Anda di halaman 1dari 34

SOSIALISASI SEJARAH PUISI

INDONESIA di SMA 1
SUMEDANG
Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi Pengabdian

pada Masyarakat

Universitas Padjadjaran

2018
TOPIK

Pendahuluan Tokoh Sastra


1 4

2 Puisi 5 Contoh Puisi

3 Unsur Puisi 6 Sejarah Puisi


Pendahuluan
Pendahuluan

Latar Belakang Tujuan

Pada Kurikulum 2013 (K13) yang telah • Meningkatkan pengetahuan siswa


diimplementasikan lebih mengutamakan tentang sastra dan sejarah puisi
aspek bahasa (kalimat) sehingga • Meningkatkan kepeduliaan siswa
kurangnya konten sastra dalam mengenai sastra dan mampu
kurikulum tersebut. Padahal, bahasa
merupakan media untuk melahirkan mengapresiasi karya sastra
sastra. Namun, tidak semua teori
bahasa dapat disepadankan dengan
praktik sastra. Yang lebih baik,
pembelajaran bahasa berbasis (karya)
sastra. Artinya, sastra sebagai modal
dalam pembelajaran bahasa Indonesia,
bahkan bisa juga diterapkan ke mata
pelajaran lain.
Ssst.. Prates dulu yaa Hehe

http://bit.do/PratesPuisi
Puisi
Apa Itu Puisi??
/pu·i·si/
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Puisi yaitu
1
Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima, serta 3
Sajak
penyusunan larik dan bait.

2
Gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara

cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman

dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama,

dan makna khusus


Unsur Puisi
Apa Saja yang Termasuk Unsur
Puisi??
unsur utama terbentuknya
sebuah puisi. Pemilihan
kata (diksi) yang tepat
sangat menentukan
kesatuan dan keutuhan
unsur-unsur yang lain

kumpulan larik Larik bisa berupa satu


yang tersusun kata saja, bisa frase, bisa
Bait Kata Larik pula seperti sebuah
harmonis kalimat.

bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh Rima Irama (Ritme) pergantian tinggi rendah, panjang
huruf atau kata-kata dalam larik pendek, dan keras lembut ucapan
dan bait. bunyi
Siapakah Tokoh Sastra yang Kamu
Ketahui???
Tokoh Sastra
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922. Chairil Sapardi Djoko Damono lahir di Solo, Jawa Tengah, tanggal 20
Anwar yang dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam Maret 1940. Sapardi mengumpulkan sajaknya dalam buku yang
karyanya berjudul Aku) adalah pelopor Angkatan ’45 yang berjudul Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium
menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan
terkesan sangat lugas, solid dan kuat. Dia bersama Asrul Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000), Mata Jendela
Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia. (2000), dan Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003)
Dengan puisi terkenal yang berjudul Dengan Puisi terkenal yang berjudul
“Sebuah Jaket Berlumuran Darah”
“Tapi”
Dengan puisi terkenal
Dengan puisi terkenal
yang berjudul “Surat
yang berjudul “Surat
Cinta” Kopi”
Tebak-tebak
Berhadiaahh!!!
Cing ciripit
Tulang bajing kacapit
Kacapit ku bulu pare
Bulu pare seuseukeutna
Jol pa dalang mawa wayang
Jrek-jrek nong, jrek-jrek nong
Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Sing jauh tina maksiat anaking
Ngarah salamet akherat

Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Susah senang omat sholat anaking
Beunghar kade poho zakat

Jampe-jampe harupat
Pek dudunya satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek hirup saumur dunya
Oray-orayan
Luar leor ka sawah
Entong kasawah
Parena keur sedeng beukah
Oray-orayan
Luar leor ka kebon
Entong ka kebon
Di kebon loba nu ngangon
Mending ka leuwi
Di leuwi loba nu mandi
Saha anu mandi?
Anu mandina pandeuri
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta.
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti dijantung
puisi ini dipisahkan kata-kata.
Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang
dan seorang petualang yang hilang.
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.
Seorang ayah membelah anak dari ibunya, dan sebaliknya.
Atau senyummu, dinding diantara aku dan ketidakwarasan.
Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dan tidur.
Apa kabar hari ini ?
Lihat, tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi.
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
MATA HITAM

Dua mata hitam adalah matahati yang biru


dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu.
Rindu bukanlah milik perempuan melulu
dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu.
Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi
kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi.
Dua mata hitam adalah rumah yang temaram
secangkir kopi sore hari dan kenangan yang terpendam.
MALU AKU JADI ORANG Pada presiden yang tak solutif
INDONESIA
Pada dewan dan majelis yang tak
Di negeriku yang didirikan pejuang bermufakat
religius Pada semua bullshit yang
Kini dikuasai pejabat rakus menggema saat pemilu
Kejahatan bukan kelas maling sawit Pada nafsu yang didukung asing dan
melainkan permainan lahan duit
aseng
Di negeriku yang dulu agamis
Sekarang bercampur liberalis sedikit Rakyat kelas teri tak berdosa pun
komunis digoreng
Ulama ulama diancam karena tak Kusaksikan keindahan negara yang
punya pistol
Yang mengancam tinggal dor menegakkan khilafah
Hukum hukum keadilan tergadai Diceritakan hidup mereka sejahtera
kepentingan politis Lalu ditanyai dari mana asalku
Akidah akidah tergadai materialistis Kusembunyikan muka
Aku hidup di negara mayoritas Tak kujawab aku dari Indonesia
beragama Islam Negara yang kini tumbuh benih
Tapi kami tersudut dan terancam
Telah habis sabarku islamophobia
Telah habis sabar kami
Garis Waktu(Kalau Saja Aku Mampu)

Kalau saja aku mampu,Sudah kubalikkan waktu agar saat itu tak jadi
mengenalmu.
Kalau saja aku mampu,Sudah kuarungi hariku tanpa harus
memikirkanmu.
Kalau saja aku mampu,Sudah kutarik jiwaku yang ingin berada di
sebelahmu.
Kalau saja aku mampu,Sudah kuminta hatiku agar berhenti
merasakanmu.

Tapi aku mampu memandangimu dari kejauhan tanpa berhenti untuk


mendoakan. Aku juga mampu menjadi rumah untukmu, menunggumu
yang tak tahu arah pulang. Sungguh aku mampu merindukanmu tanpa
tahu waktu, tanpa sedikit pun alasan. Untukmu, aku mampu. Karena
kau pantas dengan semua pengorbanan.
Sejarah Puisi
Sejarah Puisi

Abad Abad Abad


1920-an
ke- 4 Ke-13 Ke-16

Kerajaan Hindu Kerajaan Islam Kolonial Puisi Indonesia


Budha Modern
Pada zaman kolonial
Puisi sudah terdapat Terdapat Puisi Lama Puisi “Tanah Air” yang
puisi sudah
pada prasasti aksara Seperti Syair yang ditulis oleh M. Jamin
terpengaruhi dengan
palawa memiliki rima a-a-a-a (Muhammad Yamin)
bangsa barat menjadi
dalam Jong Sumatra
puisi bebas
No. 4, Tahun III, April
1920
Prasasti Yupa (Muarakaman) III

Prasasti ini menyebutkan


tentang kebaikan budi dan
kebesaran Raja
Mulawarman, raja besar
No. Inventaris : D.2 c
yang sangat mulia, yang Tempat Temuan : Muarakaman Kutai, Kalimantan Timur
diwujudkan dengan
Aksara : Pallawa
sedekah yang banyak
Bahasa : Sanskerta
sekali. Berhubung dengan
Tahun : Sekitar 450 Masehi
kebaikan itulah maka para
Brahmana mendirikan tugu
(yupa) ini sebagai
peringatan.
Prasasti Yupa (Muarakaman) III

Alih Aksara
śrīmad virāja kīrtteh
rājñaḥ śrī mūlavarmmaṇaḥ puṇyam
śṛṇvantu vipramukhyāḥ
ye cānye sādhavaḥ puruṣāḥ
bahudāna jīvadanam
śakalpavṛkṣam sabhūmidānañ ca
teṣām puṇyagaṇānām
yupo yam sthāpito vipraiḥ
(1) çrīmad-virāja-kīrtteḥ
(2) rājñaḥ çrī- Mūlavarmmaṇaḥ puṇyam
(3) çṛnvantu vipramukhyāh
(4) ye cānye sādhavaḥ puruṣāḥ
(5) bahudāna-jīvadānam
(6) sakalpavṛkṣaṃ sabhūmidānañ = ca
(7) teṣām = puṇyaganānām
(8) yūpo yaṃ sthāpito vipraiḥ
Syair
(1) Hidup di bumi sementara (4) Jika mengambil suatu tindak
Hidup di Sana selamanya Pikirlah dengan nalar yang bijak
Ingatlah wahai kawan semua Agar hati tidak menyesak
Janganlah sampai engkau terlupa Karena salah mengambil tindak
(2) Luka di kaki masih bisa diobati (5) Jikalau punya harta melimpah
Pun begitu pula luka di jari Janganlah lupa untuk sedekah
Namun jika sudah luka di hati Agar hartanya jadi barokah
Sungguh sukar untuk diobati Dan harta jadi makin faedah
(3) Rukun Islam itu lima jumlahnya (6) Jikalau hendak menilai insan
Syahadat salat lalu puasa Jangan menilai dari tampilan
Berzakat jika sudah berharta Tampilan bisa jadi tipuan
Berhaji jika sudah berdaya Untuk menutup borok di badan
Tanah Air Bukannya janat bumi kedua
Pada batasan, bukit Barisan, -Firdaus Melayu di atas dunia!
Memandang aku, ke bawah Itulah tanah yang kusayangi,
memandang;Tampaklah Hutan, Sumatera, namanya, yang
rimba, dan ngarai; kujunjungi.
Lagipun sawah, sungai yang Pada batasan, bukit barisan,
permai; Memandang ke pantai, teluk
Serta gerangan, lihatlah pula; permai;
Langit yang hijau bertukar warna; Tampaklah air, air segala,
Oleh pucuk, daun kelapa; Itulah laut, samudera Hindia,
Itulah tanah, tanah airku Tampaklah ombak, gelombang
Sumatera namanya, tumpah pelbagai
darahku. Memecah kepasir lalu berderai,
Sesayup mata, hutan semata; Ia memekik berandai-randai :
Bergunung bukit, lembah sedikit; “Wahai Andalas, Pulau Sumatera,
Jauh di sana, disebelah situ, “Harumkan nama, selatan utara !”
Dipagari gunung, satu persatu
Adalah gerangan sebuah surga,
Games Kuyy! 
kahoot.it
Jika buku jendela dunia. Maka membaca adalah
kuncinya. Banyak baca banyak ngaca.
“Cuma Perlu Satu Buku Untuk Jatuh Cinta pada
Membaca. Cari Buku Itu. Mari Jatuh Cinta”
- Najwa Shihab
Eittss.. Masih ada Postes Guys
Semangat!!

http://bit.do/PostesPuisi
Hatur Nuhun! 