Anda di halaman 1dari 71

RESEP

A. Mumtihanah Mursyid
Contoh Resep

Created by: A.Mumtihanah Mursyid


Seni penulisan resep sudah ada sejak lama. Misalnya pada zaman Mesir
kuno, mereka menuliskan doa-doa dalam melakukan upaya
penyembuhan terhadap pasien. Demikian puka formula-formula ramuan
banyak yang ditemukan dalam bentuk tulisan dipotongan-potongan batu
dan ataupun kulit hewan, daun lontar.

Resep adalah suatu permintaan tertulis dari Dokter, Dokter gigi, kepada
Apoteker Pengelola Apotek untuk menyediakan obat dan menyerahkan
kepada penderita.
Resep (Recipe) dalam bahasa latin artinya Ambilkan, Atau
ambillah yang merupakan permintaan dokter kepada
Apoteker dalam permintaan itu dokter menyerahkan kepada
Apoteker untuk mengolah, meracik dan mempersiapkan obat
sesuai jumlah, dosis yang diminta dan atau perlu di atur
kembali sebelum dikonsumsi. Disamping itu penggunaan
bahasa Latin akibat dari pengembangan profesi apoteker di
zaman kekaisaran romawi.
Fungsi resep :

 Sebagai perwujudan cara terapi

 Merupakan dokumen legal

 Sebagai catatan terapi

 Merupakan media komunikasi


Bagian-bagian dari resep adalah :
a. Inscriptio (identitas dokter penulis resep, SIP, alamat, kota,
tanggal dan R/
b. Praescriptio (Inti resep, terdiri dari nama obat, BSO, Dosis
obat dan jumlah obat)
c. Signatura, tanda yang harus ditulis di etiket obat (nama
pasien dan petunjuk pemakaian).
d. Subscriptio, tanda tangan atau paraf dokter.
dr. I Gede Anu
No. Ijin Dokter
Alamat : Jl. Hayam Buruk
INSCRIPTIO
Telp :

29 september
08

Nebacetin Powder Fl No. I ORDINATIO

Sue SIGNATURA
paraf SUBSCRIPTIO

Pro : Made Sableng


Umur : 27 th SIGNATURA
Alamat : Jl. Lengeh Denpasar
Resep yang baik adalah resep yang jelas dan dapat dibaca,
resep harus memenuhi peraturan yang ditetapkan oleh SK.
MENKES RI No. 26 MenKes/Per/1981, Bab III, pasal 10,
yang memuat :
1. Nama, alamat dan No Surat Ijin Praktek Dokter
2. Tempat dan tanggal penulisan resep
3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan obat.
4. Nama setiap obat/komponen resep (dengan Bentuk sediaan obat,
Dosis,Jumlah dan petunjuk pemakaian)
5. Tanda tangan/ paraf dokter, alamat jelas rumah untuk obat narkotika
6. Tanda seru/paraf dokter, pada obat yang melebihi dosis maksimum.
7. Nama penderita
Resep dokter hewan hanya ditujukan untuk
penggunaan pada hewan.
Untuk penderita yang segera memerlukan obatnya,
dokter menulis dibagian kanan atas resep: Cito,
Urgent = segera,
P.I.M – periculum in mora = berbahaya bila ditunda.
Maka resep ini harus dilayani lebih dahulu.

Bila dokter menginginkan resepnya diulang maka


dokter akan menulis tanda iter pada resenya, tetapi
bila tidak ingin resepnya yang mengandung obat keras
tanpa sepengetahuannya diulang, dokter akan menulis
tanda N.I = Ne iteretur = Tidak boleh diulang
Resep narkotika adalah resep yang menuliskan obat yang tergolong dalam
narkotika menurut peraturan perundang-undangan Contoh obat narkotika yang
sering ada di apotek dan rumah sakit adalah Codein, Doveri, injeksi pethidin
dsb.

Resep yang mengandung obat narkotika maka resep tersebut selain memenuhi
aturan diatas juga harus memenuhi hal-hal dibawah ini :
•Tidak boleh ada iterasi (ulangan)
•Nama pasien harus ditulis tidak boleh m.i = mihi ipsi = untuk dipakai sendiri
•Alamat pasien harus ditulis lengkap.
•Aturan pakai signa yang jelas, tidak boleh ditulis sudah tahu pakai (usus
cognitus).
•Alamat tempat tinggal jelas dokter yang menulis resep.

Bila terdapat resep yang tidak memenuhi aturan-aturan diatas, maka


resep tersebut tidak dapat dilayani, begitu pula resep narkotika yang
telah diambil sebagian oleh pasien diapotek lain.
PENYIMPANAN RESEP
 Cara menangani resep yang telah dikerjakan adalah :
 Resep yang telah dibuat disimpan menurut urutan tanggal
dan nomer penerimaan / pembuatan resep.
 Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari
resep lainnya, tandai garis merah dibawah nama obatnya.
 Resep yang telah disimpan selama 3 tahun dapat
dimusnahkan dan cara pemusnahannya adalah dengan cara
dibakar atau dengan cara lain yang memadai.
 Pemusnahan dilakukan oleh Apoteker pengelola bersama
dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik.
PEMUSNAHAN RESEP

Pada pemusnahan resep harus dibuatkan berita acara pemusnahan sesuai


dengan bentuk yang telah ditentukan dalam rangkap empat dan ditandatangani
oleh Apoteker Pengelola Apotik dan seorang petugas apotik yang ikut
memusnahkan.
Berita acara pemusnahan ini harus disebutkan :
a. Hari dan tanggal pemusnahan
b. Tanggal yang terawal dan terakhir dari resep.
c. Berat resep yang dimusnahkan dalam kilogram.
Istilah Resep Dokter
 Misalnya :
I tab p.o. b.i.d p.c.
Artinya 1 tablet diminum 2x sehari setelah makan

Kode asal kata arti

a.c. ante coenam sebelum makan


a.d / AD aurio dexter telinga kanan
a.l. aurio laeva telinga kiri
a.s. / AS auris sinister telinga kiri
a.u. / AU auris utro kedua telinga dll,
SINGKATAN LATIN DALAM
PENULISAN RESEP
a.c ante coenam sebelum makan
Prn pro re nata jika diperlukan saja
p.C post coenam setelah makan
d.t.d da tales dose berikan dalam takaran tsb
3.d.d 3 de die tiga kali sehari
c cochleare sendok makan
caps capsulae kapsul
tab tablet tablet
cito cito segera
cth cochleare tea sendok the
s.u.c singna usus cognitus pemakaian diketahui
s.u.e signa usus externus untuk pemakaian luar
Pulv pulveres serbuk terbagi
m.f misca fac buatlah
SINGKATAN LATIN DALAM
PENULISAN RESEP
 aa anna, takaran obat dibawah sama dengan yang diatasnya
 ad ad hingga /sampai
 ad. Lib. ad libitum digunakan sesuai keinginan $(bebas)
 alt. die. alternus die setiap lain hari
 alt. h. alternus hora setiap lain jam
 amp. ampule 1 dosis unit
 aq aqua air
 b.d. bis die 2x sehari
 b.i.d. bis in die 2x sehari
 b.i.n. bis in noctus 2x semalam
bis bis dua kali
TUGAS :
 Tuliskan kepanjangan singkatan latin di bawah ini dan
artinya !

1.S o m et v cap1
2.S applic loc dol
3.S prn cc1
4.S t dd gtt I ods
5.Mf sol S.U.E
6.s t dd gtt II ads
Penulisan Etiket
Etiket dalam penggunaannya dibedakan atas dua yaitu : untuk
penggunaan luar warna biru dan untuk penggunaan dalam
warnanya putih.

Yang tercantum pada etiket adalah :


1. Nama, alamat dan No. Tlp Apotek
2. Nama dan No SIK Apoteker Pengelola Apotek
3. Nomor dan Tanggal Pembuatan Resep
4. Nama Pasien
5. Aturan Pemakaiaan
6. Aturan Lain : Obat luar, Kocok dahulu dan sebagainya.
APOTEK FARMASI UMI APOTEK FARMASI UMI

JL. Urip Sumuharjo Kampus II UMI JL. Urip Sumuharjo Kampus II UMI

Apoteker : Apoteker :

SIA No. : SIA No. :

No. : Tgl : No. : Tgl :

Nama : Nama :

Aturan Pakai : Aturan Pakai : Tablet

X Sehari Kapsul

Bungkus

OBAT LUAR Sendok

Kocok Dahulu
Penulisan Copy Resep
Salinan resep atau copy resep atau Apographum adalah
salinan tertulis dari resep.

Salinan resep berisikan semua yang tertulis pada resep


ditambahkan dengan :
1. Nama dan alamat Apotek
2. Nama dan No. SIK APA
3. Tanda tangan / paraf APA
4. Tanda nedet = Obat yang belum diserah ,
Det = Obat yang sudah diserahkan
APOTEK FARMASI UMI
Jl. Urip Sumoharjo Kampus II UMI
Makassar
Apoteker :
SIA No. :

SALINAN RESEP
Dari Dokter :
Untuk :
Tgl Resep : No. Resep :

R/ Erythrocin 1650 mg
Cotrimoksazole 10 tb
Luminal 3 tb
Asvex 120 mg
Ambroxol 3¼ tb
Sach Lactis qs
m.f Pulv No XV
S tdd I Pulv P.C
DET

R/ Doksisiklina HCl 20 mg
Sl qs
m.f.pulv dtd no X
S bdd I pulv
DET
PCC
Resep dari : dr. Riana Katamsi
Tanggal : 26 Maret 2016
Untuk : Tn. Ang Yu Lie
Umur : dewasa
Bila obat diserahkan kepada pasien
Iter 4X pertama kali maka dibuat copy resep
Nitrazepam 4 mg yang pertama, kata iter 4X harus
Laroxyl 4 mg ditulis, dan kata detur orig
Lexotan 2 mg (detur original) yang menyatakan
Mf cap dtd no. X S1 dd cap1 vesp obat telah diserahkan sesuai
detur orig dengan resep asli dari dokter.
Selanjutnya pasien masih dapat
Jakarta, 6 April menebus 4 kali lagi.
2016
Pcc
Tanda tangan/paraf Pembuat
copy resep
Stempel Apotik
Resep dari : dr. Riana Katamsi
Tanggal : 26 Maret 2016
Untuk : Tn. Ang Yu Lie
Umur : dewasa

Iter 4X Bila kemudian pasien menebus


Nitrazepam 4 mg kembali obatnya, maka pada copy
Laroxyl 4 mg resep berikut ditulis detur orig + 1X
Lexotan 2 mg atau ditulis detur 2X
Mf cap dtd no. X S1 dd cap1 vesp
detur orig + 1x
atau detur 2x

Jakarta, 16 April
2016
Pcc
Tanda tangan/paraf Pembuat
copy resep
Stempel Apotik
Resep dari : dr. Riana Katamsi
Tanggal : 26 Maret 2016
Untuk : Tn. Ang Yu Lie
Umur : dewasa

Iter 4X Bila kemudian pasien menebus


Nitrazepam 4 mg kembali obatnya (copy resep diulang
Laroxyl 4 mg 3 kali), maka pada copy resep
Lexotan 2 mg berikut ditulis detur orig + 2X
Mf cap dtd no. X S1 dd cap1 vesp atau ditulis detur 3X
detur orig + 2x
atau detur 3x

Jakarta, 26 April
2016
Pcc
Tanda tangan/paraf Pembuat
copy resep
Stempel Apotik
Resep dari : dr. Riana Katamsi
Tanggal : 26 Maret 2016
Untuk : Tn. Ang Yu Lie
Umur : dewasa

Iter 4X Bila kemudian pasien menebus


Nitrazepam 4 mg kembali obatnya (copy resep diulang
Laroxyl 4 mg 4 kali) , maka pada copy resep
Lexotan 2 mg berikut ditulis detur orig + 3X
Mf cap dtd no. X S1 dd cap1 vesp atau ditulis detur 4X
detur orig + 3x
atau detur 4x

Jakarta, 6 Mei
2016
Pcc
Tanda tangan/paraf Pembuat
copy resep
Stempel Apotik
Resep dari : dr. Riana Katamsi
Tanggal : 26 Maret 2016
Untuk : Tn. Ang Yu Lie
Umur : dewasa

Iter 4X Bila kemudian pasien menebus


Nitrazepam 4 mg kembali obatnya (copy resep diulang
Laroxyl 4 mg 5 kali) , maka pada copy resep
Lexotan 2 mg berikut ditulis detur orig + 4X
Mf cap dtd no. X S1 dd cap1 vesp atau ditulis detur 5X
detur orig + 4x
atau detur 5x

Jakarta,1 6 Mei
2016
Pcc
Tanda tangan/paraf Pembuat
copy resep
Stempel Apotik
Apotek Prapanca
Jl. Prapanca Raya No.17 Kebayoran Baru Jakarta
Selatan Apoteker: Sruni Sarasati, S.Si, Apt
SP: 2256/P/XI/2017
Copy resep
Resep dari : dr. Amelia Sasongko, Sp.KJ.
Tanggal : 27 Maret 2016 TUGAS :
Untuk : Nn. Listia 24 tahun
Umur : 24 tahun Jelaskan apakah pasien
Nn. Listia 24 tahun,
Iter 2x masih dapat menebus resep
R/ Dilantin 100 mg berikutnya, bila ya bagaimana
Carbamazepine 200 mg Copy Resep yang harus
Luminal 30 mg saudara buat ?
Diazepam 2 mg
Mf pulv dtd no.XXX
S 3 dd pI
detur orig + 18

Jakarta, 28 Maret
2016
Pcc
Nina Mulyana
Pembuatan Resep

Yang berhak membuat resep adalah Apoteker dan Asisten Apoteker


dibawah pengawasan Apoteker.

Apoteker harus menyerahkan obat kepada penderita sesuai yang diminta


oleh Dokter yang tertulis di resep.

Apabila Apoteker menganggap dalam resep tersebut terdapat kekeliriuan


atau penulisan resep yang tidak tepat.

Apoteker harus memberitahukan kepada Dokter penulis resep.

Bila dokter penulis resep menganggap bahwa apa yang ditulisnya sudah
tepat, maka tanggung jawab sepenuhnya dilimpahkan kepada dokter.
Pembuatan Resep

Bila dokter tidak dapat dihubungi dalam resep yang dianggap dapat
membahayakan jiwa penderita, maka penyerahan obat dapat ditunda.

Resep yang tidak dapat dibaca secara jelas atau tidak lengkap, maka
Apoteker berkewajiban menanyakan kepada Dokter penulis resep.
(Permenkes No 26/Menkes/Per/11/1981).

Dokter tidak boleh memberi obat sendiri langsung kepada pasien pada
daerah yang telah ada apotik.

Dokter hanya boleh memberi obat jika pertolongan segera diperlukan


(pada pertolongan pertama), sedang obat yang diperlukan tidak segera dapat
diperoleh.
Pengecualian ini diperbolehkan hanya pada kunjungan pertama
dari dokter.

Bagi tempat yang belum ada Apotik, dokter diberi izin untuk
mengadakan persediaan obat-obat secukupnya untuk memenuhi
prakteknya sendiri. (SK Menkes 33148/Kab/176/1962)
Perhitungan Racikan
Contoh perhitungan racikan sediaan
serbuk (dtd):
R/ Paracetamol 500 mg ½ tb
Ctm 1 mg
S.L q.s
m.f pulv dtd No X
t d d pulv I
Pro : Shinta (3 tahun 9 bulan)
Jumlah bahan yang digunakan:
Parasetamol 500 mg

Ctm

Keterangan :
Parasetamol yang digunakan yang kekuatannya 500 mg
Tablet Ctm yang tersedia berkekuatan 4 mg
Perhitungan Pengenceran
Oleh karena itu terdapat ketentuan bahan yang jumlahnya
dibawah 30 mg atau 50 mg haruslah diencerkan terlebih
dahulu dengan bahan pengencer yang bersifat inert
biasanya sacharrum lactis untuk obat dalam atau bahan
lain yang terdapat dalam formula tersebut contoh
pengenceran :

Coffein 15 mg akan diencerkan dengan sacharum lactis


maka caranya :
15mg
xb  a
50mg

Ket :
a = 15 mg x c
b = 50 mg x c
c = Angka yang dikalikan dengan jumlah bahan (Untuk coffein =15 mg)
yang
hasilnya lebih dari 50 mg, tetapi nilainya mudah untuk ditimbang
menggunakan timbangan kasar
Sehingga hasilnya adalah :
15mg
x 200mg  60mg
50mg

Maksud perhitungan diatas adalah :


Ditimbang coffein : 50 mg
Sacharrum Lactis : 150 mg
Total : 200 mg
Dan dari campuran ini ditimbang 60 mg,
dimana campuran ini mengandung :
Coffein 15 mg dan Sacharrum Lactis sebanyak
45 mg
Perhitungan Racikan Sediaan Padat

Contoh perhitungan racikan sediaan


serbuk (dtd):
R/ CTM 2 mg
PCT 1/5 tab
S.L q.s
m.f.pulv.Dtd. No. XII
S 1-1-1
Pro : Andi (8 tahun 6 bulan)
Jumlah bahan yang digunakan:

CTM 2 mg
24 𝑚𝑔
= 2 𝑚𝑔 𝑥 12 = 24 𝑚𝑔 −→ = 6 𝑡𝑎𝑏
4 𝑚𝑔

PCT 1/5 tab


1
= 𝑥 12 = 2,4 𝑡𝑎𝑏
5

Keterangan :
Parasetamol yang digunakan yang kekuatannya 500 mg
Tablet Ctm yang tersedia berkekuatan 4 mg
Perhitungan Racikan Sediaan Padat

Contoh perhitungan racikan sediaan


kapsul (non dtd):
R/ GG 1500 mg
Efedrin HCl 150 mg
S.L q.s
m.f.pulv. No. XX
da in caps
S prn caps I
did
Pro : Brain (75 tahun)
Jumlah bahan yang digunakan:

GG 1500 mg
1500 𝑚𝑔 1500 𝑚𝑔
= = 750 𝑚𝑔 −→ = 15 𝑡𝑎𝑏
2 100 𝑚𝑔

Efedrin HCl 150 mg

150 𝑚𝑔 150 𝑚𝑔
= = 75 𝑚𝑔 −→ = 6 𝑡𝑎𝑏
2 25 𝑚𝑔
Ada keterangan “did” dalam resep, maka dari keseluruhan kapsul yang
diminta yaitu 20 dibagi dua untuk 10 kapsul

Keterangan :
Tablet GG di pasaran mengandung 100 mg zat aktif per tablet
Tablet Efedrin HCl di pasaran mengandung 25 mg zat aktif per tablet
Perhitungan Racikan Sediaan Cair
Contoh perhitungan racikan sediaan larutan :
R/ Etilmorfin 30 mg
Menthol 50 mg
Alkohol 2 ml
Sirop Thymi ad 100 ml
Karena berat Etilmorfin kurang dari 50 mg maka dilakukan
pengenceran dengan menggunakan pelarut dalam resep Sirop
Thymi.
Perhitungan Pengenceran
Etilmorfi ditimbang 50 mg kemudian dilarutkan dalam Sirop Thymi
add 10 ml.
Larutan diambil sebanyak
= 30 mg/50 mg x 10 ml = 6 ml.
Perhitungan Racikan Sediaan Cair
Contoh perhitungan racikan sediaan larutan :
R/ OBH FM 1
GG III tab
m.f syr 100 ml
S tdd 1 cth

Pro : Ani (9 tahun)

Komposisi OBH FM tiap 5 ml mengandung:


Glycrrhizae succus 100 mg
Efedrin HCl 5mg
CTM 2 mg
NH4Cl 40 mg
PCT 120 mg
*GG tab = 100 mg/tab
Jumlah bahan yang digunakan:

Glicyriizae succus = 100 mg/5 ml x 100 ml = 2000 mg = 2 g


Efedrin = 5 mg/ 5 ml x 100 ml = 100 mg
CTM = 2 mg/ 5 ml x 100 ml = 40 mg
PCT = 120 mg/ 5 ml x 100 ml = 2400 mg = 2,4 g
NH4Cl = 40 mg / 5 ml x 100 ml = 800 mg
GG = 3 tab x 100 mg = 300 mg
Aquadest add 100 ml

Perhitungan Pengenceran
CTM kurang dari 50 mg, maka ditimbang 50 mg dilarutkan dalam 5 ml
aquadest. Jumlah yang diambil = 40/50 x 5 ml = 4 ml.
Perhitungan Racikan Sediaan Semipadat

Contoh perhitungan racikan sediaan Krim :


R/ Triamcinolon acetas 0,1 %
Gentamisin sulfat 1%
m.f cream 30 g

Dibutuhkan :
Triamcinolon acetas = 0,1 % x 30.000 mg = 30 mg.
Dibuat pengenceran dengan menggunakan basis krim.

Pengenceran Triamcinolon acetas


= ditimbang 50 mg + Basis krim ad 500 mg.
Diambil sebanyak = 30 mg/ 50 mg x 500 mg = 300 mg

Gentamisin Sulfat = 1 % x 30.000 mg = 300 mg.


Basis krim = 30.000 mg – (300 mg + 300 mg) = 24.000 mg
= 24 g.
DOSIS
 Dosis adalah jumlah obat yang diberikan kepada pasien yang dapat
menimbulkan efek

 Dosis minimum adalah jumlah minimum obat yang masih dapat


memberikan efek.
 Dosis lazim adalah jumlah obat yang sering digunakan dan
merupakan dosis terapi.
 Dosis toksik adalah jumlah obat yang diberikan yang dapat
menimbulkan efek toksis
 Dosis letal adalah jumlah obat yang bila diberikan dapat
menimbulkan kematian
 Dosis maksimum adalah jumlah maksimum obat yang
dapat diberikan tanpa menimbulkan efek toksik
Ada beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi dosis

 Usia

 Bobot badan

 Luas permukaan badan

 Jenis kelamin

 Beratnya penyakit
Usia Anak-Anak
 Pada anak-anak atau bayi yang baru lahir, kepekaanya
terhadap obat sangatlah besar hal ini disebabkan karena
fungsi hati dan ginjalnya belum sempurna, begitu pula
system enzim belum berkembang dengan lengkap.
Parameter-parameter yang membedakan respon tubuh
terhadap obat pada anak-anak adalah :
 Pola ADME (Absorpsi, Distribusi, metabolisme dan Ekskresi)
 Perbedaan absorpsi oleh karena perbedaan relative dari kepadatan
sel.
 Perbedaan distribusi oleh karena persentase cairan ekstraseluler
dan cairan tubuh total relative lebih tinggi.
 Perbedaan ekskresi oleh karena glomerulus atau tubuli belum
berkembang sempurna.
Lanjutan..
 Sensitifitas intriksik yang berlainan terhadap bahan
obat.
 System enzim belum berkembang dengan lengkap
Sebagaicontoh chloramfenikol dimetabolisme oleh
enzim glukoronidaseyang ada di hati dimana pada bayi
enzim tersebut belum lengkapsehingga timbul
akumulasi khloramfenikol menimbulkan grey sindrom
 Sedangkan pada usia lanjut atau orang tua dengan usia diatas
65 tahun, juga memiliki kepekaan terhadap obat, hal ini
disebabkan karena :

 Sirkulasi darah yang kurang lancar.

 Fungsi hati dan ginjal telah mengalami penurunan, sehingga


eliminasi obat menjadi sangat lambat.

 Kurangnya albumin darah sehingga pengikatan obat berkurang


yang menyebabkan banyaknya obat bebas dan akibatnya dapat
menimbulkan keracunan akibat over dosis.

*
 kepekaan/respon reseptor (factor farmakodinamik)terhadap obat berubah,

 kesalahan minum obat lebih kurang 60 % karenapenglihatan,

 pendengaran telah berkurang dan pelupa,

 efek samping obat 2-3 kali lebih banyak dari dewasa,maka dosis obat perlu
diturunkan.

 Karena besarnya kepekaan obat pada orang tua, bebrapa literature


menganjurkan dosis untuk orang tua adalah sebagai berikut :
 65 -74 tahun dosis biasa – 10%
 75 – 84 tahun dosis biasa – 20%
 Diatas 85 tahun dosis biasa – 30%
Bobot badan
 Pasien obesitas mempunyai akumulasi jaringan lemak
yang lebih besar, dimanajaringan lemak mempunyai
proporsi air yanglebih kecil dibandingkan dengan
jaringanotot. Jadi pasien obese mempunyai proporsicairan
tubuh terhadap berat badan yanglebih kecil daripada
pasien dengan beratbadan normal, sehingga
mempengaruhivolume distribusi obat
Jenis kelamin..
 Wanita dianggap lebih sensitive terhadappengaruh obat
dibandingkan pria.

 Pemberian obat pada wanita hamil jugaharus


mempertimbangkan terdistribusinyaobat ke janin seperti :

 pada obat-obat anestesi, antibiotic,barbiturate, narkotik, dan


sebagainya yangdapat menyebabkan kematian janin
ataukerusakan kongenital
Status patologi
 Kondisi patologi seperti pasien denganfungsi ginjal & hati
yang rusak/ tergangguakan menyebabkan proses
metabolismeobat yang tidak sempurna. Sebagai
contohpemberian tetrasiklin pada keadaanginjal/hati
rusak akan menyebabkanterakumulasinya tetrasiklin dan
terjadikerusakan hati. Maka harus dipertimbangkandosis
obat yang lebih rendah dan frekuensiobat diperpanjang
PERHITUNGAN DOSIS MAKSIMAL

Dalam literature biasanya yang tercantum


hanyalah DM untuk orang dewasa
sedangkan anak-anak tidak. Maka perlu
untuk menghitung DM. yang digunakan
biasanya adalah:
•rumus Fred untuk bayi hingga 1 thn dan
•Rumus Dilling anak 8 thn hingga 12 thn
serta
• rumus Young untuk diatas 1 tahun
hingga 8 thn
Rumus Young

n
xDM
n  12

Rumus Dilling
n = umur dalam tahun
n m = umur dalam bulan
xDM DM = Dosis maksimal Dewasa
20

Rumus Fried

m
xDM
150
R/ Phenobarbital 40 mg
Lactosum qs
m.f dtd pulv No X
S t t d d pulv I
Pro : Shinta (3 tahun 9 bulan)

Dosis Maksimal untuk orang dewasa Phenobarbital


= 300 mg /600 mg
Ket :
300 mg adalah dosis maksimal sekali minum
600 mg adalah dosis maksimal dalam sehari
Perhitungan dosis maksimal Phenobarbital untuk
anak usia 3 tahun 9 bulan (3,75 thn) adalah :
Sekali minum : 71,43
Seharinya : 142,86
Pengujian rasionalisasi dosis dari resep diatas
untuk pasien shinta anak berumur 3 tahun 9 bulan
:
Berdasarkan resep dosis sekali minum
= 40 mg < 71,43 mg  tidak over dosis
Berdasarkan resep dosis dalam sehari
= 3 x 40 mg = 120 mg < 142,86 mg  tidak over
dosis
R/ Atropin sulfas 2,5 mg
Belladona Extractum 100 mg
Lactosum qs
m.f pulv No X
s t d d pulv I
Pro : Tn Amir

DM Atropin sulfas = 1 mg / 3 mg
DM Belladona extract = 20 mg / 80 mg
Perhitungan dosis maksimal Atropin sulfas :
Sekali minum = 1 / 10 x 2,5 mg = 0,25 mg < 1 mg
tidak over
Seharinya = 3 x 0,25 mg = 0,75 mg < 3 mg
tidak over

Perhitungan dosis maksimal Extrak Belladona :


Sekali minum = 1 / 10 x 100 mg = 10 mg < 20 mg
tidak over
Seharinya = 3 x 10 mg = 30 mg < 80 mg
tidak over
Karena Atropin sulfas dan Ektrak belladonna
mempunyai khasiat yang sama, sehingga DMnya
merupakan kombinasi yang searah, maka DMnya
juga harus dihitung dosis rangkapnya sehari, dengan
rumus sebagai berikut :
DosisA DosisB
 1
DMA DMB

Jadi untuk sekali minum :


0.25 10
  0.25  0.5  0.75  1 tidak over
1 20
Untuk Sehari :
3x0.25 3x10
  0.25  0.375  0.625  1 tidak over
3 80
Beberapa catan dalam
memperhitungakn dosis anak
 Berdasarkan perbandingan umur anak dengan umur orang dewasa
seringkali tidak tepat, karena anak dengan umur yang sama dapat
memberikan variasi berat badan atau Luas permukaan tubuh yang
berarti.

 Berdasarkan perbandingan berat badan anak dan dewasa, tidak akan


dapat diperlakukan untuk semua jenis obat, terutama obat0obat yang
bagi anak sensitive (narkotika), berarti dosisnya lebih rendah dan
sebaliknya untuk obat-obat yang lebih tahan (Atropin, Belladona,
Phenobarbital).

 Berdasarkan perbandingan LPT anak dengan LPT dewasa: kecuali


untuk neonatus dan bayi dapat dipakai untuk kebanyakan obat,
karena sebagian obat didistribusikan sekurangnya dalam cairan
ekstraseluler. Problem yang seringkali terjadi adalah bagaimana
menghitung LPT anak secara akurat.
*
Keberhasilan suatu pengobatan ditentukan bagaimana
dokter menulis resep yang baik dan rasional, ketepatan
apoteker memberikan obat dan kepatuhan penderita
meminum obatnya.

Terkadang dalam suatu pengobatan, khususnya pada


penyakit dengan gejala yang sangat kompleks, tidak
dapat ditangani hanya dengan pemberian satu jenis
obat. Oleh karena itu, dokter sering memberikan suatu
pengobatan dengan menggunakan beberapa obat atau
dengan kombinasi obat.
Kombinasi obat bukan hanya dilakukan oleh dokter, industri
farmasi pun melakukan hal yang sama, sehingga suatu obat
dalam formula kombinasi biasanya mempunyai fungsi-fungsi
sebagai berikut :

•Obat pokok (Remedia cardinale)


•Obat yang membantu kerja obat pokok (Remedia adjuvansia)
•Obat yang memperbaiki penampilan/ kerja obat pokok
(Remedia corrigensia)
•Bahan tambahan lain (Remedia constituent).
Suatu resep yang mengandung kombinasi obat maupun yang tidak,
haruslah berdasarkan pada pengobatan yang rasional. Hal ini berarti
langkah-langkah pengobatan haruslah berpedomen pada peresepan yang
rasional yang dikenal dengan istilah 5 T yaitu;
 Tepat indikasi
 Tepat Obat
 Tepat dosis dan cara pemberian
 Tepat bentuk sediaan yang dipilih
 Tepat penderita
Menurut American Medical Associstion (AMA), pemberian kombinasi obat
oleh dokter agar dapat terjaga kerasionalannya, perlu memperhatikan hal-hal seperti
dibawah ini ;
1. Mengandung tidak lebih dari 3 komponen aktif dari golongan farmakologi yang
berbeda atau tidak mengandung lebih dari satu komponen aktif dalam setiap
golongan farmakologi.
2. Setiap komponen aktif terdapat dosis yang efektif dan aman serta mempunyai
efek terapi dalam mengobati penyakit.
3. Kombinasi obat dapat diberikan untuk menangani gejala yang kompleks.
4. Kombinasi obat mempunyai nilai terapeutik untuk mengatasi gejala sesuai tipe
dan tingkat keparahan.
5. Interaksi obat yang merugikan antara komponen obat sudah diperhitungkan.
 Kebiasaan dokter dalam memberikan pengobatan dengan
menggunakan pola preskripsi IP (Individual Preference) yang hanya
didasarkan pada pengalaman atau pengamatan respon pasien, dan
menggunakan kombinasi obat yang tetap, apabila tidak dilandasi
pengetahuan yang memadai serta pertimbangan yang cermat, dapat
menimbulkan berbagai masalah.
 Pola preskripsi tersebut dapat meningkatkan efek samping,
menimbulkan interaksi yang merugikan, dan pemborosan dalam
biaya pengobatan.
 Disamping itu, ada masalah lain yaitu; segi pembuatan atau peracikan
obat diapotek. Bahan obat yang digunakan untuk diracik, apabila
tidak tepat dalam pemilihannya kemungkinan akan menurunkan
stabilitas obat, bahkan dapat menurunkan, meniadakan atau
meningkatkan efek obat.
 Apabila bahan yang digunakan adalah produk jadi dari pabrik obat,
selain dapat menimbulkan masalah tersebut, juga akan mengeliminasi
tujuan dari produk sediaan jadi/ paten.
Selain efek yang dapat ditimbulkan karena kombinasi obat yaitu timbulnya interaksi
obat, yang dapat berakibat diatas. Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi obat adalah :
Faktor Fisika Kimia
Faktor fisika kimia yaitu adanya ketidak bercampuran yang dapat terjadi (Incompatibility)
baik itu dari segi farmaseutika,
Faktor Farmakodinamik
Faktor farmakodinamik yaitu mengenai aksi fisiologi dan biokimia obat serta mekanisme
kerja obat.
Mekanisme Farmakologi
Sedangkan berdasarkan mekanisme farmakologi maka akan timbul beberapa interaksi
yaitu :
a. interaksi obat dengan reseptor
b. Interaksi metabolit dan reseptor.
c. Interaksi enzim dan obat.
R/ Paraffin liq. 50 mL
Gummi Arabicum 12,5 mg
Sirup simplex 10 mL
Vanillinum 25 mg
Aethanolum 90% 6 mL
Aquadest ad 100 mL

TUGAS : LAKUKAN PENGENCERAN PADA BAHAN YANG DIBUTUHKAN


R/ Alupent 4 mg
Mucopect 10 mg
Kenacort 2 mg
Luminal 12 mg
Dalacin C 35 mg
Equal qs
Mf pulv dtd no. XXV
S t dd p I
Pro: Hendrawan 8 tahun
TUGAS :
a. Berapa banyak tablet yang harus disiapkan dan pengenceran tablet yang
harus dibuat dalam resep berikut, jika diketahui: Alupent tablet
mengandung Metaproterenol 20 mg/tablet; Mucopect mengandung
Ambroksol HCl 30 mg/tablet, Kenacort mengandung Triamcinolon 4
mg/tablet, Luminal mengandung Phenobarbital 30 mg/tablet dan
Dalacin C mengandung Clindamycin 300 mg/capsul.
b. Bila terdapat sediaan tablet/capsul yang tidak genap jumlahnya buatlah
pengenceran dari sediaan tersebut.
TUGAS : Hitung jumlah bahan. Hitung Dosis Maksimum berdasarkan
umur. Tentukan rasionalisasi !

R/ Longsef 250 mg
Phenobarbital 15 mg
CTM 2 mg
Bromhexin 1 tab
Equal qs
Mf pulv. dtd no. XII
S t dd p1

Pro : Lupita 6 tahun/20 kg

Diketahui :
• Longsef capsul mengandung cefadroxil monohydrat 500 mg/capsul (DM = sehari 4 g)
• Phenobarbital dalam sediaan mengandung 30 mg/tablet (DM = 300 mg/600mg)
• CTM dalam sediaan mengandung 4 mg/tablet (DM = sehari 40 mg)
• Bromhexin dalam sediaan mengandung 8 mg/tablet (Dosis Dewasa/ Anak > 10
tahun= 3 x sehari 1 tablet. Anak 5-10 tahun = 3 x sehari 1⁄2 tablet. Anak 2-5 tahun = 2
x sehari 1⁄2 tablet)
Kerjakan resep berikut :

R/ Dipyron HCl 400 mg


Codein 25 mg
Ludiomil 5 mg
Stesolid 1 mg
Ketricin ½ tab
Mf cap dtd No. X
S 2 dd cap1

Pro: Tn Salim Abdullah

Jika diketahui:
1. Dipyron tablet mengandung Methampyron/Metamizole Sodium 500 mg. Dosis: Dewasa
dan > 15 tahun: tiap 6-8 jam 1 tablet maksimum 4 tablet sehari atau (3-4 x sehari 1 tablet
2. Codein HCl dosis lazim dewasa 1xpakai =10–20mg Sehari = 30 – 60 mg
3. Ludiomil Tablet mengandung Maprotiline 10 mg
Depresi ringan Dosis 3 x sehari 10 mg atau 1 x sehari 25 mg
4. Stesolid Tablet mengandung Diazepam 2 mg, 5 mg, Dosis 1xpakai =2-5mg, Sehari = 3 x
sehari 2-5 mg diminum sebelum maupun sesudah makan.
5. Ketricin Tablet mengandung Triamcinolone 4 mg, Dosis 4 – 48 mg/ sehari Diberikan
bersama makanan/sesudah makan.
TUGAS : Hitung jumlah bahan. Hitung Dosis Maksimum berdasarkan
umur. Tentukan rasionalisasi !

R/ Efedrin HCl 10 mg
Aminophillyn 150 mg
Eritromisin 100 mg
Hidrokrotison 20 mg
m.f pulv dtd No. XX
S t dd pulv I

Pro : Daehan (7 tahun)

Diketahui :
• Efedrin HCl tablet mengandung 12,5 mg/tablet (DM = 50 mg/150 mg)
• Aminophyllin tablet mengandung 200 mg/tablet (DM = 500 mg/ 1,5 g)
• Eritromisin kaplet mengandung 500 mg /kaplet (DM = 500 mg/4 g)
• Hidrokortison tablet mengadung 10 mg/tablet (DM = 100 mg/200 mg)
TUGAS : Hitung jumlah bahan. Hitung Dosis berdasarkan berat badan .
Tentukan rasionalisasi !
R/ Mixtura Bromstorum SF 100 ml
Gardenal 0,1 g

m.f mixtura
S t.dd.C.I

Pro : Yulia (18 thn/44 kg)

Diketahui :
300 ml Mixtura Bromstorum SF mengandung :
• Kalium Bromida (KBr) 4 gr
• Natrium Bromida (NaBr) 4 gr
• Amonium Bromida (NH3Br) 2 gr
• Air minyak permen (Aqua Menthae Pipperitae) 50 ml
• Aqua ad 300 ml
Adapun Dosis Lazim dan Maksimum u/BB 68 kg :
• KBr  DL = 0,05-2/1,5-6 g DM = 2/6 g
• NaBr  DL = 0,05-2/1,5-6 g DM = 2/6 g
• NH3Br  DL = 0,5/1,5 g DM = 1/3 g
• Gardenal (Phenobarbital)  DL = 15-30/45-90 mg DM = 300/600 mg

Anda mungkin juga menyukai