Anda di halaman 1dari 20

MENGINTEGRASIKAN IMAN, ISLAM, DAN

IHSAN DALAM MEMBENTUK INSAN


KAMIL
Memaknai iman
1. Ucapan dengan lisan, keyakinan hati, serta
pengamalan dengan anggota badan, bisa
bertambah dengan ketaatan dan berkurang
dengan kemaksiatan
2. Iman Mencakup Keyakinan, Perkataan, dan
Perbuatan
Dalil-dalil Iman
1. Surat al-Hujurat: 14
“karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”
2. Surat al- Mujaadalah: 22
“Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka”
3. Hadits Nabi Muhammad
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum
masuk ke dalam hatinya”
4. al-Baqarah:136: “Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman
kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang
diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq,Ya’qub dan anak cucunya, dan apa
yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-
nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara
mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”
Iman Bisa Bertambah dan juga
Berkurang
 Di antara keyakinan yang benar tentang iman adalah bahwasanya
iman dapat bertambah dan juga dapat berkurang. Bertambah
dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dalilnya
adalah firman Allah Ta’ala :
 maka perkataan itu menambah keimanan mereka” (Ali Imran :173)
 “supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang
telah ada)” (Al Fath:4)
 Nabi Shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda :
 “akan keluar dari neraka, orang yang mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illaahu
(Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) ‘, dan di dalam
hatinya terdapat kebaikan seberat biji sawi”[6]
Iman dapat bertambah disebabkan
karena bebrapa hal
1. Mengenal Allah Ta’ala melalui nama-nama dan sifat-sifat-
Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, keimanannya
semkain bertambah.
2. Memperhatikan ayat-ayat Allah baik ayat-
ayat kauniyah maupun ayat syar’iyah.
3. Banyak melakukan ketaaatan.
4. Meninggalkan kemakisatan dalam rangka mendekatkan diri
kepada Allah
Adapun ha-hal yang dapat mengurangi
keimanan di antaranya :
1. Berpaling dari mengenal Allah dan nama-nama serta sifat-
sifat-Nya
2. Tidak mau memperhatikan ayat-ayat kauniyah dan syar’iyah
3. Sedikitnya amal shalih
4. Melakukan kemaksiatan kepada Allah
Iman Memiliki Banyak Cabang
 Rasulullah Saw bersabda: “Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh
sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang.Yang paling utama
adalah perkataan, Laa illaaha illallah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain
Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu
itu adalah sebagian dari iman.”
 Ibnu Qayyim: Pokok keimanan memiliki cabang yang banyak. Setiap cabang adalah
bagian dari iman. Shalat adalah cabang keimanan, begitu pula zakat, haji, puasa, dan
amalan-amalan hati seperti malu, tawakal… Di antara cabang-cabang tersebut
adacabang yang jika hilang maka akan membatalkan keimanan seperti cabang
syahadat. Ada pula cabang yang jika hilang tidak membatalkan keimanan seperti
menyingkirkan gangguan dari jalan. Di antara dua cabang tersebut terdapat cabang-
cabang keimanan lain yang bertingkat-tingkat. Ada cabang yang mengikuti dan lebih
dekat ke cabanag syahadat. Ada pula yang mengikuti dan lebih dekat ke cabang
menyingkirkan gangguan dari jalan. Demikian pula kekafiran, memiliki pokok dan
cabng-cabang. Sebagaimana cabang iman adalah termasuk keimanan, maka cabang
kekafiran juga termasuk kekafiran. Malu adalah cabang iman, maka berkurangnya rasa
malu merupakan cabang dari kekafiran. Jujur adalah cabang iman, sedangkan dusta
adalah cabang kekafiran. Maksiat seluruhnya adalah cabang kekafiran, sebgaiaman
semua ketaatan adalah cabang keimanan”
Keimanan Betingkat-Tingkat
 Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang
lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan
dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. …” (Al
Baqarah:253)
 Demikian pula keimanan para sahabat. Keimanan mereka berbeda-
beda. Keimanan yang paling tingggi adalah keimanan yang dimiliki
oleh Abu Bakarradhiyallahu ‘anhu. Rasulullah sahalallhu ‘alaihi wa
sallam bersabda :“Seandainya keimaanan seluruh umat ditimbang
dengan keimanan Abu bakar, maka keimanan Abu Bakar lebih berat”. Abu
Bakar Su’bah al Qaari berkata : “Tidaklah Abu Bakar mendhaului
kalian dengan banyaknya sholat dan shodaqoh, namun dengan iman yang
menancap di hatinya
Pelaku Dosa Besar Tetaplah Seorang
Mukmin
 Seorang mukmin yang melakukan kemaksiatan yang tidak
sampai derajat kekafiran tetap dihukumi sebagai seorang
mukmin. “Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari
saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara
yang baik” (Al Baqarah:178). Ayat ini berkaitan dengan qishahs
 Adapun orang-orang fasik yang berbuat kemakisatan,
keimanan mereka tidak hilang secara total; “(hendaklah) ia
memerdekakan seorang hamba sahaya (budak) yang beriman” (An
Nisaa’:92).
 Dalil-dalil syariat terkadang menetapkan keimanan pada
mereka “Seorang mukmin tidak disebut mukmin saat ia berzina”[
Kadar Minimal Rukun Iman
 Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-
Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.”
Iman kepada Allah:
 – Beriman dengan wujud Allah
 – Beriman dengan rububiyah Allah
 – Beriman dengan uluhiyah Allah
 – Beriman dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah
Iman kepada para rasul Allah :
 – Mengimani bahwa seluruh risalah para rasul berasal
dari Allah
 – Mengimani secra rinci nama para nabi dan rasul Allah
yang kita ketahui dan mengimani secara global yang tidak kita
ketahui
 – Membenarkan berita yang shahih yang datang dari
mereka
 – Beramal dengan syariat Rasul yang diutus kepada kita
(yaitu Muhammadshalallhu ‘alaihi wa sallam)
Iman kepada hari akhir :

 – Beriman dengan hari kebangkitan


 – Beriman dengan hari perhitungan dan pembalasan (al
hisaab wal jazaa’)
 – Beriman dengan surga dan neraka
 – Beriman dengan segala sesuatu yang terjadi setelah
kematian

Iman kepada takdir Allah :
 – Beriman bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu
yang terjadi
 – Beriman bahwasanya Allah telah menetapkan segala
sesuatu di Lauh mahfudz
 – Beriman bahwa segala sesuatu terjadi dengan
kehendak Allah
 – Beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan
makhluk Allah
Iman kepada para malaikat Allah:
 Beriman dengan keberadaan para malaikat Allah
 Mengimani secara rinci nama-nama malaikat yang kita
ketahui, dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui
 Mengimani secara rinci sifat-sifat mereka yang kita ketahui,
dan mengimani secara global yang tidak kita
ketahuiMengimani secara rinci tugas-tugas mereka yang kita
ketahui, dan mengimani secara global yang tidak kita ketahui
Iman kepada kitab-kitab Allah :
 – Mengimanai bahwa seluruh kitab berasal dari Allah
 – Mengimani secara rinci nama-nama kitab Allah yang
kita ketahui dan mengimani secara global yang tidak kita
ketahui
 – Membenarkan berita-berita yang terdapat dalam
kitab-kitab tersebut
 – Beramal dengan hukum-hukum yang ada di dalamnya
selama belum dihapus
Iman dan Islam
 Kata iman dan islam terkadang disebutkan bersamaan dalam
satu kalimat, namun terkadang disebutkan salah satunya saja.
 Jika disebutkan salah satunya saja, maka mencakup makna
keduanya.
 Bila disebutkan kedua-duanya, maka iman dan islam memiliki
makna yang berbeda.
 Jika desebutkan iman dan Islam, maka masing-masing
memilki makna sendiri-sendiri.
 Iman mencakup malan-amalan hati, sedangkan Islam
mencakup amalan-amalan lahir
Islam
 Islam bermakna “selamat”, “sejahtera”, “damai”. Juga
bermakna penyerahan diri secara total kepada Allah Swt.”
 Islam secara praktis merupakan amalan lahiriyah yang
diwujudkan dalam rukun Islam
 Rukun Islam disandarkan pada keimanan
Ihsan
 Amalan hati (iman) dan amalan perbuatan (Islam) yang
diimplementasikan dalam kehidupan pribadi
 Orioentasi kehidupan pribadi menjadi Allah sebagai “sangkan
paran”