Anda di halaman 1dari 33

BAB 14

Pemeriksaan Aset Tetap


Pembahasan :
 Sifat dan Contoh Aset Tetap
 Audit Objective (Tujuan Pemeriksaan) Aset
Tetap
 Prosedur Pemeriksaan Aset Tetap dan
Penjelasan Prosedur Audit
1
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (PSAK
No. 16, hal. 16.1 & 16.2 – IAI 2015)
Aset tetap adalah aset berwujud yang:

a) Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau


penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan
ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif;
dan
b) Diharapkan akan digunakan lebih dari satu
periode.

2
Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara
kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari imbalan
lain yang diserahkan untuk memperoleh suatu
aset pada saat perolehan atau konstruksi atau, jika
dapat diterapkan, jumlah yang diatribusikan pada
aset ketika pertama kali diakui sesuai dengan
persyaratan tertentu dalam PSAK lain, contohnya
PSAK 53: Pembayaran berbasis Saham.

3
• Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah
tersusutkan dari aset selama umur manfaatnya.
• Rugi penurunan nilai adalah jumlah yang merupakan
selisih lebih jumlah tercatat aset atas jumlah
terpulihkannya.
• Umur manfaat adalah:
a) Periode aset diperkirakan dapat digunakan oleh
entitas; atau
b) Jumlah produksi atau unit serupa dari aset yang
diperkirakan akan diperoleh dari aset entitas.

4
Menurut SAK ETAP (IAI, 2019: 68):
Aset tetap adalah aset berwujud yang:

a) Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau


penyediaan barang atau jasa untuk disewakan
ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif;
dan
b) Diharapkan akan digunakan lebih dari satu
periode.

5
Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu
aset dan dikeompokkan sebagai aset tetap bila:

a) besar kemungkinan (probable) bahwa manfaat


keekonomian di masa akan datang yang
berkaitan dengan aset tersebut akan mengalir ke
dalam perusahaan; dan
b) biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.

6
Beberapa sifat atau ciri aset tetap adalah:

1. Tujuan dari pembeliannya bukan untuk dijual


kembali atau diperjualbelikan sebagai barang
dagangan, tetapi untuk dipergunakan dalam
kegiatan operasi perusahaan.
2. Mempunyai masa manfaat lebih dari satu
tahun.
3. Jumlahnya cukup material.

7
Capital expenditure adalah suatu pengeluaran
modal yang jumlahnya material dan mempunyai
manfaat lebih dari satu tahun. Revenue
expenditure adalah suatu pengeluaran yang
jumlahnya tidak material walaupun masa
manfaatnya mungkin lebih dari satu tahun. Selain
itu, Revenue Expenditure merupakan pengeluaran
yang dilakukan perusahaan dalam rangka
menghasilkan pendapatan dan dibebankan ke
dalam laba rugi pada saat terjadinya beban
tersebut.
8
Fixed assets atau Aset Tetap Bisa Dibedakan
Menjadi:

1) Fixed tangible assets (aset tetap yang


mempunyai wujud/bentuk, bisa dilihat, bisa
diraba).
2) Fixed intangible assets (aset tetap yang
tidak mempunyai wujud/bentuk, sehingga
tidakbisa dilihat dan tidak bisa diraba).

9
Yang Termasuk Fixed Tangible Assets
Misalnya:

a. Tanah (Land) yang di atasnya dibangun gedung kantor, pabrik atau


rumah. Tanah ini biasanya tidak disusutkan (menurut SAK maupun
peraturan pajak). Tanah bisa dimiliki dalam bentuk hak milik, hak
guna bangunan (biasanya jika kita membeli rumah dari real estate)
yang mempunyai jangka waktu 20-30 tahun, hak guna usaha dan
hak pakai. Perlu diperhatikan bahwa perusahaan asing dan warga
negara asing tidak diperbolehkan membeli tanah dengan hak milik.
b. Gedung (Building) termasuk pagar, lapangan parkir, taman, mesin-
mesin (Machinery), Peralatan (Equipment), Furniture & Fixtures
(meja, kursi), Delivery Equipment/Vehicles (mobil, motor, kapal
laut, pesawat terbang).
c. Natural Resources (Sumber Alam), seperti pertambangan minyak,
batu bara, emas, marmer dan hak pengusahaan hutan (HPH).
Natural resources ini harus dideplesi, bukan disusutkan, pada saat
sumber alam tersebut mulai menghasilkan.
10
Yang Termasuk Intangible Assets
Misalnya:

Hak paten, hak cipta (copy right), franchise, goodwill,


preoperating expenses (biaya-biaya yang dikeluarkan
sebelum perusahaan berproduksi secara komersial,
termasuk biaya pendirian).
Contoh dari franchise misalnya Kentucky Fried Chicken,
Hamburger, Mc.Donald, Es teller ’77. Dalam hal ini
pengusaha yang ingin menjual makanan/minuman tersebut
harus menandatangani kontrak dengan pemilik franchise,
agar bisa menjual makanan/ minuman dengan rasa,
bentuk, gaya, dekorasi yang khusus untuk jenis makanan
tersebut, tentu saja dengan membayar royalti.

11
Audit Objectives (Tujuan Pemeriksaan)
Aset Tetap

1) Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang


cukup baik atas aset tetap.
2) Untuk memeriksa apakah aset tetap yang tercantum di
laporan posisi keuangan (neraca) betul-betul ada,
masih digunakan dan dimiliki oleh perusahaan.
3) Untuk memeriksa apakah penambahan aset tetap
dalam tahun berjalan (periode yang diperiksa) betul-
betul merupakan suatu Capital Expenditure, diotorisasi
oleh pejabat perusahaan yang berwenang didukung
oleh bukti-bukti yang lengkap dan dicatat dengan
benar.
12
4. Untuk memeriksa apakah disposal (penarikan) aset
tetap sudah dicatat dengan benar di buku perusahaan
dan telah diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang
berwenang.
Disposal dari aset tetap bisa terjadi dalam bentuk
penjualan yang akan menimbulkan rugi/laba
penjualan aset tetap, tukar tambah (trade-in) atau
penghapusan aset tetap yang bisa menimbulkan
kerugian dari penghapusan aset tetap, jika aset tetap
tersebut masihmempunyai nilai buku.
Kerugian dari trade-in atas aset sejenis dicatat
sebagai Loss on Trade-In sedangkan keuntungan dari
trade-in, dicatat sebagai pengurangan dari harga
perolehan aset tetap yang baru. 13
5. Untuk memeriksa apakah pembebanan
penyusutan dalam tahun (periode) yang diperiksa
dilakukan dengan cara yang sesuai dengan SAK,
konsisten, dan apakah perhitungannya telah
dilakukan dengan benar (secara akurat).
6. Untuk memeriksa apakah ada aset tetap yang
dijadikan sebagai jaminan.
7. Untuk memeriksa apakah penyajian aset tetap
dalam laporan keuangan, sesuai dengan standar
akuntansi keuangan di Indonesia
(SAK/ETAP/IFRS).
14
PROSEDUR PEMERIKSAAN ASET
TETAP

1. Pelajari dan evaluasi internal control atas aset


tetap.
2. Minta kepada klien Top Schedule serta Supporting
Schedule aset tetap, yang berisikan: Saldo awal,
penambahan serta pengurangan-
pengurangannya dan saldo akhir, baik untuk
harga perolehan maupun akumulasi
penyusutannya.
3. Periksa footing dan cross footingnya dan
cocokkan totalnya dengan General Ledger atau
Sub-Ledger, saldo awal dengan working paper
tahun lalu. 15
4. Vouch penambahan serta pengurangan dari aset tetap
tersebut. Untuk penambahan kita lihat approvalnya dan
kelengkapan supporting documentnya.
Untuk pengurangan kita lihat otorisasinya dan jurnalnya
apakah sudah dicatat dengan betul, misalnya bila ada
keuntungan atau kerugian atas penjualan aset tetap
tersebut.
Selain itu periksa juga penerimaan hasil penjualan aset tetap
tersebut.
5. Periksa fisik dari aset tetap tersebut (dengan cara test basis)
dan periksa kondisi dan nomor kode dari aset tetap.
6. Periksa bukti pemilikan aset tetap.
Untuk tanah, gedung, periksa sertifikat tanah dan IMB (Izin
Mendirikan Bangunan) serta
SIPB (Surat Izin Penempatan Bangunan).
Untuk mobil, motor, periksa BPKB, STNK-nya.
16
7. Pelajari dan periksa apakah Capitalization Policy dan
Depreciation Policy yang dijalankan konsisten dengan
tahun sebelumnya.
8. Buat analisis tentang perkiraan Repair & Maintenance,
sehingga kita dapat mengetahui apakah ada
pengeluaran yang seharusnya masuk dalam kelompok
Capital Expenditures tetapi dicatat sebagai Revenue
Expenditures.
9. Periksa apakah aset tetap tersebut sudah diasuransikan
dan apakah Insurance Coveragenya cukup atau tidak.
10. Tes perhitungan penyusutan, cross reference angka
penyusutan dengan biaya penyusutan diperkiraan laba
rugi dan periksa alokasi/distribusi biaya penyusutan.
17
11. Periksa notulen rapat, perjanjian kredit, jawaban konfirmasi
dari bank, untuk memeriksa apakah ada aset tetap yang
dijadikan sebagai jaminan atau tidak. Bila ada, maka hal ini
perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
12. Periksa apakah ada Commitment yang dibuat oleh
perusahaan untuk membeli atau menjual aset tetap.
13. Untuk Construction in Progress, kita periksa penambahannya
dan apakah ada Construction in progress yang harus di
transfer ke aset tetap.
14. Jika ada aset tetap yang diperoleh melalui leasing, periksa
lease agreement dan periksa apakah accounting
treatmentnya sudah sesuai dengan standar akuntansi leasing.
15. Periksa atau tanyakan apakah ada aset tetap yang dijadikan
agunan kredit di bank.
16. Periksa penyajiannya dalam laporan keuangan, apakah sesuai
dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia
(SAK/ETAP/IFRS).

18
Menurut SAK ETAP (IAI, 2009: 75):
Entitas harus mengungkapkan untuk
setiap kelompok aset tetap:

a. Dasar pengukuran yang digunakan untuk


menentukan jumalh tercatat bruto;
b. Metode penyusutan yang digunakan;
c. Umur manfaat atau tarif penyusutan yang
digunakan;
d. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi
penyusutan (agregat dengan akumulasi
kerugian penurunan nilai) pada awal dan
akhir periode; dan

19
e. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode
yang menunjukkan:
(i) Penambahan;
(ii) Pelepasan;
(iii) Kerugian penurunan nilai yang diakui atau
dipulihkan dalam laporan laba rugi
sesuai dengan penurunan nilai aset;
(iv) Penyusutan;
(v) Perubahan lainnya
Entitas juga harus mengungkapkan:
(a) Keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milik,
dan aset tetap yang dijaminkan untuk utang;
(b) Jumlah komitmen kontrak untuk memperoleh aset
tetap
20
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (PSAK
No. 16 hal. 16.11 & 16.12 IAI 2015)

Pengungkapan
Laporan keuangan mengungkapkan untuk setiap kelas
aset tetap:
a) Dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan
jumlah tercatat bruto;
b) Metode penyusutan yang digunakan;
c) Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
d) Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan
(digabungkan dengan akumulasi rugi penurunan nilai)
pada awal dan akhir periode; dan
e) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir
periode yang menunjukkan :
21
i. Penambahan;
ii. Aset yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual
atau termasuk dalam kelompok lepasan yang
diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai
dengan PSAK 58: Aset Tidak Lancar yang Dimiliki
untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan dan
Pelepasan Lain;
iii. Perolehan melalui kombinasi bisnis;
iv. Peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi
sesuai dengan paragraf 31, 39, dan 40 serta dari rugi
penurunan nilai yang diakui atau dibalik dalam
penghasilan komprehensif lain sesuai dengan PSAK
48: Penurunan Nilai Aset;
22
v. Rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi
sesuai dengna PSAK 48;
vi. Pembalikan rugi penurunan nilai dalam laba rugi sesuai
dengan PSAK 48;
vii. Penyusutan;
viii. Selisih kurs neto yang timbul dalam penjabaran laporan
keuangan dari mata uang fungsional menjadi mata
uang pelaporan yang berbeda, termasuk penjabaran
dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang
pelaporan dari entitas pelapor; dan
ix. Perubahan lain.

23
Laporan keuangan juga mengungkapkan:

a) Keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milik dan


aset tetap yang dijaminkan untuk liabilitas;
b) Jumlah pengeluaran yang diakui dalm jumlah tercatat
aset tetap yang sedang dalam konstruksi;
c) Jumlah komitmen kontraktual untuk memperoleh aset
tetap; dan
d) Jumlah kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap
yang mengalami penurunan nilai, hilang, atau
dihentikan yang termasuk dalam laba rugi, jika tidak
diungkapkan secara terpisah dalam laporan laba rugi
dan penghasilan komprehensif lain.
24
Biaya Pinjaman Menurut PSAK No. 26
hal.26.1, 26.2 & 26.4 IAI 2015

Prinsip Dasar
Biaya pinjaman yang dapat diatribusikan secara langsung
dengan perolehan, konstruksi, atau produksi aset kualifikasian
dikapitalisasi sebagai bagian biaya perolehan aset tersebut.
Biaya pinjaman lainnya diakui sebagai beban.
Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam
pernyataan ini:
Aset kualifikasian adalah aset yang membutuhkan waktu yang
cukuplama agar siap untuk digunakan sesuai dengan intensinya
atau dijual.
Biaya pinjaman adalah bunga dan biaya lain yang ditanggung
entitas sehubungan dengan pinjaman dana.

25
Pengakuan

Entitas mengapitalisasi biaya pinjaman yang dapat


diatribusikan secara langsung dengan perolehan,
konstruksi, atau pembuatan aset kualifikasian
sebagai bagian dari biaya perolehan aset tersebut.
Biaya pinjaman lainnya diakui sebagi beban pada
periode terjadinya.

26
Penghentian Sementara Kapitalisasi

• Entitas menghentikan sementara kapitalisasi


biaya pinjaman selama periode yang
diperpanjang yang mana pengembangan aktif
atas aset kualifikasian juga dihentikan.

27
Penghentian Kapitalisasi

• Entitas menghentikan kapitalisasi biaya


pinjaman ketika secara substansial seluruh
aktivitas yang diperlukan untuk mempersiapkan
aset kualifikasian agar dapat digunakan atau
dijual sesuai dengan intensinya telah selesai.

28
Pengungkapan

Entitas mengungkapkan:
a. Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi
selama periode; dan
b. Tarif kapitalisasi yang digunakan untuk
menentukan jumlah biaya pinjaman yang dapat
dikapitalisasi.

29
Bahan untuk Diskusi:

• Sering kali terjadi kesalahan dalam pencatatan


bunga pinjaman selama masa konstruksi yang
seharusnya bisa dikapitilisasi jika memenuhi
kriteria tertentu.
• Sering kali terjadi kesalahan baik disengaja
maupun tidak disengaja mengenai pencatatan
capital expenditure dan revenue expenditure.
• Sering kali terjadi kesalahan dalam pencatatan
penjualan aset tetap maupun transaksi trade-in.
• Kadang-kadang terjadi kesalahan dalam
perhitungan penyusutan aset tetap. 30
31
32
33