Anda di halaman 1dari 76

PAJAK PENGHASILAN

PASAL 22

Sri Andriani, SE, M.Si


Mei 2013
PPh Ps.22
Ketentuan yang mengatur :

 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 254/KMK.04/2001


sebagaimana diubah dengan KMK Nomor 392/KMK.04/2001
dan 236/KMK.03/2003 disempurnakan lagi Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2007 dan Nomor
8/PMK.03/2008

 Keputusan Dirjen Pajak Nomor :


Kep-417/PJ/2001
Kep-529/PJ/2001
Kep-01/PJ/1996
Kep-32/PJ/1995 dan Kep-65/PJ/1995
Kep-69/PJ/1995
Kep-401/PJ/2001
Kep-523/PJ/2001 dan Kep-525/PJ/2003
Pihak yang ditunjuk sebagai Pemungut
PPh Ps.22 :

1. Bank Devisa dan Ditjen Bea & Cukai, atas impor


barang

2. Ditjen Anggaran, Bendaharawan di tingkat


Pemerintah Pusat maupun Daerah, yang melakukan
pembayaran atas pembelian barang

3. BUMN dan BUMD, yang melakukan pembelian barang,


dengan dana dari APBN dan APBD
Pihak yang ditunjuk sebagai Pemungut
PPh Ps.22 :
4. Bank Indonesia, BPPN, BULOG, PT TELKOM, PT PLN, PT
GARUDA INDONESIA, PT INDOSAT, PT KRAKATAU STEEL,
PERTAMINA, dan bank-bank BUMN yang melakukan pembelian
barang dengan dana dari APBN maupun non-APBN

5. Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri


semen, rokok, kertas, baja, otomotif yang ditunjuk oleh Kepala
KPP

6. PERTAMINA serta badan usaha lainnya yang bergerak dalam


bidang BBM jenis Premix, Super TT, dan gas
Pihak yang ditunjuk sebagai Pemungut
PPh Ps.22 :
7. Industri dan eksportir yang bergerak dalam
sektor perhutanan, perkebunan, pertanian, dan
perikanan, yang ditunjuk oleh Kepala KPP atas
pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri
dan ekspornya dari pedagang pengumpul
Ketentuan tersebut dirubah sehingga
berbunyi sebagai berikut :
1. Pemungutan PPh 22 atas Impor barang sebagaimana
dimaksud dalam pasal 1 angka 1 penyetoran
dilaksanakan oleh importir yang bersangkutan
melalui bank devisa, persepsi & Ditjed Bea dan Cukai
2. Pemungutan atas penyerahan barang sebagaimana
dimaksud dalam pasal 1 angka 2, 3, 4 dan 7
pemungutan dan penyetoran oleh pemungut pajak
atas nama wajib pajak melalui bank persepsi dan
kantor pos
Ketentuan tersebut dirubah sehingga
berbunyi sebagai berikut :
3. Pemungutan PPh 22 atas hasil produksi sebagaimana
dimaksud dalam pasal 1 angka 5 pemungutan dan
penyetoran dilaksanakan oleh pemungut pajak atas
nama wajib pajak ke bank persepsi atau kantor pos
4. Pemungutan atas penjualan bahan bakar minyak,
gas, dan pelumas sebagaimana dimaksud dalam
pasal 1 angka 6 pemungutan dan penyetoran oleh
pemungut pajak atas nama pembeli melalui bank
persepsi atau kantor pos
Jenis PPh Ps.22 :
1. atas pembelian barang
2. atas impor barang
3. atas pembelian produksi tertentu di dalam negeri:
 rokok
 baja
 otomotif
 kertas
 semen
 BBM
4. atas pembelian bahan-bahan dari pedagang
pengumpul untuk keperluan industri dan eksportir
Tatacara
Pemungutan, Penyetoran, dan
pelaporannya

1. PPh Ps.22 atas pembelian barang

obyek : atas pembelian barang

tarif : 1,5 % dari harga pembelian


contoh :
Untuk keperluan pemeliharaan listrik, PT PLN membeli kabel
dan peralatan seharga Rp 70.000.000,- (tidak termasuk PPN)
dari CV Sarana
PPh Ps.22 yang harus dipungut oleh PT PLN
= 1,5 % X Rp 70.000.000,-
= Rp 1.050.000,-

contoh :
Pemegang Kas Pemkot Malang membeli peralatan kantor dari
PT Serba Usaha seharga Rp 11.000.000,- (termasuk PPN)
PPh Ps.22 yang harus dipungut oleh Pemegang Kas Pemkot
Malang
= 1,5 % X ( 100/110 X Rp 11.000.000,- )
= 1,5 % X Rp 10.000.000,-
= Rp 150.000,-
Kewajiban Pemungut
 memungut PPh Ps.22 pada saat dilakukan pembayaran
dengan memberikan SSP lembar ke-1
(SSP dibuat atas nama Penjual/PKP Rekanan)

 menyetor PPh Ps.22 yang dipungut ke Kantor


Penerima Pembayaran
 pada hari yang sama dengan pelaksanaan
pembayaran
(bagi pemungut Nomor 2 dan 3)
 paling lambat tanggal 10 bulan takwim berikutnya
(bagi pemungut Nomor 4)
Kewajiban Pemungut
 melaporkan pemungutan dan penyetoran PPh Ps.22
dengan menggunakan SPT Masa PPh Ps.22 (disertai
lampiran Daftar Surat Setoran Pajak dan SSP lembar
ke-3) ke KPP di mana pemungut terdaftar sebagai
WP
 paling lambat 14 hari setelah masa pajak
berakhir
(bagi pemungut Nomor 2 dan 3)

 paling lambat 20 hari setelah masa pajak


berakhir
(bagi pemungut Nomor 4)
2. PPh Ps.22 Impor
obyek : atas impor barang

tarif :
 yang menggunakan API : 2,5 % dari Nilai Impor
Ada ketentuan khusus besarnya pungutan PPh 22 atas impor gandum,
kedelai & tepung terigu menggunakan API : 0,5% dari Nilai Impor
 yang tidak menggunakan API : 7,5 % dari Nilai
Impor
(Nilai Impor merupakan nilai yang menjadi dasar
penghitungan Bea Masuk, yaitu : CIF + Bea Masuk +
pungutan lainnya berdasarkan UU Pabean )

 barang yang tidak dikuasai : 7,5 % dari harga lelang


Contoh :
CIF ………………………………………………….40.000.000,-
Bea Masuk 20 % ...................................................... 8.000.000,-
Nilai Impor …………………………………………48.000.000,-

PPh Ps.22 Impor


2,5 % X Rp 48.000.000,- ……………………………………
PPN Impor
10 % X Rp 48.000.000,- ……………………………………
PPn BM Impor
20 % X Rp 48.000.000,- ……………………………………
Tatacara Pelunasan
PPh Ps.22 Impor dilunasi bersamaan dg. Saat
pembayaran Bea Masuk.

Dalam hal Bea Masuk ditunda atau


dibebaskan, PPh Ps.22 Impor dilunasi pada
saat pengurusan dokumen PIB, melalui :

o Bank Devisa Persepsi yang


sekota/sewilayah kerja KP Bea dan Cukai
tempat pemenuhan kewajiban pabean
Tatacara Pelunasan
o KP Bea dan Cukai, dalam hal :
tidak terdapat Bank Devisa Persepsi di
kota/wilayah kerja KP Bea dan Cukai
tempat pemenuhan kewajiban pabean,
dan untuk impor barang penumpang,
awak sarana pengangkut atau pelintas
batas

o PT Pos Indonesia, untuk barang kiriman


pos/pabean
Kewajiban Pemungut
 memungut PPh Ps.22 Impor
(dengan memberikan bukti pungutan berupa
SSPCP/BPPCP)

 bagi KP Bea dan Cukai sebagai pemungut,


menyetor PPh Ps.22 Impor yang dipungut, selambat-
lambat-nya pada hari kerja berikutnya melalui :
 Bank Devisa yang sekota/sewilayah kerja dengan KP Bea
dan Cukai
 Bank Persepsi, dalam hal di kota/wilayah kerja KP Bea dan
Cukai, tidak terdapat Bank Devisa Persepsi
 PT Pos Indonesia, dalam hal di kota/wilayah kerja KP Bea
dan Cukai, tidak terdapat Bank Devisa Persepsi maupun
Bank Persepsi
Kewajiban Pemungut
 melaporkan pemungutan dan penyetoran PPh
Ps.22 impor dengan menggunakan SPT Masa
PPh Ps.22 (disertai lampiran Daftar
Pemungutan PPh Ps.22 dan SSPCP/BPPCP) ke
KPP di mana pemungut terdaftar sebagai WP :

 bagi KP Bea dan Cukai, dilaporkan secara


mingguan paling lambat 7 hari setelah batas
waktu penyetoran PPh Ps.22 Impor berakhir

 bagi Bank Devisa, paling lambat 20 hari


setelah masa pajak berakhir
3. PPh Ps.22 atas Penjualan Produksi Tertentu
di dalam negeri

3.1. PPh Ps.22 atas Penjualan Produksi industri Rokok di dalam


negeri

 obyek : atas penjualan produksi industri rokok di dalam


negeri

 Tarif : 0,15 % dari harga bandrol (Kep-529/PJ/2001)


contoh :
Pabrikan Rokok PT WW menjual rokok
kepada beberapa distributornya, salah
satunya adalah CV RR dengan Harga Jual
Eceran (Harga Bandrol) keseluruhannya Rp
60.000.000,-

PPh Ps.22 yang harus dipungut oleh PT WW


= 0,15 % X Rp 60.000.000,-
= Rp 90.000,- (final)
Kewajiban Pemungut
 memungut PPh Ps.22 pada saat dilakukan
penjualan kepada distributor dan
penjualan secara kanvasing, dengan
memberikan bukti bungutan PPh Ps.22

 menyetor PPh Ps.22 yang dipungut ke


Kantor Penerima Pembayaran secara
kolektif dengan SSP atas
pabrikan/pemungut,
paling lambat tanggal 10 bulan takwim
berikutnya
Kewajiban Pemungut
 melaporkan pemungutan dan penyetoran PPh Ps.22 ke
KPP di mana pemungut terdaftar sebagai WP dengan
menggunakan SPT Masa PPh Ps.22 disertai lampiran :
 Daftar Bukti Pemungutan PPh Ps.22
 Bukti Pemungutan PPh Ps.22 lembar ke-2
 SSP lembar ke-2
 Nota Retur, jika ada

Atas penjualan produksi rokok yang diretur setelah masa


pajak berakhir,
PPh Ps.22 yang telah disetor dapat dikurangkan dari PPh
Ps.22 yang
terutang pada masa pajak setelah terjadinya retur
PPh Ps.22 atas penjualan :

3.2. Baja
obyek : atas penjualan produksi baja di
dalam negeri
tarif : 0,3 % X DPP PPN (Kep-
01/PJ/1996)

3.3. Otomotif
obyek : atas penjualan semua jenis
kendaraan bermotor roda-2 atau lebih, di
dalam negeri
tarif : 0,45 % X DPP PPN (Kep-
32/PJ/1995 dan Kep-65/PJ/1995)
PPh Ps.22 atas penjualan :

3.4. Kertas
obyek : atas penjualan semua jenis
kertas di dalam negeri
tarif : 0,1 % X DPP PPN

3.5. Semen
Obyek : atas penjualan semua jenis
semen di dalam negeri
tarif : 0,25 % X DPP PPN
Kewajiban Pemungut
 memungut PPh Ps.22 pada saat dilakukan
penjualan hasil produksi kepada
distributornya, dengan memberikan bukti
pungutan PPh Ps.22

 menyetor PPh Ps.22 yang dipungut ke


Kantor Penerima Pembayaran dengan
menggunakan SSP secara kolektif atas
nama pemungut, paling lambat tanggal 10
bulan takwim berikutnya
Kewajiban Pemungut
 melaporkan pemungutan dan penyetoran
PPh ps.22 ke KPP di mana pemungut
terdaftar sebagai WP dengan menggunakan
SPT Masa PPh Ps.22 paling lambat 20 hari
setelah masa pajak berakhir

Atas penjualan hasil produksi yang diretur


setelah masa pajak berakhir, dapat
diperhitungkan dengan PPh Ps.22 yang
terutang pada masa pajak setelah
terjadinya retur
PPh Ps.22 atas penjualan :

3.6. PPh Ps.22 atas penyerahan BBM

obyek : atas penjualan hasil produksi


Pertamina serta badan usaha lain
yang bergerak di bidang BBM
jenis Premix,
Super TT, dan Gas
No. Jenis BBM SPBU Swastanisasi SPBU Pertamina
( tarif ) ( tarif )

a. Premium
b. Solar 0,30 % dari penjualan 0,25 % dari
c. Premix penjualan

d. Minyak tanah
e. Gas 0,30 % dari penjualan
f. Pelumas
contoh :
PT GG membeli solar seharga Rp 100.000.000,- dari
badan usaha yang ditunjuk sebagai penyalur BBM.
SPPB/DO (Surat Perintah Pengeluaran barang/ Delivery
Order) diterbitkan setelah PT GG melunasi terlebih
dulu

PPh Ps.22
= 0,30 % X Rp 100.000.000,-
= Rp 300.000,-
Tatacara Pelunasan

PPh Ps.22 atas penyerahan BBM


dilunasi/dipungut
pada saat penerbitan SPPB/DO, dengan
SSP atas nama WP sendiri ke Kantor
Penerima Pembayaran sebelum
SPPB/DO diterbitkan
( PPh Ps.22 yang dipungut bersifat final
)
4. PPh Ps.22 atas pembelian bahan-bahan
dari pedagang pengumpul

obyek : atas pembelian bahan-bahan


dari pedagang pengumpul yang
dilakukan oleh industri atau
eksportir yang bergerak di
sektor perhutanan, perkebunan,
pertanian, dan perikanan

tarif : 0,5 % dari harga pembelian


PT Panorama adalah perusahaan industri
pengolahan bahan makanan untuk diekspor,
membeli bahan baku dari para pedagang
pengumpul :

 CV A seharga Rp 10.000.000,-
 CV B seharga Rp 20.000.000,-
 CV C seharga Rp 30.000.000,-

Atas pembelian bahan-bahan tersebut, PT


Panorama berkewajiban memungut
PPh Ps.22 dari CV A, CV B, dan CV C, masing-
masing adalah sebagai berikut :
 CV A
= 0,5 % X Rp 10.000.000,-
= Rp 50.000,-

 CV B
= 0,5 % X Rp 20.000.000,-
= Rp 100.000,-

 CV C
= 0,5 % X Rp 30.000.000,-
= Rp 150.000,-
Pengecualian Pengenaan
PPh Ps.22 :
a. Impor barang dan atau penyerahan
barang yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan tidak terutang PPh
(SKB PPh Ps.22 diterbitkan Ditjen Pajak)
Pengecualian Pengenaan PPh Ps.22 :
b. Impor yang dibebaskan dari pungutan bea masuk dan atau PPN
(dilaksanakan oleh Ditjen Bea dan Cukai sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku) :

1. barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang


bertugas di Indonesia asas timbal-balik.

2. barang untuk keperluan badan internasional yang diakui dan


terdaftar pada Pemerintah Indonesia beserta pejabatnya yang
bertugas di Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia.

3. barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal,


sosial, atau kebudayaan
Pengecualian Pengenaan PPh Ps.22 :

4. barang untuk keperluan museum, kebun


binatang, dan tempat lain semacam itu
yang terbuka untuk umum.

5. barang untuk keperluan penelitian dan


pengembangan ilmu pengetahuan.

6. barang untuk keperluan khusus kaum


tuna netra dan penyandang cacat
lainnya.
Pengecualian Pengenaan PPh Ps.22 :

7. peti atau kemasan lain yang berisi jenazah


atau abu jenazah.
8. barang pindahan.
9. barang pribadi penumpang, awak sarana
pengangkut, pelintas batas, dan barang
kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai
ketentuan perundang-undangan pabean.
10.barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat
atau Pemerintah Daerah yang ditujukan untuk
kepentingan umum.
Pengecualian Pengenaan PPh Ps.22 :
11. persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer,
termasuk suku cadang yang diperuntukkan bagi
keperluan pertahanan dan keamanan negara.

12. barang dan bahan yang dipergunakan untuk


menghasilkan barang bagi keperluan pertahanan dan
keamanan negara.

13. vaksin polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan


Imunisasi Nasional (PIN).

14. buku-buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku


pelajaran agama
Pengecualian Pengenaan PPh Ps.22 :
15. kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan
danau, dan kapal angkutan penyeberangan, kapal
pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal
tongkang, dan sukucadang serta alat keselamatan
pelayaran atau keselamatan manusia yang diimpor
dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga
Nasional atau Perusahaan Penankapan Ikan Nasional.

16. pesawat udara dan sukucadang serta alat


keselamatan penerbangan atau alat keselamatan
manusia, peralatan untuk perbaikan atau
pemeliharaan yang diimpor dan digunakan oleh
Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional.
Pengecualian Pengenaan PPh Ps.22 :

17. kereta api dan sukucadang serta peralatan


untuk perbaikan atau pemeliharaan serta
prasarana yg. diimpor dan digunakan oleh PT
KAI.

18. peralatan yang digunakan untuk penyediaan


data batas daRn foto udara wilayah R.I. yang
dilakukan oleh TNI.
c. Dalam hal impor sementara, jika pada waktu
impornya nyata-nyata dimaksudkan untuk
diekspor kembali
(dilaksanakan oleh Ditjen Bea dan Cukai sesuai
ketentuan perundang- undangan yang berlaku).

d. Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp


1.000.000,- dan tidak merupakan pembayaran
yang terpecah-pecah
(secara otomatis tanpa SKB)

e. Pembayaran untuk pembelian BBM, listrik, gas,


air minum/PDAM, dan benda-benda pos
(secara otomatis tanpa SKB)
f. Emas batangan yang akan diproses untuk
menghasilkan barang perhiasan dari emas
untuk tujuan ekspor
(SKB PPh Ps.22 diterbitkan Ditjen Pajak)

g. pembayaran/pencairan dana JPS (Jaring


Pengaman Sosial) oleh KPKN
(secara otomatis tanpa SKB)
h. Impor kembali (re-impor), yang meliputi barang-
barang yang telah diekspor kemudian diimpor
kembali dalam kualitas yang sama, atau
barang-barang yang telah diekspor untuk
keperluan perbaikan, pengerjaan dan pengujian
telah memenuhi syarat yg.ditentukan Ditjen Bea
dan Cukai
(secara otomatis tanpa SKB)

i. Pembayaran untuk pembelian gabah dan/atau


beras oleh BULOG
(secara otomatis tanpa SKB).
PAJAK PENGHASILAN
PASAL 23

Sri Andriani, SE. M.Si


Ketentuan yang mengatur :

o Pasal 23 Undang-Undang PPh


o Peraturan Dirjen Pajak Nomor Per-
70/PJ/2007
o PP Nomor 140 Tahun 2000
o Keputusan Menteri Keuangan Nomor
559/KMK.04/2000
Pihak yang ditunjuk sebagai
pemotong

 Badan Pemerintah

 Subyek Pajak Badan Dalam Negeri

 Penyelenggara Kegiatan

 BUT, atau

 Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya


Pihak yang ditunjuk sebagai
pemotong
 WP orang pribadi yg. ditunjuk Kepala KPP sebagai
Pemotong PPh Ps.23

 akuntan, arsitek, dokter, notaris, PPAT (kecuali


PPAT Camat), pengacara, dan konsultan yang
melakukan pekerjaan bebas, atau

 orang pribadi yang menjalankan usaha dengan


menyelenggarakan pembukuan atas
pembayaran berupa sewa
obyek :
sebagaimana disebut dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a
UU PPh
 dividen dengan nama dan dalam bentuk
apapun, termasuk dividen dari perusahaan
asuransi kepada pemegang polis sebagaimana
dimaksud Pasal 4 ayat (1) huruf g UU PPh

 bunga termasuk premium, diskonto, dan


imbalan karena jaminan pengembalian utang
sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (1) huruf f
UU PPh
obyek :
 royalti

 hadiah dan penghargaan


selain yang telah dipotong PPh Ps.21 ayat
(1) huruf e UU PPh
( Tarif 15 % X jumlah bruto, tidak bersifat
final )
• sebagaimana disebut dalam Pasal 23 ayat (1) huruf b
UU PPh

bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi

( Tarif 15 % X jumlah bruto, bersifat final )


sebagaimana disebut dalam Pasal 23 ayat (1)
huruf c UU PPh

( Tarif 15 % X Perkiraan Penghasilan Neto, tidak final


sebagaimana diatur Per-70/PJ/2007 )

*
( lihat daftar )
PERKIRAAN PENGHASILAN NETO ATAS SEWA DAN
PENGHASILAN LAIN SEHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN
HARTA

No Jenis Penghasilan Perkiraan Ph Neto

(1) (2) (3)


1. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dg.penggunaan harta 10 %
khusus Kendaraan angkutan darat
untuk jangka waktu tertentu berdasarkan kontrak atau
perjanjian tertulis ataupun tidak tertulis

2. Sewa dan penghasilan lain sehububungan dengan penggunaan 30 %


harta
selain Kendaraan angkutan darat
untuk jangka waktu tertentu berdasarkan kontrak atau dari jumlah bruto
perjanjian tertulis ataupun tidak tertulis,
tidak termasuk
kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan PPN
persewaan tanah dan atau bangunan yg. telah dikenakan PPh
yg.bersifat final
PERKIRAAN PENGHASILAN NETO ATAS IMBALAN JASA TEKNIK,
JASA MANAJEMEN, JASA KONSULTANSI,
DAN JASA LAIN

(1 (2) (3)
)
I 1.Jasa teknik 30 %
2. Jasa manajemen dari jumlah
3. Jasa konsultansi, kecuali konsultansi imbalan jasa
konstruksi tidak termasuk PPN

II 1. Jasa pengawasan konstruksi 26 2/3 %


2. Jasa perencanaan konstruksi dari jumlah
Imbalan yg
dibayarkanSeluruhnya
termasuk pemberian jasa
dan pengadaan
material/barang
tidak termasuk PPN
PERKIRAAN PENGHASILAN NETO ATAS IMBALAN JASA TEKNIK,
JASA MANAJEMEN, JASA KONSULTANSI,
DAN JASA LAIN

(1) (2) (3)


III Jasa lain :
1. Jasa penilai 30 %
2. Jasa aktuaris
3. Jasa akuntansi
4. Jasa perancang

5. Jasa pengeboran (jasa driling)


di bidang penambangan migas,
kecuali yang dilakukan oleh BUT

6. Jasa penunjang di bidang penambangan


migas

7. Jasa penambangan dan jasa penunjang


di bidang penambangan selain migas
PERKIRAAN PENGHASILAN NETO ATAS IMBALAN JASA TEKNIK,
JASA MANAJEMEN, JASA KONSULTANSI,
DAN JASA LAIN

(1) (2) (3)

8. Jasa penunjang di bidang bandar udara 30 %

9. Jasa penebangan hutan

10. Jasa pengolahan limbah

11. Jasa penyedia tenaga kerja

12. Jasa perantara

13. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga,


kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI, dan
KPEI

14. Jasa kustodian/penyimpanan/penitipan,


kecuali yang dilakukan KSEI
PERKIRAAN PENGHASILAN NETO ATAS IMBALAN JASA TEKNIK,
JASA MANAJEMEN, JASA KONSULTANSI,
DAN JASA LAIN

(1) (2) (3)


15. Jasa pengisian suara 30 %

16. Jasa mixing film

17. Jasa sehubungan dengan software komputer,


termasuk perawatan, pemeliharaan, dan perbaikan

18. Jasa instalasi/pemasangan


• Jasa instalasi/pemasangan mesin,
listrik/telepon/air/
gas/AC/TV kabel
• Jasa instalasi/pemasangan peralatan,
kecuali yang dilaksanakan oleh WP yg ruang
lingkup pekerjaannya di bidang konstruksi dan
mempunyai ijin/sertifikat sebagai pengusaha
konstruksi
PERKIRAAN PENGHASILAN NETO ATAS IMBALAN JASA TEKNIK,
JASA MANAJEMEN, JASA KONSULTANSI,
DAN JASA LAIN

(1) (2) (3)

19. Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan : 30 %


• Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan mesin,
listrik/
telepon/air/gas/AC/TV kabel
• Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan
peralatan
• Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan alat-
alat transportasi/
kendaraan
• Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan
bangunan
kecuali yang dilaksanakan oleh WP yg ruang
lingkup pekerjaannya
di bidang konstruksi dan mempunyai
ijin/sertifikat sebagai
pengusaha konstruksi
PERKIRAAN PENGHASILAN NETO ATAS IMBALAN JASA TEKNIK,
JASA MANAJEMEN, JASA KONSULTANSI,
DAN JASA LAIN

(1) (2) (3)


20. Jasa konstruksi, termasuk : 13 1/3 %
• Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan bangunan
• Jasa instalasi/pemasangan mesin, listrik/telepon/air/
gas/AC/TV kabel
sepanjang jasa tersebut dilakukan oleh WP yang
mempunyai ijin/
sertifikat sebagai pengusaha konstruksi

21. Jasa maklon


20 %
22. Jasa penyelidikan dan keamanan

23. Jasa penyelenggara kegiatan/event organizer

24. Jasa pengepakan


PERKIRAAN PENGHASILAN NETO ATAS IMBALAN JASA TEKNIK,
JASA MANAJEMEN, JASA KONSULTANSI,
DAN JASA LAIN

(1) (2) (3)

25. Jasa penyediaan tempat dan/atau 10 %


waktu
dalam media massa, media luar
ruang atau
media lain untuk penyampaian
informasi

26. Jasa pembasmian hama 10 %


dari jumlah
Imbalan yg dibayarkanSeluruhnya
27. Jasa kebersihan/cleaning service
termasuk pemberian jasa dan
pengadaan
28. Jasa catering material/barang
tidak termasuk PPN
Kewajiban Pemotong :

 memotong PPh Ps.23 pada saat dilakukan


pembayaran dengan memberikan Bukti
Pemotongan PPh Ps.23 atas nama WP yang
dipotong penghasilannya

 menyetor PPh Ps.23 yang telah dipotong ke


Kantor Penerima Pembayaran dengan SSP kolektif
atas nama pemotong PPh Ps.23 paling lambat
tanggal 10 bulan takwim berikutnya
Pengecualian pengenaan
PPh Ps.23
o Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank
o Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa
guna usaha dengan hak opsi
o Dividen sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (1) huruf f,
Dividen atau bagian laba yg diterima oleh PT sebagai WP Dalam
Negeri,
o Koperasi, BUMN/BUMD dari penyertaan modal pada badan usaha
yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia, dengan
syarat :
 dividen berasal dari cadangan laba ditahan
 bagi PT, BUMN/BUMD yang menerima dividen, kepemilikan
pada badan usaha yang membagikan dividen paling rendah
25 % dari jumlah modal disetor, dan harus mempunyai usaha
aktif di luar kepemilikan saham tersebut
Kewajiban Pemotong :
 melaporkan pemotongan dan penyetoran PPh
Ps.23 tersebut ke KPP dimana pemotong
terdaftar sebagai WP dengan SPT Masa PPh
Ps.23 dan/atau Ps.26 paling lambat 20 hari
setelah masa pajak berakhir,

disertai lampiran :
- Daftar Bukti Pemotongan PPh Ps.23/Ps.26
- Bukti Pemotongan PPh Ps.23/Ps.26 lembar ke-2
- SSP lembar ke-3
Pengecualian pengenaan
PPh Ps.23
o Bunga obligasi sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (3) huruf j,
yakni bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan
Reksadana selama 5 tahun sejak pendirian atau pemberian ijin
usaha

o Bagian laba sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (3) huruf I, yakni


bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota perseroan
komanditer yg. Modalnya tidak terbagi atas saham, persekutuan,
perkumpulan, firma, dan kongsi

o Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada


anggotanya

o Bunga simpanan yang tidak melebihi batas yang ditetapkan


dengan Keputusan Menkeu, yang dibayarkan koperasi kepada
anggotanya
1. SEWA DAN PENGHASILAN LAIN SEHUBUNGAN DENGAN
PENGGUNAAN HARTA KHUSUS KENDARAAN ANGKUTAN DARAT
a. Sewa kendaraan angkutan darat berupa :
bus, minibus, taksi,
yang disewa atau dicarter untuk jangka waktu tertentu yaitu
harian, mingguan
maupun bulanan,
berdasarkan perjanjian tertulis atau tidak tertulis antara
pemilik kendaraan
angkutan umum dengan WP Badan atau Orang Pribadi yang
ditunjuk sebagai
Pemotong PPh Ps.23
b. Sewa kendaraan milik perusahaan persewaan mobil,
perusahaan bus wisata yang
bukan merupakan kendaraan angkutan umum yang disewa atau
dicarter untuk
jangka waktu tertentu yaitu harian, mingguan maupun
bulanan,
berdasarkan perjanjian tertulis atau tidak tertulis antara
pemilik kendaraan
angkutan umum dengan WP Badan atau Orang Pribadi yang
ditunjuk sebagai
Pemotong PPh Ps.23
Perjanjian tertulis maupun tidak tertulis
adalah kesepakatan untuk mengikatkan diri
pada satu atau lebih pihak lain yang
dituangkan secara tertulis maupun lisan.
TIDAK DISERTAI PENJELASAN :

 Jasa konsultasi, kecuali konsultasi konstruksi

 Jasa Pengawasan Konstruksi


 Jasa Perencanaan Konstruksi

 Jasa Penilai
 Jasa aktuaris
 Jasa akuntansi
 Jasa Perancang
 Jasa pengeboran ( jasa drilling )
di bidang penambangan migas, kecuali dilakukan oleh
BUT
2. Jasa teknik
adalah pemberian jasa dalam bentuk pemberian informasi yg.
Berkenaan
dengan pengalaman dalam bidang industri, perdagangan, dan
ilmu pengetahuan yg. dapat meliputi :
a. Pelaksanaan suatu proyek
b. Pembuatan suatu jenis produk
c. Jasa teknik dapat pulaberupa pemberian informasi yg.
berkenaan
dengan pengalaman di bidang manajemen.

3. Jasa manajemen
adalah pemberian jasa dengan ikut serta secara langsung
dalam pelaksanaan manajemen dengan mendapatkan balas
jasa
berupa imbalan manajemen ( manajemen fee )
4. Jasa penunjang di bidang penambangan
migas
adalah jasa penunjang di bidang
penambangan migas dan panas bumi,
berupa :
5. Jasa penambangan dan jasa penunjang
di bidang penambangan selain migas
adalah semua jasa penambangan dan jasa penunjang
di bidang pertambangan umum, berupa :
 Jasa pengeboran
 Jasa penebasan
 Jasa pengupasan dan pengeboran
 Jasa penambangan
 Jasa pengangkutan/sistem transportasi, kecuali
jasa angkutan umum
 Jasa pengolahan bahan galian
 Jasa reklamasi tambang
 Jasa pelaksanaan mekanikal, elektrikal,
manufaktur, fabrikasi dan penggalian /
pemindahan tanah
 Jasa lainnya yang sejenis di bidang
pertambangan umum
6. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara,
berupa :

a. Bidang aeronautika, termasuk :


- jasa pendaratan, penempatan, penyimpanan pesawat
udara dan
jasa lain sehubungan dengan pendaratan pesawat udara
- jasa penggunaan jembatan pintu (avio bridge)
- jasa pelayanan penerbangan
- jasa ground handling,
yaitu pengurusan seluruh atau sebagian proses pelayanan
penumpang dan bagasinya serta kargo, yang diangkut
dengan pesawat udara, baik yang berangkat maupun yang
datang, selama pesawat udara di darat
- jasa penunjang lain di bidang aeronautika

b. Bidang non-aeronautika, termasuk :


- jasa catering di pesawat dan jasa pembersihan pantry
pesawat
 Jasa penebangan hutan
 Jasa pengolahan limbah
 Jasa penyedia tenaga kerja
 Jasa perantara
 Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga,
kecuali yang dilakukan di bursa efek, KSEI, dan KPEI
KSEI ……. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia
KPEI ……. PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia

 Jasa kustodian / penyimpanan / penitipan,


kecuali yang dilakukan oleh KSEI
 Jasa pengisian suara
 Jasa mixing film
 Jasa sehubungan dengan software komputer,
termasuk perawatan, pemeliharaan, dan perbaikan
 Jasa instalasi/pemasangan
 Jasa perawatan/pemeliharaan/perbaikan

 Jasa Pelaksanaan Konstruksi


7.Jasa maklon
adalah pemberian jasa dalam rangka proses
penyelesaian suatu barang tertentu yang proses
pengerjaannya dilakukan oleh pemberi jasa
(di-subkontrak-kan),
yang spesifikasi, bahan baku dan atau
barang setengah jadi atau
bahan penolong/pembantu yang akan diproses
sebagian atau seluruhnya disediakan oleh
pengguna jasa,
dan kepemilikan barang jadi berada pada
pengguna jasa
 Jasa penyelidikan dan keamanan (Per-
178/PJ/2006 yang telah dicabut)
semua pemberian pelayanan penyelidikan,
pengawasan, penjagaan, dan
kegiatan perlindungan untuk keselamatan
perorangan dan harta milik,
termasuk penyelidikan latar belakang
seseorang, pencarian jejak orang hilang,
pencurian, dan penggelapan, serta patroli
 Jasa penyelenggaraan kegiatan (event
organizer)
adalah kegiatan usaha yang dilakukan oleh
pengusaha jasa penyelenggara kegiatan
meliputi antara lain penyelenggaraan
pameran, konvensi, pagelaran musik, pesta,
seminar, peluncuran produk, konferensi
pers,
dan kegiatan lain yang memanfaatkan jasa
penyelenggara kegiatan
 Jasa pengepakan

 Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu


dalam media massa, media luar angkasa atau
media lain untuk penyampaian informasi

 Jasa pembasmian hama

 Jasa kebersihan/cleaning servise

 Jasa catering
Pasal 5 ayat (1) huruf e angka 14
Keputusan Dirjen Pajak Nomor Kep-545/PJ/2000 – Per-15/PJ/2006
PPh Ps.21 = 15 % X ( 50 % X imbalan bruto )

Tenaga Ahli :

Pengacara
Akuntan
Arsitek
Dokter
Konsultan
Notaris
Penilai
Aktuaris