Anda di halaman 1dari 60

Biaya

Wirmie Eka Putra S.E., M.Si.


Biaya
Beban biaya yang telah dikeluarkan oleh
perusahaan menurut akuntansi pajak dapat
diperlakukan sbb:
 Biaya yang bukan merupakan pengurang
penghasilan kena pajak
 Biaya yang merupakan pengurang
penghasilan kena pajak
 Biaya yang berkaitan dengan penghasilan
yang bukan merupakan objek pajak
 Biaya yang berkaitan dengan penghasilan
yang terkena PPh final
A. Biaya yang bukan merupakan
pengurang penghasilan kena pajak
Biaya yang telah dikeluarkan oleh
perusahaan dalam akuntansi pajak dapat
berupa biaya yang bukan merupakan
pengurang penghasilan kena pajak, diatur
pada pasal 9 UU PPh sbb:
1. Pembagian laba
2. Biaya pribadi pemegang saham
3. Pembentukan atau pemupukan dana
cadangan
4. Premi asuransi
5. Penggantian dalam bentuk natura dan
kenikmatan
A. Biaya yang bukan merupakan
pengurang penghasilan kena pajak

6. Jumlah yang melebihi kewajaran


7. Harta yang dihibahkan
8. Pajak penghasilan
9. Biaya pribadi
10. Gaji yang dibayarkan kepada anggota
persekutuan
11. Sanksi administrasi
1. Pembagian laba

Pembagian laba dengan nama dan


dalam bentuk apapun bukan
merupakan pengurang penghasilan
kena pajak, seperti :
a. Dividen
b. Pembagian SHU koperasi
c. Tantiem
a. Dividen

 Dividen dengan segala bentuknya pada


prinsipnya merupakan bagian laba dari
perusahaan dan akan dikenakan PPh,
sehingga bukan merupakan biaya untuk
mendapatkan penghasilan kena pajak
(pasal 9 UU PPh)
a. Dividen

Contoh :
 PT’X’ dalam tahun 2009 mendapat laba
bersih sebesar 5 miliar (koreksi fiskal
tidak ada) pada tahun tsb perusahaan
membagi dividen sebesar Rp. 1 miliar
dari laba tahun berjalan kepada
pemegang sahamnya.
 Perhitungan PKP dari PT’X” adalah Rp.
5 miliar bukan dari 4 miliar.
b. Pembagian SHU koperasi

 SHU koperasi pada dasarnya


merupakan bagian atas kelebihan dari
pendapatan dikurangi biaya, yang
merupakan objek PPh sehingga bukan
merupakan biaya untuk mendapatkan
penghasilan kena pajak (pasal 9 UU
PPh)
b. Pembagian SHU koperasi

Contoh :
 Koperasi ‘X’ dalam tahun 2007
mendapat SHU sebesar Rp. 2 miliar dan
PPh yang terhutang adalah sebesar Rp.
582.500.000. SHU yang akan dibagikan
kepada anggota koperasi adalah 25%
dari SHU setelah pajak
c. Tantiem

 Adalah bagian keuntungan yang


diberikan kepada direksi dan komisaris
oleh pemegang saham yang didasarkan
pada % atau jumlah tertentu dari laba
perusahaan setelah kena pajak.
 Tantiem tidak dapat dibebankan sebagai
biaya untuk mendapatkan penghasilan
kena pajak (SE No. 16 tahun 1992)
c. Tantiem

Contoh :
 PT’X’ dalam tahun 2007 mempunyai laba
bersih (koreksi fiskal tidak ada) sebesar Rp. 4
m dan pada tahun 2007 perusahaan memberi
tantiem kepada direksi/komisaris sebesar 5%
dari laba bersih.
 Perhitungan PPh pasal 25/29 perusahaan
adalah dari Rp 4 m bukan setelah dikurangi
tantiem sebesar 5%
2. Biaya pribadi pemegang saham

 Biaya pribadi pemegang saham yang


dibebankan atau dikeluarkan untuk
kepentingan pribadi pemegang saham,
sekutu atau anggota bukan merupakan
biaya untuk mendapatkan PKP (pasal 9
UU PPh)
2. Biaya pribadi pemegang saham

Contoh :
 Biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh
perusahaan selama tahun 2007 adalah
sebesar RP. 250 jt yang diantaranya terdapat
biaya perjalanan pemegang saham dan
keluarganya dalam rangka rekreasi ke
Singapura sebesar Rp. 50 jt.
 Atas biaya perjalanan tersebut yang dapat
menjadi pengurang untuk mendapatkan PKP
adalah sebesar Rp. 200 jt sedangkan yang
Rp. 50 jt harus dilakukan koreksi fiskal
3. Pembentukan Dana Cadangan

 Pembentukan atau pemupukan dana


cadangan atas kemungkinan biaya yang akan
terjadi bukan merupakan biaya untuk
mendapatkan PKP (pasal 9 UU PPh)
 Cadangan piutang tak tertagih yang dapat
diperlakukan sebagai biaya adalah untuk
kegiatan usaha sbb :
 Perbankan
 Sewa guna usaha dengan hak opsi
 Asuransi
3. Pembentukan Dana Cadangan

Contoh:
 PT. ’X’ dalam laporan R/L komersial telah
membebankan dana cadangan kerugian atas
piutang dagang tak tertagih sebesar 2% dari
rata-rata piutang dagang tak tertagih atau
sebesar Rp. 200 jt.
 Secara akuntansi pajak dana cadangan
piutang tak tertagih tsb harus dilakukan
koreksi fiskal
4. Premi Asuransi

Premi Asuransi yang dibayarkan oleh


perusahaan dapat diperuntukkan untuk :
Perusahaan
Karyawan
4. Premi Asuransi

 Premi asuransi untuk perusahaan seperti


asuransi keselamatan aktiva
perusahaan, asuransi kebakaran dan
yang lainnya.
 Dapat dibebankan sebagai biaya oleh
perusahaan sesuai dengan masa
manfaat asuransi tsb
4. Premi Asuransi

 Premi asuransi kesehatan, kecelakaan,


jiwa dan beasiswa yang dibayar oleh WP
orang pribadi bukan merupakan biaya
untuk mendapatkan PKP bagi
perusahaan, kecuali dibayarkan oleh
pemberi kerja dan premi tsb dihitung
sebagai penghasilan bagi WP ybs (pasal
9 UU PPh)
4. Premi Asuransi
Contoh :
 PT. ‘X’ membayar salah satu karyawannya
dengan gaji pokok Rp. 5 jt. Premi asuransi
yang harus dibayarkan adalah 2% dari gaji
pokok. Apabila perusahaan membayar premi
asuransi tsb sebesar 50% bandingkan biaya
yang boleh diakui oleh PT. ’X’ atas
pembayaran gaji tsb dan bandingkan apabila
100% premi dibayarkan oleh karyawan, baik
premi tsb diberikan sebagai tunjangan
ataupun tidak.
4. Premi Asuransi
No Keterangan Premi dibayar Premi dibayar karyawan 100%
perusahaan Sebagai Tidak sebagai
50% tunjangan tunjangan
Uang yang dikeluarkan:
Gaji pokok 5.000.000 5.000.000 5.000.000
Tunjangan asuransi 0 100.000 0
Bayar asuransi 50.000 0 0
Jumlah uang yang keluar 5.050.000 5.100.000 5.000.000
Premi asuransi :
Dibayar perusahaan 50.000 0 0
Dibayar karyawan 50.000 100.000 100.000

Biaya perusahaan 5.000.000 5.100.000 5.000.000


Take home pay karyawan 4.950.000 5.000.000 4.900.000
5. Penggantian dalam bentuk
Natura dan Kenikmatan
 Penggantian atau imbalan sehubungan
dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk Natura dan
Kenikmatan bukan merupakan biaya
untuk mendapatkan PKP (pasal 9 UU
PPh)
5. Penggantian dalam bentuk
Natura dan Kenikmatan
Penggantian dalam bentuk Natura dan Kenikmatan
yang dapat diperhitungkan sbg biaya yang dapat
mengurangi PKP al :
 Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan
kenikmatan di daerah terpencil
 Penyediaan makanan dan minuman di tempat kerja
bagi seluruh pegawai secara bersama-sama
 Yang merupakan keharusan dalam pelaksanaan
pekerjaan sebagai keselamatan kerja atau karena sifat
pekerjaan tsb mengharuskan, seperti :
 Pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja
 Pakaian satpam
 Antar jemput karyawan
 Penginapan untuk awak kapal, dll
6. Jumlah pembayaran yang
melebihi kewajaran
 Jumlah pembayaran yang melebihi
kewajaran yang dibayarkan kepada
pemegang saham atau kepada pihak
yang mempunyai hub istimewa sbg
imbalan sehubungan dengan pekerjaan
yang dilakukan, bukan merupakan biaya
untuk mendapatkan PKP. Biaya yang
diakui adalah sesuai dengan kewajaran.
6. Jumlah pembayaran yang
melebihi kewajaran
Contoh :
 PT. ’X’ membayar gaji kepada Tn. S
salah satu pemegang sahamnya yang
juga menjabat sebagai salah satu
direktur sebesar RP. 100 jt per bulan.
Untuk jabatan yang sama pada
perusahaan tsb gaji direktur rata-rata Rp.
60 jt. Dengan demikian Rp. 40 jt
(selisihnya) jumlah yang melebihi
kewajaran.
7. Harta yang dihibahkan

Harta yang dihibahkan, bantuan atau


sumbangan dan warisan bukan
merupakan biaya untuk mendapatkan
PKP, kecuali zakat atau penghasilan
yang nyata-nyata dibayarkan oleh WP :
 Orang pribadi pemeluk agama Islam
 Badan dalam negeri yang dimiliki oleh
pemeluk agama Islam kepada Bazis/
lazis yg dibentuk pemerintah.
7. Harta yang dihibahkan

Contoh:
 PT. ’X’ memberi bantuan kepada PT. ’Y’
sebesar Rp. 100 jt. Kedua PT tsb
mempunyai hubungan usaha &
hubungan kepemilikan. Dengan
demikian, bagi PT. ‘Y’ bukan
merupakan penghasilan dan bagi PT.
’X’ merupakan biaya untuk mendapat
PKP
8. Pajak Penghasilan

Pajak Penghasilan yang terhutang oleh


WP ybs bukan merupakan biaya untuk
mendapat PKP (pasal 9 UU PPh)
Dibedakan menjadi :
 Pajak penghasilan yang menjadi hak WP
 Pajak penghasilan yang menjadi hak
rekanan
8. Pajak Penghasilan

Pajak penghasilan yang menjadi hak WP


adalah pajak yang dibayar sendiri seperti :
 PPh 25
 Fiskal LN,
 PPh 21
 PPh 22
 PPh 23
 PPh 24
8. Pajak Penghasilan
Pajak penghasilan yang menjadi hak
rekanan seperti :
 PPh 21
 PPh 22
 PPh 23
PPh yang dipotong atau dipungut
kepada rekanan & atas PPh tsb
pembebanannya ditanggung oleh
rekanan dapat merupakan biaya bagi
WP.
8. Pajak Penghasilan
Contoh :
 PT. ’X’ membayar gaji konsultan tenaga ahli
sebesar Rp. 50 jt, atas gaji tsb dipotong PPh
23 sebesar 7,5% sehingga yang diterima
rekanan Rp. 46.250.000 sedangkan sisanya
Rp. 3.750.000 berupa bukti potong PPh 23
yang akan dibayarkan ke Negara.
 Pengakuan biaya dari PT. ’X’ adalah sebesar
pembayarannya termasuk PPh 23 yang
dipotong sebesar Rp 50 jt
8. Pajak Penghasilan
Jurnal transaksi tersebut :
(saat membayar ke konsultan)
 (D) biaya konsultan……Rp. 50 jt
 (K) kas/Bank……………………Rp. 46.250.000
 (K) PPh 23………………..........Rp. 3.750.000
(saat membayar pajak)
(D) PPh 23………………..Rp. 3.750.000
(K) Kas/bank……………………...Rp. 3.750.000
8. Pajak Penghasilan

 Pajak penghasilan yang dipotong atau


dipungut kepada rekanan dan atas PPh
tsb pembebanannya ditanggung oleh
WP, dibedakan menjadi dua hal, yaitu :
terhadap rekanan dalam negeri dan
terhadap rekanan asing.
8. Pajak Penghasilan

 PPh yang dipotong atau dipungut oleh


WP terhadap rekanan DN yang
pembebanannya ditanggung WP
termasuk tunjangan pajak yang diberikan
kepada pegawainya, tidak
diperkenankan sebagai biaya untuk
mendapatkan PKP sebagai pemberian
kenikmatan.
8. Pajak Penghasilan
Contoh:
 PT. ’X’ pada contoh diatas, membayar jasa konsultan
Rp. 50 jt. Apabila potongan PPh psl 23 sebesar 7,5%
(Rp. 3.750.000) tsb ditanggung oleh WP sehingga
yang diterima rekanan tetap Rp 50 jt, maka
pengakuan biaya dari PT. ’X hanyalah sebesar
pembayarannya tidak termasuk PPh 23 yang dipotong
dan dibayar oleh WP.
 Jurnal transaksi tsb:
 (D) Biaya konsultan…Rp. 50.000.000
 (D) PPh 23 …………..Rp. 3.750.000
 (K) kas/Bank………………………….Rp. 53.750.000
8. Pajak Penghasilan

 PPh yg dipotong atau dipungut oleh WP


terhadap rekanan asing atau PPh 26
ditanggung oleg WP, diperkenankan
sebagai biaya untuk mendapatkan PKP.
8. Pajak Penghasilan
Contoh :
 PT. ’X’ pd contoh diatas, membayar jasa tenaga ahli (WP asing)
sebagai rekanannya sebesar Rp. 50 Jt, maka potongan PPh 26
sebesar 20% yg ditanggung WP dapat dibebankan sbg biaya
 Perhitungan PPh 26 yang harus dibayar pemberi kerja adalah
sebesar Rp. 10.000.000 (20% * Rp 50jt),

Jurnal transaksi tsb :


 (D) biaya konsultan ……….Rp. 60.000.000
 (K) PPh 26…………………………....Rp. 10.000.000
 (K) Kas/Bank………………………….Rp. 50.000.000

 (D) PPh 26 …………………Rp. 10.000.000


 (K) Kas/Bank …………………………Rp. 10.000.000
9. Biaya Pribadi

 Biaya yang dibebankan untuk


kepentingan pribadi WP atau orang yang
menjadi tanggungannya bukan
merupakan biaya untuk mendapatkan
PKP (pasal 9 UU PPh)
9. Biaya Pribadi

Contoh :
 Restoran ‘X’ telah membebankan biaya
listrik dan tlp pada perusahaannya
sebesar Rp. 100 jt. Biaya tersebut
termasuk biaya listrik dan tlp rumah
pribadi pemiliknya sebesar Rp. 25 jt.
Biaya yang merupakan pengurang PKp
adalah sebesar Rp. 75 jt sedangkan 25 jt
harus dilakukan koreksi fiskal positif.
10. Gaji yang dibayarkan kepada
anggota Persekutuan
 Gaji yang dibayarkan kepada anggota
Persekutuan, firma atau perseroan
komenditer yang modalnya tidak terbagi
atas saham, bukan merupakan biaya
untuk mendapatkan PKP (pasal 9 UU
PPh)
10. Gaji yang dibayarkan kepada
anggota Persekutuan
Contoh :
 CV. ’X’ yang atas modalnya tidak terbagi atas
saham telah membebankan biaya gaji sebesar
Rp. 200 jt, dimana dari biaya tsb termasuk gaji
untuk anggota persekutuannya sebesar Rp.
50 jt. Biaya gaji yang merupakan pengurang
PKP yang dapat diperkenankan hanyalah
sebesar Rp. 150 jt sedagkan Rp. 50 jt harus
dilakukan koreksi fiskal positif.
11. Sanksi Administrasi

 Sanksi adm perpajakan berupa bunga,


denda dan kenikmatan serta sanksi
pidana berupa denda yang berkenaan
dengan pelaksanaan perundang -
undangan bukan merupakan biaya untuk
mendapatkan PKP (pasal 9 UU PPh)
11. Sanksi Administrasi

CONTOH :
 CV. ’X’ pada bulan januari sd maret 2007
sudah menerbitkan STP. sebesar Rp.
312.000. rincian STP tsb adalah Rp. 300.000
merupakan pokok PPh 25 dan Rp 12.000
merupakan sanksi adm burupa bunga.
 Atas STP tsb baik pokok maupun bunganya
tidak diperkenankan sbg pengurang PKP.
B. Biaya yang Merupakan Pengurang
Penghasilan Kena Pajak

 Adalah biaya untuk mendapatkan, menagih,


memelihara penghasilan termasuk biaya pembelian
bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa
yang diperkenankan sesuai dengan peraturan
perpajakan
B. Biaya yang Merupakan Pengurang
Penghasilan Kena Pajak

Yaitu biaya yang berkaitan dengan :


Karyawan, HPP, biaya bunga, biaya sewa,
biaya royalti, perjalanan, adm perusahaan,
asuransi, pajak-pajak daerah, penyusutan dan
amortisasi, dana pensiun, kerugian, produk,
piutang tak tertagih, entertaimen, pajak
keluaran dan pajak masukan, penjualan,
pemberian natura dan kenikmatan,
kepemilikan aktiva tertentu.
Biaya berkaitan dengan karyawan

Antara lain :
 Pembayaran gaji dan sejenisnya
 Pembayaran dalam rangka peningkatan
SDM
Pembayaran gaji dan sejenisnya

Berupa :
 Gaji
 Upah
 Honorarium
 Bonus, gratifikasi dan jasa produksi
 Tunjangan
Gaji

 Gaji yang dibayarkan perusahaan kepada


karyawan merupakan biaya bagi perusahaan
dan merupakan penghasilan bagi karyawan.
 Pembebanan gaji untuk mendapatkan PKP
dilakukan dengan cara akrual basis, dalam arti
gaji bulan Desember yang dibayarkan pada
bulan Januari tahun berikutnya merupakan
biaya pada bulan desember
Gaji

Beberapa perlakuan khusus atas


pembebanan biaya gaji antara lain sbb :
 Pembayaran gaji yang bukan merupakan
pengurang penghasilan bruto
 Gaji pada karyawan asing
Gaji

Pembayaran gaji yang bukan merupakan


pengurang penghasilan bruto antara lain:
 Gaji yang dibayarkan kepada CV yang
modalnya tidak terbagi atas saham, tidak
diperkenankan sebagai pengurang PKP
 Gaji kepada pemiliknya pada perusahaan
perseorangan
Gaji

 Gaji pada karyawan asing yang dapat


diakui sebagai biaya adalah pembayaran
gaji termasuk PPh pasl 26 yang dibayar
oleh pemberi kerja
Honorarium

 Dapat dibayarkan kepada :


 Dewan komisaris
 Tenaga ahli
 Pegawai tidak tetap
 Tenaga lepas
 Pejabat negara, PNS, anggoa
TNI/POLRI
Honorarium

 Honorarium yang diterima anggota Dewan


komisaris/pengawas perusahaan yang bukan
merupakan pegawai tetap meerupakan biaya
yang dikenakan PPh sesuai pasal 17 UU PPh
dari pengahsilan bruto.
 Pembayaran honorarium tersebut bagi
perusahaan merupakan biaya sebesar
honorarium yang dibayarkan termasuk PPh 21
yang telah dipotong oleh pemberi kerja
Honorarium

Tenaga ahli
Bagi perusahaan merupakan biaya yang
akan dipotong PPh 21 sebesar 7,5% dari
penghasilan brutonya.
Honorarium
Contoh Tenaga ahli:
 Pembayaran honorarium dokter Rp. 5000.000, maka perlakuan
biaya perusahaan atas honorarium yang diterima dokter tsb akan
dijurnal sbb:
(D) honorarium dokter …RP. 5.000.000
(K) PPh 21……………………………….Rp. 375.000
(K) hutang honorarium….…………..….Rp. 4.625.000

 Jurnal realisasi pembayaran honorarium:


(D) hutang honorarium…Rp 4.625.000
(K) Kas / Bank……………………….….Rp 4.625.000

 Jurnal realisasi pembayaran PPh 21


(D) PPh 21…………….. Rp. 375.000
(K) Kas / Bank…………………..…….. Rp. 375.000
Honorarium

 Biaya atas pembayaran honorarium


yang diakui oleh perusahaan adalah
sebesar Rp. 5 jt sama dengan
penghasilan yang diakui oleh dokter,
sedangkan PPh pasal 21 merupakan
kredit pajak bagi dokter ybs.
Honorarium

Pegawai tidak tetap.


 Merupakan biaya sebesar honorarium
yang dibayarkan termasuk PPh 21 yang
telah dipotong.
Bonus, gratifikasi, dan jasa
produksi
 Termasuk dalam pengertian biaya untuk
mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan, sehingga merupakan biaya
untuk mendapatkan PKP
 Bila pembayarannya diambil dari laba
ditahan, bukan merupakan biaya untuk
mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan, maka biaya tsb tidak dapat
diperlakukan sebagai pengurang PKP
Tunjangan

 Tunjangan : jabatan, perumahan,


kesehatan dll yang dibayarkan oleh
perusahaan dan diakui sebagai
penghasilan oleh pegawai yang
menerima tunjangan serta sebagai dasar
penghitungan PPh 21 bagi karyawan
dan merupakan biaya bagi perusahaan,
kecuali tunjangan pajak.
Pembayaran dalam rangka
meningkatkan SDM
 Biaya yang dikeluarkan untuk keperluan
beasiswa, magang dan pelatihan dalam
rangka peningkatan SDM dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan,
dengan memperhatikan kewajaean dan
kepentingan perusahaan
SEKIAN DAN TERIMA KASIH