Anda di halaman 1dari 19

Journal Reading

Oleh: Gusti Ahmad Faiz Nugraha


Pembimbing : dr. Teguh Aly’ansyah, Sp. KK, M.Ked
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL AZIZ
SINGKAWANG
2018
 Human Papilloma Virus (HPV) suatu virus kecil dengan DNA double stranded
yang beranggotakan lebih dari 130 jenis tipe
 HPV tipe mukosa dan tipe kutaneus
 Tipe mukosa membran mukosa servikal neoplasia pada orang dewasa dan
juga kutil anogenital baik pada orang dewasa maupun anak-anak
 Tipe kutaneus epitelium skuamosa dari kulit kutil biasa, kutil plantar, dan kutil
datar, yang mana umumnya terjadi pada tangan, wajah, dan kaki
 Kutil kulit dianggap sebagai manifestasi utama HPV tipe kutaneus
 Kutil kulit diestimasikan terjadi hingga 10% pada anak-anak dan dewasa muda,
dengan tingkat insidensi tertinggi pada usia antara 12 hingga 16 tahun
 Lebih sering terjadi pada perempuan ketimbang laki-laki
 Terdapat beberapa kutil kulit yang berbeda termasuk kutil biasa (Verruca
vulgaris), kutil plantar (Verruca plantaris), dan kutil datar (Verruca plana)
 Tidak ada satu terapi pun yang terbukti efektif mencapai remisi lengkap pada
semua pasien
 Hal ini mencakup asam salisilat, cryoterapi, terapi laser, imiquimod, bleomycin,
retinoid dan imunoterapi
 Pilihan tatalaksana harus ditentukan dengan distribusi, ukuran, jumlah lesi, umur,
pengobatan sebelumnya, kemampuan anak dan orang tua dalam mentoleransi dan
mengikuti dengan rekomendasi tatalaksana, kondisi komorbid, dan potensi
terjadinya efek samping
 Kutil anogenital pada anak-anak langka terjadi dibandingkan dengan orang
dewasa; akan tetapi, pada anak-anak pre-pubertas, laporan mengenai kasus ini
meningkat secara drastis sejak tahun 1990
 Pada perempuan, kutil anogenital dapat ditemukan pada vulvar, vagina, uretra, dan
area peri-anal
 Pada laki-laki, biasanya kutil anogenital ditemukan di area peri-anal, sedangkan
kutil pada daerah penis langka atau jarang ditemukan
 Perempuan memiliki resiko 3 kali lipat lebih besar memiliki kutil anogenital
ketimbang laki-laki
 Gejala klinis dari kutil anogenital bervariasi mulai dari kutil datar berwarna
seperti kulit dan halus hingga lesi berwarna pink hingga coklat dan lembab yang
biasanya ditemukan pada daerah lipatan kulit dan sekitar lubang vagina dan
lubang anus
 HPV 6 dan 11 merupakan tipe HPV yang sering ditemukan pada kutil anogenital
anak-anak
 studi baru-baru ini mengatakan bahwa walaupun kontak seksual merupakan salah
satu cara transmisi HPV, jalur lain bisa saja merupakan jalur transmisi HPV seperti
transmisi perinatal, autoinokulasi dan heteroinokulasi, dan mungkin melalui
transmisi tidak langsung melalui pakaian, alat-alat makan, dll
 Kebanyakan kasus kutil anogenital pada anak-anak merupakan hasil dari transmisi
non seksual, yang dikenal dengan bentuk prenatal
 Resolusi spontan kutil anogenital pada anak-anak terjadi pada lebih dari setengah
kasus dan tindakan non intervensi dianggap sebagai suatu pendekatan tatalaksana
awal yang dapat diterima
 Walaupun tidak ada studi longitudinal yang mengklarifikasi apakah anak-anak
dengan kutil anogenital beresiko mengalami karsinoma pada usia dewasa muda
atau tidak, follow up jangka panjang menjadi suatu rekomendasi untuk anak-anak
dengan kutil anogenital
 Batas atas umur untuk transmisi perianal adalah umur 12-24 bulan, yang mana kutil
anogenital yang ditemukan pada anak dengan usia diatas 24 bulan, lebih sering
dianggap didapat melalui pelecehan seksual
 Semua anak dengan kutil anogenital harus dikonsultasi oleh seorang konsultan
yang ahli di dalam pelecehan seksual anak dan anak dengan usia diatas 4 tahun,
harus dirujuk secara rutin ke pelayanan proteksi anak
 Dalam kasus ini, pendekatan multidisiplin disarankan sebagai tatalaksana yang
tepat pada anak dengan kutil anogenital
 Dikarenakan reaksi waktu yang lama dari HPV dan kemungkinan adanya transmisi
vertikal atau non seksual, disarankan cara terbaik untuk mengidentifikasi
kemungkinan terjadinya pelecehan seksual adalah dengan mencatat riwayat,
melakukan assessmen pada konteks socio-klinis secara hati-hati, dan pemeriksaan
fisik
 Recurrent Respiratory Papillomatosis (RRP) merupakan suatu tumor jinak yang
dapat mengancam nyawa karena tumor ini memiliki kecenderungan untuk tumbuh
dalam ukuran dan jumlah sehingga menyebabkan obstruksi saluran pernafasan
lengkap
 RRP pada masa anak-anak terjadi dengan tingkat insidensi 0,3-3,9/100000 dan
dianggap sebagai tumor jinak yang umum mengenai larynx pada anak
 Penyakit ini dicirikan dengan pertumbuhan tumor jinak papiloma yang berulang
sepanjang epitelium saluran nafas bagian atas termasuk larynx, pita suara,
arytenoid, subglotis, dan trakea
 Anak-anak dengan RRP dapat menimbulkan gejala suara serak, derajat dyspnea
kronik yang bervariasi, batuk, stridor, disfonia, atau suara lemah, dengan suara
serak sebagai gejala yang paling umum dijumpai
 Etiologi dari RRP adalah infeksi pada saluran pernafasan atas dengan infeksi HPV
tipe 6 dan 11
 Infeksi HPV umumnya berasal dari transmisi perinatal yang terjadi secara
transplasenta, melalui cairan amnion selama masa gestasi dan kelahiran dan
melalui paparan langsung terhadap lesi di servikal dan alat kelamin saat lahir
 Rata-rata kejadian HPV terjadi lebih tinggi saat kelahiran anak pertama dan anak
yang lahir pervaginam dibandingkan kelahiran anak kedua dan seterusnya serta
anak yang lahir dengan operasi Caesar
 Diagnosis RRP ditegakkan dengan menggunakan laringoskopi langsung dan
biopsi untuk diagnosis jaringan
 Tatalaksana RRP bergantung derajat keterlibatan saluran nafas dan termasuk
pembuangan melalui operasi, yang mana memiliki resiko tinggi untuk kembali
muncul setelah menjalani terapi
 Berbagai laser termasuk CO2, KTP, dan gelombang warna, adalah metode yang
lebih dipilih untuk operasi RRP pada anak-anak
 Terapi medis farmakologi adjuvant dengan agen antiviral cidofovir atau interferon
juga bisa digunakan
 Prosedur operasi untuk debulking sering mengakibatkan disfonia lemah untuk
jangka panjang, laryngeal scarring, dan degenerasi maligna yang langka
 Faktor yang mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk operasi RRP adalah:
variabilitas ahli bedah inter, derajat dan keparahan dari papilloma ketika di
laringoskopi, dan penggunaan terapi medis adjuvant
 Sampai saat ini, beberapa studi telah menunjukkan bahwa terdapat DNA HPV di
dalam rongga mulut anak-anak
 Hal ini dibuktikan dengan mempelajari hasil dari oral swab dari anak yang sehat
dan asimtomatik
 Suatu distribusi umur bimodal telah diobservasi dengan prevalensi tertinggi HPV
pada anak-anak yang paling muda, dengan umur kurang dari 1 dan untuk remaja,
dengan umur 13 sampai 20 tahun
 Rerata deteksi tertinggi DNA HPV ditemukan pada hasil oral swab bayi baru lahir,
dengan hasil yang bervariasi yaitu 4% sampai 87%
 Infeksi HPV di daerah mulut bertahan paling tidak hingga usia 6 bulan
 Populasi rerata dari infeksi HPV di serviks pada populasi remaja yang sudah aktif
seksual berkisar dari 13% hingga 38%
 Suatu analisis baru dari 10,295 anak-anak dan remaja yang menjalani Papanicolaou
smear di USA, rerata prevalensi dari lesi intraepitelial skuamosa (SIL) adalah 3,77%
yang mana tidak ada kasus karsinoma yang teridentifikasi
 18% dari remaja dengan hasil Papanicolaou smear yang abnormal memiliki bukti
SIL derajat tinggi
 SIL yang bertahan dan adanya SIL derajat tinggi pada remaja yang aktif seksual
merupakan suatu klinis signifikan remaja dengan SIL sangat meningkatkan
resiko relatif munculnya karsinoma invasif
 Komponen vaksin terdiri atas partikel seperti virus yang dihasilkan dari permukaan
protein dari HPV
 Perempuan berusia 11-12 tahun harus diimunisasi secara rutin dengan 3 dosis dari
vaksin HPV quadrivalen yang diberikan secara intramuskular pada bulan 0, 2 dan 6
 Efek dari vaksin tetap tinggi paling sedikit hingga 5 tahun setelah vaksinasi
 Beberapa Negara di Eropa telah memperkenalkan program vaksinasi untuk anak
perempuan usia 11 dan 12 tahun
 Pada masa kanak-kanak, infeksi HPV kutil biasa, kutil pada alat kelamin, RRP
serta SIL dengan kualitas rendah maupun tinggi
 Dengan memahami sejarah alami dari infeksi HPV:
 Pelayanan dan penatalaksanaan pada anak yang terinfeksi HPV akan meningkat
 Membuat studi mengenai vaksin HPV untuk fokus terhadap kelompok umur dan populasi
yang benar untuk vaksinasi melawan kanker serviks
 Mengurangi jumlah tuntutan hukum yang berhubungan dengan tuduhan palsu pelecehan
seksual
 Vaksinasi HPV memberikan perlindungan terhadap: kutil anogenital, RRP, kanker
serviks