Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN

KASUS

MANAGEMEN ANESTESI LOKAL


PADA PASIEN BASALIOMA

NAMA : Nurul Hildayanti Ilyas

Pembimbing : dr. Zulfikar Tahir, M.Kes,


Sp. An.
Pendahuluan
Anestesi
Identitas Pasien

 Nama : Ny. DJ
Anamnesis
 Keluhan Utama : Benjolan pada daerah
rahang bawah kiri.
 Anamnesis Terpimpin : Pasien Perempuan 75
tahun, masuk RSUD Syekh Yusuf dengan keluhan
adanya benjolan pada daerah rahang kiri sejak ± 3
bulan yang yang lalu. Awalnya berupa benjolan
seperti tahi lalat sebesar biji jagung. Benjolan
awalnya kecil, berwarna hitam, bulat, tidak nyeri
dan tidak gatal. Namun benjolan tersebut semakin
lama semakin bertambah besar, terasa nyeri dan
gatal sehingga pasien sering menggaruknya.
Riwayat asma (-), alergi (-), penyakit jantung (-),
riwayat hipertensi (+), riwayat DM (-).
 Riwayat Penyakit Sebelumnya : Tidak ada
Pemeriksaan Fisik
Status Generalisata
Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Composmentis GCS 15 (E4M6V5)
Status Gizi : Baik
Tanda Vital
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Nadi : 88x/menit, reguler
Suhu : 36,3 0C
Pernapasan : 22x/menit
VAS :2
Kepala : Normocephali, rambut berwarna hitam, distribusi
merata, tidak mudah dicabut, tidak rontok.
Mata : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil
isokor
Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thorax
Paru : Suara nafas vesikuler, rhonki (-), wheezing (-)
Jantung : Bunyi jantung I dan II reguler,murmur
Abdomen : Ikut gerak napas, peristaltik (+) kesan normal
Ektremitas : Akral hangat, edema (-), sianosis (-)
Terpasang kateter : Tidak terpasang
Berat Badan : 45 kg
Tinggi Badan : 147 cm
 
Status Lokalis
Regio Mandibula sinistra: tampak benjolan dengan diameter ± 2,3
cm, Konsistensi lunak, dan terasa nyeri (+).
Pemeriksaan Penunjang
 Tanggal 26/10/2018
Hematologi
WBC 6,9 x 103/µL
RBC 3,98 x 106/µL
HGB 11,9 g/dL
HCT 36,1 %
PLT 182 x 103/µL

Kimia Darah
GDS 77 mg/dL
SGOT/SGPT 17/16 U/L
Ureum/Kreatinin 22 / 0,4 mg/dL
Hemostasis
CT 9’
BT 2’15’’
PT 15,4 detik
APTT :33,2 detik
Serologis
HbsAg Non-Reaktif
 Kesan Anestesi
Pasien perempuan berusia 75 tahun dengan
diagnosis Basalioma, klasifikasi ASA PS II.

 Penatalaksanaan Pre Operatif


 Informed consent mengenai tindakan operasi yang

akan dilakukan.
 Informed consent mengenai pembiusan dengan

anestesi lokal.
 Menyampaikan pada pasien mengenai persiapan

operasi yaitu puasa ± 8 jam mulai pukul 00.00


WITA.
 KESIMPULAN
 Berdasarkan hasil anamnesis dan

pemeriksaan fisik maka dapat


disimpulkan:
 Diagnosa Peri Operative : Basalioma

 Status Operative : ASA PS II


 Jenis Operasi : Radical excision of
skin lession.
 Jenis Anestesi : Anestesi lokal
Laporan Anestesi
 PRE OPERATIF
 Informed consent kepada pasien tentang tindakan anestesi
yang akan dilakukan.
 Pasien puasa selama ± 8 jam sebelum operasi dimulai.
 Kandung kemih tidak terpasang kateter.
 Sudah terpasang cairan infus RL.
 Keadaan umum: compos mentis.
 Tanda vital:
 Tekanan darah : 140/90 mmHg
 Nadi : 82 x/menit
 Frekuensi napas : 20 x/menit
 Suhu : 36,5 celcius

 TINDAKAN ANESTESI
 Anestesi lokal
PENATALAKSANAAN ANESTESI
 Memastikan alat-alat dan medikasi yang dibutuhkan selama

proses anestesi sudah lengkap seperti:


 Kasa steril.

 Sarung tangan steril.

 Povidon Iodine.

 Plester.

 Lidocaine HCl 2%.

 Spuit 10 cc.

 Lampu.

 Monitor tanda vital.

 Alat-alat resusitasi.

 Obat-obat anestesi lainnya jika dibutuhkan seperti fentanil,

midazolam, ephedrin, atropin, pethidin, ketamin dan propofol.


 INTRA OPERATIF
Pasien diposisikan pada posisi yang nyaman
yaitu posisi supine dan memudahkan operator
untuk melaksanakan operasi, karena lokasi
daerah lesi tersebut berada didaerah mandibula
sinistra. Pasien diinjeksikan obat fentanil 8 cc
(80 mikrogram), dan midazolam 3 mg, setelah
itu dilakukan anestesi lokal disekitar lesi
(benjolan) pada pukul 10.30 WITA
menggunakan Lidocaine HCl 2% setelah itu
dilakukan tindakan eksisi pada basalioma dan
lama operasi berlangsung 40 menit.
 Monitoring tanda-tanda vital (monitor):
 Kesadaran : Composmentis
 TD : 130/80mmHg
 Nadi : 88 x/meit
 Pernapasan : 20x/menit
 SpO2 : 99%

 PASCA OPERATIF
 Pasien masuk diruang pemulihan.
 Monitoring tanda-tanda vital post operasi.
 Evaluasi keluhan post operasi.
 Pasien dipindahkan ke ruang perawatan V RSUD Syekh
Yusuf.
Pembahasan
 Pasien Perempuan, 75 Tahun Masuk RSUD Syekh
Yusuf. Dari Bedah di diagnosis Basalioma dan
direncanakan untuk dilakukan eksisi pada lesi.
 Visite pre-operatif anestesi, pasien memiliki riwayat
hipertensi terkontrol sehingga termasuk dalam
klasifikasi ASA II ( pasien dengan penyakit sistemik
ringan)
 Pada pasien ini, pasien dipuasakan sebelum
operasi, tujuannya untuk pengosongan lambung
sebelum anestesi penting untuk mencegah aspirasi
isi lambung karena regurgitasi dan muntah pada
pembedahan elektif.
 Pilihan Anestesi pada kasus ini adalah anestesi
lokal dengan infiltrasi, dimana berdasarkan
referensi mengenai eksisi pada basalioma
dilakukan anestesi lokal dengan menggunakan
lidokain Hcl 2% sebagai blok saraf.
 Pada pasien ini diberikan obat premedikasi
yaitu injeksi fentanyl dan midazolam.
 Setelah operasi selesai pasien dipindahkan
keruang pemulihan dan dievaluasi tanda-tanda
vital dan kesadaran serta keluhan jika ada,
kemudian pasien dipindahkan ke perawatan.
Tinjauan Pustaka
 Anestesi lokal didefinisikan sebagai
suatu tindakan yang menyebabkan
hilangnya sensasi rasa nyeri pada
sebagian tubuh secara sementara yang
disebabkan adanya depresi eksitasi di
ujung saraf atau penghambatan proses
konduksi pada saraf perifer. Anestesi
lokal menghilangkan sensasi rasa nyeri
tanpa hilangnya kesadaran yang
menyebabkan anestesi lokal berbeda
dari anestesi umum
Golongan obat anestesi
lokal
Mekanisme dari anestesi lokal adalah
memblok kanal natrium (voltage gated
channel sodium)
Penggolongan obat

 Golongan Ester  Golongan Amida (-


NHCO-)
(-COO-).  Lidokain
 Prokain
 Mepivakain

 Tetrakain  Bupivacaine

 Prilokain
 Kokain
 Artikain
 Benzokain
 Dibukain

 Kloroprokain  Ropivakain

 Etidokain

 Levobupivakain
Potensi dan lama kerja
No. Anestesi local Dosis Maksimum
1. Lidokain 7,0 mg/kgBB (3,2 mg/Ib BB)
2. Mepivakain 6,6 mg/kgBB (3,0 mg/Ib BB)
3. Artikain 7,0 mg/kgBB ( mg/Ib BB)
4. Bupivakain 2,0 mg/kgBB ( mg/Ib BB)
5. Prilokain 8,0 mg/kgBB (3,6 mg/Ib BB)
6. Etidokzin 8,0 mg/(3,6kgBB ( mg/Ib BB)
 Efek samping anestesi lokal yang
mungkin terjadi: kerusakan saraf, reaksi
alergi, kerusakan vaskuler,
pneumotoraks (pada blok pleksus),
infeksi pada area injeksi, injeksi
intravaskuler, nekrosis jaringan (jika
menggunakan vasokonstriktor), reaksi
toksik sistemik, reaksi sistem saraf
pusat, hiperventilasi, agitasi, depresi
napas, hipotensi, atau aritmia
Basalioma
 Karsinoma sel basal (basalioma) adalah
keganasan kulit yang berasal dari sel
nonkeratinisasi lapisan basal epidermis.
Karsinoma Sel Basal (KSB) disebut juga
basalioma, epitelioma sel basal, ulkus rodent,
ulkus Jacob, atau tumor Komprecher.
 Terdapat 5 subtipe KSB yaitu KSB nodular,
superfisial, morpheaform, KSB berpigmen, dan
fibroepitelioma Pinkus. Subtipe nodular yang
paling sering dijumpai) berupa papul atau nodus
translusen, telangiektasia, dan rolled border
 Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan
histopatologi dari salah satu lesi untuk
menentukan subtipe KSB.
 Pemilihan tatalaksana KSB dipertimbangkan
berdasarkan lokasi anatomis dan gambaran
histopatologi. Secara garis besar, terapi KSB
dikelompokkan menjadi teknik bedah dan non-bedah.
Tujuan dari penatalaksanaan KSB adalah
menghilangkan total lesi KSB, menjaga jaringan
normal, fungsi jaringan, serta mendapatkan hasil
optimal secara kosmetik.
TERIMA KASIH