Anda di halaman 1dari 25

Keperawatan Paliatif

Jurnal
1. Depression and Anxiety Disorders in
Palliative Cancer Care. Oleh : Keith
G. Wilson, PhD,dkk
2. Hubungan antara dukungan
keluarga dengan tingkat kecemasan
penderita kanker serviks paliatif .
Oleh : Misgiyanto & Dwi susilawati
Analisa Jurnal 1
Judul :
Depression and Anxiety Disorders in Palliative
Cancer Care.
Oleh : Keith G. Wilson, PhD,dkk
Abstrak
Depresi dan gangguan kecemasan dianggap
umum dalam perawatan kanker paliatif, tetapi ada
bukti yang tidak konsisten mengenai relevansi
mereka untuk aspek lain dari kualitas hidup.
Dalam Survei Perawatan Paliatif Nasional Kanada,
wawancara semi-terstruktur menilai depresi dan
gangguan kecemasan diberikan kepada 381 pasien
yang menerima perawatan paliatif untuk kanker.
Ada 212 wanita dan 169 pria, dengan
kelangsungan hidup rata-rata 63 hari. Kami
menemukan bahwa 93 peserta (24,4%, 95%
confidence interval = 20.2-29.0) memenuhi
Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental,
kriteria diagnostik
Edisi Keempat untuk setidaknya satu gangguan
kecemasan atau depresi (20,7% prevalensi
gangguan depresi, 13,9% prevalensi gangguan
kecemasan). Diagnosis individu yang paling sering
adalah depresi berat (13,1%, 95% confidence
interval = 9.9-16.9). Komorbiditas umum terjadi,
dengan 10,2% peserta memenuhi kriteria untuk
lebih dari satu gangguan. Mereka yang didiagnosis
dengan gangguan secara signifikan lebih muda
dari peserta lain (P = 0,002). Mereka juga memiliki
status kinerja yang lebih rendah (P = 0,017),
jaringan sosial yang lebih kecil (P = 0,008), dan
partisipasi kurang dalam pelayanan keagamaan
yang terorganisir (P = 0,007). Selain itu, mereka
melaporkan tekanan yang lebih parah pada 14 dari
18 gejala fisik, keprihatinan sosial, dan masalah
eksistensial.
Tujuan penelitian
Untuk menyelidiki prevalensi dan
komorbiditas depresi dan gangguan
kecemasan.
Latar belakang
Banyak pasien dengan kanker mengalami
masalah kesehatan secara keseluruhan yang
mewakili masalah yang signifikan secara klinis
dalam dirinya sendiri. Meskipun tingkat
prevalensi telah ditemukan sangat bervariasi
tergantung pada populasi pasien yang diteliti,
kriteria diagnostik yang diterapkan, dan
metode penilaian (yaitu, laporan diri vs
wawancara terstruktur), ulasan terbaru
menunjukkan bahwa di seluruh studi,
prevalensi median mayor depresi adalah
sekitar 15% di antara pasien dengan penyakit
lanjut.
Desain penelitian
Penelitian ini menggunakan wawancara diagnostik
semi-terstruktur (SISC) untuk kelompok besar pasien
yang menerima perawatan paliatif untuk kanker. Selain
penilaian gangguan depresi dan kecemasan,
wawancara juga membahas berbagai gejala fisik,
masalah sosial, dan masalah eksistensial. Dengan
demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menyelidiki prevalensi dan komorbiditas depresi dan
gangguan kecemasan.
Depresi dan gangguan kecemasan dinilai dengan
versi modifikasi dari evaluasi perawatan klinis Primer
Evaluasi Gangguan Mental Gangguan (PRIME-MD).
Data dianalisis dengan paket statistik SPSS
Hasil penelitian
Secara keseluruhan, total 93 (24,4%) peserta
memenuhi kriteria diagnostik untuk
setidaknya satu gangguan, dengan depresi
menjadi masalah yang paling sering muncul (n
= 50, 13,1%). Komorbiditas antara gangguan
umum, dengan 39 orang ditemukan kriteria
signifikan untuk dua atau lebih diagnosa
(41,9% perbedaan antara kelompok pada
mereka dengan diagnosis). Sebagai contoh,
dari 53 (13,9%) individu yang didiagnosa
dengan gangguan kecemasan, 35 (66%)
ditemukan kriteria depresi dan 24 (45%)
ditemukan krteria ganguan kecemasan.
Kesimpulan
Kesimpulannya, tampak bahwa gangguan depresi
dan kecemasan memang umum di antara pasien
yang menerima perawatan paliatif.
Secara keseluruhan, bagaimanapun, temuan ini
menggarisbawahi perlunya kewaspadaan lanjutan
dalam penilaian diagnostik depresi dan gangguan
kecemasan dalam perawatan paliatif, dan bergerak
menuju konsensus yang lebih besar dalam bidang
kapan dan dengan siapa untuk memulai
pengobatan. Sebagai hasil dari penelitian ini
menunjukkan dengan jelas, gangguan ini dikaitkan
dengan kualitas hidup yang sangat berkurang di
antara orang-orang yang sekarat karena kanker.
Analisa Jurnal 2
Judul :
Hubungan antara dukungan keluarga dengan
tingkat kecemasan penderita kanker serviks paliatif
Oleh : Misgiyanto & Dwi susilawati
Abstrak
 Kanker servik adalah kanker yang
menyerang uterus bagian serviks uterus atau
leher rahim, penyaki keganasan yang
menyerang perempuan. Angka harapan
kesembuhan penderita kanker serviks
stadium paliatif adalah kecil. Penderita
sering mengalami penderitaan fisik dan
psikososial sehingga menimbulkan
kecemasan. Penderita ini memerlukan
dukungan keluarga ; dukungan emosional,
dukungan penghargaan, dukungan materi
dan dukungan informasi.
Tujuan penelitian
 Mengetahui hubungan antara
dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan penderita kanker serviks.
 Keefektifan dukungan keluarga
(paliatif) dalam mengurangi
kecemasan penderita kanker servik.
Latar belakang
 Kanker serviks (leher rahim) adalah penyakit
keganasan yang paling banyak ditemukan pada
perempuan yang dapat berdampak terhadap fisik,
mental, dan sosial, bahkan kematian penderitanya.
Setiap tahun, terjadi lebih dari 460.000 kasus kanker
serviks dan sekitar 231.000 meninggal karena penyakit
tersebut hampir 80 % kasus di negara-negara yang
sedang berkembang. Pada tahun 2011 prevalensi
kanker di Indonesia adalah 4,3 per 1000 orang
indonesia sekitar 4 orang diantaranya menderita
kanker. Penderita kanker serviks yang memliki stadium
penyakit III dan IV memiliki prognosis yang buruk atau
dapat disebut dengan kanker paliatif. Kanker paliatif
adalah istilah perawatan untuk kanker stadium
terminal.
 Pengobatan penyakit kanker serviks mungkin terus
dilakukan tetapi bukan untuk mengobati penyakitnya tapi
untuk mengurangi gejalanya. Masalah fisik yang muncul
pada penderita yaitu nyeri, peubahan warna kulit dan
konstipasi. Penderitaan tidak hanya di rasakan penderita
sendiri tetapi juga keluarganya. Selain masalah fisik
penderita juga mengalami masalah psikologi salah satunya
kecemasan, pada penderita kanker tahap terminal kecemasan
memiliki beberapa pengaruh antara lain ; meningkatkan
kejadian insomnia, berkurangnya rasa percaya terhadap
kemampuan fisik, dan rendahnya partisipasi dalam
pengobatan dan menjadi rendahnya kualitas hidup
penderita. Efek negativ dari kecemasan dan depresi yaitu 3x
lipat tidak patuh pada pengobatan yang dapat berdampak
buruk bagi kesehatan bahkan berakibat kematian, oleh
karena itu diperlukan adanya perawatan dan dukungan
keluarga.
 Bentuk dukungan keluarga terhadap
anggota keluarga yang sakit dapat
berupa secara moral maupun
material. Adanya dukungan keluarga
akan berdampak pada peningkatan
percaya diri dalam proses pengobatan
penyakitnya. Jenis dukungan kelurga
meliputi dukungan informasional,
dukungan penilaian, dukungan
instrumen dan dukungan emosional.
Desain penalitian
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif
korelatif dengan rancangan crosssectional. Dengan
cara responden mengisi kuesioner, sample
penelitian yaitu penderita kanker serviks paliatif
di poliklinik penyakit kandungan dan IRNA
(anggrek I) RSUP Dr Sardjito dan memenuhi
inklusi. Total sampling sejumlah 30 responden.
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah 1)
penderita yang terdiagnosa kanker
servikspaliatif yang berobat dan yang menjalani
rawat inap. 2) memiliki kesadaran penuh
(compos mentis). 3) berusia diatas 18 tahun. 4)
bersedia mengikuti penelitan.
Data hubungan dianalisis dengan menggunakan
Gamma Corelation.
 Untuk mengetahui tingkat kecemasan
penderita yaitu menggunakan alat
ukur Anxiety Visual Analog Scale
(Anxiety VAS)
Hasil penelitian
 Karakteristik responden : mayoritas usia
responden direntang 51-64 tahun (53,3
%), tingkat pendidikan responden
mayoritas SD 14 orang (46,7 %) dan
mayoritas responden berkerja sebagai
ibu rumah tangga (50%).
 Dukungan keluarga : mayoritas
dukungan keluarga pada responden
adalah baik (76,6 %)
 Tingkat kecemasan : mayoritas
responden mengalami tingkat
kecemasan sedang (50 %)
 Hubungan antara dukungan keluarga
dengan tingkat kecemasan penderita
kanker servik paliatif : berdasarkan uji
statistik menggunakan gamma
corelation dapat kemaknaan (p) = 0,001
sehingga dapat disimpulkan terdapat
hubungan antara dukungan keluarga
dengan tingkat kecemasan penderita
kanker serviks paliatif, hubungan kedua
variabel ini sangat kuat dan
berhubungan berbanding terbalik.
 Kecemasan pada penderita kanker serviks
idak mutlak dipengaruhi oleh kualitas
dukungan keluarga dibuktikan dengan
penelitian tentang kecemasan pada penderita
kanker serviks hasilnya menunjukan bahwa
kecemasan pasien paling besar berdasarkan
fakto internal adalah faktor maturitas, faktor
tipe kepribadian, dan faktor fisik. Fakor
eksternal kecemasan paling besar adalah
faktor dukungan sosial dan keluarga.
Perawatan dirumah sakit juga merupakan
salah satu faktor yang mencemaskan bagi
pasien.
Kesimpulan Jurnal 1 dan 2
Gangguan depresi dan kecemasan
umum terjadi di antara pasien yang
menerima perawatan paliatif.
Adanya hubungan antara
dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan penderita kanker, dimana
tingkat kecemasan penderita kanker
serviks paliatif memiliki tingkat
kecemasan sedang dengan dukungan
keluarga.
Saran
Perlunya kewaspadaan lanjutan
dalam penilaian diagnostik depresi dan
gangguan kecemasan dalam perawatan
paliatif, dan bergerak menuju konsensus
mengatasi kecemasan.
Perawat senantiasa meningkatkan
pelayanan kepada penderita kanker
serviks dengan memperhatikan
kebutuhan bio-psiko-sosio dan spiritual
melalui pendidikan kesehatan dan
konseling kepada penderita maupun
keluarga.
SELESAI...