Anda di halaman 1dari 31

WRAP UP SKENARIO 1

BLOK EMERGENSI
“TEKANAN DARAH TINGGI DALAM
KEHAMILAN”

KELOMPOK A – 5

Ketua : Indah Pratiwi 1102015097


Sekretaris : Khairifa Adlina Razie 1102015115
Anggota : Ida Nurainun Adjad M 1102012116
Adelin Luthfiana Fajrin 1102015004
Amalia Maulida 1102015019
Andi Aulia Ari Nurdewi 1102015021
Azka Aulia Shafira 1102015042
Azmi Nadia Farah Iffah 1102015043
Dinda Rizqy Dwiputri 1102015061
Dinera Anjani Arsad 1102015062
Skenario 1
TEKANAN DARAH TINGGI DALAM KEHAMILAN
Seorang pasien wanita usia 18 tahun dating ke IGD RS dengan keluhan utama
kepala terasa sakit. Pasien ini dengan kehamilan pertama dan usia kehamilan 32
minggu jika dihitung dari hari pertama haid terakhir. Pasien melakukan ANC ke
Puskesmas sebanyak 4 kali dan terakhir kontrol 1 minggu yang lalu.
Berdasarkan ANC sebelumnya diketahui pasien memiliki tekanan darah tinggi
dan sudah diberikan obat antihipertensi. Selama kehamilan pasien mengalami
kenaikan berat badan 20 kg dan tidak ada edema pada tungkai. Dari riwayat
penyakit keluarga tidak ada keluarga yang menderita penyakit jantung, ginjal,
diabetes, dan hipertensi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit
sedang, tekanan darah 180/ 120, nadi 92x/menit, nafas 22x/menit, suhu 36,3℃.
Dari status obstetric didapatkan tinggi fundus uteri 26 cm dan denyut jantung
janin 154x/menit. Tanda-tanda persalinan tidak ada. Selanjutnya dilakukan
pemeriksaan penunjang USG dengan hasil janin hidup tunggal intra uterin
presentasi kepala dan hasil pemeriksaan laboratorium urin protein positif 3.
Dari hasil pemeriksaan darah didapatkan Hb 10.5 gr%, leukosit 12.000/mm³,
trombosit 95.000/mm³.
Kata Sulit:
 ANC (Ante Natal Care)
Pemeriksaan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu
dan janin secara berkala yang diikuti oleh koreksi terhadap
kelainan yang ditemukan.

 Status Obstetri
Riwayat kehamilan atau persalinan.
Pertanyaan:
 Mengapa kasus pasien termasuk kasus gawat darurat?
 Mengapa terjadi proteinuria?
 Apa faktor risiko tekanan darah meningkat pada kehamilan?
 Mengapa terjadi trombositopenia?
 Apa tindakan pertama untuk kasus tersebut?
 Apa yang terjadi bila keadaan tersebut tidak ditangani segera?
 Apa saja macam hipertensi pada kehamilan?
 Apa saja tanda-tanda preeklampsia?
 Apa kemungkinan diagnosis pasien?
 Mengapa kepala pasien terasa sakit?
Hipotesis:

Usia pasien yang kurang dari 20 tahun merupakan


salah satu faktor risiko terjadinya preeklampsia yang ditandai
dengan tekanan darah ≥ 160/110 mmHg dan proteinuria >
+2. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah
penanganan ABC (Airway, Breathing, Circulation), pemberian
obat antihipertensi, MgSO4 sebagai antikejang, dan disertai
dengan observasi berkala. Apabila tidak ditangani dengan
segera dapat menyebabkan kematian ibu dan janin.
Sasaran Belajar:
 LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Hipertensi pada
Kehamilan
LO. 1.1. Definisi
LO. 1.2. Epidemiologi
LO. 1.3. Faktor Risiko
LO. 1.4. Klasifikasi
LO. 1.5. Patofisiologi
LO. 1.6. Manifestasi Klinis
LO. 1.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding
LO. 1.8. Tatalaksana
LO. 1.9. Komplikasi
LO. 1.10. Prognosis
LO. 1.11. Pencegahan
LO.1.1. Definisi
Hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan
vascular yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam
kehamilan atau pada masa nifas. Ditandai dengan hipertensi
dan sering disertai proteinuria, edema, kejang, koma atau
gejala lain.
 Hipertensi ringan = 140/90 dan 149/99
 Hipertensi sedang = 150/100 dan 159/109
 Hipertensi berat = 160/110 atau lebih

(Sastrawinata,2005)
LO.1.2. Epidemiologi
 5 – 15% penyulit kehamilan
 Salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan
morbiditas ibu bersalin.
 Di Indonesia, mortalitas dan morbiditas hipertensi dalam
kehamilan juga masih cukup tinggi.
LO.1.3. Faktor Risiko
 Primigravida, primipaternitas
 Hiperplasentosis, misalnya: mola hidatidosa, kehamilan
multipel, DM, hidrops fetalis, bayi besar.
 Umur yang ekstrim
 Riwayat keluarga pernah preeklampsia/ eklampsia
 Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada
sebelum hamil
 Obesitas
 Hipertensi kronik
 Jarang atau tidak melakukan pemeriksaan antenatal
LO.1.4. Klasifikasi
Klasifikasi yang di pakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of the National
High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in
Pregnancy ialah: Timbul sebelum umur
kehamilan 20 minggu,
Pertama kali didiagnosis
setelah umur kehamilan
Hipertensi 20 minggu’
kronik
Menetap sampai 12
minggu pasca perslinan

Hipertensi
Hipertensi kronik kronik
dengan
disertai proteinuria. superimposed
preeklamsia

Timbul pada
Hipertensi kehamilan tanpa
gestasional disertai proteinuria,
Menghilang setelah 3
bulan pasca
melahirkan
Timbul setelah 20 minggu
kehamilan disertai dengan
Preeklampsia TD ≥140/90 mmHg
Proteinuria
Edema

Preeklampsia + kejang- Eklampsia


kejang dan/atau koma
Preeklampsia
ringan

• TD sistolik dan diastolik ≥140/90 mmHg


• Proteinuria 300 mg/24 jam
Preeklampsia • Edema
Preeklamsia berat
tanpa impending
eklampsia
Preeklampsia
berat
Preeklamsia berat
dengan impending
• TD sistolik ≥ 160 mmHg
• TD diastolik ≥ 110 mmHg eklampsia
• Proteinuria > 5 g/24 jam.
• Edema + Sindrom HELLP
LO.1.5. Patofisiologi
Hipertensi pada kehamilan merupakan penyulit
kehamilan yang terjadi melalui proses dua tahap:
 Kegagalan remodeling vascular oleh jaringan
trophoblast
 Manifestasi klinis yang diakibatkan oleh kegagalan
proses remodeling vascular
Faktor Immunologis Hambatan implantasi
tropoblas
1. Penurunan HLA-G

2. Aktivasi Sel Th-1 Stadium I : Implantasi Faktor Genetik


Sitokin tropoblas inkomplet

3. Aktivasi Sel Th-2 Kegagalan remodeling


Aktivasi sel B  arteri spiralis
Sistem imun humoral Aterosis:
Arteri spiralis
berdiameter kecil dan Timbunan lipid dan sel foam
resistensi vaskular di jaringan sub endotel
yang besar
Keadaan hipoperfusi sirkulasi
Mempersempit lumen
uteroplasenter
vaskular
Stadium II: Sindroma klinis
Kerusakan Endotel
Kerusakan endotel glomerulus

Peningkatan respon Permeabilitas


terhadap vasopressor glomerulus meingkat
Intrauterin Growth
Retardation (IUGR) Hipertensi Proteinuria

Preeklamsia-eklampsia
LO.1.6. Manifestasi Klinis

Preeklamsia Ringan
• Tekanan darah ≥ 140 mmHg/ 90 mmHg
• Proteinuria ≥ 300 mg/ 24 jam atau ≥ 1 +
dipstik
• Edema

Preeklamsia Berat
• Tekanan darah ≥ 160 mmHg/ ≥ 110 mmHg
• Proteinuria > 5 g/ 24 jam atau 4 +
• Oliguria
• Gangguan visus dan serebral
Superimposed Eclampsia
• Hipertensi kronik karena kelainan organ
• Dapat diserta preeclampsia saat kehamilan

Gestational Hypertension
•TD 140/90 mmHg atau lebih terjadi pertama
kali pada saat hamil, dan kembali normal 12
minggu post partum
• Proteinuria (-)
LO.1.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding
 Diagnosis
 Anamnesis, meliputi:
 Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah
 Indikasi adanya hipertensi sekunder
 Faktor-faktor risiko
 Gejala kerusakan organ

 Pemeriksaan Fisik
 Pengukuran tekanan darah

 Pemeriksaan Penunjang
 Tes darah rutin
 Fungsi ginjal (ureum, kreatinin serum)
 Proteinuria kuantitatif  Profil koagulasi (PT, APTT, fibrinogen)
 Hitung darah perifer lengkap (DPL)  USG
 Golongan darah ABO, Rh, dan uji pencocokan silang
 Fungsi hati (LDH, SGOT, SGPT)
Wanita hamil dengan
TD >140/90 mmHg

Sebelum usia Setelah usia kehamilan


kehamilan 20 minggu 20 minggu

Proteinuria baru /
peningkatan
Tanpa proteinuria proteinuria, terjadi Proteinuria Tanpa proteinuria
peningkatan TD atau
sindrom HELLP

Preeklampsia
superimposed
Hipertensi kronik hipertensi kronik Preeklampsia Hipertensi gestasional
Diagnosis banding
 Antiphospholipid Antibody Syndrome and Pregnancy
 Antithrombin Deficiency
 Aortic Coarctation
 Autoimmune Thyroid Disease and Pregnancy
LO.1.8. Tatalaksana
Tata laksana terhadap Hipertensi
 Terapi antihipertensi (juga dianjurkan untuk hipertensi
pascasalin berat.)
 Pilihan antihipertensi didasarkan terutama pada
pengalaman dokter dan ketersediaan obat.
 Antihipertensi golongan ACE inhibitor (misalnya
kaptopril), ARB (misalnya valsartan), dan klorotiazid
dikontraindikasikan pada ibu hamil.
 Ibu yang mendapat terapi antihipertensi di masa antenatal
dianjurkan untuk melanjutkan terapi antihipertensi hingga
persalinan
Tata laksana terhadap Kejang
 Bila terjadi kejang, perhatikan jalan napas, pernapasan
(oksigen), dan sirkulasi (cairan intravena).
 MgSO4 diberikan secara intravena kepada ibu dengan
eklampsia (sebagai tatalaksana kejang) dan preeklampsia
berat (sebagai pencegahan kejang).
 Pada kondisi di mana MgSO4 tidak dapat diberikan
seluruhnya, berikan dosis awal (loading dose) lalu rujuk
ibu segera ke fasilitas kesehatan yang memadai.
 Lakukan intubasi jika terjadi kejang berulang dan segera
kirim ibu ke ruang ICU (bila tersedia) yang sudah siap
dengan fasilitas ventilator tekanan positif.
 Sikap terhadap Kehamilan
Berdasarkan William Obstetrics, ditinjau dari umur kehamilan dan
perkembangan gejala-gejala preeklamsia berat selama perawatan; maka sikap
terhadap kehamilannya dibagi menjadi:
Aktif (Agressive
Management)
kehamilannya segera
diakhiri / diterminasi +
pemberian pengobatan
medikamentosa.

Konservatif
(Ekspektatif): kehamilan
dipertahankan +
pemberian pengobatan
medikamentosa
 Indikasi perawatan aktif, bila didapatkan satu atau lebih keadaan :
 Pada ibu
 Umur kehamilan ≥ 37 minggu.
 Gejala Impending Eclampsia
 Kegagalan terapi pada perawtan konservatif
 Diduga terjadi solusio plasenta.
 Timbul onset persalinan, ketuban pecah, atau perdarahan.

 Pada janin
 Tanda-tanda fetal distress (gawat janin)
 tanda-tanda Intrauterine Growth Restriction (IUGR)
 NST nonreaktif dengan profil biofisik abnormal
 Terjadinya oligohidramnion

 Pada laboratorium
 “Sindroma HELLP” (Hemolysis, Elevated Liver Enzyme, Low Platelets Count )
 Menurunnya trombosit dengan cepat.
 Indikasi perawatan konservatif (ekspektatif)
 Kehamilan preterm ≤ 37 minggu
 Tanpa tanda-tanda impending eclampsia
 Keadaan janin baik
LO.1.9. Komplikasi

Iskemia Spasme
Kejang dan koma
uteroplasenta arteriolar
• Pertumbuhan • Perdarahan • Trauma akibat
janin serebral kejang
terhambat • Ablasio retina • Aspirasi cairan,
• Kematian janin • Tromboemboli darah,
• Persalinan • Gangguan muntahan yang
prematur pembekuan berakibat
• Solusio darah gangguan
plasenta pernafasan
• Buta kortikal
LO.1.10. Prognosis
 Preeklampsia diperkirakan berakibat kematian
maternal sebesar 14%.
 Kemungkinan preeklampsia berulang 10%.
 Apabila wanita tersebut mengalami preeklampsia
dengan komplikasi, maka kemungkinan untuk berulang
di kehamilan berikutnya menjadi lebih besar.
 Jika kejadian dideteksi lebih dini, maka kemungkinan
prognosisnya juga lebih baik.
LO. 1.11. Pencegahan

Non medikal Medikal

Kalsium : 1.500-2.000 mg/hari


Zinc 200 mg/hari
Tirah baring
Magnesium 365/hari
Obat anti trombotik,
Diet ditambah Aspirin dosis rendah di bawah
100mg/hari
Suplemen minyak ikan yang kaya
dengan asam lemak tidak jenuh Antioksidan
Daftar Pustaka
 Bobak dkk. 1995. Keperawatan maternitas. Jakarta: EGC.
 Cunningham, F. G. (2005).Obstetri Williams.Jakarta: EGC. Edisi: 21
 Mansjoer Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media
Aesculaplus.
 Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetry Jilid I. EGC: Jakarta
 Myrtha, Risalina. 2015. Penatalaksanaan Tekanan Darah pada Preeklampsia.
CDK-227/ Vol. 42 No. 4.
 Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Diagnosis dan Tatalaksana
Preeklampsia 2016.
 Pedoman Pengobatan Dasar Puskesmas 2008.
 Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta:YBP – SP.
 Pritchard JA, MacDonald PC, Gant NF. Williams Obstetrics, 20th ed. R
Hariadi, R Prajitno Prabowo, Soedarto, penerjemah. Obstetri Williams. Edisi
20. Surabaya:Airlangga University Press, 2001; 456-70.
 Winkjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP
Chalik TMH. Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Widya
Medika, 1997; 109-26.