Anda di halaman 1dari 130

NEUROMUSCULOSKLETAL

FARMAKOLOGI
(Farmakologi Sistem Kerangka & Otot Kerangka)

Oleh:
Dr. Hanifah Yusuf, M.Kes., Apt
Departemen Farmakologi dan Terapi
Fakultas Kedokteran Unsyiah
Darussalam Banda Aceh
PEMBAHASAN
Pokok bahasan farmakologi neuromuskuloskeletal sesuai dg SKDI :
• Tkt capaian kemampuan mhs pd msg2 peny ditentukan bdsrkan std
peny dan insiden penyakit

Tkt kemampuan yg hrs dicapai adalah:

Kemampuan 1: Lulusan dokter harus mampu

• mengenali dan menjelaskan gbrn klinik peny, dan mengetahui cr yg plg


tepat utk mendptkan informasi lbh lanjut ttg peny tsb

• menentukan rujukan yg plg tepat bagi pasien.

• menindaklanjuti sesudah kembali dr rujukan


Kemampuan 2: Lulusan dokter harus mampu

• mendiagnosis peny tsb dan menentukan rujukan yg plg tepat bagi


penanganan pasien selanjutnya.

• menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

Kemampuan 3: lulusan dokter harus mampu

mendiagnosis, melkkn penatalaksanaan awal, dan merujuk dg kondisi

3A. Bukan gawat darurat

• mampu mendiagnosis dan memberikan terapi pendahuluan pd kead


yg bkn gawat darurat
• mampu menentukan rujukan yg plg tepat bagi penanganan pasien
selanjutnya.
• Mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
3B. Gawat darurat

• mampu mendiagnosis dan memberikan terapi pendahuluan pd keadaan


gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/
atau kecacatan pada pasien.
• mampu menentukan rujukan yg plg tepat bg penanganan pasien selanjutnya
• mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

Kemampuan 4: lulusan dokter hrs mampu

• mendiagnosis, melkkn penatalaksanaan peny scr mandiri dan tuntas

4A. Kompetensi yg hrs dicapai pd saat lulus dokter

4B. Profisiensi (kemahiran) yg dicapai stlh selesai internsip dan/ atau


Pendidikan kedokteran Berkelanjutan (PKB)

Dg dmk level kompetensi utk lulusan dokter adalah 4A dan 4B. Daftar Penyakit
muskuloskletal yg hrs dimiliki dpt dilihat pd panduan SKDI
FARMAKOLOGI SISTEM
NEUROMUSCULOSKLETAL

Sistem musculoskeletal terkait dg fs : lokomotorik / gerak anggota tubuh

Scr fisiologis : sistem ini mengalami metabolisme dan melakukan adaptasi


sel / jaringan thdp aksi-aksi yg timbul

Dg dmk sistem musculoskletal bth nutrisi yg cukup utk proses metabolismenya


dan perlu beberapa zat utk perbaikan sel / jaringan

Kadang kala akibat adanya aksi-aksi yg bersifat merusak, mk sistem


musculoskeletal membutuhkan terapi dg menggunakan obat-obatan
FARMAKOLOGI SISTEM
NEUROMUSCULOSKLETAL

Ruang lingkup:

 Antiepilepsi
 Antiparkinson
 Antinyeri (NSAID dan Kortikosteroid)
 Antiviral
 Antibiotika utk SSP
 Neurotropik, Neuroproteksi
 Antimigrain
 Antihipertensi (Ca-antagonis & ACE-inhibitor)
ANTIEPILEPSI
Epilepsi:
Gjl yg timbul akibat lepasnya aktifitas elektrik yg
berlebihan, yg berlgsg scr periodik dr neuron
otak Neuron epileptik

Gejala : hilang kesadaran, gerakan involunter,


peningkatan aktifitas otonom dan berbagai
gangguan psikis lainnya
Penggolongan epilepsi

Epilepsi simptomatik (ada penyebab)

Penyebab: faktor intrakranial (meningitis, ensefalitis,


neurosifilis, sepsis), cedera kepala, degenerasi
serebral, tumor
faktor ekstrakranial (anoksia, keracunan oleh
alkohol, etilklorida, timah dan kokain),
ggn metabolik (hipoglikemi, uremia, alkalosis)
akibat henti obat (hipnotik, opiat)

Epilepsi idiopatik (tdk diketahui penyebabnya)


Mekanisme kerja obat antiepilepsi:
1. Mencegah / mengurangi eksitasi (pelepasan muatan
listrik) yg berlebihan akibat aktifitas serangan
2. Mengurangi transmissi / mencegah cetusan/
putusnya agregasi neuron
3. Inhibisi transmissi GABAergik pd membran paska
sinap dan neuron (Benzodiazepin, Barbital, Topiramate)
4. Inhibisi aktivitas glutamat pd membran paska sinap
& neuron
5. Menghambat ambilan kembali atau metabolisme
GABA (gabapentin, tiagabarine, Vigabatrin)
6. Memperbaiki kelainan di susunan syaraf.
Penggolongan Antiepilepsi

• Turunan barbiturat

• Antagonis Calsium

• Turunan hidantoin

• Fenasemid

• Asetil urea

• Oksazolidinedion: Trimetadion, Parametadion

• Suksinamid
Klassifikasi Kejang:
A. Kejang partial
- SP primer
- SP kompleks
- SP sekunder umum
B. Kejang umum
- Tonik-klonik = grand mal/GM
- Absence = petit mal
- Tonik
- Atonik
- Klonik- mioklonik
- Spasme infantil
Obat-obat yg digunakan pd epilepsi
Type of Seizure First- line Drugs Alternative Drugs
Partial seizure Carbamazepin, Phenytoin Gabapentin, Topiramate
Lamotrigine, Valproic acid Levetiracetam, Zonisamide
Oxcarbazepine Tiagabine, Primidone
Phenobarbital, Felbamate
Generalized seizure
- Absence Valproic acid, ethosuximide, Lamotrigine, levetiracetam,
- Myoclonic Valproic acid, clonazepam Lamotrigine, topiramate,
felbamate, zonisamide,
levetiracetam

- Tonic-clonic Phenytoin, carbamazepin, Lamotrigine, topiramate,


valproic acid phenobarbital, primidone,
oxcarbazepin,
levetiracetam
Hal2 yg ptg diperhatikan pd Wanita pengguna OAE :
• Topiramate dan oxcarbazepine dpt menggagalkan obat kontrasepsi
(ditandai dg gejala pendarahan)
• Pd kehamilan biasanya dignkn OAE monoterapi.
• Klirens fenitoin, carbamazepin, fenobarbital, ethosuximide, lamotrigine,
clorazepate meningkat selama kehamilan, sdgkan ikatan obat pd protein
plasma jg berubah.
• Resiko kecacatan pd bayi yg dilahirkan akibat pengg OAE 2 x lipat dp yg
tdk mengg OAE
• Turunan barbital / fenitoin dpt menyebabkan kelainan pd jantung dan facial
cleft
• Turunan Valproat / carbamazepin dpt menyebabkan spina bifida,
hypospadias, gangguan pertumbuhan/psikomotor dan retardasi mental
• Sebhg dpt diatasi dg pemberian asam folat 0,4-5 mg/hr pd ibu hamil .
Sdgkn vitamin K 10mg/hr diberikan pd bulan terakhir ketika hendak
melahirkan, tujuannya utk mencegah gangguan hemorrhagic neonatal
Turunan Barbiturat:
1. Fenobarbital
Mrpkn AE yg effektif, murah, toksisitas rendah
Sbgi AE dosisnya< dosis hipnotik dan tdk selektif

Indikasi: Tonic-clonic (grand mal), kejang parsial, febrile


convulsions (bayi)
Dosis: Dewasa 100 mg, 2 x sehari, malam
Anak2 : 8 mg/kg BB/ hari, malam

MKO:- Mengurangi transmissi aktifitas serangan


- Meningkatkan nilai ambang serangan
- Menghambat konduktan ion Na dan Ca
- Menghambat aktifitas GABA dan glutamat
Kontra indikasI : Porphyria

Hati-hati: - Penggunaan pd lansia, ggn fs ginjal, ggn fs hepar, dpt


menyebabkan depressi pernafasan, kehamilan, ibu menyusui, tmsk org yg bkj
dg menggunakan mesin

Adverse Drug Reactions:


• Sedation
• Mental depression
• Ataxia
• Nystagmus
• Steven Johnson Syndrome, allergic skin reactions
• Megaloblastic anaemia ( beri asam folat)
• Hypotension
• Confusion in elderly
Farmakokinetik :
- Absorpsi lambat, tp sempurna scr oral
- Terikat dg protein plasma/jar 40-60% (otak)
- Half life pd pasien dewasa 90 jam, anak2 bervariasi
- Kadar dl plasma 10 – 40 mikrogram/ml pd dosis 1 mg/kg BB
- Utk mengontrol epilepsi, dicapai pd konsentrasi plasma 10-25
mikrogr/ml

Interaksi Obat:
- Menginduksi enzim mikrosomal hati
- Konsentrasi fenobarb meningkat spi 40% bl dikombinasi dg Asam valproat
2. Mefobarbital
• MKO dan ES = Fenobarbital, krn dl hepar diubah jd fenobarbital
• Aktifitas AE < dr fenobarb
• Efek sedasi > dr fenobarb
• Effektif thdp spamus mioklonik infantil
Dosis:
- Dewasa 200 – 400 mg/ hari

3. Metabarbital
• Mrpkn Long acting barbiturat
• Digunakan pd Tonik-klonik (GM), mioklonik, petit mal
• Dosis: dewasa 100 – 300 mg/ hari
4. Primidone (Deoxybarbiturat)

• Effektif utk semua jns epilepsi, terutama tonik-klonik


• Senyawa asal /metabolitnya punya efek yg sama.

Dosis:
50 mg, 3 x sehari spi 250-500 mg, 3 x sehari

FK :
Absorpsi cpt dan sempurna scr oral
Kdr plasma puncak dicpi dl 3 jam stlh pemberian oral
Half life 5-15 jam, volume distribusi 0,6 liter/kg
Metabolit aktif: fenobarbital dan fenil etil malonamid (FEMA)
Half life FEMA 8-12 jam
Kadar Effektif 8-12 mikrogram/ml
Interaksi Obat:
Fenitoin meningkatkan metabolisme primidone ke fenobarbital
INH akan menurunkan metabolisme primidone
Interaksi lainnya = fenobarbital

ES:
Sedasi, vertigo, pusing, ggn GIT, ataksia, diplopia, nistagmus, SLE,
leucopenia, trombositopenia, limfadenopati, anaemia
megaloblastik dan osteomalasia

Catatan:
Hati-hati penggunaan turunan Barbital pd ibu hamil yang epilepsi, karena
dapat meningkatkan resiko malformasi mayor pd janin, seperti oral cleft dan
cardial defect
Turunan Hidantoin: (fenitoin, mefenitoin, etotoin,
fosfenitoin)
- Dignkan sbgi antiseizure partial dan umum
- Bersifat non sedative
- Difenil hidantoin (oral), Fosfenitoin (parenteral)

1. Fenitoin
- Obat utama utk semua tipe epilepsi, kecuali (PM =
absence seizure)
- Jg effektif utk epilepsi Lobus temporalis
- Dpt dikombinasi dg Antiepilepsi lain
MKO:
 Mengubah konduktans Na, K dan Ca
 Menghambat pelepasan serotonin dan NA pd konsentrasi tinggi
 Meningkatkan reuptake dopamin
 Menghambat aktifitas MAO
 Menghambat potensial aksi yg berulang

FK:
 Absorpsi tgtg pd formulasi btk sediaan dan ukuran partikel
 Btk garam Natrium diabsorpsi sempurna
 Kdr puncak dicapai 3-12 jam
 Absorpsi btk parenteral tdk dpt diprediksi, krn terikat pd protein
jaringan, tetapi fosfenitoin lbh mdh diabsorpsi scr IM
 Konsentrasi dl CSF = konsentrasi obat bebas dl plasma

 Diakumulasi dl RE sel otak, hati, otot dan lemak


 Half life 12-36 jam, rata2 24 jam
 Konsentrasi terapetik 10 – 20 mikrogram/ml

Dosis:
Oral
Dewasa 300 – 600 mg/hr akan dicapai konsent terapetik 10 mikrogr/ml
Anak2 5 mg/kg BB/hr

Parenteral
IV, IM digunakan pd status epilepticus convulsive
Interaksi Obat lain dg Fenitoin
 Terikat pd protein plasma 90%, obat ini dpt mengusir Phenilbutazone
dan turunan Sulfonamida yg terikat pd protein plasma - bebas
 Metabolisme fenitoin dihambat oleh: Khloramfenikol, Khlordiazepoxid,
diazepam, khlorpromazine
 Inducer metabolisme: autoinducer utk dirinya, fenobarb & carbamazepine
 Coumarin, disulfiram, INH dan kloramfenikol dpt menghambat
metabolisme fenitoin, shg timbul toksisitas
Efek Samping:
 Nistagmus, diplopia, ataxia, hiperplasia gingiva, hirsutisme
 Pd pengg kronik: Abnormalitas absorpsi vitamin D & menghambat absorpsi
Calsium intestinal, osteomalasia, hipokalsemia, anaemia megaloblastik,
kadar asam folat rendah
 Bersifat teratogenik - cacat congenital -- Keilopalatoskisis
2. Mephenitoin
Indikasi: Seizure primer dan umum, tonik-klonik
FK: Scr oral cepat diabsorpsi
Kdr terapetik 5-16 mikrogr/ ml
T1/2
Dosis: Dewasa 300 – 600 mg/hari, anak2 100-400 mg/hr

MKO:
-Meningkatkan nilai ambang serangan

-Efek Samping:
Dermatitis, Agranulositosis, hepatitis, ataxia, hipertrofi, hirsutisme

3. Etotoin
Turunan Oksazolidindion (Trimetadion, Parametadion)
1. Trimetadion dan Parametadion
Bersifat hipnotik dan analgesik

Indikasi:
 Utk serangan absence yg tdk terkendali dg obat lain
Farmakokenetik:
 Metabolitnya dimetadion lbh effektif dt trimetadion
 Half life dimetadion 6 – 13 hari
 Diabsorpsi scr sempurna di GIT
 Konsentrasi puncak dicapai dl 0,5 – 2 jam
 Volume distribusi 60% dr BB
Efek Samping: Sedasi, dermatitis, hepatitis dan anaemia aplastik
Dosis:
Dewasa 900 – 2100 mg/ hari
Anak-anak 20-60 mg/ kg BB

MKO:
 Meningkatkan nilai ambang serangan epilepsi
 Mengurangi transmissi impuls pd Medulla spinalis slm stimulasi
repetitive
2. Carbamazepin (tegretol)

MKO:
 Sama dg fenitoin
 Mengurangi transmissi sinaptik
 Menghambat ambilan dan pelepasan NA di otak
Indikasi:
Seizure partial, tonik-klonik
Komb Carbamazepin dan fenitoin utk epilepsi yg tdk terkendali
dan neuralgia trigeminal
Utk OS maniak depressive

FK:
Absorpsi sempurna, kdr puncak dicpi 6-8 jam stlh oral
Absorpsi lambat bl diberikan stlh makan
Distribusi lambat, volume distribusi 1l / kg
Terikat dg protein plasma 70%
Dosis:
• Dewasa
• Anak-anak 15 – 25 mg/kg/hr

Interaksi Obat:
primidon, fenitoin, Valproat dpt meningkatkan metabolisme
carbamazepin
danazol, trioleandomisi, propoxyphen dpt menghambat
metabolisme carbamazepin

Efek Samping:
• Diplopia, Ataxia dan gangguan GIT
3. Oxcarbazepine
Indikasi:
• Seizure partial

Farmakokinetik:
• Metabolitnya lbh aktif
• T1/21 – 2 jam

Efek samping:
• sama dg carbamazepin
4. Vigabatrin
MKO:
• Menghmbt GABA Transferase yaitu enzim yg bertanggung jawab
thdp degradasi GABA

Indikasi:
• Seizure primer

Dosis:
Dewasa: 500 mg, 2 x sehari; anak2 2 – 3 g/ hari

Efek Samping;
Sedasi, pusing, peningkatan berat badan, agitasi, bingung, psikosis
FK:
• Absorpsi berlgsg cepat
• Kdr puncak cpt dicpi dl 1- 3 jam stlh oral
• Vol distribusi 0,8 l/kg
• T1/ 6 – 8 jam

5. Lamotrigine
MK: Menghambat konduktans ion
Indikasi:
Seizure primer pd pasien dewasa, seizure absence dan mioklonik pd
anak2

Dosis:
Dewasa 100-300 mg/hr akan dicpi kdr terapi 3 mikrogram/ml
FK:
• Absorpsi sempurna, volume distribusi 1 – 1,4 l/kg
• Ikatan dg protein 55%
• T1/2 = 24 jam

Efek Samping:
Pening, nyeri kepala, diplopia, mual, somnolen dan ruam kulit

Interaksi Obat:
Dg asam valproat akan meningkatkan Half life 2 x lipat shg dosis hrs
diturunkan mjd 25 mg/hari
6. Felbamate
Indikasi: Seizureprimer
MKO: Inhibisi reseptor NMDA
ES: Anaemia aplastik, hepatitis
Dosis: Dewasa 2 – 4 g/hr akan dicapai kdr effektif 30-100 mikrogr/ml

7. Gabapentin
Indikasi : Seizure primer, tonik-klonik dan nyeri neuropati
Dosis: 2400 mg/hr (utk 2-3 x), t1/2 = 5- 8 jam
Efek Samping: Somnolen, pusing, ataxia, nyeri kepala dan tremor
8. Topiramate
MKO:
• Meningkatkan repetitive firing rate neuron Corda spinalis
• Menyekat Na-channel yg bergtg voltase
• Memperkuat efek inhibitorik GABA
• Menekan kerja kainate pd reseptor AMPA

Indikasi:
• Seizure partial, tonik-klonik
• Syndroma Lennox gestant
• Syndroma West

Dosis: 200 – 600 mg/hr, pd OS toleransi 1000 mg/hr, dimulai pd


dosis 50 mg/hr
FK :
- Diabsorpsi cpt +/- 2 jam, terikat dg protein 15 %
- Kecptn metabolisme 20-50%, diekressi mell urin dl btk utuh

Interaksi Obat:
- Dg obat KB (estrogen), shg gagal kontrasepsi, OKI di + dosisnya

Efek samping:
Sedasi, lelah, pusing, gelisah, bingung dan lambat berpikir dan
bersifat teratogenik
9. Tiagabine:
• Mrpkn inhibitor GABA dl neuron dan sel glia

MKO:
Meningkatkan efek inhibisi GABA

Indikasi:
Terapi tambahan pd seizure parsial (kejang parsial, petit mal)

Dosis:
16 – 56 mg/hr utk 4x pemberian

Efek samping:
- Tegang, pusing,tremor, sukar berkonsentrasi dan depressi
FK:
• Bioavailabilitas 90 – 100%
• T1/2 = 5 – 8 jam
• Ekressi mell faeses 60-65%, urin 25%

10. Zonisamide
• Mrpkn turunan Sulfonamide

MKO:
Indikasi : Seizure partial dan tonik-klonik
FK: t1/2 = 1 – 3 hari
Dosis : Dewasa 100 – 600 mg/hari, anak2 4 – 12 mg/hr
11. Levetiracetam
• Mrpkn analog piracetam
FK:
• Kadar puncak dicapai dl wkt 1-3 jam
• Terikat dg protein < 10%
• T1/2 = 6-8 jam
• Diekressi mell urin dl btk utuh
Dosis: Dewasa 2 x 500 mg --- max 3000 mg/hr
Efek Samping: Kantuk, somnoln, asthenia dan pusing
Obat status epileptikus
Keadaan serangan epilepsi tanpa periode sadar, dpt
berlgsg selama bbrp jam atau hari. Keadaan ini dpt timbul
scr spontan akibat terlalu cepat menghentikan antiepilepsi

Pengobatan status epileptikus


- Diazepam 10 mg, IV diberi dl 5 menit, efek singkat shg
perlu dilanjutkan dg
fenitoin IV dg kecepatan 50 mg/menit smp dosis
mencapai 0,5- 1mg
- Klonazepam (1 – 4 mg), IV, efek lbhlama dr diazepam, tp
hati2 dpt
menyebabkan depresi pernafasan dan sedasi
MONITORING KADAR
ANTIEPILEPSI DALAM PLASMA

MEMBANTU DOKTER :
- Kepatuhan Pasien
- Kadar Terapi Sudah Tercapai
- Monitoring Dosis Tanpa Efek Toxic
- Penyesuaian Dosis

Obat Dapat Menimbulkan Kadar Terapi Optimal


PEMILIHAN OBAT PADA TERAPI
EPILEPSI

Tujuan terapi
 Pasien dibebaskan dr cetusan tanpa
mengganggu fs normal SSP

 Pasien dpt mlkkan tugas tanpa gangguan.


TERAPI :
1. Melakukan Pengobatan Kausal;
2. Menghindari Faktor Pencetus;
3. Menggunakan Anti Konvulsi / Anti Epileptik.
SYARAT PENGOBATAN EPILEPSI

1. Diagnosa Harus Tepat;


2. Pasien Berobat Teratur;
3. Pemeriksaan Neurologi (EEG);
4. Pemeriksaan Laboratorium;
5. Pemeriksaan Kadar Obat Dalam Darah.
TERAPI OPTIMAL

1. Hrs dimulai dg obat tunggal;


2. Harus dimulai dg dosis kecil;
3. Perlu monitoring kadar obat dl plasma
4. Kdgkala perlu obat pengganti
5. Obat pertama diturunkan dosis scr bertahap
6. Terapi kombinasi dpt diberikan.
8
KEGAGALAN TERAPI

1. Ketidakpatuhun Pasien;
2. Diagnosa Tidak Tepat;
3. Dosis dan Pilihan Obat Tidak Tepat;
4. Terlalu Sering Mengganti Obat;
5. Lingkungan yg tdk mendukung.
PENYAKIT PARKINSON’S
Mrpkn peny neurologik dg manifestasi berupa ggn sikap,kekakuan, tremor
dan hipokinesia (penurunan gerakan otot scr abnormal)

Penyebab:
 Pengurangan reseptor dopamin
 Penurunan jlh sel2 dl substantia nigra

SUBJECT: SYSTEMIC PHARMACOLGY


Gejala klinik:
 Gerakan15-10-2014
terganggu
 Sistem dopaminergik defek
 Peningkatan aktivitas sistem kholinergik

48
KNOWN CAUSES

49
Patologi:
- Akibat defisiensi dopamin pd daerah Med. spinalis
yaitu: Substantia nigra  terjadi kerusakan di traktus
nigrostriatum
- Defisiensi dopamin  eksitasi Saraf kholinergik yg
menjd lbh dominan, sdgkn dl keadaan normal inhibisi
dibwh kontrol saraf dopaminergik dan pengaruh
eksitasi dibwh kontrol saraf kholinergik yg sll berada
dl keseimbangan
- Paska radang otak, pengg neuroleptik
51
Penyebab:
• Penggunaan obat2 neuroleptik (fenotiazin,
butirofenon, CPZ, Cu, Mn, CO, metoklopramid & Metil
Phenyl Tetrahidro Piridin (MPTP = neurotoksin yg yg
membutuhkan MAO –B utk merusak saraf
dopaminergik)
• MPTP mrpkn turunan meperidin yg mampu merusak
dopamin pd Substantia nigra
Gejala Klinik:
• Postur tbh kaku, gerakan lambat, muka tegang, tremor
alat gerak
CLINICAL SYMPTOMS

MOTOR SYMPTOMS NON-MOTOR SYMPTOMS


DYSKINESIA  CNS
 Cognitive: Dementia
 Bradykinesia  Psychiatric : depression, anxiety,
 Hypokinesia psychosis
 Resting tremor  Sleep disorder: Somnolescence,
 Other : Pill rolling Insomnia
Micrographia  Sensory : Taste, visual, olfactory
Reduced blink rate disturbances
DYSTONIAS
 Limb rigidity
 Stooped posture
 Inarticular speech
 Painful cramps

53
Perkembangan Penyakit Parkinson:
1. Stadium dini: Gejala tremor dan bradikinesia, OS msh
dpt menjalani fungsinya dg baik
2. Stadium disabilitas awal: OS mengalami ggn fungsi
dan tdk dpt mengurus dirinya sendiri, bradikinesia,
gangguan gerak dan instabilitas postur. OS sdh hrs
diberi levodopa
3. Stadium lanjut: OS mengalami fluktuasi motorik,pd
stadium ini penambahan agonis dopamin sgt
bermanfaat dan dpt mengurangi diskinesia. Selain itu
dpt digunakan amantadin, selegelin
DIAGNOSIS

 No lab tests are available.

 Genetic testing not routinely helpful.

IMAGING TECHNIQUES:

• Positron emission tomography (PET)


• Single photon emission tomography ( SPECT)
• Normal CT scan
• Normal MRI scan

55
MANAGEMENT

PHARMACOLOGIC NON-PHARMACOLOGICAL SURGERY

Anti-cholinergic Education
Deep brain stimulation
DOPA decarboxylase Nutrition
inhibitor
Psychiatric counselling
COMT inhibitor
Exercise
MAO-B inhibitor
Speech therapy
DA receptor agonist
Occupational therapy
Miscellaneous
Neurorehabilitation

56
TERAPI:
- Terapi bersifat simptomatik menanggulangi
kekurangan dopamin atau dg mergsg reseptor
dopamin
- Pemberian antikholinergik dignkn utk menekan
aktifitas saraf kholinergik yg sgt dominan pd
penderita (atropin, benzotropin)
- Menghilangkan penyebab

TUJUAN TERAPI:
- Mghlgkn ggn fs agar dpt menjlnkn aktivitas dg baik
Terapi Non Farmakologi;
• Latihan fisik/ olah raga
• Fisioterapi
• Psikoterapi

Terapi Farmakologi:
1. Stadium Dini: Selegilin, Antikholinergik (Triheksifenidil),
amantadin
2. Stadium Disabilitas awal: Selegilin, levodopa + benzerazid,
levodopa + karbidopa dan bromokriptin
3. Stadium lanjut: Levodopa + benzerazid, karbidopa + levodopa,
Bromokriptin dan selegilin
Peningkatan aktifitas dopaminergik:

1. Meningkatkan dopamin dg: Levodopa, Levodopa +


Dekarboklilase inhibitor
2. Mergsg reseptor dopamin: Bromokriptin, pergolid,
lergotril, lisurid, piridil dan apomorfin
3. Pelepasan dopamin endogen; Amantadin, amfetamin
4. Menghambat ambilan dopamin: Benzotropin dan
Benzheksol
5. Penghambat MAO-B: Selegilin dg levodopa dan
dekarboksilase inhibitor (karbidopa, benzerazid)
MONO AMIN OKSIDASE –INHIBITOR
1. Selegilin
• Utk memperlambat progresivitas penyakit
• MKO dg menghambat degradasi dopamin
• Memiliki efek potensiasi dg levodopa
• MAO ada 2 tipe yi: Tipe A dan B, selegilin spesifik utk MAO
tipe B tdk memiliki efek thdp katabolisme dopamin, tp
menimbulkan efek potensiasi dg levodopa
• Selegilin dignkn bl levodopaatau kombinasi levodopa +
benzerazid kurang memuaskan
• Selegelin dg MAO-B terbukti
Efek Samping:
 Kombinasi Selegilin + Levodopa : Diskinesia,
mual dan halusinasi, dpt dihindari dg
menurunkan dosis levodopa atau benzerazid
 Timbul insomnia, pusing dan bingung,
hipotensi ortostatik, arrythmia,angina dan
hipertensi
 Pd sediaan tunggal efek samping spt diatas tdk
dijumpai
Antikholinergik
Triheksifenidil
• Utk usia muda dg gejala disabilitas ringan
dan tremor kuat
ES: Paranoid, bingung, reaksi lambat,
agitasi, disorientasi, delirium, mulut
kering, midriasis, takhikardia, konstipasi,
retensi urin dan psikosis. Obat ini dpt
memperberat glaukoma dan hipertropi
prostat
Amantadin
MKO:
• Meningkatkan pelepasan dopamin dr ujung
saraf
• Memperlambat re-uptake dopamin ke dl
terminal pre-sinap
• Memiliki efek antikholinergik
Indikasi:
- Stadium disabilitas ringan parkinson, baik
monoterapi / kombinasi
- Kombinasi dpt dg antikholinergik lain atau levodopa.
Efek samping:
- Gelisah,pusing, sulit konsentrasi, ataksia, insomnia,
letargi, mulut kering, retensi urin, penglihatan
kabur,hipomotilitas saluran cerna dan tdk aman utk
ibu hamil dan ibu menyusui
Interaksi Obat:
- Bl dikombinasi dg antikholinergik lain bersifat potensiasi

FK:
• Absorpsi sempurna, ekresi 85-90% dl btk utuh melalui
ginjal.
• T1/2 pd dewasa muda 14 jam, pd lansia 29 jam. Hati2
pengg obat ini pd gangguan fungsi ginjal
• Hemodialisis kurang effektif untuk mengeluarkan
amantadin
Levodopa
- Parkinson  defisiensi dopamin di ganglia basal, ttpi
dopamin tdk dpt diberikan (tdk dpt menembus BBB)
- Levodopa mrpkn prekursor dopamin (dpt msk BBB),
meskipun di daerah perifer ditemukan enzim pengurai
dopa decarboksilase (levodopa  dopamin). Sisa
levodopa dl btk utuh di dl darah msk ke otak.
- Kombinasi levodopa akan lbh baik bl diberikan dg obat
penghambat enzim dopa dekarboksilase spt
karbidopa, benzerazid dan alfametildopa (mencegah
perombakan levadopa jd dopamin di perifer 
levodopa msk ke otak)
FK:
 Cepat diabsorpsi diusus halus 90-95%
 Kdr puncak dicapai setelah 0,5 – 2 jam (oral)
 Half life 1 – 3 jam
 Absorpsi levodopa tgtg wkt pengosongan lambung

Dosis
 Kombinasi: levodopa 100 mg + benzerazid 25 mg
 Dosis awal dimulai 25mg – 100 mg, 2 – 4 kali/hr
 Stadium disabilitas ringan 200-400 mg/hr.
Catatan:
- Penderita perlu dirawat di RS bl: disabilitas
terganggu, sukar memantau pd saat penyesuaian
dosis, ada gangguan sistemik lainnya yg perlu
dimonitor setiap hari. Penyesuaian dosis plg cpt 3
hari
Efek samping:
- Mual, muntah, anorexia, gangguan respirasi spt
batuk, post nasal dripping, takhipnea, bradipnea,
pilek dan dada rasa tertekan ini timbul akibat
diskinesia diafragma
Kontra Indikasi:
Pd ibu hamil.
Interaksi Obat:
 Pemberian dg metokhlopramid , CPZ, alkaloid
rauwolfia  menurunkan effektifitas levodopa
 Efek levodopa akan meningkat dg pemberian
agonis dopamin, amantadin dan selegilin.
Hipertensi  jk bersama dg MAO-I & sebaiknya MAO-I
dihentikan 2 minggu sebelum penggunaan levodopa

Efek antiparkinson levodopa akan ↓ dg pemberian vit. B6


(piridoksin)  ↑ aktifitas enzim dopa dekarboksilase di
perifer. Kombinasi dg karbidopa atau benzerazid 
pengaruh vit B6 jd minimal

Agonis Dopamin

Bromokriptin
Lbh aktif effektif dr antikholinergik & amantadin,
Kurang effektif jk dibandingkan dg levodopa
Mampu mrgsg reseptor D2 dan D3
Indikasi Utama:
 Adjuvant terapi pd OS yg sdg diobati dg levodopa dan benzerazid
(inhibitor dopa dekarboksilase)
 Sbgi upaya utk menurunkan insiden diskinesia akibat penggunaan
levodopa
 Bermanfaat utk menurunkan fluktuasi motorik
 Sbgi obat alternatif/pengganti bl levodopa dikontraindikasikan atau
toleransi pasien yg buruk
 Bl penggunaan bromokriptin dosis besar, mk pengg levodopa hrs
diturunkan
 Dosis: 10 – 50 mg

Efek Samping:
Pusing, hipotensi, ggn GIT, bl mual sgt menganggu dpt diberikan
Domperidon

Interaksi Obat:
Pemberian bersama Eritromisin akan menurunkan bersihan Bromokriptin
Farmakokinetik Levodopa :
 cpt diabsorpsi di duodenum
 mencapai sirkulasi darah relatif sedkit
(cepat mengalami pemecahan di lambung,
diujung bgn distal oleh flora usus , dalam ddg
usus & lambatnya mekanisme di bgn distal
duodenum
 Absorbsi dihambat oleh makanan kaya protein
 (kompetisi asam amino dgn L-dopa
 Oral: yg m’capai sirkulasi ± 22-30%, ≥ 60% 
biotransformasi di sal. Cerna & hepar
enzim dopa-dekarboksilase (dekarboksilase asam amino-1-
aromatik, DC) >> Hati, jaringan dan dinding kapiler & otak

levodopa:
 sdkt sekali (1%) yang mencapai otak (SSP),
 95% terjadi dekarboksilasi di perifer

MEKANISME KERJA:
Mengisi kekurangan dopamin korp. Striatum
Deff dopamin ≈ beratnya gejala parkinson

ES th/levodopa  terbtk dopamin di perifer


Th/ butuh dosis >> utk dpt efek dopamin di nigrostriatum
PHARMACOLOGICAL
 Anticholinergic – TRIHEXYPHENIDYL, PROCYCLIDINE, BENZTROPIN
ORPHENADRIN.

 Dopamine precursor – LEVODOPA

 DOPA decarboxylase inhibitor - CARBIDOPA

Levodopa treatment: Immediate release Levodopa: CARBIDOPA+ LEVODOPA


LEVODOPA+ BENSERAZIDE
Controlled release Levodopa

 COMT inhibitors- ENTACAPONE, TOLCAPONE

 MAO-B inhibitors – RASAGILINE, SELEGILINE

 Dopamine receptor agonists- BROMOCRIPTINE, APOMORPHINE,


PRAMIPEXOLE, ROPIRINOLE.

 Miscellaneous - AMANTADINE 74
PHARMACOLOGICAL
CLASS DRUGS MOA USE ADVERSE
EFFECTS

ANTICHOLINERGIC Trihexylphenidyl Decreases Effective Anticholinergic


Procyclidine the against tremor SE-
Benztropine cholinergic • Dry mouth
Orphenadrin activity Early stages • Constipation
of PD • Urinary
retention
Control • Agitation
siallorhea • Excitation

Reduce
severity of
akinesia &
rigidity

75
PHARMACOLOGICAL
CLASS DRUG MOA USE ADVERSE
EFFECTS

DOPAMINE Levodopa Crosses BBB, Improve • Nausea


PRECURSOR dopaminergic Hypokinesia & • Vomiting
neurons rigidity • Postural
convert hypotension
Levodopa to Resolve
DA symptoms of
posture,
Handwriting,
Speech,
Facial
expression,
Mood.

76
PHARMACOLOGICAL
CLASS DRUG MOA USE ADVERSE
EFFECTS

PERIPHERAL Carbidopa/ Drugs prevent Plasma half • Nausea


DECARBOXYL Benserazide the peripheral life of L-DOPA • Vomiting
A-SE metabolism of increased.
INHIBITORS Given in L-DOPA.
combination
with L-DOPA.

77
PHARMACOLOGICAL
CLASS DRUG MOA USE ADVERSE
EFFECTS

COMT Tolcapone Peripheral Combination of • Nausea


INHIBITORS Entacapone decarboxyltion L-DOPA in • Vomiting
by COMT– patients with • Postural
blocked. wearing-off- hypotension
effect.
Entacapone- Tolcapone SE –
acts only in Diarrhoea.
periphery. Short
duration of Entacapone SE-
action yellow orange
urine.
Tolcapone –
central action.
Prolong &
enhance L-
DOPA action

78
PHARMACOLOGICAL
CLASS DRUG MOA USE ADVERSE
EFFECTS
MAO-B Selegiline Selegiline- selective, Prevent the Selegiline
INHIBITORS Rasagiline irreversible MAO-B progression of metabolised to
inhibitor disease. amphetamine –
cause insomnia
Combination with L- & agitation.
DOPA – prolong action,
prevent wearing-off-
effect.

Rasagiline- Selective
MAO-B inhibitor, long
acting

79
PHARMACOLOGICAL

CLASS DRUG MOA USE ADVERSE


EFFECTS

DOPAMINE Bromocriptine Bromocriptine – Improvement in • Nausea


RECEPTOR Ropinirole ergot derivative parkinsonism • Dizziness
AGONIST Pramipexole Potent agonist symptoms • Hallucination
on D2. • Postural
hypotension
Ropinirole &
Pramipexole –
non ergoline
derivatives
Selective D3
agonist

80
PHARMACOLOGICAL

CLASS DRUG MOA USE ADVERSE


EFFECTS

DOPAMINE Amantadine Promote Provide • Insomnia


FACILIATOR presynaptic symptomatic • Dizziness
synthesis & benefit • Confusion
release of DA in
brain

81
NON-PHARMACOLOGICAL
• Helps to relieve some of the motor symptoms.
• Aid in the management of postural instability and non- motor symptoms.
EDUCATION:
Provide patient & family information and control over the disorder.
NUTRITION:
Elderly patients with chronic illness are at risk of poor nutrition and weight.
A high fibre diet & adequate hydration therapy is beneficial. Protein
restriction.
SUPPORT:
Exercise, Physiotherapy, Speech therapy & occupational therapy are
essential to help patients to cope up with their progressive disability.
To maintain muscle and tendon strength
Psychiatric help and medication : needed for depression.

84
SURGERY
Plays a role in people who can’t achieve a satisfactory response to
available medications.
DEEP BRAIN STIMULATION:
Brain pacemaker sends impulses to brain to stimulate sub thalamic
nucleus.
STEM CELL TRANSPLANTATION:
Transplanting foetal dopaminergic neurons directly into dopamine
depleted regions of basal ganglia.

85
MIASTENIA GRAVIS
MIASTENIA GRAVIS
Peny. Neuromuscular:
ditandai dgn kelemahan &
keletihan otot skeletal (otot
rangka) yg jelas
Terapi:
1. Neostigmin
2. Piridostigmin antikolinesterase
3. Ambenonium

SE (-)  SSP (tidak menembus BBB


Pd Miastenia Gravis: terlibat neurotransmiter
asetilkholin
 Semua ujung syaraf preganglion (parasimpatetik
maupun simpatetik) dr sistem syaraf otonom
 Semua ujung syaraf parasimpatetik pasca
ganglionic
 Neuromuscular junction (dari sy. volunter ke otot)
 Skeletal.
 Medulla Adrenalis
 Sistem syaraf pusat
 Ujung syaraf simpatetik pasca ganglionik (kel.
keringat)

Penyebab MG:

proses autoimun  imunosupresif


Berkurangnya reseptor asetilkolin pd memb.
pasca sinaptik.
 prednison 40mg/hr + asetilkolinesterase
(MP 2 gr / 250 cc garam fisiologis)  12 jam
SINDROMA GUILAIN BARRE
SINDROMA GUILAIN BARRE (lanjutan…………………….

Nama lain:
 Landry-Guillan-Barre syndrome
 Acute Inflamatory Polyneuropathy
 Acute Autoimune Neuropathy
 polyneuritis Pasca Infeksi

Suatu kondisi neuropathy akut dimana terjd


paralisis asenderen (Paralisis Laundry) akibat
proses autoimune dgn respon inflamasi pada
radiks & saraf tepi (poliradikulopati)
SGB
Terapi Spesifik
 Penggantian Plasma
200-250 ml/kgBB (4-6 x pemberian selang sehr
dgn cairan kombinasi garam dan 5% albumin.

 Imunoglobulin IV
0.4 gr/kg BB/hr (5 hr)
komplikasi: ggl ginjal, proteinuri, meningitis aseptik
(jarang)  nyeri kepala berat

 Kortikosteroid
IV  dosis tinggim’hentikan perkembangan
penyakit (Victor & Ropperv 2001)
Dihindari pd SGB akut
ETIOLOGI, PATOLOGI, dan DIAGNOSIS SGB

 Rx autoimune  infeksi (virus, unknown)

 Pascabedah, virus (cytomagalovirus, Epstein-Barr virus, HIV),


infeksi bakteri, limfoma, vaksin rabies, swine influenza vaccine,
camphylobacter jejuni

 Ab yang terbentuk  demielinisasi segmental

 Infiltrat limfositik, perivascular

 Rx inflamasi dan edema  kompresi

 Transudasi protein serum ke subarakhnoid dan CSS (Protein ↑ 


CSS)

 Inflamasi  hiperemi & dilatasi pemb. drh  protein >> di CSS


ALZHEIMER’S DISEASE
ALZHEIMER’S DISEASE
AD is a progressive neurodegenerative
disorder which affects older individual's
and is common cause of dementia.

Dementia- is the long term loss of ability


to think, memorise clearly.

Atrophy of cortical and subcortical areas


is associated with the deposition of β-
amyloid protein in form of plaques and
formation of neurofibrillary tangles.

There is marked cholinergic deficiency in


brain.
STAGES OF ALZHEIMER’S DISEASE
Effects of aging on memory but not AD
Forgetting things occasionally
Misplacing items sometimes
Minor short term memory loss
Early stages of Alzheimer’s
Absent mindness
Forgetting appointments
Confusions in some situations
Middle stage Alzheimer’s
Deeper difficulty remembering learned information
Speech impairment
Late stage Alzheimer;s
Loss of self- awareness
CAUSES OF ALZHEIMER’S- EARLY ONSET

 Due to alterations on chromosome 1,14 and 21.

 Mutation on chromosome 14 --- produces a protein PRESENILIN 1


(PSEN1).

 Mutation on chromosome 1 --- produces a protein PRESENILIN 2


(PSEN2).

 PRESENILIN 1 & 2 encode for membrane protein involved for AMYLOID


PRECURSOR PROTEIN (APP).

 Mutations lead to activity of γ-secretase , an enzyme important in β-


amyloid peptide (βAP) formation.

 APP is encoded on chromosome 21.

 Mutation on APP gene – overproduction of βAP.


CAUSES OF ALZHEIMER’S- LATE ONSET

 Due to apo-lipoprotein E ( apoE) gene.

 Gene responsible for production of apoE gene – chromosome 19.

 Inheritance of apoE4 allele posses genetic risk in sporadic AD.

 Degree of risk depends on:


Number of copies of apoE4 genes
Age
Ethnicity
 Presence of apoE4 allele increases risk of developing late onset AD.
CAUSES OF ALZHEIMER’S

ENVIRONMENTAL & OTHER FACTORS:

 Factors like:
- Age
- Decreased reserve capacity of brain ( decreased brain size,
decreased mental activity)
- Head injury
- Risk of vascular diseases ( Hypercholestremia, Hypertension,
CHD, Obesity, Diabetes)
PATHOPHYSIOLOGY
• Lesions in Alzheimer’ disease are:
neuritic plaques and neurofibrillary tangles ( NFTs)
located in cortical areas and medial temporal lobe structures of brain.

• Several mechanisms involved in pathogenesis of AD:

-- βAP aggregation & deposition --- leads to plaque formation.


-- Hyperphosphorylation of Tau protein --- leads to NFT development
-- Inflammatory processes
-- Dysfunction of neurovasculature
-- Oxidative stress
-- Mitochondrial dysfunction
PATHOPHYSIOLOGY
AMYLOID CASCADE HYPOTHESIS:

• Neuritic plaques ( amyloid/ senile


plaques) are extracellular lesions
found in brain & cerebral
vasculature.

• βAP plaques are formed from the


protein APP.

• Altered APP processing --- leads


to overproduction of βAP
production --- plaque formation ---
induces neurodegeneration ---
neuronal loss --- dementia.
PATHOPHYSIOLOGY
NEUROFIBRILLARY HYPOTHESIS:

• NFTs are found in cells of hippocampus


& cerebral cortex in AD patients.

• NFTs are composed of abnormally


hyper-phosphorylated Tau protein.

• Tau protein provides structural support


to microtubules, cell’s transportation and
skeletal system support.

• When Tau filaments undergo abnormal


phosphorylation at specific site, they
can’t bind to microtubules, thereby
collapses.
PATHOPHYSIOLOGY
INFLAMMATORY MEDIATORS:

• Brain amyloid deposition is associated with local inflammatory and


immunologic alleviations.

• It is associated with release of Nitric oxide, cytokines, other radical


species & complement factors that injure neurons and promote
inflammation.

CHOLINERGIC HYPOTHESIS:

• Loss of cholinergic activity correlates with AD severity.

• In late AD, number of cholinergic neurons are decreased, loss of


nicotinic receptors in hippocampus and cortex.
PATHOPHYSIOLOGY
OTHER NEUROTRANSMITTER ABNORMALITIES:

• Glutamate & other excitatory amino acid NTs act as potential


neurotoxins for AD.
• If glutamate remains in synapse for a long period of time : destroys
nerve cells.
• Blocking of NMDA receptors decreases the glutamate activity in
synapse – decreases cellular injury in AD.

BRAIN VASCULAR DISEASE & HIGH CHOLESTROL:

• ApoE lipoprotein (synthesised in liver, CNS and CSF) carries cholesterol


in blood through brain.

• ApoE4 is associated with increased deposition of βAP.

• Increased cholesterol in brain neurons --- alter membrane functioning ---


leads to plaque formation --- Alzheimer’s disease.
SYMPTOMS

COGNITIVE NON-COGNITIVE FUNCTIONAL

Memory loss
Depression, psychotic Inability to care for self
symptoms
Aphasia
( Hallucination,
delusions)
Apraxia
Behavioural
Agnosia
disturbances
( Physical & verbal
Disorientation
aggression,
motor hyperactivity,
Impaired execution
uncooperativeness)
function
SYMPTOMS
DIAGNOSIS
LAB TESTS TO BE PERFORMED :

- Rule out Vitamin B12 & folate deficiency.

- Rule out hypothyroidism with Thyroid


functioning tests (TFTs)

- Conduct Blood cell counts, kidney function


test and Liver function test

DIAGNOSIS:

CT or MRI scan.
TREATMENT FOR CONGNITIVE SYMPTOMS IN AD

MILD-MODERATE DISEASE:

Cholinesterase Inhibitor:

DONEPEZIL
RIVASTIGMINE
GALANTAMINE

MODERATE-SEVERE DISEASE:

Anti-glutamatergic drug:

MEMANTINE
CHOLINESTERASE INHIBITORS

1st line therapy for the symptomatic treatment of cognitive symptoms in mild-
moderate AD.

TACRINE:

• 1St cholinesterase inhibitor approved for the treatment of Alzheimer’s


disease.
• It was the 1st centrally acting anti-ChE.
• It inhibits both AChE and BuChE.
• Used to treat mild-moderate AD.

• Now, used rarely because of hepatotoxicity.


CHOLINESTERASE INHIBITORS

DONEPEZIL RIVASTIGMINE GALANTAMINE

ENZYME AChE AChE, BuChE AChE


INHIBITED

MECHANISM Non-competitive Non-competitive Competitive

INDICATION Mild- Severe AD Mild-moderate AD Mild- moderate AD

METABOLISM CYP 2D6 Esterase CYP 2D6


CYP 3A4 CYP3A4

ADVERSE Nausea Nausea, Vomiting, Nausea, Vomiting,


EFFECTS Vomiting Diarrhoea, Loss of Diarrhoea, Loss of
Diarrhoea appetite, muscle appetite, Weight loss
weakness, Weight
loss
NMDA RECEPTOR ANTAGONIST

MEMANTINE:

- New NMDA receptor antagonist


- Slow the functional decline in
moderate- severe AD.
- Better tolerated than other anti-ChE

- Side effects:
constipation
tiredness
headache
drowsiness
REFERENCE

i. Laurence L.B, Bruce A C, Bjorn C K. Goodman and Gilman’s The


Pharmacological Basis of Therapeutics.2011. 12th edition. China: Mc Graw Hill
books; pp: 619- 623.

ii. Dipiro J T, Talbert R L, Yee G C et al. Pharmacotherapy- A Pathophysiological


Approach. 7th edition. China : Mc Graw Hill books; pp: 1085.

iii. Roger Walker, Cate Whittlesea. Clinical pharmacy and therapeutics. 5th edition.
Sydney: Churchill Livingstone; 2012.

iv. KD Tripathi, Essentials of medical pharmacology. 6th edition. New Delhi : Jaypee
Brothers Medial Publishers; 2009.
OSTEOARTHRITIS (RADANG SENDI = OA)
Definisi:
Mrpkn peny degeneratif yg menyebabkan kerusakan tlg rawan (cartilage)
sendi dan tulang didekatnya
Penyebab:
Proses perbaikan sendi tdk seimbang dg proses kerusakannya
Faktor risiko yg berhubungan dg peny OA:
 Usia (> 40 thn, lbh srg pd wanita)
 Genetik (autoimmun)
 Kegemukan
 Penyakit metabolik
 Cedera sendi
 Osteoporosis (kepadatan tlg berkurang)
 Beratnya beban sendi
 Kelainan pertmbhn sel2 yg membtk tlg rawan spt kolagen & proteoglikan)
Patofisiologi:
- Peny ini diduga akibat adanya peningkatan aktivitas enzim2 yg merusak makromolekul matriks
tlg rawan sendi (kolagen, proteoglikan), shg tjd kerusakan setempat yg blgsg scr progresif dan
memicu pmbtkan tlg baru pd lokasi lesi tsb yg dikenal dg osteofit

- Proteoglikan mrpkn seny yg membtk kelenturan tlg rawan, sdgkan kolagen tdd serabut protein
jaringan ikat yg berfungsi sbgi peredam

- Osteofit mrpkan tlg yg tbtk diantr sendi yg mempengaruhi fs sendi shg sendi sulit digerakkan
dan menimbulkan rasa nyeri

Manifestasi kliniK
- Nyeri sendi terutama pd saat bergerak
- Srg tjd pd organ penopang beban tbh (sendi panggul, tlg blkg, lutut dan paha)
- Tjd kemerahan, inflamasi, nyeri, kdg2 dpt menyebabkan deformitas (perubahan btk)
- Kdg kala dpt menyebabkan perobahan cara berjalan
- Timbul crepitus pd saat perpindahan posisi
Diagnosis:
• nyeri sendi saat digerakkan dan hilang ketika istirahat
•Kaku sendi pd pagi hari (morning stiffness) atau ketika tdk beraktivitas
•Bengkak tlg, hipertrofi tlg
•Kulit disekitar sendi merah, bengkak, nyeri
•Kdg tjd deformitas tmsk cara berjln
•Pd x-ray terlihat penyempitan ruang sendi, sclerosis tlg subkhondral
•Ada pembentukan osteofit
•Pemeriksaan darah: sel darah putih meningkat, neutrofil jg dmk

Tujuan terapi
•Edukasi pasien ttg peny tsb, pengobatan dan perawatan
•Menghilangkan nyeri dan kaku sendi
•Memelihara dan meningkatkan mobilitas sendi
•Mencegah gangguan fs sendi
•Meningkatkan kualitas hidup

Terapi OA:
•non farmakologi (OR, istirahat cukup utk mengurangi trauma sendi,diet utk turunkan BB, fisioterapi,
gunakan alat bantu, kompres, bedah)
Terapi farmakologi

Pemberian analgetik-antiinflamasi (hanya utk menghilangkan simptom)

1. Asetaminofen + Parasetamol = panadol


• analgetik first line pd OA, aman pd kondisi ringan, sedang dan tdk inflamasi
• Bkj scr sentral dg menghambat aktivitas COX shg tdk tbtk prostaglandin
• Dosis 325 – 650 mg (4 x sehari), pd dosis 2,5-4 g/hari = asetosal 650 mg, 4 x/hari = ibuprofen
1200 – 2400 mg/hari = naproksen 750 mg/hari

• Sediaan kombinasi dg tramadol (325 mg + 50 mg) atau (500 mg + 50 mg)


• Sediaan kombinasi dg kodein

2. Asetosal
• memiliki aktivitas analgetik, antipiretik dan antiinflamasi
• bkj dg menghambat PG, stimulasi nyeri pd subcortikal
• mencegah potensiasi PG thdp bradikinin
• Dosis 325 – 650 mg/ 4x sehari pc
• Turunannya salisilamid dan diflunisal
3. Capsaicin
• Ekstrak etanol cabe merah yg dpt dioleskan pd permukaan sendi tg nyeri
• Sediaan berupa linimenta atau plester tempel (koyo cabe)

4. Tramadol

5. Kodein

Antiinflamasi gol NSAIDs dan glukokortikoid

NSAIDs
• Umumnya bkj analgetik pd dosis rendah dan antiinflamasi pd dosis tinggi
• Aktivitas analgetik timbul 1-2 jam setelah pemakaian, sdgkan antiinflamasi lbh lama

• MK: menghambat aktivitas enzim COX


menghambat potensiasi PG thdp bradikinin, histamin, serotonin
Stabilisasi membran lisosom
Memodulasi sel T
Yg ptg diperhatikan penggunaan NSAIDs pd OA

• Dpt menyebabkan gangguan lambung: mual, muntah, dispepsia, nyeri epigastrium, perdarahan
lambung

• Sebaiknya menghindari penggunaan kombinasi sesama NSAIDs krn toksisitas akan >

• Toksisitas meningkat pd lansia, penggunaan bersama kortikosteroid

• Hati-hati penggunaan penderita peny kardiaovaskuler, antikoagulan

• Interaksi dg lithium, warfarin, tolbutamid, methotrexat, ACE inhibitor, beta bloker dan diuretik
Glukokortikoid

• MK: menghambat aktivitas enzim lipooksigenase

• Sediaan parenteral: prednison, metil prednisolon, deksametason , sediaan oral tdk dianjurkan
krn pd pemakaian jangka pjg berbahaya

• Injeksi intraartikular dibolehkan setiap 4 -6 bulan dan tidak boleh lebih dari 3-4 kali /tahun

Asam Hyaluronat

• Sbgi cairan pengganti sinovial


• Dpt meningkatkan elastisitas sendi shg sendi mdh digerakkan
• Diberikan dl btk garam sodium (Natrium)

Evaluasi terapi
• Apakah nyeri dan inflamasi msh ada
• Bgmn fleksibilitas sensi
• Bgmn fs dan kekuatan sendi
• Bgm ESO yg digunakan
ANTIMIGREN
Migren : ggn sakit kepala primer (peny utama), bersifat berat dan kambuhan

- Prevalensi migrain > wanita dp pria, diduga krn pengaruh hormonal


- Riwayat keluarga

Patofisiologi
- Adanya refleks vasospasme (kontraksi vaskuler) pd arteri di kepala,
terutama yg mensuplai darah otak vasokonstriksi arteri
intraserebral, suplai oksigen menurun shg tjd iskemia pd bgn otak.
- Sbgi kompensasi refleks vasospasme arteri di kepala, mk tjd
aktivasi sistem trigeminovaskuler yg menyebabkan pelepasan PG,
substansi P dan neurokinin A yg menimbulkan inflamasi neurogenik
dan dilatasi intrakranial shg saraf2 disekitarnya mentransmissi
impuls nyeri ke otak
- Adanya ketidakseimbangan serotonin (5HT)
Faktor pencetus:

Makanan
 Makanan (alkohol, kafein, coklat, makanan terfermentasi, MSG)
 Makanan yg mgdg nitrat (daging olahan), tiramin (keju, tape)
 Sakarin, aspartam, soft drink

Lingkungan
 Cahaya yg sgt terang, kebisingan, bau yg menyengat, asap rokok, cuaca

Kondisi fisiologis
 Krg tidur, lelah, haid, menopause
 Lapar, stress

Gejala
 Nyeri berulang, tjd unilateral (sebelah), kdg2 berlgsg 4 – 72 jam
 Pd kondisi berat dpt menyebabkan mual, muntah, peka thdp cahaya/suara
 Gejala sgt bervariasi antar individu
Identifikasi adanya migrain;

Prodromal: perubahan (mood, perasaan, sensasi), lelah, ketegangan otot

Aura: gangguan visual sblm serangan sakit kepala

Sakit kepala: pd satu sisi, berdenyut-denyut, mual, muntah

Nyeri kepala hilang setelah tidur, tdk bs konsentrasi, tdk bs makan/minum

TERAPI
Tujuan : - mencegah, mengatasi dan mencegah terulangnya serangan
- meminimalkan penggunaan obat
- mengurangi efek samping obat

Strategi: - Pd serangan akut diberi terapi nyeri


- Terapi preventif utk mencegah kekambuhan
Terapi non farmakologi:
- serangan akut migrain (kompres dingin, istirahat/tidur di ruangan yg
tenang dan gelap)

Terapi farmakologi:

Antinyeri (analgetik)
- Serangan akut : NSAIDs (aspirin, ibuprofen, parasetamol, tp pd
pasien asthma dan ulkus peptik aspirin dan ibuprofen dihindari

- Kombinasi Parasetamol, aspirin dan kafein (keadaan nyeri berat)

- Ergotamin tartrat
ES: ggn sal cerna, kram otot,
KI: pasien dg ggn jtg dan penyakit serebrovaskular

- Migrain ringan/sedang; aspirin 500 mg, parasetamol 500 mg,


sumatriptan 50 mg, ibuprofen 200-400 mg, ketoprofen 75-150 mg
- Agonis reseptor serotonin (5HT): triptan (utk migrain berat yg tdk memberi
respon dg NSAIDs
Kontraindikasi Triptan: Pd pasien jtg iskemik, MCI, Hipertensi yg
tdk terkontrol, spasme koroner, angina pektoris

- Antimuntah : proklorperazin (3 – 6 mg, bukkal tablet)


Domperidon 10 mg (oral), 30 mg (rektal), metoklopramid 10 mg