Anda di halaman 1dari 18

DIASTEMA SENTRAL PADA

RAHANG ATAS: LAPORAN


KASUS MENGGUNAKAN
PENDEKATAN ILMU
KEDOKTERAN GIGI DAN BEDAH
MULUT

FEBRIAWAN
10611026
PENDAHULUAN

• Diastemata sentral (atau midline diastemas) terjadi sekitar 98% pada usia 6 tahun , 49% pada anak usia 11
tahun dan 7% pada usia 8-12 tahun.1,2Banyak sekali penyebab yang memicu terjadinya diastema sentral
(median diastema fisiologis, distal dentoalveolar, gigi yang hilang, gigi supernumerary (gigi berlebih) pada
bagian midline, proklinasi segmen labial atas dan frenulum yang prominent.
• Baru- baru ini terdapat laporan diagnosa diastema yang menyatakan tentang diastema sentral (gigi renggang
bagian tengah) yang ditimbulkan sediri oleh pasien karena tindik pada lidah . Dalam banyak kasus perawatan
ortodontik sendiri dapat membantu menutup diastema. Kombinasi perawatan menggunakan teknik bedah
ortodontik, restoratif dan juga bedah mulut sangat dianjurkan,ketika, misalnya, perbedaan ukuran pada gigi
atau ada gigi supernumeri (gigi berlebih).
• Ketika gigi diangkat, itu normal bila terjadi nya tulang yang terlihat dan, oleh karena itu, memungkinkan
adanya pergerakan gigi menuju ruang kosong tersebut. Kasus yang dilaporkan menggambarkan hilangnya
tulang alveolar setelah operasi pengangkatan gigi supernumerari yang menonjol pada sentral, dan
penutupan diastema sentral berikutnya dengan kombinasi pencangkokan tulang alveolar dan perawatan
ortodontik.
LAPORAN KASUS
• Rumah Sakit York dengan kegagalan munculnya gigi seri permanen pada rahang atasnya. Pemeriksaan Radiografi
mengungkapkan adanya 2 gigi supernumerari pada garis tengah dan kemungkinan dilaserasi ( kelainan gigi ) dari gigi insisiv
sentral bagian kanan atas
• Pemeriksaan ekstra oral
Pasien memiliki basis dasar kelas dua dasar proposi vertial wajah yang rata- rata dan . Bibir kompeten. (bibir terbuka karena gigi )
• Pemeriksaan intra oral
Pasien menunjukan banyaknya memiliki gigi campuran, dengan semua geraham permanen pertama, gigi seri bawah yang lebih
rendah dan sudah munculnya gigi seri lateral bagian kiri atas. Gigi-gigi seri utama dan gigi taring utama masih in situ. Susuna gigi
seri digolongkan Kelas 1 yaitu tumbuh pada garsi tengah rata dan tertata . Susunan molar tercatat sebagai Kelas II baik kiri dan
kanan, dan LR6 tercatat mengalami kelainan /crossbite. Kedua gigi taring atas teraba jelas dari sisi pipi . Kebersihan mulut baik
dan tidak ada gingivitis.
• Pemeriksaan khusus
Sebuah ortopantomogram (pemeriksaan rongga mulut )(Gambar 1a) dan oklusal standar atas (Gambar 1b) mengungkapkan
semua gigi permanen yang ada dan 2 gigi supernumerari pada garis tengah. Pertumbuhan menyimpang pada akar ditemukan
pada akar UR1. Perlu juga dicatat bahwa tidak ada foto-foto klinis atau model penelitian yang telah dilakukan. Komponen
Kesehatan Gigi dalam Indeks Kebutuhan Perawatan Ortodontik ini dilakukan melalui penilaian.
• Etiologi
• Terlambatnya pertumbuhan dari gigi insisiv utama pada rahang atas adalah karena adanya gigi
supernumerari. Kemungkinan penyimpangan akar UR1 mungkin karena trauma pada gigi (walaupun
tidak tercatat dalam catatan), tetapi mungkin juga disebabkan oleh gigi supernumerari.
• Tujuan pengobatan
• Tujuan dari pemeriksaan dan menghilangkan gigi supernumerari dan gigi susu adalah untuk
memungkinkan munculnya gigi insisiv permanen rahang atas.
RENCANA PERAWATAN

• -Ekstraksi URC, URB, URA, ULA, ULB, ULC ditambah operasi pengangkatan 2 gigi supernumerari
• - Menunggu erupsi gigi insisiv permanen pada rahang atas
DASAR RASIONAL

• Pengangkatan gigi susu/gigi sulung bersamaan dengan gigi supernumerari harusnya diteruskan dengan
erupsi gigi permanen pengganti . Pengkajian lebih lanjut atas kasus ini kemudian dapat dilakukan
setelah erupsi gigi terjadi.
• Diastema dengan ukuran yang kecil (<2 mm) bukan merupakan indikasi untuk dilakukan perawatan
ortodonsi. Jarak akan menutup secara spontan ketika gigi kaninus erupsi dan akar serta mahkota insisif
berubah posisi. Tetapi bila distema kecil (<2 mm)
• sangat menggangu dari segi estetik dan diperlukan koreksi lebih cepat maka dapat menggunakan alat
ortodonsi lepasan yang dilengkapi dengan claps dan fingerspring untuk menggerakkan gigi secara
tipping
• Pada distema yang lebar (>2mm), penggunaan alat ortodonsi cekat sangat penting karena diperlukan
pergerakan gigi secara bodily. Bracket dengan slot kecil dipasang pada gigi insisif sentral maksila yang
dilengkapi dengan arch wire 16x22 mm SS. Kekuatan untuk menggerakkan gigi insisif sentral secara
bersamaan dapat didukung dengan penggunaan power chain atau coil spring.13
PROGRESS PERAWATAN

• Seperti halnya yang disebutkan diatas , pengangkatan gigi sulung bersamaan dengan kedua gigi
supernumerary atas. Erupsi UR1,UR2, UL1, UL2 terjadi seperti yang direncanakan; namun, gigi insisiv
sentral erupsi ke gigi insisiv lateral, meninggalkan diastema sentral selebar 14,5 mm (Gambar 2a, b).
Pemeriksaan klinis dan radiografi mengungkapkan kehilangan tulang di garis tengah alveolus (Gambar
3a, b).
• Penilaian lebih lanjut dilakukan pada klinik gabungan bedah mulu/ortodontik. Analisis ruang
mengungkapkan UR1 menjadi selebar 8,2 mm dan UL1 menjadi selebar 8,5 mm , sehingga lebar total
16,7 mm. Ruang antara gigi insisiv lateral atas berukuran 14,2 mm.
RENCANA PERAWATAN

• 1. Distalisasi gigi insisiv lateral dengan alat orthodontic lepasan rahang atas
• 2. Pencangkokan tulang alveolar ke midline yang hilang
• 3. Menyelaraskan gigi insisiv atas dan menutup diastema dengan pendekatan UR1, UL1 dengan alat
cekat yang tepat.
• 4. Retensi dan menunggu lebih lanjut erupsi gigi permanen pengganti.
• Diperlukan penciptaan ruang untuk memungkinkan penyelarasan gigi insisiv atas dan penutupan
diastema. Hal ini dapat dicapai dengan alat lepasan dengan pegas jari palatal untuk menghindari
potensi kerusakan pada apeks gigi insisiv lateral karena gigi taring yang berdekatan. Ini tidak
mengurangi ruang untuk cangkok tulang karena cacat tulang berbentuk piring dan mesial ke akar pusat
gigi insisiv. Kehilangan tulang di bagian tengah rahang atas perlu dikoreksi sebelum menggergerakan gigi
insisiv sentral ke mesial. Misalnya pemakaian alat cekat yang tepat dapat digunakan , sehingga
memungkinkan erupsi berkelanjutan dan perkembangan gigi permanen.
PROGRESS PERAWATAN

• Terbentuk ruang sebanyak 16,9 mm diantara gigi insisiv lateral atas dengan alat lepasan. Pasien
menjalani pembedahan dan kuretase pada garis tengah yang tidak sempurna..12 minggu kemudian,
dilakukan pemasangan alat cekat seksional pada bagian pusat gigi insisiv untuk menutup ruang
dengan kawat sepanjang 0,01660,022 inci
• Empat bulan kemudian,penutupan pada gigi insisiv sentral cukup bisa dicapai dengan dimungkinkan
terjadinya ikatan pada gigi insisiv
• sementara gigi taring permanen sedang tumbuh . Idealnya, lebih banyak akar lurus yang akan terbawa
keluar ke gigi insisiv sentral menggunakan lengkungan kawat. Namun, pasien pasti akan memerlukan
pengobatan pada erupsi gigi taring permanen dan diputuskan untuk meminimalkan waktu perawatan
interceptife, akhirnya mengoreksi ujung gigi insisiv sentral ketika alat cekat ditempatkan. Pelepasan alat
seksional dan penempatan ikatan penahan di langit mulut. UR1, UL1 dilakukan 8 bulan tepat setelah
perawatan dimulai (Gambar 7a-d).
RE ASSESMENT

• Penyelesaian fase awal perawatan diikuti oleh tinjauan dan perencanaan perawatan fase akhir. Kedua
premolar pertama atas diekstraksi untuk memungkinkan ruang untuk kaninus atas muncul sepenuhnya
(Gambar 8a, b). Terapi alat cekat atas penuh dimulai, tetapi 1 tahun kemudian pasien pindah ke
Skotlandia dan pengobatannya dipindahkan. Sayangnya, tidak ada foto klinis yang diambil pada tahap
perawatan itu.
DISKUSI
• Ada banyak faktor penyebab dalam perkembangan diastema sentral dan sebagian besar telah diteliti sampai
tingkat tertentu. Sebuah studi oleh Gass et al.5 telah menyarankan mungkin ada kerentanan genetik terhadap
perkembangan diastemata garis tengah. Kehadiran gigi supernumerary dan efeknya pada oklusi berkembang
telah diteliti oleh banyakpakar, tetapi terutama, Nik-Hussein menemukan bahwa proporsi yang tinggi (38%)
pasien dengan gigi supernumerary mengalami keterlambatan atau kegagalan erupsi gigi permanen. Tay et al.7
sebelumnya telah melaporkan bahwa, di mana supernumerary biasanya berorientasi, erupsi yang tertunda
mungkin terjadi, sedangkan supernumerary yang terbalik lebih mungkin dikaitkan dengan perpindahan tubuh
dari gigi insisiv permanen, diastema sentral dan gigi torsiversi Dalam kasus yang disajikan, biasanya
berorientasi pada supernumerari, tetapi erupsi tertunda dan perpindahan tubuh menjadi bukti yang jelas.
• Kesembuhan setelah operasi pengangkatan gigi biasanya melibatkan pembentukan gumpalan darah pada
tulang yang cacat .Pertumbuhan kembali gumpalan, yang melibatkan angiogenesis dan osteogenesis
selanjutnya, menyebabkan penumpukan tulang pada sendi. Kadang-kadang, proses ini terganggu dan
granulasi jaringan lunak atau cacat tulang dapat terjadi. Pemosisian gigi secara ortodontik ke dalam jaringan
lunak ini tidak akan menghasilkan dukungan tulang yang baik untuk gigi. Pencangkokan tulang dari salah satu
bagian yang biasa digunakan (krista iliaka atau alveolar) dapat digunakan untuk memperbaiki kecacatan
• Sebelum ahli ortodontik mengggerakan gigi. Dalam hal ini, penggunaan tulang crisal iliaka bekerja dengan
baik tanpa gangguan yang nyata..
KESIMPULAN

• Kasus yang digambarkan menunjukkan erupsi gigi insisiv permanen rahang atas yang tertunda karena
adanya gigi supernumerary pada bagian tengah. Sayangnya, Operasi pengangkatan gigi supernumerary
mengakibatkan kehilangan tulang yang parah. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa pencangkokan
tulang alveolar dapat memungkinkan penutupan diastema yang sangat besar untuk ditutup dengan
perawatan ortodontik interseptif . Posisi akar akhir dari gigi insisiv sentral sedikit kurang tepat jauh dari
ideal; Namun, perencanaan untuk merawat maloklusi secara definitif di gigi permanen dapat lebih
mudah dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
• 1. Mitchell L. An Introduction to Orthodontics. Oxford: Oxford University Press, 1996: 28.
• 2. Foster TD, Grundy MC. Occlusal changes from primary to permanent dentitions. J Orthod 1986; 13:
187–93.
• 3. Edwards JG. The diastema, the frenum, the frenectomy a clinical study. Am J Orthod 1977; 71: 489–
508.
• 4. Rahilly G, Crocker C. Pathological migration: an unusual cause of midline diastema. Dent Update
2003; 30(10): 547–9.
• 5. Gass JR, Valiathan M, Tiwari HK, Hans MG, Elston RC. Familial correlations and heritability of
maxillary midline diastema.AmJ OrthodDentofacialOrthop2003;123(1):35–9.
• 6. Nik-Hussein NN. Supernumerary teeth in the premaxillary region: its effects on the eruption and
occlusion of the permanent incisors. Aust Orthod J 1990; 11(4): 247–50.
• 7. Tay F, Pang A, Yuen S. Unerupted maxillary anterior supernumerary teeth: report of 204 cases. J Dent
Child 1984; 51(4): 289–94.