangan periapikal kemudian diindikasikan dalam
menghasilkan tembakan serabut kasus-kasus seperti itu.
saraf proprioceptive pada ligamen  Vertical Root Fracture (VRF)
periodontal. Mereda dalam 24 Fraktur vertikal dari mahkota dan
hingga 48 jam. / atau akar dapat terjadi selama
obturasi karena kekuatan
penyebar atau orang yg bekerja
keras
PRINSIP KASUS-KASUS
DARURAT ENDODONTIK
1.PENDEKATAN PSIKOLOGIS
Pendekatan psikologis. Hal ini merupakan faktor
yang penting karena pasien yang sedang cemas
harus diyakinkan bahwa dia akan ditangani dengan
baik. Untuk mengurangi kecemasan dan
memperoleh informasi mengenai keluhan utama dan
agar diperoleh kerjasama pasien selama perawatan,
klinisi hendaknya membangun dan mengendalikan
situasi, membangkitkan kepercayaan pasien,
memberikan perhatian dan simpati kepada pasien
dan memperlakukan pasien sebagai individu yang
penting. Penatalaksanaan psikologis merupakan
faktor yang penting dalam perawatan kedaruratan

(Cohen and Burn, 1994; Walton and Torabinejad, 2002).


3.Melakukan
2. ANESTESI Debridement dan
Pengangkatan Kamar
Pulpa (Pulpotomi) serta
Penutupan Kamar
Pulpa
Debridement merupakan pembuangan benda
asing dan jaringan mati dari saluran akar.
Setelah debridement dilakukan, dilanjutkan
dengan melakukan pulpotomi darurat, yaitu
mengangkat kamar pulpa dari korona dan
saluran akar yang terbesar saja. Kemudian
dilakukan penutupan kamar pulpa dengan
tambalan sementara
4. PEMBERIAN
OBAT ANALGESIK
& ANTIBIOTIK
Pasien diberi obat analgetik yang diminum
apabila timbul rasa sakit. Premedika atau
medikasi pasca perawatan dengan antibiotik
diindikasikan bila kondisi pasien secara
medis membahayakan atau bila toksisitas
sistemik timbul kemudian.
Louis I. Grossman, Seymour Oliet, dan Carlos E. Del Rio “Ilmu Endodontik Dalam
Praktek” Edisi 11 : EGC
Walton, R. and Torabinejad, M., 2002. Principle and Practice of Endodontics. 2 nd
ed. Philadelphia : W.B. Saunders Co.weine, F.S. 1996. Endodontic Therapy. 5 th ed. St.
Louis : Mosby Year Book. Inc.
Bence, R. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik, terjemahan Sundoro. Jakarta :
Penerbit Universitas Indonesia
Harty, F.J., Kamus Kedokteran Gigi ; Alih Bahasa, Narlan Sumawinata. Jakarta : EGC,
1995.
Margono,Gunawan.1998.Radiografi Intraoral.Jakarta:EGC.
TEKNIK
1.

2.
FOTO AWAL UNTUK PENENTUAN PROGNOSIS
Definisi prognosis
• prognosis merupakan prediksi dari
kemungkinan perjalanan penyakit,lama
(durasi) dan hasil akhir dari penyakit
berdasarkan pengetahuan tentang
patogenesis dan keberadaan faktor risiko
dari suatu penyakit.
 Kesulitan dari foto awal
Kasus sukar adalah kasus dengan masalah yang berspektrum
luas.cara paling baik untuk menangulangi kasus sukar
bergantung pada pengetahuan dan keterampilan teknis dokter gigi
umum.
TINGKAT KESULITAN DARI FOTO AWAL

Tingkat
kesulitan

Bentuk
saluran
akar

Walton R.E; Torabinejad M; 2008. Prinsip & praktik Ilmu Endodonsi. Edisi 3; ;
INSTRUMEN ENDODONTIK UNTUK KASUS
GIGI 46
5.1 TAHAP PEMBENTUKAN ACCES LURUS
PENENTUAN PANJANG KERJA
 Panjang gigi dan panjang kerja.
 Cara pengukuran panjang kerja antara lain adalah cara radiograf
dengan alat di saluran akar,panjang rata rata menurut tabel,dan
menggunakan alat elektrik
PREPRASI KAVITAS
 Untuk kasus gigi posterior pembukaan atap pulpa dari arah oklusal menggunakan bur metal bulat
setelah hampir menembus atap pulpa ganti bur menggunakan bur dengan bur diamendo
 Setelah menembus atap pulpa ,bur ditarik kearah oklusal sehingga seluruh atap pulpa terbuang
 Preparasi dilanjutkan dengan gerakan latero-insisal untuk mengangkat seluruh atap pulpa
 Bur diamendo digunakan untuk meratakan dan menghaluskan dinding kavitas tanpa mengambil
dasar kamar pulpa
PREPARASI RUANG PULPA
 Tujuan dari preparasi ruang pulpa yaitu membersihkan dan
membentik kavitas kamar pulpa untuk mrndapatkan jalan ke
saluran akar dengan membuang keseluruhan ata pulpa dan billa
perlu sebagian dinding kamar pulpa yang menghalangi masknya
alat selama preparasi saluran akar
TAHAP PREPARASI KAVITAS

Tahap 1.membentuk regangan kavitas


Reganggan kavitas di tentukan oleh bentuk internal kamar
pulpa.seluruh jaringan karies,restorasi yang buruk dan sisa jaringan gigi
yang lemah dibuang sampai bersih
Tahap 2.mencari dan mebuka atap pulpa
preparasi dengan memakai bur no.2 atau 4 untuk menembus emai
.preparasi di arahkan ke saluran akar yang paling besar.
Tahap 3.pengambiln isi kamar pulpa
Ubah gerakan bur menjadi ke arah latero –oklusal sampai tidak terasa
lagi ada hambatan.
Tahap 4.pengambilan isi kamar pulpa
Pada gigi vital pengambilan isis kamar pulpa dilakukan dengan bur ulat metal
putaran rendah no 2,4,6,8 dan atau dengan ekskavator.jaringan pulpa di ptong
seperti pada pupektomi.pada gigi nonvital cukup irigasi dengan NaOCL 2,5%
Tahap 5.preparasi kamar pulpa dengan bur diamendo untuk meratakan dan
menhaluska seluruh dinding kavitas tanpa mengambbil dasar kamar pulpa untuk
menghindari terjadinya step,sampai terbentuknya regangan kavitas yang sesuai
dan sedapat mungkin menempatkan orifis pada sudut sudut kavitas .selanjutnya
dinding kavitas yang disekitarnya menghalangi arah masuk alat ke saluran akar
dapat dibuang
Tahap 6.menentukan letak saluran akar (orifis)
Tahap ini dilakukan dengan memasukkan sonde lurus .untuk membersihkan
debris kavitas hendaknya di irigasi dengan NaCL2,5% tanpa tekanan yang
berlebihan
ALAT YANG DIGUNAKAN
1. Sonde lengkung
2. Sonde lurus
3. Sonde berkait
4. Bur bulat putaran tinggi untuk menembus email
5. Bur diamendo untuk menghaluskan dinding kavitas
6. Jarum ekstripasi untuk mengambil jaringan pulpa dan jaringan
nekrotik dari saluran akar
mengambil pecahan tambalan dan istrumen,kapas papper point
yang ada di saluran pulpa
7.Peaso drill berguna untuk membesarkan saluran akar yang sempit
8.Bur gattes berguna untuk melebarkan orifisum sehinggan
memudahkan kerja instrumen
9.Reamer berguna untuk melebarkan saluran akar dan pengisian
saluran akar pengganti lentullo
File hendstrom

Jarum ekstripasi

Bur gutes
ADA
PERTANYAAN?